Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pelayanan dan informasi keluarga berencana merupakan suatu intervensi
kunci dalam upaya meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan keluarga dan
masyarakat, serta merupakan hak asasi manusia.
Telah terjadi perkembangan yang berarti dalam tekhnologi kontrasepsi,
misalnya transisi dari estrogen dosis tinggi ke dosisi rendah pada pil
kombinasi, atau dari AKDR inert

ke AKDR yang

mengeluarkan

levonorgestrel. Perkembangan ini telah menghasilkan pilihan lebih banyak


tentang metode kontrasepsi yang lebih aman dan efektif. Salah satu alat
kontrasepsi yang akan di bahas pada makalah ini adalah tentang IUD / AKDR
(alat kontrasepsi dalam rahim).
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian kontrasepsi Intrauterine Device (IUD)?
2. Apa saja jenis-jenis kontrasepsi IUD?
3. Apa indikasi dan kontara indikasi KB IUD?
4. Bagaimana cara kerja IUD?
5. Apa saja keuntungan dan kerugian IUD?
6. Kapan waktu penggunaan dan pemeriksaan IUD?
7. Apa saja petunjuk bagi klien?
8. Bagaimana cara insersi/pemasangan IUD?
9. Bagaimana cara pelaksanaan IUD?
10. Bagaimana cara pelepasan IUD?
11. Seefektifitas apa alat kontrasepsi IUD?
12. Apa saja keluhan-keluhan akibat pemasangan IUD?
13. Apa masalah yang ditimbulkan pada pemasangan IUD dan bagaimana
penanganannya?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian kontrasepsi Intrauterine Device (IUD)
2. Untuk mengetahui jenis-jenis kontrasepsi IUD
3. Untuk mengetahui indikasi dan kontra indikasi IUD
4. Untuk mengetahui bagaimana cara kerja IUD
5. Untuk mengetahui keuntungan dan kerugian IUD
6. Untuk mengetahui waktu pelaksanaan dan pemeriksaan IUD
7. Untuk mengetahui petunjuk bagi klien.
8. Untuk mengetahui cara insersi/pemasangan IUD
9. Untuk mengetahui cara pelaksanaan IUD
10. Untuk mengetahui cara pelepasan IUD.
11. Untuk mengetahui efektifitas IUD.
12. Untuk mengetahui keluhan-keluhan akibat pemasangan IUD
13. Untuk mengetahui masalah yang ditimbulkan pada pemasangan IUD dan
bagaimana penangannya

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Kontrasepsi Intra Uterine Device (IUD)
IUD (Intra Uterine Device) adalah alat kontrasepsi yang disisipkan ke
dalam rahim, terbuat dari bahan semacam plastik, ada pula yang dililit
tembaga, dan bentuknya bermacam-macam. Bentuk yang umum dan mungkin
banyak dikenal oleh masyarakat adalah bentuk spiral. Spiral tersebut
dimasukkan ke dalam rahim oleh tenaga kesehatan (dokter/bidan terlatih).
Sebelum spiral dipasang, kesehatan ibu harus diperiksa dahulu untuk
memastikan kecocokannya. Sebaiknya IUD ini dipasang pada saat haid atau
segera 40 hari setelah melahirkan (Subrata, 2003).
IUD adalah suatu alat atau benda yang dimasukkan ke dalam rahim yang
sangat efektif, reversibel dan berjangka panjang, dapat dipakai oleh semua
perempuan usia reproduktif. IUD atau AKDR atau Spiral adalah suatu alat
yang dimasukkan ke dalam rahim wanita untuk tujuan kontrasepsi.
IUD (Spiral) adalah Suatu alat kontrasepsi yang dimasukkan kedalam
rahim terbuat dari plastik halus (Polyethelen) untuk mencegah terjadinya
konsepsi atau kehamilan. (BKKBN, 2003).
2.2 Jenis-Jenis Kontrasepsi IUD
IUD yang banyak dipakai di indonesia dewasa ini dari jenis Un Medicate
yaitu Lippes Loop dan yang dari jenis Medicate Cu T, Cu-7, Multiload dan
Nova-T.
1. AKDR Non-Hormonal
Pada saat ini AKDR telah memasuki generasi ke-4, karena itu berpuluhpuluh macam AKDR telah dikembangkan. Mulai dari generasi pertama
yang terbuat dari benang sutra dan logam sampai generasi plastic
(polietilen) baik yang ditambah obat maupun tidak.

a. Menurut bentuknya AKDR dibagi menjadi 2 :


1) Bentuk terbuka (oven device)
Misalnya : LippesLoop, CUT, Cu-7, Marguiles, Spring Coil,
Multiload, Nova-T.

b.

2) Bentuk tertutup (closed device)


Misalnya : Ota-Ring, Atigon dan Graten Berg Ring.
Menurut Tambahan atau Metal
1) Copper-T
IUD berbentuk T, terbuat dari bahan polyethelen dimana pada
bagian vertikalnya diberi lilitan kawat tembaga halus. Lilitan
tembaga halus ini mempunyai efek anti fertilitas (anti pembuahan)
yang cukup baik.
2) Copper-7

IUD ini berbentuk angka 7 dengan maksud untuk memudahkan


pemasangan. Jenis ini mempunyai ukuran diameter batang vertikal
32 mm dan ditambahkan gulungan kawat tembaga luas permukaan
200 mm2, fungsinya sama dengan lilitan tembaga halus pada IUD
Copper-T.

