Anda di halaman 1dari 5

A.

Latar Belakang
Kerajaan Allah = Surga. untuk membayangkan seperti apa itu Kerajaan Allah, bayangkan saja
bagaimana itu surga. Surga itu tempat berkumpul para kudus, dimana Allah sendiri menjadi
rajanya. Hidup para kudus adalah hidup kudus. Hanya ada kedamaian, kebahagiaan, sukacita,
sejahtera, kebaikan, kebenaran, keadilan dan cinta kasih. Tidak ada sakit, kematian, kemiskinan
dan kemalangan lainnya.
Namun bagaimana Kerajaan Allah bisa hadir di bumi. Bumi berisi makhluk tidak kekal yang
tentu akrab dengan masalah kefanaan. Tidak mungkin ada kedamaian, kebahagiaan, sukacita dan
cinta kasih total. Tetap saja ada sakit dan kematian, kemiskinan dan kemalangan.
B.

Yesus Mewartakan Kerajaan Allah.

Manusia tanpa dosa? Dunia tanpa kemiskinan? Tanpa Permusuhan dan kebencian? Apa
mungkin?
a. Alasan Kedatangan Yesus
Bumi dan segala isinya adalah ciptaan Allah, maka dunia ini sejak awal adalah wilayah kerajaan
Allah . Namun mengapa Yesus perlu datang untuk mewartakan KA?
Zaman para Bapa Bangsa (Abraham, Ishak, Yakub, Musa), umat Allah tahu dan sadar bahwa
mereka adalah umat Allah, dan Allah adalah Bapa mereka. (Zaman Daud hingga kini, Bapa itu
juga disebut Raja Agung). Namun lama sesudahnya, ketika umat Israel makin jauh dari jaman
Bapa Bangsa, umat Israel hidup makin jauh dari prilaku umat Allah. Dosa meraja lela. Akibat
dosa ini sangat beragam, sebab bentuknya pun beragam. Bagaimana mengatasinya? Dengan
kuasa-Nya langsung melenyapkan dosa, tidak mungkin. Sebab melenyapkan dosa begitu saja
berarti melenyapkan semua manusia, padahal Allah sudah berjanji pada zaman Nuh untuk tidak
lagi melenyapkan manusia.
Manusia telah berdosa terhadap ALLAH MAHA TINGGI. Maka dosa itu begitu besar dan tak
dapat diampuni. Karena tak terampuni, apakah mungkin manusia semuanya dinerakakan? Tidak!
Allah menciptakan manusia bukan untuk dilenyapkan tapi agar kembali kepada-Nya dalam cinta.
Tapi menerima kembali manusia dengan dosanya juga mustahil, DOSA tidak dapat bersatu
dengan YANG KUDUS.
Agar manusia bisa bersatu dengan ALLAH yang KUDUS maka Dosa itu harus ditebus / dibayar.
Dengan apa? Tidak ada yang setara dengan ALLAH kecuali ALLAH sendiri. Jalan satu-satunya
adalah Allah datang sendiri untuk memulihkan kerajaannya yang telah rusak karena dosa
manusia. Maka Lahirlah YESUS KRISTUS yang adalah ALLAH 100%, tapi karena Dia
dikandung dalam diri manusia dan lahir maka Dia memiliki DNA Maria, maka sekaligus
MANUSIA 100%. Sebagai manusia Dia dapat menderita, sakit, dan akhirnya mati.
KASIH. Itulah alasan utamanya. Yesus yang adalah Tuhan merendahkan diriNya agar manusia
diselematkan, utang dosa kita dilunaskan. Dalam diri Yesus kita jadi tahu bahwa kasih adalah
kesediaan dan sikap rela berkorban untuk kebaikan orang lain.
b.

