Anda di halaman 1dari 32

MAKALAH MIKROBA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Dalam kehidupan, mahluk hidup memerlukan energi yang diperoleh dari

proses metabolisme. Metabolisme terjadi pada semua mahluk hidup termasuk


kehidupan mikrobaetabolisme ialah semua reaksi yang mencakup semua proses
kimiawi yang terjadi di dalam sel yang menghasilkan energi dan menggunakan
energi untuk sintesis komponen-komponen sel dan untuk kegiatan-kegiatan
seluller. Seperti untuk pertumbuhan, pembelahan sel, pembaruan komponen sel,
dan lain-lain. Kegiatan kimiawi yang dilakukan oleh sel amatlah rumit,
bergamnya bahan yang digunakan sebagai unsur nutrisi oleh sel. Dalam
melakukan setiap aktivitas sel dalam tubuh sangatlah berkaitan erat dengan kerja
enzim sebagai substansi yang ada dalam sel yang jumlahnya amat kecil dan
mampu menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan yang berkaitan dengan
proses-proses seluller dan kehidupan. Semua aktivitas metabolisme prosesnya
dikatalisis oleh enzim. Jadi kehidupan tidak akan terjadi tanpa adanya enzim
dalam tubuh mahluk hidup..
Metabolisme merupakan serentetan reaksi kimia yang terjadi dalam sel
hidup (Darkuni 2001). Metabolisme dibagi atas dua fase yaitu anabolisme dan
katabolisme. Anabolisme adalah Pembentukan senyawa yang memerlukan energi
(Rekasi endergonik) misalnya reaksi fotosintesis: membentuk C6G12O5 dari CO2

dan H2O, sedangkan Katabolisme adalah proses penguraian senyawa yang


menghasilkan energi (reaksi eksergonik) misalnya pada respirasi yang
menguraikan karbohidrat menjadi asam piruvat dan energi.
1.2

Rumusan Masalah

Dari uraian dalam latar belakang, dapat diajukan rumusan masalah sebagai
berikut:
1)

Apa pengertian dari anabolisme dan katabolisme?

2)

Dari apa saja produksi energi oleh mikroba?

3)

Apa saja sifat enzim dan faktor yang mempengaruhi kerja enzim?

4)

Bagaimana mekanisme kerja enzim?

1.3

Tujuan Penulisan
Setelah menelaah latar belakang pembuatan makalah, maka dapat

dirumuskan menjadi suatu tujuan pembuatan makalah sebagai berikut:


1)

Untuk menegetahui pengertian dari anabolisme dan katabolisme.

2)

Untuk mengetahui produksi energi oleh mikroba.

4)

Untuk mengetahui mekanisme kerja enzim.

5)

Untuk mengetahui peranan dan penamaan enzim.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1.

ANABOLISME DAN KATABOLISME


Metabolisme adalah keseluruhan proses reaksi enzim dan kimiawi dalam

sel. Metabolisme dapat dibedakan menjadi dua yakni metabolisme primer dan
sekunder. Metabolisme primer adalah metabolisme yang selalu dilakukan oleh
semua organism yang ada di alam. Sedangkan metabolism sekunder hanya
dilakukan oleh organisme tertentu dan menghasilkan zat tertentu pula.
A. Anabolisme
Metabolisme dibagi atas dua fase yaitu anabolisme dan katabolisme.
Anabolisme adalah Pembentukan senyawa yang memerlukan energi (Rekasi
endergonik) misalnya reaksi fotosintesis: membentuk C 6G12O5 dari CO2 dan H2O.
Anabolisme adalah suatu proses reaksi kimia yang membentuk suatu molekul
besar dari molekul yang lebih kecil. Dan selama proses anabolisme membutuhkan
energy dalam reaksinya. Atau dapat dikatakan segala bentuk sintesa dalam
mikroorganisme.
Proses metabolisme mikroorganisme dapat dibedakan menjadi dua
berdasarkan sumber energinya yaitu fototrof dan kemotrof. Sedangkan apabila
berdasarkan kemampuan mendapat sumber karbonnya menjadi dua juga yaitu
Autotrof dan heterotrof. Mikroorganisme fototrof adalah mikroorganisme yang

menggunakan cahaya sebagai sumber energi utamanya. Fototrof dibagi menjadi


dua yakni: fotoautotrof dan Fotoheterotrof.
Organisme

yang

termasuk

fotoautrotrof

melakukan

fotosintesis.

Sedangkan fotosintesis adalah proses mensintesis senyawa organik kompleks dari


unsur-unsur anorganik dengan menggunakan energi cahaya matahari. Fotosintesis
tidak hanya dilakukan oleh tumbuhan namun juga dilakukan oleh mikroba.
Mikroba yang melakukan fotosintesis seperti Cyanobacteria, serta beberapa jenis
algae. Pada Reaksi umum yang terjadi dpat dituliskan sebagai berikut :
6H2O + 6CO2 + cahaya C6H12O6 + 6O2
dalam fotosintesis terjadi dua tahapan reaksi terang dan reaksi gelap. Reaksi
terang atau fosforilasi reaksi ini terjadi di tilakoid dan reaksi gelap terjadi di
dalam stromokloroplas.
Pada reaksi terang ADP menjadi ATP dan pada reaksi terang terjadi
reduksi NADH sebagai pembawa elektron menjadi NADPH. pada reaksi ini
terjadi

penyerapan

cahaya

matahari

oleh

klorofil. Reaksi

terang atau

fotofosforilasi dibagi menjadi dua yakni fotofosforilasi siklik dan fotofosforilasi


nonsiklik. Fosforilasi siklik atau dukenal pula sebagai fotosistem 1. fotositem ini
sangat peka dengan gelombang cahay yang memiliki panjang 700nanometer maka
disebut sebagai P700. Pada fotosistem ini elektron kembali lagi ke dalam
fotosistem. Fotofosforilasi siklik merupakan proses yang sangat sering
diketemukan, elektron yang terlepas tidak kembali lagi melainkan membentuk
NADPH. Dan elektron yang hilang tersebut digantikan oleh elektron yang
terbentuk pada saat oksidasi H2O atau dari unsur-unsur yang mudah teroksidasi

seperti H2S. Hasil dari reaksi terang adalah ATP yang terbentuk melalui proses
chemiosmosis,

O2,

NADPH.

