Anda di halaman 1dari 20

ONDANSENTRON ORAL UNTUK PASIEN GASTROENTERITIS

DI INSTALASI GAWAT DARURAT PEDIATRI

ABSTRAK
Latar Belakang : Muntah dapat membatasi keberhasilan keberhasilan rehidrasi oral
pada anak dengan gastroenteritis. Kami melakukan percobaan dengan double blind
untuk menentukan apakah dosis tunggal oral ondansentron, sebagai terapi antiemetic
akan meningkatkan hasilnya pada anak dengan gastroenteritis.
Metode : Kami mengikutsertakan 215 anak usia 6 bulan sampai 10 tahun yang
menderita gastroenteritis dan dehidrasi yang diobati di Instalasi Gawat Darurat
Pediatri. Setelah peserta diacak dengan pemberian terapi tablet ondansentron atau
placebo, setiap anak mendapat terapi rehidrasi oral sesuai dengan standar protocol
yang ditetapkan. Hasil utamanya adalah jumlah anak yang muntah ketika diberi
rehidrasi oral. Hasil sekunder adalah jumlah episode muntahnya dan berapa banyak
anak yang diterapi dengan rehidrasi intravena atau dirawat inap.
Hasil : Dibandingkan dengan anak-anak yang menerima placebo, anak-anak yang
menerima ondansentron memiliki kemungkinan yang lebih kecil untuk muntah ( 14
percent vs 35 percent; resiko relativitas, 0,40; tingkat kepercayaan 95 percent, 0,26
sampai 0,61), muntah lebih jarang ( rata-rata episode tiap anak, 0,18 vs 0,65; P<
0,001), yang mendapatkan intake oral terbanyak ( 239 ml vs 196 ml, P=0,001), dan
jumlah terapi rehidrasi intravenanya lebih sedikit (14 percent vs 31 percent; resiko
relativitas 0,46; tingkat kepercayaan 95 percent, 0,26 sampai 0,79). Meskipun rata
rata lama perawatan di Instalasi Darurat berkurang 12 percent pada kelompok
ondansentron, perbandingan kelompok yang diberikan placebo dengan jumlah rawat
inap (4 percent dan 5 percent, respectively; P=1,00) dan jumlah kunjungan balik ke
Instalasi Gawat Darurat (19 percen dan 22 persen) perbedaannya tidak terlalu
signifikan diantara kedua kelompok.

Kesimpulan : Pada anak dengan gastroenteritis dan dehidrasi, terapi dosis tunggal
oral ondansentron mengurangi jumlah muntah dan memudahkan rehidrasi oral
sehingga cocok digunakan di Instalasi Gawat Darurat.

PENDAHULUAN
Di Amerika Serikat, Gastroenteritis terhitung lebih dari 1,5 miliar kunjungan
anak dan 200,000 di rawat inap setiap tahunnya. Walaupun terapi rehidrasi oral
direkomendasikan untuk anak dengan dehidrasi ringan hingga sedang, dirasakan
masih kurang manfaatnya. Para klinisi yang bekerja di Instalasi Gawat Darurat lebih
memilih intravena rehidrasi dibandingkan dengan oral rehidrasi ketika keluhan
utamanya adalah muntah. Pada satu survey, 36 persen dokter anak melaporkan bahwa
muntah adalah kontraindikasi pada rehidrasi oral. Dengan demikian, sebuah metode
yang aman dan efektif mengatasi muntah adalah dengan meningkatkan penggunaan
dan tingkat kesuksesan rehidrasi oral.
Dalam sebuah penelitian sebelumnya dari ondansentron oral (Zofran,
GlaxoSmithKline) pada anak dengan gastroenteritis, enam dosis obat oral atau
placebo diberikan selama 48 jam. Meskipun muntah berkurang antara anak anak
yang menerima ondansentron di bagian kegawatdaruratan, tingkat diare dan
kunjungan kembali ke bagian kegawatdaruratan meningkat. Kami melakukan
penelitian untuk menentukan apakah pemberian dari disintegrasi ondansentron tablet
oral untuk anak anak dengan muntah dan dehidrasi akibat gastroenteritis akan dapat
mengontrol muntah dengan efek samping yang minimal.
Metode
Pasien
Studi ini adalah jenis studi prospective, double blind, dan secara random
dengan membandingkan ondansentron dan placebo untuk mengontrol muntah pada
anak usia 6 bulan hingga 10 tahun. Penelitian ini dilakukan di Kegawatdaruratan anak
Rumah Sakit Memorial di Chicago dari bulan 1 Januari 2004, hingga 11 April 2005.
Penelitian ini telah disetujui oleh dewan peninjau rumah sakit.
Semua anak dengan gejala gastroenteritis yang diskrining dilakukan uji
kelayakan oleh supervisor klinisi. Anak yang layak diikutsertakan adalah yang
setidaknya satu kali dilaporkan episode muntahnya tidak berisi darah dan cairan

