Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN

EKLAMPSIA
OLEH : DIAN WIDIASTUTIK,S.Kep
I.

TINJAUAN TEORI
A. Definisi
Eklampsia adalah timbulnya hipertensi disertai proteinurea dan edema akibat
kehamilan setelah kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan yang
disertai kejang dan / atau koma yang timbul bukan akibat kelainan neurologi.
B. Etiologi
Etiologi dan patogenesis preeklampsia dan eklampsia sampai saat ini masih belum
sepenuhnya difahami, masih banyak ditemukan kontroversi, itulah sebabnya
penyakit ini sering disebut the disease of theories.
Pada saat ini hipotesis utama yang dapat diterima untuk menerangkan terjadinya
preeklampsia adalah : faktor imunologi, genetik, penyakit pembuluh darah dan
keadaan dimana jumlah trophoblast yang berlebihan dan dapat mengakibatkan
ketidakmampuan invasi trofoblast terhadap arteri spiralis pada awal trimester satu
dan trimester dua.
C. Manifestasi Klinis
Diagnosis preeklampsia ditegakkan berdasarkan dua dari tiga tanda klinik yaitu :
tekanan darah 140/90 mmHg, proteinuria dan edema. Edema dapat diterlihat
sebagai penambahan berat badan berlebihan bila terjadi penambahan 1kg
seminggu beberapa kali, pembengkakan kaki, jari tangan dan muka. Pengukuran
tekanan darah harus diulang berselang 4 jam, tekanan darah sistolik meningkatl
>30 mmHg dan diastolik > 15 mmHg digunakan sebagai pedoman. Tekanan
diastolik pada trimester kedua yang lebih dari 85 mmHg patut dicurigai sebagai
bakat preeklamsia.Proteinuria apabila terdapat protein sebanyak 0,3 g/l dalam air
kencing 24 jam atau pemeriksaan kualitatif menunjukkan +1 atau 2; atau kadar
protein 1 gr/l dalam urin yang dikeluarkan dengan kateter atau urin porsi tengah.
Diambil dua kali dalam jarak waktu 6 jam.

Laporan Pendahuluan Eklampsia


Dian Widiastutik ,S.Kep
STIKES Widyagama Husada Malang

Page 1

Disebut preeklampsia berat bila ditemukan gejala berikut :


1. Tekanan darah sistolik 160 mmHg atau diastolik 110 mmHg
2. Proteinuria + 5 gr/24 jam atau 3 pada tes celup.
3. Oliguria ( <400 ml dalam 24 jam ).
4. Sakit kepala hebat atau gangguan pengelihatan.
5. Nyeri epigastrium dan ikterus.
6. Edema paru atau sianosis.
7. Trombositopenia.
8. Pertumbuhan janin terhambat.
Diagnosis Eklampsia ditegakkan berdasarkan gejala- gejala preeklampsia disertai
kejang atau koma. Sedangkan, bila terdapat gejala preeklampsia berat disertai
salah satu atau beberapa gejala dari nyeri kepala hebat, gangguan visus, muntahmuntah, nyeri epigastrium, dan kenaikan tekanan darah yang progresif ditangani
sebagai eklampsia.
D. Patofisiologi
Faktor imunologi, genetik, penyakit pembuluh darah dan keadaan dimana jumlah
trophoblast yang berlebihan dan dapat mengakibatkan ketidakmampuan invasi
trofoblast terhadap arteri spiralis pada awal trimester satu dan trimester dua. Hal ini
akan menyebabkan arteri spiralis tidak dapat berdilatasi dengan sempurna dan
mengakibatkan turunnya aliran darah di plasenta. Berikutnya akan terjadi stress
oksidasi, peningkatan radikal bebas, disfungsi endotel, agregasi dan penumpukan
trombosit yang dapat terjadi diberbagai organ.
E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan laboratorium
1. Pemeriksaan darah lengkap dengan hapusan darah
2. Urinalis (ditemukan atau tidaknya protein dalam urin)
3. Pemeriksaan fungsi hati
a) Bilirubin meningkat (N=< 1 mg/dl)
b) LDH (laktat dehidrogenase) meningkat
c) Aspartat aminomtransferase (AST) > 60 ul
d) Serum glutamat pirufat transaminase (SGPT) meningkat (N= 15-45 u/ml)
e) Serum glutamat oxaloacetic transminase (SGOT) meningkat (N=< 31 u/l)
Laporan Pendahuluan Eklampsia
Dian Widiastutik ,S.Kep
STIKES Widyagama Husada Malang

