Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Batu ginjal merupakan batu saluran kemih (urolithiasis), sudah dikenal sejak
zaman Babilonia dan Mesir kuno dengan diketemukannya batu pada kandung kemih
mummi. Batu saluran kemih dapat diketemukan sepanjang saluran kemih mulai dari
sistem kaliks ginjal, pielum, ureter, buli-buli dan uretra. Batu ini mungkin terbentuk di
di ginjal kemudian turun ke saluran kemih bagian bawah atau memang terbentuk di
saluran kemih bagian bawah karena adanya stasis urine seperti pada batu buli-buli
karena hiperplasia prostat atau batu uretra yang terbentu di dalam divertikel uretra.
Penyakit batu saluran kemih menyebar di seluruh dunia dengan perbedaan di
negara berkembang banyak ditemukan batu buli-buli sedangkan di negara maju lebih
banyak dijumpai batu saluran kemih bagian atas (gunjal dan ureter), perbedaan ini
dipengaruhi status gizi dan mobilitas aktivitas sehari-hari. Angka prevalensi rata-rata
di seluruh dunia adalah 1-12 % penduduk menderita batu saluran kemih.
Penyebab terbentuknya batu saluran kemih diduga berhubungan dengan
gangguan aliran urine, gangguan metabolik, infeksi saluran kemih, dehidrasi dan
keadaan-keadaan lain yang masih belum terungkap (idiopatik).Secara epidemiologis
terdapat beberapa faktor yang mempermudah terjadinya batu saluran kemih yang
dibedakan sebagai faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. (Arif Mansjoer, 2001)
1.2 TUJUAN

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Tujuan Umum
Memahami asuhan keperawatan pada pasien urothiliasis
Tujuan khusus
Mengetahui definisi urolitiasis
Mengetahui etiologi
Mengetahui patofisiologi
Mengetahui manifestasi urolitiasis
Mengetahui penatalaksanaan urolitiasis
Mengetahui pemeriksaan penunjang
Memahami asuhan keperawatan tentang urolitiasis
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian
Batu ginjal atau urotilithiasis, merupakan masa kristal menyerupai batu yang bersama
dengan protein, dapat terbentuk pada setiap tingkat dalam saluran kemih. Jika terbentuk
didalam ginjal, batu ini disebut nefrolithiasis dan dapat tetap berada didalam ginjal atau
bergerak turun di sepanjang saluran kemih; dalam saluran kemih ini, batu tersebut dapat
menyebabkan obstruksi.
Batu ginjal adalah batu yang terbentuk di tubuli ginjal kemudian berada di kaliks,
infundibulum, pelvis ginjal dan bahkan bisa mengisi pelvis serta seluruh kaliks ginjal dan
merupakan batu slauran kemih yang paling sering terjadi.
Batu ginjal merupakan keadaan tidak normal di dalam ginjal, mengandung komponen
kristal dan matriks organik. Urolithiasis mengacu pada adanya batu (kalkuli) di traktus
urinarius. Batu dapat terbentuk di traktus urinarius ketika konsentrasi substansi tertentu
seperti kalsium oksalat, kalsium fosfat dan asam urat. (Brunner and Suddarth, 2002)
Dari definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa batu ginjal (urolithiasis) adalah keadaan
abnormal akibat adanya batu (kalkuli) seperti kristal dan matriks organik di dalam traktus
urinarius.
2.2 Etiologi
Meskipun penyebab pasti tidak diketahui fator predisposisi terjadinya batu ginjal
meliputi :
a. Dehidrasi
b. Infeksi
c. Perubahan Ph Urin (Batu kalsium karbonat terbentuk pada ph yag tinggi dan batu
asam urat ph yang rendah)
d. Obstruksi pada urin yang menimbulkan stasis di dalam traktus urinarius
e. Imobilisasi yang menyebabkan kalsium terlepas kedalam darah dan tersaring oleh
f.
g.
h.
i.

