Anda di halaman 1dari 5

TUGAS THT-KL

Tuli Sensorineural Idiopatik

Oleh:
Wahyu Aprillia
G99141087
Himmatul Fuad
G99141088

Pembimbing : dr. Sudarman, Sp.THT-KL (K)


KEPANITERAAN KLINIK
ILMU PENYAKIT TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN-KEPALA LEHER
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
RSUD DR. MOEWARDI
SURAKARTA
2014

Tuli Sensorineural Mendadak Idiopatik


Seorang wanita usia 58 tahun menjawab panggilan telepon dan menyadari
bahwa pendengarannya sebelah kiri berkurang. Dia merasa telinga penuh dan
tinnitus nada tinggi pada telinga yang kiri. Pada hari itu dia juga merasa pusing

berputar ringan yang hilang pada pagi hari berikutnya. Beberapa hari kemudian,
dia membersihkan telinganya sendiri dengan menggunakan over-the-counter kit
namun gejalanya belum reda. Bagaimana wanita ini dievaluasi dan diterapi?

MASALAH KLINIS
Tuli sensorineural idiopatik yang mendadak (yaitu tuli sensorineural
unilateral dengan onset kurang dari 72 jam) memiliki insidensi 5 sampai 20 per
100.000 orang per tahun. Hal ini mungkin menjadi sedikit disepelekan mengingat
banyak yang sembuh tanpa mendapat pengobatan medis. Beberapa kasus besar,
termasuk di dalamnya hampir 7500 kasus di Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang,
menunjukkan bahwa kasus tuli sensorineural yang mendadak biasanya terjadi
pada usia 43-53 tahun, dengan distribusi jenis kelamin yang sama. Gejala
vestibuler terjadi pada 28-57% pasien.
Kemungkinan pendengaran bisa sembuh bervariasi tergantung tingkat
keparahan gangguan pendengaran yang terjadi : pasien dengan gangguan
pendengaran ringan biasanya sembuh total, pasien yang mengalami gangguan
pendengaran sedang biasanya sembuh spontan, tetapi jarang sembuh total jika
tidak diobati, dan pasien dengan gangguan pendengaran berat jarang
menunjukkan perbaikan spontan atau sembuh total. Prognosis kesembuhan
pendengaran juga lebih buruk pada pasien dengan usia yang lebih tua dan yang
mempunyai gejala vestibuler.
Sekitar 1% kasus tuli sensorineural yang mendadak adalah karena gangguan
retrokoklear yang mungkin berhubungan dengan schwannoma vestibular, penyakit
demielinasi, atau stroke. 10 sampai 15% disebabkan oleh penyebab lain yang
tidak dapat diidentifikasi, seperti penyakit Meniere, trauma, penyakit autoimun,
sifilis, penyakit Lyme, atau fistula perilymphatic. Sisanya idiopatik dan hampir
secara eksklusif unilateral. Kasus tuli mendadak bilateral yang jarang terjadi
paling sering adalah karena gangguan kejiwaan (fungsional) yang disebabkan oleh
gangguan proses neurologis (misalnya, infiltrasi dural neoplastik pada fossa
kranialis posterior, sindrom paraneoplastik, atau ensefalitis); tuli sensorineural
bilateral mendadak dapat merupakan hasil dari penurunan tiba-tiba tekanan
intracranial selama spinal tap atau setelah operasi intrakranial.
Masalah yang sering terjadi pada tuli sensorineural mendadak adalah
keterlambatan diagnosis. Telinga penuh, gejala yang biasanya muncul sering
diartikan oleh pasien dan klinisi sebagai impaksi dari serumen atau kongesti
gangguan saluran napas atas atau alergi. Sejauh ini, bukti menunjukkan bahwa
dapat terjadi gangguan pendengaran permanen apabila pengobatan tertunda, hal
ini menunjukkan bahwa diagnosis tuli sensorineural mendadak harus dirujuk ke
dokter spesialis THT.