3) Multi load
IUD ini terbuat dari plastik (polyethelene) dengan dua tangan kiri
dan kanan berbentuk sayap yang fleksibel. Panjang dari ujung atas
ke ujung bawah 3,6 cm. Batang diberi gulungan kawat tembaga
dengan luas permukaan 250 mm2 atau 375 mm2 untuk menambah
efektifitas. Ada tiga jenis ukuran multi load yaitu standar, small, dan
mini.
4) Lippes loop

Terbuat dari polyethelen, berbentuk spiral atau huruf S


bersambung. Untuk memudahkan kontrol diberi benang pada
ekornya. Lippes Loop mempunyai angka kegagalan yang rendah,
keuntungan lain dari AKDR/IUD jenis ini adalah jarang terjadi luka
atau porforasi, sebab terbuat dari bahan plastic.
Spiral bisa bertahan dalam rahim dan menghambat pembuahan
sampai 10 tahun lamanya. Setelah itu harus dikeluarkan dan diganti.
Bahan spiral yang paling umum digunakan adalah plastic atau plastic
bercampur tembaga. Terdapat dua jenis IUD yaitu IUD dengan
tembaga dan IUD dengan hormon (dikenal dengan IUS =
Intrauterine System). IUD tembaga (copper) melepaskan partikel
tembaga untuk mencegah kehamilan sedangkan IUS melepaskan
hormon progestin (Kusmarjadi, 2010).
Spiral jenis copper T (melepaskan tembaga) mencegah kehamilan
dengan cara menganggu pergerakan sperma untuk mencapai rongga
rahim dan dapat dipakai selama 10 tahun. Progestasert IUD
(melepaskan progesteron) hanya efektif untuk 1 tahun dan dapat
digunakan untuk kontrasepsi darurat (ILUNI FKUI, 2010)
2. IUD yang mengandung hormonal
a. Progestasert-T = Alza T
1.

Panjang 36 mm, lebar 32 mm, dengan 2 lembar benang ekor warna


hitam

2.

Mengandung 38 mg progesteron dan barium sulfat, melepaskan 65


mcg progesteron per hari.

3.

Tabung insersinya berbentuk lengkung

4.

Daya kerja : 18 bulan

5.

Teknik insersi : plunging (modified withdrawal)

b. LNG-20
1. Mengandung 46-60 mg Levonorgestrel, dengan pelepasan 20 mcg
per hari.
2. Sedang ditelit di Firlandia.
3. Angka kegagalan / kehamilan angka terendah : <0,5 per 100 wanita
per tahun.

2.3 Indikasi dan Kontraindikasi Kontrasepsi IUD


1. Indikasi
1) Usia reproduktif
2) Keadaan nulipara
3) Menginginkan menggunakan kontrasepsi jangka panjang
4) Perempuan menyusui yang menginginkan menggunakan kontrasepsi
5) Setelah melahirkan dan tidak menyusui
6) Setelah mengalami abortus dan tidak terlihat adanya infeksi
7) Risiko rendah dari IMS
8) Tidak menghendaki metode hormonal
9) Tidak menyukai mengingat-ingat minum pil setiap hari
10) Tidak menghendaki kehamilan setelah 1 5 hari senggama
11) Perokok
12) Pasca keguguran atau kegagalan kehamilan apabila tidak terluhat
adanya infeksi
13) Gemuk ataupun kurus
14) Penderita tumor jinak payudara
15) Penderita kanker payudara
16) Pusing-pusing, sakit kepala
17) Tekanan darah tinggi
18) Varises di tungkai atau di vulva

19) Diabetes
20) Setelah kehamilan ektopik
2. Kontraindikasi
1) Sedang hamil
2) Perdarahan vagina yang tidak diketahui
3) Sedang menderita infeksi alat genital (vaginitis, servisitis)
4) Tiga bulan terakhir sedang mengalami atau sering menderita PRP atau
abortus septik
5) Kelainan bawaan uterus yang abnormal atau tumor jinak rahim
yangdapat mempengaruhi kavum uteri
6) Penyakit trofoblas yang ganas
7) Diketahui menderita TBC pelvik
8) Kanker alat genital
9) Ukuran rongga rahim kurang dari 5 cm
2.4 Cara Kerja IUD
Cara kerja dari alat kontrasepsi IUD adalah sebagai berikut.
1.

Menghambat kemampuan sperma masuk ketuba fallopi.

2.

Mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai kavum uteri.

3.

IUD bekerja terutama mencegah sperma dan ovum bertemu.

4.

IUD membuat sperma sulit masuk ke dalam alat reproduksi perempuan


dan mengurangi kemampuan sperma untuk fertilisasi.

5.

Memungkinkan untuk mencegah implantasi telur dalam uterus.


Mekanisme kerja AKDR sampai saat ini belum diketahui secara pasti, ada

yang berpendapat bahwa AKDR sebagai benda asing yang menimbulkan


rekasi radang setempat dengan serbukan lekosit yang dapat melarutkan
blastosis atau sperma.
1) Sifat-sifat dari cairan uterus mengalami perubahan-perubahan pada
pemakaian AKDR yang menyebabkan blastokista tidak dapat hidup dalam
uterus.
2) Produksi lokal prostaglandin yang meninggi, yang menyebabkan sering
adanya kontraksi uterus pada pemakaian AKDR yang dapat menghalangi
nidasi.

