Anda di halaman 1dari 35

ASUHAN KEPERAWATAN ANEMIA SEL SABIT

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang

Penyakit sel sabit adalah hemoglobinopati herediter dimana sel-sel darah merah
(SDM) mengandung hemoglobin abnormal. Anemia sel sabit (atau penyakit
Hemoglobin S) adalah salah satu hemoglobinopati yang paling umum terlihat dan
berat. Gambaran menonjol dari hemoglobinopati adalah timbulnya sabit pada
SDM. Semua hemoglobinopati menghasilkan manifestasi yang sama; namun,
anemia sel sabit di mana tegangan oksigen dari darah menurun, Hb berpolimer,
Hb rusak, dan SDM menjadi berbentuk sabit. Saat jaringan menjadi lebih
hipoksik, makin terjadi bentuk sabit dan terjadi sabit. Sel-sel sabit dirusak oleh
limpa dan lebih rapuh daripada SDM normal. Lama hidup SDM juga menurun
dari normalnya 120 hari menjadi 17 hari (Martinelli, 1991). Perkembangan ini
menyebabkan anemia. Sel sabit menghalangi aliran darah yang menyebabkan
hipoksia lanjut, yang sebaliknya menyebabkan pembentukan sabit lanjut.
Prevalensi gen sel sabit yang tinggi terdapat di bagian tropik yang dapat mencapai
hingga 40% di daerah tertentu. Prevalensi Hb S lebih rendah didapat juga di
daerah Mediteranian, Saudi Arabia dan beberapa bagian di India. Insiden diantara
orang Amerika berkulit hitam adalah sekitar 8% sedangkan status homozigot yang
diturunkan secara resesif berkisar antara 0,3-1,5%.
Penyakit sel sabit/ anemia sel sabit merupakan gangguan genetik resesif
autosomal, yaitu individu memperoleh hemoglobin sabit (hemoglobin S) dari
kedua orangtua. Oleh karena itu, pasien homozigot (Gelehertr, 1999). Individu
heterozigot (gen abnormal diwariskan hanya dari salah satu oarangtua) dikatakan
memiliki sifat sel sabit. Individu-individu ini umumnya asimtomatik dan memiliki
usia harapan hidup yang normal. Sifat sel sabit tidak memperpendek harapan
hidup seseorang atau menyebabkan anemia. Ini tidak berubah jadi anemia sel
sabit. Namun, selama pemajanan pada lingkungan dengan oksigen sangat rendah,
seperti pada saat anestasi, di tempat ketinggian, penerbangan tanpa tekanan dan
pada penyakit paru obstruktif kronis (COPD), SDM dari individu dengan sel sabit
dapat membentuk sabit yang menyebabkan hipoksia jaringan sementara SDM
kembali ke bentuk normal setelah individu kembali ke lingkungan dengan oksigen
normal.
Kebanyakan individu dengan penyakit sel sabit menikmati tingkat fungsi yang
sesuai bila mereka tidak mengalami komplikasi. Rata-rata lama hidup untuk
individu dengan anemia sel sabit adalah 42 tahun (Martinelli, 1991). Stroke, gagal
ginjal, dan kerusakan jantung adalah penyebab dari kematian.
1.2

Rumusan Masalah

Penderita selalu mengalami berbagai tingkat anemia, tetapi mereka hanya


memiliki sedikit gejala lainnya. Berbagai hal yang menyebabkan berkurangnya
jumlah oksigen dalam darah, bisa menyebabkan terjadinya krisis sel sabit.
1.3 Tujuan Permasalahan
1.3.1. Tujuan umum
Untuk mendapatkan gambaran secara umum tentang asuhan keperawatan pada
pasien anemia sel sabit.
1.3.2. Tujuan khusus
-

Mampu memahami teori tentang anemia sel sabit

- Mampu melakukan pengkajian pada penderita yang menderita anemia sel sabit.
- Mampu merumuskan diagnosa keperawatan untuk pasien yang menderita
anemia sel sabit
- Mampu menyusun rencana keperawatan untuk pasien yang menderita anemia sel
sabit
- Mampu mengaplikasikan tindakan keperawatan yang telah dipelajari pada pasien
anemia sel sabit
BAB II
KONSEP DASAR ANEMIA SEL SABIT
2.1

Pengertian Anemia Sel Sabit

Anemia sel sabit adalah sejenis anemia kongenital dimana sel darah merah
berbentuk menyerupai sabit, karena adanya hemoglobin abnormal.(Noer
Sjaifullah,1999)
Anemia sel sabit adalah anemia hemolitika berat akibat adanya defek pada
molekul hemoglobin dan disertai dengan serangan nyeri.(Suzanne C. Smeltzer,
2002) Anemia Sel Sabit (Sickle cell anemia).Disebut juga anemia drepanositik,
meniskositosis, penyakit hemoglobin S.
Penyakit Sel Sabit (sickle cell disease) adalah suatu penyakit keturunan yang
ditandai dengan sel darah merah yang berbentuk sabit dan anemia hemolitik
kronik.
Pada penyakit sel sabit, sel darah merah memiliki hemoglobin (protein
pengangkut oksigen) yang bentuknya abnormal, sehingga mengurangi jumlah
oksigen di dalam sel dan menyebabkan bentuk sel menjadi seperti sabit. Sel yang
berbentuk sabit menyumbat dan merusak pembuluh darah terkecil dalam limpa,

ginjal, otak, tulang dan organ lainnya; dan menyebabkan berkurangnya pasokan
oksigen ke organ tersebut. Sel sabit ini rapuh dan akan pecah pada saat melewati
pembuluh darah, menyebabkan anemia berat, penyumbatan aliran darah,
kerusakan organ dan mungkin kematian.
2.2

Anatomi Fisiologi

Sel darah merah atau eritrosit adalah merupakan cairan bikonkaf yang tidak
berinti yang kira-kira berdiameter 8 m, tebal bagian tepi 2 m pada bagian tengah
tebalnya 1 m atau kurang. Karena sel itu lunak dan lentur maka dalam
perjalanannya melalui mikrosirkulasi konfigurasinya berubah. Stroma bagian luar
yang mengandung protein terdiri dari antigen kelompok A dan B serta faktor Rh
yang menentukan golongan darah seseorang. Komponen utama sel darah merah
adalah protein hemoglobin (Hb) yang mengangkut O2 dan CO2 dan
mempertahankan pH normal melalui serangkaian dapar intraselluler. Molekulmolekul Hb terdiri dari 2 pasang rantai polipeptida (globin) dan 4 gugus heme,
masing-masing mengandung sebuah atom besi. Konfigurasi ini memungkinkan
pertukaran gas yang sangat sempurna.
2.3

Penyebab/ etiologi

Penyakit sel sabit adalah hemoglobinopati yang disebabkan oleh kelainan struktur
hemoglobin. Kelainan struktur terjadi pada fraksi globin di dalam molekul
hemoglobin. Globin tersusun dari dua pasang rantai polipeptida. Misalnya, Hb S
berbeda dari Hb A normal karena valin menggantikan asam glutamat pada salah
satu pasang rantainya. Pada Hb C, lisin terdapat pada posisi itu.
Substitusi asam amino pada penyakit sel sabit mengakibatkan penyusunan
kembali sebagian besar molekul hemoglobin jika terjadi deoksigenasi (penurunan
tekanan O2). Sel-sel darah merah kemudian mengalami elongasi dan menjadi kaku
serta berbentuk sabit.
Gambar 1. Sel Darah Merah Berbentuk Sabit
Deoksigenasi dapat terjadi karena banyak alasan. Eritrosit yang mengandung Hb
S melewati sirkulasi mikro secara lebih lambat daripada eritrosit normal,
menyebabakan deoksigenasi menjadi lebih lama. Eritrosit Hb S melekat pada
endotel, yang kemudian memperlambat aliran darah. Peningkatan deoksigenasi
dapat mengakibatkan SDM berada di bawah titik kritis dan mengakibatkan
pembentukan sabit di dalam mikrovaskular. Karena kekakuan dan bentuk
membrannya yang tidak teratur, sel-sel sabit berkelompok, dan menyebabkan
sumbatan pembuluh darah, krisis nyeri, dan infark organ (Linker, 2001).
Berulangnya episode pembentukan sabit dan kembali ke bentuk normal
menyebabkan membran sel menjadi rapuh dan terpecah-pecah. Sel-sel kemudian
mengalami hemolisis dan dibuang oleh sistem monositmakrofag. Dengan
demikian siklus hidup SDM jelas berkurang, dan meningkatnya kebutuhan
menyebabkan sumsum tulang melakukan penggantian. Hal-hal yang dapat

menjadi penyebab anemia sel sabit adalah infeksi, disfungsi jantung, disfungsi
paru, anastesi umum, dataran tinggi, dan menyelam. (Price A Sylvia, 2006)
Gambar 2. Menggambarkan siklus krisis infark sel sabit
Deoksigenasi
sel-sel darah
merah
Pembentukan sabit
Infark

meningkat

SIKLUS KRISIS Dehidrasi


INFARK SEL SABIT asidosis
Obstruksi mikrovaskular
Pembentukan sabit
meningkat

Viskositas darah meningkat


Stasis mikrovaskular
meningkat

Peningkatan
deoksigenasi
2.4

Patofisiologi

Defeknya adalah satu substitusi asam amino pada rantai beta hemoglobin karena
hemoglobin A normal mengandung dua rantai dan dua rantai , maka terdapat
dua gen untuk sintesa tiap rantai. Trait sel sabit hanya mendapat satu gen normal,
sehingga SDM masih mampu mensintesa kedua rantai dan s, jadi mereka
mempunyai hemoglobin A dan S sehingga mereka tidak menderita anemia dan
tampak sehat. Apabila dua orang dengan trait sel sabit sama menikah, beberapa
anaknya akan membawa dua gen abnormal dan hanya mempuntai rantai s dan
hanya hemoglobin S, maka anak akan menderita anemia sel sabit. (Smeltzer C
Suzanne, 2002)
2.5 Gejala
Penderita selalu mengalami berbagai tingkat anemia dan sakit kuning (jaundice)
yang ringan, tetapi mereka hanya memiliki sedikit gejala lainnya.

