Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PENDAHULUAN

GGK ( GAGAL GINJAL KRONIS )

GAGAL GINJAL KRONIK/ CHRONIC KIDNEY DISEASE (CKD)

A.

PENGERTIAN
Gagal ginjal kronis atau penyakit renal tahapakhir merupakan gangguan fungsi
renal yang progresif dan irreversible dimana kemampuan tubuh gagal untuk
mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit,menyebabkan
uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah).

B. KLASIFIKASI
Gagal ginjal kronik dibagi 3 stadium :
- Stadium 1 : penurunan cadangan ginjal, pada stadium kadar kreatinin serum normal
dan penderita asimptomatik.
- Stadium 2 : insufisiensi ginjal, dimana lebih dari 75 % jaringan telah rusak, Blood
Urea Nitrogen ( BUN ) meningkat, dan kreatinin serum meningkat.
- Stadium 3 : gagal ginjal stadium akhir atau uremia.
K/DOQI merekomendasikan pembagian CKD berdasarkan stadium dari tingkat
penurunan LFG :
-

Stadium 1 : kelainan ginjal yang ditandai dengan albuminaria persisten dan LFG

yang masih normal ( > 90 ml / menit / 1,73 m2


-

Stadium 2 : Kelainan ginjal dengan albuminaria persisten dan LFG antara 60


89 L/menit/1,73 m2

Stadium 3

: kelainan ginjal dengan LFG antara 30-59 mL/menit/1,73m2

Stadium 4 : kelainan ginjal dengan LFG antara 15-29mL/menit/1,73m2

Stadium5 : kelainan ginjal dengan LFG < 15mL/menit/1,73m2 atau gagal ginjal
terminal.

Untuk menilai GFR ( Glomelular Filtration Rate ) / CCT ( Clearance Creatinin Test )
dapat digunakan dengan rumus :
Clearance creatinin (ml/ menit ) = ( 140-umur ) x berat badan ( kg )
72 x creatini serum
Pada wanita hasil tersebut dikalikan dengan 0,85

C.

ETIOLOGI
Penyebab dari gagal ginjal kronis antara lain:
1.
2.
3.
4.
5.

Infeksi saluran kemih (pielonefritis kronis)


Penyakit peradangan (glomerulonefritis)
Penyakit vaskuler hipertensif (nefrosklerosis, stenosis arteri renalis)
Gangguan jaringan penyembung (SLE, poliarteritis nodusa, sklerosis sistemik)
Penyakit kongenital dan herediter (penyakit ginjal polikistik,asidosis tubulus

ginjal)
6. Penyakit metabolik (DM, gout, hiperparatiroidisme)
7. Nefrotik toksik
8. Nefropati obstruktif (batu saluran kemih)

D. PATHWAYS
infeksi

vaskuler

zat toksik

reaksi antigen antibodi arteriosklerosis

Obstruksi saluran kemih

tertimbun ginjal

suplai darah ginjal turun

Retensi urin batu besar dan kasar


iritasi / cidera jaringan
menekan saraf perifer hematuria
nyeri pinggang

anemia

GFR turun
GGK
retensi Na

sekresi protein terganggu

total CES naik


sindrom uremiaurokrom tertimbun di kulit
tek. kapiler naik
gang. keseimbangan asam - basa
perpospatemia
perubahan warna kulit
pruritis
vol. interstisial naik
prod. asam naik
gang.
integritas kulit
as. lambung naik
nausea, vomitus

gastritis
mual, muntah

resiko suplai nutrisi dalam darah turun


produksi Hb turun
gangguan nutrisi
oksihemoglobin turun
gangguan
perfusi jaringan

edema
(kelebihan volume cairan)

iritasi lambung

infeksi
resiko gangguan nutrisi

sekresi eritropoitis turun

preload naik

intoleransi aktivitas
suplai O2 kasar turun

payah jantungbendungan
kiri
atrium kiri naik
COP turun

tek. vena pulmonalis


suplai
turun
O2 jaringan turun
suplai O2 ke otak turun
perdarahan beban jantung naikaliran darah ginjal
kapiler paru naik

- hematemesis
hipertrofi ventrikel kiri
RAA turun metab. anaerob
syncope
edema paru
- melena
(kehilangan
kesadaran)
retensi Na & H2O
naik
timb.
as. laktat naik
anemia
gang. pertukaran gas
kelebihan vol. cairan
- fatigue
intoleransi aktivitas
- nyeri sendi

