Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Mekanisme ventilasi paru adalah suatu mekanisme pertukaran O2 dan
CO2 di dalam paru yang terjadi di alveolus dengan melalui proses inspirasi dan
ekspirasi. Paru-paru termasuk organ yang terpenting dalam tubuh manusia, dan
mempunyai banyak fungsi di dalam tubuh. fungsi paru-paru yaitu sebagai
jalannya sistem pernapasan pada manusia untuk melakukan inspirasi dan
ekspirasi, dan juga sebagai pertukaran O2 atau oksigen dengan (CO2) atau
karbondioksida di dalam paru, untuk melakukan fungsi tersebut nantinya akan
muncul sirkulasi pulmo atau paru di dalam tubuh, Sirkulasi paru ini akan
menimbulkan volume dan kapasitas paru saat melakukan inspirasi, dari fungsi
paru diatas kita bisa melihat betapa pentingnya organ paru di dalam tubuh
manusia oleh karena itu kita bukan hanya tahu fungsi dari paru saja tapi kita harus
tahu juga ada bagian-bagian apa saja yang ada dalam paru, serta bagaimana proses
paru-paru itu bekerja pada tubuh kita sehingga senantiasa kita dapat menjaga
kesehatan paru-paru dalam tubuh kita sendiri.7.
Dalam tinjauan pustaka penulis membahas secara singkat mengenai
anatomi, histologi, fisiologi, biokimia, dan patofisiologi yang berkaitan dengan
mekanisme ventilasi paru.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

DEFINISI PULMO
Pulmo adalah organ pernafasan yang penting karena udara yang masuk

dapat berhubungan secara erat dengan darah kapiler di dalam paru-paru. tiap paruparu melekat pada jantung dan trachea melalui radix pulmonis dan ligamentum
pulmonale. Paru-paru sehat selalu berisi udara dan akan mengapung bila
dimasukkan ke dalam air.4.
2.2.

ANATOMI

2.2.1.

Pulmo
Pulmo atau paru-paru adalah organ pernafasan yang penting karena udara

yang masuk dapat berhubungan secara erat dengan darah kapiler di dalam paruparu.1,2.
Tiap paru-paru mempunyai sebuah apex, sebuah basis, dan tiga buah facies
yaitu facies costalis, facies mediastenalis dan facies diaphragmatica, dan tiga buah
margo yaitu margo antaerior, margo inferior, dan margo posterior.1,2,3.
Setiap paru memiliki bentuk konus, di dasar lebar dan konkaf, berada di
atas otot diafragma. Apeks sempit dan tajam, lobus superior, berada superior dan
posterior terhadap clvicula. Apeks lancip terletak diatas manubrium sterni dan
costa I.
Kedua paru dibatasi :
Anterior lateral-posterior : dinding thoraks.
Dilindungi oleh tulang rusuk. Di dekat garis tengah tubuh, paru-paru dipisahkan
satu sama lainnya dengan mediastinum.

Tiap pulmo mempunyai 3 facies:


1. Fascies costalis Permukaan pulmo menghadap ke costae. berjalan
dari dorsolateroventral mengikuti susunan costa.
2. Fascies mediastinalis Permukaan yang menghadap ke mediastinum
(pada medial dari kedua pulmo) Ditemukan hilus pulmonis.
3. Fascies diafragmatika Permukaan pulmo yang menghadap ke
phren. Penampakannya konkaf mengikuti bentuk kubah phren.
Paru-paru dibagi menjadi dua yaitu pulmo dexter dan sinister.
1.Pulmo Dexter
Lebih besar daripada pulmo sinister dan paru-paru kanan memiliki 3
lobus yaitu :
Lobus superior pulmonis dexter
Lobus medius pulmonis dexter
Lobus inferius pulmonis dexter
Lobus superior & lobus medius dipisahkan oleh fisura horisontalis pulmonis.
Lobus medius & lobus inferius dipisahkan oleh fisura obliqua pulmonis dexter.
Bangunan pada pulmo dexter :
1. Apeks pulmonis dexter
Sulkus A. Subklavia dexter, ditempati oleh A. Subklavia dexter, Sulkus
costa I dexter, ditempati oleh costa I dexter.
2. Facies mediastinalis Sulkus v. Cava superior, ditempati oleh v. Cava
superior, Impresio cardiaca. Pulmonis dexter, ditempati oleh atrium cordis
dexter. Sulkus esofagus, ditempati oleh esofagus. Sulkus v. Azygos,
ditempati oleh v. Azygos
3. Fascies costalis
Alur yang dibentuk oleh pendesakan costae & cartilago costal.2,3.