empedu dalam waktu 4 jam penilaian awal, paling sedikit satu episode diare selama
sakit dan mengalami dehidrasi ringan hingga sedang. Kriteria eklusinya adalah berat
badan kurang dari 8 kg, dehidrasi berat, penyakit penyerta yang bisa mempengaruhi
penilaian terhadapa hidrasi (seperti gagal ginjal atau hipoalbuminemia), memiliki
riwayat operasi abdomen, hypersensitivitas terhadap ondansentron, dan yang
sebelumnya sudah pernah diikutsertakan pada penelitian. Juka anak tersebut dianggap
layak untuk diikutsertakan, asisten penelitian akan dihubungi. Asisten penelitian
menerima panggilan dari 08.00 sampai tengah malam, dan cakupan semalaman
diberikan oleh peneliti utama. Data dari semua anak disimpan dan diminta untuk
mendaftarkan diri dalam penelitian, dan setiap alas an penolakan dicatat. Informasi
persetujuan diperoleh dari orang tua atau wali dari semua anak. Semua 33 dokter
yang bekerja di departemen darurat mengawasi dan berpartisipasi dalam skrinning,
dan terdapat 10 asisten peniliti yang terlibat dalam penelitian ini.
Sebuah skor dasar dehidrasi (Tabel 1) dicatat untuk semua anak. Skor tersebut
bisa berkisar 6-21, dengan skor yang lebih tinggi menunjukkan dehidrasi yang lebih
berat. Anak dibawah usia 24 bulan dievaluasi semua tujuh indicator yang digunakan
untuk menentukan skor, dan semua anak usia 24 bulan atau lebih dievaluasi sebanyak
enam kali (kemampuan mereka untuk memproduksi airmata tidak dievaluasi). Hal ini
ditentukan secara prioritas bahwa anak anak dibawah 24 bulan dengan nilai 10 17
dan semua anak berusia 24 bulan atau lebih dengan nilai 8-15 dianggap memilihi
dehidrasi ringan hingga sedang dan membutuhkan rehidrasi. Untuk analisa, nilai
dehidrasi untuk anak usia 24 bulan atau lebih telah distandarisasi sehingga mereka
memiliki skala yang sama dengan anak dibawah 24 bulan.

Tabel 1

Randomisasi
Pasien ditempatkan secara acak di enam blok untuk menerima ondansentron
atau placebo dan dikelompokkan berdasarkan dosis obat pengobatan. Sebuah statistic
independen menyediakan kode kepada farmasi, yang dibagikan dalam kantong
buram, jumlah berat sesuai dosis obat aktif atau placebo dan rasa yang sama maupun
penampilannya. Berat dasar dosis adalah 2 mg untuk anak dengan berat badan 8
sampai 15 kg, 4 mg untuk anak dengan berat badan lebih dari 15 kg dan sampai 30
kg, dan 8 mg untuk anak anak beratnya lebih dari 30 kg. GlaxoSmithKline
disediakan dalam bentuk tablet tapi tidak memiliki peran dalam konsepsi, desai atau
melakukan penelitian atau analisis maupun interpretasi data.
Intervensi
Perawat pendamping memberikan obat sedangkan asisten peneliti berada di
luar ruangan untuk memastikan bahwa asisten peneliti, dokter, anak dan pengasuh
tetap menyadari tugas pengobatan. Tablet ditempatkan diatas lidah masing-masing
anak, dan anak itu diperintahkan menelan lima detik kemudian.