ginjal
Faktor metabolik
Faktor makanan
Penyakit renal
Penyakit gout (penyakit dengan peningkatan produksi asam urat atau penurunan
ekskresi). (kowalak, 2012)

2.3 Patofisiologi
Bagaimana batu ginjal terbentuk masih belum dipahami dengan jelas kendati tugas
utama ginjal adalah mengeluarkan produk samping metabolisme yang meliputi kalsium,
oksalat, dan asam urat. Mineral tersebut dan bahan organik urine lainnya umumnya
dieliminasi dari saluran kemih; akan tetapi jika volume urine sedikit, bahan tersebut
membuat urin sangat jenuh hingga terbentuk kristal. Garam membentuk kristal timbul
disekitar sebuah nukleus yang terus membesar hingga membentuk batu. Ada tidaknya zat
inhibitor dalam urin, seperti magnesium, pirofosfat, sitrat, dan substansi lain juga menjadi
faktor yang menentukan dalam pembentukan batu.
Urolitiasis mengacu pada adanya batu (kalkuli) di traktus urinarius. Batu terbentuk
ketika konsentrasi supstansi seperti kalsium oksalat, kalsium fosfat dan asam urat
meningkat. Batu juga dapat terbentuk ketika difisiensi supstrats tertentu. Seperti sitrat yang
secara normal mencegah kristalisasi dalam urine, serta status cairan pasien. Infeksi, stasis
urine, serta drainase renal yang lambat dan perubahan metabolic kalsium, hiperparatiroid,
malignansi, penyakit granulo matosa (sarkoldosis, tuberculosis), masukan vitamin D
berlebih merupakan penyebab dari hiperkalsemia dan mendasari pembentukan batu
kalsium. Batu asam urat dapat dijumpai pada penyakit Gout. Batu struvit mengacu pada
batu infeksi, terbentuk dalam urine kaya ammonia alkalin persisten akibat uti kronik.
Batu urinarius dapat terjadi pada inflamasi usus atau ileostomi. Batu sistin terjadi pada
pasien yang mengalami penurunan efek absorbsi sistin (asam ammonia) turunan. (brunner
and suddatrh, 2002: 1461).

Pathway
Faktor predisposisi

Endapan zat-zat tertentu di saluran kemih

Statis urine

Peningkatan tekanan hidrostatik


Distensi piala ginjal dan ureter proximal

Iritasi organ sekitar saluran kemih

-Nyeri
-infeksi yang ditandai dengan menggigil, demam, disuria
-retensi urine, hematuria
2.4 Manifestasi klinis
Manifestasi klinis adanya batu dalam traktus urinarius bergantung pada adanya
obstruksi, infeksi, dan edema. Pasien dengan batu ginjal akan merasa pegal dan kolik pada
daerah sudut costavertebralis (costavertebra angel atau CVA).
Ketika batu menghambat aliran urine, maka akan terjadi obstruksi, menyebabkan
peningkatan tekanan hidrostatik dan distensi piala ginjal serta ureter proksimal. Infeksi
(pielonefritis dan sistisis yang disertai menggigil, demam dan disuria) dapat terjadi dari
iritasi batu yang terus-menerus. Beberapa batu, menyebabkan sedikit gejala namun secara
perlahan merusak unit fungsional (nefron) ginjal, sedangkan yang lain menyebabkan nyeri
yang luar biasa dan ketidaknyamanan.
Jika terdapat batu pada ginjal, maka akan terjadi :
a. Sakit yang dalam dan terus-menerus di area costovertebral.
b. Hematuria dan piuria
c. Nyeri yang berasal dari dari area renal menyebar secara anterior dan pada wanita
kebawah mendekati kandung kemih sedangkan pada pria mendekati testis.
d. Nyeri tekan diseluruh area kostovertebral
e. Nausea dan vomiting
f. Diare dan ketidaknyamanan abdominal akibat refleks renointestinal dan proksimitas
anatomik ginjal ke lambung, pncreas dan usus besar.
Batu yang terjebak di ureter menyebabkan :
a.

