Anda di halaman 1dari 8

Memory

By: Riski Miranda Putri (twitter : @mirandakazuto)


Bagaimana rencanamu hari ini?ujar pria paruh baya itu kepada
anaknya. Sang anak hanya terdiam sembari mengigit apel merah dalam
genggamannya. Sang pria tak lagi bertanya, ia malah sibuk dengan waffle
yang sedang digorengnya.
Bukan urusan ayah. Ujar anak itu akhirnya. Pria paruh baya itu
menoleh, lalu kemudian dia menggumam Ya, memang bukan urusanku.
Ia lalu bangkit, meninggalkan sang anak yang masih sibuk sendiri dalam
pikirannya.
Ayah...
Sang pria paruh baya dengan cepat menoleh. Jangan khawatirkan
aku. Aku sudah dewasa dan bisa hidup sendiri. Urus aja kehidupan ayah
sendiri.
Sebagai pensiunan pegawai negeri yang tak memiliki usaha di usia
senja, Daniel tak banyak pilihan kegiatan apalagi semenjak mendiang
istrinya mendahuluinya ke surga. Berkebun, memasak, merapikan rumah,
hal-hal yang di masa muda selalu diserahkan kepada istrinya.
Hubungannya dengan Jose, anak sematawayangnya, juga tidak
pernah berjalan mulus, bahkan sebelum ibu Jose meninggal. Jose hanya
menghabiskan waktu di rumah pada pagi dan meninggalkan pria paruh
baya itu sendiri di rumah.
Jose,

kau

carilah

calon

istri.

Biar

ayah

tak

mengurus

kehidupanmu.
Aku sudah memilikinya. Kami berencana menikah akhir tahun ini.

Baiklah, kau bawa dia kesini. Aku ingin melihat seperti apa pilihan
anakku. Daniel lalu tersenyum singkat.
Ada yang ingin kau makan untuk malam ini? Ayah akan ke
supermarket untuk membeli beberapa barang yang habis.
Tidak. Terimakasih. Aku akan pulang larut hari ini.
***
Keju, basil, tomat, daging asap, roti. Ah, apalagi yang terlupa? Ujar
Daniel kepada dirinya sendiri. Ia mencoba mengingat apalagi yang mesti
ada dalam belanjaannya.
Ada lagi, kek? Tegur Keyla, kasir yang sudah sangat mengenal
Daniel. Daniel hanya menyunggingkan senyum lalu menggeleng.
Semuanya 250 ribu, kek. Daniel lalu merogoh sakunya. Dimana
dompetnya?
Sebentar. Kurasa ada disini. Ujar Daniel sembari meraba saku kiri
celananya. Nihil.
Ya sudah. Pakai uang saya dulu, kek. Nanti kakek ganti setibanya
kakek di rumah.
Oh, terimakasih. Kau memang gadis yang cantik dan baik hati.
Hari ini Daniel akan memasak pizza. Masakan itu adalah satusatunya masakan yang dia hapal luar kepala. Setelah menyiapkan dough,
ia mulai sibuk dengan saus tomat, basil, daging asap. Tiga puluh menit
berlalu dan pemandangan kini berganti dengan satu pan pizza hangat.
Terdengar suara klakson mobil. Sepertinya Jose pulang cepat hari
ini. Tak lama kemudian Jose masuk, menghampirinya di dapur dan
mencomot pizza. Dahinya seketika berkerut samar.

Ayah melupakan sesuatu.


Dahi Daniel berkerut. Apa?
Bagaimana ini bisa dinamakan pizza jika tidak ada keju di
dalamnya?
***
Hari ini hari yang cerah, terutama bagi Daniel yang telah sekian
lama tak menghirup udara pagi yang bersih. Hari ini ia memutuskan untuk
berkebun dan menanam beberapa bunga daisy yang bibitnya ia beli entah
kapan. Daisy adalah bunga favorit mendiang istrinya dan menanam bunga
ini seperti menanam kembali nostalgia manis bersamanya.
Ah, wanitaku. Kau pasti senang jika aku memenuhi taman kita
dengan Daisy kesukaanmu.
Ia lalu menuju gudang dan mengambil peralatan berkebun miliknya.
Apa yang harus kulakukan terlebih dahulu? Mencangkul atau
menebar pupuk?
Ia lalu menebar pupuk asal lalu menyiraminya dengan air.
***
Ayah... ujar Jose memulai pembicaraan saat mereka berdua
sudah duduk di ruang keluarga. Daniel yang sibuk dengan headline dalam
koran paginya yang baru sempat dibaca sekarang sontak mengangkat
kepala dan memindahkan pandangannya ke Jose.
Ada apa, anakku?
Besok aku akan membawanya ke rumah. Kuharap ayah tidak
membuatnya merasa tak nyaman.