Anak-anak yang muntah dalam waktu 15 menit setelah menerima obat


diberikan dosis kedua. Periode 1 jam dari rehidrasi oral intensi dimulai 15 menit
setelah pemberian obat; periode rehidrasi oral kemudian dilanjutkan sampai disposisi
ditentukan (yaitu, apakah anak menerima atau dikirim pulang)
Sesuai dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) rekomendasi pada
rehidrasi oral, pengasuh diperintahkan untuk membatasi jumlah cairan yang diberikan
yaitu 30 ml larutan elektrolit oral (Enfalyte, Nutrisi Mead Johnson) setiap lima menit.
Setelah periode rehidrasi oral selesai, dokter melanjutkan manajemennya. Jika dokter
memilih untuk memasukkan cairan secara intravena, protocol spesifiknya adalah 20
ml secara bolus dari 0,9 persen normal salin perkilogram berat badan, diberika tiap
periode 30 menit.
Follow Up
Pada hari 3 dan 7 setelah pengacakan, asisten penelitian menelepon keluarga
anak dan bertanya, menggunakan naskah standar, apakah anak kembali ke bagian
Kegawatdaruratan, telah menerima pengobatan cairan intravena, mempunyai
tambahan gejala, atau dirawat di rumah sakit. Catatan dari Rumah Sakit Anak
Memorial merupakan catatan untuk mengkonfirmasi laporan pengasuh. Jika asisten
penelitian tidak mampu menghubungi pengasuh dihari yang telah ditentukan, upaya
dilanjutkan setiap hari selama dua minggu setelah pendaftaran anak.
Hasil Pengobatan
Hasil utamanya adalah proporsi anak-anak dalam setiap kelompok yang
muntah saat menerima terapi rehidrasi oral. Setiap episode muntah dicatat oleh
asisten peneliti ketika pengeluaran isi perut terjadi. Episode muntah yang dipisahkan
tidak lebih dari dua menit dihitung sebagai satu episode. Muntah yang tidak
produktif, mengeluarkan isi mulut, dan air liur tidak dianggap muntah. Hasil
sekundernya adalah jumlah episode muntah selama terapi rehidrasi oral, tingkat
rehidrasi intravena dan rawat inap.

Efek Samping
Asisten peneliti, dokter yang merawat, dan perawat memantau pasien untuk
efek samping dari pendaftaran menjadi disposis dari bagian Kegawatdaruratan.
Sebuah efek samping terkait pengobatan dianggap oleh setidaknya dua dari tiga
dokter peneliti menjadi mungkin, mungkin (lebih pasti), atau pasti terkait dengan
penelitian obat, meskipun peningkatan signifikan frekuensi diare pada bagian
Kegawatdaruratan dianggap sebagai efek samping, gejala umum yang terkait dengan
penyakit yang mendasari (demam, muntah, diare, atau kelelahan) tidak dianggap
menjadi efek samping. Sebuah data pemantauan dan keamanan mendapat hasil yang
merugikan dalam sebuah penelitian blinded.
Analisis Statistik
Kami memperkirakan bahwa pendaftaran 214 anak akan memberikan
penelitian dengan kekuatan statistic 90 persen untuk mendeteksi perubahan dari 35
persen pada grup control hingga 15 persen pada grup pengobatan pada proporsi anak
yang muntah selama rehidrasi oral. Diberikan dua sisi kesalahan tipe 1 sebesar 0,5.
Perhitungan termasuk 10 persen

sebagai penyesuaian kesalahan dari pengasuh

terhadap terapi.
Karakteristik dasar dari kedua kelompokdibandingkan dengan chi-square atau
uji Fisher untuk proporsi dan t-test untuk variabel kontinyu. Kami menggunakan
perkiraan persamaan umum untuk memperhitungkan efek acak dari keputusan
-keputusan dokter secara individu yang mungkin memiliki ketertarikan terhadap
hasilnya, karena asumsi kebebasan mungkin belum berlaku terhadap semua hasilnya
Model logistik digunakan untuk hasil dikotomis dari muntah dan hidrasi
secara intravena . Sebuah model logit kumulatif digunakan untuk hasil ordinal dari
jumlah episode muntah, dengan jumlah episode didefinisikan sebagai nol, satu, dua,
atau lebih besar dari atau sama dengan tiga. Karena hanya sembilan anak yang
dirawat di rumah sakit, Fisher test digunakan untuk membandingkan proporsi antar
kelompok.

