Anda di halaman 1dari 57

PRINSIP PRINSIP

PEMERIKSAAN FT
MUSCULOSKELETAL

By Kelompok 1
Mr.XIphoideus

ANATOMI FISIOLOGI MUSCULOSKELETAL

Sistem muskuloskeletal merupakan sistem


tubuh yangterdiri dari otot (muskulo)dan
tulang-tulang yang membentuk rangka (skelet).
Otot adalah jaringan tubuh yang mempunyai
kemampuan mengubah energi kimia menjadi
energi mekanik(gerak).
Sedangkan rangka adalah bagian tubuh yang
terdiri dari tulang-tulang yangmemungkinkan
tubuh mempertahankan bentuk, sikap dan posisi

Anatomi tulang
Anterior view

Anatomi Otot

Anatomi dan Fisiologi Otot

listrik,dan mekanik untuk menghasilkan


suatu aksi potensial.
Ada tiga jenis otot yaitu otot rangka, polos,
dan jantung.
Otot rangka mencakup 40% dari berat
badan manusia, dan 10% terdiri dari otot
polos dan otot jantung.
Otot polos terdapat pada dinding saluran
cerna, saluran kemih, uterus, dan pembuluh
darah. Sedangkan otot jantung hanya
terdapat pada cordial

TRANSMISI NEUROMUSCULAR

Aktivitas otot di atur oleh SSP melalui persarafan


motorik pada serabut saraf.
Setiap serabut saraf motoris terbagi menjadi sejumlah
cabang-cabang yang akan mengadakan kontak
langsung dengan serabut otot yang disebut
neuromuscular junction
Komponennya adalah :
Motor end plate
Motor unit
Ujung saraf
Celahsinaps

SKELETAL MUSCLE
Seluruh otot dikelilingi oleh epimysium.
Perimysium membagi otot rangka menjadi
beberapa bagianyg disebut fasciculus.
Di dalam fasciculus, endomysium mengelilingi
setiap muscle fibers (serabutotot).
Sarcolemma atau membran sel dari sera totot,
menyelubungi sarcoplasma atau cairan sel dari
serabut otot

KONTRAKSI OTOT ( Sliding Filament Theory)

Resting sarcomere

Step 1 : Pembukaan sisi yang aktif

Ca2+dilepaskan
dari
reticulum
sarcoplasma
ke
Sitoplasma
dan
berikatan dengan troponin. Troponin
kemudian berubah posisi, menarik
Tropomyosin menjauhi bagian aktif dari
aktin.

Active site exposure

Step 2 : Pembentukan Cross Bridge

Ketika bagian aktif dari aktin tidak


tertutupi lagi, myosin berikatan
membentuk cross-bridge.

Cross-bridge Attachment

Step 3 : Proses Perputaran (Pivoting)

Kepala myosin tertekuk menggunakan


energi
ATP, kepala myosin bergerak ke arah M
line.

Pivoting of myosin head

Step 4 : Pelepasan Cross-bridge

Ketika ATP melekat ke kepala


myosin, ikatan antara bagian aktif
dari aktin dan kepala myosin
terputus.
Bagian aktif dari aktin sekarang
saling terbuka

Cross-bridge detachment

Step 5 : Reaktive Myosin

Ca2+ dipompa kembali masuk ke


retikulum sarkoplasma oleh Ca2+
pump, ATP digunakan untuk
mengembalikan posisi kepala
myosin dan troponintropomyosincomplex kembali
menutupi bagian aktif dari aktin.
Relaksasi otot

Myosin reactivation

sebagian maupun seluruhnya


(Tidys Physiotherapy)
Dislokasi Adalah suatu
TULANG
keadaan dimana permukaan
sendi tulang yang membentuk
sendi tidak lagi dalam posisi
anatomis karena terpisah satu
sama lain. Secara kasar
adalah tulang terlepas dari
persendian.
Subluksasi adalah dislokasi
parsial permukaan persendian

PATOLOGI MUSCULOSKELETAL
OTOT
Strain
Beberapa serabut otot yang
mengalami kerobekan
Rupture
Serabut otot benar-benar
putus. Strain dan ruptur
sama-sama disebabkan oleh
over stretch pada serabut
otot
Contusion
luka memar tanpa putusnya
fiber. Disebabkan oleh
pukulan pada otot

ANAMNESIS FT ( CHARTS )

CHIEF OF COMPLAIN
Menanyakan kepada Pasien
bentuk keluhan secara umum
terkait gangguan pada
musculoskeletal.