Setelah

reaksi

terang

maka

berikutnya

adalah reaksi gelap. Reaksi ini disebut reaksi gelap karena tidak membutuhkan
cahaya. Didalam reaksi ini terjadi fiksasi CO2 pada siklus calvin, dimana CO2 di
fiksasi oleh RuBP kemudian membentuk asam fosfogliserat hingga membentuk
glukosa. Setelah terbentuk glukosa RuBP diregenerasi untuk fiksasi CO2
B. Katabolisme
Katabolisme adalah proses penguraian senyawa yang menghasilkan energi
(reaksi eksergonik) misalnya pada respirasi yang menguraikan karbohidrat
menjadi asam piruvat dan energi. Metabolisme ini selalu terjadi dalam sel hidup
karena di dalam sel hidup terdapat enzim yang diperlukan untuk membantu
berbagai reaksi kimia yang terjadi. Suatu proses reaksi kimia yang terjadi dapat
menghasilkan energi dan dapat pula memerlukan energi untuk membantu
terjadinya reaksi tersebut. Katabolisme merupakan reaksi yang menghasilkan
energi dengan memecah molekul kompleks menjadi molekul sederhanan.
Proses ini juga disebut exergonic (menghasilkan energy) Semua sel mikoba
memerlukan energi secara kontinou untuk proses yang terkait terkait dengan
pertumbuhan, transportasi, gerakan dan pemeliharaan. Pada chemoheterotrophic
mikroorganisme, energi organik Sumber yang diperoleh dari lingkungan dan
kemudian ditransformasikan oleh serangkaian enzim yang mengendalikan reaksi
dalam jalur metabolik. Katabolisme menghasilkan generasi energi potensial dalam
bentuk adenosin 5-trifosfat (ATP) dan reduksi Koenzim, seperti nikotinamida
adenin dinukleotida (NADH), nicotinamide adenin dinukleotida fosfat (NADPH)

dan flavin adenin dinukleotida (FADH2), dan panas. Mikroorganisme memiliki


keragaman dalam proses metabolisme untuk menghasilkan ATP dan koenzim
tereduksi (Waiter et al 2001).

2.2

ENERGI YANG DIPRODUKSI MIKROBA


Sel-sel bakteri seperti halnya sel semua organisme

hidup, umumnya

melakukan aktivitas kehidupan untuk kelangsungan hidupnya. Semua sel


membutuhkan suatu sumber energi. Walaupun sangat beraneka ragam jenis
substansi yang berperan sebagai sumber energi bagi mikroorganisme, namun
terdapat pola dasar metabolisme yang sangat sederhana yaitu terjadi perubahan
dari satu bentuk energi yang kompleks menjadi bentuk energi yang lebih
sederhana, sehingga dapat masuk ke dalam rangkaian metabolik.
Bakteri dapat mengubah zat kimia dan energi radiasi

kebentuk yang

berguna untuk kehidupannya melalui proses respirasi, fermentasi dan fotosintesis.


Dalam respirasi, molekul oksigen adalah penerima elektron utama, sementara
dalam fermentasi molekul bahan makanan biasanya pecah menjadi dua bagian,
dimana yang satu kemudian dioksidasi oleh yang lainnya. Dalam fotosintesis,
energi cahaya diubah menjadi energi kimia. Bagaimanapun, dalam semua jenis sel
dan tanpa menghiraukan mekanisme yang digunakan untuk mengekstrak energi,
reaksi tersebut diiringi oleh pembentukan Adenosine Triphosphate (ATP). ATP
adalah perantara yang umum (reaktan) baik dalam reaksi yang menghasilkan
energi maupun reaksi-reaksi yang membutuhkan energi dan pembentukannya

memerlukan mekanisme dimana energi yang tersedia dapat disalurkan kedalam


reaksi biosintesis dari sel yang memerlukan energi.
1.

Respirasi
Respirasi merupakan proses disimilasi, yaitu proses penguraian zat yang

membebaskan energi kimia yang tersimpan dalam suatu senyawa organik. Dalam
proses ini, terjadi pembongkaran suatu zat makanan sehingga menghasilkan
energi yang diperlukan oleh organisme tersebut. Saat molekul terurai menjadi
molekul yang lebih kecil, terjadi pelepasan energi, reaksinya disebut eksorgenik.
Respirasi merupakan salah satu dari reaksi katabolik. Berdasarkan kebutuhan
terhadap oksigen bebas, respirasi dibedakan atas dua macam, yaitu:.
A. Respirasi aerob
Respirasi aerob merupakan serangkaian reaksi enzimatis yang mengubah
glukosa secara sempurna menjadi CO2,H2O dan menghasilkan energi. Menurut
penyelidikan energi yang terlepas sebagai hasil pembakaran 1 grammol glukosa
adalah 675 Kkal. Dalam respirasi aerob, glukosa dioksidasi oleh oksigen, dan
reaksi kimianya dapat digambarkan sebagai berikut:
C6H12O6 + 6 O2 -> 6 CO2 + 12 H2O + 675 Kkal
Dalam kenyataan reaksi yang terjadi tidak sesederhan itu. Banyak tahap
reaksi yang terjadi dari awal hingga terbentuknya energi. Reaksi-reaksi tersebut
dibedakan menjadi tiga tahap yakni glikolisis, siklus kreb (the tricarboxylic acid
cycle) dan tranfer elektron.

1) Glikolisis
Glikolisis adalah serangkaian reaksi enzimatis yang memecah glukosa
(terdiri dari 6 atom C) menjadi dua molekulasam piruvat (terdiri dari 3 atom
C). Glikolisis juga menghasilkan ATP dan NADH + H+ (Waiter, Michel J. At all,
2001).
Sebagian besar mikroorganisme memanfaatkan karbohidrat sebagai
sumber karbon dan energi. Heksosa, gula enam karbon (C 6), glukosa adalah lebih
dari substrat untuk sebagian besar mikroorganisme dan sebagian kecil
mikroorganisme tidak bisa mengolahnya. Di alam, glukosa bebas biasanya tidak
tersedia, tetapi dapat diperoleh melalui berbagai rute. Ini berasal dari interkonversi
heksosa lainnya, hidrolisis disakarida, oligosakarida dan polisakarida
dari lingkungan, atau dari sel penyimpanan material, seperti pati, glikogen
dan trehalosa. Pembentukan energi dari glukosa yang didahului oleh proses
fosforilasi sampai menghasilkan piruvat (C 3). Namun, jumlah terbatas ATP yang
diproduksi,
yang dibentuk melalui substrat-tingkat fosforilasi. Maksimum dua molekul
ATP yang dihasilkan untuk setiap satu molekul glukosa teroksidasi. menghasilkan
piruvat menempati posisi penting dalam metabolismedan merupakan titik awal
untuk katabolisme lanjut (McKane and Judy Kandel,1950).
Setiap organisme mempunyai perbedaan jalur glikolisis yang menjadi kunci
pembeda organisme tersebut. Jalur glikolisis dibagi menjadi empat yakni:

a) Jalur EMP (The Embden-Mayerhof-Parnas)