Page 2

f)

Totl protein serum menurun (N= 6,7-8,7 g/dl)

g) Tes kimia darah

Asam urat meningkat (N=2,4-2,7 mg/dl)


4. Pemeriksaan radiologi
5. Ultrasonografi

Ditemukan retraksi pembunuhan janin intrauterus. Pernafasan intrauterus lambat,


aktifitas janin lambat, dan volume cairan ketuban sediit
6. Kardiotografi

Diketahui denyut jantung bayi lemah


F. Penatalaksanaan
Prinsip prinsip dasar pengelolaan eklampsia adalah sebagai berikut :
1. Terapi suportif untuk stabilisasi pada penderita
2. Selalu diingat mengatasi masalah masalah Airway, Breathing, Circulation
3. Kontrol kejang dengan pemberian loading dose MgSO4 intravena, selanjutnya
dapat diikuti dengan pemberian MgSO4 per infus atau MgSO4 intramuskuler
secara loading dose didikuti MgSO4 intramuskuler secara periodik.
4. Pemberian obat antihipertensi secara intermiten intra vena atau oral untuk
menurunkan tekanan darah, saat tekanan darah diastolik dianggap berbahaya.
Batasan yang digunakan para ahli berbeda beda, ada yang mengatakan 100
mmHg, 105 mmHg dan beberapa ahli mengatakan 110 mmHg.
5. Koreksi hipoksemia dan asidosis
6. Hindari penggunaan diuretik dan batasi pemberian cairan intra vena kecuali pada
kasus kehilangan cairan yang berat seperti muntah ataupun diare yang berlebihan.
Hindari penggunaan cairan hiperosmotik.
7. Terminasi kehamilan

Laporan Pendahuluan Eklampsia


Dian Widiastutik ,S.Kep
STIKES Widyagama Husada Malang

Page 3

G. Problem Tree Eklampsia

faktor imunologi

Penyakit pembuluh darah

Genetik

Volume plasma yang


beredar menurun

Peningkatan sensitivitas
terhadap tekanan darah

Angiotensin II

Ketidakseimbangan
Prostasikin dan
Tromboksan A2

Hemokonsentrasi

Hematokrit
maternal meningkat

Perfusi organ maternal


menurun

Vasospasme

Gg Perfusi Jaringan

Spasme
korteks
serebral
Sakit Kepala
Nyeri

Permeabilitas
Kapiler
meningkat
Perpindahan
cairan dari intra
vascular ke
intraseluler

Vasokontriksi
Pembuluh darah

Hipertensi

Vasospasme
Ginjal

Sel-sel
darah merah
hancur

Hiperfungsi
Ginjal

Kapasitas
O2 maternal
menurun

Hiperfungsi Ginjal
Resiko

Edema umum

Kelebihan
Volume
cairan

Edema Paru

Kerusakan
Glomerulus

Dispneu

Proteinuria

Distress

Gg. Pola nafas

Laporan Pendahuluan Eklampsia


Dian Widiastutik ,S.Kep
STIKES Widyagama Husada Malang

Page 4

Fetal

II.

ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
Data yang dikaji pada ibu dengan pre eklampsia adalah :
1. Data subyektif :
2. Data Obyektif :
a. Identitas pasien dan penanggung jawab
Umur biasanya sering terjadi pada primi gravida , < 20 tahun atau > 35 tahun
b. Riwayat kesehatan ibu sekarang
Terjadi peningkatan tensi, oedema, pusing, nyeri epigastrium, mual muntah,
penglihatan kabur.
c. Riwayat kesehatan ibu sebelumnya
Penyakit ginjal, anemia, vaskuler esensial, hipertensi kronik, DM
d. Riwayat kehamilan
Riwayat kehamilan ganda, mola hidatidosa, hidramnion serta riwayat kehamilan
dengan pre eklampsia atau eklampsia sebelumnya.
e. Riwayat penyakit
Ada hubungan genetik yang telah diteliti.
Riwayat keluarga ibu atau saudara perempuan meningkatkan resiko empat
sampai delapan kali.
f. Pola nutrisi
Jenis makanan yang dikonsumsi baik makanan pokok maupun selingan.
g. Psiko sosial spiritual
Emosi yang tidak stabil dapat menyebabkan kecemasan, oleh karenanya perlu
kesiapan moril untuk menghadapi resikonya.
Inspeksi

