Anda di halaman 1dari 16

Makalah Sistem Endokrin

BAB I
PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Sistem endokrin dapat dijumpai pada semua golongan hewan, baik vertebrata maupun
invertebrata. Sistem endokrin (hormon) dari sistem saraf secara bersama lebih dikenal
sebagai super sistem neuroendokrin yang bekerja sama secara kooperatif untuk
menyelenggarakan fungsi kendali dan koordinasi pada tubuh hewan. Pada umumnya, sistem
endokrin bekerja untuk mengendalikan berbagai fungsi fisiologi tubuh, antara lain aktivitas
metabolisme, pertumbuhan, reproduksi, regulasi osmotik, dan regulasi ionik.
Kelenjar tanpa saluran atau kelenjar buntu digolongkan bersama dibawah nama organ
endokrin, sebab sekresi yang dibuat tidak meninggalkan kelenjar melalui satu saluran, tetapi
langsung masuk ke dalam darahyang beredar di dalam kelenjar. Kata endokrin berasal dari
bahasa Yunani yang berarti sekresi ke dalam; zat aktif utama dari sekresi internal ini
disebut hormon, dari kataYunani yang berarti merangsang. Beberapa dari organ endokrin
menghasilkan satu hormon tunggal, sedangkan yang lain lagi dua atau beberapa jenis
hormon: misalnya kelenjar hipofisis menghasilkan beberapa jenis hormon yang
mengendalikan kegiatan banyak organ lain, karena itulah maka kelenjar hipofisis dilukiskan
sebagai kelenjar pemimpin tubuh.
Oleh karena itu, untuk mengetahui lebih lanjut mengenai fisiologi sistem endokrin
pada berbaga jenis hewa vertebrata dan invertebrata maka dibuatlah makalah ini.
BAB II
ISI

A.

1.
2.

Pengertian Sistem Endokrin


Sistem endokrin terdiri dari sekelompok organ (kadang disebut sebagai kelenjar
sekresi internal), yang fungsi utamanya adalah menghasilkan dan melepaskan hormonhormon secara langsung ke dalam aliran darah. Hormon berperan sebagai pembawa pesan
untuk mengkoordinasikan kegiatan berbagai organ tubuh (Anonim, 2013).
Sistem Endokrin disebut juga kelenjar buntu, yaitu kelenjar yang tidak mempunyai
saluran khusus untuk mengeluarkan sekretnya. Sekret dari kelenjar endokrin dinamakan
hormon. Hormon berperan penting untuk mengatur berbagai aktivitas dalam tubuh hewan,
antara lain aktivitas pertumbuhan, reproduksi, osmoregulasi, pencernaan, dan integrasi serta
koordinasi tubuh (Ulfhitha, 20112).
Sistem endokrin hampir selalu bekerja sama dengan sistem saraf, namun cara kerjanya
dalam mengendalikan aktivitas tubuh berbeda dari sistem saraf. Ada dua perbedaaan cara
kerja antara kedua sistem tersebut. Kedua perbedaan tersebut adalah sebagai berikut
(Ulfhitha, 20112):
Dibandingkan dengan sistem saraf, sistem endokrin lebih banyak bekerja melalui transmisi
kimia.
Sistem endokrin memperhatikan waktu respons lebih lambat daripada sistem saraf. Pada
sistem saraf, potensial aksi akan bekerja sempurna hanya dalam waktu 1-5 milidetik, tetapi
kerja endokrin melalui hormon baru akan sempurna dalam waktu yang sangat bervariasi,
berkisar antara beberapa menit hingga beberapa jam. Hormon adrenalin bekerja hanya dalam
waktu singkat, namun hormon pertumbuhan bekerja dalam waktu yang sangat lama. Di
bawah kendali sistem endokrin (menggunakan hormon pertumbuhan), proses pertumbuhan
memerlukan waktu hingga puluhan tahun untuk mencapai tingkat pertumbuhan yang
sempurna.