Jalur EMP merupakan jalur yang banyak ditemukan di semua kelompok
organisme, termasuk jamur, yeasts dan bakteri. jalur ini dapat beroperasi di bawah
kondisi anaerobik atau aerobik dan terdiri dari 10 enzim-katalis reaksi terletak di
dalam matriks sitoplasma. Kunci pembeda ketiga jalur lainnya (heksokinase,
fosfofruktokinase dan kinase piruvat) yakni reaksi terjadi secara reversibel.
Sedangkan jalur EMP reaksinya yang terjadi yakni secara irreversible.
Untuk setiap molekul glukosa dioksidasi menjadi dua piruvat molekul,
keuntungan bersih hanya dua ATP, karena yang Konsumsi dalam reaksi
sebelumnya. (Waiter, Michel J. At all, 2001).
Glucose (C6) + 2ADP + 2Pi + 2NAD+ 2 pyruvate (C3) + 2ATP + 2NADH + 2H+

b) Jalur PP (The Pentose Phosphate)


Fosfat pentosa (PP) atau jalur heksosa jalur monofosfat ditemukan di
banyak bakteri dan sebagian besar organisme eukariotik. Jalur ini seringkali
beroperasi pada waktu yang sama dengan jalur EMP. Dalam ragi, misalnya, 1020% glukosa (lebih selama pertumbuhan pesat) yang terdegradasi melalui jalur
PP, dan sisanya katabolisme dari jalur EMP. Jalur PP bisa berfungsi pada kondisi
aerobik atau anaerobik, baik katabolik maupun anabolik. Jalur ini sangat penting
dalam penyediaan NADPH, terutama untuk digunakan untuk langkah reduktif
dalam proses anabolik, intermediet untuk asam amino aromatik sintesis, terutama
erythrose-4-fosfat; pentosa, terutama ribosa untuk biosintesis asam nukleat, dan
biosintesis intermediet lainya. Waiter, Michel J. At all, 2001).

Jalur PP merupakan siklus dan seperti semua jalur glycolytic, enzim ini
berada di matrik sitoplasma. Ini dimulai dengan oksidasi dua langkah glucose 6phospate (G6P) ke pentose (C5) fosfat, ribulosa 5-fosfat (Rump), melalui 6phosphogluconate. Proses Ini melibatkan satu karbon yang hilang sebagai
CO2 dan pembentukan dua NADPH. Setelah fase oksidatif ini, RuMP mengalami
serangkaian penataan ulang menjadi serangkaian dua-karbon dan tiga-karbon
pertukaran fragmen, dikatalisis oleh enzim transketolase dan transaldolase.Untuk
setiap tiga unit glukosa diproses, satu GAP, enam NADPH dan dua fruktosa 6fosfat (F6P) molekul yang dihasilkan. Molekul F6P dikonversi kembali ke G6P
untuk mempertahankan operasi dari siklus. Itu GAP dapat dioksidasi menjadi
piruvat dengan jalur EMP enzim atau juga dapat dikembalikan ke awal jalur
melalui konversi dari dua GAP satu G6P.
3 glucose 6-phosphate (C6) + 6NADP+ + 3H2O 2 fructose 6-phosphate (C6) +
glyceraldehyde 3-phosphate (C3) + 3CO2 + 6NADPH + 6H+
c) Jalur ED (The Entner-doudoroff)
Jalur ED adalah jalur metabolisme yang relatif sedikit digunakan oleh
mikroorganisme yang tidak memiliki EMP jalur. Kebanyakan bakteri Gramnegatif, termasuk spesies Azotobacter, Pseudomonas, Rhizobium,
Xanthomonas dan Zymomonas, tapi jarang dalam jamur. Jalur dimulai
dengan pembentukan 6-phosphogluconate, seperti di jalur PP. Meskipun
kemudian mengalami dehidrasi, bukan teroksidasi, untuk membentuk 2-okso-3deoksi-6-phosphogluconate. Molekul enam-karbon dipecah oleh Aldolase untuk
membentuk dua senyawa C3, piruvat dan GAP, dan terakhir juga dapat dikonversi

10

menjadi piruvat. Secara keseluruhan, dari glukosa setiap molekul dimetabolisme,


pada jalur yang dapat menghasilkan dua molekul piruvat, satu ATP, satu NADH
dan satu NADPH, yang merupakan hasil energi yang lebih rendah daripada jalur
EMP (Waiter, Michel J. At all, 2001).
d) Jalur PK (phosphoketolase)
The phosphoketolase (PK) atau jalur Warburg-Dickens jalur metabolisme
yang ditemukan di beberapa bakteri asam laktat, terutama dari spesies
Lactobacillus dan Leuconostoc. Ini melibatkan oksidasi dan dekarboksilasi
glukosa 6-fosfat ke pantat, seperti di jalur PP. RuMP yang berisomer dengan
xylulose fosfat 5-(C5) dan dibelah oleh phosphoketolase menjadi GAP (C2) dan
asetil fosfat (C2). Pada akhirnya dikonversike laktat dan kedua ke etanol. Jalur ini
menghasilkan hanya setengahATP dibandingkan dengan jalur EMP. Namun, tidak
dimungkinkan pembentukan pentosa dari heksosagula untuk sintesis asam nukleat
dan katabolisme pentosa (Waiter, Michel J. At all, 2001).
2) Tricarboxylic acid cycle (Siklus Krebs)
Tricarboxylic acid cycle (Siklus Krebs) merupakan serangkaian reaksi
metabolisme yang mengubah asetil koA yang direaksikan dengan asam
oksaloasetat (4C) menjadi asam sitrat (6C). Selanjutnya asam oksaloasetat
memasuki daur menjadi berbagai macam zat yang akhirnya akan membentuk
oksaloasetat lagi (McKane and Judy Kandel,1950).