HISTORY TAKING

Fisioterapis menanyakan kepada Pasien


bagaimana proses terjadinya gangguan
musculoskeletal,seperti bagaimana
penyakitnya bisa
terjadi,waktu,penyebab,dan menanyakan
apakah pasien sudah pernah berobat ke
Dokter sebagai pedoman kelanjutan
intervensi selanjutnya,dll.

ASSIMETRIC

Inspeksi Dinamis
Dilakukan pada saat Pasien masuk ke ruang
pemeriksaan,Fisioterapis mengamati secara
langsung bagaimana kondisi pasien seperti raut
wajah,proses berjalan,dll.
Inspeksi Statis
Vital sign : Tensi, suhu, pernapasan
Posisi berdiri/dudukMengamati Posture pasien
secara umum yaitu Arah depan,samping,dan
belakang
Sikap tubuhkebiasaan, antalgis, kompensasi
Bentuk tipe (bentuk) tubuh, perubahan kontur,

subkutan
Palpasi : tonus, oedem, kontur kulit, suhu, titik2
- Selubung tendon dan
Suhu
nyeri.
bursa
KARAKTERISTIK
-
Kontur dan bentuk JARINGAN
- Saraf
- Simetri
-
Tulang
- Mobilitas dan
- Otot
elastisitas
-Tendon
- Ketebalan
(kulit,tendon,otot)
- Ligamentum
- Tenderness, dll.
-Fasia, dll.

Quick test/ pemeriksaan fungsi


Pemeriksaan fungsi ini terdiri dari gerak aktif,
pasif dan gerak isometric melawan tahanan.
Pada saat melakukan pemeriksaan gerakan
yang harus diperhatikan adalah kuantitas
maupun kualitas gerakannya.
Terapis harus selalu menanyakan kepada
pasien apakah ada keluhan-keluhan tertentu
selama terjadi gerakan. Apabila ada nyeri yang
mengganggu kuantitas maupun kualitas
gerakan juga harus dicatat.
Kuantitas gerakan

Kuantitas gerakan

Yang dimaksud dengan kuatitas gerakan disini


adalah seberapa luas/ luas suatu sendi dapat
bergerak. Pengukuran lingkup gerak sendi (LGS)
yang banyak digunakan adalah menggunakan
Geniometer. Pengukuran LGS bisa dilakukan secara
aktif maupun pasif. Hasil pengukuran kemudian
dibandingkan dengan norma yang sudah ada
sehingga diketahui apakah suatu sendi LGS-nya
kurang dari normal (hypomobility) atau lebih besar
dari normal (hypermobility).
Pemeriksaan kuatitas gerakan dengan geniometer
ini juga biasa menemukan adanya kekakuan sendi
pola kapsular maupun adanya pemendekan otot.
Selanjutnya, diperlukan pemeriksaan endfeel untuk

Kualitas gerakan

Kemampuan untuk melihat dan


merasakan gerakan sangat penting
dalam manual terapi karena
kadang-kadang diagnosis yang
tepat hanya dapat ditegakkan
dengan kemampuan ini.

Pemeriksaan gerakan sampai tahanan


pertama (First Stop)

Terapis memeriksa kualitas gerakan dengan cara


pertama-tama melakukan observasi gerakan aktif
(pasien bergerak aktif-terapis mengobservasi),
kemudian terapis merasakan gerakan dengan jalan
menggerakan pasien secara pasif sampai
merasakan adanya tahanan pertama kali (first
stop). Gerakan aktif maupun pasif yang dilakukan
dimulai dari posisi anatomis dan pasien ditanya
apakah ada keluhan tertentu selama pemeriksaan
gerak berlangsung.
Gerakan pasif harus terasa bebas dan halus dan
hanya memerlukan tenaga minimal. Penyimpangan

