Anda di halaman 1dari 39

PENDAHULUAN

DEFINISI

PEMBAGIAN INFERTILITAS

FAKTOR PENYEBAB INFERTILITAS PRIA

A. FAKTOR UMUM

B. FAKTOR KHUSUS
a. Pre testikular: keadaan-keadaan diluar testis dan mempengaruhi
proses spermatogenesis.
1. Kelainan endokrin.
1.1 Gangguan sekresi hormon hipotalamus
GonadotropinDeficiency(Kallmann Syndrome)
Jarang (1:50.000 penduduk),
Dapat familial maupun sporadik.
X-linked
Sebagai akibat dari delesi single genregion Xp22.3n,yang disebut KALIG-1.
Gangguan berupa: anosmia, asimetri wajah, buta warna, abnormaltas ginjal,
microphallus, cryptorchidism dan ketiadaan GnRH. Fungsi hipofisis normal
Gejala khas dari sindroma ini adalah gangguan perkembangan pubertas.

Isolated LH Deficiency (Fertile Eunuch)


Kondisi yang sangat langka ini disebabkan defisiensi gonadotropin
parsial
LH cukup diproduksi untuk merangsang produksi testosteron
intratesticular dan spermatogenesis tetapi testosteron tidak cukup
untuk menimbulkan virilisasi yg cukup, variable virilisasi, dan
seringkali timbul ginekomastia.
Khas: ukuran testis normal, tetapi sedikit sperma yang terkandung
dalam ejakulat.
Kadar plasma FSH normal, tapi LH serum dan kadar testosteron
rendah-normal.

Isolated FSH Deficiency


Kondisi yang jarang terjadi
FSH tidak cukup diproduksi oleh hipofisis.
Biasanya virilisasi normal, karena LH tersedia.
Ukuran testis normal, kadar LH dan testosteron normal.
Kadar FSH rendah dan tidak berespon terhadap
rangsangan dengan GnRH.
Jumlah sperma berkisar dari azoospermia sampai
oligospermia.

Congenital Hypogonadotropic Syndromes


Beberapa sindrom berhubungan dengan
hipogonadisme sekunder.
Sindrom Prader-Willi > 1:20.000 orang
Gejala klinis: obesitas genetik, keterbelakangan,
tangan dan kaki kecil, serta hipogonadisme dan
disebabkan oleh kekurangan GnRH hipotalamus.

1.2 Gangguan sekresi hormon hipofisis


Insufisiensi hipofisis
Insufisiensi hipofisis dapat terjadi akibat tumor, infark, pembedahan, atau radiasi.
Pada sickle sel anemia, mikro infark hipofisis dan testis diduga menjadi penyebab
infertilitas. Pria dengan sickle sel anemia memiliki penurunan kadar testosteron dan
kadar LH serta FSH yang bervariasi.
Hiperprolaktinemia
Adenoma hipofisis yang mensekresi prolaktin (Prolactinsecreting pituitary
adenoma) penyebab tersering dan terpenting
Gejala meliputi kehilangan libido, impotensi, galaktore, dan ginekomastia.
Tanda dan gejala kekacauan hormon hipofisis lain (hormon adrenokortikotropik,
Thyroid stimulating hormone) juga harus diselidiki.

Hormon Eksogen atau Endogen


Estrogen
Kelebihan hormon seks steroid, baik estrogen atau androgen, dapat
menyebabkan infertilitas pada laki-laki, disebabkan karena
ketidakseimbangan dalam rasio testosteron-estrogen.
Androgen
Kelebihan androgen dapat menekan sekresi gonadotropin hipofisis
dan menyebabkan kegagalan testis sekunder.
Glukokortikoid
Paparan berlebih glukokortikoid baik endogen maupun eksogen dapat
mengakibatkan penurunan spermatogenesis.

Hiper-dan hipotiroidisme
Abnormalitas kadar hormon tiroid serum baik tinggi atau rendah
mempengaruhi spermatogenesis baik pada tingkat hipofisis dan testis.

Growthhormon (Hormon pertumbuhan)


Beberapa penelitian membuktikan bahwa hormon pertumbuhan
mungkin berperan dalam infertilitas pria.Beberapa pria infertil memiliki
respon rendah terhadapgrowth hormon challenge testdan berespon
terhadap terapi hormon pertumbuhan dengan peningkatan kualitas
semen.

FAKTOR TESTIKULAR

Cedera Testis

ORCHITIS
infeksi bakteri, disebut epididymo-orchitis.

Infeksi virus juga terjadi di testis dalam bentuk orchitis parotitis.

Atrofi testis adalah hasil akhir yang signifikan dan sering terjadi pada orchitis virus tetapi
lebih jarang pada infeksi bakteri.