Pyruvate (C3) + NAD+ + CoA acetyl CoA (C2) +CO2 + NADH + H+ acetyl CoA
(C2) + 3NAD+ + FAD + ADP 2CO2 + 3NADH + 3H+ + FADH2 + ATP

11

Asetil KoA masuk siklus krebs

bersama empat molekul karbon

(oksaloasetat). Selanjutnya menjadi senyawa enam carbon atau asam asitrat.


Selama berturut-turut, dua atom karbon dari asetil KoA teroksidasi menjadi dua
molekul CO2, meninggalkan empat Oksaloasetat untuk menerima asetil KoA
lainnya. Siklus ini beberapa energi di keluarkan dari oksidasi asam sitrat yang
digunakan untuk memproduksi satu molekul ATP. Kebanyakan energi ditranfer
oleh empat pasangan elektron dari tiga molekul NAD+ (membentuk NAD + H+)
dan satu molekul FAD (membentuk FADH 2 ). Energi dari elektron ini kemudian
digunakan untuk membentuk ATP pada sistem transport elektron. Pada jalanya
satu asetil KoA menghasilkan 12 molekul ATP kemudian dioksidasi oleh siklus
krebs. Sejak dua molekul asetil KoA diproduksi untuk masing-masing oksidasi
glukosa, energi akhir yang dihasilkan dari siklus krebs adalah 12 molekul ATP.
3) Transfer elektron
Setelah proses tricarboxylic acid maka yang terakhir adalah proses transfer
elektron. Transfer elektron merupakan reaksi pemindahan elektron melelui reaksi
redoks (reduksi-oksidasi). karena respirasi mebutuhkan jumlah ATP dari proses
oksidasi NADH dan FADH. Maka dibutuhkan senyawa senyawa yang memiliki
potensial reduksi rendah sebagai akseptor elektron, dan O2 sangat ideal sebagai
akseptor. Elektron yang berasal dari oksidasi substrat NADH atau FADH2,
melalui serangkaian redoks atau reduksi-oksidasi reaksi, lalu ke terminal akseptor.
Dalam proses ini, energi dilepaskan selama aliran elektron digunakan untuk
membuat gradien proton.

12

Energi yang ditangkap dalam ikatan energi yang tinggi ketika P (fosfat)
anorganik bergabung dengan molekul ADP untuk membentuk ATP. Proses ini
disebut fosforilasi oksidatif. Energi (ATP) dalam sistem transpor elektron
terbentuk melalui reaksi fosforilasi oksidatif, Energi yang dihasilkan oleh oksidasi
1 mol NADH atau NADPH2 dapat digunakan untuk membentuk 3 mol
ATP. Reaksinya sebagai berikut.

NADH + H+ + 1/2 O2 + 3ADP + 3H3PO4 NAD+ + 3ATP + 4H2O


Sementara itu, energi yang dihasilkan oleh oksidasi 1 mol FADH2 dapat
menghasilkan 2 mol ATP. Beberapa jenis enzim yang terlibat dalam pengangkutan
elektron seperti NADH dehidrogenase, sitokrom reduktase, dan sitokrom
oksidase. Pembawa elektron terdiri dari flavoprotein (contohnya FAD dan
mononukleotida flavin, FMN), besi sulfur (FeS), dan sitokrom, protein dengan
cincin yang berisi besi yang disebutheme. Gugus non-protein seperti lipid-soluble
(larutan dalam lemak) yang lebih dikenal dengan quinones (Ibrahim, 2007).

B. Respirasi Anaerob (Fermentasi)


Fermentasi adalah proses pembebasan energi tanpa oksigen. Ciri-ciri dari
fermentasi adalah:
1. Terjadi pada organisme yang tidak membutuhkan oksigen bebas.
2. Tidak terjadi penyaluran elektron ke siklus krebs dan transpor elektron.
3. Energi (ATP) yang terbentuk lebih sedikit jika dibandingkan dengan
respirasi aerob yaitu 2 molekul ATP setiap mol glukosa.

13

4. Jalur yang ditempuh ialah glikolisis dan pembentukan alkohol (fermentasi


alkohol) dan pembentukan asam laktat.
5. Menghasilkan produk berupa asam-asam organik, alkohol dan gas.
6. Organisme anaerobik juga menghasilkan energi, yaitu melalui reaksireaksi yang disebut fermentasi yang menggunakan bahan organik sebagai
donor dan akseptor elektron. Bakteri anaerobik fakultatif dan bakteri
anaerobik obligat menggunakan berbagai macam fermentasi untuk
menghasilkan energi. Misalnya pada bakteri Streptococus lactis
menggunakan fermentasi asam laktat untuk perolehan energi yaitu dengan
menguraikan glukosa menjadi asam laktat melalui proses glikolisis, satu
molekul glukosa diubah menjadi dua molekul asam piruvat disertai
dengan pembentukan dua NADH +

. Asam piruvat tersebut diubah

menjadi asam laktat .

1) Nitrate respiration
Respirasi nitrat dilakukan oleh bakteri anaerob fakultatif. Potensi redoks
nitrat adalah +0.42 Volt, dibandingkan dengan oksigen yang potensial redoksnya
+0,82 volt. Akibatnya, lebih sedikit energi yang digunakan dibandingkan dengan
oksigen sebagai terminal akseptor elektron dan molekul lebih sedikit ATP yang
terbentuk. Proses ini memiliki beberapa langkah, yang mana nitrat direduksi
menjadi

nitrit

dan

nitrogen

oksida

menjadi

dinitrogen,

yang

disebut

sebagai dissimilatory
Nitrate reduction atau denitrifikasi. Reaksi denitrifikasi sebagai berikut:
2NO3- + 12 e- + 12 H+ N2 + 6 H2O

