Anda di halaman 1dari 34

FLORA USUS

dr. Vicky S Budipramana

Didalam usus setiap orang terdapat 100 triliun bakteri


hidup dari berbagai spesies, disebut intestinal flora

Diperkirakan jumlahya melebihi jumlah seluruh sel


dalam tubuh
(Galland, 1998)

Jumlah

mikro organisme dalam gaster


diperkirakan 103 - 106 /g ,

Duodenum
Ileum

lebih jarang yaitu 0 - 103 /g,

106 - 108 /g,

Kolon

terbanyak yaitu 109 - 1011 /g terutama


dihuni oleh kuman anaerob.

Flora

didalam usus tersebut dapat hidup secara


simbiose mutualistik atau antagonistik terhadap
host.

Flora usus dapat dikelompokkan


menjadi tiga grup yaitu :

Grup bakteri asam laktat :


termasuk Bifidobacterium, Lactobacillus, Streptococcus

Grup anaerob :
Bacteroidaceae, Eubacterium, Peptococcaceae,
Veillonella, Megasphaera, Gemmiger, Clostridium dan
Treponema

Grup aerobik :
Enterobacteriaceae, Staphylococcus, Bacillus,
Corynebacterium, pseudomonas, dan yeast

PERTAHANAN USUS

Lapisan epitel usus terdiri dari:


Sel

sel dengan pertumbuhan dan turn over yang cepat ,


Secara konstan memproduksi mukus sebagai lapisan
pelindung.

Kedua hal ini merupakan mekanisme pertahanan


innate terhadap ancaman dari mikroba usus.

Jaringan usus beratnya hanya 5% dari berat tubuh,


tapi mengkonsumsi oksigen sebanyak 15-30%
kebutuhan oksigen seluruh tubuh, karena tingginya
turn over dan metabolisme sel epitel
(Anderson, 2002)

Fetus

lahir usus dalam keadaan steril

Pada

hari pertama dan kedua kehidupan ,usus


besar neonatus mulai terisi oleh susu dan mulai
tumbuh koloni enterobacteriaceae, streptococci,
enterococci dan clostridia.

Hari

ke 4-7 bifidobacteria menjadi dominan


dengan jumlah 1010-1011 per gram feses

Orang

usia tua bifidobacteria jumlahnya


menurun bahkan hilang, sedang clostridia ,
lactobacilli, streptococci dan enterobacteriaceae
jumlahnya meningkat
(Vegan, 2005)

Komposisi:
Komposisi

sehat

flora usus relatif stabil pada orang

Dapat

berubah baik karena faktor endogen atau


eksogen

Mis

: gangguan peristaltik, kanker lanjut ,


operasi pada usus, penyakit ginjal, hati, anemia,
blind loop syndrome, radiasi, emotional stress,
gangguan sistim imun, pemberian antibiotika
dan proses ketuaan.

Faktor

diet mempengaruhi host melalui aktifitas


flora usus.

Diet

dalam jumlah besar animal fat, merangsang


sekresi bile, sehingga asam empedu dan
cholesterol dalam usus meningkat,

Kemudian

diubah oleh bakteri usus menjadi


secondary bile acid dan derivatnya yaitu
aromatic polycyclic hydrocarbons, oestrogen
dan epoxides yang bersifat karsinogenik.

Intake

rendah serat (fiber) disertai dengan


meningkatnya insidens kanker kolorektal .

Hal

ini karena fungsi serat meningkatkan


volume feses, dilusi noxious substances
dan memperpendek transit time dari isi
usus sehingga terjadi ekskresi yang cepat
dari karsinogen
(Mitsuoka, 1996)

Fungsi flora normal:


Hambat

kolonisasi kuman patogen


Absorbsi makanan
Modulasi ekspresi gen untuk fungsi saluran cerna
Stimulasi sistim imun
(Hooper, 2001)

Penderita atopi , jumlah flora normal


bifidobakteria lebih sedikit daripada orang
normal
( Bischoff, Crowe, 2004)

Flora normal:

Adalah populasi mikro organisme yang tinggal dalam


membran mukosa usus orang normal yang sehat.

