Anda di halaman 1dari 12

Hipertensi adalah suatu gangguan pada sistem peredaran darah, yang cukup banyak

mengganggu kesehatan masyarakat. Pada umumnya, terjadi pada manusia yang setengah umur
(Iebih dari 40 tahun). Namun banyak orang tidak menyadari bahwa dirinya menderita hipertensi.
Hal ini disebabkan gejalanya tidak nyata dan pada stadium awal belum menimbulkan gangguan
yang serius pada kesehatannya. Boedi Darmoyo dalam penelitiannya menemukan bahwa antara
1,8% -28,6% penduduk dewasa adalah penderita hipertensi. Prevalensi hipertensi di seluruh
dunia diperkirakan antara 15-20%. Pada usia setengah baya dan muda, hipertensi ini lebih
banyak menyerang pria daripada wanita. Pada golongan umum 55 -64 tahun, penderita hipertensi
pada pria dan wanita sama banyak. Pada usia 65 tahun ke atas, penderita hipertensi wanita lebih
banyak daripada pria. Penelitian epidemiologi membuktikan bahwa tingginya tekanan darah
berhubungan erat dengan kejadian penyakit jantung. Sehingga, pengamatan pada populasi
menunjukkan bahwa penurunan tekanan darah dapat menurunkan terjadinya penyakit jantung
[1,4,8]

Sampai saat ini, hipertensi masih merupakan tantangan besar di Indonesia. Betapa tidak,
hipertensi merupakan kondisi yang sering ditemukan pada pelayanan kesehatan primer
kesehatan. Hal itu merupakan masalah kesehatan dengan prevalensi yang tinggi, yaitu sebesar
25,8%, sesuai dengan data Riskesdas 2013. Di samping itu, pengontrolan hipertensi belum
adekuat meskipun obat-obatan yang efektif banyak tersedia. Definisi Hipertensi atau tekanan
darah tinggi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah
diastolik lebih dari 90 mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang waktu lima menit dalam
keadaan cukup istirahat/tenang. Peningkatan tekanan darah yang berlangsung dalam jangka
waktu lama (persisten) dapat menimbulkan kerusakan pada ginjal (gagal ginjal), jantung
(penyakit jantung koroner) dan otak (menyebabkan stroke) bila tidak dideteksi secara dini dan
mendapat pengobatan yang memadai[1,4].

Menurut The Seventh Report of Joint National Committee on Prevention,Detection,


Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC 7) klasifikasi hipertensi sebagai
berikut[2]:
Gambar 1
Klasifikasi
Tekanan

TDS*
mmHg

TDD* Modifikasi
mmHg Gaya Hidup

Obat Awal

Normal

< 120

< 80

Anjuran

Tidak

Pre-Hipertensi

120-139 80-89

Ya

menggunakan

Darah

Tanpa
Indikasi

Dengan Indikasi
Perlu Gunakan
obat yang

antihipertensi

dengan

obat
spesifik
indikasi

(resiko).
Hipertensi
Stage 1

140-159 90-99

Ya

Untuk semua kasus Gunakan


gunakan

diuretik yang

spesifik

jenis

thiazide, dengan

indikasi

(resiko).

pertimbangkan
ACEi,

ARB,

CCB,

BB, Kemudian
atau tambahkan

kombinasikan
Hipertensi
Stage 2

>160

>100

Ya

obat

obat

antihipertensi

Gunakan kombinasi (diretik,

ACEi,

2 obat (biasanya ARB, BB, CCB)


diuretik
thiazide

jenis seperti

yang

dan dibutuhkan

ACEi/ARB/BB/CCB
Keterangan:
TDS, Tekanan Darah Sistolik; TDD, Tekanan Darah Diastolik
Kepanjangan Obat: ACEi; Angiotensin Converting Enzim Inhibitor; ARB, Angiotensin Reseptor
Bloker; BB, Beta Bloker; CCB, Calcium Chanel Bloker
* Pengobatan berdasarkan pada kategori hipertensi
Penggunaan obat kombinasi sebagai terapi awal harus digunakan secara hati-hati oleh karena
hipotensi ortostatik.
Penanganan pasien hipertensi dengan gagal ginjal atau diabetes harus mencapai nilai target
tekanan darah sebesar <130/80 mmHg[2].

