Anda di halaman 1dari 8

Resusitasi Kontrol

Kerusakan untuk
Perdarahan Massif

Pengertian Resusitasi kontrol kerusakan


(DCR)

Perdarahan merupakan penyebab kedua terbanyak kasus kematian di


kalangan pasien trauma dan hampir setengah kematian terjadi dalam 24 jam
setelah kejadian

Resusitasi control kerusakan merupakan sebuah paradigm untuk pasien


dengan perdarahan massif.

Resusitasi kontrol kerusakan (DCR) merupakan perkenalan pertama pada


kedokteran militer dan selanjutnya diadaptasi untuk trauma pada penduduk
sipil untuk mengatasi perdarahan masif.

Tujuan Resusitasi

Untuk mengurangi perdarahan dan mengoptimalkan keadaan koagulasi 3 dan


khususnya keuntungan pada pasien dengan perdarahan masif. 4

Tiga Strategi Resusitasi


Resusitasi Kontrol Kerusakan terdiri atas tiga strategi:

hipotensive permisif,

resusitasi hemostasis dan strategi transfusi,

kontrol kerusakan pada pembedahan

Permisif Hipotensi

Hipotensi permisif merupakan salah satu komponen Kontrol Kerusakan


Perdarahan, yang diajukan karena tingginya tekanan darah yang
memungkinkan salah penempatan gumpalan atau gumpalan pop.

Dalam prakteknya, membutuhkan cairan intravena, dan mempertahankan


tekanan darah yang rendah sampai perdarahan terkontrol

Resusitasi Hemostatik dan strategi transfuse

Resusitasi hemostatik dan strategi transfuse bertujuan mengurangi


koagulopati.

Mekanisme yang baik yang dimengerti bahwa koagulopati menjadi paradigm


resusitasi berubah yang telah disepakati.

Pada pasien dengan hiperfibrinolisis, pemberian asam tranexamat mengurangi


resiko kematian (14,5% banding 16%, P = 0.0035) tetapi membutuhkan
pemberian dalam 3 jam setelah kerusakan.

Kontrol kerusakan pada pembedahan

Kontrol kerusakan pada pembedahan merupakan awal kontrol perdarahan dan


pembedahan yang disertai kontaminasi setelah penutupan cepat
intraperitoneal dan juga resusitasi di unit perawatan intensif sebelum pasien
dipindahkan ke ruang pembedahan untuk laparatomi yang menetap.

Kesimpulan

DCR merupakan sebuah strategi untuk resusitasi pasien dengan kehilangan


darah yang masif.

Pada resusitasi homeostatik dan strategi transfusi, hiperfibrinolisis dianggap


berperan lebih dalam resusitasi dan asam tranexamat direkomendasikan pada
semua pasien trauma dengan perdarahan yang bermakna.