Gelombang nyeri yang luar biasa, akut dan kolik yang menyebar ke paha dan

genetalia.
b. Pasien merasa ingin berkemih, namun hanya sedikit urine yang keluar dan biasanya
c.

mengandung darah akibat aksi abrasif batu.


Umumnya pasien akan mengeluarkan batu dengan diameter 0,5 sampai 1 sm secara
spontan. Batu dengan diameter lebih dari 1 cm biasanya harus diangkat atau

dihancurkan sehingga dapat diangkat atau dihancurkan secara spontan.


d. Rasa sakit berupa rasa pegal di CVA (costavertebra angel)
e. Gelisah, kulit basah dan dingin.
f. Spasme otot abdomen
Batu yang terjebak di kandung kemih dapat menyebabkan :

a.

Dapat timbul gejala iritasi dan berhubungan dengan infeksi traktus urinarius dan

hematuria.
b. Jika batu menyebabkan obstruksi pada leher kandung kemih, maka akan terjadi
retensi urine.
c. Rasa sakit menjalar ke penis, hematuria.
d. Jika infeksi berhubungan dengan adanya batu, maka kondisi ini jauh lebih serius,
disertai sepsis yang dapat menyebabkan kematian.
2.5 pemeriksaan penunjang
a.

Pemeriksaan laboratorium : pemeriksaan darah yang sebaiknya dilakukan adalah

pemeriksaan darah perifer lengkap dan fungsi ginjal.


b. Pemeriksaan urinalisa, bila pH lebih dari 7,6 biasanya ditemukan kuman urea splitting
yang menyebabkan batu an-organik, sedangkan bila pH kurang dari 7,6 menyebabkan
batu asam (batu organik)
c. Leukosit akan meningkat bila terjadi infeksi.
d. Pemeriksaan BON (buik neir overzicht ) , akan terlihat lokasi, ukuran, jumlah batu
e.

dan akan terlihat adanya bendungan.


Ultrasonografi, dapat melihat bayangan batu di ginjal, dan adanya tanda-tanda
obstruksi urin.

2.6 Penatalaksanaan
Batu yang berukuran lebih kecil (diameter <5-10 mm) dapat keluar tanpa intervensi
medis, akan tetapi jika batu tidak bisa keluar, ada 4 pilihan tindakan yang dapat dilakukan :
1. extracorporeal shock wave lithotripsy (ESWL)
Merupakan tindakan non invasif yang sering dilakukan dan pada tindakan ini
digunakan gelombang kejut eksternal yang dialirkan melalui tubuh untuk memecah batu.
Setelah batu pecah seperti pasir akan dikeluarkan melalui urin secara spontan ESWL dapat
mengurangi keharusan melakukan prosedur invasif dan terbukti dapat menurunkan lama
rawat inap rumah sakit.
2. pemeriksaan sinar X atau ultrasonografi
Digunakan untuk mendeteksi partikel pecahan batu yang selanjutnya dapat
dikeluarkan melalui endoscop atau dibiarkan keluar sendiri bersama urin. Kerapkali stent

ureter dipasang sesudah tindakan ESWL untuk mencegah obstruksi dan membantu
pengeluaran pecahan batu.
3. PCN (percutaneous nephrolithotomy)
Dapat dilakukan pada tindakan ini, jarum PCN dimasukkan kedalam pelvis ginjal,
kemudian batu dipecah dengan menggunakan ultrasonografi. Selang neprosthomy
kemudian dipasang dan dijahit ke kulit. Prosedur ureteroscopi dilakukan untuk
mengeluarkan batu yang berada didalam ureter.
4. bascet katheter
Dimasukkan melalui alat ureteroscop untuk mengeluarkan batu dengan atau tanpa
menggunakan laser. Jika semua teknik ini tidak dapat dilakukan untuk mengeluarkan batu,
pilihan terakhir adalah intervensi pembedahan terbuka.
Tujuan penatalaksanaan adalah menghilangkan batu, mengetahui jenis batu,
mencegah kerusakan nefron, mengendalikan infeksi dan menguirangi obstruksi yang
terjadi.
a.