Pemeriksaan gerakan setelah tahanan


pertama End feel
Gerakan yang dilakukan mulai dari titik tempat tahanan
pertama dirasakan (first stop) sampai dengan tahanan terakhir
(Final stop) dalam LGS sendi tersebut adalah untuk memeriksa
endfeel. End feel pada hakikatnya adalah kualitas tahanan pada
akhir gerakan. Penting sekali bagi fisioterapi untuk melakukan
pemeriksaan end feel (merasakan karateristik end feel) pada
setiap persendian sehingga dapat membedakan antara end
feel fisiologis dan patologis. End feel dapat diperiksa
mengunakan gerakan fisiologis maupun joint play movement.
End feel fisiologis
End feel patologis

End feel fisiologis

Tiap persendian mempunyai end feel dengan karateristik


sendiri-sendiri tergantung pada anatomi persendian
tersebut dan arah gerakan yang dilakukan end feel
fisiologis.
End feel juga dapat bervariasi antar individu tergantung
pada tipe tubuh.Setelah terasa adanya tahanan pada
pertama kali, kemudian gerakan diteruskan dengan
menambah kekuatan secara hati-hati sampai terapis bisa
menilai dan merasakan end feelnya.
End feel normal ada 3 macam yaitu: lunak,
kapsuler/kapsuloligamenter, dank eras. Ketiga tipe end feel
tersebut mempunyai tingkat elastisitas bervariasi dan
harusnya tidak terasa nyeri.
-End feel lunak terjadi karena tumbukan jaringan lunak
dengan jaringan lunak misalnya, fleksi lutut.
-End feel kapsuler/kapsuloligamenter terjadi karena

End feel patologis


Suatu end feel dikatakan patologis apabila
tempatnya berubah dan/atau kualitasnya
berubah sehingga tidak sesuai dengan
karateristik end feel pada sendi yang di tes.
Dengan kata lain, final stop terasa lebih
cepat atau lebih lambat dari normal dan
kualitas tahanannya tidak sesuai dengan
karateristik sendi yang di tes.misalnya: otot
spasme (tonus meninggi) mengakibatkan
lebih elastic dan kurang lunak, pemendekan
jaringan ikat (kapsul sendi, fasia,
ligamentum) menyebabkan end feel terasa

PEMERIKSAAN FUNGSI GERAK DASAR

Pemeriksaan gerak aktif


Pemeriksaan gerak pasif
Orientasi/Quick Test

Pemeriksaan gerak aktif


Pemeriksaan gerak aktif bertujuan untuk orientasi secara
global terhadap regio yang diperiksa selama terjadi gerakan.
Dari pemeriksaan gerak aktif ini dapat diperoleh informasi
tentang:
Koordinasi gerakan
Lingkup gerak sendi (LGS)
-Normal
-Terbatas: satu arah, dua arah atau kesemua arah.
-Lebih besar: satu arah, dua arah atau kesemua arah.
Adanya nyeri
- Lokasinya
-Sifatnya
-Kapan timbulnya
Kemampuan fungsional/gerakan fungsional.

Pemeriksaan gerak pasif


Pemeriksaan gerak pasif ini dapat memberi
informasi tentang:
Lingkup gerak sendi
-Normal
-Terbatas: satu arah, dua arah atau
kesemua arah.
- Lebih besar: satu arah, dua arah atau
kesemua arah.
Adanya nyeri
- Lokasinya
-Sifatnya

Pemeriksaan fungsi gerak melawan tahanan

Pemeriksaan gerak melawan tahanan ini yang


digunakan adalah gerak isometric.
Tes ini tujuannya untuk mengetahui keadaan otottendon (musculotendinogen) dan juga fungsi dari
saraf.
Informasi yang dapat diperoleh dari tes ini adalah:
-Nyeri
-Kekuatan otot secara global.
Hubungan antara kekuatan otot dan nyeri serta
interprestasinya

