Anda di halaman 1dari 15

6.

Kehilangan Tegangan (Loss Of Prestress)


1. Kehilangan Tegangan akibat Gesekan Angkur (Anchorage Friction)
Gaya prestress akibat jacking (jacking force) : Pj = 134221,693 kN
Kehilangan gaya akibat gesekan angkur diperhitungkan sebesar 3% dari gaya prestress
akibat jacking. Po = 97%*Pj = 130195,042 kN

2. Kehilangan Tegangan Akibat Gesekan Cable (Jack Friction)

L =

60,0
0
Xo =
59
eo =
0,07
7
L/2 + Xo =
89
es + eo =
1,24
4
ab = 2*(es+eo)/(L/2+Xo) =

m
m
m
m
m

bc = 2*(es+eo)/(L/2+Xo) =

0,02794
7
0,02794
7

Sudut lintasan tendon dari ujung ke tengah :


AB = Bc = 0,027946 rad
Perubahan sudut total lintasan tendon, AB + Bc = 0,05589 rad
Koefisien Gesek : = 0,25
Koefisien Wobble : = 0,008
Px = Po * e *( + *Lx)
e = 2,7183 (bilangan natural)
Lx = 30,00 m, maka Px = Po * e *( + *Lx) = 120911,600 kN
Lx = 60,00 m, maka Px = Po * e *( + *Lx) = 113870,211 kN

3. Kehilangan Tegangan Akibat Pemendekan Elastis (Elastic Shortening)

Pi = Pbs x jumlah strands = 167854,786 kN


Ac = 10,16 m2
Yb (CGC) = 1,47 m
Tengah Bentang :
e1, e2, e3 = 0,99 m
e4, e5, e6 = 1,17 m
e7, e8, e9 = 1,35 m
Tumpuan :
e1, e2, e3 = 0,49 m
e4, e5, e6 = 0,00 m
e7, e8, e9 = 0,49 m
lx = 11,04 m4
n = Es/Ec = 5,568
Ast = 0,000181 m2
At = Ast x jumlah tendon = 0,00489 m2

Gambar xx Pemberian Nomor Selongsong


Kabel 1 ditarik : Lalu diangkur, pada kabel 1 tidak ada loss akibat elastis shortening
Kabel 2 ditarik : Lalu diangkur, maka kabel 2 tidak ada loss, tetapi pada kabel 1 ada loss
sebesar n.c dimana c adalah tegangan beton pada lokasi kabel 1.
c 1=

Pi Pi . e 2 . y 1

Ac
I

dimana :

e2 = eksentrisitas kabel 2 terhadap CGC


y1 = Lokasi kabel 1 (terhadap CGC)
Kabel 3 ditarik : Lalu diangkur, maka kabel 3 tidak ada loss.
Kabel 2 mengalami loss sebesar n.c2.
c 2=

Pi Pi . e 3 . y 2

Ac
I

Kabel 1 mengalami loss sebesar n. c1


c 1=

Pi Pi . e 3 . y 1

Ac
I

e3 = eksentrisitas kabel 3 terhadap CGC .


Kabel 4 ditarik : Lalu diangkur, maka kabel 4 tidak ada loss.
Kabel 3 mengalami loss sebesar n.c3.
c 3=

Pi Pi . e 4 . y 3

Ac
I

Kabel 2 mengalami loss sebesar n. c2


c 2=

Pi Pi . e 4 . y 2

Ac
I

Kabel 1 mengalami loss sebesar n. c1


c 1=

Pi Pi . e 4 . y 1

Ac
I

Kabel 5 ditarik : Lalu diangkur, maka kabel 5 tidak ada loss.


Kabel 4 mengalami loss sebesar n.c4.
c 4=

Pi Pi . e 5 . y 4

Ac
I

Kabel 3 mengalami loss sebesar n.c3.


c 3=

Pi Pi . e 5 . y 3

Ac
I

Kabel 2 mengalami loss sebesar n. c2


c 2=

Pi Pi . e 5 . y 2

Ac
I

Kabel 1 mengalami loss sebesar n. c1


c 1=

Pi Pi . e 5 . y 1

Ac
I

Kabel 6 ditarik : Lalu diangkur, maka kabel 6 tidak ada loss.