Kerajaan Allah Sudah Dekat

Yesus mewartakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat, bahkan sudah datang terutama
dalam diri Yesus. Ketika Yesus berkeliling Palestina untuk mewartakan Kabar Baik, sehingga
Kerajaan Allah mulai tampak ditengah-tengah umatNya ( lih. Luk 10 : 23 24).
Pewartaan Kerajaan Allah yang sudah dekat itu terungkap dalam perumpamaan tentang
pohon Ara (lih Mrk 13 : 28 32). Dekatnya Kerajaan Allah membawa nada ancaman dalam
perumpamaan tentang orang yang menghadap hakim (lih Luk 12 : 57 58) untuk menuntut
kembali pinjaman dari orang yang berhutang kepadanya. Maksud Yesus adalah : Kita sekalian
adalah orang yang berhutang (berdosa)., maka harus segera dibereskan perkara itu (bertobat)
supaya jangan terlambat; penghakiman terakhir sudah diambang pintu.
Berdekatan dengan perumpamaan tentang pohon ara adalah perumpamaan tentang
bendahara yang tidak jujur ( Luk 16 : 1 8 ). Perumpamaan in antara lain mau mengatakan
bahwa orang harus cerdik, sebab Kerajaan Allah sudah diambang pintu untuk mengadakan
pertanggungjawaban. Dekatnya Kerajaan Allah berarti juga dekatnya penghakiman Allah.
Perumpamaan tentang pohon ara yang tidak berbuah ( Luk 13 : 6-9) mau
menggambarkan bahwa Allah itu sungguh sabar, tetapi jika pada waktunya orang tidak
menghasilkan buah pertobatan (Luk 3: 8-9), maka penghakiman akan mendatangi orang itu.
Penghakiman Allah akan datang secara tiba-tiba dan tidak disangka-sangka (Mat 24: 50).
Hal ini diilustrasikan dalam perumpamaan tentang pencuri yang datang pada waktu malam disaat
yang tidak diketahui (Mat 24: 43-44). Kedatangan Kerajaan Allah dan penghakiman yang tidak
disangka-sangka itu terungkap dalam perumpamaan tentang gadis yang bijaksana dan gadis yang
bodoh (Mat 24: 1-13).
c.
Kerajaan Allah berarti Alla Mulai Memerintah
Kerajaan Allah berarti Allah yang memerintah sebagai raja. Allah yang memerintah dilukiskan
oleh Yesus sebagi Bapa. Allah itu sungguh-sungguh Bapa yang baik hati dan suka mengampuni.
Dalam perumpamaan domba yang hilang (Luk 15: 3-7 ), Yesus menggambarkan Allah yang suka
mengampuni. Dalam perumpamaan orang-orang upahan dikebun anggur (Mat 20 :1-5), Allah
digambarkan sebagai Bapa keluarga yang baik hatiterhadap orang-orang yang tidak berjasa.
Orang yang dimaksud adalah pemungut cukai, pelacur, dan orang berdosa yang bertobat dan
atas dasar kebaikan allah menerima pemerintahanNya.
Dalam perumpamaan anka yang hilang atau Bapa yang mengasihi anak yang hilang (Luk 15 :
11-32) mau menunjukkan balas kasih dan ksi Allah terhadap orang yang berdosa dan sukacita
Nya karena bertobat. Perumpamaan in juga sekaligus berisi kritik trhadap orang Farisi 9 yang
dilambangkan anak yang sulung) yang membanggakan jasanya, tetapi tidak mengeti sikap hati
Bapa. Ketiga perumpamaaan dalam Luk 15 : 1-32 (domaba yang hilang, dirham yang hilang, dan
anak yang hilang) mau menekankan sukacita Allah yang menyambut orang berdosa yang
bertobat ke dalam Kerajaan Nya.
d.

kerajaan Allah Menurut Sikap Pasrah (Iman) Manusia Kepada Allah

Allah meraja dengan kasih. Oleh karena itu, manusia dituntut sikap pasrah, dan sikap iman
kepada Allah. Allah menjadi harapan, sandaran, dan andalan bagi manusia. Manusia tidak boleh
mengandalkan hal-hal lain, seperti harta, kekuasaan, bahkan dirinya sendiri.
Yesus menentang orang-orang Farisi karena mereka terlalu mengandalkan jasa-jasa dan kekuatan
diri mereka. Yesus memuji orang-orang miskin dan menderita sebagai yang berbahagia,
karena dalam kemiskinannya itu mereka hanya mengandalkan Allah dan mempercayakan diri
pada Allah. Yesus tentu saja tidak mendukung kemiskinan, bahkan Ia memperjuangkan
kesejahteraan lahir batin bagi umat. Yesus mengecam ketidakadialn yang dilakukan oleh para
petinggi pemerintahan dan agama.
Yesus tidak menyapa berbahagia kepda orang-orang yang saleh dan taat pada Taurat seperti
kaum Farisi, sebab mereka mengandalkan dirinya sendiri. Yesus menyapa orang miskin dan
menderita, sebab mereka mengandalakan Allah. Bapa perumpamaan Yesus tentang orang farisi
dan pemungut cukai yang berdoa di bait Allah (Luk 18 : 9-14)
e.
Kerajaan Allah itu suatu Karunia
Kerajaan Allah adalah karunia dari Allah, bukan hanya jasa masnusia. Dengan kata lain,
pemerintahan Allah tidak ditegakkan atau diwujudkan hanya oleh daya upaya manusia. Kerajaan
Allah sebagai karunia Allah ini diilustrasikan dalam perumpamaan benih yang tumbuh (Mrk
4: 26-29); ragi (Mat 13: 33), Biji sesawi (Mat. 13: 31-32) dan penabur (Mrk 4:1-9).
Titik perbandingan dalam perumpamaan-perumpamaan tersebut terletak pada keajaiban bahwa
benih itu tumbuh, menjadi pohon besar, dan menghasilkan buah berlimpah, walaupun banyak
rintangan. Demikianlah juga tentang kerajaan Allah, walaupun banyak rintangannya (penabur),
Kerajaan Allah dengan kekuatannya sendiri (benih dan ragi) akan diwujudkan danmenghasilkan
buah berlimpah.
Kerajaan Allah sebagai karunia Allah harus diperjuangkan dan dikembangkan oleh manusia
sebagai nilai yang paling tinggi.karena itu, manusia yang telah memperolehnya patut bergembira
dan bersedia memperjuangkan dan mengembangkanya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini
diilustrasikan dalam perumpamaan tentang harta terpendam dengan usaha yang tidak kenal
lelah, akhirnya harta itu ditemukan sehingga mendatangkan kegembiraan luar biasa bagi
empunya Harta terpendam. Ini menggambarkan sesuatu yang sangat bernilai, yakni Kerajaan
Allah. Orang dengan gembira hati mengorbankan segala sesuatu demi Kerajaan Allah. Orang
denga gembira hati mengorbankan segala sesuatu demi Kerajaan Allah yang paling berharga dan
bernilai.
C.

