Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN 1.

1
Latar Belakang
Dalam teknik lingkungan dan bidang-bidang terkait,
unit operasi
adalah suatu tahapan dasar dalam suatu proses. Unit operasi tidak hanya
mengubah suatu zat seperti reaksi di dalam reaktor kimia namun juga terjadi
perubahan fisik maupun fasa seperti pemisahan, kristalisasi, penguapan, filtrasi
dan beberapa contoh lainnya. Sebagai contoh dalam pemrosesan susu,
homogenisasi, pasteurisasi, pendinginan, dan pengemasan, masing-masing
merupakan suatu unit operasi yang berhubungan untuk menghasilkan
keseluruhan proses. Suatu proses dapat terdiri dari banyak unit operasi untuk
mendapatkan produk yang diinginkan.
Pada awalnya, industri kimia dianggap sebagai proses industri yang berbeda dengan
prinsip-prinsip yang berbeda pula. Pada tahun 1923, William H. Walker, Warren
K. Lewis dan William H. McAdams menulis buku
The Principles of Chemical Engineering
menjelaskan bahwa berbagai industri kimia mengikuti hukum-hukum fisika
yang sama. Mereka menyimpulkan proses-proses yang serupa ini ke dalam unit
operasi. Setiap unit operasi mengikuti hukum fisika yang sama dan dapat
digunakan pada semua industri kimia. Unit operasi menjadi prinsip dasar dalam
bidang teknik kimia. Unit operasi dalam teknik kimia secara garis besar dapat
dibagi dalam lima kelas: 1.
Proses aliran fluida, termasuk perpindahan fluida, filtrasi, fluidisasi padatan,
dll. 2.

Proses perpindahan panas, termasuk evaporasi, kondensasi, dll. 3.


Proses perpindahan massa, termasuk absorpsi gas, distilasi, ekstraksi, adsorpsi,
pengeringan, dll. 4.
Proses termodinamis, termasuk pencairan gas, refrigerasi, dll. 5.
Proses mekanis, termasuk transportasi padatan, pencadaran (
screening
) dan pengayakan (
sieving
), dll
Unit-unit operasi juga dapat dikelompokkan menjadi: 1.
Kombinasi (misalnya pencampuran) 2.
Pemisahan (misalnya distilasi) 3.
Reaksi (misalnya reaksi kimia) Unit operasi dan unit proses teknik kimia
membentuk dasar utama untuk segala jenis industri kimia dan merupakan dasar
perancangan pabrik kimia serta alat-alat yang digunakannya.
Gambar 1. Diagram unit operasi ekstraksi bijih dari tahun 1900-an

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Evaporator 2.1.1 Pengertian


Proses evaporasi telah dikenal sejak dahulu, yaitu untuk membuat garam
dengan cara menguapkan air dengan bantuan energi matahari dan angin.
Evaporasi adalah salah satu kaedah utama dalam industri kimia untuk
memekatkan larutan yang encer. Pengertian umum dari evaporasi ini adalah
menghilangkan air dari larutan dengan mendidihkan larutan di dalam tabung
yang sesuai yang disebut evaporator. Evaporasi bertujuan untuk memekatkan

larutan yang terdiri dari zat terlarut yang tidak mudah menguap dan pelarut
yang mudah menguap. Sedangkan evaporator adalah sebuah alat yang berfungsi
mengubah sebagian atau keseluruhan sebuah pelarut dari sebuah larutan dari
bentuk cair menjadi uap. Ada beberapa macam-macam dari evaporator, sesuai
dengan tujuan penggunaannya dan bentuknya pun berbeda-beda. Hal tersebut
disebabkan karena tergatung dari jumlah atau volume zat cair yang ingin
diuapkan, bisa juga tergantung pada kepekatan zat cair tersebut. Evaporator
mempunyai dua prinsip dasar yaitu untuk menukar panas dan untuk memisahkan uap
yang terbentuk dari cairan.
2.1.2
Prinsip Kerja Evaporator

Pemekatan larutan didasarkan pada perbedaan titik didih yang sangat besar
antara zat-zatnya.

Titik didih cairan murni dipengaruhi oleh tekanan.

Dijalankan pada suhu yang lebih rendah dari titik didih normal.

Titik didih cairan yang mengandung zat tidak mudah menguap (misalnya: gula)
akan tergantung tekanan dan kadar zat tersebut.