Kabel 5 mengalami loss sebesar n.c5.
c 5=

Pi Pi . e 6 . y 5

Ac
I

Kabel 4 mengalami loss sebesar n.c4.


c 4=

Pi Pi . e 6 . y 4

Ac
I

Kabel 3 mengalami loss sebesar n.c3.


c 3=

Pi Pi . e 6 . y 3

Ac
I

Kabel 2 mengalami loss sebesar n. c2


c 2=

Pi Pi . e 6 . y 2

Ac
I

Kabel 1 mengalami loss sebesar n. c1


c 1=

Pi Pi . e 6 . y 1

Ac
I

Kabel 7 ditarik : Lalu diangkur, maka kabel 7 tidak ada loss.


Kabel 6 mengalami loss sebesar n.c6.
c 6=

Pi Pi . e 7 . y 6

Ac
I

Kabel 5 mengalami loss sebesar n.c5.

c 5=

Pi Pi . e 7 . y 5

Ac
I

Kabel 4 mengalami loss sebesar n.c4.


c 4=

Pi Pi . e 7 . y 4

Ac
I

Kabel 3 mengalami loss sebesar n.c3.


c 3=

Pi Pi . e 7 . y 3

Ac
I

Kabel 2 mengalami loss sebesar n. c2


c 2=

Pi Pi . e 7 . y 2

Ac
I

Kabel 1 mengalami loss sebesar n. c1


c 1=

Pi Pi . e 7 . y 1

Ac
I

Kabel 8 ditarik : Lalu diangkur, maka kabel 8 tidak ada loss.


Kabel 7 mengalami loss sebesar n.c7.
c 7=

Pi Pi . e 8. y 7

Ac
I

Kabel 6 mengalami loss sebesar n.c6.


c 6=

Pi Pi . e 8 . y 6

Ac
I

Kabel 5 mengalami loss sebesar n.c5.


c 5=

Pi Pi . e 8 . y 5

Ac
I

Kabel 4 mengalami loss sebesar n.c4.


c 4=

Pi Pi . e 8 . y 4

Ac
I

Kabel 3 mengalami loss sebesar n.c3.


c 3=

Pi Pi . e 8 . y 3

Ac
I

Kabel 2 mengalami loss sebesar n. c2


c 2=

Pi Pi . e 8 . y 2

Ac
I

Kabel 1 mengalami loss sebesar n. c1


c 1=

Pi Pi . e 8 . y 1

Ac
I

Kabel 9 ditarik : Lalu diangkur, maka kabel 9 tidak ada loss.


Kabel 8 mengalami loss sebesar n.c8.
c 8=

Pi Pi . e 9 . y 8

Ac
I

Kabel 7 mengalami loss sebesar n.c7.


c 7=

Pi Pi . e 9 . y 7

Ac
I

Kabel 6 mengalami loss sebesar n.c6.


c 6=

Pi Pi . e 9 . y 6

Ac
I

Kabel 5 mengalami loss sebesar n.c5.


c 5=

Pi Pi . e 9 . y 5

Ac
I

Kabel 4 mengalami loss sebesar n.c4.


c 4=

Pi Pi . e 9 . y 4

Ac
I

Kabel 3 mengalami loss sebesar n.c3.

c 3=

Pi Pi . e 9. y 3

Ac
I

Kabel 2 mengalami loss sebesar n. c2


c 2=

Pi Pi . e 9 . y 2

Ac
I

Kabel 1 mengalami loss sebesar n. c1


c 1=

Pi Pi . e 9 . y 1

Ac
I

Maka, perhitungan dapat ditampilkan dalam tabel berikut :