Yesus Mewartakan Kerajaan Allah Dengan Tindakan

Yesus bukan saja berbicara tentang Kerajaan Allah, tetapi juga memberi kesaksian
tentang Kerajaan Allah dengan tindakan-tindakan-Nya. Memang ada kesatuan antara
Sabda dan karya-Nya. Ia tampil sebagai nabi, tetapi juga sebagai tabib. Unsur hakiki nabi
dan tabib, masing-masing mewakili unsur perkataan dan perbuatan, yang merupakan
kesatuan yang tak terpisahkan dalam hidup Yesus. Kesatuan antara Sabda dan karya
Yesus itu bersifat sedemikian rupa sehingga kebenaran perkataan Yesus itu tampak

dalam perbuatan-Nya; dan arti perbuatan Yesus diberitahukan dalam perbuatan-Nya.


Dan Yesus? Ia telah melanggar semua peraturan dan adat. Ia bergaul dengan
para pegawai pajak yang dianggap umum sebagai koruptor dan pemeras. Ia
bertemu dan menyapa orang-orang setengah kafir seperti bangsa Samaria,
mendatangi negeri-negeri orang kafir dan berbicara akrab dengan mereka
(Mat 15:21-28).
Yesus tidak hanya
mewartakan Kerajaan Allah, melainkan mewujudkannya melalui tindakan-Nya.
Jika Kerajaan Allah adalah situasi di mana semua orang dikasihi Allah, di mana
semua orang tidak tersekat-sekat oleh jurang antara kaya dan miskin; maka Yesus
menunjukkan hal itu dengan bergaul dengan siapa saja, terutama dengan mereka yang
miskin dan berdosa yang selama ini disingkirkan oleh masyarakat. Yesus mau makan
dengan bersama dengan Zakheus dan bergaul dengan lewi pemungut cukai yang
dipandang oleh orang-orang Yahudi sebagai orang-orang berdosa. Kalau Allah yang
meraja adalah Allah yang memerintah dengan penuh pengampunan. Maka Yesus pun
mengampuni orang berdosa. Ia tidak takut menjadi najis. Yesus tahu bahwa hanya
dengan dikasihi orang-orang berdosa akan bertobat, sebagai mana nampak dalam
cerita wanita yang ketahuan berbuat zinah (lih. Yoh 8:2-11). Dan masih banyak lagi
tindakan lain yang dilakukan oleh Yesus yang menunjukkan bahwa dalam diri Yesus
sesungguhnya Allah sudah menunjukkan Diri sebagai Raja.