Karena usia anak , ras, dan jenis kelamin, waktu, ada atau tidak adanya
demam, skor hidrasi, dan jumlah cairan yang diberikan dapat mempengaruhi respon
terhadap penelitian obat, faktor-faktor ini termasuk dalam semua model. Variabel lain
yang disertakan saat diperlukan adalah jumlah episode muntah dan diare selama
terapi rehidrasi oral dan dalam 24 jam sebelum triase, perubahan berat badan,
lamanya dirawat di ruangan Kegawat daruratan dan tipe dokter yang menangani anak
tersebut ( dokter Kegawat daruratan pediatric vs dokter umum Kegawat
daruratan).Karena keterbatasan ukuran sampel, pengaruh masing-masing variabel
tersebut ditentukan secara individual. Mereka dengan efek yang signifikan berlaku
pada tingkat 0,2 dimasukkan dalam model multiple predictor . Kelompok perlakuan
(ondansetron atau plasebo) termasuk dalam semua model. Untuk hasil utama adalah
muntah, empat prediksi terbaik berdasarkan statistik penyimpangan pada model yang
telah ditentukan.Model Poisson digunakan untuk lamanya dirawat dibagian Kegawat
daruratan dan jumlah episode diare selama dibagian Kegawat daruratan. Sebuah efek
campuran dari model regresi linear digunakan untuk hasil jumlah volume cairan
rehidrasi oral dan volume cairan intravena yang diberikan, dengan dokter sebagai
random efek. Variabel dengan interaksi yang signifikan ditentukan bersama-sama.
Model statistik yang digunakan untuk hasil primer dari muntah, hasil dari efek
model campuran berdasarkan pengambilan keputusan dokter dan termasuk aturan
untuk beberapa prediktor pada model regresi yang ditentukan di awal. Untuk jumlah
episode muntah , kami awalnya mengusulkan menggunakan model Poisson, namun
dari analisis data mengungkapkan bahwa distribusi Poisson tidak memberikan hasil
yang cocok dan penggunaan model logit kumulatif lebih tepat.
Resiko related dan 95 persen interval konfiden muncul disemua hasil. Analisa
dilakukan dengan software SAS(versi 9.1). Berdasarkan tujuan dari pengobatan.
Semua P values memiliki dua sisi, dengan P values kurang dari 0,06 digunakan
sebagai indikasi secara signifikan dalam statistic, tanpa pengaturan dari pembanding
lainnya.
Hasil
Peserta

Selama masa penelitian, 243 pasien diidentifikasi berpotensi memenuhi syarat


oleh dokter supervise. (fig.1). Seorang anak tidak memenuhi kriteria untuk dehidrasi
setelah dievaluasi oleh asisten penelitian, dan satu anak yang ditarik oleh dokter
karena dehidrasi berat.Para pengasuh dari 26 anak menolak untuk berpartisipasi.
Sebanyak 215 anak-anak secara acak dimasukkan untuk pengobatan, 108 dengan
ondansetron dan 107 dengan plasebo. Tidak ada perbedaan yang signifikan dalam
karakteristik awal antara tiap kelompok. (Tabel 2)
Tiga anak dalam kelompok ondansetron yang dikeluarkan sebelum menerima
pengobatan dalam penelitian. Analisis database mengungkapkan bahwa salah satu
anak di kelompok plasebo tidak memenuhi kriteria kelayakan. Satu-satunya pasien
yang datanya tidak dianalisis adalah seorang anak yang sengaja dimasukkan ke
bagian ondansetron sebelum persetujuan orang tua diperoleh dan keluarga yang
memilih untuk tidak berpartisipasi.
Lima anak yang menerima ondansetron muntah dalam waktu 15 menit.
Masing-masing anak-anak ini diberikan dosis kedua, yang dapat ditoleransi. Tiga
anak yang menerima plasebo muntah dalam 15 menit. Orang tua dari dua anak ini
menolak untuk mengizinkan dosis kedua yang diberikan; Anak tersisa diberikan dosis
kedua, yang mana dapat ditoleransi.

Hasil
Dari 107 anak di masing-masing kelompok yang datanya dianalisis, 15 yang
menerima ondansetron muntah saat menerima terapi rehidrasi oral , dibandingkan
dengan 37 yang menerima plasebo (14 persen vs. 35 persen, P <0,001) (Tabel 3).
setelah penyesuaian untuk jenis dokter memberikan perawatan, risiko relatifnya
adalah 0,40 (95 persen Interval kepercayaan, 0,26-0,61). Jumlah rata-rata episode
muntah secara signifikan lebih rendah di antara anak-anak yang menerima
ondansetron dibandingkan dari mereka yang menerima plasebo (0,18 vs 0,65, P
<0,001).Perbedaan ini tetap signifikan setelah penyesuaian untuk jenis dokter
memberikan perawatan(risiko relatif, 0,30; interval kepercayaan 95 persen,0,18-0,50).