2. Pulmo sinister
Paru-paru kiri mempunyai 2 lobus yaitu lobus superior dan lobus inferior
dipisahkan oleh fisura obliqua.2,3.
Bangunan pada pulmo sinister :
1. Apeks pulmo sinister
Sulkus A.subklavia sinister, ditempati oleh A.subklavia sinister.
Sulkus A.karotis komunis sinister, ditempati oleh A.karotis komunis
sinister .
Sulkus costae I sinister, ditempati oleh costae I sinister.
2. Fascies mediastinalis
Impresio kardiaka pulmonis sinister, ditempati oleh ventrikel dexter &
infundibulum (pangkal A.pulmonalis)Sulkus aorta, ditempati arkus aorta.
3. Fascies costalis
Terdapat alur yang disebabkan oleh pendesakan sternum, costae, kartilago
costae.1,2,3.
Dibawah ini gambar perbedaan pulmo dexter dan sinister (Lihat gambar 2.1.1.)

Gambar 2.1.1 Anatomi paru


2.2.2 Vaskularisasi Pulmo
Bronkhi, jaringan ikat paru dan pleura viseralis menerima darah dari A.
Bronkhialis yang merupakan aorta descenden. v. bronkhialis (yang berhubungan
dengan v. Pulmonaris)mengalirkan darahnya ke v. Azygos dan v. Hemiazygos.

Alveoli menerima darah terdeoksigenasi, dari cabang-cabang terminal A.


Pulmonalis. Darah yang teroksigenasi meninggal kapiler-kapiler alveoli masuk ke
cabang-cabang v. Pulmonalis, yang mengikuti jaringan ikat septa intersegmentalis
ke radik pulmonalis. dua v. Pulmonalis meninggalkan ke radik pulmonis untuk
bermuara kedalam atrium sinister.1,2.
2.2.3 Persarafan Pulmo
Plexus pulmonalis terdapat di setiap radik paru yang terdiri atas serabut
eferen dan aferen saraf otonom. Plexus dibentuk dari cabang-cabang truncus
simpatikus dan menerima serabut-serabut parasimpatis dari n.vagus. Serabutserabut eferen simpatis mengakibatkan brokus dilatasi dan vasokonstriksi.
Serabut-serabut

eferen

parasimpatis

mengakibatkan

bronkhus

konstriksi,

vasodilatasi, dan peningkatan sekresi kelenjar. Impuls aferen yang berasal dari
mukosa bronkhus dan dari reseptor regang pada dinding alveoli berjalan ke
susunan saraf pusat dalam saraf simpatis dan parasimpatis.1,2,3.
2.3.

HISTOLOGI

2.3.1. Bronkus
Bronkus adalah percabangan dari trakhea.Bronkus dibagi menjadi 2 yaitu
bronkus primer dan bronkus sekunder :
1.Bronkhus primer adalah percabangan dari bronkus.
Ciri-ciri :
Mirip trakhea
Cincin tulang rawan ( C )
Epitel silindris bertingkat bersilia, bergoblet.
2.Bronkhus sekunder adalah percabangan dari bronkus primer.
Ciri-ciri :
Lempeng-lempeng tulang rawan hialin, cincin penuh (O)
Epitel silindris bersilia bergoblet
Diikuti pembuluh darah

Berkas otot polos, serat elastin.