Bawa saja dulu wanitamu dan biar Ayah yang memutuskan akan
bersikap seperti apa padanya.
Jose terdiam. Udara di sekeliling mereka seketika terasa
menggantung. Daniel yang memahami situasi tak nyaman itu segera
membuka suara Kau tenang saja. Aku akan bersikap baik padanya.
Apa ayah melupakan sesuatu? tegur Jose saat membuka lemari
es.
Apa itu?
Aku tidak suka selada dan kurasa ayahpun juga. Ujarnya sembari
menunjukkan tumpukan selada yang dibeli Daniel.
Entahlah. Aku juga bingung kenapa aku bisa membelinya.
Jose mendengus. Iya kesal dengan sikap Ayahnya akhir-akhir ini.
Membeli barang yang tidak diperlukan dan melupakan hal penting yang
mesti dilakukan. Lupa membawa dompet, lupa resep pizza. Apa ayah
sudah pikun? Pikirnya dalam hati.
Ayah menanam bunga kesukaan ibumu.
Kurasa ayah tak memiliki bibit mawar di gudang.
Bukannya ibumu menyukai Daisy?
Ayah ingat hari ini hari apa? ucap Jose kemudian, mengalihkan
pembicaraan.
Tentu saja. Hari ini hari rabu. Atau kamis? koreksinya.
Jose menggeleng pelan. Disorientasi waktu seperti ini pun sudah
hampir kronis. Ini hari Selasa, Ayah.
Setelah sepenggal pembicaraan itu mengudara, tiba-tiba terdengar
suara Kurt Cobain menggema. Jose segera mengangkatnya.

Halo? Ya? Jose segera menjauhi ayahnya, lalu berbicara dengan


seseorang di seberang sana. Kurasa kita perlu membatalkan rencana kita
esok. Ditekannya end call.
Siapa?
Hanna.
Kenapa kau membatalkan rencanamu?
Tidak apa-apa. Selamat malam, Yah. Ujar Jose dingin, sembari
bergerak menuju kamarnya. Dia lalu menelpon Hanna kembali.
Kita bisa bertemu? Ada yang ingin kutanyakan padamu.
***
Kupikir ayahmu terkena Demensia Alzheimer. Penyakit itu
membuat sel otak ayahmu menyusut dan salah satu dampaknya adalah
sebagian memory-nya menghilang. Ujar Hanna kemudian setelah sekitar
lima belas menit mendengar penjelasan Jose.
Entahlah. Aku sendiri pikir itu penyakit menua biasa.
Kau harus menemaninya, menjaganya. Menjadi lupa adalah hal
yang paling menyedihkan bagi seseorang, terutama bila hanya dalam
ingatan dia bisa memiliki orang yang dicintainya.
Maksudmu?
Ibumu dan kau, Jose Nathaniel , putra kecilnya yang telah
beranjak dewasa. Tidakkah kau pikir bahwa dia merasa kesepian dan
sebuah pelukan anak laki-laki mungkin obat terbaik yang bisa dimilikinya.
Apa yang mesti kulakukan?
Bantu dia menjalani hidup. Hidupkan kenangan yang pernah ada
dan ciptakan kenangan indah yang baru bersamanya. Sederhana saja.