Lima belas anak dalam kelompok ondansetron (14 persen) dan 33 pada
kelompok plasebo (31 persen) menerima rehidrasi intravena (P = 0,003). Efek
interaksi antara kelompok perlakuan dan apakah seorang anak muntah didapatkan
signifikan (P = 0,009); dengan demikian, model terpisah digunakan untuk anak-anak
yang muntah dan mereka yang tidak. Di antara 92 anak dalam kelompok ondansetron
dan 70 anak-anakpada kelompok plasebo yang tidak muntah, hidrasi intravena lebih
sedikit diberikan pada grup ondansetron( 5 persen vs 17 persen; P=0,01; resiko
relative 0,32, 95 persen interval kepercayaan. 0,13 hingga 0,77).
Meskipun, secara keseluruhan, anak-anak dikelompok ondansetron menerima
volume yang lebih besar cairan rehidrasi oral dan volume yang lebih kecil dengan
cairan intravena dan memiliki masa rawat yang pendek di bagian Kegawat daruratan,
tarif rumah sakit sama pada kedua kelompok.
Efek Samping
Tidak ada efek pada kardiovaskular atau pernapasan yang terjadi. Urtikaria
muncul

dalam satu anak dikelompok placebo. Anak-anak yang menerima

ondansetron memiliki episode diare lagi saat menjalani rehidrasi oral dibandingkan
mereka yang menerima plasebo (1,4vs 0,5, P <0,001), bahkan setelah penyesuaian
untuk jumlah episode yang terjadi sebelum kedatangan. Follow up, yang telah selesai

pada 96 persen anak-anak (Tabel 4), tidak ditemukan adanya tambahan efek samping.
Penyakit Kawasaki didiagnosa di satu anak pada kelompok ondansetron enam hari
setelah proses pengacakan. Penyakit ini tidak disebabkan oleh pengobatan.

Diskusi
Kami menemukan bahwa satu dosis dari ondansetron meningkatkan
keberhasilan rehidrasi oral pada anak dengan gastroenteritis. Dosis oral ditoleransi
dengan baik dan memiliki hasil penurunan dari lebih 50 persen anak dari kedua
kelompok dari anak yang muntah selama rehidrasi oral dan proporsi diobati dengan
cairan intravena. Sebagai perbandingan dengan anak yang mendapatkan placebo,
anak yang mendapatkan ondansetron memiliki episode muntah yang lebih sedikit,
pemasukan cairan secara oral yang lebih banyak dan perawatan di bagian Kegawat
daruratan lebih singkat.
Untuk mencegah muntah pada 1 anak , 5 anak-anak mendapatkan
ondansetron ( 95 persen Interval kepercayaan , 3,2-10,6); untuk mencegah 1 anak
mendapatkan rehidrasi intravena, 6 orang menerima ondansetron (95 persen Interval
kepercayaan, 3,6-17,0). Manfaat ini juga dilaporkan dalam penelitian sebelumnya,

yang menemukan bahwa pemberian cairan ondansetron tiga kali sehari selama dua
hari mengurangi muntah saat dibagian Kegawat daruratan, penggunaan cairan infus,
dan kebutuhan untuk rawat inap pada anak-anak. Namun, penelitian itu tidak
melaporkan pengurangan muntah setelah pemberian obat, dan anak-anak yang
diberikan ondansetron memiliki hasil yang signifikan pada episode diare dan
kunjungan kembali ke bagianKegawat daruratan. Kami menemukan bahwa dosis
tunggal ondansetron oral mengurangi muntah dan kebutuhan cairan infus tanpa efek
samping yang signifikan secara klinis.
Meskipun tidak ada kriteria indikatif yang ditetapkan dari kebutuhan untuk
rehidrasi intravena, kami menemukan bahwa anak-anak pada kelompok ondansetron
memerlukan cairan intravena lebih sedikit dibandingkan dengan kelompok placebo.
Karena keputusan untuk pemberian cairan intravena dibuat oleh dokter supervisi,
yang tidak mengawasi pengobatan pasien, kami meyakini perbedaan ini merupakan
efek yang sebenarnya dari pengobatan.
Ondansetron tidak mengurangi masa rawat inap (4 persen secara
keseluruhan). Kegagalan untuk menemukan penurunan tingkat rawat inap mungkin
karena kurangnya kekuatan statistik. Penelitian kami memiliki kekuatan , berdasarkan
data sebelumnya, untuk mendeteksi pengurangan dari 15 persen menjadi 3 persen.
Dengan demikian, deteksi dampak yang signifikan dari ondansetron pada tingkat
rawat inap mungkin akan lebihsesuai yang mana pada tingkat ini memiliki nilai yang
lebih tinggi.
Total biaya ondansetron yang digunakan dalam penelitian ini, didasarkan pada
biaya aktual $ 35,75 per 4-mg tablet oral disintegrasi di