3) AKDR yang mengeluarkan hormon akan mengentalkan lender serviks


sehingga menghalangi pergerakan sperma untuk dapat melewati cavum
uteri.
4) Pergerakan ovum yang bertambah cepat didalam tuba fallopii
Sebagai metode biasa (yang dipasang sebelum hubungan sexual terjadi)
AKDR mengubah transportasi tuba dalam rahim dan mempengaruhi sel telur
dan sperma sehingga pembuahan tidak terjadi. Sebagai kontrasepsi darurat
(dipasang setelah hubungan sexual terjadi) dalam beberapa kasus mungkin
memiliki mekanisme yang lebih mungkin adalah dengan mencegah terjadinya
implantasi atau penyerangan sel telur yang telah dibuahi ke dalam dinding
rahim.
2.5 Keuntungan dan Kerugian IUD
1. Keuntungan dari alat kontrasepsi IUD adalah sebagai berikut
1) Sebagai kontrasepsi, efektifitasnya tinggi.
2) IUD (AKDR) dapat efektif segera setelah pemasangan
3) metode jangka panjang (10 tahun proteksi dari CuT-380A dan tidak
perlu diganti)
4) Sangat efektif karena tidak perlu lagi mengingat-ingat
5) Tidak mempengaruhi hubungan seksual
6) Meningkatkan kenyamanan seksual karena tidak perlu takut untuk
hamil
7) Tidak ada efek samping hormonal dengan Cu AKDR (CuT-380A)
8) Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI
9) Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau sesudah abortus
(apabila tidak terjadi infeksi).
10) Dapat digunakan sampai menopause (1 tahun lebih setelah haid
terakhir).
11) Tidak ada interaksi dengan obat-obat.
12) Membantu mencegah kehamilan ektopik (Saifuddin. AB, 2006).
2. Kerugian dari alat kontrasepsi IUD adalah sebagai berikut
Setelah pemasangan, beberapa ibu mungkin mengeluh merasa nyeri
dibagian perut dan pendarahan sedikit-sedikit (spoting). Ini bisa berjalan
selama 3 bulan setelah pemasangan. Tapi tidak perlu dirisaukan benar,
9

karena biasanya setelah itu keluhan akan hilang dengan sendrinya. Tetapi
apabila setelah 3 bulan keluhan masih berlanjut, dianjurkan untuk
memeriksanya ke dokter. Pada saat pemasangan, sebaiknya ibu tidak
terlalu tegang, karena ini juga bisa menimbulkan rasa nyeri dibagian perut.
Dan harus segera ke klinik jika:
1) Mengalami keterlambatan haid yang disertai tanda-tanda kehamilan:
mual, pusing, muntah-muntah.
2) Terjadi pendarahan yang lebih banyak (lebih hebat) dari haid biasa.
3) Terdapat tanda-tanda infeksi, semisal keputihan, suhu badan
meningkat, mengigil, dan lain sebagainya. Pendeknya jika ibu merasa
tidak sehat
4) Sakit, misalnya diperut, pada saat melakukan senggama. Segeralah
pergi kedokter jika anda menemukan gejala-gejala diatas.
3. Efek samping
a. Saat Insersi
Rasa sakit/nyeri, muntah, keringat dingin dan syncope, serta
perforasi uterus.
b. Setelah Insersi
Perubahan siklus haid (umumnya pada 3 bulan pertama dan akan
berkurang setelah 3 bulan), haid lebih lama dan banyak, dan
perdarahan (spotting) antar menstruasi dan saat haid lebih sakit.
4. Komplikasi
1) Merasakan sakit dan kejang selama 3 sampai 5 hari setelah pemasangan
2) Perdarahan

berat

pada

waktu

haid

atau

di

antaranya

yang

memungkinkan penyebab anemia.


3) Perforasi dinding uterus (sangat jarang apabila pemasangannya benar)
Komplikasi pemakaian AKDR yang sering muncul yaitu AKDR yang
tertanam dalam-dalam di endometrium atau miometrium (embedding,
displacement) dan infeksi (Hartanto, 2004).
2.6 Waktu Penggunaan dan Waktu Pemakai Memeriksakan Diri
a. Waktu Penggunaan
1. Setiap waktu dalam siklus haid (dipastikan tidak hamil).
2. Hari 1 7 siklus haid.
3. Segera setelah melahirkan, (48 jam pertama/ 1 bulan pasca salin).

10

4. Setelah menderita abortus (segera atau dalam waktu 7 hari) apabila


tidak ada gejala infeksi
5. Selama 1 5 hari setelah senggama tidak terlindungi.
b. Waktu Pemakai Memeriksakan Diri
1. Satu (1) satu bulan setelah pemasangan
2. Tiga (3) bulan kemudian
3. Setiap 6 bulan berikutnya
4. Satu (1) tahun sekali
5. Bila terlambat haid 1minggu
6. perdarahan banyak atau keluhan istimewa lainnya
2.7 Petunjuk Bagi Klien
1.

Kembali memeriksakan diri setelah 4 6 minggu pasca pemasangan


AKDR.

2.

Selama 1 bulan pertama penggunaan AKDR, periksalah benang AKDR


secara rutin terutama setelah haid

3.

Setelah bulan pertama pemasangan, hanya perlu memeriksa keberadaan


benang setelah haid apabila mengalami:
a. Kram kejang perut bagian bawah.
b. Perdarahan (spotting) diantara haid/setelah senggama.
c. Nyeri setelah senggama atau apabila pasangan mengalami tidak
nyaman selama melakukan hubungan seksual

4.

Masa copper T 380A perlu dilepas 10 tahun pemasangan, tetapi dapat


dilakukan lebih awal apabila diinginkan

5.

Kembali ke klinik apabila:


a. Tidak dapat meraba benang AKDR.
b. Merasakan bagian keras dari AKDR.
c. Adanya infeksi.
d. AKDR terlepas.
e. Siklus terganggu.
f. Terjadi pengeluaran cairan dari vagina yang mencurigakan

2.8 Insersi / Pemasangan IUD


1. Insersi yang tidak baik dari IUD dapat menyebabkan :
a. Ekspulsi.
b. Kerja kontraseptif tidak efektif.
c. Perforasi uterus.