Berbagai hal yang menyebabkan berkurangnya jumlah oksigen dalam darah,


(misalnya olah raga berat, mendaki gunung, terbang di ketinggian tanpa oksigen
yang cukup atau penyakit) bisa menyebabkan terjadinya krisis sel sabit, yang
ditandai dengan:

semakin memburuknya anemia secara tiba-tiba nyeri (seringkali


dirasakan di perut atau tulang-tulang panjang)

demam, kadang sesak nafas.

Nyeri perut bisa sangat hebat dan bisa penderita bisa mengalami muntah; gejala
ini mirip dengan apendisitis atau suatu kista indung telur.
Pada anak-anak, bentuk yang umum dari krisis sel sabit adalah sindroma dada,
yang ditandai dengan nyeri dada hebat dan kesulitan bernafas.
Penyebab yang pasti dari sindroma dada ini tidak diketahui tetapi diduga akibat
suatu infeksi atau tersumbatnya pembuluh darah karena adanya bekuan darah atau
embolus (pecahan dari bekuan darah yang menyumbat pembuluh darah).
Sebagian besar penderita mengalami pembesaran limpa selama masa kanakkanak. Pada umur 9 tahun, limpa terluka berat sehingga mengecil dan tidak
berfungsi lagi. Limpa berfungsi membantu melawan infeksi, karena itu penderita
cenderung mengalami pneumonia pneumokokus atau infeksi lainnya.
Infeksi virus bisa menyebabkan berkurangnya pembentukan sel darah, sehingga
anemia menjadi lebih berat lagi. Lama-lama hati menjadi lebih besar dan
seringkali terbentuk batu empedu dari pecahan sel darah merah yang hancur.
Jantung biasanya membesar dan sering ditemukan bunyi murmur.
Anak-anak yang menderita penyakit ini seringkali memiliki tubuh yang relatif
pendek, tetapi lengan, tungkai, jari tangan dan jari kakinya panjang.
Perubahan pada tulang dan sumsum tulang bisa menyebabkan nyeri tulang,
terutama pada tangan dan kaki. Bisa terjadi episode nyeri tulang dan demam, dan
sendi panggul mengalami kerusakan hebat sehingga pada akhirnya harus diganti
dengan sendi buatan.
Sirkulasi ke kulit yang jelek dapat menyebabkan luka terbuka di tungkai, terutama
pada pergelangan kaki. Kerusakan pada sistem saraf bisa menyebabkan stroke.
Pada penderita lanjut usia, paru-paru dan ginjal mengalami penurunan fungsi.
Pria dewasa bisa menderita priapisme (nyeri ketika mengalami ereksi).
2.6

Manifestasi Klinik

No. Sistem
1.
Jantung

Komplikasi
Gagal jantung kongestif

2.

Pernapasan

Infark paru, pneumonia

3.

Saraf Pusat

Trombosis serebral

Tanda dan Gejala


Kardiomegali, takikardi, napas
pendek, dispnea sewaktu kerja
fisik, gelisah
Nyeri dada, batuk, sesak napas,
demam, gelisah
Afasia, pusing, kejang, sakit
kepala, disfungsi usus dan
kandung kemih

4.
5.

Genitourinaria
Gastrointestinal

6.

Okular

7.

Skeletal

8.

Kulit

2.7

Disfungsi ginjal
Kolesistitis, fibrosis hati,
abses hati
Ablasio retina, penyakit
pembuluh darah perifer,
perdarahan
Nekrosis aseptik kaput
femoris dan kaput humeri
Ulkus tungkai kronis

Nyeri pinggang, hematuria


Nyeri perut, hepatomegali,
demam
Nyeri, perubahan penglihatan,
buta
Nyeri, mobilitas berkurang, nyeri
dan bengkak pada lengan dan
kaki
Nyeri, ulkus terbuka dan
mengering

Prognosis/ penatalaksanaan

Sekitar 60% pasien anemia sel sabit mendapat serangan nyeri yang berat hampir
terus-menerus dan terjadinya anemia sel sabit selain dapat disebabkan karena
infeksi dapat juga disebabkan oleh beberapa faktor misalnya perubahan suhu yang
ekstrim, stress fisis atau emosional lebih sering serangan ini terjadi secara
mendadak. Orang dewasa dengan anemia sel sabit sebaiknya diimunisasi terhadap
pneumonia yang disebabkan pneumokokus. Tiap infeksi harus diobati dengan
antibiotik yang sesuai. Transfusi SDM hanya diberikan bila terjadi anemia berat
atau krisis aplastik. Pada kehamilan usuhakan agar Hb 10-12 g/dl pada trimester
ketiga. Kadar Hb perlu dinaikkan hingga 12-14 g/dl sebelum operasi. Penyuluhan
sebelum memilih pasangan hidup adalah untuk mencegah keturunan yang
homozigot dan mengurangi kemungkinan heterozigot.(Noer Sjaifullah, 1999)
2.8

Pengobatan

Sampai saat ini belum diketahui ada pengobatan yang dapat memperbaiki
pembentukan sabit, karena itu pengobatan secara primer ditujukan untuk
pencegahan dan penunjang. Karena infeksi tampaknya mencetuskan krisis sel
sabit, pengobatan ditekankan pada pencegahan infeksi, deteksi dini dan
pengobatan segera setiap ada infeksi pengobatan akan mencakup pemberian
antibiotik dan hidrasi dengan cepat dan dengan dosis yang besar. Pemberian
oksigen hanya dilakukan bila penderita mengalami hipoksia. Nyeri hebat yang
terjadi secara sendiri maupun sekunder terhadap adanya infeksi dapat mengenai
setiap bagian tubuh. Transfusi hanya diperlukan selama terjadi krisis aplastik atau
hemolitis. Transfusi juga diperlukan selama kehamilan. Penderita seringkali cacat
karena adanya nyeri berulang yang kronik karena adanya kejadian-kejadian oklusi
pada pembuluh darah.
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN ANEMIA SEL SABIT
3.1

Pengkajian Keperawatan

Data-data yang perlu dikaji dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien
yang menderita anemia sel sabit yaitu :
1. Pengumpulan data
a. Identifikasi Pasien : nama pasien, jenis kelamin, status perkawinan, agama,
suku/ bangsa, pendidikan, pekerjaan, dan alamat.
b. Identitas penanggung
c. Keluhan utama dan riwayat kesehatan masa lalu
Keluhan utama: pada keluhan utama akan nampak semua apa yang dirasakan
pasien pada saat itu seperti kelemahan, nafsu makan menurun dan pucat.
Riwayat kesehatan masa lalu: riwayat kesehatan masa lalu akan memberikan
informasi kesehatan atau penyakit masa lalu yang pernah diderita.
d. Riwayat kesehatan keluarga
Penyakit anemia sel sabit dapat disebabkan oleh kelainan/kegagalan genetik yang
berasal dari orang tua yang sama-sama trait sel sabit
e. Riwayat kesehatan sekarang
- Klien terlihat keletihan dan lemah
- Muka klien pucat dan klien mengalami palpitasi
- Mengeluh nyeri mulut dan lidah
f. Pemeriksaan fisik

Aktivitas/ istirahat

Gejala: Keletihan/ kelemahan terus-menerus sepanjang hari, kehilangan


produktivitas, kebutuhan tidur lebih besar dan istirahat
Tanda: Tidak bergairah, gangguan gaya berjalan (nyeri)

Sirkulasi

Gejala: Palpitasi atau nyeri dada anginal


Tanda: Takikardi, disritmia (hipoksia), tekanan darah menurun, nadi lemah,
pernapasan lambat, warna kulit pucat atau sianosis, konjungtiva pucat.

Eliminasi

Gejala: Sering berkemih, nokturia ( berkemih malam hari)


Tanda: Nyeri tekan pada abdomen, hepatomegali, asites, urine encer, kuning
pucat, hematuria, berat jenis urine menurun

Integritas ego

Gejala: Mudah marah, kuatir, takut


Tanda: Ansietas, gelisah

Makanan/ cairan

Gejala: Haus, anoreksia, mual/ muntah


Tanda: Penurunan berat badan, turgor kulit buruk dengan bekas cubitan, tampak
kulit dan membran mukosa kering.

