Anda di halaman 1dari 2

BAB I

PENDAHULUAN

A Latar Belakang.
Tirah baring diartikan sebagai tinggal ditempat tidur untuk jangka waktu yang lama dan
diharuskan. Kata "istirahat" berkenaan dengan hal ini agak kurang tepat karena kita selalu
berfikiran bahwa ini diartikan dengan istirahat malam yang baik. Pada tirah baring
sebenarnya bukan sesuatu yang dilakukan dengan sukarela.Individu tak secara wajar
berfungsi diluar tempat tidur ini sebagai akibat dari berbagai gangguan fungsi ( gerak,
bernafas, pengendalian syaraf ). Ini sebagi akibat dari penyakit (panas tinggi), kelemahan
(lumpuh ).
Dekubitus adalah salah satu bahaya yang terbesar pada tirah baring. Dalam sehari-hari
masyarakat menyebutkan sebagai "akibat tidur". Suatu luka dekubitus disebutkan oleh
karena ada tekanan pada kulit.. Tak lama kemudian akan terlihat pada tempat-tempat yang
mendapatkan tekanan, warna-warna kulit yang memutih.Jika penekanan ini hanya
berlangsung untuk waktu sementara, maka tidak ada akibat-akibat yang merugikan bagi
aliran darah. Pada penekanan yang berlangsung waktu yang lama, maka timbul masalah
dalam peredaran zat-zat makanan dan zat asam yang harus disalurkan pada bagian bagian
kulit. Yang mengalami penekan tadi, jaringan jaringan yang tak mendapat cukup
makanan dan zat asam tadi perlahan akan mati, dari sinilah kemudian timbul luka-luka
dekubitus (Maklebust, 1991).
Back rub ( gosokan punggung ) adalah suatu bentuk massage pada punggung yang
mempunyai tujuan untuk merelaksasi dan mengurangi tekanan . Gosokan dari prosedur
ini akan menghasilkan panas pada permukaan kulit. Hal ini menyebabkan dilatasi
pembuluh-pembuluh darah sehingga akan meningkatkan supplay darah kedaerah tersebut.
Karena jaringan sering tertekan pada pasien yang istirahat di tempat tidur dan otot-otot
biasanya relaksasi, stimulasi penting agar jaringan mendapatkan nutrisi dan oksigen.
Berdasarkan pengalaman peneliti selama melaksanakan tugas di Rumah Sakit dan hasil
dari beberapa intervensi keperawatan yang dilakukan oleh perawat hanya melakukan
motivasi dorongan kepada keluarga pasien untuk melakukan alih baring setiap 2 jam
kearah kanan dan 2 jam kearah kiri. Tanpa melihat sejauh mana efektifitas keberhasilan
dari alih baring tersebut, sementara pasien tetap terjadi dekubitus. Melihat kenyatan
tersebut diatas dan sekaligus untuk mengetahui seberapa jauh efektifitas massage
punggung, peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian tentang efektifitas massage
punggung terhadap upaya pencegahan dekubitus pada pasien yang bed rest total. 50 % 74 % dilaporkan untuk sering dipantau atau ditangani dengan baik.

Luka dibubitus adalah nekrosis seluler yang cenderung terjadi akibat kompresi
berkepanjangan pada jaringan lunak antara tonjolan tulang dan permukaan yang padat ,
paling umum disebabkan karena imobilisasi. Faktor ektrinsik yang mengeluarkan
kekuatan mekanisme yang pada jaringan lunak termasuk tekanan, gesekan, friksi, dan
maserasi. Faktor Intrinsik yang menentukan kerentanan kerusakan jaringan mencakup
malnutrisi, anemia, kehilangan sensasi, kerusakan mobilitas, usia lanjut, penurunan status
mental, inkontinensia, dan infeksi. Faktor ektrinsik dan intrinsic berinteraksi untuk
membentuk iskemia dan nekrosis jaringan lunak pada individu yang rentan. 80 % luka
dicubitus yang sembuh terjadi lagi, banyak diantaranya karena ketidakberhasilan
mempertahankan regimen pencegahan ulkus (Maklebust, 1991).