TORSIO TESTIS

Cedera iskemik pada testis sekunder akibat terpuntirnya testis pada pedikel korda spermatika
sering dijumlai pada anak laki-laki prapubertas dan pasca pubertas awal.

TRAUMA

Karena status imunologi testis adalah khas pada tubuh , maka trauma pada testis
menyebabkan respon imun abnormal selain atrofi akibat cedera.

Cryptorchidism
Laki-laki dengan adesensus testis baik unilateral maupun
bilateral memiliki risiko untuk terjadinya infertilitas.

Varicocele
Terjadinya pemanjangan dan dilatasi serta kelokan-kelokan dari
pleksus pampiriformis yang mengakibatkan terjadinya gangguan
vaskularisasi testis yang akan mengganggu proses
spermatogenesis.

FAKTOR POST TESTIKULAR

Obstruksi Saluran Reproduksi

Bagian posttesticular dari saluran reproduksi meliputi epididimis, vas deferens, vesikula
seminalis, dan terkait alat ejakulasi.

OBSTRUKSI KONGENITAL

1 . Cystic fibrosis - CF adalah kelainan genetik autosomal resesif yang paling


umum di Amerika Serikat dan fatal. Hal ini terkait dengan kelainan cairan dan
elektrolit (abnormal uji klorida - keringat ) dan muncul dengan PPOK serta
infeksi, insufisiensi pankreas, dan infertilitas. Menariknya , 99 % dari pria
dengan CF didapatkan ada bagian yang hilang dari epididimis.

2 . Young syndrome

sindrom muda ditandai dengan triad sinusitis kronis , bronkiektasis dan


obstruktif azoospermia . Obstruksi berada pada level epididimis.

3 . Obstruksi Epididimis Idiopatik

Obstruksi epididimis idiopatik adalah suatu kondisi yang relatif jarang ditemukan
pada pria sehat

4 . Penyakit Ginjal Polikistik Dewasa


Adalah gangguan autosomal dominan yang terkait dengan
berbagai kista ginjal , hati, limpa , pankreas , epididimis , vesikula
seminalis , dan testis
5 . Penyumbatan duktus ejakulatorius
Penyumbatan duktus ejakulatorius yang merupakan saluran halus,
berpasangan, tubulus kolagen yang menghubungkan vas deferens
dan vesikula seminalis ke uretra, disebut obstruksi duktus
ejakulatorius.

B. OBSTRUKSI DIDAPAT

1. Vasektomi

Vasektomi dilakukan pada 800.000 orang per tahun di Amerika Serikat untuk
kontrasepsi. Selanjutnya, 5% dari orang-orang ini dilakukan vasectomy reversed karena
pernikahan ulang.

2. Operasi Inguinal dan Hernia

Operasi daerah inguinal dan operasi hernia dapat mengakibatkan obstruksi vas deferens
pada 1% kasus. Ada kekhawatiran bahwa Marlex mesh yang digunakan untuk perbaikan
hernia dapat menambah peradangan perivasal dan meningkatkan kemungkinan
obstruksi.

3. Infeksi bakteri

Infeksi bakteri (E. coli pada pria usia > 35 atau Chlamydia trachomatis pada laki-laki
muda) dapat melibatkan epididimis, dengan jaringan parut dan obstruksi.

FAKTOR LINGKUNGAN

1.

Suhu, memegang peranan penting pada spermatogenesis.

Pada mamalia spermatazoa hanya dapat diproduksi bila suhu testis 29-300C, sedikitnya.
1,5-20C dibawah suhu tubuh, kenaikan suhu beberapa derajat akan menghambat proses
spermatogenesis, sebaliknya suhu rendah akan meningkatkan spermatogenesis pada
manusia.

2.

Tempat/dataran tinggi.

Atmosfer dataran tinggi (high altitude) juga menghambat pembuatan spermatozoa.

3.

Sinar Rontgen

Spermatogonia dan spermatosit sangat peka terhadap sinar Rontgen, tapi spermatic dan sel
sertoli tidak banyak terpengaruh. Bahan kimia dan obat-obatan tertentu dapat menghambat
proses spermatogenesis, misal metronidazol, simetidin dan lain-lain.