Krisis hipertensi merupakan suatu keadaan klinis yang ditandai oleh tekanan darah yang
sangat tinggi yang kemungkinan dapat menimbulkan atau telah terjadinya kelainan organ target.
Biasanya ditandai oleh tekanan darah >180/120 mmHg 3. Terdapat 2 jenis krisis hipertensi yaitu
urgensi dan emergensi; Hipertensi emergensi (darurat), yaitu peningkatan tekanan darah sistolik
>180 mmHg atau diastoik > 120 mmHg secara mendadak disertai kerusakan organ terget.
Hipertensi emergensi harus ditanggulangi sesegera mungkin dalam satu jam dengan memberikan
obat obatan anti hipertensi[5,6,7]. Hipertensi urgensi (mendesak), yaitu peningkatan tekanan
darah seperti pada hipertensi emergensi namun tanpa disertai kerusakan organ target.Pada
keadaan ini tekanan darah harus segera diturunkan dalam 24 jam dengan memberikan
obat obatan anti hipertensi[5,6,7].
Adapun menurut Depkes RI tahun 2006 menyatakan hipertensi emergensi yaitu tekanan
darah meningkat ekstrim disertai kerusakan organ akut yang progresif, sehingga tekanan darah
harus diturunkan segera (dalam hitungan menit-jam) untuk mencegah kerusakan organ lebih
lanjut. Hipertensi urgensi yaitu tingginya tekanan darah tanpa adanya kerusakan organ yang
progresif sehingga tekanan darah diturunkan dalam waktu beberapa jam hingga hari pada nilai
tekanan darah tingkat I[1].
Manifestasi klinis hipertensi krisis berhubungan dengan kerusakan organ target yang ada.
Tanda dan gejala hipertensi krisis berbeda beda setiap pasien. Sakit kepala, perubahan tingkat
kesadaran dan atau tanda neurologi fokal bisaterjadi pada pasien dengan hipertensi ensefalopati.
Pada pemeriksaan fisik pasien bisa saja ditemukan retinopati dengan perubahan arteriola,
perdarahan

daneksudasi

maupun

papiledema.

Pada

sebagian

pasien

yang

lain

manifestasikardiovaskular bisa saja muncul lebih dominan seperti; angina, akut miokardial infark
atau gagal jantung kiri akut. Dan beberapa pasien yang lain gagal ginjalakut dengan oligouria
dan atau hematuria bisa saja terjadi[7]
Anamnesis
Riwayat singkat harus diketahui pada saat pasien masuk, khususnya yang paling penting
mengenai riwayat hipertensi dan riwayat penggunaan obat antihipertensi. Riwayat harus
dipusatkan pada gejala-gejala neurologis, fungsi ginjal dan gejala-gejala gangguan jantung.

Semuanya bertujuan untuk menilai tingkat kerusakan target organ. Beberapa hal yang penting
untuk ditanyakan pada pasien dengan hipertensi krisis terdapat pada tabel 2[6,7,11].
Tabel 2. Hal yang penting ditanyakan pada pasien hipertensi krisis[6,7,11].
Kategori

Hal yang ditanyakan

Keterangan

Riwayat sekarang

Riwayat hipertensi

Umumnya menderita hipertensi

Umur

Umumnya 40-60 tahun

Penurunan

berat

badanMencari tanda kerusakan target organ.

Gejala
-

neurologiHarus

Gangguan

dibedakan

antara

Hipertensi

penglihatanensefalopati dan Kelaianan neurologi

- Nyeri kepala (headache)lain atau Dengan kecemasan


-

Pusing

(Dizziness)

- Kecemasan
Gejala ginjal
-Gross

Mencari kerusakan ginjal


Hematuria

- Penurunana urine output


Gejala

jantungMencari

kerusakan

target

organ

- Gejala gagal ginjal kongestif(jantung) harus dibedakan dengan udem


dan

udem

paruparu karena sebab lain.