Hygiene

Gejala: Keletihan/ kelemahan, kesulitan mempertahankan nyeri


Tanda: Ceroboh, penampilan tidak rapi

Neurosensori

Gejala: Sakit kepala/ pusing, gangguan penglihatan, kesemutan pada ekstremitas


Tanda: Kelemahan otot, penurunan kekuatan otot, ataksia, kejang

Nyeri/ kenyamanan

Gejala: Nyeri punggung, sakit kepala


Tanda: Penurunana rentang gerak, gelisah

Pernapasan

Gejala: Dispnea saat bekerja/ istirahat


Tanda: Distres pernapasan akut, bunyi bronkial, bunyi napas menurun, mengi

Keamanan

Gejala: Riwayat transfusi


Tanda: Demam ringan, gangguan penglihatan, gangguan ketajaman penglihatan

Seksualitas

Gejala: Kehilangan libido, amenorea, priapisme


Tanda: Maturitas seksual terlambat, serviks dan dinding vagina (anemia)
2. Pemeriksaan Penunjang
a. Jumlah Darah Lengkap ( JDL): Leukosit dan trombosit menurun
b. Retikulosit: jumlah dapat bervariasi dari 30% 50%
c. Pewarnaan SDM: menunjukkan sebagian sabit atau lengkap
d. LED: meningkat
e. Eritrosit: menurun
f. GDA: dapat menunjukkan penurunan PO2
g. Billirubin serum: meningkat
h. LDH: meningkat
i. TIBC: normal sampai menurun
j. IVP: mungkin dilakukan untuk mengevaluasi kerusakan ginjal
k. Radiografik tulang: mungkin menunjukkan perubahan tulang
l. Rontgen: mungkin menunjukkan penipisan tulang, osteoporosis
3.2

Diagnosa Keperawatan

1. Kerusakan pertukaran gas yang berhubungan dengan penurunan kapasitas


pembawa oksigen darah.
2. Perubahan perfusi jaringan yang berhubungan dengan penurunan fungsi/
kerusakan miokardial akibat infark kecil, deposit besi, dan fibrosis.
3. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan
peningkatan kebutuhan cairan.
4.

Nyeri yang berhubungan dengan aglutinasi sel sabit dalam pembuluh darah.

5. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan


gangguan sirkulasi.

6. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurangnya informasi tentang


penyakitnya.
3.3

Tindakan/ Intervensi Keperawatan

Diagnosa keperawatan: Kerusakan pertukaran gas yang berhubungan dengan


penurunan kapasitas pembawa oksigen darah, yang ditandai oleh: dispnea,
gelisah, takikardia, dan sianosis (hipoksia).
Tujuan Umum: Tidak terdapatnya sekret
Tujuan Khusus: Menunjukkan perbaikan ventilasi/ oksigenasi dan bunyi napas
normal.
Intervensi
Mandiri

Rasional

Awasi frekuensi/ kedalaman pernapasan,


area sianosis.

Indikator keadekuatan fungsi pernapasan


atau tingkat gangguan dan
kebutuhan/keefektifan terapi.

Auskultasi bunyi napas, catat adanya/


takadanya, dan bunyi adventisisus.

Terjadinya atelektasis dan stasis sekret


dapat mengganggu pertukaran gas.

Kaji laporan nyeri dada dan peningkatan


kelemahan.

Menggambarkan terjadinya infeksi paru,


yang meningkatkankerja jantung dan
kebuttuhan oksigen.

Bantu dalam mengubah posisi, batuk dan


napas dalam.
Kaji tingkat kesadaran.
Kaji toleransi aktivitas; tempatkan pasien
pada tirah baring.
Dorong pasien untuk memilih periode
istirahat dan aktivitas.
Peragakan dan dorong penggunaan teknik
relaksasi.
Tingkatkan masukan cairan yang adekuat.

Meningkatkan ekspansi dada optimal,


memobilisasikan sekresi, dan
menurunkan stasis sekret.
Jaringan otak sangat sensitif pada
penurunan oksigen dan merupakan
indikator dini terjadinya hipoksia.
Penurunan kebutuhan metabolik tubuh
menurunkan kebutuhan O2.
Melindungi dari kelelahan berlebihan.
Relaksasi menurunkan teganagn otot dan
ansietas.

Batasi pengunjung/ staf.


Kolaborasi

Masukan yang mencukupi perlu untuk


mobilisasi sekret.
Melindungi dari potensial sumber infeksi

pernapasan.
Memaksimalkan transpor O2 ke jaringan,
khususnya pada adanya gangguan paru/
pneumonia.

Berikan suplemen O2 sesuai indikasi.


Lakukan/ bantu fisioterapi dada.
Berikan pak SDM atau transfusi tukar sesuai
indikasi.

Dilakukan untuk memobilisasi sekret dan


meningkatkan pengisian udara area paru.
Meningkatkan jumlah sel pembawa
oksigen, melarutkan persentase
hemoglobin S (untuk mencegah sabit)
dan merusak sel sabit.

Diagnosa keperawatan: Perubahan perfusi jaringan yang berhubungan dengan


penurunan fungsi/ kerusakan miokardial akibat infark kecil, deposit besi, dan
fibrosis, yang ditandai oleh: penurunan tanda vital, pucat, gelisah, nyeri tulang,
angina, dan gangguan penglihatan.
Tujuan Umum: Perfusi jaringan adekuat
Tujuan Khusus: Menunjukkan perbaikan perfusi jaringan yang dibuktikan oleh
tanda vital yang stabil.
Intervensi
Mandiri

Rasional

Pengendapan dan sabit pembuluh perifer


Awasi tanda vital dengan cermat. Kaji
dapat menimbulkan obliterasi lengkap/
nadi untuk frekuensi, irama, dan volume. terjadi penurunan perfusi jaringan pada
sekitar pembuluh darah.
Kaji kulit untuk rasa dingin, pucat,
sianosis, diaforesis, pelambatan pengisian
kapiler.
Catat perubahan dalam tingkat kesadaran.

Perubahan menunjukkan penurunan


sirkulasi/ hipoksia yang meningkatkan
oklusi kapiler.
Perubahan dapat menunjukkan penurunan
perfusi SSP akibat iskemia atau infark.
Pertahankan pemasukkan cairan adekuat. Dehidrasi tidak hanya menyebabkan
hipovolemia tetapi meningkatkan
pembentukan sabit dan oklusi kapiler.
Pertahankan suhu lingkungan dan
Mencegah vasokontriksi; membantu dalam
kehangatan tubuh.
mempertahankan sirkulasi dan perfusi.
Kolaborasi
Penurunan perfusi jaringan dapat
menimbulkan infark organ jaringan seperti

Awasi pemeriksaan laboratorium, mis.


Darah lenkap, BUN

otak, hati, limpa, ginjal dsb.

Berikan cairan hipo-osmolar (mis. Cairan Hidrasi menurunkan konsentrasi Hb S


garam faal 0,45) melalui pompa infus.
dalam SDM, yang menurunkan
kecenderungan sabit, dan juga menurunkan
viskositas darah yang membantu untuk
mempertahankan perfusi.
Berikan agen antisabit percobaan (mis,
Agen antisabit ditujukan pada hidup
natrium sianat) dengan hati-hati.
panjang eritrosit dan mencegah sabit
dengan mempengaruhi perubahan membran
sel.
Diagnosa keperawatan: Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan yang
berhubungan dengan peningkatan kebutuhan cairan, yang ditandai oleh:
anoreksia, dehidrasi (muntah, diare, demam).
Tujuan Umum: Intake cairan terpenuhi
Tujuan Khusus: Mempertahankan keseimbangan cairan adekuat.
Intervensi
Mandiri

Rasional

Pasien dapat menurunkan pemasukan cairan


Pertahankan pemasukan dan pengeluaran selama periode krisis karena malaise,
akurat. Timbang tiap hari.
anoreksia dsb.
Perhatikan karakteristik urine dan berat
jenis.
Awasi tanda vital.

Ginjal dapat kehilangannya untuk


mengkonsentrasikan urine, mengakibatkan
kehilangan banyak urine encer.
Penurunan sirkulasi darah dapat terjadi dari
peningkatan kehilangan cairan
mengakibatkan hipotensi dan takikardia.
Gejala yang menunjukkan dehidrasi.

Observasi demam, perubahan tingkat


kesadaran, turgor kulit buruk, nyeri.
Awasi tanda vital dengan ketat selama
Jantung dapat kelelahan dan cenderung
transfusi darah dan catat adanya dispnea, gagal karena kebutuhan pada status anemia.
ronki, mengi, batuk, dan sianosis.
Kolaborasi
Penggantian atas kehilangan/ defisit: dapat
Berikan cairan sesuai indikasi.
memperbaiki ginjal pada SDM.
Awasi pemeriksaan laboratorium, mis.
Hb/Ht, elektrolir serum dan urine.

Peningkatan menunjukkan
hemokonsentrasi. Kehilangan kemampuan

ginjal untuk mengkonsentrasikan urine


dapat mengakibatkan penurunan Na+, K+,
dan Cl+ serum.
Diagnosa keperawatan: Nyeri yang berhubungan dengan aglutinasi sel sabit
dalam pembuluh darah, yang ditandai oleh: nyeri lokal, menyebar, berdenyut,
perih, sakit kepala.
Tujuan Umum: Mengurangi nyeri
Tujuan Khusus: Menyatakan nyaeri berkurang; menunjukkan postur badan rileks,
bebas bergerak; meningkatkan asupan cairan.
Intervensi
Kaji berat dan lokasi nyeri. Tempat nyeri
yang sering adalah sendi dan ekstremitas,
dada, dan abdomen.
Berikan analgetik sesuai rsesp.
Perhitungkan pemakaian anagelsik yang
dikontrol pasien.
Dukung asupan cairan peroral dan berikan
cairan IV sesuai resep; memantau asupan
dan haluaran cairan.
Posisikan pasien dengan hati-hati dan
sangga daerah nyeri; dukung penggunaan
teknik relaksasi dan latihan pernapasan.

Rasional
Jaringan dan organ sangat peka terhadap
trombosis mikrosirkulasi dengan akibat
kerusakan hipoksik; hipoksia menyebabkan
nyeri.
Anageltik oploid penting untuk mengurangi
nyeri yang berat.
Cairan akan memperbaiki hemodilusi dan
menguraiakn algutinasi sel sabit dalam
pembuluh darah kecil.
Nyeri sendi dapat dikurangi selama krisis
dengan gerakan yang hati-hati dan
penggunaan kompres panas; teknik
relaksasi dan latihan pernapasan dapat
berfungsi sebagai pelemas. Penyumbatan
pembuluh darah oleh sel sabit akan
menurunkan sirkulasi.

