Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pada aliran fluidaa dapat membentuk teganagan yaiyu tegangan normal dan teganan
geser. Tegangan normal disebabkan karena adanya tekanan dari fluida, sedangkan tegangan
geser timbul akibat adanya viskositas fluida. Jika kita tinjau pada aliran dua dimensi, aliran
yang mengalir secara horizontal akan menimbulkan gaya drag atau gaya hambat karena arah
dari gaya ini berlawanan dengan arah aliran, sedangkan aliran yang mengalir secara vertikal
menimbulkan gaya lift atau gaya angkat. Gaya drag sering dianggap mengganggu, tetapi
dalam situasi tertentu gaya drag justru diharapkan. Aplikasi gaya lift dapat dilihat pada
penggunaan pesawat terbang dan mobil balap. Pada pesawat terbang gaya lift yang
diharapkan adalah gaya lift positif, artinya gaya angkat positif. Sedangkan pada aplikasi
mobil balap, gaya lift yang diharapkan adalah gaya lift negatif agar mobil tetap melaju di
atas tanah. Sifat ini biasanya dikarenakan sebuah fungsi dari ketidakmampuan mereka
mengadakan tegangan geser (shear stress) dalam ekuilibrum statik. Konsekuensi dari sifat
ini adalah Hukum Pascal yang menekankan pentingnya tekanan dalam mengarakterisasi
bentuk fluid. Dapat disimpulkan bahwa fluida adalah zat atau entitas yang terdeformasi
secara berkesinambungan apabila diberi tegangan geser walau sekecil apapun tegangan
geser itu
BAB II
PEMBAHASAN
Fluida adalah sub-himpunan dari fase benda , termasuk cairan,gas,plasma dan padat
plastik. Fluida memiliki sifat tidak menolak terhadap perubahan bentuk dan kemampuan
untuk mengalir (atau umumnya kemampuannya untuk mengambil bentuk dari wadah
mereka). FLUIDA merupakan suatu bentuk materi yang mudah mengalir misalnya zat cair
dan gas. Sifat kemudahan mengalir dan kemampuan untuk menyesuaikan dengan tempatnya
berada merupakan aspek yang membedakan fluida dengan zat benda tegar. Meskipun
demikian hukum-hukum yang berlaku pada dua sistem ini tidak berbeda. Pada bagian ini
kita akan meninjau fluida dalam keadaan tidak mengalir, contohnya air di dalam suatu
wadah atau air di danau/waduk. Aspek pertama yang kita dapati ketika kita berada dalam

suatu fluida (zat cair) yaitu tekanan. Kita merasakan ada tekanan pada tubuh kita yang
berada di dalam zat cair.
Fluida dapat dikarakterisasikan sebagai berikut :
a.Fluida Newtonian
Fluida Newtonian(istilah yang diperoleh dari nama Isaac Newton) adalah suatu
fluida yang memiliki kurva tegangan/regangan yang linear. Contoh umum dari fluida yang
memiliki karakteristik ini adalah air . Keunikan dari fluida newtonian adalah fluida ini akan
terus mengalir sekalipun terdapat gaya yang bekerja pada fluida. Hal ini disebabkan karena
viskositas dari suatu fluida newtonian tidak berubah ketika terdapat gaya yang bekerja pada
fluida. Viskositas dari suatu fluida newtonian hanya bergantung pada temperatur dan
tekanan.Viskositas sendiri merupakan suatu konstanta yang menghubungkan besar tegangan
geser dan gradien kecepatan pada persamaan

dengan
adalah tegangan geser fluida [Pa]
adalah viskositas fluida suatu konstanta penghubung [Pas]
adalah gradien kecepatan yang arahnya tegak lurus dengan arah geser [s1]
Contoh fluida Newtonian banyak sekali di alam. Semua jenis gas di alam ini
memenuhi Hukum Newton tentang viskositas sehingga semua jenis gas termasuk fluida
Newtonian. Zat cair hampir semuanya termasuk fluida Newtonian, tetapi ada beberapa jenis
zat cair yang tidak memenuhi kriteria ini
Persamaan pada fluida Newtonian
Konstanta yang menghubungkan tegangan geser dan gradien kecepatan secara linier dikenal
dengan istilah viskositas. Persamaan yang menggambarkan perlakuan fluida Newtonian
adalah:

di mana

adalah tegangan geser yang dihasilkan oleh fluida


adalah viskositas fluida-sebuah konstanta proporsionalitas

adalah gradien kecepatan yang tegak lurus dengan arah geseran


Viskositas pada fluida Newtonian secara definisi hanya bergantung pada temperatur
dan tekanan dan tidak bergantung pada gaya-gaya yang bekerja pada fluida. Jika fluida
bersifat inkompresibel dan viskositas bernilai tetap di seluruh bagian fluida, persamaan yang
menggambarkan tegangan geser (dalam koordinat kartesian) adalah

di mana
adalah tegangan geser pada bidang

dengan arah

adalah kecepatan pada arah


adalah koordinat berarah

Viskositas menjelaskan ketahanan internal fluida untuk mengalir dan mungkin dapat
dipikirkan sebagai pengukuran dari pergeseran fluida. Sebagai contoh, viskositas yang
tinggi dari magma akan menciptakan statovolcano yang tinggi dan curam, karena tidak
dapat mengalir terlalu jauh sebelum mendingin, sedangkan viskositas yang lebih rendah dari
lava akan menciptakan volcano yang rendah dan lebar. Seluruh fluida (kecuali superfluida)
memiliki ketahanan dari tekanan dan oleh karena itu disebut kental, tetapi fluida yang tidak
memiliki ketahanan tekanan dan tegangan disebut fluide ideal.

Jika suatu fluida tidak memenuhi hubungan ini, fluida ini disebut fluida non-Newtonian.

b.Fluidanon-Newtonian
Fluida non-Newtonian adalah suatu fluida yang akan mengalami perubahan
viskositas ketika terdapat gaya yang bekerja pada fluida tersebut. Hal ini menyebabkan
fluida non-Newtonian tidak memiliki viskositasyang konstan. Berkebalikan dengan fluida
non-Newtonian, pada fluida non-Newtonian viskositas bernilai konstan sekalipun terdapat
gaya yang bekerja pada fluida.Fluida yang tegangan gesernya tidak berhubungan secara
linear terhadap regangan disebut sebagai fluida non-newtonian. Campuran antara bubuk
jagung, ketika ditempatkan pada tempat yang rata, mengalir mejadi menipis. Namun ketika
campuran diganggu dengan acak, terlihat seperti kerusakan dan bersifat seperti zat padat.
Campuran merupakan tegangan geser non-newtonian menipiskan fluida dan menjadikan
lebih kental pada saat tegangan geser meningkat melalui aksi sendok yang acak.
Sebaliknya, bila fluida non-Newtonian diaduk, akan tersisa suatu lubang. Lubang
ini akan terisi seiring dengan berjalannya waktu. Sifat seperti ini dapat teramati pada
material-material seperti puding. Peristiwa lain yang terjadi saat fluida non-Newtonian
diaduk adalah penurunan viskositas yang menyebabkan fluida tampak lebih tipis (dapat
dilihat pada cat). Ada banyak tipe fluida non-Newtonian yang kesemuanya memiliki
properti tertentu yang beberikut contoh cairan non-newtonian.
Suatu cairan non-newtonian disebut bersifat dilatant, apabila hambatan akan membesar
ketika Tegangan-Geser yang bekerja padanya makin besar, atau cairan menjadi seolah-olah
makin kental jika teraduk. dilatant, bukan-newtonian : campuran pigmen, zat pewarna, tinta,
pengental

seperti

kanji/tapioka,

silicone,

pasta-PVC,

drilling

fluid,

mud,

dll.