Dasar dari sistem endokrin adalah hormon dan kelenjar (glandula), sebagai senyawa
kimia perantara, hormon akan memberikan informasi dan instruksi dari sel satu ke sel
lainnya. Banyak hormon yang berbeda-beda masuk ke aliran darah, tetapi masing-masing tipe
hormon tersebut bekerja dan memberikan pengaruhnya hanya untuk sel tertentu (Ulfhitha,
20112).
Sel-sel penyusun organ endokrin dapat dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut
(Ulfhitha, 20112) :
1.
Sel Neusekretori, adalah sel yang berbentuk seperti sel saraf, tetapi berfungsi sebagai
penghasil hormon. Contoh sel neusekretori ialah sel saraf pada hipotalamus. Sel tersebut
memperhatikan fungsi endokrin sehingga dapat juga disebut sebagai sel neuroendokrin.
Sesungguhnya, semua sel yang dapat menghasilkan sekret disebut sebagai sel sekretori. Oleh
karena itu, sel saraf seperti yang terdapat pada hipotalamus disebut sel neusekretori.
2.
Sel endokrin sejati, disebut juag sel endokrin kelasik yaitu sel endokrin yang benar-benar
berfungsi sebagai penghasil hormon, tidak memiliki bentuk seperti sel saraf. Kelenjat
endokrin sejati melepaskan hormon yang dihasilkannya secara langsung ke dalam darah
(cairan tubuh). Kelenjar endokrin sejati dapat ditemukan pada hewan yang memepunyai
sistem sirkulasi, baik vertebrata maupun invertebrata. Hewan invertebrata yang sering
menjadi objek studi sistem endokrin yaitu Insekta, Crustaceae, Cephalopoda, dan Moluska.
Kelenjar endokrin dapat berupa sel tunggal atau berupa organ multisel.
Sistem hormon (endokrin) dan saraf dahulu dianggap sebagai pengatur fisiologi yang
terpisah. Tetapi pandangan tersebut berubah setelah ditemukannya neuron-neuron
termodifikasi yang dapat mensekresi hormon. Beberapa di antara neuron-neuron tersebut
menunjukkan mekanisme pengaturan terhadap kelenjar-kelenjar khusus yang menghasilkan
hormon. Sekresi neuron-neuron termodifikasi tersebut dipengaruhi neuron-neuron biasa,
dan banyak kelenjar penghasil hormon (kelenjar endokrin) yang secara langsung diinervasi
oleh neuron yang mempengaruhi aktivitas sekretorinya.
Sistem endokrin Vertebrata melibatkan kelenjar endokrin yang mensintesis dan
melepaskan duta kimia khas ke dalam darah (the blood spesific chemical messenger) yang
disebut hormon. Hormon diangkut melalui darah ke jaringan sasaran khas tempat hormon
menyebabkan perubahan aktivitas sel penyusun jaringan tersebut. Karena suatu hormon
hanya mempengaruhi sasaran tertentu, maka sasaran harus dapat menerima sinyal tersebut,
berarti sasaran harus mempunyai reseptor khas agar dapat merespon sinyal. Organ lain yang
bukan sasaran dan dipapar oleh hormon yang sama dengan kadar yang sama harus tidak
mampu merespon, dalam arti harus tidak mempunyai reseptor yang mampu merespon
keberadaan hormon.
B.
Fungsi Sistem Endokrin secara Umum
Membedakan sistem saraf dan sistem reproduktif pada janin yang sedang
berkembang, menstimulasi urutan perkembangan, mengkoordinasi sistem reproduktif,
memelihara lingkungan internal optimal.
Empat tujuan/kegunaan paling penting dari Sistem Endokrin, yaitu :
1.
Homeostasis (temperatur/thermoregulation, metabolisme, nutrisi, keseimbangan asam
basa)
2.
Combating stress (infeksi, trauma, shock)
3.
Growth & development (mengembangkan jumlah sel/hyperplasia, dan mengembangkan
ukuran sel/hypertrophy).
4.
Reproduction (mensekresikan hormon sex pada laki-laki dan perempuan/ mengembangkan
karakteristik organ sex primer dan sekunder ).
Berikut adalah aktivitas tubuh yang dikendalikan oleh hormon dan jenis hormon yang
mengendalikan

1.
2.
3.
4.

5.
C.
1.

a.
1)
2)
3)
4)
5)

b.
1)
2)
2.

3.

4.

5.

Pencernaan dan fungsi metabolik yang terkait.