Diagnosa keperawatan: Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit yang


berhubungan dengan gangguan sirkulasi, yang ditandai oleh: turgor kulit buruk,
kulit kering, pucat.
Tujuan Umum: Mempertahankan integritas kulit dengan kriteria: kulit segar,
sirkulasi darah lancar.
Tujuan Khusus: Mencegah cedera; berpartisipasi dalam perilaku untuk
menurunkan faktor resiko/kerusakan kuilt.
Intervensi
Mandiri

Rasional
Mencegah tekanan jaringan lama dimana
sirkulasi telah terganggu, menurunkan

Sering ubah posisi, bahkan bila duduk di resiko trauma jaringan/ iskemia.
kursi.
Inspeksi kulit/ titik tekanan secara teratur
untuk kemerahan, beriakan pijatan
lembut.
Pertahankan permukaan kulit kering dan
bersih; linen kering/ bebas kerutan.

Sirkulasi buruk pada jaringan, mencegah


kerusakan kulit.

Awasi status area iskemik, ulkus.


Perhatikan distribusi, ukuran, kedalaman,
karakter, dan drainase.
Siapkan untuk/ bantu oksigenasi pada
ulkus.

Perbaikan atau lambanya penyembuhan


menunjukkan status perfusi jaringan dan
keefektifan intervensi.
Memaksimalkan pemberian oksigen ke
jaringan, meningkatkan penyembuhan

Lembab, area terkontaminasi memberikan


media yang baik untuk pertumbuhan
organisme patogen.
Awasi tungkai terhadap kemerahan,
Potensi jalan masuk untuk organisme
perhatikan dengan ketat terhadap
patogen. Pda adnya gangguan sistem imun,
pembentukan ulkus.
ini meningkatkanresiko infeksi/ pelambatan
penyembuhan.
Tinggikan ekstremitas bawah bila duduk. Meningkatkan aliran balik vena
menurunkan stasis vena/ pembentukan
edema.
Kolaborasi
Menurunkan tekanan jaringan dan
Berikan kasur air atau tekanan udara.
membantu dalam memaksimalkan perfusi
seluler untuk mencegah cedera.

Diagnosa keperawatan: Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan


kurangnya informasi tentang penyakitnya, yang ditandai oleh: pertanyaan;
meminta informasi; tidak akurat mengikuti intruksi; dan ansietas.
Tujuan Umum: Memahami tentang penyakitnya
Tujuan Khusus: Menyatakan pemahaman proses penyakit, termasuk gejala krisis;
melakukan perilaku yang perlu/perubahan pola hidup untuk mencegah
komplikasi.
Intervensi
Berikan informasi tentang penyakitnya.

Kaji pengetahuan pasien tentang

Rasional
Memberikan dasar pengethuan sehingga
pasien dapat membuat pilihan yang tepat,
menurunkan ansietas dan dapat
meningkatkan kerjasama dalam program
terapi.
Menberi pengetahuan berdasarkan pola

penyakitnya.

kemampuan pasien untuk memilih


informasi.
Dorong mengkonsumsi sedikitnya 4-6 liter Mencegah dehidrasi dan konsekuensi
cairan perhari.
hiperviskositas yang dapat membuat sabit/
krisis.
Dorongb latihan rentang gerak dan
Mencegah demineralisasi tulang dan dapat
aktivitas fisik teratur dengan
menurunkan resiko fraktur.
keseimbangan antara aktivitas dan
istirahat.
3.4

Implementasi Keperawatan

Pelaksanaan adalah pengobatan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang


meliputi tindakan yang direncanakan oleh perawat, melaksanakan anjuran dokter
dan menjalankan ketentuan dari rumah sakit. Sebelum pelaksanaan terlebih
dahulu harus mengecek kembali data yang ada, karena kemungkinan ada
perubahan data bila terjadi demikian kemungkinan rencana haurs direvisi sesuai
kebutuhan pasien.
3.5

Evaluasi Keperawatan

Evaluasi adalah pengukuran dari keberhasilan rencana perawatan dalam


memenuhi kebutuhan pasien. Tahap evaluasi merupakan kunci keberhasilan dalam
menggunakan proses keperawatan.
Hasil evaluasi yang diharapkan/ kriteria: evaluasi pada pasien dengan anemia sel
sabit adalah sebagai berikut:
Mengatakan pemahaman situasi/ faktor resiko dan program pengobatan individu
dengan kriteria:
1. Menunjukkan teknik/ perilaku yang memampukan kembali melakukan
aktivitas.
2. Melaporkan kemampuan melakukan peningkatan toleransi aktivitas.
Menyatakan pemahaman proses penyakit dan pengobatan pengobatan dengan
kriteria:
c. Mengidentifikasikan hubungan tanda/ gejala penyebab.
d. Melakukan perubahan perilaku dan berpartisipasi pada pengobatan.
Mengidentifikasikan perasaan dan metode untuk koping terhadap persepsi dengan
kriteria:
f. Menyatakan penerimaan diri dan lamanya penyembuhan.

g. Menyukai diri sebagai orang yang berguna.


Mempertahankan hidrasi adekuat dengan kriteria:
h. Tanda-tanda vital stabil, turgor kulit normal, masukan dan keluaran seimbang.
Menunjukkan perilaku perubahan pola hidup untuk meningkatkan/
mempertahankan berat badan yang sesuai dengan kriteria:
i. Menunjukkan peningkatan berat badan, mencapai tujuan denagn nilai
laboratorium normal.
BAB IV
PENUTUP
4.1

Kesimpulan

Anemia sel sabit adalah sejenis anemia kongenital dimana sel darah merah
berbentuk menyerupai sabit, karena adanya hemoglobin abnormal. Penyakit Sel
Sabit (sickle cell disease) adalah suatu penyakit keturunan yang ditandai dengan
sel darah merah yang berbentuk sabit dan anemia hemolitik kronik.
Pada penyakit sel sabit, sel darah merah memiliki hemoglobin (protein
pengangkut oksigen) yang bentuknya abnormal, sehingga mengurangi jumlah
oksigen di dalam sel dan menyebabkan bentuk sel menjadi seperti sabit.
Sel yang berbentuk sabit menyumbat dan merusak pembuluh darah terkecil dalam
limpa, ginjal, otak, tulang dan organ lainnya; dan menyebabkan berkurangnya
pasokan oksigen ke organ tersebut.
Penyakit sel sabit/ anemia sel sabit merupakan gangguan genetik resesif
autosomal, yaitu individu memperoleh hemoglobin sabit (hemoglobin S) dari
kedua orangtua. Hal-hal yang dapat menjadi penyebab anemia sel sabit adalah
infeksi, disfungsi jantung, disfungsi paru, anastesi umum, dataran tinggi, dan
menyelam.
Gejala klinis yang biasa terjadi pada seseorang yang gangguan anemia sel sabit
dapat berupa : nyeri, pucat, kelemahan dan keletihan, palpitasi, takikardia, diare
dan penurunan haluaran urin, penurunan nafsu makan, mual dan muntah, kulit
kering, nafas pendek, gangguan penglihatan dan demam.
Pengkajian yang dilakukan pada klien yang anemia dapat dirumuskan diagnosa
keperawatan sebagai berikut: Kerusakan pertukaran gas yang berhubungan
dengan penurunan kapasitas pembawa oksigen darah; perubahan perfusi jaringan
yang berhubungan dengan penurunan fungsi/ kerusakan miokardial akibat infark
kecil, deposit besi, dan fibrosis; resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan
yang berhubungan dengan peningkatan kebutuhan cairan; nyeri yang
berhubungan dengan aglutinasi sel sabit dalam pembuluh darah; resiko tinggi
terhadap kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan gangguan sirkulasi;

serta kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurangnya informasi tentang


penyakitnya.
Implementasi keperawatan pada klien anemia sel sabit harus sesuai dengan
intervensi atau rencana keperawatan yang telah dibuat. Oleh karena itu perawat
harus memberikan pelayanan kesehatan secara komprehensif sehingga
meminimalkan kemungkinan terjadi komplikasi.
4.2

Saran

Karena penyakit dapat menimbulkan krisis yang berbahaya, mereka yang


mengidap anemia sel sabit perlu bekerja keras untuk mempertahankan kesehatan
yang baik. Mereka dapat melakukan hal ini dengan menjaga kebersiahn pribadi,
dengan menghindari aktivitas yang berat yang berkepanjangan, dan dengan
mengkonsumsi makanan yang seimbang dan baik.
Para penderita anemia sel sabit hendaknya juga melakukan pemeriksaan medis
yang teratur. Jika penderita anemia sel sabit sering melakukan pemeriksaan medis
dengan teratur, maka ini memungkinkan banyak penderita anemia sel sabit untuk
hidup secara normal.
Dengan mengetahui konsep dasar dan asuhan keperawatan pada pasien anemia sel
sabit, diharapkan dalam memberikan pelayanan kesehatan harus secara
profesional dan komprehensif sehingga meminimalkan kemungkinan terjadi
komplikasi.
DAFTAR PUSTAKA
Baughman, Diane C. 2000. Keperawatan Medikal-Bedah Buku Saku. EGC:
Jakarta
Doenges, Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk
Perencanaan Dan Pendokumentasiaan Perawatan Pasien. EGC: Jakarta
Engram, Barbara. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Volume 2.
EGC: Jakarta
Price, Sylvia A. 2006. Patofisisologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit
Volume 1. EGC: Jakarta
Smeltzer, Suzanne C. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Volume 2.
EGC: Jakarta
http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/03/27/askep.anemia-sel-sabit/
http://www.womenshealth.gov/faq/anemia-sel-sabit.cfm
http://www.indokado.com