Mukosa : lamina basal jelas, lipatan longitudinal.
Dibawah ini gambar ciri-ciri bronkhus (Lihat gambar 2.3.1.)

Gambar 2.3.1. Bronkhus


2.3.2. Bronkhiolus Terminalis
Bronkhiolus terminalis merupakan percabangan dari bronkus tersier.
Ciri-ciri :
Diameter kurang dari 1 mm
Tidak ada tulang rawan hialin
Tidak mempunyai kelenjar
Proksimal : epitel silindris bersilia, sedikit sel goblet (tersebar dalam
epitel). Distal : epitel kuboid bersilia, tak ada sel goblet. Sel Clara : permukaan
menonjol kearah lumen sekretoris surfaktan. Tunika propria : serabut elastin,
berkas otot polos n. vagus dan saraf simpatis.

Otot polos :
N vagus perangsangan kontraksi penyempitan lumen. Saraf
simpatis perangsangan menghilangkan spasme otot polos. Epinephrine
merelaksasi otot waktu serangan asma. (Obat simpatomimetik) Bronkhiolus
lapisan ototnya lebih tebal waktu serangan asma bronkhiolus lebih spasme
dibandingkan bronkhus. resistensi jalan udara pada asma disebabkan
kontraksi otot bronkhiolus.5.
Dibawah ini gambar ciri-ciri bronkhiolus terminalis (Lihat gambar 2.3.2.)

Gambar 2.3.2. Brokhiolus Terminalis


2.3.3. Bronkhiolus Respiratorius
Bronkhiolus respiratorius adalah percabangan dari bronkhiolus terminalis.
Ciri-ciri :
Daerah peralihan antara bagian konduksi dan respirasi.
Mukosa : sama dengan bronkhiolus.
Dinding dikelilingi saccus alveolaris.
Epitel :Proksimal : Kuboid simpleks dengan silia.
Distal : Kuboid simpleks tak bersilia.

Makin ke distal, jumlah alveoli bertambah dengan nyata dan jarak antar alveoli
semakin dekat.
Dibawah ini gambar ciri-ciri bronkhiolus respiratorius (Lihat gambar 2.3.3.)

Gambar 2.3.3. Bronkhiolus respiratorius


2.3.4. Alveoli
Alveoli adalah kantung udara, yang merupakan situs pertukaran oksigen
dan karbondioksida melalui darah.
Ciri-ciri :
Evaginasi kecil menyerupai kantong. Pada bronkhiolus respiratorius,
duktus alveolus, saccus alveolus. Epitel squamous simpleks.
Penting untuk pertukaran antara O2 dan CO2 dan antara udara dan darah. Struktur
dinding alveoli diffus. Di alveoli juga terdapat dinding septum interalveolaris,
Septum interalveoli adalah dinding yang membatasi kapiler pembuluh
darah dengan alveoli, Alveoli sangat tipis dan kontinyu.

Udara dalam alveoli dipisahkan dari darah kapiler oleh 4 lapisan sel dan
membran yaitu :
1. sitoplasma sel epitel.
2. lamina basalis sel epitel.
3. lamina basalis sel endotel.
4. sitoplasma sel endotel.
Ciri-ciri sel endotel kapiler :
Sangat tipis, inti yang lebih kecil dan lebih panjang. Kontinyu dan tidak
berfenestrata. Unit dan organel2 berkelompok, sehingga bagian lain menjadi
sangat tipis sekali menambah efisiensi pertukaran gas. Bagian sitoplasma yang
tipis banyak mengandung vesikel pinositotik .5.
Dibawah ini gambar ciri-ciri alveoli (Lihat gambar 2.3.4.)

Gambar 2.3.5. Alveoli

2.4.