E. MANIFESTASI KLINIS

Manifestasi klinik menurut Suyono (2001) adalah sebagai berikut:


a. Gangguan kardiovaskuler
Hipertensi, nyeri dada, dan sesak nafas akibat perikarditis, effusi perikardiac
dan gagal jantung akibat penimbunan cairan, gangguan irama jantung dan
edema.
b. Gannguan Pulmoner
Nafas dangkal, kussmaul, batuk dengan sputum kental dan riak, suara
krekels.
c. Gangguan gastrointestinal
Anoreksia, nausea, dan fomitus yang berhubungan dengan metabolisme
protein dalam usus, perdarahan pada saluran gastrointestinal, ulserasi dan
perdarahan mulut, nafas bau ammonia.
d. Gangguan muskuloskeletal
Resiles leg sindrom ( pegal pada kakinya sehingga selalu digerakan ),
burning feet syndrom ( rasa kesemutan dan terbakar, terutama ditelapak
kaki ), tremor, miopati ( kelemahan dan hipertropi otot otot ekstremitas.
e. Gangguan Integumen
kulit berwarna pucat akibat anemia dan kekuning kuningan akibat
penimbunan urokrom, gatal gatal akibat toksik, kuku tipis dan rapuh.
f.

Gangguan endokrim
Gangguan seksual : libido fertilitas dan ereksi menurun, gangguan
menstruasi dan aminore. Gangguan metabolic glukosa, gangguan metabolic
lemak dan vitamin D.

g.

Gangguan cairan elektrolit dan keseimbangan asam dan basa. biasanya


retensi garam dan air tetapi dapat juga terjadi kehilangan natrium dan
dehidrasi, asidosis, hiperkalemia, hipomagnesemia, hipokalsemia.

h. System hematologi
anemia yang disebabkan karena berkurangnya produksi eritopoetin, sehingga
rangsangan eritopoesis pada sum sum tulang berkurang, hemolisis akibat
berkurangnya masa hidup eritrosit dalam suasana uremia toksik, dapat juga
terjadi gangguan fungsi trombosis dan trombositopeni.

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Didalam memberikan pelayanan keperawatan terutama intervensi maka perlu
pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan baik secara medis ataupun
kolaborasi antara lain :
1.Pemeriksaan lab.darah
-

hematologi
Hb, Ht, Eritrosit, Lekosit, Trombosit

RFT ( renal fungsi test )


ureum dan kreatinin

LFT (liver fungsi test )

Elektrolit
Klorida, kalium, kalsium

koagulasi studi
PTT, PTTK

BGA

2. Urine
-

urine rutin

urin khusus : benda keton, analisa kristal batu

3. pemeriksaan kardiovaskuler
-

ECG

ECO

4. Radidiagnostik
-

USG abdominal

CT scan abdominal

BNO/IVP, FPA

Renogram

RPG ( retio pielografi )

G. PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN
Penatalaksanaan keperawatan pada pasien dengan CKD dibagi tiga yaitu :
a) Konservatif
-

Dilakukan pemeriksaan lab.darah dan urin

Observasi balance cairan

Observasi adanya odema

Batasi cairan yang masuk

b) Dialysis
-

peritoneal dialysis
biasanya dilakukan pada kasus kasus emergency.
Sedangkan dialysis yang bisa dilakukan dimana saja yang tidak bersifat akut
adalah CAPD ( Continues Ambulatori Peritonial Dialysis )

Hemodialisis
Yaitu dialisis yang dilakukan melalui tindakan infasif di vena dengan
menggunakan mesin. Pada awalnya hemodiliasis dilakukan melalui daerah
femoralis namun untuk mempermudah maka dilakukan :

AV fistule : menggabungkan vena dan arteri

Double lumen : langsung pada daerah jantung ( vaskularisasi ke jantung )

c) Operasi
-

Pengambilan batu

transplantasi ginjal

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Keluhan Utama
Keluhan utama yang didapat biasanya bervariasi, mulai dari urine output sedikit
sampai tidak dapat BAK, gelisah sampai penurunan kesadaran, tidak selera makan
( anoreksia ), mual, muntah, mulut tersa kering, rasa lelah, napas berbau ( ureum ),
dan gatal pada kulit.
2. Riwayat Kesehatan Sekarang
Kaji onset penurunan urine output, penurunan kesadaran, perubahan pola napas,
kelemahan fisik, adanya perubahan kulit, adanya napas berbau amonia, dan perubahan
pemenuhan nutrisi. Kaji sudah ke mana saja klien meminta pertolongan untuk
mengatasi masalahnya dan mndapat pengibatan apa.
3. Riwayat Kesehatan Dulu