Kekuatan
Normal/kuat
Normal/kuat
Lemah

Nyeri
Tidak nyeri
Nyeri
Nyeri

Lemah/tidak ada
kekuatan
Lemah/tidak ada
kekuatan

Tidak nyeri

Normal/kuat

Nyeri pada tes yang di


ulang-ulang

Semua tes melawan


tahanan nyeri

Interprestasinya
Normal/tidak ada kelainan
Lesi otot-tendon ringan
Lesi otot-tendon berat,
rupture parsial, tendinitis
akut, lesi-lesi berat dengan
DD fraktur, metastasis.
Lesi neurologis (paresis),
rupture otot/tendon total.
Gangguan berat ( fraktur,
metastasis), lesi akut
(bursitis), gangguan psikis.
Gangguan pembuluh darah,
gangguan otot-tendon
stadium I.

Prosedur pelaksanaan
A. Otot
1. Inspeksi ukuran otot, bandingkan satu sisi dengan sisi yang
lain dan amati adanya atrofi atau hipertrofi
2. Jika didapatkan adanya perbedaan antara kedua sisi, ukur
keduanya dengan menggunakan meteran
3. Amati adanya otot dan tendo untuk mengetahui
kemungkinan kontraktur yang ditunjukkan oleh malposisi suatu
bagian tubuh
4. Lakukan palpasi pada saat otot istirahat dan pada saat otot
bergerak secara aktif dan pasif untuk mengetahui adanya
kelemahan (flasiditas), kontraksi tiba-tiba secara involunter
(spastisitas)
5. Uji kekuatan otot dengan cara menyuruh klien menarik atau
mendorong tangan pemeriksa, bandingkan kekuatan otot
ekstremitas kanan dengan ekstremitas kiri.
6. Amati kekuatan suatu bagian tubuh dengan cara memberi

B. Tulang

1. Amati kenormalan susunan tulang dan


adanya deformitas
2. Palpasi untuk mengetahui adanya edema
atau nyeri tekan
3. Amati keadaan tulang untuk mengetahui
adanya pembengkakan

C. Persendian
1. Inspeksi persendian untuk mengetahui
adanya kelainan persendian
2. Palpasi persendian untuk mengetahui
adanya nyeri tekan, gerakan, bengkak,
nodul, dan lain-lain
3. kaji tentang gerak persendian
4. Catat hasil pemeriksaan

ROM : semua ROM dari


semua sendi dilakukan
secara pasif dengan
memberi kode N
(normal), L (limitasi)
dengan menggunakan
ISOM
ADL : Eating,toileting,
dressing, self care, dan
sex.
Pekerjaan :
terganggu/tidak
Rekreasi :
Terganggu/tidak

Restrictive
Impairment

Komponen

miotendinogen
Tissue

: otot dan tendon ?


Komponen osteo-artrogen
: tulang dan sendi ?
Komponen neurogen :
saraf ? masih belum jelas
apakah neurogen
termasuk dalam
komponen g3
musculoskeletal
Komponen psikogen :
depresi,kecewa,cemas,str
ess,dll.

Spesifik Test

Tes-tes spesifik apa saja yang berhubungan dengan


gangguan muskuloskeletal ? Semua tes spesifik
yang mendukung terapi
MMT
ROM
palpasi
VAS
Tes Motorik ( Reaksi ADL )
MMSE
Tes panjang otot
Tes sensorik ( Bila diperlukan )
Pemeriksaan Lab.

PEMERIKSAAN SPESIFIK TAMBAHAN

PENGKAJIAN
FISIK
1.
Mengkaji Skelet Tubuh
2.
3.
4.
5.
6.

Mengkaji Tulang Belakang


Mengkaji Sistem Persendian
Mengkaji Sistem Otot
Pengkaji Cara Berjalan
Mengkaji Kulit Dan Sirkulasi Perifer

1. Mengkaji Skelet Tubuh


Skelet tubuh dikaji mengenai adanya
deformitas dan kesejajaran. Pemendekan
ekstreminitas, amputasi, dan bagian tubuh
yang tidak dalam kesejajaran anatomis harus
dicatat. Angulasi abnormal pada tulang
panjang atau gerakan pada titik selain sendi.
Biasanya menunjukkan adanya patah tulang.
Bisa teraba krepitus (suara berderik) pada
titik gerakan abnormal.