- Nyeri dada
Riwayat penyakit

Riwayat glomerulonefritis

dahulu

Riwayat pielonefritis

Riwayat kehamilan

Masalah yang terjadi saatHipertensi krisis dengan toxemia

kehamilan
Riwayat

penggunaan MAO

obat sekarang

inhibitorGravidarum berat (eklampsia)

Obat anti hipertensi

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik harus difokuskan pada pengukuran tekanan darah yang akurat dan bukti/tanda
adanya kerusakan target organ, khususnya pemeriksaan funduskopi dan pemeriksaan neurologik.
Pemeriksaan fisik yang berkaitan dengan hipertensi krisis dapat dilihat tabel 3.
Tabel 3. Hasil pemeriksaan fisik yang berkaitan dengan hipertensi krisis[6,7,11].

Sistem

Hasil pemeriksaan

Keterangan/signifikasi

Keadaan umum

Ansietas, gelisah

Hipertensi ensefalopati atau kecemasan


(ansietas)

Vital sign

Tekanan darah 180/120 (padaTekanan darah yang sangat tinggi tanpa


pengukuran pada kedua lengan)

tanda hipertensi krisis seperti tidak ada


kerusakan target organ dan papiledem

Mata

Perdarahan dan eksudat padaPapile tidak selalu dapat dijumpai


fundus, papil edema

Jantung/dada

Rale

Bukti adanya dekompensasai ventrikel

S3

kiri

S4
Pembuluh darah

Arterial Bruits

Bukti penyakit arteri

Perifer

Nadi berkurang

Karotis atau penyakit Arterosklerosis

pembuluh perifer
Hati-hati terjadi penurunan Tekanan darah
dengan cepat
Neurologik

Tanda-tanda kelainan

Bedakan hipertensi

Fokal

Ensefalopati

dengan

Keadaan gawat darurat Neurologis karena


sebab lain

Penatalaksanaan hipertensi dapat dilakukan dengan menggunakan obat-obatan ataupun


dengan cara modifikasi gaya hidup. Modifikasi gaya hidup dapat dilakukan dengan membatasi
asupan garam tidak lebih dari 3 sendok teh (6 gram/hari), menurunkan berat badan, menghindari
minuman berkafein, rokok, dan minuman beralkohol. Olah raga juga dianjurkan bagi penderita
hipertensi, dapat berupa jalan, lari, jogging, bersepeda selama 20-25 me nit dengan frekuensi 3-5
x per minggu. Penting juga untuk cukup istirahat (6-8 jam) dan mengendalikan stress. Untuk
pemilihan serta penggunaan obat-obatan hipertensi disarankan untuk berkonsultasi dengan
dokter keluarga anda.
Ada pun makanan yang harus dihindari atau dibatasi oleh pen de rita hipertensi adalah:
1. Makanan yang berkadar lemakjenuh tinggi (otak, ginjal, paru, minyak kelapa, gajih).
2. Makanan yang diolah dengan menggunakan garam natrium (biscuit, crackers,keripikdan
makanan keringyangasin).
3. Makanan dan minuman dalam kaleng (sarden, sosis, korned, sayuran serta buah-buahan dalam
kaleng, soft drink).
4. Makanan yang diawetkan (dendeng, asinan sayur/buah, abon, ikan asin, pindang, udang
kering, telur asin, selai kacang).
5. Susu full cream, mentega, margarine, keju mayonnaise, serta sumber protein hewani yang
tinggi kolesterol seperti daging merah (sapi/kambing), kuning telur, kulit ayam).