ASUHAN KEPERAWATAN ANEMIA SEL SABIT


BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang

Penyakit sel sabit adalah hemoglobinopati herediter dimana sel-sel darah merah
(SDM) mengandung hemoglobin abnormal. Anemia sel sabit (atau penyakit
Hemoglobin S) adalah salah satu hemoglobinopati yang paling umum terlihat dan
berat. Gambaran menonjol dari hemoglobinopati adalah timbulnya sabit pada
SDM. Semua hemoglobinopati menghasilkan manifestasi yang sama; namun,
anemia sel sabit di mana tegangan oksigen dari darah menurun, Hb berpolimer,
Hb rusak, dan SDM menjadi berbentuk sabit. Saat jaringan menjadi lebih
hipoksik, makin terjadi bentuk sabit dan terjadi sabit. Sel-sel sabit dirusak oleh
limpa dan lebih rapuh daripada SDM normal. Lama hidup SDM juga menurun
dari normalnya 120 hari menjadi 17 hari (Martinelli, 1991). Perkembangan ini
menyebabkan anemia. Sel sabit menghalangi aliran darah yang menyebabkan
hipoksia lanjut, yang sebaliknya menyebabkan pembentukan sabit lanjut.
Prevalensi gen sel sabit yang tinggi terdapat di bagian tropik yang dapat mencapai
hingga 40% di daerah tertentu. Prevalensi Hb S lebih rendah didapat juga di
daerah Mediteranian, Saudi Arabia dan beberapa bagian di India. Insiden diantara
orang Amerika berkulit hitam adalah sekitar 8% sedangkan status homozigot yang
diturunkan secara resesif berkisar antara 0,3-1,5%.
Penyakit sel sabit/ anemia sel sabit merupakan gangguan genetik resesif
autosomal, yaitu individu memperoleh hemoglobin sabit (hemoglobin S) dari
kedua orangtua. Oleh karena itu, pasien homozigot (Gelehertr, 1999). Individu
heterozigot (gen abnormal diwariskan hanya dari salah satu oarangtua) dikatakan
memiliki sifat sel sabit. Individu-individu ini umumnya asimtomatik dan memiliki
usia harapan hidup yang normal. Sifat sel sabit tidak memperpendek harapan
hidup seseorang atau menyebabkan anemia. Ini tidak berubah jadi anemia sel
sabit. Namun, selama pemajanan pada lingkungan dengan oksigen sangat rendah,
seperti pada saat anestasi, di tempat ketinggian, penerbangan tanpa tekanan dan
pada penyakit paru obstruktif kronis (COPD), SDM dari individu dengan sel sabit
dapat membentuk sabit yang menyebabkan hipoksia jaringan sementara SDM
kembali ke bentuk normal setelah individu kembali ke lingkungan dengan oksigen
normal.
Kebanyakan individu dengan penyakit sel sabit menikmati tingkat fungsi yang
sesuai bila mereka tidak mengalami komplikasi. Rata-rata lama hidup untuk
individu dengan anemia sel sabit adalah 42 tahun (Martinelli, 1991). Stroke, gagal
ginjal, dan kerusakan jantung adalah penyebab dari kematian.
1.2

Rumusan Masalah

Penderita selalu mengalami berbagai tingkat anemia, tetapi mereka hanya


memiliki sedikit gejala lainnya. Berbagai hal yang menyebabkan berkurangnya
jumlah oksigen dalam darah, bisa menyebabkan terjadinya krisis sel sabit.
1.3 Tujuan Permasalahan
1.3.1. Tujuan umum
Untuk mendapatkan gambaran secara umum tentang asuhan keperawatan pada
pasien anemia sel sabit.
1.3.2. Tujuan khusus
-

Mampu memahami teori tentang anemia sel sabit

- Mampu melakukan pengkajian pada penderita yang menderita anemia sel sabit.
- Mampu merumuskan diagnosa keperawatan untuk pasien yang menderita
anemia sel sabit
- Mampu menyusun rencana keperawatan untuk pasien yang menderita anemia sel
sabit
- Mampu mengaplikasikan tindakan keperawatan yang telah dipelajari pada pasien
anemia sel sabit
BAB II
KONSEP DASAR ANEMIA SEL SABIT
2.1

Pengertian Anemia Sel Sabit

Anemia sel sabit adalah sejenis anemia kongenital dimana sel darah merah
berbentuk menyerupai sabit, karena adanya hemoglobin abnormal.(Noer
Sjaifullah,1999)
Anemia sel sabit adalah anemia hemolitika berat akibat adanya defek pada
molekul hemoglobin dan disertai dengan serangan nyeri.(Suzanne C. Smeltzer,
2002) Anemia Sel Sabit (Sickle cell anemia).Disebut juga anemia drepanositik,
meniskositosis, penyakit hemoglobin S.
Penyakit Sel Sabit (sickle cell disease) adalah suatu penyakit keturunan yang
ditandai dengan sel darah merah yang berbentuk sabit dan anemia hemolitik
kronik.
Pada penyakit sel sabit, sel darah merah memiliki hemoglobin (protein
pengangkut oksigen) yang bentuknya abnormal, sehingga mengurangi jumlah
oksigen di dalam sel dan menyebabkan bentuk sel menjadi seperti sabit. Sel yang
berbentuk sabit menyumbat dan merusak pembuluh darah terkecil dalam limpa,

ginjal, otak, tulang dan organ lainnya; dan menyebabkan berkurangnya pasokan
oksigen ke organ tersebut. Sel sabit ini rapuh dan akan pecah pada saat melewati
pembuluh darah, menyebabkan anemia berat, penyumbatan aliran darah,
kerusakan organ dan mungkin kematian.
2.2

Anatomi Fisiologi

Sel darah merah atau eritrosit adalah merupakan cairan bikonkaf yang tidak
berinti yang kira-kira berdiameter 8 m, tebal bagian tepi 2 m pada bagian tengah
tebalnya 1 m atau kurang. Karena sel itu lunak dan lentur maka dalam
perjalanannya melalui mikrosirkulasi konfigurasinya berubah. Stroma bagian luar
yang mengandung protein terdiri dari antigen kelompok A dan B serta faktor Rh
yang menentukan golongan darah seseorang. Komponen utama sel darah merah
adalah protein hemoglobin (Hb) yang mengangkut O2 dan CO2 dan
mempertahankan pH normal melalui serangkaian dapar intraselluler. Molekulmolekul Hb terdiri dari 2 pasang rantai polipeptida (globin) dan 4 gugus heme,
masing-masing mengandung sebuah atom besi. Konfigurasi ini memungkinkan
pertukaran gas yang sangat sempurna.
2.3

Penyebab/ etiologi

Penyakit sel sabit adalah hemoglobinopati yang disebabkan oleh kelainan struktur
hemoglobin. Kelainan struktur terjadi pada fraksi globin di dalam molekul
hemoglobin. Globin tersusun dari dua pasang rantai polipeptida. Misalnya, Hb S
berbeda dari Hb A normal karena valin menggantikan asam glutamat pada salah
satu pasang rantainya. Pada Hb C, lisin terdapat pada posisi itu.
Substitusi asam amino pada penyakit sel sabit mengakibatkan penyusunan
kembali sebagian besar molekul hemoglobin jika terjadi deoksigenasi (penurunan
tekanan O2). Sel-sel darah merah kemudian mengalami elongasi dan menjadi kaku
serta berbentuk sabit.
Gambar 1. Sel Darah Merah Berbentuk Sabit
Deoksigenasi dapat terjadi karena banyak alasan. Eritrosit yang mengandung Hb
S melewati sirkulasi mikro secara lebih lambat daripada eritrosit normal,
menyebabakan deoksigenasi menjadi lebih lama. Eritrosit Hb S melekat pada
endotel, yang kemudian memperlambat aliran darah. Peningkatan deoksigenasi
dapat mengakibatkan SDM berada di bawah titik kritis dan mengakibatkan
pembentukan sabit di dalam mikrovaskular. Karena kekakuan dan bentuk
membrannya yang tidak teratur, sel-sel sabit berkelompok, dan menyebabkan
sumbatan pembuluh darah, krisis nyeri, dan infark organ (Linker, 2001).
Berulangnya episode pembentukan sabit dan kembali ke bentuk normal
menyebabkan membran sel menjadi rapuh dan terpecah-pecah. Sel-sel kemudian
mengalami hemolisis dan dibuang oleh sistem monositmakrofag. Dengan
demikian siklus hidup SDM jelas berkurang, dan meningkatnya kebutuhan
menyebabkan sumsum tulang melakukan penggantian. Hal-hal yang dapat

menjadi penyebab anemia sel sabit adalah infeksi, disfungsi jantung, disfungsi
paru, anastesi umum, dataran tinggi, dan menyelam. (Price A Sylvia, 2006)
Gambar 2. Menggambarkan siklus krisis infark sel sabit
Deoksigenasi
sel-sel darah
merah
Pembentukan sabit
Infark

meningkat

SIKLUS KRISIS Dehidrasi


INFARK SEL SABIT asidosis
Obstruksi mikrovaskular
Pembentukan sabit
meningkat

Viskositas darah meningkat


Stasis mikrovaskular
meningkat

Peningkatan
deoksigenasi
2.4

Patofisiologi

Defeknya adalah satu substitusi asam amino pada rantai beta hemoglobin karena
hemoglobin A normal mengandung dua rantai dan dua rantai , maka terdapat
dua gen untuk sintesa tiap rantai. Trait sel sabit hanya mendapat satu gen normal,
sehingga SDM masih mampu mensintesa kedua rantai dan s, jadi mereka
mempunyai hemoglobin A dan S sehingga mereka tidak menderita anemia dan
tampak sehat. Apabila dua orang dengan trait sel sabit sama menikah, beberapa
anaknya akan membawa dua gen abnormal dan hanya mempuntai rantai s dan
hanya hemoglobin S, maka anak akan menderita anemia sel sabit. (Smeltzer C
Suzanne, 2002)
2.5 Gejala
Penderita selalu mengalami berbagai tingkat anemia dan sakit kuning (jaundice)
yang ringan, tetapi mereka hanya memiliki sedikit gejala lainnya.