1. Tindakan Yesus Menyatakan Kerajaan Allah.


Kerajaan Allah yang diwartakan oleh Yesus tidak ditujukan pada kelompok atau
golongan tertentu, tetapi ditujukan untuk semua orang. Ia merangkul semua
orang yang baik maupun yang jahat agar dapat merasakan keselamatan. Tegaknya
Kerajaan Allah justru terjadi bilamana yang baik maupun yang jahat dapat hidup
berdampingan dalam kebersamaan dan dengan penuh kesabaran serta kasih
mendorong yang jahat menjadi baik. Bukan malah mengucilkan yang jahat dan
berdosa. Maka Yesus dekat dengan sesama-Nya, Ia juga sangat terbuka kepada
semua orang. Ia bergaul dengan semua orang. Ia tidak mengkotak-kotakkan
dan membuat kelas-kelas di antara manusia. Yesus tidak mau merangkul hanya
sekelompok orang dan menyingkirkan kelompok yang lainnya. Ia akrab dengan
semua orang. Bahkan Yesus mau bergaul dengan orang-orang yang dianggap
berdosa (lih. Luk 7:36-50, 19:1-10). Sikap Yesus yang mau bergaul dengan orangorang yang berdosa dan najis amat tidak sesuai dengan adat sopan-santun dan
peraturan agama yang berlaku pada saat itu. Yesus telah menjungkirbalikkan
peraturan-peraturan yang telah mapan. Bagi orang Yahudi pada umumnya yang
masih memegang kuat tradisi mereka, sikap Yesus yang seperti itu tidak bisa dibiarkan dan tidak
bisa ditolerir, karena dianggap akan mengganggu, merusak dan membahayakan tatanan hidup
yang sudah mapan.
a. Sikap Yesus terhadap Kaum Pendosa
Bagi orang Yahudi dosa itu menular seperti kuman, tinggal serumah dengan
orang jahat, apalagi makan bersama dengan mereka berarti kena dosa
itu sendiri, menjadi orang berdosa. Maka seorang yang saleh tidak boleh
bergaul dengan yang tidak saleh. Seorang Yahudi akan rusak namanya kalau

berhubungan dengan seorang kafir. Kaum pendosa harus dijauhi, disingkirkan


dan dikucilkan. Mereka dianggap tidak layak hidup di tengah-tengah
masyarakat pada umumnya.
2. Mukjizat Sebagai Tanda Kehadiran Allah.
Dengan mengerjakan mukjizat, Yesus memperlihatkan kehadiran Kerajaan Allah.
Tanda-tanda mukjizat yang dikerjakan Yesus itu memperlihatkan bahwa dalam
diri Yesus genaplah nubuat para nabi tentang Mesias yang kedatangan-Nya telah
dijanjikan kepada para leluhur Israel.
Dengan mengerjakan mukjizat, dengan menjadikan segala-galanya baik (Mrk
7:37), Yesus menjelmakan pemerintahan Allah.
Para pengarang Injil menceritakan mukjizat-mukjizat Yesus guna memaklumkan
bahwa Yesus tidak hanya menyampaikan kabar yang menggembirakan itu, tetapi
Ia sendirilah Kabar Gembira, Injil. Yesus sendirilah keselamatan, rahmat, danpenyembuhan
bagi manusia yang sedang susah. Kalau begitu, pemerintahan Allah yang eskatologis itu betulbetul sedang mendobrak masuk ke dunia ini. ...Jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah,
maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah
datang kepadamu (Luk 11:20). Beberapa contoh mukjizat yang dilakukan Yesus
sebagai tanda Kehadiran Allah:
a. Yesus Membangkitkan Anak Seorang Janda di Nain (Luk 7:11-17)
Melalui mukjizat membangkitkan anak muda di Nain, Yesus ingin menunjukkan bahwa Allah
berkuasa atas kehidupan dan kematian manusia. Dengan melakukan itu Ia ingin menunjukkan
bahwa Ia adalah Mesias, Penyelamat yangmereka nantikan.
b. Yesus Meredakan Angin Ribut (Mat 8:23-27)
Mukjizat yang dilakukan Yesus meredakan angin ribut, Yesus hendak
menunjukkan bahwa Allah berkuasa atas alam semesta. Tidak ada kekuatan lain yang mampu
mengalahkan kekuatan Allah sendiri. Kekuasaan Allahmengatasi kekuatan apapun yang ada di
dunia ini. Maka semua ciptaan harustunduk pada kekuatan Allah.
c. Yesus Mengusir Roh Jahat (Mark 1:21-28)
Dengan mengusir roh jahat, Yesus ingin menunjukkan bahwa Allah lebihberkuasa dari roh-roh
yang ada. Roh jahat selalu mengarahkan manusia padaperbuatan yang tidak dikehendaki Allah
yang membawa kehancuran dankebinasaan. Sedangkan Roh Allah membawa manusia pada
kebenaran dankebahagiaan hidup bersama Allah.
Sebagai Murid Yesus, kita harus mampu meneladani apa yang telah dilakukanNya,
menyandarkan hidup kita kepada kekuatan Allah sebagai satu-satunya sumber kekuatan hidup
kita. Dan kalau Yesus mewartakan Kerajaan Allah melalui tindakanbelas kasih, kitapun juga
mesti mampu berbuat belaskasih pada sesama terutamamereka yang menderita, yang
tersingkirkan dan kurang mendapat perhatian.