FISIOLOGI

2.4.1. Mekanika Ventilasi Pulmo


Paru-paru dapat dikembangkempiskan melalui 2 cara : (1) diafragma
bergerak turun naik untuk memperbesar dan memperkecil rongga dada, dan (2)
depresi dan elevasi tulang iga untuk memperbesar atau memperkecil diameter
anteroposterior rongga dada.6,7,8.
Pernapasan normal dan tenang dapat dicapai dengan hampir sempurna
melalui metode pertama dari kedua metode tersebut, yaitu melalui gerakan
diafragma. Selama inspirasi, kontraksi diafragma menarik permukaan bawah paru
ke arah bawah. Kemudian selama ekspirasi, diafragma mengadakan relaksasi, dan
sifat elastis daya lenting paru (elastic recoil), dinding dada, dan struktur
abdominal akan menekan paru-paru. Namun, selama bernapas kuat, daya elastis
tidak cukup kuat untuk menghasilkan ekspirasi cepat yang di perlukan, sehingga
diperlukan tenaga ekstra yang terutama diperoleh dari kontrksi otot-otot
abdominal, yang mendorong isi abdomen ke atas melawan diafragma.
Metode kedua untuk mengembangkan paru adalah dengan mengangkat
rangka iga. Pengembangan paru ini dapat terjadi karena pada posisi istirahat, iga
miring ke bawah. Dengan demikian sternum turun ke belakang ke arah kolumna
vertebralis. Tetapi, bila rangka iga di elevasikan, tulang iga langsung maju
sehingga sternum sekarang bergerak ke depan menjauhi spinal, membentuk jarak
anteroposterior dada kira-kira 20% lebih besar selama inspirasi maksimum di
bandingkan selama ekspirasi. Oleh karena itu, otot-otot yang mengelevasikan
rangka dada dapat diklasifikasikan sebagai otot-otot inspirasi, dan otot-otot yang
menurunkan rangka dada klasifikasikan sebagai otot-otot ekspirasi. Otot paling
penting yang mengangkat rangka iga adalah otot interkostalis eksterna, tetapi otototot lain yang membantunya adalah (1) sterno kleidomastoideus, mengangkat
sternum ke atas, (2) serratus anterior, mengangkat sebagian besar iga, dan (3)
skalenus, mengangkat dua iga pertama.7.

10

Otot-otot yang menarik rangka iga ke bawah selama ekspirasi adalah (1)
rektus abdominis, mempunyai efek tarikan ke arah ke bagian bawah pada saat
yang bersamaan ketika otot-otot ini dan otot-otot abdominal lainnya menekan isi
abdomen ke atas ke arah diafragma, dan (2) intercostalis internus.
Mekanisme kerja otot interkostalis internus dan eksternus untuk
menimbulkan inspirasi dan ekspirasi. Pada bagian kiri, selama ekspirasi tulangtulang iga membantuk sudut ke bawah dan otot interkostalis eksternus memanjang
ke depan dan ke bawah. Bila otot- otot ini berkontraksi mereka menarik tulang iga
bagian atas ke depan dalam hubungan nya dengan tulang iga yang lebih bawah,
keadaan ini akan menghasilkan

daya ungkit pada tulang iga untuk

mengangkatnya ke atas, dengan demikian menimbulkan inspirasi. Fungsi otot


interkostalis internus betul-betul sebaliknya, berfungsi sebagai otot-otot ekspirasi,
karena otot ini membentuk sudut diantara tulang iga dalam arah yang berlawanan
dan menghasilkan daya ungkit yang berlawanan pula.
Pergerakan udara ke dalam dan ke luar paru-paru. Paru-paru merupakan
struktur elastis yang akan mengempis sperti balon dan mengeluarkan semua
udaranya melalui trakea bila tidak ada kekuatan untuk mempertahankan
perkembangannya juga, tidak dapat perlekatan antara paru-paru dan dinding
rangka dada kecuali pada bagian di mana paru-paru tergantung pada hilum dari
mediastinumnya. Malahan, paru-paru sebetulnya mengapung dalam rongga
thoraks. Dikelilingi oleh suatu lapisan tipis cairan pleura yang menjadi pelumas
bagi gerakan paru-paru di dalam rongga. Selanjutnya cairan yang berlebihan akan
di isap terus menerus ke dalam saluran limfatik agar isapan antara permukaan
viseral dari pleura paru dan permukaan pariental pleura dari rongga thorak tetap
sedikit saja. Oleh karena itu, kedua paru menetap pada dinding thorak seolah-olah
terlekat padanya, kecuali ketika dada melakukan pengembangan dan berkontraksi,
maka paru-paru dapat bergeser secara bebas karena terlumas dengan baik.6,7,8.