6. Bumbu-bumbu seperti kecap, maggi, terasi, saus tomat, saus sambal, tauco serta bumbu
penyedap lain yang pada umumnya mengandunggaram natrium.
7. Alkohol dan makanan yang mengandung alkohol seperti durian, tape.
Di Indonesia terdapat pergeseran pola makan, yang mengarah pada makanan cepat saji dan yang
diawetkan yang kita ketahui mengandung garam tinggi, lemak jenuh, dan rendah serat mulai
menjamurterutama di kota-kota besardi Indonesia. Dengan mengetahui gejala dan faktor risiko
terjadinya hipertensi diharapkan penderita dapat melakukan pencegahan dan penatalaksanaan
dengan modifikasi diet/gaya hidup ataupun obat-obatan sehingga komplikasi yang terjadi dapat
dihindarkan[1,8,11]
Manajenem penurunan tekanan darah pada pasien dengan hipertensi urgensi tidak
membutukan obat-obatan parenteral. Pemberan obat-obatan oral aksicepat akan memberi
manfaat untuk menurunkan tekanan darah dalam 24 jam awal Mean Arterial Pressure (MAP)
dapat diturunkan tidak lebih dari 25%). Pada faseawal goal standar penurunan tekanan darah
dapat diturunkan sampai 160/110mmHg. Penggunaan obat-obatan anti-hipertensi parenteral
mauun oral bukan tanparesiko dalam menurunkan tekanan darah. Pemberian loading dose obat
oral anti-hipertensi dapat menimbulkan efek akumulasi dan pasien akan mengalami hipotensi
saat pulang ke rumah. Optimalisasi penggunaan kombinasi obat oralmerupakan pilihan terapi
untuk pasien dengan hipertensi urgensi[6].
Obat
Obat obatan spesifik untuk hipertensi urgensi antara lain; captopril adalah golongan
angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor dengan onset mulai 15 30 menit. Captopril
dapat diberikan 25mg sebagai dosis awal kemudian tingkatkan dosisnya 50 100 mg setelah 90
120 menit kemudian. Efek yang sering terjadi yaitu batuk, hipotensi,hiperkalemia, angioedema,
dan gagal ginjal (khusus pada pasien denganstenosis pada arteri renal bilateral).[6]
Nicardipine adalah golongan calcium channel blocker yang sering digunakan pada psien
dengan hipertensi urgensi. Pada penelitian yang dilakukan pada 53 pasien dengan hipertensi
urgensi secara random terhadap penggunaan nicardipin atau plasebo. Nicardipin memiliki
efektifitas yang mencapai 65% dibandingkan plasebo yang mencapai 22%(P=0,002).

Penggunaan dosis oral biasanya 30 mg dan dapat diulang setiap8 jam hingga tercapai tekanan
darah yang diinginkan. Efek samping yang sering terjadi seperti palpitasi, berkeringat dan sakit
kepala.[6]
Labetolol adalah gabungan antara 1dan -adrenergic blocking danmemiliki waktu kerja
mulai antara 1 2 jam. Dalam penelitian labetolol memiliki dose range yang sangat lebar
sehingga menyulitkan dalam penentuan dosis. Penelitian secara random pada 36 pasien, setiap
groupada yang diberikan dosis 100, 200 dan 300 mg secara oral dan menghasilkan penurunan
tekan darah sistolik dan diastolik secara signifikan. Secara umum labetolol dapat diberikan mulai
dari dosi 200 mgsecara oral dan dapat diulangi setiap 3 4 jam kemudian. Efek samping yang
sering muncul adalah mual dan sakit kepala.[6]
Clonidin

adalah

obat-obatan

golongan

simpatolitik

sentral

(2-adrenergic

receptor agonist) yang memiliki onset kerja antara 15 30 menit dan puncaknya antara 2 4
jam. Doasi awal bisa diberikan 0,1 0,2 mgkemudian berikan 0,05 0,1 setiap jam sampai
tercapainya tekanan darahyang diinginkan, dosis maksimal adalah 0,7 mg. efek samping yang
seringterjadi adalah sedasi, mulut kering dan hipotensi ortostatik.[6]

Hipertensi urgensi idealnya ditangani dengan menyesuaikan terapi pemeliharaan dengan


menambahkan obat antihipertensi yang baru dan/atau menaikkan dosis obat antihipertensi yang
ada. Hal ini lebih disukai karena dapat menurunkan tekanan darah secara perlahan-lahan.
Penurunan tekanan darah terlalu cepat ke nilai yang ideal tidak disarankan kerena berpotensi
resiko (kejadian, serebrovaskular, infark miokard, dan gagal ginjal akut). Kaptopril, klonidin,
atau labetalol dapat diberikan, diikuti dengan pengamatan untuk beberapa jam untuk meyakinkan
penurunan tekanan darah yang perlahan[8]
Pada hipertensi emergensi perlu dipertimbangkan penggunaan obat parenteral untuk
mengatasi dampak hipertensi terhadap kerusakan organ sasaran. Dalam kondisi akut, target terapi
adalah penurunan tekanan darah < 25% dari kondisi awal dalam satu jam pertama. Kemudian,

apabila kondisi hemodinamik stabil, penurunan ini dapat dilanjutkan hingga 160/100-110 mmHg
dalam 2-6 jam berikutnya.1 Pemilihan obat bergantung pada situasi klinis. Pada prinsipnya, obat
yang dipakai dalam penanganan hipertensi emergensi harus memiliki onset kerja cepat, mudah
dititrasi, aman, tidak mahal, dan nyaman bagi pasien.[9]
Tabel 5. Obat parenteral yang dapat digunakan pada hipertensi krisis
Obat