Mengurangi nyeri, memberi Morphin atau Meperiden untuk mencegah syok akibat
nyeri yang luar biasa.

b.

Pengangkatan batu, pemeriksaan sistoskopik dan pasase kateter uretral kecil untuk
menghilangkan batu yang menyebabkan obstruksi, dan dilakukan analisis batu.

c.

Terapi nutrisi dan medikasi

d.

Pengangkatan batu metode Endourologi, bidang endourologi menggabungkan


ketrampilan ahli radiologi dan urologi untuk mengangkat batu renal tanpa
pembedahan mayor. Nefrostomi percutan dan nefroscop dimasukkan ke traktus
perkutan yang sudah dilebarkan ke dalam parenkim renal. Batu yang besar dapat
dikurangi dengan gelombang ultrasonic dan diangkat dengan jarring atau forsep.

e.

Ureteroskopi, ureteroskopi mencakup visualisasi dan akses ureter dengan


memasukkan suatu alat ureteroskop melalui sistoskop. Batu dapat dihancurkan dengan
menggunakan laser, lithotripsi elektrohidraulik, atau ultrasound kemudian di angkat.
Suatu stent dapat dimasukkan dan dibiarkan selama 48 jam atau lebih setelah prosedur
untuk menjaga kepatenan ureter.

f.

Pengangkatan Bedah, sebelum adanya litotripsi, pengangkatan batu ginjal secara


bedah merupakan metode utama. Jika batu terletak dalam ginjal, pembedahan
dilakukan dengan nefrolitotomi atau nefrektomi, batu dalam piala ginjal diangkat
dengan pielolitotomi, batu pada ureter diangkat dengan ureterolitotomi, dan sistostomi
bila batu berada di kandung kemih

2.7 Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian
a. Identitas klien dan penanggung jawab
Identitas pasien diisi mencakup nama, umur, jenis kelamin, status pernikahan,
Agama, pendidikan, pekerjaan,suku bangsa, tgl masuk RS, alamat. Untuk
penangung jawab dituliskan nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan,
pekerjaan, alamat.
b. Riwayat Kesehatan
Mengkaji apakah penyebab dan pencetus timbulnya penyakit, kebiasaan saat
sakit kemana minta pertolongan, apakah diobati sendiri atau menggunakan fasilitas
kesehatan. Saat ini apa keluhan yang menyebabkan pasien dirawat,
c. Riwayat Penyakit
Penyakit apa yang pernah diderta oleh pasien, riwayat penyakit yang sama
atau penyakit lainyang pernah di derita oleh pasien. Adakah riwayat penyakit yang
sama diderita oleh anggota keluarga yang lain atau riwayat penyakit lainyang
bersifat genetic maupun tidak.
d. Pemeriksaan Fisik
a.

Keadaan umum

b. Pemeriksaan persistem

Sistem persepsi dan sensori, mencakup pemeriksaan lima indera penglihatan,

pendengaran, penghidu, pengecap, perasa.

Sistem persarafan, kaji bagaimana tingkat kesadaran, GCS, reflex bicara,

pupil, orientasi waktu dan tempat.

Sistem pernafasan, nilai frekuensi nafas, kualitas, suara dan jalan nafas.
Sistem

kardiovaskuler,

nilai

makan/minum, peristaltik, eliminasi.

kemampuan

menelan

pasien,

nafsu

8.

Sistem integumen, nilai warna, turgor, tekstur dari kulit.

