Anda di halaman 1dari 6

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK

NOMOR PER - 61/PJ/2010


TENTANG
TATA CARA PERSIAPAN PENGALIHAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN
PERDESAAN DAN PERKOTAAN SEBAGAI PAJAK DAERAH
DIREKTUR JENDERAL PAJAK,
Menimbang

bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 5 Peraturan Bersama Menteri Keuangan dan
Menteri Dalam Negeri Nomor 213/PMK.07/2010 dan Nomor 58 Tahun 2010 tentang
Tahapan Persiapan Pengalihan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan Sebagai
Pajak Daerah perlu menetapkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak tentang Tata Cara
Persiapan Pengalihan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan Sebagai Pajak
Daerah;
Mengingat :
1. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 49, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3262) sebagaimana telah beberapa kali
diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4999);
2. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 68, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3312) sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 12 Tahun 1994 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994
Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3569);
3. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1997 tentang Penagihan Pajak Dengan Surat Paksa
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 42, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3686) sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 19 Tahun 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000
Nomor 129, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3987);
4. Undang-undang Nomor 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 130, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5049);
5. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 62/PMK.01/2009 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Instansi Vertikal Direktorat Jenderal Pajak;
6. Peraturan Bersama Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri Nomor
213/PMK.07/2010 dan Nomor 58 Tahun 2010 tentang Tahapan Persiapan Pengalihan
Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan Sebagai Pajak Daerah;

MEMUTUSKAN:
Menetapkan:
PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK TENTANG TATA CARA PERSIAPAN
PENGALIHAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PERDESAAN DAN PERKOTAAN
SEBAGAI
PAJAK
DAERAH.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini, yang dimaksud dengan:
1. Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan, yang selanjutnya disingkat
dengan PBB-P2, adalah pajak atas bumi dan/atau bangunan yang dimiliki, dikuasai,
dan/atau dimanfaatkan oleh orang pribadi atau badan, kecuali kawasan yang
digunakan untuk kegiatan usaha perkebunan, perhutanan, dan pertambangan.
2. Kantor Pelayanan Pajak Pratama, yang selanjutnya disebut dengan KPP adalah KPP
yang wilayah kerjanya meliputi letak bumi dan/atau bangunan.
3. Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak, yang selanjutnya disebut dengan Kanwil
DJP adalah Kanwil DJP yang membawahkan KPP.
4. Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota, yang selanjutnya disebut dengan Pemerintah
Daerah, adalah Bupati/Walikota dan perangkat daerah kabupaten/kota sebagai unsur
penyelenggara pemerintahan daerah kabupaten/kota.
5. Wajib Pajak adalah orang atau badan yang secara nyata mempunyai suatu hak atas
bumi, dan/atau memperoleh manfaat atas bumi, dan/atau memiliki, menguasai,
dan/atau memperoleh manfaat atas bangunan, yang dikenakan kewajiban membayar
pajak menurut perundang-undangan perpajakan.
6. Objek Pajak PBB-P2, yang selanjutnya disebut dengan Objek Pajak adalah bumi
dan/atau bangunan, kecuali bumi dan/atau bangunan dalam kawasan yang digunakan
untuk kegiatan usaha perkebunan, perhutanan, dan pertambangan.
7. Nilai Jual Objek Pajak yang selanjutnya disingkat dengan NJOP adalah harga rata-rata
yang diperoleh dari transaksi jual beli yang terjadi secara wajar, dan bilamana tidak
terdapat transaksi jual beli, NJOP ditentukan melalui perbandingan harga dengan
objek lain yang sejenis, atau nilai perolehan baru, atau NJOP pengganti.
8. Tahun Pengalihan adalah tahun dialihkannya kewenangan pemungutan PBB-P2 ke
Pemerintah Daerah.
9. Tanggal cut off data adalah tanggal dilakukan back up data PBB-P2 oleh KPP, yaitu
tanggal 30 November sebelum Tahun Pengalihan.
10. Tempat Pembayaran Payment Online System yang selanjutnya disingkat dengan TP
POS adalah Bank Pemerintah/Bank Swasta Nasional yang ditunjuk oleh Menteri
Keuangan untuk menerima pembayaran PBB sektor Perdesaan dan Perkotaan secara

on-line dan memindahbukukan hasil penerimaan PBB ke Bank/Kantor Pos Persepsi


PBB.