Suatu cairan non-newtonian disebut bersifat pseudoplastic, apabila hambatan akan


berkurang ketika Tegangan-Geser yang bekerja padanya makin besar, atau cairan menjadi
seolah-olah Makin encer jika teraduk.
Selain itu terdapat perilaku "aneh" lain dari fluida non newtonian,
1. Sifat plastic, misal permen karet
2. Ideal bingham, misal odol dan emulsi
3. Thixotrop, misal pasir apung, daging giling, pasta ikan
4. Rheopex, misal epoxyrubah pada keadaan tertentu.
fluida Non-Newtonian dapat digolongkan dalam 5 golongan besar yaitu :
Persamaan tegangan geser fluida untuk Bingham Fluid model dapat dituliskan sebagai
berikut :

dengan syarat :

jika :

Jenis material yang mengikuti

persamaan ini disebut Bingham Plastik. Contoh fluida Bingham Plastik antara lain :
,

dan

Ostwald De Waele Model


Persamaan tegangan geser fluida untuk Ostwald De Waele model adalah :

persamaan ini memiliki 2 parameter juga dikenal sebagai hukum daya (power Law).
Untuk n = 1, maka persamaan akan direduksi menjadi persamaan hukum Newton untuk
viskositas dengan m = . contoh fluida yang mengikuti persamaan Ostwald De Waele antara
lain : campuran pulp kertas dengan air, campuran semen dengan air dan sebagainya.
Klasifikasi fluida non-Newtonian
Klasifikasi dari fluida non-Newtonian meliputi:
Tipe fluida
Plastik padat

Perilaku

Karakteristik

Plastik

Tegangan

sempurna

regangan yang berkebalikan


Tegangan

Contoh
Logam
tidak

geser

menghasilkan

dan

duktil lewat
titik yield

nya
regangan Lumpur,

Plastik

memiliki hubungan linier bila batas beberapa koloid

Bingham

tegangan geser mulai berpengaruh

terlampaui
Yield pseudo- Pseudo-plastik
plastik

yang

melampaui

beberapa batas tegangan geser mulai

berpengaruh
Dilatant yang melampaui beberapa
Yield dilatan batas

tegangan

berpengaruh
Pengurangan
Pseudoplastik dengan

geser

mulai

viskositas

terlihat Beberapa koloid,

dengan

adanya tanah liat, susu,

jelas

peningkatan gaya geser


Fluida eksponensial

Peningkatan
Dilatant

dengan

viskositas

jelas

dengan

gelatin, darah
Larutan
gula
terlihat pekat dalam air,
adanya suspensi

peningkatan gaya geser

Viskoelastis

memiliki karakteristik
viskos dan elastis

or

pati

Material

jagung
Kombinasi linier "seri" dari efek logam, material

Maxwell
fluida

elastis dan viskos


kombinasi linier

Oldroyd-B
Material

Maxwell dan Newtonian


Kombinasi linier "paralel"

Kelvin

elastis dan viskos


adonan, nilon
Material kembali ke bentuk awal

Anelastis

Viskositas

beras

pati

komposit
dari

perilaku
efek Bitumen,

bila gaya yang bekerja dihilangkan


Peningkatan
viskositas
terlihat

beberapa

Rheopektik

dengan jelas seiring dengan lama

Tiksotropik

jelas seiring dengan lama durasi beberapa

yang

bergantug waktu

lubrikan
durasi tegangan
Penurunan viskositas terlihat dengan Saus tomat dan

tegangan
Efek Bernoulli dalam mekanika fluida

jenis

madu

Mekanika fluida adalah subdisiplin dari mekanika kontinum yang mempelajari


fluida (yang dapat berupa cairan dan gas). Mekanika fluida dapat dibagi menjadi fluida
statik dan fluida dinamik. Fluida statis mempelajari fluida pada keadaan diam sementara
fluida dinamis mempelajari fluida yang bergerak.

Asumsi Dasar
Seperti halnya model matematika pada umumnya, mekanika fluida membuat
beberapa asumsi dasar berkaitan dengan studi yang dilakukan. Asumsi-asumsi ini kemudian
diterjemahkan ke dalam persamaan-persamaan matematis yang harus dipenuhi bila asumsiasumsi yang telah dibuat berlaku.
Mekanika fluida mengasumsikan bahwa semua fluida mengikuti:

Hukum kekekalan massa

Hukum kekekalan momentum

Hipotesis kontinum, yang dijelaskan di bagian selanjutnya.