11

2. Untuk sukses / berhasilnya insersi IUD tergantung pada beberapa hal,


yaitu :
a. Ukuran dan macam IUD beserta tabung inserternya.
b. Makin kecil IUD, makin mudah insersinya, makin tinggi ekspulsinya.
c. Makin besar IUD, makin sukar insersinya, makin rendah ekspulsinya.
3. Waktu atau saat insersi.
a.
Insersi Interval
1) Kebijakan (policy) lama : Insersi IUD dilakukan selama atau segera
sesudah haid. Alasan : Ostium uteri lebih terbuka, canalis cervicalis
lunak, perdarahan yang timbul karena prosedur insersi, tertutup oleh
perdarahan haid yang normal, wanita pasti tidak hamil. Tetapi,
akhirnya kebijakan ini ditinggalkan karena : Infeksi dan ekspulsi
lebih tinggi bila insersi dilakukan saat haid, Dilatasi canalis
cervicalis mid-siklus, memudahkan calon akseptor pada setiap ia
datang ke klinik KB.
2) Kebijakan (policy) sekarang : Insersi IUD dapat dilakukan setiap
saat dari siklus haid asal kita yakin seyakin-yakinnya bahwa calon
akseptor tidak dalam keadaan hamil.
b. Insersi Post-Partum
Insersi IUD adalah aman dalam beberapa haris post-partum, hanya
kerugian paling besar adalah angka kejadian ekspulsi yang sangat
tinggi. Tetapi menurut penyelidikan di Singapura, saat yang terbaik
adalah delapan minggu post-partum. Alasannya karena antara empatdelapan minggu post-partum, bahaya perforasi tinggi sekali.
c. Insersi post-Abortus
Karena konsepsi sudah dapat terjadi 10 hari setelah abortus, maka
IUD dapat segera dipasang sesudah :
1) Abortus trimester I : Ekspulsi, infeksi, perforasi dan lain-lain sama
seperti pada insersi interval.
2) Abortus trimester II : Ekspulsi 5 00x lebih besar daripada setelah
abortus trimester I.
d. Insersi Post Coital
Dipasangkan maksimal setelah 5 hari senggama tidak terlindungi.
4. Teknik insersi, ada tiga cara :
a. Teknik Push Out : mendorong : Lippes Loop, Bahaya perforasi lebih
besar.
b. Teknik Withdrawal : menarik : Cu IUD.

12

c. Teknik Plunging : mencelupkan : Progestasert-T.


2.9 Cara Pelaksanaan IUD
A. Prosedur sebelum pemasangan
1.

Lakukan prosedur asepsis secara ketat selama pemasangan .

2.

Lihatlah serviks dengan speculum dan bersihkan dengan larutan


antiseptic . Pegang bibir anterior dengan tenakulum . Menarik
tenakulum dengan hati-hati mengurangi sudut antara kanalis servikalis
dan rongga uterus dan memudahkan pemasangan sonda uterus.
Tenakulum harus tetap terpasang sealama memasang Nova T supaya
serviks tetap tertarik.

3.

Masukkan sonda uterus melalui kanalis serviks ke dalam rongga


uterus sampai mencapai

fundus. Setelah menentukan arah serta

panjang kanalis servikalis dan rongga uterus, siapkan Nova T untuk


dipasang.
4.

Lakukan pemasangan sesuai langkah 1-6.

B. Pemasangan
1. Langkah 1
Setelah uterus diukur, buka separuh dari kemasan . Pegang kedua
ujung benang dan tarik alat secara hati-hati kedalam tabung insersi
sampai knop di ujung lengan horizontal menutupi lubang tabung.
Knop tidak perlu ditarik ke dalam tabung. Benang bisa putus kalaau
ditarik terlalu keras.
2. Langkah 2
a. Luruskan flens berwarna kuning dengan satu tangan, tarik tabung
insersi sampai ujung bawah flens menunjukkan ukuran yang
didapat dari sonda uterus.
b. Pegang benang lurus di dalam tabung dengan satu tangan,
masukkan plunger (alat penghisap) ke dalam tabung insersi. Ini
untuk memastikan bahwa benang tidak tertekan pada alat oleh
plunger.
c. Sebelum dipasang, tabungg dapat ditekuk untuk disesuaikan
dengan posisi uterus. Tetukan harus dilakukan ketika alat masih
berada dalam kemasan steril setelah memasukkan plunger kedalam
tabung insersi.
13

3. Langkah 3
a. Pastikan bahwa flens menunjukkan arah lengan horizontal akan
membuka di dalam uterus. Keluarkan tabung insersi yang telah
terisi dari kemasan .
b. Masukkan tabung insersi ke dalam uterus melalui kanalis servikalis
sampai flens menyentuh os servikal.
4. Langkah 4
a. Perhatikan bagian plunger yang kasar. Pegang plunger dengan erat
dan lepaskan lengan horizontal dari alat dengan menarik tabung
insersi ke bawah sampai ujungnya menyentuh bagian yang kasar.
b. Jarak antara flens dan os servikal sekarang sekitar 1,5 cm.
5. Langkah 5
Pegang tabung dan plunger secara bersamaan, tekan alat secara
hati- hati sampai flens menyentuh os servikal lagi.
6. Langkah 6
a. Pegang plunger dengan erat, keluarkan alat dari tabung insersi
seluruhnya dengan menarik tabung ke bawah sampai cincin dari
plunger.
b. Supaya alat tidak bergeser dari posisi fundus, pertama-tama
lepaskan plunger sambil terus menahan tabung insersi, kemudian
keluakan tabung insersi. Gunting benang sampai tersisa 2-3 cm
terlihat di luar serviks.

2.10

Cara Pelepasan IUD

1.

Petugas harus siap ditempat

2.

Harus ada permintaan dan persetujuan dari calon peserta.

3.

Ruang pemeriksaan yang tertutup, bersih, dan cukup ventilasi.

4.

Alat-alat yang harus tersedia lengkap sesuai dengan standart yang


ditentukan :
a. Meja dengan alas duk steril.