Rumah Sakit Anak

Memorial, akan menjadi $ 3.825. pengurangan biaya yang dihasilkan dari


menghindari pemasangan kateter intravena ($ 124,74 per anak) dan rawat inap ($
1.900 per masuk) adalah $4.145. Dengan demikian, penggunaan ondansetron dapat
mengurangi total biaya sambil memberikan keuntungan individu.
Sebanyak 19 persen anak-anak pada kelompok ondansetron yang dan 22
persen dari mereka yang berada di kelompok plasebo kembali ke bagian Kegawat
daruratan. Meskipun angka ini lebih tinggi dari sebelumnya
hanya sekitar setengah dari mereka yang kembali menerima cairan intravena. Kami
memilih untuk menganalisa data dari anak-anak yang menjadi dehidrasi dan masuk

ke bagian Kegawat daruratan untuk perawatan dan tidak fokus pada anak-anak yang
mencari perawatan tambahan dari penyedia perawatan primer.
Agen antiemetik yang lain telah digunakan dalam pengobatan gastroenteritis
anak, meskipun sering diresepkan, yang mana memiliki efek samping yang cukup
besar atau belum diteliti dengan baik. Sebuah tinjauan data dasar farmasi
mengungkapkan bahwa promethazine menyumbang 92 persen dari semua resep
antiemetic yang diberikan untuk gastroenteritis. Efek samping yang terkait dengan
prometazin termasuk mengantuk (71 persen) dan depresi pernapasan, dystonia, dan
sindrom neuroleptik ganas. Baik prometazin atau proklorperazin belum diteliti pada
anak-anak dengan gastroenteritis. Akan Tetapi, pada orang dewasa, prometazin
kurang efektif dibandingkan proklorperazin.
Data dari orang dewasa menunjukkan bahwamengantuk (38 persen) dan 24
akatisia (44 persen) adalah efek samping yang umum. Agen lain, seperti
trimethobenzamide, metoclopramide, dan dimenhydrinate, telah terbukti tidak efektif
atau tidak pernah dievaluasi pada anak-anak dengan gastroenteritis.
Data kami menunjukkan bahwa aman untuk memberikan ondansetron oral
pada anak-anak dengan gastroenteritis, dengan diare menjadi efek samping yang
paling sering.Karena kultur spesimen untuk virus dan bakteri penyebab tidak rutin
dilakukan pada anak-anak dengan gastroenteritis, kita tidak bisa mengesampingkan
kemungkinan bahwa virus atau bakteri dapat menjelaskan perbedaan frekuensi diare
antara tiap kelompok. Namun, ini tidak mungkin, mengingat karakteristik dasar yang
serupa dari kedua kelompok dan fakta bahwa Ramsook dan kawan-kawan juga
mencatat peningkatan diare pada anak-anak yang diberikan ondansetron.
Kami menggunakan skala yang tidak divalidasi untuk dehidrasi karena
kurangnya skala eksternal yang divalidasi dan kesimpulan dari meta-analisis terbaru
dari tanda dehidrasi individual tidak tepat dan tidak akurat. Jadi, kami
mengelompokkan menggunakan tanda gan gejala

umum. untuk meningkatkan

karakteristik diagnostik
dalam rangka untuk mengidentifikasi anak-anak dengan bukti terdapat
dehidrasi. Nilai dehidrasi berhasil dalam hal ini, karena rasio nitrogen urea dalam
darah untuk kreatinin melebihi 20 pada 96 persen anak-anak yang menjalani
venipuncture. Hasil serupa diperoleh dalam penelitian rehidrasi intravena

sebelumnya, 82 persen anak-anak memiliki rasio nitrogen urea dalam darah untuk
kreatinin lebih dari 20.
Kami memilih untuk tidak menggunakan klasifikasi dehidrasi WHO (tidak
dehidrasi, dehidrasi ringan sedang, dan dehidrasi berat), karena tidak bekerja dengan
baik sebagai alat penelitian yang mana sangat sedikit anak yang mengalami dehidrasi
berat. Ini tidak akan memungkinkan kita untuk membedakan anak-anak dengan
dehidrasi ringan sedang yang mana hanya diperlukan rehidrasi minimal dari anakanakdengan dehidrasi ringan sedang yang memerlukan rehidrasi.
Periode rehidrasi oral di bagian Kegawat daruratan terbatas hingga 1 jam
untuk meniru latihan klinis rutin, yang mana periode yang berkepanjangan membuat
tidak praktis. Terapi rehidrasi oralmungkin telah dianggap berhasil pada beberapa
anak-anak yang di antaranya dianggap telah gagal jika mereka telah diamati
selamaempat jam, seperti yang direkomendasikan oleh WHO.
Kami menemukan pengobatan yang dengan tablet ondansetron oral yang
disintegrasi bermanfaat terhadap anak-anak dengan muntah dan dehidrasi karena
gastroenteritis. Tablet ondansetron mudah untuk diberikan, memiliki beberapa efek
samping,aman dan efektif. Oleh karena itu, mungkin terapi yang berguna dibagian
Kegawat daruratan bagi anak-anak dengan muntah dan dehidrasi ringan sampai
sedang akibat dari gastroenteritis.