Kadang, akan lebih bermanfaat (dan realistis) bila diasumsikan suatu fluida bersifat
inkompresibel. Maksudnya adalah densitas dari fluida tidak berubah ketika diberi tekanan.
Cairan kadang-kadang dapat dimodelkan sebagai fluida inkompresibel sementara semua gas
tidak bisa.
Selain itu, kadang-kadang viskositas dari suatu fluida dapat diasumsikan bernilai nol
(fluida tidak viskos). Terkadang gas juga dapat diasumsikan bersifat tidak viskos. Jika suatu
fluida bersifat viskos dan alirannya ditampung dalam suatu cara (seperti dalam pipa), maka
aliran pada batas sistemnya mempunyai kecepatan nol. Untuk fluida yang viskos, jika batas
sistemnya tidak berpori, maka gaya geser antara fluida dengan batas sistem akan
memberikan resultan kecepatan nol pada batas fluida.
Hipotesis kontinum
Fluida disusun oleh molekul-molekul yang bertabrakan satu sama lain. Namun
demikian, asumsi kontinum menganggap fluida bersifat kontinu. Dengan kata lain, properti
seperti densitas, tekanan, temperatur, dan kecepatan dianggap terdefinisi pada titik-titik
yang sangat kecil yang mendefinisikan REV (Reference Element of Volume) pada orde
geometris jarak antara molekul-molekul yang berlawanan di fluida. Properti tiap titik
diasumsikan berbeda dan dirata-ratakan dalam REV. Dengan cara ini, kenyataan bahwa
fluida terdiri dari molekul diskrit diabaikan.

Hipotesis kontinum pada dasarnya hanyalah pendekatan. Sebagai akibatnya, asumsi


hipotesis kontinum dapat memberikan hasil dengan tingkat akurasi yang tidak diinginkan.
Namun demikian, bila kondisi benar, hipotesis kontinum menghasilkan hasil yang sangat
akurat.
Masalah akurasi ini biasa dipecahkan menggunakan mekanika statistik. Untuk
menentukan perlu menggunakan dinamika fluida konvensial atau mekanika statistik, angka
Knudsen permasalahan harus dievaluasi. Angka Knudsen didefinisikan sebagai rasio dari
rata-rata panjang jalur bebas molekular terhadap suatu skala panjang fisik representatif
tertentu. Skala panjang ini dapat berupa radius suatu benda dalam suatu fluida. Secara
sederhana, angka Knudsen adalah berapa kali panjang diameter suatu partikel akan bergerak
sebelum menabrak partikel lain. selain itu penis juga berfungsi membuat bayi
Persamaan Navier-Stokes
Persamaan Navier-Stokes (dinamakan dari Claude-Louis Navier dan George Gabriel
Stokes) adalah serangkaian persamaan yang menjelaskan pergerakan dari suatu fluida
seperti cairan dan gas. Persamaan-persamaan ini menyatakan bahwa perubahan dalam
momentum (percepatan) partikel-partikel fluida bergantung hanya kepada gaya viskos
internal (mirip dengan gaya friksi) dan gaya viskos tekanan eksternal yang bekerja pada
fluida. Oleh karena itu, persamaan Navier-Stokes menjelaskan kesetimbangan gaya-gaya
yang bekerja pada fluida.
Persamaan Navier-Stokes memiliki bentuk persamaan diferensial yang menerangkan
pergerakan dari suatu fluida. Persaman seperti ini menggambarkan hubungan laju perubahan
suatu variabel terhadap variabel lain. Sebagai contoh, persamaan Navier-Stokes untuk suatu
fluida ideal dengan viskositas bernilai nol akan menghasilkan hubungan yang proposional
antara percepatan (laju perubahan kecepatan) dan derivatif tekanan internal.
Untuk mendapatkan hasil dari suatu permasalahan fisika menggunakan persamaan NavierStokes, perlu digunakan ilmu kalkulus. Secara praktis, hanya kasus-kasus aliran sederhana
yang dapat dipecahkan dengan cara ini. Kasus-kasus ini biasanya melibatkan aliran nonturbulen dan tunak (aliran yang tidak berubah terhadap waktu) yang memiliki nilai bilangan
Reynold kecil.