2. Mengkaji Tulang Belakang


Kurvatura normal tulang belakang biasanya konveks pada
bagian dada, dan konkaf sepanjang leher dan pinggang.
Deformitas tulang belakang yang sering terjadi yang perlu
diperhatikan meliputi :
a. skoliosis (deviasi kulvatura lateral tulang belakang)
b. kifosis (kenaikan kulvatura tulang belakang bagian dada)
c. Lordosis (membebek, kulvatura tulang belakang bagian
pinggang yang berlebihan.
Pada saat inspeksi tulang belakang, buka baju pasien untuk
menampakkan seluruh punggung, bokong dan tungkai.
Pemeriksa memeriksa kulvatura tulang belakang dan simetri
batang tubuh dari pandangan anterior posterior dan lateral.

Contd
Berdiri dibelakang pasien, pemeriksa dapat
memperhatikan setiap perbedaan tinggi bahu dan krista
iliaka.
Lipatan bokong normalnya simetris, simetris bahu dan
pinggul, begitu pula kelurusan tulang belakang,
diperiksa dengan pasien berdiri tegak dan membungkuk
ke depan.
Skoliosis ditandai dengan kulvatura lateral abnormal
tulang belakang, bahu yang tidak sama tinggi, garis
pinggang yang tidak simetris, dan skapula yang
menonjol, akan lebih jelas dengan uji membungkuk ke
depan.
Selain itu, lansia akan mengalami kehilangan tinggi

3. Mengkaji Sistem Persendian


-Sistem persendian dievaluasi dengan memeriksa luas gerakan,
deformitas, stabilitas, dan adanya benjolan. Luas gerakan yang
terbatas bias disebabkan karena deformiatas skeletal, patologis
sendi, atau kontraktur otot dan tendon disekitarnya. -Pada lansia,
keterbatasan gerakan yang berhubungan denga patologi sendi
degenerative dapat menurunkan kemampuan meraka melakukan
aktivitas hidup sehari hari. Jika gerkan sendi mengalami gangguan
atau sendi terasa nyeri, maka harus diperiksa adanya kelabihan
cairan dalam kapsulnya (efusi), pembengkakan, dan peningkatan
suhu yang mencerminkan adanya inflamsi aktif
- Deformitas sendi bisa disebabkan kontraktur (pemendekan
struktur sekitar sendi) dislokasi (lepasnya permukaan sendi),
subluksasi (lepasnya sebagian permukaan sendi), atau disrupsi
struktur sekitar sendi.
-Palpasi sendi sementara sendi digerakkan secara pasif akan

Contd

Suara gemletuk dapat menunjukkan adanya ligament yang tergelincir di


antara tonjolan tulang.
Permukaan yang kurang rata, seprti pada keadaan arthritis,
mengakibatkan adanya krepitus karena permukaan yang tidak rata
tersebut yang saling bergeseran satu sama lain.
Jaringan sekitar sendi diperiksa adanya benjolan.
Rheumatoid arthritis, gout, dan osteoarthritis menimbulkan benjolan yang
khas. Benjolan dibawah kulit pada rheumatoid arthritis lunak dan terdapat
di dalam dan sepanjang tendon yang memberikan fungsi ekstensi pada
sendi biasanya, keterlibatan sendi mempunyai pola yang simetris.
Benjolan pada GOUT keras dan terletak dalam dan tepat disebelah kapsul
sendi itu sendiri. Kadang mengalami rupture, mengeluarkan Kristal asam
urat putih kepermukaan kulit. Benjolan osteoatritis keras dab tidak nyeri
dan merupakan pertumbuhan tulang baru akibat destruksi permukaan
kartilago dan tulang di dalam kapsul sendi (biasanya ditemukan pada