Berbagai hal yang menyebabkan berkurangnya jumlah oksigen dalam darah,


(misalnya olah raga berat, mendaki gunung, terbang di ketinggian tanpa oksigen
yang cukup atau penyakit) bisa menyebabkan terjadinya krisis sel sabit, yang
ditandai dengan:

semakin memburuknya anemia secara tiba-tiba nyeri (seringkali


dirasakan di perut atau tulang-tulang panjang)

demam, kadang sesak nafas.

Nyeri perut bisa sangat hebat dan bisa penderita bisa mengalami muntah; gejala
ini mirip dengan apendisitis atau suatu kista indung telur.
Pada anak-anak, bentuk yang umum dari krisis sel sabit adalah sindroma dada,
yang ditandai dengan nyeri dada hebat dan kesulitan bernafas.
Penyebab yang pasti dari sindroma dada ini tidak diketahui tetapi diduga akibat
suatu infeksi atau tersumbatnya pembuluh darah karena adanya bekuan darah atau
embolus (pecahan dari bekuan darah yang menyumbat pembuluh darah).
Sebagian besar penderita mengalami pembesaran limpa selama masa kanakkanak. Pada umur 9 tahun, limpa terluka berat sehingga mengecil dan tidak
berfungsi lagi. Limpa berfungsi membantu melawan infeksi, karena itu penderita
cenderung mengalami pneumonia pneumokokus atau infeksi lainnya.
Infeksi virus bisa menyebabkan berkurangnya pembentukan sel darah, sehingga
anemia menjadi lebih berat lagi. Lama-lama hati menjadi lebih besar dan
seringkali terbentuk batu empedu dari pecahan sel darah merah yang hancur.
Jantung biasanya membesar dan sering ditemukan bunyi murmur.
Anak-anak yang menderita penyakit ini seringkali memiliki tubuh yang relatif
pendek, tetapi lengan, tungkai, jari tangan dan jari kakinya panjang.
Perubahan pada tulang dan sumsum tulang bisa menyebabkan nyeri tulang,
terutama pada tangan dan kaki. Bisa terjadi episode nyeri tulang dan demam, dan
sendi panggul mengalami kerusakan hebat sehingga pada akhirnya harus diganti
dengan sendi buatan.
Sirkulasi ke kulit yang jelek dapat menyebabkan luka terbuka di tungkai, terutama
pada pergelangan kaki. Kerusakan pada sistem saraf bisa menyebabkan stroke.
Pada penderita lanjut usia, paru-paru dan ginjal mengalami penurunan fungsi.
Pria dewasa bisa menderita priapisme (nyeri ketika mengalami ereksi).
2.6

Manifestasi Klinik

No. Sistem
1.
Jantung

Komplikasi
Gagal jantung kongestif

2.

Pernapasan

Infark paru, pneumonia

3.

Saraf Pusat

Trombosis serebral

Tanda dan Gejala


Kardiomegali, takikardi, napas
pendek, dispnea sewaktu kerja
fisik, gelisah
Nyeri dada, batuk, sesak napas,
demam, gelisah
Afasia, pusing, kejang, sakit
kepala, disfungsi usus dan
kandung kemih

4.
5.

Genitourinaria
Gastrointestinal

6.

Okular

7.

Skeletal

8.

Kulit

2.7

Disfungsi ginjal
Kolesistitis, fibrosis hati,
abses hati
Ablasio retina, penyakit
pembuluh darah perifer,
perdarahan
Nekrosis aseptik kaput
femoris dan kaput humeri
Ulkus tungkai kronis

Nyeri pinggang, hematuria


Nyeri perut, hepatomegali,
demam
Nyeri, perubahan penglihatan,
buta
Nyeri, mobilitas berkurang, nyeri
dan bengkak pada lengan dan
kaki
Nyeri, ulkus terbuka dan
mengering

Prognosis/ penatalaksanaan

Sekitar 60% pasien anemia sel sabit mendapat serangan nyeri yang berat hampir
terus-menerus dan terjadinya anemia sel sabit selain dapat disebabkan karena
infeksi dapat juga disebabkan oleh beberapa faktor misalnya perubahan suhu yang
ekstrim, stress fisis atau emosional lebih sering serangan ini terjadi secara
mendadak. Orang dewasa dengan anemia sel sabit sebaiknya diimunisasi terhadap
pneumonia yang disebabkan pneumokokus. Tiap infeksi harus diobati dengan
antibiotik yang sesuai. Transfusi SDM hanya diberikan bila terjadi anemia berat
atau krisis aplastik. Pada kehamilan usuhakan agar Hb 10-12 g/dl pada trimester
ketiga. Kadar Hb perlu dinaikkan hingga 12-14 g/dl sebelum operasi. Penyuluhan
sebelum memilih pasangan hidup adalah untuk mencegah keturunan yang
homozigot dan mengurangi kemungkinan heterozigot.(Noer Sjaifullah, 1999)
2.8

Pengobatan

Sampai saat ini belum diketahui ada pengobatan yang dapat memperbaiki
pembentukan sabit, karena itu pengobatan secara primer ditujukan untuk
pencegahan dan penunjang. Karena infeksi tampaknya mencetuskan krisis sel
sabit, pengobatan ditekankan pada pencegahan infeksi, deteksi dini dan
pengobatan segera setiap ada infeksi pengobatan akan mencakup pemberian
antibiotik dan hidrasi dengan cepat dan dengan dosis yang besar. Pemberian
oksigen hanya dilakukan bila penderita mengalami hipoksia. Nyeri hebat yang
terjadi secara sendiri maupun sekunder terhadap adanya infeksi dapat mengenai
setiap bagian tubuh. Transfusi hanya diperlukan selama terjadi krisis aplastik atau
hemolitis. Transfusi juga diperlukan selama kehamilan. Penderita seringkali cacat
karena adanya nyeri berulang yang kronik karena adanya kejadian-kejadian oklusi
pada pembuluh darah.
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN ANEMIA SEL SABIT
3.1

Pengkajian Keperawatan

Data-data yang perlu dikaji dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien
yang menderita anemia sel sabit yaitu :
1. Pengumpulan data
a. Identifikasi Pasien : nama pasien, jenis kelamin, status perkawinan, agama,
suku/ bangsa, pendidikan, pekerjaan, dan alamat.
b. Identitas penanggung
c. Keluhan utama dan riwayat kesehatan masa lalu
Keluhan utama: pada keluhan utama akan nampak semua apa yang dirasakan
pasien pada saat itu seperti kelemahan, nafsu makan menurun dan pucat.
Riwayat kesehatan masa lalu: riwayat kesehatan masa lalu akan memberikan
informasi kesehatan atau penyakit masa lalu yang pernah diderita.
d. Riwayat kesehatan keluarga
Penyakit anemia sel sabit dapat disebabkan oleh kelainan/kegagalan genetik yang
berasal dari orang tua yang sama-sama trait sel sabit
e. Riwayat kesehatan sekarang
- Klien terlihat keletihan dan lemah
- Muka klien pucat dan klien mengalami palpitasi
- Mengeluh nyeri mulut dan lidah
f. Pemeriksaan fisik

Aktivitas/ istirahat

Gejala: Keletihan/ kelemahan terus-menerus sepanjang hari, kehilangan


produktivitas, kebutuhan tidur lebih besar dan istirahat
Tanda: Tidak bergairah, gangguan gaya berjalan (nyeri)

Sirkulasi

Gejala: Palpitasi atau nyeri dada anginal


Tanda: Takikardi, disritmia (hipoksia), tekanan darah menurun, nadi lemah,
pernapasan lambat, warna kulit pucat atau sianosis, konjungtiva pucat.

Eliminasi

Gejala: Sering berkemih, nokturia ( berkemih malam hari)


Tanda: Nyeri tekan pada abdomen, hepatomegali, asites, urine encer, kuning
pucat, hematuria, berat jenis urine menurun

Integritas ego

Gejala: Mudah marah, kuatir, takut


Tanda: Ansietas, gelisah

Makanan/ cairan

Gejala: Haus, anoreksia, mual/ muntah


Tanda: Penurunan berat badan, turgor kulit buruk dengan bekas cubitan, tampak
kulit dan membran mukosa kering.