Dosis

Vasodilator

Efek awal (min) Efek samping

: 0,5-10

mcg/kgBB/mntSegera

Mual,

muntah,

intoksikasi

Sodium

melalui

infusDurasi : 1 2thiosianat,

nitroprusid

5-100

Nitrogliserin

melalui

Diazoxid

50-150

Hidralazin

bolus,

diulang,

Adrenergic

15-30

mg/min

inhibitor

10-20

mg

IVDurasi : 6 12Takikardi,

nyeri

kepala,

Trimetaphan

10-50

mg

IMjam

nyeri

dada

Labetolol

0,5-5

dan

kandung

mcg/minmenit
infus2
mg,

tiap

mg
10

2
melalui infus

5Methemoglobinemia

IVDurasi : 3 5kepala,
ataumenit
infus2

muntah,

Nyeri
takikardi,

Methemoglobinemia
-

4Hipotensi,
muntah,

20Parese

infus20

30kemih, hipotensi ortostatik,

IV
menit

usus

takikardi,

mg/menit10

melalui
20-80

Berkeringat,

bolus,Durasi : 3 8 jampenghilatan
dan1

kabur,

mulut

5kering

mg/menitDurasi : 3 10Bronkokontriksi, AV-block,


jam
5

hipotensi ortostatik

10

Durasi : 3 6 jam
Terapi hipertensi emergensi harus disesuaikan setiap individu tergantung pada kerusakan
organ target. Managemen tekanan darah dilakukan dengan obat-obatan parenteral secara tepat
dan cepat. Pasien harus berada di dalam ruangan ICU agar monitoring tekanan darah bisa
dikonrol dengan pemantauan yang tepat.Tingkat ideal penurunan tekanan darah masih belum
jelas, tetapi Penurunan Mean Arterial Pressure (MAP) 10% selama 1 jam awal dan 15% pada

2 3 jam berikutnya. Penurunan tekanan darah secara cepat dan berlebihan akanmengakibatkan
jantung dan pembuluh darah orak mengalami hipoperfusi.Pada krisis hipertensi, perlu dibedakan
antara hipertensi urgensi dan hipertensi emergensi.[6]
Penatalaksanaan untuk hipertensi emergensi
Neurologic emergency yaitu kegawat daruratan neurologi sering terjadi pada hipertensi
emergensi seperti hypertensive encephalopathy, perdarahan intrakranial dan strok iskemik akut.
American Heart Association merekomendasikan penurunan tekanan darah > 180/105 mmHg
pada hipertensi dengan perdarahan intrakranial dan MAP harus dipertahankan di bawah 130
mmHg. Pada pasien dengan strok iskemik tekanan darah harus dipantau secara hati-hati 1 2
jam awal untuk menentukan apakah tekanan darah akan menurun secara sepontan. Secara terusmenerus MAP dipertahakan > 130 mmHg.[6]
Cardiac emergency yaitu kegawat daruratan yang utama pada jantung seperti iskemik
akut pada otot jantung, edema paru dan diseksi aorta. Pasien dengan hipertensi emergensi yang
melibatkan iskemik pada otot jantung dapat diberikan terapi dengan nitroglycerin. Pada studi
yang telah dilakukan, bahwa nitroglycerin terbukti dapat meningkatkan aliran darah pada arteri
koroner. Pada keadaan diseksi aorta akut pemberian obat-obatan -blocker (labetalol dan
esmolol) secara IV dapat diberikan pada terapi awal, kemudian dapat dilanjutkan dengan obatobatan vasodilatasi seperti nitroprusside. Obat-obatan tersebut dapat menurunkan tekanan darah
sampai target tekan darah yang diinginkan (TD sistolik > 120mmHg) dalam waktu 20 menit.[6]