14

Denitrifikasi dilakukan oleh spesies Pseudomonas, Paracoccus denitrificans


dan Thiobacillus denitrificans. Sedangkan bakteri fakultatif Anaerob seperi, E.
coli dan sejenisnya, yang hanya mereduksi nitrat menjadi nitrit, dan enzim.
2) Sulphate respiration
Respirasi sulfat dilakukan oleh sebagian kecil bakteri heterotrophic, yang
semuanya oligatif anaerob, sperti bakteri dari spesies Desulfovibrio. Bakteri ini
membutuhkan sulfat sebagai aseptor proton dan terduksi menjadi sulfit. Reaksi
sulphate respiration sebagai berikut:
SO42- + 8 e- + 8 H+ S2- + H2O
3) Carbonate respiration
Respirasi Karbonat dilakukan oleh bakteri seperti Methanococcus dan
Methanobacterium. Bakteri tersebut merupakan anaerob obligat yang mereduksi
CO2, dan kadang-kadang karbon monoksida, untuk menjadi metana. Bakteri
metanogen yang biasa menggunakan hidrogen sebagai sumber energi dan
ditemukan di lingkungan yang rendah nitrat dan sulfat, misalnya usus beberapa
hewan, rawa, sawah dan digester limbah lumpur. Reaksi respirasi karbonat hingga
membentuk metan sebagai berikut:
CO2 + 4H2 CH4 + 2H2O
Selain nitrat, sulfat dan karbon dioksida, besi besi (Fe3+), mangan (MN4+)
dan beberapa organik senyawa (sulfoksida dimetil, fumarat, glisin dan oksida
trimetilamina) dapat berfungsi sebagai terminal elektron akseptor untuk respirasi
anaerob tertentu bakteri.

15

Selain menghasilkan asam piruvat sebagai produk akhir juga dihasilkan 2


molekul NHDH yang harus dioksidasi. Tergantung pada tipe mikroorganismenya
asam piruvat (CH3COCOOH) dimetabolisme lebih lanjut untuk menghasilkan
produk akhir fermentasi sebagai berikut:
a. Fermentasi alkohol dilakukan oleh yeasts, jamur dan bakteri. Ini proses dua
langka, dimana piruvat dari jalur EMP,atau dari jalur ED seperti Zymomonas,
melakukan dekarboksilasi pertama menjadi asetaldehida, NAD + kemudian
terbentuk selama reduksi asetaldehida menjadi etanol.
b. Fermentasi asam laktat yang dilakukan oleh sejumlah bakteri, seperti
Streptococcus, Lactobacillus, Lactococcus dan Leuconostoc, serta beberapa
jamur, alga dan protozoa.turunan piruvat, adalah akseptor elektron dan
membentuk laktat.
c. Fermentasi asam campuran yang dilakukan oleh E. coli dan bakteri fakultatif
anaerob. Produknya meliputi laktat, asetat, dan etanol. Beberapa organisme
memiliki kemampuan untuk mereduksi piruvat menjadi hidrogen dan CO2.
d. Fermentasi 2,3-Butanediol dapat dilakukan oleh Enterobacter, Erwinia,
Klebsiella dan Serratia. Sama seperti fermentasi campuran asam, namun
menghasilkan butanadiol,netanol dan asam.
e. Fermentasi asam propionat dapat dilakukan oleh beberapa bakteri d usus,
seperti Propionibacterium dan sejenisnya, beberapa terlibat dalam produk
komersil Swiss-keju dan vitamin B12 (cobalamin). Propionat yang terbentuk
dari piruvat yang melalui jalur methylmalonyl CoA, dimana piruvat

16

terkarboksilasi menjadi oksaloasetat, dan kemudian direduksi menjadi


propionat melalui malate, fumarate dan suksinate
f. Fermentasi asam butirat dilakukan oleh spesies Clostridium. Bakteri ini
memproduksi aseton, butanol, propanol, alkohol dan asam lainnya. Bakteri ini
juga memfermentasi asam amino dan senyawa nitrogen lainnya, serta
karbohidrat
2.

Fotosintesis
Fotosintesis adalah suatu proses biokimia pembentukan zat makanan

karbohidrat

yang

dilakukan

oleh

tumbuhan,

terutama

tumbuhan

yang

mengandung zat hijau daun atau klorofil. Selain tumbuhan berklorofil, makhluk
hidup non-klorofil lain yang berfotosintesis adalah alga dan beberapa jenis
bakteri. Organisme ini berfotosintesis dengan menggunakan zat hara, karbon
dioksida dan air serta bantuan energi cahaya matahari.
Terjadi pada algae, tumbuhan dan beberapa prokariotik:
Terdiri atas 2 reaksi utama: Photophosphorylation (reaksi terang) dan fiksasi
karbon dioksida (reaksi gelap).

1.

Photophosphorylation (Reaksi terang)


Pada reaksi terang, cahaya mengenai klorofil a yang menyebabkan

elektron tereksitasi sehingga mempunyai energi lebih tinggi. Dalam satu

17

rangkaian reaksi kimia, energi tersebut akan diubah menjadi ATP dan NADPH.
Air akan terurai dan melepaskan oksigen sebagai satu produk reaksi. ATP dan
NADPH akan digunakan untuk membuat karbohidrat pada reaksi gelap.
2.

Fiksasi Karbon Dioksida (Reaksi Gelap)


Fiksasi karbon dikenal sebagai reaksi gelap. Enam molekul gas asam

arang masuk ke dalam sel melalui stomata dan akan diikat oleh ribulosa bifosfat
(RuBP). RuBP merupakan suatu senyawa berkarbon 5 yang akan diubah menjadi
satu molekul gula. Peristiwa ini terjadi di dalam stroma dan telah diperkenalkan
oleh Melvin Calvin sehingga selanjutnya dikenal dengan siklus calvin.
Pada kelompok bakteri dapat dibedakan atas: anoxygenic dan oxygenic
photosynthesis.
a.

Anoxygenic Photosynthesis
Proses fotosintesis yang tidak menghasilkan O2 dan H2S berperan sebagai

donor elektron. Anoxygenic photosynthesis ditemukan pada:


Green sulfur bacteria (e.g. Chlorobium)
Green nonsulfur bacteria (e.g. Chloroflexus)
Purple sulfur bacteria (e.g. Chromatium)
Purple nonsulfur bacteria (e.g. Rhodobacter)
Donor Electron bervariasi:

18

H2S atau senyawa organik pada green dan purple sulfur bacteria.
H2 atau senyawa organik pada green and purple nonsulfur bacteria.
Hanya memiliki satu fotosistem
Pada green bacteria, photosystem sama dengan PSI.
Pada purple bacteria, photosystem sama dengan PSII.
Fungsi utama adalah menghasilkan ATP melalui cyclic
photophosphorylation.
b.

Oxygenic photosynthesis
Proses fotosintesis yang menghasilkan O2 dan H2S berperan sebagai donor

elektron. Ditemukan pada Cyanobacteria (blue-green algae) dan organisme


eukariotik yang memiliki kloroplas.
Donor electron adalah H2O: teroksidasi membentuk O2. Melalui 2
fotosistem yaitu PSI dan PSII. Fungsi umum menghasilkan NADPH dan ATP
untuk fiksasi karbon.