11

2.4.2. Mekanisme Sistem Pernapasan


Sistem pernapasan ada 2 yaitu inspirasi dan ekspirasi, yaitu:
1. Inspirasi adalah proses saat menghirup oksigen masuk ke dalam paru-paru.
Otot-otot interkostal berkontraksi akibatnya tulang rusuk

terangkat.

Kontraksi otot interkostal diikuti oleh kontraksi otot diafragma. Akibat


kontraksi kedua otot ini, rongga dada menjadi membesar. Akibatnya udara
masuk ke dalam paru-paru Rongga dada yang bertambah besar
menyebabkan tekanan udara di paru-paru menjadi kecil.7.
2. Ekspirasi adalah proses mengeluarkan karbondioksida dalm paru. Otototot interkostal berelaksasi akibatnya tulang rusuk turun. Relaksasi otot
interkostal diikuti oleh berelaksasinya otot diafragma. Akibat relaksasi
kedua otot ini, rongga dada menjadi menjadi mengecil. Akibatnya udara
keluar dari dalam paru-paru ke lingkungan. Rongga dada yang mengecil
menyebabkan tekanan udara di paru-paru menjadi besar.7.
Ekspirasi CO2 oleh paru mengimbangi pembentukan CO2 metabolik
C02 di bentuk melelui proses metabolisme intrasel. Setelah di bentuk CO2
berdifusi dari sel masuk kedalam cairan intertisia dan darah, dan aliran darah
mengangkut CO2 ke paru, tempat CO2 berdifusi kedalam alveoli dan kemudian di
transfer ke atmosfir melalui fentilasi paru. Normalnya, terdapat sekitar 1,25mol/L
CO2 yang terlarut di dalam cairan ekstrasel, yang sama dengan PCO2 40mmHg.
Bila kecepatan pembentukan CO2 metabolik meningkat, PCO2 cairan ekstra sel
juga meningkat. Sebaliknya penurunan kecepatan metabolik menurunkan PCO2
bila kecepatan ventilasi paru meningkat CO2 dihembuskan keluar dari paru dan
PCO2 dalam cairan ekstra sel menurun. Oleh karena itu, perubahan ventilasi paru
atau perubahan kecepatan pembentukan CO2 oleh jaringan dapat mengubah
PCO2 cairan ekstra sel. Peningkatan Ventilasi Alveolus Menurunkan Konsentrasi
Ion Hidrogen Cairan Ekstra Sel dan Meningkat pH.