Sistem reproduksi

Sistem perkemihan, nilai frekuensi buang air kecil dan jumlahnya

Diagnosa keperawatan
a. Nyeri (akut) b/d peningkatan frekuensi kontraksi ureteral, taruma jaringan,
edema dan iskemia seluler.
b. Perubahan eliminasi urine b/d stimulasi kandung kemih oleh batu, iritasi
ginjal dan ureter, obstruksi mekanik dan peradangan.
c. Kekurangan volume cairan (resiko tinggi) b/d mual/muntah (iritasi saraf
abdominal dan pelvis ginjal atau kolik ureter, diuresis pasca obstruksi.
d. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan terapi b/d
kurang terpajan atau salah interpretasi terhadap informasi, keterbatasan
kognitif, kurang akurat/lengkapnya informasi yang ada.

9.

Intervensi Keperawatan

a. Nyeri (akut) b.d peningkatan frekuensi kontraksi ureteral, taruma jaringan, edema
dan iskemia seluler.
Tujuan: nyeri hilang atau terkontrol
INTERVENSI

RASIONAL

KEPERAWATAN
1. Catat lokasi,

Membantu evaluasi tempat obstruksi dan kemajuan gerakan

lamanya/intensitas nyeri

batu. Nyeri panggul sering menyebar ke punggung, lipat

(skala 1-10) dan

paha, genitalia sehubungan dengan proksimitas pleksus

penyebarannya. Perhatiakn

saraf dan pembuluh darah yang menyuplai area lain.

tanda non verbal seperti:

Nyeri tiba-tiba dan hebat dapat menimbulkan gelisah,

peningkatan TD dan nadi,

takut/cemas.

gelisah, meringis, merintih,


menggelepar.
2. Jelaskan penyebab nyeri dan

Melaporkan nyeri secara dini memberikan kesempatan


pemberian analgesi pada waktu yang tepat dan

pentingnya melaporkan

membantu meningkatkan kemampuan koping klien

kepada staf perawatan setiap

dalam menurunkan ansietas.

perubahan karakteristik nyeri


yang terjadi.

Meningkatkan relaksasi dan menurunkan ketegangan otot.

3. Lakukan tindakan yang


mendukung kenyamanan
(seperti masase

Mengalihkan perhatian dan membantu relaksasi otot.

ringan/kompres hangat pada


punggung, lingkungan yang
tenang)
4. Bantu/dorong pernapasan
dalam, bimbingan imajinasi

Aktivitas fisik dan hidrasi yang adekuat meningkatkan


lewatnya batu, mencegah stasis urine dan mencegah
pembentukan batu selanjutnya.

dan aktivitas terapeutik.


5. Batu/dorong peningkatan

Obstruksi lengkap ureter dapat menyebabkan perforasi dan

aktivitas (ambulasi aktif)

ekstravasasiurine ke dalam area perrenal, hal ini

sesuai indikasi disertai asupan

merupakan kedaruratan bedah akut.

cairan sedikitnya 3-4 liter


perhari dalam batas toleransi
jantung.
6. Perhatikan peningkatan atau

Analgetik (gol. narkotik) biasanya diberikan selama episode

menetapnya keluhan nyeri

akut untuk menurunkan kolik ureter dan meningkatkan

abdomen.

relaksasi otot/mental.

7. Kolaborasi pemberian obat


sesuai program terapi:
- Analgetik
- Antispasmodik

Menurunkan refleks spasme, dapat menurunkan kolik dan


nyeri.
Mungkin digunakan untuk menurunkan edema jaringan
untuk membantu gerakan batu.

- Kortikosteroid
Mencegah stasis/retensi urine, menurunkan risiko
peningkatan tekanan ginjal dan infeksi.
8. Pertahankan patensi kateter
urine bila diperlukan.