Beda titik didih larutan dan titik didih cairan murni disebut Kenaikan titik didih.


Harus dipanaskan ke suhu yang lebih tinggi yang ada diefek awal.
2. Evaporator film

aduk Banyak digunakan untuk menangani bahan viskos yang peka


panas, berlumpur bahkan kering seperti gelatin, lateks karet,
antibiotika dan sari buah yang merupakan modifikasi daripada
evaporator film jatuh yang mempunyai tabung tunggal
bermantel, di mana di dalam tabung itu terdapat sebuah
pengaduk. Umpan masuk dari puncak bagian bermantel dan
disebarkan menjadi film tipis yang sangat turbulen dengan
bantuan daun-daun vertikal agitator (pengaduk) itu, dalam
separator, zat cair yang terbawa ikut dilemparkan ke arah luar
oleh daun-daun agitator, sehingga menumbuk plat-plat vertikal
yang stasioner. Tetesan-tetesan itu bergabung (koalesensi)
pada plat ini dan kembali ke bagian evaporasi. Uap bebas zat
cair itu lalu keluar melalui lubang ke luar pada bagian atas unit
itu.
2.2 Destilasi 2.2.1 Pengertian
Destilasi adalah suatu proses pemisahan yang sangat penting
dalam berbagai industri kimia. Operasi ini bekerja untuk
memisahkan suatu campuran menjadi komponenkomponennya berdasarkan perbedaan titik didih. Destilasi ini
selalu digunakan untuk memisahkan minyak bumi menjadi
fraksi-fraksinya, memisahkan suatu produk kimia dari

pengotornya, dan sangat diperlukan dalam industri obatobatan.


Metode ini merupakan termasuk unit operasi kimia jenis
perpindahan massa.
2.2.2 Jenis

jenis Destilasi
Ada 4 jenis distilasi diantaranya adalah : 1.
Distilasi Sederhana Pada distilasi sederhana, dasar
pemisahannya adalah perbedaan titik didih yang jauh atau
dengan salah satu komponen bersifat volatil. Jika campuran
dipanaskan maka komponen yang titik didihnya lebih rendah
akan menguap lebih dulu. Selain perbedaan titik didih, juga
perbedaan kevolatilan, yaitu kecenderungan sebuah substansi
untuk menjadi gas. Distilasi ini dilakukan pada
tekanan atmosfer. Aplikasi distilasi sederhana digunakan untuk
memisahkan campuran air dan alkohol. 2.
Destilasi Fraksionisasi Fungsi destilasi fraksionasi adalah
memisahkan komponen-komponen cair, dua atau lebih, dari
suatu larutan berdasarkan perbedaan titik didihnya. Distilasi ini
juga dapat digunakan untuk campuran dengan perbedaan titik
didih kurang dari 20 C dan bekerja pada tekanan atmosfer
atau dengan tekanan rendah. Aplikasi dari distilasi jenis ini
digunakan pada industri minyak mentah, untuk memisahkan

komponen-komponen dalam minyak mentah. Perbedaan


destilasi fraksionasi dan distilasi sederhana adalah adanya
kolom fraksionasi. Di kolom ini terjadi pemanasan secara
bertahap dengan suhu yang berbeda-beda pada setiap platnya.
Pemanasan yang berbeda-beda ini bertujuan untuk pemurnian
distilat yang lebih dari plat-plat di bawahnya. Semakin ke atas,
semakin tidak volatil cairannya. Minyak mentah (crude oil)
sebagian besar tersusun dari senyawa-senyawa hidrokarbon
jenuh (alkana). Adapun hidrokarbon tak jenuh (alkena, alkuna
dan alkadiena) sangat sedikit dkandung oleh minyak bumi,
sebab mudah mengalami adisi menjadi alkana.
Gambar 2.3
Destilasi Fraksionasi