PEMERIKSAAN INFERTILITAS PRIA

ANAMNESA

1. Lama Menikah,

2. Usia Pasangan,

3. Pekerjaaan,Frekuensi

4. Waktu Melakukan Hubungan Seksual

5. Riwayat Medis, riwayat operasi, riwayat fertilitas, riwayat seksual,

riwayat keluarga, riwayat penggunaan obat-obatan, riwayat pekerjaan

PEMERIKSAAN FISIK

Inspeksi

Tanda tanda kurangnya rambut di tubuh atau ginekomastia menunjukkan adanya defisiensi
androgen

Palpasi

Saat berdiri: ukuran testis dan konsistensi. Ukuran yang lebih kecil dan lebih lunak
menunjukkan adanya gangguan spermatogenesis

Daerah peritesticular juga harus diperiksa . Iregularitas epididimis, yang terletak posterior
lateral testis, termasuk indurasi, kelembutan, atau kista. Ada atau tidak adanya vas deferens
skrotum

Kelainan penis seperti hipospadia, kelengkungan yang abnormal , atau


phimosis bisa mengakibatkan pengiriman semen ke vagina bagian atas
saat berhubungan seksual menjadi inadekuat.
Rectal touche
Infeksi prostat dapat dideteksi dengan ditemukannya nyeri pada prostat
saat pemeriksaan rektal .
Kanker prostat , sering dicurigai apabila didapatkan konsistensi yang
tidak biasa atau nodul pada prostat , kadang-kadang dapat ditemukan
pada pria infertil.
Vesikula seminalis membesar, mengindikasikan obstruksi duktus
ejakulatorius, mungkin juga teraba pada pemeriksaan rektal.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pengambilan semen

Volume air mani bisa naik hingga 0,4 mL 9 1 minggu ) , dan konsentrasi sperma dapat
meningkat 10-15 juta / mL

Kualitas semen : 48-72 jam 2 sampel semen

Cara : masturbasi

Harus dianalsis dalam 1 jam motiliitas menurun

Organisasi Kesehatan Dunia mendefinisikan nilai-nilai referensi berikut (WHO, 1999):

Volume: 2,0 mL atau lebih

pH: 7.2 atau lebih

Konsentrasi sperma: 20 106 atau lebih spermatozoa / mL

Total jumlah sperma: 40 106 atau lebih spermatozoa per ejakulasi

Motilitas: 50% atau lebih dengan nilai "a + b" motilitas atau 25% atau lebih dengan nilai "a"
motilitas

Morfologi: 15% atau lebih menurut kriteria yang ketat

Viabilitas: 75% atau lebih sperma yang layak

Leukosit: Kurang dari 1 juta / mL.

EVALUASI HORMONAL

ANALISIS SEMEN DENGAN COMPUTER (CASA)

FRUKTOSA SEMINAL DAN URINALISIS POST EJAKULASI

ULTRASOUND SCROTAL

VENOGRAFI

ULTRASOUND TRANSRECTAL

COMPUTED TOMOGRAPHY SCAN (CT SCAN) ATAU MAGNETIC RESONANCE IMAGING


(MRI) PELVIS

BIOPSI TESTIS & VASOGRAPHY

FINE- NEEDLE ASPIRATION " PEMETAAN " TESTIS

KULTUR SEMEN

PENANGANAN
SURGICAL
NONSURGICAL
MEDICAL THERAPHY

SURGICAL

Insisi, ligasi vena , percutaneus embolisasi dan laparoskopi varikokel mengeliminasi


refluks retrograd vena melewati vena spermatica interna

Vasovasostomy

TURED Ejaculatory Duct Obstruction

Sperm Aspiration tidak adanya sistem duktus atau tidak dapat direkonstruksi
operasi

Orchidopexy

Pituitary Ablation serum prolactin ( adenoma pituitsry)

NONSURGICAL TREATMENTS

A. PYOSPERMIA

COITAL THERAPY

IMMUNOLOGICIN FERTILITY

MEDICALTHERAPY

1. HyperprolactinemiaNormal levels of prolactin in men help sustain high intratesticular


testosterone levels and affect the growth and secretions of the accessory sex glands. Visible lesions
are generally treated with transsphenoidal surgery, and nonvisible lesions are treated with
bromocriptine, 510g daily, to restore normal pituitary balance.

2. Hypothyroidism

Replacement or removal of low or excessive thyroid hormone is effective

treatment for infertility.

3. Congenital adrenal hyperplasiaMost commonly,

the 21-hydroxylase enzyme is deficient, and defective cortisol production results.

4.Testosterone excess/deficiency

hCG, 10002000 U three times weekly, and recombinant FSH 75 IU twice weekly, to replace LH and
FSH. It is also possible to give GnRH replacement in a pulsatile manner, 2550 ng/kg every 2 hours,
by a portable infusion pump

EMPIRIC MEDICAL THERAPY

CLOMIPHENECITRATE

Clomiphene citrate is a synthetic nonsteroidal drug that

acts as an antiestrogen and competitively binds to estrogen receptors in the hypothalamus


and pituitary . The enhanced output of

these hormones increases testosterone production and

sperm production.

ANTIOXIDANT THERAPY

GROWTH HORMONE