2.3.

STRUKTUR ENZIM

19

Enzim merupakan substansi yang ada dalam sel dalam jumlah yang amat
kecil dan mampu menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan yang berkaitan
dengan proses-proses seluler dan kehidupan. Nama lain dari enzim adalah fermen;
nama enzim berasal dari bahasa Yunani yang berarti dalam ragi.
Keseluruhan bagian enzim yang disebut holoenzim tersusun atas dua
komponen utama, yaitu komponen protein (apoenzim) dan komponen nonprotein
(gugus prostetik). Fungsi enzim sangat ditentukan oleh gugus apoenzimnya
karena pada bagian tertentu merupakan tempat melekatnya substrat dan sekaligus
tempat mereksikan substrat. Bagian pada gugus protein yang berfungsi sebagai
pusat katalitik enzim disebut sisi aktif. Komponen nonprotein (gugus prostetik)
dibedakan menjadi gugus kofaktor dan koenzim. Gugus kofaktor tersusun atas zat
anorganik yang umumnya berupa logam, misalnya Cu, Fe, Mn, Zn, Ca, K dan Co.
Gugus koenzim merupakan senyawa organik nonprotein yang tidak melekat erat
pada bagian protein enzim, contohnya NAD, NADP dan koenzim A.

2.4.

SIFAT ENZIM
Sebagai molekul zat yang mempunyai peranan besar dalam metabolisme,

enzim memiliki beberapa sifat penting, di antaranya sebagai berikut:


1)

Enzim adalah Suatu Protein

20

Ini terbukti karena enzim di dalam larutan membentuk suatu koloid.


Keadaan ini akan memungkinkan luasnya permukaan enzim sehingga bidang
aktivitasnya juga besar.
2)

Bekerja Secara Khusus (Spesifik)


Enzim tertentu hanya dapat mempengaruhi reaksi tertentu dan tidak dapat

mempengaruhi reaksi lainnya. Sebagai contoh: di dalam usus rayap terdapat


protozoa yang menghasilkan enzim selulase sehingga rayap dapat hidup dengan
makan

kayu

karena

dapt

mencerna

selulosa

(salah

satu

jenis

karbohidrat/polisakarida). Sebaliknya manusia tidak dapat mencerna kayu,


meskipun mempunyai enzim amilase, yaitu enzim yang dapat mencerna
amilum/pati (yang juga merupakan jenis polisakarida). Enzim amilase dan
selulase masing-masing bekerja secara khusus.
3)

Enzim sebagai Katalisator. Artinya sebagai zat yang mampu mempercepat

reaksi kimia, tetapi enzim tidak ikut bereaksi. Dengan demikian, enzim tidak
diperlukan dalam jumlah yang banyak. Dalam jumlah sedikit saja enzim telah
menyelenggarakan suatu perubahan zat yang beribu-ribu kali lebih berat daripada
berat molekulnya sendiri. Contohnya, sebuah molekul enzim katalase mampu
mengubah 5 juta molekul H2O2 tanpa enzim itu mengalami perubahan.
4)

Dapat digunakan Berulang Kali


Enzim dapat digunakan berulang kali karena enzim tidak berubah pada

saat terjadi reaksi. Meskipun dalam jumlah sedikit, adanya enzim dalam suatu

21

reaksi yang dikatalisirnya akan mempercepat reaksi, karena enzim yang telah
bekerja dalam reaksi tersebut dapat digunakan kembali.
5)

Rusak oleh Panas


Enzim adalah suatu protein yang dapat rusak oleh panas disebut

denaturasi. Kebanyakan enzim rusak pada suhu di atas 50C. Reaksi kimia akan
meningkat dua kali lipat dengan kenaikan suhu sebesar 10C. Kenaikan suhu di
atas suhu 50C tidak dapat meningkatkan reaksi yang dikatalisir oleh enzim, tetapi
justru menurunkan atau menghentikan reaksi tersebut. Hal ini disebabkan
enzimnya rusak sehingga enzim tersebut tidak dapat bekerja. Demikian juga pada
suhu rendah, suhu rendah tidak merusak enzim tetapi hanya tidak aktif saja.
6)

Dapat Bekerja Bolak-Balik


Umumnya enzim dapat bekerja secara bolak-balik. Artinya, suatu enzim

dapat bekerja menguraikan suatu senyawa menjadi senyawa-senyawa lain dan


sebaliknya dapat pula bekerja menyusun senyawa-senyawa itu menjadi senyawa
semula. Pada tumbuhan, proses fotosintesis menghasilkan glukosa. Apabila
glukosa yang dihasilkan dalam jumlah banyak, maka glukosa tersebut diubah dan
disimpan dalam bentuk pati. Pada saat diperlukan, misalnya untuk pertumbuhan,
pati yang disimpan sebagai cadangan makanan tersebut diubah kembali menjadi
glukosa.

22

2.5.

MEKANISME KERJA ENZIM


Reaksi enzimatis akan berlangsung apabila substrat tersedia dan bagian

sisi aktif enzim dalam keadaan kosong. Substrat akan memasuki bagian sisi aktif
enzim dan bagian sisi aktif tersebut akan mengalami perubahan bentuk dengan
mengelilingi substrat. Kemudian terbentuklah ikatan lemah enzim-substrat. Di
dalam sisi aktif, substrat akan diubah menjadi produk, selanjutbya akan
dilepaskan dari enzim. Begitu seterusnya sampai bagian sisi aktif tersebut dapat
ditempati oleh substrat yang lain.
Enzim dapat bekerja dengan beberapa cara:
1) Menurunkan energi aktivasi dengan menciptakan suatu lingkungan yang
mana keadaan transisi terstabilisasi. Contohnya mengubah bentuk substrat
menjadi konformasi keadaan transisi ketika ia terikat dengan enzim.
2) Menurunkan energi dalam keadaan transisi tanpa mengubah bentuk
substrat dengan menciptakan lingkungan yang memiliki distribusi muatan
yang berlawanan dengan keadaan transisi.
3) Menyediakan lintasan reaksi alternatif. Contohnya bereaksi dengan
substrat sementara waktu untuk membentuk kompleks enzim-substrat
antara.
4) Menurunkan perubahan entropi reaksi dengan menggiring substrat
bersama pada orientasi yang tepat untuk bereaksi. Menariknya, efek
entropi ini melibatkan destabilisasi keadaan dasar dan kontribusinya
terhadap katalis relatif kecil.
5) Mekanisme kerja enzim dapat dijelaskan dengan dua hipotesis, yaitu
hipotesis gembok dan anak kunci dan hipotesis kecocokan yang terinduksi.