Kaji adanya riwayat penyakit gagal ginjal akut, infeksi saluran kemih, payah jantung,
penggunaan obat-obat nefrotoksik, Benign Prostatic Hyperplasia, dan prostatektomi.
Kaji adanya riwayat penyakit batu saluran kemih, infeksi sistem perkemihan yang
berulang, penyakit diabetes melitus, dan penyakit hipertensi pada masa sebelumnya
yang menjadi predisposisi penyebab. Penting untuk untuk dikaji mengenai riwayat
pemakaian obat-obatan masa lalu dan adanya riwayat alergi terhadap jenis obat
kemudian dokumentasikan.
4. Psikososial
Adanya perubahan fungsi struktur tubuh dan adanya tindakan dialisis akan
menyebabkan penderita mengalami gangguan pada ganbaran diri. Lamanya
perawatan, banyaknya biaya perawatan dan pengobatan menyebabkan pasien
mengalami kecemasan, gangguan konsep diri ( gambaran diri ) dan gangguan peran
pada keluarga (self esteem).
B. Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum dan TTV
Keadaan umum lemah dan terlihat sakit berat. Tingkat kesdaran menurun sesuai
dengan tingkat uremia di mana dapat memengaruhi sistem saraf pusat. Pada TTV
sering didapatkan adanya perubahan ; RR meningkat. Tekanan darah terjadi
perubahan dari hipertensi ringan sampai berat.
B1 (Breathing). Klien bernapas dengan bau urine ( fetor uremik ) sering didapatkan
pada fase ini. Respons uremia didapatkan adanya pernapasan Kusmaul. Pola napas
cepat dan dalam merupakan upaya untuk melakukan pembuangan karbon dioksida
yang menumpuk sirkulasi.
B2 (blood). Pada kondisi uremia berat, tindakan auskultasi perawat akan menemukan
adanya friction rub yang merupakan tanda khas efusi perikardial. Didapatkan tanda
dan gejala gagal jantung kongestif, TD meningkat, akral dingin, CRT >3 detik,
palpitasi, nyeri dada atau angina dan sesak napas, gangguan irama jantung, edema
penurunan perfusi perifer sekunder dari penurunan curah jantung akibat hiperkalemi,
dan gangguan konduksi elektrikal otot ventrikel.
Pada sistem hematologi sering didapatkan adanya enemia. Anemia sebagai
akibat dari penurunan produksi eritropoetin, lesi gastrointestinal uremik, penurunan
usia sel darah merah, dan kehilangan darah, biasanya dari saluran GI, kecenderungan
mengalami perdarahan sekunder dari trombositopenia.
B3 (Brain). Didapatkan penurunan tingkat kesadaran, disfungsi serebral, seperti
perubahan proses pikir dan disorientasi. Klien sering didapatkan adanya kejang,

adanya neuropati perifer, burning feet syndrome, restless leg syndrome, kram otot, dan
nyeri otot.
B4 (Bladder). Penurunan urine output <400 ml / hari sampai anuri, terjadi penurunan
libido berat.
B5 (Bowel). Didapatkan adanya mual dan muntah, anoreksia dan diare sekunder dari
bau mulut amonia, peradangan mukosa mulut, dan ulkus saluran cerna sehingga
sering didapatkan penurunan intake nutrisi dari kebutuhan.
B6 (Bone). Didapatkan adanya nyeri panggul, sakit kepala, kram otot, nyeri kaki
( memburuk saat malam hari ), kulit gatal, ada/berulangnya infeksi, pruritus, demam
( sepsis, dehidrasi) petekie, area ekimosis pada kulit, fraktur tulang, defosit fosfat
kalsium, pada kulit, jaringan lunak, dan sendi keterbatasan gerak sendi.
Didapatkan adanya kelemahan fisik secara umum sekunder dari anemia dan
penurunan perfusi perifer dari hipertensi.
C. Pengkajian Diagnostik
Laboraturium
1. Laju Endap Darh : meninggi yang diperberat oleh adanya anemia, dan
hipoalbumunemia. Anemia normositer normokrom, dan jumlah retikulosit yang
rendah.
2. Ureum dan kreatinin : meninggi, biasanya perbandingan antara ureum dan kreatinin
kurang lebih 20:1. Ingat perbandingan bisa meninggi oleh karena perdarahan saluran
cerna, demam, luka bakar luas, pengobatan steroid, dan obstruksi saluran kemih.
Perbandingan ini berkurang : ureum lebih kecil dari kreatinin, pada diet rendah
protein, dan tes Klirens Kreatinin yang menurun.
3. Hiponatremi : umumnya karena kelebihan cairan. Hiperkalemia : biasanya terjadi
pada gagal ginjal lanjut bersama dengan menurunnya diuresis.
4. Hipokalsemia dan hiperfosfatemia : terjadi karena berkurangnya sintesis vitamin D3
pada GGK.
5. Phosphate alkaline meninggi akibat gangguan metabolisme tulang, terutama Isoenzim
fosfatase lindi tulang.
6. Hipoalbuminemia dan

hipokolesterolemia;

umumnya

disebabkan

gangguan

metabolisme dan diet rendah protein.