2 kelompok besar :

Flora residen: tipe tertentu, area tertentu, umur tertentu, relatif


tetap.
Flora transien: Bisa patogen atau nonpatogen, selama beberapa
waktu, diperoleh dari lingkungan, jumlah sangat sedikit
dibanding dengan flora residen.

Bila flora residen terganggu, maka flora transien dapat


berkolonisasi, berproliferasi dan menimbulkan penyakit.

Kolonisasi

flora normal setelah bayi lahir


adalah faktor penentu maturitas sistim
imun dan toleransi imunologik.

Produksi

IgA mencapai 10 X lipat bila


terjadi kolonisasi.

Bayi

minum ASI yang menonjol adalah


koloni Bifidobacterium dan Lactobacillus.
(Hammerman, 2004)

Flora

normal sebagian berada di lumen, dan


sebagian menempel pada membran mukosa

Gram

+ tertentu (Streptococci dan Lactobacilli)


melekat dengan dinding usus menggunakan
polisakarida dan lipoteichoic acid

Gram-

melekat dengan menggunakan fimbriae


yang spesifik.

Makromolekul

bakteri berikatan dengan reseptor


spesifik dinding saluran cerna.
(Kelley,2005; Neste,2004)

Flora normal membantu:


Mengembangkan

kapiler usus secara optimal

Mencerna

makanan yang tidak mampu dicerna


oleh manusia

Sintesa

vit K dan B kompleks

Mencerna

senyawa yang produk akhirnya


berupa karsinogen
(Backhed, 2004)

INTERAKSI :
Kompetisi

dengan mikroba patogen pada


reseptor host

Kompetisi

dalam memperoleh makanan

Hambat

perkembangan patogen dengan


produk metabolik: peroksidase, bakteriosin
(Brooks, 2004)

Flora normal berperan dalam modulasi


ekspresi gen host dalam imunitas non
spesifik:
Fungsi

absorbsi makanan
Fungsi barier mukosa
Metabolisme Xenobiotic
Angiogenesis, perkembangan kapiler usus
Sintesis vit B dan K
Perkembangan GALT (Gut Associated Lymphoid
Tissue)
Maturasi saluran cerna setelah lahir
(Hooper, 2001)

Flora normal merangsang imunitas adaptif:


Maturasi

sel APC ( sel monosit dan dendritik)

Monosit

memproduksi Interlekin 12p70 , TNF ,


IL-6 dan IL-10 lebih banyak

Respons

sel dendritik terhadap stimulasi oleh


gram + , lebih rendah , dibandingkan
responsnya terhadap stimulasi gram
(Karlsson,2004)

Mekanisme pertahanan host:


Pertahanan

non spesifik: mucin, glikoprotein


saliva, laktoferin, lizozim, peroksidase, histatin,
sistatin

Pertahanan

selular: lekosit PMN dan MN (sel B,


sel T dan makrofag) akan bekerja sebagai
fagosit

Pertahanan

humoral: IgG, IgA dan IgM


(Cumming,2004 ; Abreau,2003)

Sifat

proteolisis asam lambung dan


empedu akan merusak struktur Ag dan
epitop.

Bayi

yang diberi H2-blocking, maka


efektifitas netralisasi kuman dan protein
asing berkurang.
(Bernstein,2002)

Fungsi mukus (disekresi oleh vakuola sel


Goblet) :
Mencegah

kontak langsung kondisi hiper-hipo


osmoler pada permukaan mukosa

Membungkus Ag

dan patogen, dan


mendorongnya ke distal

Membatasi

absorbsi molekul besar (Ag), sedang


molekul makanan dengan mol kecil masih bisa
masuk

Perlekatan (adherence):
Syarat

bakteri dapat hidup, harus melekat pada


permukaan mukosa

Adhesin

mikroba: polisakaeida, lipoteichoic acid,


glucosyl transferase, carbohydrate binding
protein (lectin)

Molekul

adhesin terdapat pada: dinding sel,


fimbriae, kapsul bakteri
(Neste, 2004)

Perlekatan:
Perlekatan

adalah hasil fisikokimia antara


bakteri dan permukaan mukosa

Lipoteichoic

acid mikroba dapat


berinteraksi dengan komponen negatif
mukosa, melalui ion kalsium, dengan
ikatan hidrogen atau ikatan hidrofobik.
(Brooks,2004)

Interaksi antar mikroba:

Ko-agregasi menyebabkan perlekatan tak langsung


pada mukosa

Ko-agregasi: bakteri lebih resisten terhadap fagositosis


oleh netrofil host.