: edema yang tidak hilang dalam kurun waktu 24 jam

Palpasi

: untuk mengetahui TFU, letak janin, lokasi edema

Auskultasi : mendengarkan DJJ untuk mengetahui adanya fetal distress


Perkusi

: untuk mengetahui refleks patella sebagai syarat pemberian SM


( jika refleks + )

Laporan Pendahuluan Eklampsia


Dian Widiastutik ,S.Kep
STIKES Widyagama Husada Malang

Page 5

h. Pemeriksaan Fisik :
Pemeriksaan tekanan darah, nadi dan pernafasan minimal setiap 2 sampai 4
jam untuk menetapkan nilai dasar dan memantau perubahan kecil sepanjang
masa hamil.
1. Breathing

: Pernafasan meliputi sesak nafas sehabis aktifitas, batuk

dengan atau tanpa sputum, riwayat merokok, penggunaan obat bantu


pernafasan, bunyi nafas tambahan, sianosis.
2. Suhu setiap 4 jam atau kurang bila terjadi peningkatan suhu tubuh
3. Kecepatan denyut jantung janin setiap 2 sampai 4 jam atau diawasi terus
menerus.
4. Edema dievaluasi pada wajah, ekstremitas dan sacrum setiap 4 jam;
kedalaman ditentukan dengan melakukan penekanan pada area di atas
tulang
5. Berat badan ditentukan setiap hari pada waktu yang sama kecuali tirah
baring ketat
6. Refleks tendon dalam dievaluasi setiap 4 jam terhadap hiperaktivitas dari
tendon bisep, trisep atau achiles
7. Edema pulmoner ditentukan setiap 4 jam sekali dengan melakukan
auskultasi
8. Pelepasan plasenta dikaji setiap jam dengan memeriksa perdarahan vagina
atau rigiditas uterus.

2. Diagnosa keperawatan
Resiko tinggi terjadinya fetal distres berhubungan dengan perfusi darah ke placenta
berkurang.

Tujuan : tidak terjadi fetal distress

Kriteria hasil : DJJ normal / terdengar, bisa berkoordinasi, adanya pergerakan

bayi, bayi lahir selamat.

Laporan Pendahuluan Eklampsia


Dian Widiastutik ,S.Kep
STIKES Widyagama Husada Malang

Page 6

Intervensi
1.

Jelaskan resiko terjadinya dister janin / kematian janin pada ibu

R/ : kooperatif pada tindakan


1.

Hindari tidur terlentang dan anjurkan tidur ke posisi kiri

R/ : tekanan uterus pada vena cava, menyebabkan aliran darah kejantung menurun
sehingga terjadi gangguan perfusi jaringan.
1.

Observasi tekanan darah dan nadi klien

R/ : penurunan dan peningkatan denyut nadi terjadi pad sindroma vena cava sehingga
klien harus di monitor secara teliti.
1.

Oservasi perubahan frekuensi dan pola DJ janin

R/ : penurunan frekuensi plasenta mengurangi kadar oksigen dalam janin sehingga


menyebabkan perubahan frekuensi jantung janin.
1.

Berikan O2 10 12 liter dengan masker jika terjadi tanda-tanda fetal distress

R/ : meningkat oksigen pada janin


1.
2.

Gangguan Perfusi Jaringan berhubungan dengan kapasitas O2 maternal


menurun

3.

Kelebihan Volume cairan berhubungan dengan Perpindahan cairan dari


intra vascular ke intraseluler

4.