23

a.

Hipotesis Gembok dan Anak Kunci (Lock and Key)


Menurut hipotesis yang dikemukakan oleh Emil Fischer, bagian sisi aktif

enzim mempunyai bentuk spesifik dan tidak fleksibel. Suatu enzim hanya dapat
ditempati oleh substrat tertentu saja. Enzim dan substrat bergabung bersama
membentuk kompleks, seperti kunci yang masuk dalam gembok. Di dalam
kompleks, substrat dapat bereaksi dengan energi aktivasi yang rendah. Setelah
bereaksi, kompleks lepas dan melepaskan produk serta membebaskan enzim.
b.

Hipotesis Induced Fit


Menurut hipotesis ini, bagian sisi aktif enzim bersifat fleksibel terhadap

substrat yang masuk. Apabila ada substrat yang masuk ke bagian sisi aktif, maka
bagian ini akan mengalami perubahan bentuk mengikuti substrat. Ketika produk
sudah terlepas dari kompleks, selanjutnya enzim tidak aktif menjadi bentuk yang
lepas. Sehingga, substrat yang lain kembali bereaksi dengan enzim tersebut.
2.6

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KERJA ENZIM


Faktor-faktor yang berpengaruh pada kerja enzim adalah suhu, pH, zat

penghambat (inhibitor), konsentrasi substrat dan hasil akhir.


1) Suhu
Peningkatan suhu dapat meningkatkan kecepatan reaksi sampai batas suhu
tertentu. Hal ini disebabkan jika molekul bergerak lebih cepat, maka substrat akan
berikatan lebih cepat pada sisi aktif. Setelah melewati batas suhu tertentu, enzim
akan mengalami denaturasi. Denaturasi adalah perubahan struktur secara kimiawi

24

karena terjadi gangguan pada ikatan hidrogen, ikatan ionik dan ikatan lemah
lainnya yang menyebabkan struktur enzim rusak. Jika kenaikan suhu terus terus
menerus, maka kemampuan kerja enzim menurun, bahkan berhenti.
2)

pH (Derajat Keasaman)
Enzim bekerja optimal pada pH tertentu, umumnya pada pH netral. Pada

kondisi asam atau basa, kerja enzim terhambat. Agar enzim dapat bekerja secara
maksimal, pada penelitian/percobaan yang menggunakan enzim, kondisi pH
larutan dijaga agar tidak berubah, yaitu dengan menggunakan larutan penyangga
(buffer).
3)

Zat Penghambat (Inhibitor)


Zat yang dapat menghambat kerja enzim disebut inhibitor. Inhibitor

merupakan senyawa kimia yang bersifat menghambat kerja enzim. Zat tersebut
memiliki struktur seperti enzim yang dapat masuk ke substrat atau ada yang
memiliki struktur seperti substrat sehingga enzim salah masuk ke penghambat
tersebut. Hambatan enzim dapat dikelompokkan ke dalam tipe reversible (dapat
balik) dan non-reversible (tidak dapat balik). Inhibitor reversibel adalah zat
penghambat yang tidak berkaitan secara kuat dengan enzim, sedangkan inhibitor
irreversible merupakan penghambat yang berkaitan dengan sisi aktif enzim secara
kuat sehingga tidak dapat terlepas.

4)

Konsentrasi Substrat

25

Jumlah substrat yang berlebihan dapat menyebabkan penurunan kerja


enzim. Biasanya, sel akan menambah jumlah enzim dengan cara melakukan
sintesis enzim untuk mengatasi hambatan tersebut.
5)

Hasil akhir
Kerja enzim dipengaruhi hasil akhir. Hasil akhir yang menumpuk

menyebabkan enzim sulit bertemu dengan substrat. Semakin menumpuk hasil


akhir, semakin lambat kerja enzim.

2.7

PERANAN DAN PENAMAAN ENZIM


Tatanama enzim telah diresmikan menurut Persetujuan Internasional

dengan bantuan Commission of Enzymes of the International Union of


Biochemistry. Namun nama-nama umum atau nama biasa masih tetap banyak
digunakan karena sudah lazim dan mudah. Untuk menamakan enzim digunakan
akhiran -ase dan ini hanya digunakan untuk enzim tunggal. Untuk penamaan suatu
kompleks yang terdiri dari beberapa enzim didasarkan pada reaksi keseluruhan
yang dikatalisis olehnya menggunkaan sistem. Nama resmi atau nama sistematik
dibentuk menurut aturan-aturan yang pasti, memberikan petunjuk mengenai apa
substratnya dan macam reaksi yang dikatalisnya. Enzim dibedakan menjadi enam
kelompok, yaitu : oksidoreduktase, transferase, hidrolase, liase, isomerase dan
ligase.
1.

Oksidoreduktase

26

Reaksi katalitiknya adalah dalam reaksi transfer elektron (pemindahan


elektron atau atom hidrogen). Enzim ini terbagi menjadi enzim oksidase dan
enzim reduktase. Enzim oksidase terbagi menjadi kelompok kecil enzim
dehidrogenase dan katalase. Enzim dehidrogenase memegang peranan penting
dalam pengubahan zat-zat organik menjadi hasil-hasil oksidasi. Enzim katalase
menguraikan hidrogen peroksida menjadi air dan hidrogen.
2.

Transferase
Enzim transferase mentransfer gugusan kimia fungsional (fosfat, amino,

metil, dsb) dari suatu substrat ke substrat lain. Reaksi pemindahan ini tidak
menghasilkan energi, tetapi mengubah substrat menjadi senyawa yang dapat
dioksidasi atau menjadi senyawa yang dapat digunakan untuk sintesis material sel.
Salah satu enzim yang termasuk dalam transferase yakni enzim transaminase,
yang berperan memindahkan gugusan amina dari suatu asam amino ke suatu asam
organik sehingga hasil terakhir berubah menjadi suatu asam amino.
3.