7. Peninggian gula darah, akibat gangguan metabolisme karbohidrat pada gagal ginjal
( resistensi terhadap pengaruh insulin pada jaringan perifer ).
8. Hipertrigliserida, akibat gangguan metabolisme lemak, disebabkan peninggian
hormon insulin dan menurunnya lipoprotein lipase.

9. Asidosis metabolik dengan kompensasi respirasi menunjukkan Ph yang menurun, BE


yang menurun,

HCO3

yang menurun,

PCO2

yang menurun, semuanya

disebabkan retensi asam-asam organik pada gagal ginjal

D. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien CKD adalah:
1. Kelebihan volume cairan b.d penurunan haluaran urine, diet berlebih dan retensi
cairan serta natrium
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia, mual dan
muntah, pembatasan diet, dan perubahan membrane mukosa mulut
3. Ketidak efektifan perfusi jaringan perifer
4. Intoleransi aktivitas b.d keletihan, anemia, retensi, produk sampah
5. Gangguan pertukaran gas
6. Nyeri
7. Kerusakan integritas kulit

E. INTERVENSI
1. Kelebihan volume cairan b.d penurunan haluaran urine, diet berlebih dan retensi
cairan serta natrium
Kriteria hasil :
terbebas dari edema, terbebas dari distensi vena jugularis, bunyi nafas bersih,
menjelaskan indicator kelebihan cairan
Tindakan keperawatan :
-

Pertahankan catatan intake output yang akurat

Monitor TTV

Monitor masukan makanan/cairan dan hitung intake kalori

Batasi masukan cairan pada keadaan hiponatermi dilusi

Kolaborasi pemberian diuretic sesuai anjuran

2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia, mual dan
muntah, pembatasan diet, dan perubahan membrane mukosa mulut
Kriteria hasil :

Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan, BB ideal sesuai tinggi
badan, mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi, menunjukkan peningkatan
fungsi pengecapan dan menelan
Tindakan keperawatan :
-

Kaji adanya alergi makanan

Beri makanan tinggi serat

Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori

Monitor BB

Kolaborasi dengan ahli gizi untuk mendapatkan makanan yang sesuai

3. Ketidak efektifan perfusi jaringan perifer


Kriteria hasil :
TTV dalam batas normal, tidak ada tanda-tanda peningkatan tekanan
intracranial, adanya peningkatan kognitif, menunjukkan fungsi sensori motori
cranial yg utuh.
Tindakan keperawatan :
-

Monitor adanya daerah tertentu yang hanya peka terhadap panas dingin

Kaji adanya lesi atau laserasi di kulit

Monitor CRT, nadi, dan adanya edema

Anjurkan untuk mobilisasi

4. Intoleransi aktivitas b.d keletihan, anemia, retensi, produk sampah


Kriteria hasil :
Mampu beraktivitas fisik tanpa disertai peningkatan TD, nadi, dan RR, mampu
melakukan aktivitas secara mandiri, TTV dalam batas normal
Tindakan keperawatan :
-

Kaji aktivitas apa saja yang mampu dilakukan pasien

Berikan alat bantu aktivitas bila diperlukan

Buat jadwal latihan yang diinginkan pasien

Anjurkan keluarga untuk mendampingi dan memberi motivasi

Kolaborasi dalam merencanakan program terapi yang tepat

5. Gangguan pertukaran gas


Kriteria hasil :
RR dalam batas normal, TTV dalam batas normal
Tindakan keperawatan :

Posisikan pasien senyaman mungkin

Berikan alat bantu nafas bila diperlukan

Ajarkan teknik batuk efektif

Monitor RR dan saturasi O2

Kolaborasi dalam pemberian terapi yang tepat

6. Nyeri
Kriteria hasil :
Nyeri dapat berkurang, mampu mengontrol nyeri, TTV dalam batas normal,
mampu menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
Tindakan keperawatan :
-

Kaji sumber nyeri

Kaji skala nyeri

Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi

Monitor TTV

Kolaborasi dalam pemberian analgesic

7. Kerusakan integritas kulit


Kriteria hasil :
CRT <2 detik, tidak ada lesi kulit, perfusi jaringan baik
Tindakan keperawatan :
-