KAJIAN KRITIS JURNAL


PICO
a. Patient of Problem

Terapi rehidrasi oral direkomendasikan untuk anak dengan dehidrasi ringan


hingga sedang, namun manfaatnya masih kurang dirasakan. Dokter lebih
memilih rehidrasi intravena dibandingkan rehidrasi oral ketika muntah menjadi
gejala utama. Pada satu survey, dilaporkan bahwa muntah merupakan
kontraindikasi dari rehidrasi oral. Dengan demikian, sebuah metode yang aman
dan efektif mengatasi muntah adalah dengan meningkatkan penggunaan dan
tingkat kesuksesan rehidrasi oral. Dilakukan uji coba untuk menentukan

apakah dosis tunggal oral ondansentron sebagai anti emesis dapat


meningkatkan hasil rehidrasi anak dengan gastroenteritis.
b. Intervention
Terdapat intervensi pada penelitian ini. Semua studi yang dikumpulkan
akhirnya memiliki kriteria inklusi dan eklusi. Penelitian ini menggambarkan
variable variable yang berkaitan dengan cara randomisasi, desain penelitian,
intervensi spesifik dan efek hasilnya.
c. Compare
Penelitian ini membandingkan terapi oral anak-anak yang diberi ondansentron
dengan yang diberikan placebo. Hasil yang dinilai yaitu proporsi anak yang
muntah saat menerima rehidrasi oral, jumlah episode muntahnya dan proporsi
yang diobati dengan rehidrasi intravena atau dirawat di rumah sakit. Dari
penelitian sebelumnya dengan memberikan enam dosis obat oral ondansentron
atau placebo yang diberikan selama 48 jam. Meskipun muntah berkurang
antara anak anak yang menerima ondansentron, namun tingkat diare dan
kunjungan baliknya meningkat.
d. Outcome
Hasil yang dinilai yaitu yang utama adalah proporsi anak-anak dalam setiap
kelompok yang muntah saat menerima terapi rehidrasi oral. Setiap episode
muntah dicatat. Episode muntah yang tidak lebih dari dua menit dihitung
sebagai satu episode. Muntah yang tidak produktif, mengeluarkan isi mulut,
dan air liur tidak dianggap muntah. Hasil sekundernya adalah jumlah episode
muntah selama terapi rehidrasi oral, tingkat rehidrasi intravena dan rawat inap.
Dari masing-masing kelompok yang datanya dianalisis, 15 yang menerima
ondansetron muntah saat menerima terapi rehidrasi oral ,

dibandingkan

dengan 37 yang menerima plasebo (14 persen vs. 35 persen, P <0,001).


Jumlah rata-rata episode muntah secara signifikan lebih rendah di antara anakanak yang menerima ondansetron dibandingkan dari mereka yang menerima
plasebo (0,18 vs 0,65, P <0,001).Perbedaan ini tetap signifikan setelah
penyesuaian untuk jenis dokter memberikan perawatan(risiko relatif, 0,30;
interval kepercayaan 95 persen,0,18-0,50).
Lima belas anak dalam kelompok ondansetron (14 persen) dan 33 pada
kelompok plasebo (31 persen) menerima rehidrasi intravena (P = 0,003). Di

antara 92 anak dalam kelompok ondansetron dan 70 anak-anak pada


kelompok plasebo yang tidak muntah, hidrasi intravena lebih sedikit diberikan
pada grup ondansetron( 5 persen vs 17 persen; P=0,01; resiko relative 0,32, 95
persen interval kepercayaan. 0,13 hingga 0,77). Meskipun secara keseluruhan,
anak-anak kelompok ondansentron menerima volume yang lebih besar cairan
rehidrasi oral dan volume yang lebih kecil dengan cairan intravena dan
memiliki masa rawat yang pendek di kegawatdaruratan.