Pasal 2
(1) Kewenangan pemungutan PBB-P2 dialihkan dari Direktorat Jenderal Pajak ke
Pemerintah Daerah segera setelah Pemerintah Daerah memenuhi persyaratan yang diatur
dalam Peraturan Bersama Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri Nomor
213/PMK.07/2010 dan Nomor 58 Tahun 2010 Tentang Tahapan Persiapan Pengalihan
Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan Sebagai Pajak Daerah dan paling
lambat pengalihan dilakukan tanggal 1 Januari 2014.
(2) Pengalihan kewenangan pemungutan PBB-P2 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat
(1) hanya dapat dilakukan pada 1 Januari Tahun Pengalihan.
(3) Persiapan pengalihan PBB-P2 sebagai pajak daerah dilakukan untuk masing-masing
Pemerintah Daerah dan paling lambat persiapan pengalihan kepada Pemerintah Daerah
tanggal 31 Desember sebelum Tahun Pengalihan.
BAB II
PERSIAPAN PENGALIHAN PBB-P2
Pasal 3
(1) Dalam rangka pengalihan kewenangan pemungutan PBB-P2 sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 2 ayat (1), Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak (KPDJP) bertugas dan
bertanggung jawab melaksanakan kegiatan persiapan, yaitu:
a. Direktorat Peraturan Perpajakan I mengkompilasi peraturan pelaksanaan PBB-P2
sebagai bahan acuan Pemerintah Daerah dalam menyusun Peraturan Daerah dan
Peraturan Kepala Daerah.
b. Direktorat Transformasi Proses Bisnis mengkompilasi Standard Operating
Procedures (SOP) terkait pemungutan PBB-P2 sebagai bahan acuan Pemerintah
Daerah dalam menyusun SOP.
c. Sekretariat Direktorat Jenderal Pajak mengkompilasi struktur organisasi dan tata
kerja di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak yang terkait pemungutan PBB-P2
sebagai bahan acuan Pemerintah Daerah untuk merumuskan struktur organisasi dan
tata kerja pemungutan PBB-P2.
d. Direktorat Potensi Kepatuhan dan Penerimaan menyiapkan:
1) konsep adendum Surat Perjanjian Kerjasama antara Direktur Jenderal Pajak
dengan Pimpinan Tempat Pembayaran Elektronik (TP Elektronik) untuk
pengurangan wilayah pembayaran PBB-P2 sesuai dengan wilayah yang
Pemerintah Daerahnya siap untuk melaksanakan pemungutan PBB-P2; dan/atau
2) konsep pengakhiran Surat Perjanjian Kerjasama antara Direktur Jenderal Pajak
dengan Pimpinan TP Elektronik apabila seluruh wilayah yang Pemerintah
Daerahnya termasuk dalam ruang lingkup kerjasama siap melaksanakan
pemungutan PBB-P2.
e. Direktorat Transformasi Teknologi Komunikasi dan Informasi menyiapkan sistem
aplikasi terkait PBB-P2 beserta source code-nya dan menyerahkan ke Direktorat
Teknologi Informasi Perpajakan.

f. Direktorat Teknologi Informasi Perpajakan menyiapkan:


1) basis data terkait PBB-P2 dengan ketentuan:
a) untuk KPP yang wilayah kerjanya meliputi 1 (satu) atau lebih
kabupaten/kota, basis data dimaksud disiapkan per kabupaten/kota;
b) untuk KPP yang wilayah kerjanya meliputi bagian dari kabupaten/kota,
basis data dimaksud disiapkan per KPP.
2) pembatasan Nomor Objek Pajak (NOP) yang dapat dibayar melalui TP
Elektronik dan penutupan akses TP Elektronik ke jaringan komunikasi data PBBP2 pada KPDJP serta penutupan akses TP POS ke jaringan komunikasi data
PBB-P2 pada KPP.
(2) Hasil kompilasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, huruf b, dan huruf c
diserahkan oleh Direktur Jenderal Pajak kepada Direktur Jenderal Perimbangan
Keuangan paling lambat tanggal 30 November 2010.
(3) Sistem aplikasi beserta source code-nya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e dan
basis data sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f angka 1, disiapkan dalam bentuk
media cakram digital oleh Direktorat Teknologi Informasi Perpajakan dan diserahkan ke
KPP sesuai wilayah yang Pemerintah Daerahnya siap melaksanakan pemungutan PBBP2, paling lambat tanggal 31 Desember sebelum Tahun pengalihan
(4) Tata cara pelaksanaan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat
(3) adalah sebagaimana pada Lampiran I Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini, yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini.
Pasal 4
(1) Dalam rangka pengalihan kewenangan pemungutan PBB-P2 sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 2 ayat (1), Kanwil DJP bertugas dan bertanggung jawab mengkompilasi
Surat Keputusan Menteri Keuangan mengenai penetapan Nilai Jual Objek Pajak Tidak
Kena Pajak (NJOPTKP) yang berlaku dalam kurun waktu 10 (sepuluh) tahun sebelum
Tahun Pengalihan.
(2) Hasil kompilasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diserahkan ke KPP sesuai wilayah
yang Pemerintah Daerahnya siap melaksanakan pemungutan PBB-P2, paling lambat
tanggal 15 Desember sebelum Tahun Pengalihan.
(3) Tata cara pelaksanaan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)
adalah sebagaimana pada Lampiran II Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini, yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini.
Pasal 5
(1) Dalam rangka pengalihan kewenangan pemungutan PBB-P2 sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 2 ayat (1), KPP bertugas dan bertanggung jawab melaksanakan kegiatan
persiapan, yaitu:
a. melaksanakan back up data PBB-P2 dan mengirimkannya ke Direktorat Teknologi
Informasi Perpajakan dalam bentuk cakram digital dengan disertai rincian jumlah
objek pajak per kabupaten/kota;
b. menerima dan menguji sistem aplikasi beserta source code-nya dan basis data
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) dari Direktorat Teknologi Informasi
Perpajakan dalam bentuk cakram digital;
c. menerima kompilasi Surat Keputusan Menteri Keuangan dari Kanwil DJP