Anjurkan pasien mobilisasi

Jaga kebersihan bed tetap bersih dan kering

Kaji adanya tanda-tanda infeksi

Monitor keadaan kulit yang tertekan

LAPORAN PENDAHULUAN

HEMODIALISA
1. Prinsip Hemodialisis
Dialysis digunakan untuk mengeluarkan cairan dan produk-produk sampah dari
dalam tubuh saat ginjal tidak dapat melakukanya lagi. Prinsip hemodialisis adalah
menempatkan darah berdampingan dengan cairan dialisat yang dipisahkan oleh
suatu membrane (selaput tipis) yang disebut membrane semi permeable. Membrane
hanya dapat dilalui oleh air dan zat tertentu (zat sampah) dengan BM kecil sampai
sedang.
Ada 3 prinsip dasar dalam HD yang bekerja pada saat yang sama yaitu:

a) Proses Difusi
Merupakan proses berpindahnya suatu zat terlarut yang disebabkan karena
adanya perbedaan konsentrasi zat-zat terlarut dalam darah dan dialisat.
Perpindahan molekul terjadi dari zat yang berkonsentrasi tinggi ke yang
berkonsentrasi lebih rendah. Pada HD pergerakan molekul / zat ini melalui suatu
membrane semi permeable yang membatasi kompartemen darah dan
kompartemen dialisat.
Proses difusi dipengaruhi oleh:

Perbedaan konsentrasi

Berat molekul (makin kecil BM suatu zat, makin cepat zat itu keluar)

QB (Blood Pump)

Luas permukaan membrane

Temperatur cairan

Proses konvektik

Tahanan / resistensi membrane

Besar dan banyaknya pori pada membrane

Ketebalan / permeabilitas dari membrane

Factor-faktor di atas menentukan klirens dialiser


Klirens suatu dializer adalah kemampuan dializer untuk mengeluarkan zat-zat
yaitu jumlah atau banyaknya darah yang dapat dibersihkan dari suatu zat
secara komplit oleh suatu dializer yang dinyatakan dalam ml/mnt.
Klirens (K) =
K : klirens solute
Qb : kecepatan aliran darah (ml/mnt)
Cbi : Konsentrasi darah arteri (masuk ke dalam dializer)
Cbo : konsentrasi darah vena (keluar dari dializer)
Qf : Laju ultrafiltrasi (ml/mnt)
Laju aliran dialisat + 2 2,5 x Qb.
b) Proses Ultrafiltrasi
Berpindahnya zat pelarut (air) melalui membrane semi permeable akibat
perbedaan tekanan hidrostatik pada kompartemen darah dan kompartemen
dialisat.
Tekanan hidrostatik / ultrafiltrasi adalah yang memaksa air keluar dari
kompartemen darah ke kompartemen dialisat. Besar tekanan ini ditentukan oleh
tekanan positif dalam kompartemen darah (positive pressure) dan tekanan
negative dalam kompartemen dialisat (negative pressure) yang disebut TMP
(trans membrane pressure) dalam mmHg.
Perpindahan & kecepatan berpindahnya dipengaruhi oleh:
TMP

Luas permukaan membrane

Koefisien Ultra Filtrasi (KUF)

Qd & Qb

Perbedaan tekanan osmotic

TMP =
Pbi : Tekanan di blood inlet
Pdi : Tekanan di dialisat inlet
Pbo : Tekanan di blood outlet
Pdo : Tekanan di dialisat outlet
KUF (koefisien ultra filtrasi) dalam ml/jam /mmHg merupakan karakteristik
daridializer yang menyatakan kemampuan atau koefisien untuk mengeluarkan air
dan luas permukaan dializer.
c) Proses Osmosis
Berpindahnya air karena tenaga kimiawi yang terjadi karena adanya perbedaan
tekanan osmotic (osmolalitas) darah dan dialisat.
Proses osmosis ini lebih banyak ditemukan pada peritoneal dialysis.
Komponen Utama pada Hemodialisis
HD terdiri dari 3 komponen dasar yaitu :
1. Sirkulasi darah
Bagian yang termasuk dalam sirkulasi darah adalah mulai dari jarum / kanula
arteri (inlet), arteri blood line (ABL), kompartemen darah pada dializer, venus blood
line (VBL), sampai jarum / kanula vena (outlet).
Sirkulasi darah ada 2 :

Di dalam tubuh pasien (sirkulasi sistemik)

Di luar tubuh pasien (sirkulasi ekstrakorporeal)

Dimana kedua sirkulasi tersebut berhubungan langsung melalui akses vascular.