Gambar xx Pemberian Nomor Selongsong

Pada tengah bentang


Teganga
n
selongs
ong

174464

Jacking Selongsong Ke-

3
17446
4
17446
4
0

189502

189502

-189502

-204540

-204540

189502

189502

-189502

-204540

-204540

189502

189502

-189502

-204540

-204540

207283

-207283

-225063

-225063

-207283

-225063

-225063

-225063

-225063

-245585

5
6
7
8
9

9
20454
0
20454
0
20454
0
22506
3
22506
3
22506
3
24558
5
24558
5
0

Pada tumpuan
Tegang
an
selongs
ong

-71675

2
3
4
5
6
7
8

Jacking Selongsong Ke-

3
71675
71675
0

-91995

-91995

-91995

-112316

-112316

-91995

-91995

-91995

-112316

-112316

-91995
0

-91995
-91995
0

-91995
-91995
-91995
0

-112316
-91995
-91995
-91995

-112316
-91995
-91995
-91995

-112316
0

9
112316
112316
112316
-91995
-91995
-91995
112316
112316

Nilai Tegangan rata-rata = tumpuan + (2/3) x (


Teganga
n
selongso
ng

TENGAH

-1531057

1356592,6

1182128,3

1089753,2

882470,64

6
7
8
9

-675188,1
491170,02
245585,01
0

TUMPU
AN
756283,
5
684608,
8
612934,
1
459976,
8
367981,
4
275986,
1

tengah

NILAI
LOSS
RATA2

tumpuan)

% LOSS

-1272799

0,977572

-1132598

0,869891

992396,9

-0,76221

879827,7

0,675751

710974,2

0,546063

542120,8

0,416375
0,309005
0,154502
0

-224632

-402324

-112316
0

-201162
0

Loss of prestress akibat pemendekan elastis :


Pe = Nilai Loss Rata2 terbesar = 1272799 kPa
Pe = Pe x At = 6232,761 kN

4. Kehilangan Tegangan Akibat Pengangkuran (Anchoring)


Panjang tarik masuk (berkisar antara 2-7 mm) diambil 2 mm : L = 0,002 m
Modulus elastis baja prestress :

Es = 1,95,E+08 kPa

Luas tampang tendon baja prestress :

At = 0,151804 m2

Loss of prestress akibat gesekan angkur :

Po = 130195,0424 kN

Loss of prestress akibat gesekan kabel :

Px = 120911,6002 N

Jarak dari ujung sampai tengah bentang : Lx = 30 m


Kemiringan diagram gaya : m = tan = (Po Px) / Lx = 309,448 kN/m
Jarak pengaruh kritis slip angkur dari ujung : L max = (L x Es x At/m) = 13,832 kN
Loss of prestress akibat angkur :
P = 2 x Lmax x tan = 8560,465 kN
Pmax = Po P/2 = 125914,810 kN
Pmax = Pmax Pe = 117354,345 kN

5. Kehilangan Tegangan Akibat Relaksasi Tendon


a. Pengaruh Susut (Shrinkage)
Menggunakan PBI 1971 Pasal 10.9 halaman 121
bs = 'bso x (1- o) x 6 x 7 x 8 .... Pasal 10.9.4 halaman 125
'bso = regangan susut dasar yang tergantung pada kelembapan relatif udara
(kelembapan udara 40%) = 0,0039

Tabel xx Regangan Susut Dasar PBI 1971 Pasal 10.9.6


o = Perbandingan antara luas tulangan memanjang dan luas penampang beton dalam
persen = At/A x 100 % = 1,349 %
6 = Koefisien yang bergantung pada tebal fiktif hf, yaitu luas penampang dibagi
dengan setengah keliling penampang yang berhubungan dengan udara luar, tabel
berikut : Hf = luas/ (0,5 x keliling penampang yg berhubungan dengan udara luar) =
10,16 /(0,5 x 24) = 84,67 cm = 0,32

Tabel xx Koefisien 6 PBI 1971 Pasal 10.9.7


7 = Koefisien yang bergantung pada jumlah pemakaian semen dan nilai faktor air
semen (pada agregat yang berada dalam keadaan kering muka) dan yang dapat
diambil pada tabel berikut : Faktor air semen = 0,40 dengan jumlah pemakaian semen
400 kg/m maka didapat 7 = 1,01

Tabel xx Koefisien 7 PBI 1971 Pasal 10.9.8


8 = bsh/bso = koefisien yang menentukan besarnya bagian regangan susut bsh
yang terjadi pada saat sesudah h hari terhadap regangan susut akhir bso setelah
waktu tak terhingga dan nilainya dapat diambil sama dengan 5, tabel berikut : Umur
beton 28 hari : 0,42

Tabel xx Koefisien 8 PBI 1971 Pasal 10.9.5


bs = 'bso x (1- o) x 6 x 7 x 8 = 0,000450
Es = 195000000 kPa

SH = bs x Es = 87808,906 kPa
% Loss = 6,744 %

b. Pengaruh Rayapan (Creep)