Hygiene

Gejala: Keletihan/ kelemahan, kesulitan mempertahankan nyeri


Tanda: Ceroboh, penampilan tidak rapi

Neurosensori

Gejala: Sakit kepala/ pusing, gangguan penglihatan, kesemutan pada ekstremitas


Tanda: Kelemahan otot, penurunan kekuatan otot, ataksia, kejang

Nyeri/ kenyamanan

Gejala: Nyeri punggung, sakit kepala


Tanda: Penurunana rentang gerak, gelisah

Pernapasan

Gejala: Dispnea saat bekerja/ istirahat


Tanda: Distres pernapasan akut, bunyi bronkial, bunyi napas menurun, mengi

Keamanan

Gejala: Riwayat transfusi


Tanda: Demam ringan, gangguan penglihatan, gangguan ketajaman penglihatan

Seksualitas

Gejala: Kehilangan libido, amenorea, priapisme


Tanda: Maturitas seksual terlambat, serviks dan dinding vagina (anemia)
2. Pemeriksaan Penunjang
a. Jumlah Darah Lengkap ( JDL): Leukosit dan trombosit menurun
b. Retikulosit: jumlah dapat bervariasi dari 30% 50%
c. Pewarnaan SDM: menunjukkan sebagian sabit atau lengkap
d. LED: meningkat
e. Eritrosit: menurun
f. GDA: dapat menunjukkan penurunan PO2
g. Billirubin serum: meningkat
h. LDH: meningkat
i. TIBC: normal sampai menurun
j. IVP: mungkin dilakukan untuk mengevaluasi kerusakan ginjal
k. Radiografik tulang: mungkin menunjukkan perubahan tulang
l. Rontgen: mungkin menunjukkan penipisan tulang, osteoporosis
3.2

Diagnosa Keperawatan

1. Kerusakan pertukaran gas yang berhubungan dengan penurunan kapasitas


pembawa oksigen darah.
2. Perubahan perfusi jaringan yang berhubungan dengan penurunan fungsi/
kerusakan miokardial akibat infark kecil, deposit besi, dan fibrosis.
3. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan
peningkatan kebutuhan cairan.
4.

Nyeri yang berhubungan dengan aglutinasi sel sabit dalam pembuluh darah.

5. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan


gangguan sirkulasi.

6. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurangnya informasi tentang


penyakitnya.
3.3

Tindakan/ Intervensi Keperawatan

Diagnosa keperawatan: Kerusakan pertukaran gas yang berhubungan dengan


penurunan kapasitas pembawa oksigen darah, yang ditandai oleh: dispnea,
gelisah, takikardia, dan sianosis (hipoksia).
Tujuan Umum: Tidak terdapatnya sekret
Tujuan Khusus: Menunjukkan perbaikan ventilasi/ oksigenasi dan bunyi napas
normal.
Intervensi
Mandiri

Rasional

Awasi frekuensi/ kedalaman pernapasan,


area sianosis.

Indikator keadekuatan fungsi pernapasan


atau tingkat gangguan dan
kebutuhan/keefektifan terapi.

Auskultasi bunyi napas, catat adanya/


takadanya, dan bunyi adventisisus.

Terjadinya atelektasis dan stasis sekret


dapat mengganggu pertukaran gas.

Kaji laporan nyeri dada dan peningkatan


kelemahan.

Menggambarkan terjadinya infeksi paru,


yang meningkatkankerja jantung dan
kebuttuhan oksigen.

Bantu dalam mengubah posisi, batuk dan


napas dalam.
Kaji tingkat kesadaran.
Kaji toleransi aktivitas; tempatkan pasien
pada tirah baring.
Dorong pasien untuk memilih periode
istirahat dan aktivitas.
Peragakan dan dorong penggunaan teknik
relaksasi.
Tingkatkan masukan cairan yang adekuat.

Meningkatkan ekspansi dada optimal,


memobilisasikan sekresi, dan
menurunkan stasis sekret.
Jaringan otak sangat sensitif pada
penurunan oksigen dan merupakan
indikator dini terjadinya hipoksia.
Penurunan kebutuhan metabolik tubuh
menurunkan kebutuhan O2.
Melindungi dari kelelahan berlebihan.
Relaksasi menurunkan teganagn otot dan
ansietas.

Batasi pengunjung/ staf.


Kolaborasi

Masukan yang mencukupi perlu untuk


mobilisasi sekret.
Melindungi dari potensial sumber infeksi

pernapasan.
Memaksimalkan transpor O2 ke jaringan,
khususnya pada adanya gangguan paru/
pneumonia.

Berikan suplemen O2 sesuai indikasi.


Lakukan/ bantu fisioterapi dada.
Berikan pak SDM atau transfusi tukar sesuai
indikasi.

Dilakukan untuk memobilisasi sekret dan


meningkatkan pengisian udara area paru.
Meningkatkan jumlah sel pembawa
oksigen, melarutkan persentase
hemoglobin S (untuk mencegah sabit)
dan merusak sel sabit.

Diagnosa keperawatan: Perubahan perfusi jaringan yang berhubungan dengan


penurunan fungsi/ kerusakan miokardial akibat infark kecil, deposit besi, dan
fibrosis, yang ditandai oleh: penurunan tanda vital, pucat, gelisah, nyeri tulang,
angina, dan gangguan penglihatan.
Tujuan Umum: Perfusi jaringan adekuat
Tujuan Khusus: Menunjukkan perbaikan perfusi jaringan yang dibuktikan oleh
tanda vital yang stabil.
Intervensi
Mandiri

Rasional

Pengendapan dan sabit pembuluh perifer


Awasi tanda vital dengan cermat. Kaji
dapat menimbulkan obliterasi lengkap/
nadi untuk frekuensi, irama, dan volume. terjadi penurunan perfusi jaringan pada
sekitar pembuluh darah.
Kaji kulit untuk rasa dingin, pucat,
sianosis, diaforesis, pelambatan pengisian
kapiler.
Catat perubahan dalam tingkat kesadaran.

Perubahan menunjukkan penurunan


sirkulasi/ hipoksia yang meningkatkan
oklusi kapiler.
Perubahan dapat menunjukkan penurunan
perfusi SSP akibat iskemia atau infark.
Pertahankan pemasukkan cairan adekuat. Dehidrasi tidak hanya menyebabkan
hipovolemia tetapi meningkatkan
pembentukan sabit dan oklusi kapiler.
Pertahankan suhu lingkungan dan
Mencegah vasokontriksi; membantu dalam
kehangatan tubuh.
mempertahankan sirkulasi dan perfusi.
Kolaborasi
Penurunan perfusi jaringan dapat
menimbulkan infark organ jaringan seperti

Awasi pemeriksaan laboratorium, mis.


Darah lenkap, BUN

otak, hati, limpa, ginjal dsb.

Berikan cairan hipo-osmolar (mis. Cairan Hidrasi menurunkan konsentrasi Hb S


garam faal 0,45) melalui pompa infus.
dalam SDM, yang menurunkan
kecenderungan sabit, dan juga menurunkan
viskositas darah yang membantu untuk
mempertahankan perfusi.
Berikan agen antisabit percobaan (mis,
Agen antisabit ditujukan pada hidup
natrium sianat) dengan hati-hati.
panjang eritrosit dan mencegah sabit
dengan mempengaruhi perubahan membran
sel.
Diagnosa keperawatan: Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan yang
berhubungan dengan peningkatan kebutuhan cairan, yang ditandai oleh:
anoreksia, dehidrasi (muntah, diare, demam).
Tujuan Umum: Intake cairan terpenuhi
Tujuan Khusus: Mempertahankan keseimbangan cairan adekuat.
Intervensi
Mandiri

Rasional

Pasien dapat menurunkan pemasukan cairan


Pertahankan pemasukan dan pengeluaran selama periode krisis karena malaise,
akurat. Timbang tiap hari.
anoreksia dsb.
Perhatikan karakteristik urine dan berat
jenis.
Awasi tanda vital.

Ginjal dapat kehilangannya untuk


mengkonsentrasikan urine, mengakibatkan
kehilangan banyak urine encer.
Penurunan sirkulasi darah dapat terjadi dari
peningkatan kehilangan cairan
mengakibatkan hipotensi dan takikardia.
Gejala yang menunjukkan dehidrasi.

Observasi demam, perubahan tingkat


kesadaran, turgor kulit buruk, nyeri.
Awasi tanda vital dengan ketat selama
Jantung dapat kelelahan dan cenderung
transfusi darah dan catat adanya dispnea, gagal karena kebutuhan pada status anemia.
ronki, mengi, batuk, dan sianosis.
Kolaborasi
Penggantian atas kehilangan/ defisit: dapat
Berikan cairan sesuai indikasi.
memperbaiki ginjal pada SDM.
Awasi pemeriksaan laboratorium, mis.
Hb/Ht, elektrolir serum dan urine.

Peningkatan menunjukkan
hemokonsentrasi. Kehilangan kemampuan

ginjal untuk mengkonsentrasikan urine


dapat mengakibatkan penurunan Na+, K+,
dan Cl+ serum.
Diagnosa keperawatan: Nyeri yang berhubungan dengan aglutinasi sel sabit
dalam pembuluh darah, yang ditandai oleh: nyeri lokal, menyebar, berdenyut,
perih, sakit kepala.
Tujuan Umum: Mengurangi nyeri
Tujuan Khusus: Menyatakan nyaeri berkurang; menunjukkan postur badan rileks,
bebas bergerak; meningkatkan asupan cairan.
Intervensi
Kaji berat dan lokasi nyeri. Tempat nyeri
yang sering adalah sendi dan ekstremitas,
dada, dan abdomen.
Berikan analgetik sesuai rsesp.
Perhitungkan pemakaian anagelsik yang
dikontrol pasien.
Dukung asupan cairan peroral dan berikan
cairan IV sesuai resep; memantau asupan
dan haluaran cairan.
Posisikan pasien dengan hati-hati dan
sangga daerah nyeri; dukung penggunaan
teknik relaksasi dan latihan pernapasan.

Rasional
Jaringan dan organ sangat peka terhadap
trombosis mikrosirkulasi dengan akibat
kerusakan hipoksik; hipoksia menyebabkan
nyeri.
Anageltik oploid penting untuk mengurangi
nyeri yang berat.
Cairan akan memperbaiki hemodilusi dan
menguraiakn algutinasi sel sabit dalam
pembuluh darah kecil.
Nyeri sendi dapat dikurangi selama krisis
dengan gerakan yang hati-hati dan
penggunaan kompres panas; teknik
relaksasi dan latihan pernapasan dapat
berfungsi sebagai pelemas. Penyumbatan
pembuluh darah oleh sel sabit akan
menurunkan sirkulasi.