2. Sirkulasi Dialisat
Dialisat adalah cairan yang digunakan untuk prosedur HD. Berada dalam
kompartemen dialisat berseberangan dengan kompartemen darah yang dipisahkan
oleh selaput semi permeable dalam dializer.
Ada 2 dialisat :
a. Dialisat pekat (concentrate)
Ialah dialisat yang tersedia dalam kemasan gallon, merupakan cairan pekat yang
belum dicampur atau diencerkan dengan air. Dialisat pekat ada yang berisi Acetate
(acid) pada port A dan ada yang berisi Bicarbonat (port B).
b. Air
Jumlah air yang dibutuhkan untuk 1 kali HD + 150 liter selama 5 jam HD. Kualitas air
yang dibutuhkan harus memenuhi standar untuk proses HD yang sudah diolah
melalui pengolahan air (water treatment).
Membrane Semi permeable
Membrane semi permeable adalah suatu selaput atau lapisan yang sangat tipis dan
mempunyai lubang (pori) sub mikroskopis. Dimana partikel dengan BM kecil &
sedang (small dan middle molekuler) dapat melewati pori membrane, sedangkan
partikel dengan BM besar (large molekuler) tidak dapat melalui pori membrane
tersebut.

3. Dializer merupakan suatu tabung yang terdiri dari 2 ruangan (2 kompartemen)


yang dipisahkan oleh selaput semi permeable. Darah mengalir di 1 sisi membrane
dan dialisat pada membrane lainya.
Di dalam dializer ini terjadi proses difusi, osmosis, dan ultrafiltrasi.
Pada mulanya HD dilakukan dengan menggunakan membrane yang mempunyai
klirens dan ultrafiltrasi yang rendah yang memerlukan waktu sampai 6 jam untuk
mendialisis pasien. Kemajuan biomaterial dializer memungkinkan dialysis lebih
pendek lagi (4 jam) dalam 3 kali seminggu.
Preskripsi Hemodialisis
Sebelum pasien dilakukan HD, sebelumnya harus direncanakan dahulu hal-hal
sebagai berikut:
1. Lama & frekwensi dialysis

2. Tipe dializer
3. Kecepatan aliran darah
4. Dosis antikoagulan / heparin
5. Banyaknya UF & UFR
6. Vaskulerisasi yang dipakai.

2. Peritoneal Dialysis
Peritoneal Dialysis merupakan salah satu terapi pengganti ginjal yang
fungsinya sama dengan hemodialisa, tetapi dengan metode yang berbeda.
Peritoneal dyalisis adalah metode cuci darah dengan bantuan membran peritoneum
(selaput rongga perut), jadi darah tidak perlu dikeluarkan dari tubuh untuk
dibersihkan dan disaring oleh mesin dialysis.
Proses Peritoneal Dialysis
Dalam peritoneal dialysis dilakukan pergantian cairan setiap hari tanpa
menimbulkan rasa sakit. Proses mengeluarkan cairan tersebut dalam jangka waktu
tertentu dan kemudian menggantikannya dengan cairan baru. Proses ini terdiri
dalam 3 langkah:
1. Mengeluarkan cairan, proses pengeluaran cairan dari rongga peritoneal
berlangsung dengan bantuan gaya gravitasi dan memerlukan waktu sekitar
20 menit.
2. Memasukan cairan, cairan dialysis ke dalam rongga peritoneal melalui kateter
dan memerlukan proses 10 menit.
3. Waktu tinggal, tahap cairan disimpan di dalam rongga peritoneal selama 4
samapi 6 jam (tergantung anjuran dari dokter). Pergantian cairan diulang
setiap 4 atau 6 jam, dengan maksud minimal 4 kali sehari, 7 hari dalam
seminggu. Anda dapat melakukan pergantian di mana saja seperti di rumah,
tempat bekerja, atau di tempat lainnya yang anda kunjungi, namun tempattempat tersebut harus memenuhi syarat agar terhindar infeksi.

Pemilihan tempat yang baik untuk pergantian cairan memiliki beberapa kriteria :
1. Pastikan tempat tersebut : bersih, tidak ada hembusan agin (kipas angin,
pintu / jendela terbuka), dan memiliki penerangan yang baik.
2. Tidak diperkenankan adanya binatang disekitar saat pergantian cairan dan di
tempat penyimpanan peralatan anda.
3. Bebas gangguan dari luar.
Jenis Peritoneal Dialysis
1. APD (Automated Peritoneal Dialysis) / Dialysis Peritoneal Otomatis.
Merupakan bentuk terapi dialysis peritoneal yang baru dan dapat dilakukan di
rumah, pada malam hari sewaktu tidur dengan menggunakan mesin khusus
yang sudah diprogram terlebih dahulu. Mesin khusus ini dapat dibawa ke
mana saja, dikarenakan mesin ini tidak bekerja dengan daya gravitasi maka
keharusan untuk menimbang dan menggantung kantung cairan.
2. CAPD (Continous Ambulatory Peritoneal Dialysis) / Dialysis Peritoneal
Mandiri Berkesinambungan. Bedanya tidak menggunakan mesin khusus
seperti APD. Dialysis peritoneal diawali dengan memasukkan cairan dialisat
(cairan khusus untuk dialysis) ke dalam rongga perut melalui selang kateter,
lalu dibiarkan selama 4-6 jam. Yang dimaksud dengan kateter adalah selang
plastik kecil (silikon) yang dimasukan ke dalam rongga peritoneal melalui
pembedahan sederhana, kateter ini berfungsi untuk mengalirkan cairan
dialysis peritoneal keluar dan masuk rongga peritoneum anda. Ketika dialisat