14

b. Sarung tangan kanan dan kiri


c. Lidi kapas, kapas first aid secukupnya.
d. Cocor bebek / speculum
e. Tampon tang
f. Tutup duk steril
g. Bengkok
h. Lampu
i. Timbangan berat badan
j. Tensimeter
k. Stetoskop
Langkah-langkah :
1) Memberi penjelasan kepada calon peserta mengenai keuntungan, efek
samping dan cara menanggulangi efek samping.
2) Melaksanakan anamnese umum, keluarga, media dan kebidanan.
3) Melaksanakan pemeriksaan umum meliputi timbang badan, mengukur
tensimeter.
4) Siapkan alat-alat yang diperlukan.
5) Mempersilakan calon peserta untuk berbaring di bed gynaecologi dengan
posisi Lithomi.
6) Bersihkan vagina dengan Lysol
7) Melaksanakan pemeriksaan dalam untuk menentukan keadaan dan posisi
uterus.
8) Pasang speculum sym.
9) Mencari benang IUD kemudian dilepas dengan tampon
10) Setelah IUD berhasil dilepas, alat-alat dibereskan
11) Pasien dirapikan kembali
12) Memberi penjelasan kepada peserta gejala-gejala yang mungkin terjadi /
dialami setelah AKDR dilepas dan kapan harus control
13) Menyerahkan nota pelayanan dan menerima pembayaran sesuai dengan
nota
14) Mencatat data pelayanan dalam kartu dan buku catatan, register KB
untuk dilaporkan ke bagian Rekam Medik

15

2.11 Efektifitas Alat Kontrasepsi IUD


Sebagai kontrasepsi AKDR tipe T efektifitasnya sangat tinggi yaitu berkisar
antara 0,6-0,8 kehamilan per 100 perempuan dalam 1 tahun pertama (1
kegagalan dalan 125-170 kehamilan). Sedangkan AKDR dengan pregesteron
antara 0,5-1 kehamilan per 100 perempuan pada tahun pertama penggunaan
(saifuddin, 2003)
Efektivitas dari IUD dinyatakan dalam angka kontinuitas (continuation rate)
yaitu berapa lama IUD tetap tinggal in-utero tanpa : Ekspulsi spontan,
terjadinya kehamilan & pengangkatan / pengeluaran karena alasan-alasan
medis atau pribadi.
Efektivitas dari bermacam-macam IUD tergantung pada :
1. IUD-nya :
a. Ukuran,
b. Bentuk, dan
c. Mengandung Cu atau Progesterone.
2. Akseptor
a. Umur : Makin tua usia, makin rendah angka kehamilan, ekspulsi dan
pengangkatan / pengeluaran IUD.
b. Paritas : Makin muda usia, terutama pada nulligravid, makin tinggi
angka ekspulsi dan pengangkatan/pengeluaran IUD.
c. Frekuensi senggama

2.12 Keluhan-keluhan pemakai IUD


Keluhan yang dijumpai pada penggunaan IUD adalah terjadinya sedikit
perdarahan, bisa juga disertai dengan mules yang biasanya hanya
berlangsung tiga hari. Tetapi, jika perdarahan berlangsung terus-menerus
dalam jumlah banyak, pemakaian IUD harus dihentikan. Pengaruh lainnya
terjadi pada perangai haid. Misalnya, pada permulaan haid darah yang
keluar jumlahnya lebih sedikit daripada biasa, kemudian secara mendadak

16

jumlahnya menjadi banyak selama 1-2 hari. Selanjutnya kembali sedikit


selama beberapa hari. Kemungkinan lain yang terjadi adalah kejang rahim
(uterine cramp), serta rasa tidak enak pada perut bagian bawah. Hal ini
karena terjadi kontraksi rahim sebagai reaksi terhadap IUD yang merupakan
benda asing dalam rahim. Dengan pemberian obat analgetik keluhan ini
akan segera teratasi. Selain hal di atas, keputihan dan infeksi juga dapat
timbul selama pemakaian IUD.
2.13 Masalah IUD dan Penanganannya
Menurut Direktorat Pelayanan Medis KB.1984. Penanggulangan efek
samping atau masalah AKDR (IUD) adalah sebagai berikut :
1. Perdarahan oleh AKDR
a. Bentuk gejala/keluhan :
-

Perdarahan haid yang lebih lama atau lebih banyak dari biasa
(Menoragia)

Perdarahan di luar haid (Metroragia)

Perdarahan yang berupa tetesan (Spotting)

b. Penyebab gejala/keluhan :
-

Diperkirakan karena kerja enzim yang terkonsentrasi di jaringan


selaput lender rahim (endometrium). Enzim ini bersifat
fibrionolitik (menghancurkan fibril).
Catatan : Fibrin adalah zat yang berguna untuk pembekuan
darah.

Factor mekanik yaitu perlukaan selaput lender rahim karena


kontraksi rahim. Disebabkan karena adanya ketidakserasian
antara besarnya AKDR dan rongga rahim (incompatibility).

17

c. Penanggulangan dan pengobatan :


KIE:
-

Penjelasan sebab terjadinya.

Gangguan haid berlebihan memang akan terjadi pada 3


bulan pertama pemakaian AKDR.

Untuk menoragia segera menghubungi petugas kesehatan


untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Pada

pemakaian

AKDR

tembaga

biasanya

tidak

menimbulkan perdarahan yang lama dan banyak.


Tindakan medis :
-

Pemberian vitamin, koagulasi (obat untuk pembekuan


darah), zat besi dll
Dalam hal ini bisa diberikan :

Vit. K : 3 x 1 tablet sehari (3-5)

Vit. C : 3 x 1 tablet sehari (3-5)

Adona : 3 x 1 tablet sehari (3-5)

Penggantian AKDR

Apabila tindakan poin 1 & 2 belum menolong, dilakukan


pencabutan AKDR dan diganti dengan cara kontrasepsi
lainnya.