Hidrolase
Enzim hidrolase merupakan sekumpulan enzim yang menguraikan suatu

zat dengan pertolongan air, disebut hidrolase karena enzim ini menghidrolisis
molekul-molekul

besar

menjadi

komponen-komponen

kecil

yang

dapat

digunakan. Berdasarkan substrat yang diuraikan, enzim hidrolase dibagi atas


kelompok kecil yakni enzim karbohidrase, esterase dan proteinase.
a)

Karbohidrase, yakni enzim-enzim yang menguraikan golongan karbohidrat.

Misalnya:
27

b)

Amilase, yakni enzim yang menguraikan amilum (suatu polisakarida)

menjadi maltosa (disakarida).


Maltase, yakni enzim yang menguraikan maltosa menjadi glukosa.
Sukrase, yaitu enzim yang mengubah sukrosa (gula tebu) menjadi glukosa

dan fruktosa.
Laktase, yaitu enzim yang mengubah laktosa menjadi glukosa dan

galaktosa.
Selulase, yakni enzim yang menguraikan selulosa (suatu polisakarida)

menjadi selobiosa (suatu disakarida).


Pektinase, yakni enzim yang menguraikan pektin menjadi asam pektin.

Esterase, yakni enzim-enzim yang memecah golongan ester. Misalnya:

Lipase, yaitu enzim yang menguraikan lemak menjadi gliserol dan asam

lemak.
Fosfatase, yaitu enzim-enzim yang menguraikan suatu ester hingga
terlepas asam fosfat.

c)

Proteinase, yakni enzim-enzim yang menguraikan golongan protein.

Misalnya:

4.

Peptidase, yaitu enzim yang menguraikan peptida menjadi asam amino.


Gelatinase, yakni enzim yang menguraikan gelatin.
Renin, yaitu enzim yang menguraikan kasein dari susu.
Liase
Mengkatalisis reaksi penambahan gugusan ikatan ganda pada molekul dan

membuang gugusan non-hidrolitik dengan meninggalkan ikatan ganda.


5.

Isomerase

28

Enzim Isomerase berperan dalam reaksi isomerasi (pengubahan suatu


senyawa menjadi isomernya, misalnya senyawa yang memiliki atom-atom yang
sama tetapi berbeda struktur molekulnya).
6.

Ligase
Enzim ligase berperan dalam reaksi penggabungan dua molekul menjadi

satu molekul atau pembentukan ikatan disertai pemecahan atau penambahan ATP
(adenin triphosphat).
2.8.

PENGENDALIAN ENZIM
Enzim bekerja secara serentak dan terkoordinasi sehingga semua kegiatan

kimiawi dalam sel menjadi saling terpadu. Salah satu akibatnya yang jelas adalah
sel hidup membutuhkan dan menguraikan bahan-bahan yang dibutuhkan bagi
metabolisme dan pertumbuhan normal..
Pengendalian langsung mekanisme katalitik itu terjadi dengan mengubah
konsentrasi substrat atau reaktan. Artinya, jika konsentrasi substrat bertambah,
maka laju reaksi meningkat sampai tercapai suatu nilai pembatas dan jika produk
menumpuk maka laju reaksi menurun.
Pangendalian langsung melalui penggandengan dengan proses-proses lain,
maksudnya adalah pengaturan oleh ligan (molekul yang dapat terikat pada enzim)
yang tidak ikut berperan dalam proses katalitik itu sendiri. Ada berbagai macam
pengendalian seperti itu, diantaranya:

29

1. Hambatan arus balik, ligan pengaturnya adalah produk akhir suatu lintasan
metabolik yang dapat menghentikan sintesisnya sendiri dengan cara
menghambat aktivitas salah satu enzim pada awal lintasan biosintetiknya.
2. Aktivasi prekursor, ligan pengaturnya merupakan prekursor pertama suatu
lintasan.
3. Pengendalian yang berkaitan dengan energi, ligan pengaturnya adalah
reaksi-reaksi yang berkaitan dengan energi .
4. Sifat-sifat pengikatan enzim pengatur, tidak semua enzim merupakan
enzim pengatur yang aktivitasnya dapat dikendalikan secara langsung.
Enzim tersebut dapat dipengaruhi oleh metabolit pengatur.

BAB III
PENUTUP
A.

Kesimpulan
Dari pembahasan diatas dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:

30

1. Metabolisme dibagi atas dua fase yaitu anabolisme dan katabolisme.


Anabolisme adalah Pembentukan senyawa yang memerlukan energi (Rekasi
endergonik) misalnya reaksi fotosintesis: membentuk C6G12O5 dari CO2 dan
H2O. Katabolisme adalah proses penguraian senyawa yang menghasilkan
energi (reaksi eksergonik) misalnya pada respirasi yang menguraikan
karbohidrat menjadi asam piruvat dan energy.
2. Fotosintesis terjadi dua tahapan yaitu reaksi terang dan reaksi gelap. Reaksi
terang atau fosforilasi reaksi ini terjadi di tilakoid dan reaksi gelap terjadi di
dalam stromokloroplas.
3. Respirasi aerob merupakan serangkaian reaksi enzimatis yang mengubah
glukosa secara sempurna menjadi CO 2,H2O dan menghasilkan energi.
Reaksi-reaksi tersebut dibedakan menjadi tiga tahap yakni glikolisis, siklus
kreb (the tricarboxylic acid cycle) dan tranfer elektron.
4. Beberapa bakteri fakultatif anaerob dan obligatif anaerob melakukan respirasi
anaerob. Dengan melibatkan electron transport system (ETS), tetapi terminal
akseptor elektron selain oksigen.

DAFTAR PUSTAKA

Ameilia Siregar. 2010. Metabolisme Sel, Enzim dan Peranannya..


Arif Priyadi dan Tri Silawati. 2007. Sains Biologi untuk SMA Kelas XII. Jakarta:
Yudhistira.

31

Kimbal, J. (n.d.). 1997. Biologi Edisi kelima. Alih bahasa: Siti Soetarmi
Tjitrosomo, Nawangsari Sugiri. Jakarta: Erlangga.
Lud Waluyo. 2007. Mikrobiologi Umum. Malang: UMM Press.
Michael J. Pelczar, Jr dan E.C.S. Chan. 1986. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta:
UI Press.
Slamet Prawirohartono dan Hadisumarto S. 1997. Sains Biologi 3A Untuk SMU
Kelas 3 Tengah Tahun Pertama Sesuai Kurikulum 1994. Jakarta: Bumi
Aksara.

32