Oleh karena minyak bumi berasl dari fosil organisme, mak


minyak bumi mengandung senyawa-senyawa belerang (0,1

sampai 7%), nitrogen (0,01 sampai 0,9%), oksigen (0,6-0,4%)


dan senyawa logam dalam jumlah yang sanagt kecil. Minyak
mentah dipisahkan menjadi sejumlah fraksi-fraksi melalui
proses destilasi (penyulingan). 3.
Destilasi Uap Destilasi uap digunakan pada campuran senyawasenyawa yang memiliki titik didih mencapai 200 C atau lebih.
Destilasi uap dapat menguapkan senyawa-senyawa ini dengan
suhu mendekati 100 C dalam tekanan atmosfer dengan
menggunakan uap atau air mendidih. Sifat yang fundamental
dari distilasi uap adalah dapat mendistilasi campuran senyawa
di bawah titik didih dari masing-masing senyawa campurannya.
Selain itu distilasi uap dapat digunakan untuk campuran yang
tidak larut dalam air di semua temperatur, tapi dapat didistilasi
dengan air. Aplikasi dari distilasi uap adalah untuk mengekstrak
beberapa produk alam seperti minyak eucalyptus dari
eucalyptus, minyak sitrus dari lemon atau jeruk, dan untuk
ekstraksi minyak parfum dari tumbuhan. Campuran dipanaskan
melalui uap air yang dialirkan ke dalam campuran dan mungkin
ditambah juga dengan pemanasan. Uap dari campuran akan
naik ke atas menuju ke kondensor dan akhirnya masuk ke labu
distilat. 4.
Destilasi Vakum Destilasi vakum biasanya digunakan jika
senyawa yang ingin didistilasi tidak stabil, dengan pengertian
dapat terdekomposisi sebelum atau mendekati titik didihnya
atau campuran yang memiliki titik didih di atas 150 C. Metode
distilasi ini tidak dapat digunakan pada pelarut dengan titik

didih yang rendah jika kondensornya menggunakan air dingin,


karena komponen yang menguap tidak dapat dikondensasi oleh air.
Untuk mengurangi tekanan digunakan pompa vakum atau
aspirator. Aspirator berfungsi sebagai penurun tekanan pada
sistem distilasi ini
zat yang diserap (adsorbat). Definisi lain menyatakan adsorpsi
sebagai suatu peristiwa penyerapan pada lapisan permukaan
atau antar fasa, dimana molekul dari suatu materi terkumpul
pada bahan pengadsorpsi atau adsorben.
Gambar 2.5
Karakteristik Adsorpsi
2.4.2 Jenis

jenis Adsorpsi
1.
Adsorpsi fisika Berhubungan dengan gaya Van der Waals.
Apabila daya tarik menarik antara zat terlarut dengan adsorben
lebih besar dari daya tarik menarik antara zat terlarut dengan
pelarutnya, maka zat yang terlarut akan diadsorpsi pada
permukaan adsorben. Adsorpsi ini mirip dengan proses
kondensasi dan biasanya terjadi pada temperatur rendah pada
proses ini gaya yang menahan molekul fluida pada permukaan
solid relatif lemah, dan besarnya sama dengan gaya kohesi
molekul pada fase cair (gaya van der waals) mempunyai
derajat yang sama dengan panas kondensasi dari gas menjadi

cair, yaitu sekitar 2.19-21.9 kg/mol. Keseimbangan antara


permukaan solid dengan molekul fluida biasanya cepat tercapai
dan bersifat reversibel. 2.
Adsorpsi Kimia Yaitu reaksi yang terjadi antara zat padat
dengan zat terlarut yang teradsorpsi. Adsorpsi ini bersifat
spesifik dan melibatkan gaya yang jauh lebih

besar daripada Adsorpsi fisika. Panas yang dilibatkan adalah


sama dengan panas reaksi kimia. Menurut Langmuir, molekul
teradsorpsi ditahan pada permukaan oleh gaya valensi yang
tipenya sama dengan yang terjadi antara atom-atom dalam
molekul. Karena adanya ikatan kimia maka pada permukaan
adsorbent akan terbentuk suatu lapisan atau layer, dimana
terbentuknya lapisan tersebut akan menghambat proses
penyerapan selanjutnya oleh batuan adsorbent sehingga
efektifitasnya berkurang.
2.4.3

Jenis

jenis Adsorben
Adsorben ialah zat yang melakukan penyerapan terhadap zat
lain (baik cairan maupun gas) pada proses adsorpsi. Umumnya
adsorben bersifat spesifik, hanya menyerap zat tertentu.
a.
Karbon aktif/ arang aktif/ norit
Arang aktif adalah bahan berupa karbon bebas yang masingmasing berikatan secara kovalen atau arang yang telah dibuat
dan diolah secara khusus melalui proses aktifasi, sehingga poriporinya terbuka dan dengan demikian mempunyai daya serap
yang besar terhadap zat-zat lainnya, baik dalam fase cair
maupun dalam fase gas. Dengan demikian, permukaan arang
aktif bersifat non- polar.
b.
Gel Silika
Merupakan bahan yang terbuat dari
add treatment
dari larutan sodium silikat yang dikeringkan. Luas permukaanya
600-800 m
2
/g dengan diameter pori antara 20-50. Gel silika cocok
digunakan untuk mengadsorpsi gas dehidrat dan untuk
memisahkan hidrokarbon.