2. Perubahan eliminasi urine b/d stimulasi kandung kemih oleh batu, iritasi ginjal dan
ureter, obstruksi mekanik dan peradangan.
Tujuan: eliminasi urine lancar
INTERVENSI

RASIONAL

KEPERAWATAN
1. Awasi asupan dan haluaran, Memberikan informasi tentang fungsi ginjal dan adanya
karakteristik urine, catat

komplikasi. Penemuan batu memungkinkan identifikasi

adanya keluaran batu.

tipe batu dan mempengaruhi pilihan terapi

2. Tentukan pola berkemih

Batu saluran kemih dapat menyebabkan peningkatan

normal klien dan perhatikan

eksitabilitas saraf sehingga menimbulkan sensasi

variasi yang terjadi.

kebutuhan berkemih segera. Biasanya frekuensi dan

3. Dorong peningkatan asupan


cairan.

urgensi meningkat bila batu mendekati pertemuan


uretrovesikal.
Peningkatan hidrasi dapat membilas bakteri, darah, debris dan

4. Observasi perubahan status

membantu lewatnya batu.

mental, perilaku atau tingkat Akumulasi sisa uremik dan ketidakseimbangan elektrolit
kesadaran.

dapat menjadi toksik pada SSP.

5. Pantau hasil pemeriksaan


laboratorium (elektrolit,
BUN, kreatinin)

Peninggian BUN, kreatinin dan elektrolit menjukkan


disfungsi ginjal

6. Berikan obat sesuai indikasi:


- Asetazolamid (Diamox),
Alupurinol (Ziloprim)
- Hidroklorotiazid (Esidrix,
Hidroiuril), Klortalidon
(Higroton)
- Amonium klorida, kalium
atau natrium fosfat (SalHepatika)
- Agen antigout mis:
Alupurinol (Ziloprim)
- Antibiotika
- Natrium bikarbonat

Meningkatkan pH urine (alkalinitas) untuk menurnkan


pembentukan batu asam.
Mencegah stasis urine ddan menurunkan pembentukan batu
kalsium.
Menurunkan pembentukan batu fosfat
Menurunkan produksi asam urat.
Mengganti kehilangan yang tidak dapat teratasi selama
pembuangan bikarbonat dan atau alkalinisasi urine, dapat
mencegah pembentukan batu.
Mungkin diperlukan bila ada ISK
Mengasamkan urine untuk mencegah berulangnay
pembentukan batu alkalin.

- Asam askorbat

Mungkin diperlukan untuk membantu kelancaran aliran urine.

7. Pertahankan patensi kateter

Mengubah pH urien dapat membantu pelarutan batu dan

tak menetap (uereteral,


uretral atau nefrostomi).

mencegah pembentukan batu selanjutnya.

8. Irigasi dengan larutan asam


atau alkali sesuai indikasi.

Berbagai prosedur endo-urologi dapat dilakukan untuk


mengeluarkan batu.

9. Siapkan klien dan bantu


prosedur endoskopi.

3. Kekurangan volume cairan (resiko tinggi) b/d mual/muntah (iritasi saraf


abdominal dan pelvis ginjal atau kolik ureter, diuresis pasca obstruksi.
Tujuan: keseimbangan cairan dan elektrolit dapat dipertahankan
INTERVENSI
KEPERAWATAN
1. Awasi asupan dan
haluaran
2. Catat insiden dan
karakteristik muntah,
diare.
3. Tingkatkan asupan
cairan 3-4 liter/hari.

RASIONAL
Mengevaluasi adanya stasis urine/kerusakan ginjal.
Mual/muntah dan diare secara umum berhubungan dengan kolik
ginjal karena saraf ganglion seliaka menghubungkan kedua
ginjal dengan lambung.
Mempertahankan keseimbangan cairan untuk homeostasis, juga
dimaksudkan sebagai upaya membilas batu keluar.
Indikator hiddrasi/volume sirkulasi dan kebutuhan intervensi.

4. Awasi tanda vital.

Peningkatan BB yang cepat mungkin berhubungan dengan retensi.

5. Timbang berat badan

Mengkaji hidrasi dan efektiviatas intervensi.

setiap hari.
6. Kolaborasi
pemeriksaan HB/Ht
dan elektrolit.
7. Berikan cairan infus

Mempertahankan volume sirkulasi (bila asupan per oral tidak


cukup)
Makanan mudah cerna menurunkan aktivitas saluran cerna,
mengurangi iritasi dan membantu mempertahankan cairan dan
keseimbangan nutrisi.

sesuai program terapi. Antiemetik mungkin diperlukan untuk menurunkan mual/muntah.