Itu terlalu dramatis. Kau tahu aku kaku akan hal itu.
Mulailah. Demi ayahmu.
Lalu, kau mau menemaniku menghidupkan kenangan itu dan
membuat satu untuk kita? Jose lalu menarik tangan Hanna dan
membawa wanita itu dalam pelukannya. Hanna mengangguk pelan dan
tenggelam dalam rengkuh erat Jose yang membuatnya selalu merasa
nyaman.
Suara Kurt Cobain kembali menggema. Halo? Oke aku segera
kesana.
Kenapa?
Ayah lupa jalan pulang.
Jose dan Hanna lalu segera menuju kantor polisi tak jauh dari kafe.
Ayah jangan pergi kemana-kemana jika tak ada aku. Sergah Jose
kemudian saat menemukan ayahnya duduk di sudut kantor polisi.
Aku bosan.
Hanna lalu tersenyum Tuan Daniel, kurasa anak anda benar. Dia
hanya takut kalau terjadi apa-apa dengan anda.
Kau wanita itu? Yang disukai anakku? Hanna segera menoleh ke
arah Jose dan mendapati Jose menggaruk-garuk kepalanya yang tak
gatal.
Iya. Bagaimana kalau kita minum teh bersama?
Aku suka earl grey.
***

Mereka bertiga menghabiskan secangkir teh pada sebuah toko


donat franchise ternama. Membicarakan semuanya, dari A sampai Z. Jose
sendiri lebih banyak diam, meski sesekali dia terlihat memanggut,
menggeleng dan menyumbang tawa kecil dari bibirnya. Sementara Daniel
dan Hanna sibuk dengan percakapan mereka, Jose mengamati ayahnya
dalam diam, mengamati sosok tua yang telah membesarkannya.
Kau tidak suka teh?
Dia menyukai teh, sepertiku. Ucap Daniel percaya diri.
Ayah, aku tidak suka teh. Apa ayah lupa? gumam Jose geram.
Lagi-lagi, ayahnya melupakan sesuatu, bahkan tentang kesukaannya.
Seingatku kau menyukai teh, Jose.
Terserah ayah.
Hmm, mungkin sekarang Jose tidak lagi menyukai teh, Mister
Daniel. Dia menyukai kopi pekat, dengan satu sendok kecil gula.
Yah, semua itu bisa saja berubah seiring waktu.
Dimana

ibumu?

Apa

dia

memberitahumu

kenapa

datang

terlambat? ucap Daniel kemudian.


Ayah, ibu sudah lama meninggal.
Kau tidak perlu membohongiku. Suara Daniel mulai meninggi.
Ayah yang pelupa tapi kenapa aku yang dituduh berbohong?
Hanna lalu memandangi kedua ayah dan anak itu bergantian.
Mereka terlihat sama-sama keras kepala. Harus ada yang mencairkan es
diantara dinding hati mereka.
Bagaimana anda biasanya menghabiskan hari anda, Mister
Daniel? Hanna lalu mengganti topik pembicaaan dan membuat Daniel

terdistorsi dari kekesalan tersirat Jose yang didapati Hanna dari ekor
matanya.
***
Terimakasih untuk tehnya. Kau memang manis. Dan mulai
sekarang kau mesti memanggilku ayah Ucap Daniel sebelum
meninggalkan Jose dan Hanna berdua. Hanna hanya mengangguk sopan
dan memberi salam perpisahan seadanya.
Terimakasih. Ucap Jose pelan.
Untuk?
Mau bersikap baik kepada ayahku yang pikun itu.
Hei, bagaimanapun juga dia ayahmu.
Aku lelah menghadapinya.
Apa dia pernah lelah mengajarimu merangkak, berdiri lalu
berjalan? Tentu tidak, kan? Kau hanya perlu bersabar sedikit. Semua ini
tentu tidak setimpal atas apa yang telah dia lakukan kepadamu selama ini.
Berbaktilah selagi ada waktu, sebelum kau meratapi waktu yang tak akan
pernah kembali lagi.
Maafkan aku.
Kau tidak perlu meminta maaf dariku. Kita akan bersama-sama
merawat ayahmu.
Ayahku? Ayah kita! Goda Jose yang kemudian membuat pipi
Hanna bersemu merah muda.
Ya, sebentar lagi dia akan menjadi ayah kita berdua.
*FIN*