Acute kidney injury disebabkan oleh atau merupakan konsekuensi dari hipertensi
emergensi. Acute kidney injury ditandai dengan proteinuria, hematuria, oligouria dan atau anuria.
Terapi yang diberikan masih kontroversi, namun nitroprusside IV telah digunakan secara luas
namun nitroprusside sendiri dapat menyebabkan keracunan sianida atau tiosianat. Pemberian
fenoldopam secara parenteral dapat menghindari petensi keracunan sianida akibat dari pemberian
nitroprusside dalam terapi gagal ginjal.[6]

Hipertensi

emergensi

dapat

disebabkan

karena pengaruh

obat obatan

seperti

katekolamin, klonidin dan penghambat monoamin oksidase. Pasien dengan kelebihan zat-zat
katekolamin seperti pheochromocytoma, kokain atau amphetamine dapat menyebabkan
over dosis. Penghambat monoamin oksidase dapat mencetuskan timbulnya hipertensi atau
klonidin yang dapat menimbukan sindrom withdrawal. Pada orangorang dengan kelebihan zat
seperti pheochromocytoma, tekanan darah dapat dikontrol dengan pemberian sodium
nitroprussid (vasodilator arteri) atau phentolamine IV (ganglion-blocking agent ). Golongan blockers dapat diberikan sebagai tambahan sampai tekanan darah yang diinginkan tercapai.
Hipertensi yang dicetuskan oleh klonidin terapi yang terbaik adalah dengan memberikan kembali
klonidin sebagai dosis inisial dan dengan penambahan obat-obatan anti-hipertensi yangtelah
dijelaskan di atas.[6,7]

Daftar Pustaka :
1.

DEPKES.

Hipertensi.

2014;

Available

from:

http://www.depkes.go.id/article/view/14010200004/hipertensi.html.
2.

Cuddy MLS. Treatment of hypertension: guidelines from JNC 7 (the seventh report of the
Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High
Blood Pressure 1). J Pract Nurs [Internet]. 2005 Jan [cited 2015 Feb 19];55(4):1721;
quiz 223. Available from: http://www.nhlbi.nih.gov/files/docs/guidelines/express.pdf

3.

Treatment of Hypertension in Adults With Diabetes. Diabetes Care [Internet]. 2003 Jan 1
[cited

2015

Feb

19];26(Supplement

1):S80S82.

Available

from:

http://care.diabetesjournals.org/cgi/doi/10.2337/diacare.26.2007.S80.
4.

DEPKES. Perkembangan Penyakit Hipertensi di Indonesia. 2013; Available from:


http://pppl.depkes.go.id/berita?id=958.

5.

Majid A. Krisis Hipertensi Aspek Klinis dan Pengobatan. USU DigitalLibrary [database
on

the

internet]

2004.

[cited

February

2013,

21].Available

from:http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1999/1/fisiologi-abdul
6.

20

majid.pdf
Vaidya CK, Ouellette JR. Hypertensive Urgency and Emergency. HospitalPhysician
Article [article on the internet] 2007. [cited February 22, 2013]. pp. 43 50. Available
from:

7.

http://www.turner-white.com/memberfile.php?

PubCode=hp_mar07_hypertensive.pdf
Varon J, Marik PE. Clinical review: the management of hypertensive crises. Crit Care
[Internet].

2003

Oct

[cited

2015

Feb

19];7(5):37484.

Available

from:

http://www.pubmedcentral.nih.gov/articlerender.fcgi?
artid=270718&tool=pmcentrez&rendertype=abstract.
8.

Direktorat Bina Farmasi Komunitas Dan Klinik Ditjen Bina Kefarmasian Dan Alat
Kesehatan Departemen Kesehatan. Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Hipertensi.
2006; Available from: http://www.binfar.depkes.go.id/bmsimages/1361338449.pdf

9.

Lubis L. Penatalaksanaan Terkini Krisis Hipertensi Preoperatif. Cermin Dunia Kedokt


[Internet].

2013;

Available

from:

http://cdn.drhary.com/downloadbac.php?

downcode=b1x4s2t2y2o1r9j3t6w7
10.

Pratanu S. Krisis Hipertensi. Cermin Dunia Kedokt [Internet]. 1991; Available from:
http://www.scribd.com/doc/7964912/Cdk-067-Kardiovaskuler#scribd

11.

DEPKES. Pedoman Teknis Penemuan dan Tatalaksana Penyakit Hipertensi. 2006;


Available

from:

2006#scribd.

http://www.scribd.com/doc/220670177/Pedoman-Hipertensi-Depkes-