8. Kolaborasi pemberian
diet sesuai keadaan
klien.
9. Berikan obat sesuai
program terapi
(antiemetik misalnya
Proklorperasin/
Campazin).

4. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan terapi b/d kurang
terpajan atau salah interpretasi terhadap informasi, keterbatasan kognitif, kurang
akurat/lengkapnya informasi yang ada.
Tujuan: pasien paham mengenai proses penyakit, prognosis dan program terapi.
INTERVENSI
KEPERAWATAN
1. Tekankan pentingnya

RASIONAL
Pembilasan sistem ginjal menurunkan kesemapatan stasis

mempertahankan

ginjal dan pembentukan batu.

asupan hidrasi 3-4


liter/hari.

Jenis diet yang diberikan disesuaikan dengan tipe batu yang

2. Kaji ulang program

ditemukan.

diet sesuai indikasi.


- Diet rendah purin
- Diet rendah kalsium
- Diet rendah oksalat

Obat-obatan yang diberikan bertujuan untuk mengoreksi

- Diet rendah

asiditas atau alkalinitas urine tergantung penyebab dasar

kalsium/fosfat
3. Diskusikan program

pembentukan batu.
Pengenalan dini tanda/gejala berulangnya pembentukan batu

obat-obatan, hindari

diperlukan untuk memperoleh intervensi yang cepat

obat yang dijual bebas.

sebelum timbul komplikasi serius

4. Jelaskan tentang
tanda/gejala yang
memerlukan evaluasi
medik (nyeri berulang,
hematuria, oliguria)
5. Tunjukkan perawatan
yang tepat terhadap
luka insisi dan kateter
bila ada.

.
Meningkatakan kemampuan rawat diri dan kemandirian.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Batu ginjal (urolithiasis) adalah keadaan abnormal akibat adanya batu (kalkuli)
seperti kristal dan matriks organik di dalam traktus urinarius. Penyebab terbentuknya
batu saluran kemih diduga berhubungan dengan gangguan aliran urine, gangguan
metabolik, infeksi saluran kemih, dehidrasi dan keadaan-keadaan lain yang masih
belum terungkap (idiopatik).
3.2 Saran
Disarankan agar dalam beraktivitas seseorang tidak melakukan pekerjaan
monoton, pekerjaan dimana pasien terpajan pada lingkungan bersuhu tinggi dan
dehidrasi karena dapat memicu timbulnya batu ginjal.

DAFTAR PUSTAKA
Aru W. Sudoyo. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III. Jakarta: Pusat Penerbitan
Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI.
Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan
dan Pendokumentasian Perawatan Pasian. Jakarta: EGC.
Mansjoer, Arif, dkk. 2002. Kapita selekta Kedokteran Jilid I. Jakarta: Media Aesulapius.
Nursalam. 2006. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem Perkemihan.
Jakarta: Salemba Medika.
Sloane, Ethel. 2003. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta: EGC.
Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarh
Vol 2. Jakarta: EGC

MAKALAH
ASUHAN KEPERAWATAN UROLITHIASIS
(BATU GINJAL)

Nama Kelompok II :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.

AFRILLA BELLA SARI


ANAS IKHWANI
ANGGYA DEMENSAPUTRI
ARDE SANDRI NASUTION
DEDY SISWONO R
EFRIRA DAMAINA
ELDA LISA
ENGGY INGLIAN DANI
FAISAL KURNIAWAN
KHAIRUNNISA
MEDIA HARDIKA PUTRI
MUHIBIN
SABRINA ANDALAS PUTRI JHON

14. YOSI ERLITA

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


STIKes HANG TUAH PEKANBARU
PEKANBARU
2014
KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah yang berjudul ASUHAN KEPERAWATAN PADA UROLITHIASIS tepat
pada waktunya.
Makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penyusun
mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini
selanjutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.

Pekanbaru, 3 April 2014

Kelompok I