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2);


d. menyiapkan softcopy peta PBB-P2 dalam bentuk cakram digital;
e. mengkompilasi:
1) data piutang PBB-P2 beserta dokumen pendukungnya berupa dokumen
ketetapan dan dokumen penagihan PBB-P2; dan
2) aset sitaan yang terkait, per 31 Desember sebelum Tahun Pengalihan; dan
f. mengirimkan surat pemberitahuan pencabutan penunjukan TP POS kepada pimpinan
TP POS yang akan dicabut penunjukannya;
g. mengkompilasi perubahan data PBB-P2 yang terjadi setelah tanggal cut off data
sampai dengan 31 Desember sebelum Tahun Pengalihan;
(2) KPP menyerahkan sistem aplikasi beserta source code-nya dan basis data sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf b, softcopy peta PBB-P2 sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) huruf d, dan kompilasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf g, ke Pemerintah
Daerah paling lambat tanggal 5 Januari Tahun Pengalihan dengan menggunakan Berita
Acara Serah terima.
(3) KPP menyerahkan hasil kompilasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dan huruf
e, ke Pemerintah Daerah yang siap melaksanakan pemungutan PBB-P2, paling lambat
tanggal 31 Januari Tahun Pengalihan dengan menggunakan Berita Acara Serah Terima.
(4) Berita Acara Serah Terima sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) dibuat
dalam 4 (empat) rangkap, masing-masing untuk:
a. KPP;
b. Pemerintah Daerah;
c. Kanwil DJP; dan
d. KPDJP.
(5) Dalam hal terdapat lebih dari 1 (satu) KPP dalam 1 (satu) kabupaten/kota, penyerahan
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) dilaksanakan oleh KPP dan
dikoordinasikan oleh Kanwil DJP.
(6) Tata cara pelaksanaan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan penyerahan
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) adalah sebagaimana pada Lampiran III
Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari
Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini.
BAB III
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 6
(1) Usulan penghapusan piutang PBB-P2 sesuai dengan Pasal 24 Undang-Undang Nomor 6
Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cata Perpajakan sebagaimana telah
beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 dan
Keputusan Menteri Keuangan Nomor 565/KMK.04/2000 tentang Tata Cara Penghapusan
Piutang Pajak dan Penetapan Besarnya Penghapusan sebagaimana telah diubah dengan
Keputusan Menteri Keuangan Nomor 539/KMK.03/2002, disampaikan oleh KPP ke
Kanwil DJP paling lambat tanggal 10 November sebelum Tahun Pengalihan.
(2) Usulan penghapusan piutang PBB-P2 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan
oleh Kanwil DJP ke KPDJP paling lambat tanggal 19 November sebelum Tahun
Pengalihan.

(3) Usulan penghapusan piutang PBB-P2 sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan
oleh Direktur Jenderal Pajak kepada Menteri Keuangan paling lambat tanggal 1
Desember sebelum Tahun Pengalihan.
Pasal 7
(1) Penerbitan Surat Teguran sampai dengan tanggal 31 Desember sebelum Tahun
Pengalihan dilaksanakan oleh KPP.
(2) Penerbitan Surat Penagihan Pajak Seketika dan Sekaligus sampai dengan tanggal 31
Desember sebelum Tahun Pengalihan dilaksanakan oleh KPP.
(3) Penerbitan dan penyampaian Surat Paksa sampai dengan tanggal 31 Desember sebelum
Tahun Pengalihan dilaksanakan oleh KPP.
(4) Penerbitan dan penyampaian Surat Perintah melaksanakan Penyitaan (SPMP) sampai
dengan tanggal 31 Desember sebelum Tahun Pengalihan dilaksanakan oleh KPP.
(5) Permohonan pemblokiran harta kekayaan penanggung pajak yang tersimpan di bank
sampai dengan tanggal 31 Desember sebelum Tahun Pengalihan dilaksanakan oleh KPP.
(6) Lelang atas objek sita yang sesuai ketentuan sudah harus dilaksanakan sampai dengan
tanggal 31 Desember sebelum Tahun Pengalihan dilaksanakan oleh KPP, dan hasilnya
segera disetorkan ke kas negara pada tanggal yang sama.
(7) Hal-hal yang belum diatur terkait dengan proses penagihan setelah tanggal 31 Desember
sebelum Tahun Pengalihan dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah.
Pasal 8
(1) Atas permintaan Pemerintah Daerah, KPP menyiapkan narasumber pelatihan teknis
pemungutan PBB.
(2) KPP dapat meminta bantuan Kanwil DJP atau KPDJP dalam menyiapkan narasumber
sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
Pasal 9
Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 17 Desember 2010
DIREKTUR JENDERAL
ttd.
MOCHAMAD TJIPTARDJO
NIP 195104281975121002