P initial (keadaan saat transfer) di tengah bentang : Pi = Px pe = 112351,14 kN
Pi / (ns x Pbs) = 65,654 UTS (Beban Putus)
Mbs = 116586 kNm
Wa = 7,2045 m3
Wb = 7,5274 m3
es = 1,1671 m
A = 10,16 m2
Ec = 35019402 kPa
Tegangan beton di serat atas, fa = -Pi/A + Pi x es/Wa Mbalok/Wa = -9039,7492 kPa
Tegangan beton di serat bwh, fb = -Pi/A + Pi x es/Wb Mbalok/Wb = -9126,324 kPa
Menggunakan PBI 1971 Pasal 10.9 halaman 121
bp = 'b/Ebo x 1 x 2 x 3 x 4 x 5 .... Pasal 10.9.3 halaman 122
Ebo = 19000 'bm,h = 50269274,910 kPa
'b = tegangan beton pada lokasi kabel = 9126,324 kPa
1 = Koefisien yang bergantung pada kelembapan relatif udara sekelilingnya dan
yang dapat diambil pada berikut : 3,32

Tabel xx Koefisien 1 PBI 1971 Pasal 10.9.1

2 = Koefisien yang bergantung pada tebal fiktif hf, yaitu luas penampang dibagi
dengan setengah keliling penampang yang berhubungan dengan udara luar, tabel
berikut : Hf = luas/ (0,5 x keliling penampang yg berhubungan dengan udara luar) =
10,16 /(0,5 x 24) = 84,67 cm = 0,65

Tabel xx Koefisien 2 PBI 1971 Pasal 10.9.2

3 = Koefisien yang bergantung pada jumlah pemakaian semen dan nilai faktor air
semen (pada agregat yang berada dalam keadaan kering muka) dan yang dapat
diambil pada tabel berikut : Faktor air semen = 0,40 dengan jumlah pemakaian semen
400 kg/m maka didapat 3 = 0,80

Tabel xx Koefisien 3 PBI 1971 Pasal 10.9.3


4 = Koefisien yang bergantung pada umur beton pada saat dibebani dan pada suhu
rata-rata udara sekelilingnya selama pengerasan; untuk suhu rata-rata udara
sekelilingnya 20C, koefisien dapat diambil dari tabel berikut, untuk suhu rata-rata
yang lain umur beton dalam tabel harus dihitung dengan rumus :

Dimana h adalah jumlah hari dalam waktu dimana pengerasan terjadi pada suhu
rata-rata S.

Tabel xx Koefisien 4 PBI 1971 Pasal 10.9.4


Lama pengerasan = 7 hari, umur beton = 28 hari, suhu rata-rata yang terjadi 28C
maka didapat nilai U = 8,867 hari maka didapat nilai interpolasi sebesar 4 = 1,345
bp = 'b/Ebo x 1 x 2 x 3 x 4 x 5 = 0,00017221
Es = 195000000 kPa
CR = bp x Es = 33581,312 kPa
% Loss = 2,5792 %
sc = cr + sh = 121390,218 kPa
pi = Pi / At = 740108,131 kPa
Besar tegangan terhadap UTS (Beban Putus) = 65,654 %
X=
0
Jika :
pi
<
X=
1
Jika :
pi
=
X=
2
Jika :
pi
=
Maka nilai x = 1,783 (Perbandingan Segitiga)

50% UTS
50% UTS
70% UTS

Relaksasi setelah 1000 jam pada 70% beban (UTS) maka nilai C = 3,33 %
r = X * c * (pi - sc) = 36766,319 kPa
Loss of prestress jangka panjang = sc+r = 158156,538 kPa
P = (sc+ r ) * At = 24008,744 kN
Gaya efektif di tengah bentang balok : P eff = Pi - P = 88342,392 kN
Kehilangan gaya prestress total, (1-Peff/Pj) x 100% = 34,182 % mendekati estimasi
awal (Kehilangan gaya prestress akhir = 35%).
Kontrol tegangan pada tendon baja pasca tarik segera setelah penyaluran gaya
prestress :
Tegangan ijin tendon baja pasca tarik : 0,70 x fpu = 1860000 kPa

Tegangan yang terjadi pada tendon baja pasca tarik :


fp = Peff/At = 581952 kPa < 0,7fpu (Oke)