Anda di halaman 1dari 2

DATA STATISTIK

Data di Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) tahun 2010 menyebutkan, volume rata-rata
sampah di Indonesia mencapai 200 ribu ton per hari. Daerah perkotaan menyumbang sampah
paling banyak. Hal ini disebabkan banyak faktor, diantaranya pertambahan penduduk dan
arus urbanisasi. Jika persoalan sampah tidak segera ditangani maka pada tahun 2020 volume
sampah di Indonesia meningkat lima kali lipat. Berarti, 1 juta ton tumpukan sampah dalam
sehari. Peningkatan sampah dipicu oleh pertumbuhan jumlah penduduk. Hampir semua
Negara mengalami masalah sampah. Tapi di negara-negara maju yang masyarakatnya telah
sadar lingkungan serta didukung teknologi modern, telah berhasil mengatasi sampah.
Termasuk pula ekspor limbah ke negara lain sebagai salah satu langkah mengatasi sampah.
(Suistaining Partnership, 2011)

Dewasa ini pertumbuhan penduduk khususnya di kota berjalan dengan pesat sekitar 36%,
pada tahun 2020 diperkirakan jumlahnya meningkat menjadi 52% atau sebanyak 40 juta jiwa.
Pesatnya pertumbuhan penduduk di kota kota besar di Indonesia selain membawa
keuntungan dengan tumbuh dan berkembangnya kota kota menjadi pusat kegiatan ekonomi,
industri, sosial dan budaya juga membawa dampak terhadap meningkatnya biaya sosial,
sehingga pada akhirnya kawasan perkotaan akan sampai pada tingkat skala disekonomi
(kemunduran ekonomi). Hal ini merupakan akibat terjadinya kemerosotan kualitas
lingkungan hidup perkotaan berupa kebisingan, kemacetan lalu lintas, pencemaran air, udara
dan tanah yang disebabkan oleh limbah industri dan rumah tangga.
Menurut perkiraan dari Badan Pusat Statistik (PBS) jumlah sampah pada tahun 2020 di 384
kota di Indonesia mencapai 80.235,87 ton tiap hari. Dari sampah yang dihasilkan tersebut
diperkirakan sebesar 4,2% akan diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sebanyak
37,6% dibakar, dibuang ke sungai sebesar 4,9% dan tidak tertangani sekitar 53,3%. Dari
sekitar 53,3% sampah yang tidak ditangani dibuang dengan cara tidak saniter dan menurut
perkiraan National Urban Development Srtategy (NUDS) tahun 2003 rata rata volume
sampah
yang
dihasilkan
per
orang
sekitar
0,5

0,6
kg/hari.
Sebagai contoh Kota Medan merupakan kota inti di Sumatera Utara mempunyai beban
volume sampah yang diproduksi penduduk sebesar 5.710 m3/hari. Dari produksi sampah
tersebut yang mampu diangkut oleh Dinas Kebersihan kota Medan baru 68%, sedangkan
32% belum terangkut. Masalah utama sektor persampahan di kota Medan adalah masih
banyaknya illegal dumping.

Kebijakan pengelolaan sampah harus dilakukan oleh Pemerintah Pusat karena mempunyai
cakupan nasional. Kebijakan pengelolaan sampah ini meliputi :
1) Penetapan instrumen kebijakan:
(i) instrumen regulasi: penetapan aturan kebijakan (beleidregels), undangundang dan hukum yang jelas tentang sampah dan perusakan lingkungan.
(ii) instrumen ekonomik: penetapan instrumen ekonomi untuk mengurangi beban
penanganan akhir sampah (sistem insentif dan disinsentif) dan pemberlakuan pajak bagi
perusahaan yang menghasilkan sampah, serta melakukan uji dampak lingkungan.
2) Mendorong pengembangan upaya mengurangi (reduce), memakai kembali (reuse), dan mendaur-ulang (recycling) sampah, dan mengganti (replace);

3) Pengembangan produk dan kemasan ramah lingkungan;


4) Pengembangan teknologi, standar dan prosedur penanganan sampah
(a) Penetapan kriteria dan standar minimal penentuan lokasi penanganan
akhir sampah;
(b) penetapan lokasi pengolahan akhir sampah;
(c) luas minimal lahan untuk lokasi pengolahan akhir sampah;
(d) penetapan lahan penyangga.

Ketidakseriusan itu tergambar antara lain dari tidak adanya urgensi pemerintah dalam
mendorong keberadaan Undang-Undang (UU) Persampahan sebagai payung hukum dalam
pengelolaan sampah secara nasional. Landasan hukum pengelolaan sampah yang ada
sekarang ini baru peraturan daerah (perda), yang notabene hanya berurusan dengan retribusi
kalau ada yang membuang sampah sembarangan. Ide UU Persampahan itu sudah kita usulkan
sejak 1995 dan kita kampanyekan lebih kencang lagi tahun 2000. Tetapi, sampai hari ini tak
jelas nasibnya.
Pelaksanaan Perda pun kerap terjadi pelanggaran, penyebabnya adalah karena pemerintah
kurang tegas dalam menindak masyarakat yang melanggar, terutama pihak pengusaha yang
menimbulkan sampah yang membahayakan lingkungan. Selain itu kesadaran masyarakat
untuk menjaga lingkungan hidupnya sangat rendah, ini berkaitan dengan pemahaman tentang
agama serta tingkat kesejahteraa masyarakat. Pada negara maju, kepedulian atas kebersihan
lingkungan sangat tinggi.
Keberadaan Undang-Undang persampahan dirasa sangat perlukan. Undang-Undang ini akan
mengatur hak, kewajiban, wewenang, fungsi dan sanksi masing-masing pihak. UU juga akan
mengatur soal kelembagaan yang terlibat dalam penanganan sampah. Menurut dia, tidak
mungkin konsep pengelolaan sampah berjalan baik di lapangan jika secara infrastruktur tidak
didukung oleh departemen-departemen yang ada dalam pemerintahan.