c.
Alumina Aktif
Alumina aktif cocok digunakan untuk mengadsorpsi gas kering
dan Liquid. Luas permukaannya 200-500 m
2
/g dan diameter porinya 20-140.
2.5
Ekstraksi 2.5.1 Pengertian
Ekstraksi adalah teknik pemisahan untuk mengeluarkan satu
komponen campuran dari zat padat atau cair dengan bantuan
pelarut. Seringkali campuran bahan padat dan cair (misalnya
bahan alami) tidak dapat atau sukar sekali dipisahkan dengan
metode pemisahan mekanis atau termis yang telah
dibicarakan. Misalnya saja, karena komponennya saling
bercampur secara sangat erat, peka terhadap panas, beda
sifat-sifat fisiknya terlalu kecil, atau tersedia dalam konsentrasi
yang terlalu rendah. Ekstraksi minyak atau lemak adalah suatu
cara untuk mendapatkan minyak atau lemak dari bahan yang
diduga mengandung minyak atau lemak. Adapun ekstraksi
minyak atau lemak itu bermacam-macam, yaitu rendering (dry
rendering dan wet rendering), mechanical expression dan
solvent extraction.
Gambar 2.6
Tangki Ekstraktor

2.5.2
Klasifikasi Ekstraksi
1.
Rendering
Rendering merupakan suatu cara ekstraksi minyak atau lemak
dari bahan yang diduga mengandung minyak atau lemak
dengan kadar air yang tinggi. Pada semua cara rendering,
penggunaan panas adalah sesuatu yang spesifik, yang
bertujuan untuk menggumpalkan protein pada dinding sel
bahan dan untuk memecahkan dinding sel tersebut sehingga
mudah ditembus oleh minyak atau lemak yang terkandung
didalamnya. Menurut pengerjaannya rendering dibagi dengan
dua cara,yaitu : a.

Wet rendering Wet rendering adalah proses rendering dengan


penambahan sejumlah air selama berlangsungnya proses
tersebut. Cara ini dikerjakan pada ketel yang terbuka atau
tertutup dengan menggunakan temperature yang tinggi serta
tekanan 40 sampai 60 pound tekanan uap (40-60psi). Peralatan
yang digunakan adalah autoclave atau digester. Air dan bahan
yang akan diekstraksi dimasukan kedalam digester dengan
tekanan uap air sekitar 40 sampai 60 pound selama 4-6 jam. b.
Dry rendering Dry rendering adalah proses rendering tanpa
penambahan air selama proses berlangsung. Dry rendering
dilakukan dalam ketel yang terbuka dan dilengkapi dengan
steam jacket serta alat pengaduk (agitator). Bahan yang
diperkirakan mengandung minyak atau lemak dimasukkan
kedalam ketel tanpa penambahan air. Bahan tadi dipanaskan
sambil diaduk. Pemanasan dilakukan pada suhu 220F sampai
230F (105C-110C). Ampas bahan yang telah diambil
minyaknya akan diendapkan pada dasar ketel. Minyak atau
lemak yang dihasilkan dipisahkan dari ampas yang telah
mengendap dan pengambilan minyak dilakukan dari bagian atas
ketel.
3
Pengepresan Mekanik (mechanical expression)
Pengepresan mekanis merupakan suatu cara ekstraksi minyak
atau lemak,terutama untuk bahan bahan yang berasal dari bijibijian. Cara ini dilakukan untuk memisahkan minyak dari bahan

yang berkadar minyak tinggi (30-70%). Pada pengepresan


mekanis ini diperlukan perlakuan pendahuluan
BAB III KESIMPULAN
Unit operasi adalah unit yang mempunyai peranan penting dalam pemprosesan
suatu pabrik atau indusri teknik kimia. Dalam paper ini unit operasi yang
dijabarkan adalah :

Evaporator

Destilasi

Absorpsi

Adsorpsi