Gangguan Pola nafas berhubungan dengan kapasitas O2 maternal


menurun

Rencana Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan spasme korteks serebral
Diagnosa
Tujuan dan criteria hasil

Keperawatan
Nyeri
akut

Setelah dilakukan Intervensi

berhubungan

selama ...... jam

dengan

nyeri berkurang atau hilang.

spasme

Intervensi Keperawatan
Intervensi
1.

diharapkan

korteks serebral

Monitor faktor
faktor

Rasional

1.

terjadinya

hiperthermi.
2.

Mengetahui
penyebab

terjadinya

hiperthermi

Monitortanda

penambahan

Kriteria Hasil :

tanda vital tiap 4 jam

pakaian/selimut

1. klien nampak lebih rileks,

sekali

menghambat

mampu tidur atau istirahat


dengan tepat.

Laporan Pendahuluan Eklampsia


Dian Widiastutik ,S.Kep
STIKES Widyagama Husada Malang

3.

Berikan
Kompres

karena
dapat

penurunan suhu tubuh.


hangat

2.

Pemantauan

Page 7

2.

pada

Tekanan Darah :

dewasa : 110/70
-130/90mmHg

dahi

dan

4.

dapat

Anjurkan

untuk

Nadi : 60-100x/mnt

menggunakan

3. Skala Nyeri Berkurang

tipis dan terbuat dari

Berat

5.

Atur

sirkulasi

keperawatan

6.

Beri
cairan

3.

menganjurkan

panas

4.

Batasi
fisik

proses

hilangnya

oleh pakaian tebal dan

tapi

aktivitas

suatu

panas akan terhalangi


tidak dapat menyerap

sering.
7.

dengan

bahan perantara.

pasien untuk minum


sedikit-sedikit

Proses
konduksi/perpindahan

ekstra
dengan

yang

selanjutnya.

udara ruangan.

: 7-10

menentukan

perkembangan

baju

kain katun

Ringan : 0-3
Sedang : 4-6

tanda vital yang teratur

lipatan tubuh

keringat.

5.

Penyediaan udara
bersih.

6.

Kebutuhan cairan
meningkat

karena

penguapan

tubuh

meningkat.

7.

aktivitas
meningkatkan
metabolismedan
meningkatkan panas.

2. Perfusi Jaringan berhubungan dengan kapasitas O2 maternal


Menurun

Diagnosa
Keperawatan

Tujuan dan criteria hasil

Laporan Pendahuluan Eklampsia


Dian Widiastutik ,S.Kep
STIKES Widyagama Husada Malang

Intervensi Keperawatan
Intervensi

Rasional

Page 8

Perfusi

Jaringan

Setelah

dilakukan

berhubungan

selama ...... jam

dengan kapasitas

perfusi adekuat.

Intervensi

1.

diharapkan

O2 maternal
Menurun

Kriteria Hasil :

Monitor

-TTV stabil

2.

TD

nafas,suhu, dan

menunjukkan indikasi

palpasi

terjadinya pemulihan

nadi
secara

rutin)

: 110/ 70-130 /90

2.

mmHg

1. permonitoran tanda
vital dapat

perifer

1.

tanda

vital (TD, nadi,

atau penurunan
sirkulasi

Monitor

dan

catat

2. Sebagai petunjuk

3.

Nadi : 60-100x/mnt

perdarahan

untuk tindakan

4.

Suhu:

37,20C

pervaginam dan

kedaruratan

mukosa

peningkatan

selanjutnya

36,5

Membran

tinggi

kemerahan

fundus

uteri

Output seimbang dengan


3.

intake Kesadaran normal /


baik

4.

Monitor

intake

3. pemberian intake

dan

output

cairan (secara

untuk

parenatal) dapat

memperbaiki

membantu

sirkulasi volume

mempertahankan

cairan.

volume sirkulasi

Tindakan

4. Pemberian oksigen

kolaborasi

dapat meningkatkan

Pemberian

sirkulasi O2 pada

oksigen

jaringan

sesuai

indikasi

5.