berada di dalam rongga perut, zat-zat racun dari dalam darah akan
dibersihkan dan kelebihan cairan tubuh akan ditarik ke dalam cairan dialisat.
Peralatan Peritoneal Dialysis
1. Ultrabag

twinbag

sistem

: Kateter, Konektor

titanium, Short

transfer

set, Cairan dialysis (ultra bag / twin bag system), Minicap, Outlet port clamps
(untuk twin bag system).
2. Sistem Ultraset / Easi-Y_system : Kateter, Konektor titanium, Short transfer
set, Cairan dialysis, Minicap, Outlet port Clamps (untuk sistem kantung
kembar), Ultra set / Easi-Y set, Kantong drainase untuk Easi-Y system.
Fungsi Setiap Alat Peritoneal Dialysis
Kantung cairan dialysis
Kantung yang berisi cairan ini dimasukan ke dalam peritoneum dan akan membuang
produk sisa cairan yang berlebihan dari darah. Bagian depan kantung ini tertera
informasi yang sebaiknya dibaca terlebih dahulu sebelum digunakan, antara lain :

Pastikan konsentrat cairan dialysis yang digunakan sudah sesuai dengan


ketentuan (1.5%, 2.5% dan 4.25%).

Tanggal kadaluarsa, volume kantong.

Tidak mengalami kebocoran pada kantung.

Nomor kode produk.

Pastikan bagian ujung kantong masih dalam kondisi tetutup.

Pastikan cairan dalam kontong berwarna jernih.

Anda dapat menghangatkan kantung cairan dengan cara pemanasan kering,


seperti : bantal panas atau lampu pemanas. Hindari dengan pemanasan basah
(merebus dengan air), dikarenakan dapat menimbulkan pertumbuhan kuman.

Cara membuang cairan bekas pakai dapat dibuang di toilet dan kantungnya dapat
dibuang di tempat sampah, pastikan anda mencuci tangan dengan bersih setelah
mebuangnya.
Outlet port clamps
Klem yang terbuat dari plastik ini berwarna merah dan berfungsi untuk mencegah
aliran cairan pada setiap tahap yang berbeda pada waktu pertukaran cairan. Klem
ini tidak bersifat steril, pastikan dengan mencuci menggunakan air dan sabun, dan
mengeringkan dengan bersih dan disimpan dalam posisi terbuka.
Short transfer set
Sistem PD produksi baxter merupakan sistem tertutup yang bertujuan melindungi
rongga peritoneal.

3. Transplantasi ginjal
Transplantasi ginjal adalah proses pencangkokan ginjal sehat dari donor ke
dalam tubuh seseorang yang mengalami gagal ginjal melalui tindakan pembedahan.
Ginjal baru bersama ginjal lama yang fungsinya sudah memburuk akan bekerja
bersama-sama untuk mengeluarkan sampah metabolisme dari dalam tubuh.
Transplantasi ginjal umumnya dilakukan pada pasien gagal ginjal stadium
akhir. Pasien gagal ginjal umumnya memiliki tiga alternatif pengobatan: hemodialisis,
peritoneal dialisis, dan transplantasi ginjal. Banyak pasien memilih melakukan
transplantasi ginjal karena menawarkan kebebasan lebih besar, alih-alih harus
melakukan cuci darah (dialisis) rutin seumur hidup. Sebelum transplantasi ginjal
dilakukan, pasien harus melakukan konsultasi dengan dokter untuk menentukan
adanya risiko, dan apakah transplantasi memang merupakan pilihan terbaik.
Sebuah transplantasi ginjal dapat dilakukan tanpa memandang usia dari
penerima (pasien yang membutuhkan ginjal) asalkan mereka memiliki status
kesehatan umum yang dapat menahan operasi besar, ada peluang bagus untuk
sukses transplantasi dan orang tersebut sadar dan bersedia untuk mematuhi dengan

mengambil obat immunosuppressant setelah transplantasi untuk mencegah


penolakan dari organ baru oleh sistem kekebalan tubuh.