Catatan khusus :

18

Dalam keadaan normal, perdarahan pada waktu haid 35 cc,


pada pemakaian AKDR bisa bertambah antara 20 30 cc

2. Infeksi oleh AKDR


a. Bentuk gejala/keluhan :
- Nyeri di daerah perut bawah
- Keputihan yang berbau
- Demam
- Nyeri pada waktu bersetubuh
b. Penyebab gejala :
- Peradangan bisa terjadi akibat pemasangan yang tidak steril
- Peradangan bisa juga terjadi pada waktu pemasangan saja atau setiap saat selama
memakai AKDR
c. Penanggulangan dan pengobatan :
KIE :
-

Penjelasan sebab terjadinya.

Segera

menghubungi

dokter

untuk

mendapatkan

pengobatan.
Tindakan medis :
-

Pengobatan dengan antibiotika broad spectrum, misal :


1. Penicillin : 3 x 500 mg 3 5 hari (penbritin, amicilin dll)
2. Teramycin : 3 x 500 mg 3 5 hari

19

3. Erythromycin : 3 x 500 mg 3 5 hari


Atau
1. Penicillin : 800.000 u/hari 3 5 hari
2. Teramycin injeksi : 50 mg/hari 3 5 hari
3. Garamycin injeksi : 80 mg/hari 3 5 hari
-

Bila telah dilakukan pengobatan 5 7 hari tigak berhasil,


AKDR di cabut dang anti cara kontrasepsi yang lain.

Catatan khusus :
Injeksi dapat berupa :
-

Radang liang senggama (vaginitis)

Radang leher rahim (cervicitis)

Radang selaput lender rahim (endometritis)

Radang selaput sel telur (salphingitis/adnexitis)

Radang panggul (PID=Pelvis Inflamatory Disease)

Abses

3. Keputihan oleh AKDR


a. Bentuk gejala/keluhan :
- Dapat timbul setelaha pemasangan AKDR.
- Keluar cairan berwarna putih dari vagina.
b. Penyebab gejala :

20

- Reaksi dari endometrium karena adanya AKDR di dalam kandung rahim (benda
asing).
- Adanya infeksi yang terbawa pada waktu pemasangan AKDR.
c. Penanggulangan & pengobatan :
KIE :
Diberikan penerangan bila keputihan yang terjadi adalah sedikit dan
tidak perlu dirisaukan, karena hal tersebut adalah gejala biasa, serta
diberikan penjelasan sbb:
-

Keputihan bening tidak berbau tidak berbahaya, akan berkurang


setelah 3 bulan

Kalau ada bau, keruh/kekuningan harus diperiksakan kepada dokter.


Tindakan medis :

Periksa dalam

Bila keputihan banyak agar diberikan obat vaginal yang tersedia,


missal albotil

Dilihat apakah ada erosi portio, bila ada diobati dengan albotil

Bila dengan pengobatan tidak menolong, AKDR dicabut dan diganti


cara kontrasepsi lain.

Catatan khusus :
-

Keputihan dapat juga disebabkan oleh penyakit :


1. Infeksi panggul
2. Candidiasis (infeksi jamur candida)

21

3. Trichomoniasis (infeksi jamur trichomonas)


4. Vaginitis spesifik (infeksi liang senggama oleh gonoroe)
Dalam hal ini diberikan pengobatan infeksi.
4. Ekspulsi AKDR
a. Bentuk gejala/keluhan :
-

Bila ada AKDR teraba di dalam vagina (bisa seluruh AKDR


atau sebagian)

Dapat terjadi sewaktu waktu, akan tetapi biasanya pada waktu


haid berikutnya setelah pemasangan.

Bisa juga terjadi secara spontan pada bulan pertama


pemasangan.

b. Penyebab gejala :
-

Karena ukuran AKDR terlalu kecil atau terlalu besar (AKDR


yang terlalu kecil lebih tinggi angka ekspulsi dari pada AKDR
yang lebih besar)

Karena letak AKDR yang tidak sempurna di dalam rahim.

c. Penanggulangan & pengobatan :


KIE :
-

Pemantapan kembali pemakaian AKDR

Tindakan medis :
-

AKDR dikeluarkan dan diganti dengan AKDR baru yang


sesuai dengan ukuran rahim dan cara pemasangan yang baik.

22

Bila AKDR terlalu kecil -------- ganti yang lebih besar


Bila AKDR terlalu besar -------- ganti yang lebih kecil
Catatan khusus :
-

Kemungkinan terjadinya ekspulsi ini sangat di pengaruhi oleh jenis


bahan yang dipakai. Makin elastic sifatnya makin besar kemungkinan
terjadinya ekspulsi.

Pada waktu muda denga paritas rendah lebih sering terjadi ekspulsi
disbanding dengan wanita yang lebih tua denga paritas lebih tinggi

5. Perforasi/Translokasi oleh AKDR


a. Bentuk gejala/keluhan :
-

Bisa tanpa gejala

Biasanya disertai rasa nyeri dan perdarahan

Pada pemeriksaan ginekologi :


1. Benang tidak ditemukan
2. Sewaktu dilakukan sondage, tidak ditemukan AKDR
dalam rahim

Perforasi terjadi kira kira 1 pemakai AKDR


b. Penyebab gejala :
-

Karena tindakan yang terlalu kasr pada waktu pemasangan


AKDR

Pada waktu pemasangan AKDR mengalami kesulitan


sehingga dilakukan dengan paksaan

23

Karena memasukkan alat pendorong (insetor) ke dalam


rongga rahim dengan alat yang salah

c. Penanggulangan & pengobatan :


KIE :
-

Penjelasan sebab terjadinya

Bila lipesloop yang perforasi dan tidak ada keluhan, tidak


perlu segera dikeluarkan, karena tidak menimbulkan reksi
jaringan.

Bila AKDR tembaga atau bentuk AKDR tertutup yang


perforasi, sebaiknya segera diangkat/dikeluarkan, karena
dapat mengakibatkan perlekatan sampai ileus.

Tindakan medis :
-

Memastikan terjadinya perforasi denga sondage.