12

Bila pembentukan CO2 metabolik tetap konstan, satu-satunya faktor lain


yang mempengaruhi PCO2 dalam cairan ekstra sel adalah kecepatan ventilasi
alveolus. Semakin tinggi ventilasi alveolus, semakin rendah PCO2 sebaliknya
semakin rendah kecepatan ventilasi alveolus, semakin tinggi PCO2. Seperti telah
dibahas sebelumnya, bila konsentrasi CO2 meningkat,konsentrasi H2CO3 dan
konsetrasi H+ juga meningkat. Sehingga menurunkan pH ekstra sel.7.
2.4.3. Volume Dan Kapasitas Pulmo
Volume paru
1. Volume alun napas (tidal) adalah volume udara yang di inspirasi atau di
ekspirasi setiap kali bernapas normal : besarnya kira-kira 500 ml, pada
rata-rata orang dewasa muda.
2. Volume cadangan inspirasi adalah volume udara ekstra yang dapat di
inspirasi setelah dan di atas volume alun napas normal : dan biasanya
mencapai 3000 ml.
3. Volume cadangan ekspirasi adalah jumlah udara ekstra yang dapat
diekspirasi oleh ekspirasi kuat pada akhir ekspirasi alun napas normal :
jumlahnya sekitar 1100 ml.
4. Volume residu yaitu volume udara yang masih tetap berada dalam paru
setelah ekspirasi paling kuat, Volume ini besarnya 1200 ml.
Kapasitas Paru
1. Kapasitas inspirasi sama dengan volume alun napas ditambah volume
cadangan. Ini adalah jumlah udara (kira-kira 3500 mililiter) yang dapat
dihirup oleh seseorang, di mulai pada tingkat ekspirasi normal dan
pengembangan paru sampai jumlah maxsimum.
2. Kapasitas residu fungsional sama dengan volume cadangan ekspirasi
ditambah volume residu. Ini adalah jumlah udara yang tersisa dalam paru
pada akhir ekspirasi normal (kira-kira 2300 mililiter).

13

3. Kapasitas vital sama dengan volume cadangan inspirasi ditambah volume


alun napas dan volume cadangan ekspirasi. Ini adalah jumlah udara
maxsimum yang dapat dikeluarkan seseorang dari paru, setelah terlebih
dahulu mengisi paru secara maxsimum dan kemudian mengeluarkan
sebanyak-banyaknya (kira-kira 4600 mililiter).
4. Kapasitas paru total

adalah

volume maksimum dimana paru dapat

dikembangkan sebesar mungkin dengan inspirasi paksa kira-kira 5800 ml,


jumlah ini sama dengan kapasitas vital ditambah volume residu.
Pada keadaan istirahat, frekuensi pernapasan manusia normal
berkisar antara 12-15 kali per menit. Satu kali bernapas, sekitar 500 mL
udara, atau 6-8 L udara per menit dimasukkan dan dikeluarkan dari paru).
Udara akan bercampur dengan gas yang terdapat dalam alveoli, dan
selanjutnya 02 masuk ke dalam darah di kapiler paru, sedangkan CO 2
masuk ke dalam alveoli, melalui proses difusi sederhana. Dengan cara ini,
250 mL 02 per menit masuk ke dalam tubuh dan 200 mL CO 2 akan
dikeluarkan.
2.4.4. Pengaturan Pernafasan Terhadap Keseimbangan Asam Basa
Garis pertahanan kedua terhadap gangguan asam basa adalah pengaturan
konsentrasi CO2 cairan ekstra sel oleh paru. Peningkatan ventilasi akan
mengeluarkan CO2 dari cairan ekstra sel,yang melalui kerja secara besarbesaran, akan mengurangi konsentrasi H+. Sebaliknya penurunan ventilasi
akan meningkatkan CO2,yang juga meningkatkan konsentrasi H+ dalam
cairan ekstra sel.6,8.
2.4.5. Sirkulasi Pulmonal
Darah dari ventrikel kanan masuk ke paru melalui arteri pulmonalis, darah
tersebut akan mengikat O2 di alveoulus oleh Hb lalu di alirkan darah yang kaya
O2 tersebut ke vena pulmonalis ke atrium kiri diteruskan ke ventrikel kiri,

14

kemudian diedarkan lewat aorta ke seluruh tubuh, di seluruh tubuh O2 akan di


ambil dan di tukar dengan Co2 dan kembali ke atrium kanan lagi.7.
Dibawah ini gambar sirkulasi pulmonal (Lihat gambar 2.4.5.)

Gambar 2.4.5. Sirkulasi pulmo


2.6.