STRATEGI DAN BUKTI


Diagnosis
Tuli sensorineural mendadak sering disertai dengan perasaan telinga terasa
penuh, serta tinnitus. Jika pasien memiliki pendengaran parsial di telinga yang
terkena, suara mungkin terdengar lebih keras dan terdistorsi (seolah-olah ditiup
dari loudspeaker). Karena telinga penuh bukan merupakan gejala spesifik, dan
sering memiliki penyebab nonotologic (misalnya, disfungsi sendi
temporomandibular atau disfungsi saluran napas atas), langkah pertama dalam
diagnosis adalah menentukan apakah gejala yang timbul disebabkan oleh
gangguan pendengaran atau bukan.
Skrining gangguan pendengaran dapat dilakukan melalui telepon (misal
oleh perawat klinik). Pasien harus secara eksplisit ditanya apakah pendengarannya
berkurang. Pasien dapat memindahkan telepon dari telinga satu ke telinga lainnya
atau menutupi dengan beberapa helai rambut untuk mengecek asimetri
pendengaran. Untuk mengetahui apakah asimetri pendengaran mengindikasikan
tuli sensorineural, pasien diminta mengatakan dimana suara lebih keras terdengar.
Pada tuli konduksi lateralisasi ke arah telinga yang sakit sedangkan pada tuli
sensorineural lateralisasi ke arah telinga yang sehat.
Evaluasi pendengaran dapat dilakukan dengan membisikkan kata-kata
sederhana atau angka secara halus pada tiap telinga dan meminta pasien
mengulanginya kembali dengan suara keras. Inspeksi liang telinga dan membrane
timpani dengan menggunakan pneumatic bulb untuk menilai mobilitas gendang
telinga (untuk menyingkirkan kemungkinan efusi telinga tengah). Apabila
serumen tidak bisa dikeluarkan untuk melihat membrane timpani, maka
diperlukan konsultasi ke spesialis THT. Tes Weber dan tes Rinne dilakukan
menggunakan garpu tala frekuensi 512 Hz. Pemeriksaan neurologis dilakukan
untuk membuktikan adanya gangguan di sentral dan disfungsi vestibuler.
Pemeriksaan yang relevan terutama adalah pemeriksaan gerakan bola mata dan
pandangan sinusoid dimana pasien harus memandang fokus pada suatu target dan
kepala digerakkan secara pasif ke samping, atas, dan bawah (Nervus II, III, IV,
dan VI, batang otak, dan cerebellum); sensasi wajah terhadap sentuhan halus dan
tusukan jarum (Nervus V), gerakan meniru ekspresi wajah (Nervus VII), adanya
nistagmus spontan, tatapan-bangkitan, atau nistagmus yang dipengaruhi posisi
(nervus VIII, cerebellum, dan batang otak); koordinasi ekstremitas dan gerakan
balik cepat (cerebellum) dan stabilitas postural selama Romberg tes dan tandem
gait.
Audiometri

Audiogram lengkap termasuk pengukuran ambang pendengaran konduksi


tulang dan konduksi udara nada murni dan audiometri tutur dibutuhkan untuk
diagnosis definitif pasien dengan suspek asimetri gangguan pendengaran. Ambang
pendengaran dan audiometri tutur digunakan untuk menilai tingkat kekerasan dan
kejelasan pendengaran. Pada tuli sensorineural, sensitivitas terhadap suara yang
dikirimkan sebagai hantaran konduksi tulang dan sebagai hantaran udara sama
pada telinga yang sakit tetapi keduanya berkurang (ambang batas tinggi). Pada tuli
konduksi, hantaran konduksi tulang normal tetapi hantaran konduksi udara buruk
(tinggi) pada telinga yang sakit.
Gadolinium- magnetic resonance imaging (MRI) pada tulang temporal otak
diperlukan pada kasus tuli sensorineural akut untuk menyingkirkan kemungkinan
adanya abnormalitas retrokoklear. Pada pasien yang tidak bisa dilakukan
pemeriksaan MRI otak, dapat menggunakan CT Scan, respon audiometri sistem
batang otak, atau keduanya, meskipun kurang sensitif jika dibandingkan dengan
MRI untuk deteksi adanya abnormalitas retrokolear.
TATALAKSANA
Kortikosteroid oral
Pengobatan standar untuk tuli sensorineural adalah dengan penurunan dosis
kortikosteroid oral (prednisone atau metil pednisolon). Namun, data yang
mendukung hal ini masih terbatas. Sebuah inisial random dengan placebo dan
kontrol yang melibatkan 67 subjek dengan tuli sensorineural menunjukkan
perkembangan yang signifikan lebih tinggi pada pasien yang diberi penurunan
dosis metilprednisolon oral atau dexametason (penurunan dosis selama 10 sampai
12 hari) daripada pasien placebo (61% vs 32%, P<0.05). Namun, rata-rata
perkembangan pada terapi kortikosteroid secara kohort menunjukkan hasil yang
hampir sama dengan rata-rata kesembuhan tanpa pengobatan (65%) yang
dilaporkan di tempat lain. Baru-baru ini, penelitian lain dengan kortikosteroid
gagal menunjukkan perbaikan pendengaran jika dibandingkan dengan
penggunaan carbogen (vasodilator inhalasi yang terdiri dari 5% carbon dioxide
dan 95% oksigen) atau placebo. Penelitian ini kekuatannya sangat lemah. Dari 41
subjek yang secara random dipilih menjadi 4 kelompok (kortikosteroid oral,
placebo oral, carbogen inhalasi, atau inhalasi placebo) yang terdiri dari 9-11
subjek pergrup selama 5 hari terapi.
Review Cochrane terbaru berdasarkan dua kali percobaan, serta meninjau
penelitian lain, keduanya menyimpulkan bahwa terapi kortikosteroid oral untuk
tuli sensorineural mendadak belum terbukti. Namun, karena pemberian
kortikosteroid oral umumnya dikaitkan dengan tarif merugikan dapat diterima dan
dapat memberikan manfaat, praktek rutin saat ini adalah untuk mengelola program
kortikosteroid oral dengan tapering off selama 10 sampai 14 hari (misalnya, 60
mg prednisone per hari selama 4 hari, diikuti penurunan dosis menjadi sebesar 10

mg setiap 2 hari). Data perbandingan perbedaan dosis dan durasi pemberian


kortikosteroid terbatas Sebuah penelitian double-blind, random, dan trial
membandingkan 7 hari pemberian prednisone yang diturunkan dengan 3 pulse of
300 mg dexametason per hari (diikuti 4 hari placebo) menunjukkan perbedaan
yang tidak signifikan pada tingkat kesembuhan pendengaran.