Merujuk ke RS untuk pemeriksaan dan pertolongan lebih


lanjut.
Pemeriksaan tersebut berupa :
1. Bila

pada

pemeriksaan

dengan

sondage

tidak

dengan

sondage

tidak

ditemukan AKDR,
2. Bila

pada

pemeriksaan

ditemukan AKDR, maka dilakukan foto Rontgen


kemudian

dilanjutkan

dengan

HSG

(Hystero

Shalphingo Grafi) apabila bayangan AKDR tidak


Nampak. Atau dengan memasang sebuah AKDR baru,
kemudian dibuat foto Rontgen perut/abdomen.

24

Mengangkat AKDR dengan cara laparotomi atau cara lain


sesuai perkembangan teknologi (misal : laparaskopi atau
kuldoskopi)

6. Nyeri waktu haid oleh AKDR


a. Bentuk gejala/keluhan :
-

Dysmenorhe (nyeri waktu haid)

b. Penyebab gejala :
-

Psychis

Mungkin disebabkan letak AKDR yang salah atau AKDR tak


sesuai dengan rongga rahim (besarnya AKDR yang terlalu
besar)

Kemungkinan lain disebabkan infeksi menahun pada saat


kandungan.

c. Penanggulangan & pengobatan :


KIE :
-

Pemantapan agar tetap memakai IUD

Memastikan

penyebabnya

dengan

menganjurkan

pemeriksaan dalam
Tindakan medis :
Pengobatan simtomatik (analgetika = anti nyeri dan atau
spasmotika = anti mules).

25

Apabila tidak berhasil, maka pengobatan dilanjutkan sebagai


berikut :
-

Mengganti AKDR yang baru dan cocok

Pemberian antibiotika.

7. Nyeri waktu senggama oleh AKDR


a. Bentuk gejala/keluhan :
-

Dispareunia (nyeri pada waktu senggama)

b. Penyebab gejala :
-

Psychis

Karena ada infeksi

c. Penanggulangan & pengobatan :


KIE :
-

Pemantapan pemakaian AKDR

Memastikan penyebab dengan menganjurkan pemeriksaan


dalam.

Tindakan medis :

26

Pengobatan dengan antibiotika bila terjadi infeksi.


8. Mules mules atau rasa nyeri oleh AKDR
a. Bentuk gelaja/keluhan :
-

Rasa mules diperut.


Sesudah pemasangan dapat timbul rasa nyeri seperti mules
mules, kadang kadang dapat menjadi rasa nyeri atau sakit
pinggang terutama pada hari hari pertama pemasangan.

b. Penyebab gejala :
-

Psychis

Kemungkinan disebabkan letak AKDR yang salah atau AKDR


tidak sesuai dengan rongga rahim.

c. Penanggulangan & pengobatan :


KIE :
-

Pemnatapan agar tetap memakai AKDR

Memastikan

penyebabnya

dengan

menganjurkan

pemeriksaan dalam
Tindakan medis :
-

Kalau ringan diberi analgetika (obat anti nyeri), spasmolitika


(obat anti mules) atau kombinasi keduanya.

Kalau berat, dilihat apakah AKDR masih ada di dalam rahim,


sebaiknya oleh dokter. Bila AKDR terlihat sedikit, berarti
sebagian sudah keluar, maka keluarkanlah AKDR dan ganti
AKDR yang baru.

27

9. Kegagalan pada pemasangan AKDR


a. Bentuk gejala :
-

Terjadi kehamilan.

Frekuensi kehamilan pada pemakaian AKDR 2 5 %. Makin


lama AKDR terpasang, makin berkurang terjadinya kehamilan.
Pada tahun pertama pemasangan, 2,4 % hamil, tahun kedua 2 %,
dan pada tahun selanjutnya 1 %

Dengan pemasangan AKDR yang dililiti tembaga (Copper-T,


Multiload) akan mengurangi kegagalan ini.

b. Penanggualangan :
KIE :
-

Dianjurkan

segera

menghubungi

dokter

untuk

penanggulangan dan penjelasan selanjutnya.


Tindakan medis :
-

Bila benang dapat dilihat, dilakukan pengangkatan AKDR


(sebaiknya oleh dokter), dengan menarik benangnya perlahan
lahan, sambil menjelaskan kepada pasien bahwa 25 %
kemungkinan keguguran spontan.

Bila pengangkatan AKDR sukar, AKDR dibiarkan di dalm


rahim. Selama kehamilan, AKDR berada di luar selaput

28

ketuban, sedangkan bayi berada di dalam selaput ketuban.


Oleh karena itu AKDR dan bayi tidak pernah bersinggungan
selama

kehamilan

berlangsung,

sehingga

tidak

perlu

dikhawatirkan terjadinya kelainan bawaan pada bayi yang


dilahirkan. Pada waktu persalinan, AKDR akan lahir
bersama sama dengan ari ari.
-

Dilaporkan bahwa kehamilan dengan AKDR di dalam rahim,


kira kira 50 % akan mengalami keguguran (abortus)
spontan, kemungkinan kelahiran premature, kemungkinan
hamil ektopik (5 %), dan 26 % tetap berlangsung cukup
bulan (aterm).

Bila benang tidak terlihat, jangan coba untuk diangkat,


sebaiknya pasien dirujuk ke RS.

Untuk AKDR yang dililit tembaga, yaitu tipe Copper-T (CuT) dan MultiLoad (ML) harus diangkat pada triwulan
pertama kehamilan.