PATOFISIOLOGI

2.6.1. Gangguan Fungsi Pulmo Dapat Menyebabkan Asidosis Respiratorik


Sejauh ini kita telah membahas peranan dari mekanisme pernapasan
normal sebagai alat untuk mendpat perubahan konsentrasi H+. akan tetapi,
gangguan pernapasan dapat juga menyebabakan perubahan konsentrasi H+.
Sebagai contoh, gangguan fungsi paru, seperti emfisema berat, menurunkan
kemampuan paru untuk mengelurkan CO2, keadaan ini kemudian menyebabkan
pembentukan CO2 dalam cairan ekstrasel dan kecenderungan ke arah asidosis
respiratorik. kemampuan untuk memberi respons terhadap asidosis metabolik juga
menjadi terganggu karena pengurangan kompensasi PCO2 yang secara normal
akan terjadi melalui peningkatan ventilasi, menjadi tumpul.pada keadaan ini,
ginjal menjadi mekanisme fisisologis tunggal yang masih ada untuk
mengembalikan pH kearah normal setelah terjadi pendaparan kimia alam dalam
cairan ekstra sel.7.

15

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1. Kesimpulan
Mekanisme ventilasi paru adalah suatu mekanisme pertukaran O2 dan
CO2 di dalam paru yang terjadi di alveolus dengan melalui proses inspirasi dan
ekspirasi. Tiap paru-paru mempunyai sebuah apex, sebuah basis, dan tiga buah
facies yaitu facies costalis, facies mediastenalis dan facies diaphragmatica, dan
tiga buah margo yaitu margo antaerior, margo inferior, margo posterior, dan Paruparu juga dibagi menjadi dua yaitu pulmo dexter dan sinister.
Paru-paru dilapisi epitel kolumner psedokomplex bersilia dengan sel
goblet, mempunyai tulang rawan dan otot polos yang relatif tebal dan semua
tulang rawan dalam paru adalah hialin.
Fungsi mekanisme ventilasi paru adalah untuk pertukaran O2 dan CO2 di
dalam paru yang terjadi di alveolus dengan melalui proses inspirasi dan ekspirasi.
Paru-paru berperan penting dalam

proses respirasi yaitu energi yang

tersimpan dalam zat sumber energi melalui proses kimia dengan mengunakan
oksigen. Dari respirasi akan dihasilkan energi kimia ATP untuk kegiatan
kehidupan, seperti sintesis (anabolisme) gerak pertumbuhan.
Mekanisme pernapasan paru tersebut juga sebagai alat untuk mendapat
perubahan konsentrasi H+. akan tetapi, gangguan pernapasan dapat juga
menyebabakan perubahan konsentrasi H+. Sebagai contoh, gangguan fungsi paru,
seperti emfisema berat, menurunkan kemampuan paru untuk mengelurkan CO2,
keadaan ini kemudian menyebabkan pembentukan CO2 dalam cairan ekstrasel
dan kecenderungan ke arah asidosis respiratorik.
3.2. Saran
Penulis menyarankan jagalah kesehatan paru-paru anda jangan merokok,
karena sehat itu mahal harganya dan perbanyaklah mencari buku-buku referensi
tentang mekanisme ventilasi paru.

16

DAFTAR PUSTAKA
1. Keith L.Moore dan Anne M.R. Agur. Anatomi Klinis Dasar Edisi Bahasa
Indonesia. Jakarta. Hipokrates. 2002.
2. Snell, R.S. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran Edisi 6. Jakarta.
EGC. 2006.
3. Daniel S. dan Wibowo Widjaja Paryana. Anatomi Tubuh Manusia Edisi 1.
Yogyakarta. Graha ilmu. 2009.
4. Poppy Kumala. Kamus Saku Kedokteran Dorland Edisi 25. Jakarta. EGC.
1998.
5. Victor P. Eroschenko. Atlas Histologi di Fiore Edisi 9. Jakarta. EGC. 2003.
6. Pray, W.. Mechanism Pulmonary Ventilation.
( http://www.medscape.com/viewarticle/407667 ). 2000.
7. Guyton dan Hall. Buku Ajar Fisologi Kedokteran Edisi 9. Jakarta.
EGC.1997.
8. British Medical Journal. Mechanism Pulmonary Ventilation .
(http://www.bmj.com/content/334/7599/358/F1.large.jpg).2001.

17