Kelebihan Volume cairan berhubungan dengan Perpindahan cairan dari intra


vascular ke intraseluler

Diagnosa
Tujuan dan criteria hasil

Keperawatan
Kelebihan Volume

Setelah

cairan

selama ...... jam

berhubungan

volume cairan adekuat

dilakukan

Laporan Pendahuluan Eklampsia


Dian Widiastutik ,S.Kep
STIKES Widyagama Husada Malang

Intervensi Keperawatan
Intervensi

Intervensi
diharapkan

1.

Pantau
catat

intake

Rasional
dan
dan

output cairan setiap

1. Dengan
intake

memantau
dan

diharapkan

Page 9

output
dapat

dengan

hari

diketahui

adanya

Perpindahan

Kriteria Hasil :

keseimbangan cairan

cairan dari intra

TTV :

dan

vascular
intraseluler

ke

dapat

1. TD : 110/70-130/90 mmHg

diramalkan keadaan

2. N :60-100x/mnt

dan

3. Tidak nampak tanda-tanda

glomerulus.

kerusakan

edema
2. dengan
2.

Pantau TTV dan

memantau

TTV dan pengisian

catat waktu pengisian

kapiler

kapiler (capillary refill

dijadikan

time-CRT

untuk
caian

dapat
pedoman
penggantian
atai

menilai

respon
kardiovaskular
3.

dan

3. dengan diketahui BB

timbang berat badan

Pantau

ibu maka diharapkan

ibu

akan dapat dengan


mudah

dan

dalam

tepat

penentuan

keseimbangan cairan
4. keadaan

edema

merupakan indikator
4.

Observasi

keadaan

keadaan edema

5.

Berikan

diet

rendah garam sesuai


hasil

cairan

dalam tubuh

kolaborasi

5. Diet Rendah garam


akan

mengurangi

terjadinya kelebihan

dengan ahli gizi

cairan
6. Retensi cairan yang
berlebihan
6.

Monitordistensi
vena

Laporan Pendahuluan Eklampsia


Dian Widiastutik ,S.Kep
STIKES Widyagama Husada Malang

jugularis

dan

bisa

dimanifestasikan
denga

pelebaran

Page 10

perifer

vena

jugularis dan

edema perifer
7. Diuretik
7.

dpapat

meningkatkan filtrasi

Kolaborasi
dengan dokter dalam

glomerulus

pembentukan deuritik

menghambat
penyerapan

dan
sodium

danair dalam tubulus


ginjal

Pola nafas berhubungan dengan kapasitas O2 maternal menurun

Diagnosa
Keperawatan
nafas

berhubungan

dilakukan

Intervensi
selama

dengan
O2

1. Buka jalan nafasdengan tehnik


chin lift

......

diharapkan

kapasitas

jam
pola

nafas efektif

2. Posisikan

klien

untuk

memaksimalkan ventilasi
angan alat jalan nafas buatan

SPO2 : >95%
Tidak
retraksi

hipoksia
suara nafas tambahan

4. Auskultasi

suara

nafas,

catat

adanya suara nafas tambahan


5. Monitor respirasidan status O2

nampak

5. Untuk mengetahui
respirasired dan kebutuhab
O2
6. Mengetahui keadaan

dinding

dada

3. Mencegah terjadinya

4. Untuk mengetahui adanya

Jalan nafas : tidak


RR ; 16-20X/MNIT

2. Memenuhi kebutuhan O2
klien

Kriteria Hasil :
ada obstruksi

1. Agar memudahkan
bernapas dengan lancar

3. Identifikasi jikapasien perlupemas

maternal
menuru

Rasional

criteria hasil
Setelah

Pola

Intervensi Keperawatan
Intervensi

Tujuan dan

umum klien
6. Observasi TTV

DAFTAR PUSTAKA
1.

Iwan Prasetiyo ,Eklampsia

,SMF Obstetri & Ginekologi

: RSUD. RAA

Soewondo .Pati
2. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga, Cetakan Kedua. Jakarta : Media
Aesculapius.

Laporan Pendahuluan Eklampsia


Dian Widiastutik ,S.Kep
STIKES Widyagama Husada Malang

Page 11

Laporan Pendahuluan Eklampsia


Dian Widiastutik ,S.Kep
STIKES Widyagama Husada Malang

Page 12