29

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN IUD
3.1 WOC

Ingin menjarak
kehamilan
Tidak mau hamil lagi
Tidak cocok dengan
KB hormonal
Usia diatas 35 tahun
Pemasangan
IUD

Adanya sisa
benang di
vagina
Luka dan
lecet pada
glans penis
Nyeri saat
koitus

Fiksasi
pada porsio

Terputusnya
kontinuitas
jaringan
serviks
Port de
entree

Resiko

Proses
pemasangan
IUD

Perubaha
n siklus
haid

Insersi benda
asing kedalam
rahim

Haid
menjadi
lebih lama
dan

Respon tubuh
terhadap benda
asing
Terjadi kontraksi
uterus yang
berlebihan

30

Kurang
informasi

Kebutuh
an

Resiko
anemia

kehilang
andarah
berlebih
an
Hipovole
mia/hipok
semia

Nyeri

Ketidaksei
mbangan
suplay O2

Kecema
san

kelemaha
n
intolera
nsiaktivi

3.2 Diagnosa yang mungkin muncul


1) Resiko tinggi anemia berhubungan

dengan

haid

yang

panjang

(efeksamping pada pemasangan IUD).


2) Nyeri berhubungan dengan proses pemasangan IUD, dan adaptasi uterus
terhadap benda asing (IUD)
3) Kecemasan berhubungan dengan

proses

pemasangan

IUD

dan

efeksamping yang timbul dari IUD


4) Kebutuhan belajar berhubungan dengan kurangnya informasi mengenai
IUD
3.3 Rencana keperawatan
1) Resiko tinggi anemia berhubungan dengan haid yang panjang (efek samping
pada pemasangan IUD).
Tujuan : tidak terjadinya anemia pada ibu pegguna KB IUD
Kriteria hasil : Hb dalam batas normal, tidak terjadi konjungtiva anemis.
No.
1.

Intervensi
Kaji riwayat anemia klien

Rasional
Klien yang mempunyai riwayat
anemia

tidak

dianjurkan

2.

melalukan pemasangan KB IUD


Observasi tanda-tanda vital Salah satu tanda anemia adalah

3.

klien
Anjurkan

klien

tekanan darah yang rendah


memakan Makanan yang bergizi dapat

makanan yang bergizi dan menambah darah dalam tubuh


4.

konsumsi banyak cairan


Periksa kadar Hb secara rutin

31

Kadar

Hb

yang

rendah

Resiko
ganggua
n
perfusija
ringanpe
rifer

mengidentifikasikan
5.

adanya

anemia
Tablet tambah darah membantu

Berikan tablet tambah darah

menjaga kadar darah dalam tubuh

2) Nyeri berhubungan dengan proses pemasangan IUD, dan adaptasi


uterus terhadap benda asing (IUD).
Tujuan : nyeri dapat teratasi
Kriteria hasil : klien terlihat tidak meringis dan skala nyeri berkurang
No
1.

Intervensi
Kaji skala nyeri klien

Rasional
Skala nyeri menjadi acuan dalam

2.

Observasi tanda-tanda vital klien

menentukan tindakan
Saat klien merasakan nyeri, nadi

3.

akan meningkat
Ajarkan teknik relaksasi untuk Teknik relaksasi dapat membantu
mengatasi nyeri, seperti teknik dalam mengatasi nyeri
napas

4.
5.

dalam,

distraksi

dan

imajinasi terbimbing
Ciptakan lingkungan yang tenang Lingkungan yang nyaman dapat
dan nyaman
Kolaborasi :
Pemberian analgetik sesuai dosis

menimbulkan relaksasi
Analgetik dapat mengatasi nyeri

3) Kecemasan berhubungan dengan proses pemasangan IUD dan


efeksamping yang timbul dari IUD.
Tujuan : kecemasan teratasi
Kriteria hasil : klien terlihat tenang, tidak ada kecemasan.
No
1.

Intervensi
Kaji sumber kecemasa klien

Rasional
Dengan

mengetahui

sumber

kecemasan dapat menjadi acuan


dalam memberikan intervensi
Dengan
relaksasi
dapat

2.

Ajarkan teknik relaksasi

3.

Berikan

4.

kebutuhan klien
menyelesaikan kecemasan klien
Berikan kesempatan kepada klien Beberapa
hal
yang
masih

informasi

32

menenangkan klien
sesuia Informasi yang sesuai

dapat

untuk bertanya

membingungkan klien dapat teratasi

4) Kebutuhan belajar berhubungan dengan kurangnya informasi


mengenai IUD
Tujuan : kebutuhan belajar klien terpenuhi
Kriteria hasil : klien mengerti dengan proses dan efeksamping dari
pemasangan IUD
No.
1.

Intervensi
Rasional
Kaji pengetahuan klien tentang Tingkat pengetahuan klien berbeda.

2.

IUD
Beri penjelasan mengenai IUD

Dengan adanya informasi mengenai


IUD, klien akan lebih memahami

3.

IUD
Beri kesempatan klien untuk Mengklarivikasi hal yang masih

4.

bertanya
Lakukan

evaluasi

dibingungkan klien
terhadap Tingkat pemahaman setiap orang

pemahaman klien

berbeda-beda

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan

33

Dari pembahasan di atas, kesimpulan umum yang dapat diambil tentang


AKDR/IUD adalah sebagai berikut :
1. AKDR merupakan alat kontrasepsi modern
2. AKDR merupakan alat kontrasepsi jangka panjang
3. AKDR bekerja langsung efektif segera setelah pemasangan yang benar
4. AKDR dapat keluar dari uterus secara spontan, khususnya selama
beberapa bulan pertama
5. Kemungkinan terjadi perdarahan atau spoting beberapa hari setelah
pemasangan
6. Perdarahan menstruasi biasanya akan lebih banyak dan lama
7. AKDR tidak melindungi diri terhadap IMS termasuk Virus AIDS
4.2 Saran
Saran kami dari makalah diatas agar kedepannya kami sebagai Bidan ingin
terus belajar mengenai alat-alat kontrasepsi agar tidak ada kesalahan ketika
menghadapi klien yang ingin memasang KB IUD pada kita. Lalu selalu
sarankan pada klien agar datang pada Bidan yang ia percaya untuk melakukan
pelepasan IUD dan jangan mencoba untuk melepas sendiri.

34