Untuk kasus-kasus yang kompleks, seperti sistem udara global seperti El Nio atau
daya angkat udara pada sayap, penyelesaian persamaan Navier-Stokes hingga saat ini hanya
mampu diperoleh dengan bantuan komputer. Kasus-kasus mekanika fluida yang
membutuhkan penyelesaian berbantuan komputer dipelajari dalam bidang ilmu tersendiri
yaitu mekanika fluida komputasional

Bentuk umum persamaan


Bentuk umum persamaan Navier-Stokes untuk kekekalan momentum adalah :

di mana

adalah densitas fluida,

adalah derivatif substantif (dikenal juga dengan istilah derivatif dari material)

adalah vektor kecepatan,

adalah vektor gaya benda, dan

adalah tensor yang menyatakan gaya-gaya permukaan yang bekerja pada partikel
fluida.
adalah tensor yang simetris kecuali bila fluida tersusun dari derajat kebebasan yang
berputar seperti vorteks. Secara umum, (dalam tiga dimensi)

di mana

memiliki bentuk persamaan:

adalah tegangan normal, dan

adalah tegangan tangensial (tegangan geser).


Persamaan di atas sebenarnya merupakan sekumpulan tiga persamaan, satu
persamaan untuk tiap dimensi. Dengan persamaan ini saja, masih belum memadai untuk
menghasilkan hasil penyelesaian masalah. Persamaan yang dapat diselesaikan diperoleh
dengan menambahkan persamaan kekekalan massa dan batas-batas kondisi ke dalam
persamaan di atas.
Fluida Newtonian vs. non-Newtonian
Sebuah Fluida Newtonian (dinamakan dari Isaac Newton) didefinisikan sebagai
fluida yang tegangan gesernya berbanding lurus secara linier dengan gradien kecepatan pada
arah tegak lurus dengan bidang geser. Definisi ini memiliki arti bahwa fluida newtonian
akan mengalir terus tanpa dipengaruhi gaya-gaya yang bekerja pada fluida. Sebagai contoh,
air adalah fluida Newtonian karena air memiliki properti fluida sekalipun pada keadaan
diaduk.
Sebaliknya, bila fluida non-Newtonian diaduk, akan tersisa suatu "lubang". Lubang
ini akan terisi seiring dengan berjalannya waktu. Sifat seperti ini dapat teramati pada
material-material seperti puding. Peristiwa lain yang terjadi saat fluida non-Newtonian
diaduk adalah penurunan viskositas yang menyebabkan fluida tampak "lebih tipis" (dapat
dilihat pada cat). Ada banyak tipe fluida non-Newtonian yang kesemuanya memiliki
properti tertentu yang berubah pada keadaan tertentu.
Persamaan pada fluida Newtonian
Konstanta yang menghubungkan tegangan geser dan gradien kecepatan secara linier dikenal
dengan istilah viskositas. Persamaan yang menggambarkan perlakuan fluida Newtonian
adalah:

di mana
adalah tegangan geser yang dihasilkan oleh fluida

adalah viskositas fluida-sebuah konstanta proporsionalitas

adalah gradien kecepatan yang tegak lurus dengan arah geseran


Viskositas pada fluida Newtonian secara definisi hanya bergantung pada temperatur
dan tekanan dan tidak bergantung pada gaya-gaya yang bekerja pada fluida. Jika fluida
bersifat inkompresibel dan viskositas bernilai tetap di seluruh bagian fluida, persamaan yang
menggambarkan tegangan geser (dalam koordinat kartesian) adalah

di mana
adalah tegangan geser pada bidang

dengan arah

adalah kecepatan pada arah


adalah koordinat berarah
Jika suatu fluida tidak memenuhi hubungan ini, fluida ini disebut fluida non-Newtonian