Penyebab penyakit ginjal tahap akhir


a) Diabetes
Pasien-pasien ini memiliki gula darah tinggi terus menerus. Ini gula darah
tinggi dapat merusak filter dalam ginjal, menyebabkan kerusakan jangka panjang
ginjal dan akhirnya gagal ginjal. Ini disebut nefropati diabetes.

b) Tekanan darah tinggi atau hipertensi


Ini adalah penyebab umum lain dari penyakit ginjal dan kegagalan. Tekanan
darah tinggi di pembuluh darah kecil ke ginjal menyebabkan kerusakan dan
mencegah proses penyaringan dari bekerja dengan benar.
c) Stenosis Arteri Ginjal
Penyumbatan pembuluh darah yang membawa darah ke ginjal dari waktu ke
waktu disebut stenosis arteri ginjal adalah penyebab lain dari penyakit ginjal tahap
akhir.
d) Ginjal Polikistik
Kondisi lain yang disebut penyakit ginjal polikistik yang merupakan kondisi
yang diwariskan. Ada beberapa besar kista atau ruang kosong yang terbentuk dalam
ginjal yang membuat fungsi normal sulit.
e) Masalah Bawaan

Mungkin ada masalah bawaan dalam pengembangan ginjal. Hal ini terjadi
sejak sebelum lahir dan memanifestasikan ketika lebih dari 90% dari fungsi ginjal
terganggu.
f) Systemic Lupus Erythematosus (SLE)
Penyakit kekebalan seperti systemic lupus erythematosus (SLE) di mana
sistem kekebalan tubuh gagal untuk mengenali ginjal sebagai miliknya dan serangan
itu berpikir itu menjadi benda asing.
Yang tidak dapat melakukan transplantasi ginjal

Orang dengan kanker ganas


Orang dengan infeksi aktif
Mereka dengan hati atau penyakit jantung.
Mereka dengan AIDS

Kelebihan transplantasi ginjal

Ginjal baru, akan bekerja seperti halnya ginjal normal


Penderita akan merasa lebih sehat dan "lebih nomal"
Penderita tidak perlu melakukan dialysis
Penderita yang mempunyai usia harapan hidup yang lebih besar

Kekurangan transplantasi ginjal

Butuh proses pembedahan besar


Proses untuk mendapatkan ginjal lebih sulit atau lebih lama
Tubuh menolak ginjal yang dicangkokkan
Penderita harus rutin minum obat imunosupresan, yang mempunyai banyak efek
samping

DAFTAR PUSTAKA

Kusuma, Hardi. 2012. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan NANDA NIC-NOC.


Yogyakarta. Media Hardy.
Suyono, Slamet. (2001). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 3. Jilid I II. Jakarta.: Balai
Penerbit FKUI

Arif Mustaqin (Kumala Sari).2012. Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem


Perkemihan-Jakarta: Salemba Medika.
Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Nanda NIC-NOC.2012. Media Iharay.
Syamsudin. 2011. Buku Ajar Farmakoterapi Kardiovaskuler dan Renal Jakarta:
Salemba Medika.
Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar keperawtan medikal bedah, edisi 8 vol 3. Jakarta:
EGC
Carpenito. 2001. Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan, Diagnosa keperawatan
dan masalah kolaboratif. Jakarta: EGC
Johnson, M., et all. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second Edition. New
Jersey: Upper Saddle River
Kasuari. 2002. Asuhan Keperawatan Sistem Pencernaan dan Kardiovaskuler Dengan
Pendekatan Patofisiology. Magelang. Poltekes Semarang PSIK Magelang

Mansjoer, A dkk. 2007. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 1 edisi 3. Jakarta: Media
Aesculapius
Mc

Closkey,

C.J., et

all.

1996. Nursing

Interventions

Classification

(NIC) Second

Edition. New Jersey: Upper Saddle River


Nanda. 2005. Nursing Diagnoses Definition dan Classification. Philadelpia
Rab, T. 2008. Agenda Gawat Darurat (Critical Care). Bandung: Penerbit PT Alumni
Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006. Jakarta: Prima
Medika
Udjianti, WJ. 2010. Keperawatan Kardiovaskuler. Jakarta: Salemba Medika
http://www.infodokterku.com/component/content/article/21-kumpulanartikel/info-penyakit/penyakit-tidak-menular/68-terapi-pengganti-ginjal-ataurenal-replacement-therapy-rrt.html
http://gagalginjalkronik.com/pengobatan-gagal-ginjal-kronik/
https://nersmukhlis.wordpress.com/2011/08/01/hemodialisis-dan-capd/