VIA
a. Validitas
1. Apakah hasil sistematik penelitian ini valid? iya

Sampel
Peserta dipilih oleh asisten penelitian, semua anak dengan diagnosis
gastroenteritis dan dehidrasi ringan hingga sedang diskrining terlebih
dahulu. Ditentukan kriteria inklusi dan eklusi penelitian. Kriteria inklusi
dibuat berdasarkan skor dasar dehidrasi. Dan peserta yang memenuhi syarat
dimasukkan ke dalam kriteria inklusi sehingga didapat 215 peserta. Peserta
dilakukan random secara acak dan dibagi menjadi dua kelompok yaitu
kelompok yang menerima ondansentron atau placebo.
Pengambilan sampel dilakukan secara acak dan dikelompokkan berdasarkan
dosis obat pengobatan. Sebuah statistic independen menyediakan kode
kepada farmasi yang dibagikan dalam kantong buram, jumlah berat sesuai
dosis obat aktif atau placebo .
Intervensi Penelitian
Intervensi dilakukan sekuai dengan rekomendasi WHO dan batasan cairan
untuk rehidrasi oral sesuai dengan standar protocol. Untuk rehidrasi oral
jumlah cairan yang diberikan yaitu 30 ml larutan elektrolit setiap lima
menit. Setelah periode rehidrasi oral selesai, dokter melanjutkan
manajemennya. Jika dokter memilih untuk memasukkan cairan secara

intravena, protocol spesifiknya adalah 20 ml secara bolus dari 0,9% normal


saline perkilogram berat badan, diberikan tiap 30 menit.
Analisa Statistik
Karakteristik dasar dari kedua kelompok dibandingkan dengan chi-square
atau uji Fisher untuk proporsi dan t-test untuk variable kontinyu. Didapatkan
resiko relativitas dan tingkat kepercayaan 95% di semua hasil. Analisa
dilakukan dengan software SAS (versi 9.1). berdasarkan tujuan dari
pengobatan, semua P values memiliki dua sisi, dengan P values kurang dari
0,06 digunakan sebagai indikasi secara signifikan dalam statistic, tanpa
pengaturan dari pembanding lainnya.
2. Apakah sistematik review ini meliputi metode yang menjelaskan

tentang:
- Apakah meliputi seluruh penelitian yang berkaitan?
Iya, dalam sebuah penelitian sebelumnya dari ondansentron oral pada
anak dengan gastroenteritis, diberikan enam dosis obat oral atau placebo
selama 48 jam. Hasil yang didapatkan sama yaitu muntah berkurang
pada anak-anak yang menerima ondansentron namun tingkat diare dan
kunjungan balik meningkat.
-

Apakah hasilnya konsisten dari penelitian satu dengan yang


lainnya?
Iya, berdasarkan hasil primer bahwa satu dosis dari ondansentron
meningkatkan keberhasilan rehidrasi oral pada anak dengan
gastroenteritis. Untuk mencegah muntah pada 1 anak, 5 anak
mendapatkan terapi ondansentron (tingkat kepercayaan 95%, 3,2
sampai 10,6); untuk mencegah 1 anak mendapatkan rehidrasi
intravena, 6 orang menerima ondansentron (tingkat kepercayaan
95%) manfaat ini juga dilaporka dalam penelitian sebelumnya, yang
menemukan bahwa pemberian cairan ondansentron tiga kali sehari
selama dua hari mengurangi muntah di IGD, pengunaan cairan infus,
dan kebutuhan untuk rawat inap pada anak-anak.

3. Apakah kriteria yang dipakai untuk memilih makalah (inklusi) layak?

Iya, karena selama masa penelitian pasien yang memenuhi syarat penelitian
diskrining terlebih dahulu oleh dokter supervise. Yang menjadi kriteria
inklusinya adalah anak yang muntahnya tidak berisi darah dan cairan
empedu dalam waktu 4 jam penilaian awal, paling sedikit satu episode diare
selama sakit dan mengalami dehindrasi ringan hingga sedang. Kriteria
dehidrasi dibuat berdasarkan skor dehidrasi. Skor berkisar 6-21, dengan skor
yang lebih tinggi menunjukkan dehidrasi yang lebih berat. Untuk analisa,
nilai dehidrasi anak usia 24 bulan atau lebih telah distandarisasi sehingga
mereka memiliki skala yang sama dengan anak usia dibawah 24 bulan.

a. Important

Apakah hasil yang valid tersebut penting?


Iya, karena hasil jurnal ini dapat menyimpulkan bahwa dosis tunggal
ondansentron dapat mengurangi muntah sehingga meningkatkan
keberhasil rehidrasi oral pada pasien dengan gastroenteritis dehidrasi
ringan hingga sedang.
b. Aplicable

Hasil jurnal ini dapat diaplikasikan di Instalasi Gawat Darurat Anak


Raden Mattaher Jambi karena obat ondansentron tersedia sehingga anak
dengan dehidrasi ringan hingga sedang dapat diterapi dengan rehidrasi
oral bukan dengan rehidrasi intravena.