Diagnosa keperawatan: Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit yang


berhubungan dengan gangguan sirkulasi, yang ditandai oleh: turgor kulit buruk,
kulit kering, pucat.
Tujuan Umum: Mempertahankan integritas kulit dengan kriteria: kulit segar,
sirkulasi darah lancar.
Tujuan Khusus: Mencegah cedera; berpartisipasi dalam perilaku untuk
menurunkan faktor resiko/kerusakan kuilt.
Intervensi
Mandiri

Rasional
Mencegah tekanan jaringan lama dimana
sirkulasi telah terganggu, menurunkan

Sering ubah posisi, bahkan bila duduk di resiko trauma jaringan/ iskemia.
kursi.
Inspeksi kulit/ titik tekanan secara teratur
untuk kemerahan, beriakan pijatan
lembut.
Pertahankan permukaan kulit kering dan
bersih; linen kering/ bebas kerutan.

Sirkulasi buruk pada jaringan, mencegah


kerusakan kulit.

Awasi status area iskemik, ulkus.


Perhatikan distribusi, ukuran, kedalaman,
karakter, dan drainase.
Siapkan untuk/ bantu oksigenasi pada
ulkus.

Perbaikan atau lambanya penyembuhan


menunjukkan status perfusi jaringan dan
keefektifan intervensi.
Memaksimalkan pemberian oksigen ke
jaringan, meningkatkan penyembuhan

Lembab, area terkontaminasi memberikan


media yang baik untuk pertumbuhan
organisme patogen.
Awasi tungkai terhadap kemerahan,
Potensi jalan masuk untuk organisme
perhatikan dengan ketat terhadap
patogen. Pda adnya gangguan sistem imun,
pembentukan ulkus.
ini meningkatkanresiko infeksi/ pelambatan
penyembuhan.
Tinggikan ekstremitas bawah bila duduk. Meningkatkan aliran balik vena
menurunkan stasis vena/ pembentukan
edema.
Kolaborasi
Menurunkan tekanan jaringan dan
Berikan kasur air atau tekanan udara.
membantu dalam memaksimalkan perfusi
seluler untuk mencegah cedera.

Diagnosa keperawatan: Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan


kurangnya informasi tentang penyakitnya, yang ditandai oleh: pertanyaan;
meminta informasi; tidak akurat mengikuti intruksi; dan ansietas.
Tujuan Umum: Memahami tentang penyakitnya
Tujuan Khusus: Menyatakan pemahaman proses penyakit, termasuk gejala krisis;
melakukan perilaku yang perlu/perubahan pola hidup untuk mencegah
komplikasi.
Intervensi
Berikan informasi tentang penyakitnya.

Kaji pengetahuan pasien tentang

Rasional
Memberikan dasar pengethuan sehingga
pasien dapat membuat pilihan yang tepat,
menurunkan ansietas dan dapat
meningkatkan kerjasama dalam program
terapi.
Menberi pengetahuan berdasarkan pola

penyakitnya.

kemampuan pasien untuk memilih


informasi.
Dorong mengkonsumsi sedikitnya 4-6 liter Mencegah dehidrasi dan konsekuensi
cairan perhari.
hiperviskositas yang dapat membuat sabit/
krisis.
Dorongb latihan rentang gerak dan
Mencegah demineralisasi tulang dan dapat
aktivitas fisik teratur dengan
menurunkan resiko fraktur.
keseimbangan antara aktivitas dan
istirahat.
3.4

Implementasi Keperawatan

Pelaksanaan adalah pengobatan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang


meliputi tindakan yang direncanakan oleh perawat, melaksanakan anjuran dokter
dan menjalankan ketentuan dari rumah sakit. Sebelum pelaksanaan terlebih
dahulu harus mengecek kembali data yang ada, karena kemungkinan ada
perubahan data bila terjadi demikian kemungkinan rencana haurs direvisi sesuai
kebutuhan pasien.
3.5

Evaluasi Keperawatan

Evaluasi adalah pengukuran dari keberhasilan rencana perawatan dalam


memenuhi kebutuhan pasien. Tahap evaluasi merupakan kunci keberhasilan dalam
menggunakan proses keperawatan.
Hasil evaluasi yang diharapkan/ kriteria: evaluasi pada pasien dengan anemia sel
sabit adalah sebagai berikut:
Mengatakan pemahaman situasi/ faktor resiko dan program pengobatan individu
dengan kriteria:
1. Menunjukkan teknik/ perilaku yang memampukan kembali melakukan
aktivitas.
2. Melaporkan kemampuan melakukan peningkatan toleransi aktivitas.
Menyatakan pemahaman proses penyakit dan pengobatan pengobatan dengan
kriteria:
c. Mengidentifikasikan hubungan tanda/ gejala penyebab.
d. Melakukan perubahan perilaku dan berpartisipasi pada pengobatan.
Mengidentifikasikan perasaan dan metode untuk koping terhadap persepsi dengan
kriteria:
f. Menyatakan penerimaan diri dan lamanya penyembuhan.

g. Menyukai diri sebagai orang yang berguna.


Mempertahankan hidrasi adekuat dengan kriteria:
h. Tanda-tanda vital stabil, turgor kulit normal, masukan dan keluaran seimbang.
Menunjukkan perilaku perubahan pola hidup untuk meningkatkan/
mempertahankan berat badan yang sesuai dengan kriteria:
i. Menunjukkan peningkatan berat badan, mencapai tujuan denagn nilai
laboratorium normal.
BAB IV
PENUTUP
4.1

Kesimpulan

Anemia sel sabit adalah sejenis anemia kongenital dimana sel darah merah
berbentuk menyerupai sabit, karena adanya hemoglobin abnormal. Penyakit Sel
Sabit (sickle cell disease) adalah suatu penyakit keturunan yang ditandai dengan
sel darah merah yang berbentuk sabit dan anemia hemolitik kronik.
Pada penyakit sel sabit, sel darah merah memiliki hemoglobin (protein
pengangkut oksigen) yang bentuknya abnormal, sehingga mengurangi jumlah
oksigen di dalam sel dan menyebabkan bentuk sel menjadi seperti sabit.
Sel yang berbentuk sabit menyumbat dan merusak pembuluh darah terkecil dalam
limpa, ginjal, otak, tulang dan organ lainnya; dan menyebabkan berkurangnya
pasokan oksigen ke organ tersebut.
Penyakit sel sabit/ anemia sel sabit merupakan gangguan genetik resesif
autosomal, yaitu individu memperoleh hemoglobin sabit (hemoglobin S) dari
kedua orangtua. Hal-hal yang dapat menjadi penyebab anemia sel sabit adalah
infeksi, disfungsi jantung, disfungsi paru, anastesi umum, dataran tinggi, dan
menyelam.
Gejala klinis yang biasa terjadi pada seseorang yang gangguan anemia sel sabit
dapat berupa : nyeri, pucat, kelemahan dan keletihan, palpitasi, takikardia, diare
dan penurunan haluaran urin, penurunan nafsu makan, mual dan muntah, kulit
kering, nafas pendek, gangguan penglihatan dan demam.
Pengkajian yang dilakukan pada klien yang anemia dapat dirumuskan diagnosa
keperawatan sebagai berikut: Kerusakan pertukaran gas yang berhubungan
dengan penurunan kapasitas pembawa oksigen darah; perubahan perfusi jaringan
yang berhubungan dengan penurunan fungsi/ kerusakan miokardial akibat infark
kecil, deposit besi, dan fibrosis; resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan
yang berhubungan dengan peningkatan kebutuhan cairan; nyeri yang
berhubungan dengan aglutinasi sel sabit dalam pembuluh darah; resiko tinggi
terhadap kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan gangguan sirkulasi;

serta kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurangnya informasi tentang


penyakitnya.
Implementasi keperawatan pada klien anemia sel sabit harus sesuai dengan
intervensi atau rencana keperawatan yang telah dibuat. Oleh karena itu perawat
harus memberikan pelayanan kesehatan secara komprehensif sehingga
meminimalkan kemungkinan terjadi komplikasi.
4.2

Saran

Karena penyakit dapat menimbulkan krisis yang berbahaya, mereka yang


mengidap anemia sel sabit perlu bekerja keras untuk mempertahankan kesehatan
yang baik. Mereka dapat melakukan hal ini dengan menjaga kebersiahn pribadi,
dengan menghindari aktivitas yang berat yang berkepanjangan, dan dengan
mengkonsumsi makanan yang seimbang dan baik.
Para penderita anemia sel sabit hendaknya juga melakukan pemeriksaan medis
yang teratur. Jika penderita anemia sel sabit sering melakukan pemeriksaan medis
dengan teratur, maka ini memungkinkan banyak penderita anemia sel sabit untuk
hidup secara normal.
Dengan mengetahui konsep dasar dan asuhan keperawatan pada pasien anemia sel
sabit, diharapkan dalam memberikan pelayanan kesehatan harus secara
profesional dan komprehensif sehingga meminimalkan kemungkinan terjadi
komplikasi.
DAFTAR PUSTAKA
Baughman, Diane C. 2000. Keperawatan Medikal-Bedah Buku Saku. EGC:
Jakarta
Doenges, Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk
Perencanaan Dan Pendokumentasiaan Perawatan Pasien. EGC: Jakarta
Engram, Barbara. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Volume 2.
EGC: Jakarta
Price, Sylvia A. 2006. Patofisisologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit
Volume 1. EGC: Jakarta
Smeltzer, Suzanne C. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Volume 2.
EGC: Jakarta
http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/03/27/askep.anemia-sel-sabit/
http://www.womenshealth.gov/faq/anemia-sel-sabit.cfm
http://www.indokado.com