Penggunaan oksigen oleh bakteri anaerob fakultatif -->


02 turun --> kolonisasi anaerob timbul

Metabolisme KH oleh Streptococcus dan Actinomyces


menghasilkan laktat --> digunakan oleh Veillonella untuk
produksi vit K
(Walker,2002)

Mengurangi fungsi mukus:


Malnutrisi,

produksi mucin menurun

Bakteri

yang memproduksi proteinase,


memecah peptida pengikat enzim pada dinding
usus.

Perputaran

cepat permukaan mikrovilus, lebih


cepat menghilangkan komponen mukus di
permukaan.
(Walker,2000)

Epitel usus:
Banyak

terdapat sel limfosit T bersifat


sitotoksik, memproduksi sitokin

Sel

Goblet memproduksi mukus

Barrier
Zona

permeabilitas:

occludens: tight junction


Zona adherens: adhesion junction
Macula adherens: desmosom

Barrier:
Mikrovili

bermuatan negatif, makromolekul dan


partikel bermuatan listrik sulit masuk

Hanya

mengijinkan masuknya cairan, elektrolit


dan molekul yang panjangnya tak lebih dari 11
asam amino.

Kondisi

patologis, junction interseluler berubah,


dapat dilalui molekul yang lebih besar

Enterobacteriaceae
Gram

negative, rod
Facultative aerob or anaerob
Famili: escherichia, shigella, salmonella,
enterobacter, klebsiella, serratia, proteus, dll
E coli : menimbulkan penyakit secara
insidental
Salmonella dan shigella selalu patogen

TAXONOMIC RANKS:
Kingdom : Prokaryotae
Division : Gracilicutes
Class
: Scotobacteria
Order
: Eubacteriales
Family
: Enterobacteriaceae
Genus
: Escherichia
Spesies
: coli
(Brooks, 2004)

Liver:
Sel

Kupffer detoksifikasi, filtrasi bacteri dalam


darah, regulasi metabolisme lemak dan
kolesterol.

Alkohol

use/ endotoxin --> TNFa -->


metabolic over drive --> lack of oxygen in the
liver --> liver damage
(Thurman, 2000)

Gut

origin sepsis

Penurunan

aliran darah usus pada keadaan


shock dan stress, untuk memberi aliran yang
cukup untuk jantung dan otak

Timbul

gut injury dan fungsi barier rusak -->


usus menjadi "leaky" (permeabilitas usus >)

Bakteri

dan endotoksin masuk sirkulasi.

Bacterial toxin

Endotoxin : Komponen dari dinding sel


bakteri Gram neg, merupakan
Lipopolysaccharide (LPS)

Exotoxin : Protein yang disekresi oleh


bakteri

Bakteri Gram+ dan Gram- dapat memproduksi


exotoxin
(Robbins, 2005)

Toxic gut derived factor

Setelah shock hemoragik, trauma, combustio, usus


melepaskan pro inflamatory dan tissue injurious factor,
sehingga menimbulkan acute lung injury, bone marrow
failure, myocardial dysfunction, neutrophil activation,
RBC injury, endothelial cell injury.

Faktor2 tersebut dilepaskan oleh usus dan disebarkan


melalui mesenteric lymphatic, bukan melalui sistim portal

Terdapat dalam sirkulasi, walaupun tidak ditemukan


bakteri atau endotoksin pada sirkulasi porta atau
sistemik
(Deitch, 2004)

Anti microbial peptides

Bakteri dalam usus tidak menimbulkan infeksi karena


mekanisme innate immunity

Sel epitel usus sekresi cationic antimicrobial peptides

2 major famili : defensin dan cathelidin

Merupakan kation dan amphipatic protein dan berikatan


dengan membran mikroba yang bermuatan negatif -->
microbicidal
(Shasby, 2004)