4. Mengkaji Sistem Otot


Sistem otot dikaji dengan memperhatikan kemampuan
mengubah posisi, kekuatan oto dan koordinasi, dan ukuran
masing masing otot. Kelemahan otot sekelompok otot
menunjukkan berbagai macam kondisi seperti polyneuropati,
gangguan elektrolit (khususnya kalsium & kalium), miastenia
grafis, polio mielitis dandistrupsi otot.
Dengan melakukan palpasi otot saat ekstrimitas rileks
digerakkan secara pasif,Fisioterapis dapat merasakan tonus
otot. Kekeuatan dapat diperkirakan dengan menyuruh pasien
menggerakkan beberapa tugas dengan atau tanpa tahanan.
Lingkar ekstreminitas harus diukur untuk memantau
pertambahan ukuran akibat adanya edema atau perdarahan

5. Pengkaji Cara Berjalan


Cara berjalan dikaji dengan meminta pasien
berjalan dari tempat pemeriksa sampai
bebrapa jauh. Pemeriksa memerhatikan cara
berjalan mengenai kehalusan dan irama. Setiap
adanya gerakan yang tidak teratur dan ireguler
dianggap tak normal.

6. Mengkaji Kulit Dan Sirkulasi


Perifer
Sebagai tambahan pengkajian sistem
moskuloskeletal, Fisioterapis harus melaksanakan
inspeksi kulit dan melakukan pengkajian sirkulasi
perifer.
Palpasi kulit dapat menunjukkan adanya perbedaan
suhu dan adanya edema. Sirkulasi perifer dievaluasi
dengan mengkaji denyut perifer, warna, suhu, dan
waktu pengisian kapiler.
Adanya luka, memar perubahan warna kulit dan
tanda penurunan sirkulasi perifer atau infeksi dapat

Manual terapi secara khusus berkaitan erat dengan


diagnosis dan terapi gangguan-gangguan
MUSCULOSKELETAL atau disfungsi somatic.
Gejala: misalnya nyeri, kelemahan, kekakuan, nyeri
tekan.
Perubahan jaringan lunak: misalnya ketegangan,
elastisitas, bentuk atau tekstur.
Perubahan fungsi: kekuatan, daya tahan, koordinasi
dan mobilitas (sendi dan jaringan lunak).

DIAGNOSTIK FT
MUSCULOSKELETAL

Diagnosa Fisioterapi dihasilkan dari :


pemeriksan dan evaluasi dan merupakan
hasil dari alasan-alasan klinis yang dapat
Menunjukkan / mengekpresikan adanya
Disfungsi gerak dan dapat mencangkup :
Gangguan / kelemahan (impairment),
Limitasi Fungsi (functional limitations),
Ketidakmampuan (disabilities ),
Sindroma ( syndromes ).

Diagnosa Musculoskeletal
Gangguan mobilitas sendi, motor function,
kinerja otot, dan ROM yang berkaitan
dengan :
1. connective tissue
2. Inflamasi lokal
3. kerusakan spinal
4. Fraktur
5. Arthroplasti Sendi
6. Bedah tulang atau Soft tissue
7. gait, locomotion, balance yang berkaitan

Problem FT (primer, sekunder, komplex) dan program


FT
Implementasi FT
Intervensi di-implementasikan dan dimodifikasikan
untuk mencapai tujuan yang disepakati dan dapat
termasuk penanganan secara manual; peningkatan
gerakan; peralatan fisis, peralatan elektroterapuetis
dan peralatan mekanis; pelatihan fungsional;
penentuan bantuan dan peralatan bantu; instruksi dan
konseling; dokumentasi,koordinasi,dan komunikasi.
Intervensi dapat juga ditujukan pada pencegahan
ketidak-normalan (kelemahan), keterbatasan fungsi,
ketidakmampuan dan cidera, termasuk juga
peningkatan dan pemeliharaan kesehatan , kualitas

Dokumentasi adalah pencatatan yang dibuat


selama pasien/klien mendapat asuhan Fisioterapi
Evaluasi Keharusan untuk pemeriksaan kembali
untuk tujuan evaluasi hasil. Jika hasilnya kurang
maksimal maka dilakukan Re-asessment,dan Reevaluasi
Modifikasi
Pengembangan kemitraan.

SYUKRON WAJAZAKULLAH
KHAIRAN....