Sekretin, gasterin, insulin, glukagon, noradrenalin, tiroksin, dan hormon dari kortes adrenal.
Osmoregulasi, pengeluaran, dan metabolisme air serta garam.
Prolaktin, vasopresin, aldosteron.
Metabolisme kalsium:
Hormon pada teroid, kalsitonin.
Pertumbuhan dan perubahan morfologis;
Hormon pertumbuhan, androgen dari korteks adrenal
Tiroksin (untuk metamorfosis amfibi)
MSH (perubahan warna amfibi)
Organ dan proses reproduksi
FSH,LH, estrogen, progesteron, prolaktin, dan testosteron.
Kelenjar Endokrin
Kelenjar Pituitari
Kelenjar pituitari ini dikenal sebagai master of glands (raja dari semua kelenjar)
karena pituitari itu dapat mengkontrol kelenjar endokrin lainnya. Sekresi hormon dari
kelenjar pituitari ini dipengaruhi oleh faktor emosi dan perubahan iklim. Pituitari dibagi 2
bagian, yaitu anterior dan posterior.
Hipofisis anterior:
Hormon Somatotropin(untuk pembelahan sel, pertumbuhan)
Hormon tirotropin (sintesis hormon tiroksin dan pengambilan unsur yodium)
Hormon Adrenokortikotropin (merangsang kelenjar korteks membentuk hormon)
Hormon Laktogenik (sekresi ASI)
Hormon Gonadotropin (FSH pada wanita pemasakan folikel, pada pria pembentukan
spermatogonium; LH pada wanita pembentukan korpus luteum,pada pria merangsang sel
interstitial membentuk hormon testosteron)
Hipofisis Medula (membentuk hormon pengatur melanosit)
Hipofisis posterior
Hormon oksitosin (merangsang kontraksi kelahiran)
Hormon Vasopresin (merangsang reabsorpsi air ginjal)
Kelenjar Tiroid
Kelenjar tiroid adalah salah satu dari kelenjar endokrin terbesar pada tubuh manusia.
Kelenjar ini dapat ditemui di leher. Kelenjar ini berfungsi untuk mengatur kecepatan tubuh
membakar energi, membuat protein dan mengatur kesensitifan tubuh terhadap hormon
lainnya. Kelenjar tiroid dapat distimulasi dan menjadi lebih besar oleh epoprostenol. Fungsi
tiroid diatur oleh hormon perangsang tiroid (TSH) hipofisis, dibawah kendali hormon pelepas
tirotropin (TRH) hipotalamus melalui sistem umpan balik hipofisis-hipotalamus. Faktor
utama yang mempengaruhi laju sekresi TRH dan TSH adalah kadar hormon tiroid yang
bersirkulasi dan laju metabolik tubuh.
Kelenjar Paratiroid
Ada 2 jenis sel dalam kelejar paratiroid, ada sel utama yang mensekresi hormon
paratiroid (PTH) yang berfungsi sebagai pengendali keseimbangan kalsium dan fosfat dalam
tubuh melalui peningkatan kadar kalsium darah dan penuurunan kadar fosfat darah dan sel
oksifilik yang merupakan tahap perkembangan sel chief.
Timus
Kelenjar timus merupakan kelenjar yang bertanggungjawab dalam pertumbuhan
manusia. Kelenjar timus bahkan sangat berpengaruh pada saat usia pertumbuhan. Kelenjar
timus berfungsi untuk pertumbuhan. Bila kekurangan kelenjar timus akan menderita
kretinisme (kekerdilan) dan bila kelebihan menimbulkan gigantisme (raksasa).
Adrenalin

6.

7.

D.

Kelenjar adrenal atau kelenjar anak ginjal (kelenjar supra renal) terletak di atas ginjal
bagian kiri dan kanan. Bagian luar dari kelenjar adrenal berwarna kekuningan yang
menghasilkan kortisol yang disebut korteks dan bagian medula yang menghasilkan adrenalin
atau epinefrin dan non adrenalin atau nor eprinefrin.
Kelenjar adrenal beratnya kira-kira 4 gram. Kelenjar adrenal terdiri atas dua bagian
yang berbeda, yaitu: Pada setiap ginjal terdapat satu kelenjar suprarenal dan dibagi atas dua
bagian, yaitu bagian luar (korteks) dan bagian tengah (medula). Medula Adrenal yang berada
di pusat, bagian ini kira-kira 20% dari keseluruhan kelenjar adrenal, berkaitan dengan sistem
saraf simpatis, bertugas untuk mensekresi hormon epinefrin dan norepinefrin. Korteks
Adrenal, bagian ini berada di luar dan berfungsi untuk mensekresi hormon kortikosteroid dan
androgen.
Pada korteks menghasilkan hormon deoksikortison dan kortison dengan fungsi
mempengaruhi penyerapan. Apabila kekurangan menyebabkan penyakit adison. Pada
medulla menghasilkan hormon adrenalin (epinefrin) dengan fungsi mengubah glikogen
menjadi glukosa, menaikkan gula darah dan mempercepat kerja jantung. Hormone adrenalin
bekerja antagonis dengan hormone insulin dalam mengatur gula dalam darah agar tetap
normal.
Pankreas
Kelenjar pankreas termasuk golongan kelenjar endokrin. Ada beberapa kelompok sel
pada pankreas yang dikenal sebagai pulau langerhans. Bagian ini berfungsi sebagai kelenjar
endokrin yang menghasilkan hormone insulin. Hormoneinsulin berfungsi mengatur
konsentrasi glukosa dalam darah. Kekurangan hormon ini akan menyebabkan penyakit
diabetes yang ditandai dengan meningkatnya kadar glukosa dalam darah. Selain
menghasilkan insulin, pankreas juga menghasilkan hormon glucagons yang bekerja antagonis
dengan hormon insulin.
Gonad
Kelenjar kelamin (kelenjar gonad) adalah kelenjar endokrin yang memproduksi dan
mengeluarkan steroid yangmengatur pembangunan tubuh dan mengendalikan karakteristik
seksual sekunder. Gonad adalah organ yang memproduksi sel kelamin. Pada pria, gonadnya
adalah testes, dan pada wanita gonadnya adalah ovarium. Secara umum, kelanjar kelamin (kelenjar
gonad) pada laki-laki dan perempuan sangat berbeda baik dari segi struktur fisiologis,
kandungan dan jumlah hormon yang dikandungnya.
Kelenjar kelamin (kelenjar gonad) terbentuk pada minggu-minggu pertama gestasi
dan tampak jelas pada minggu kelima. Diferensiasi jelas dengan mengukur kadar testosteron
fetal terlihat jelas pada minggu ketujuh dan ke delapan gestasi. Keaktifan kelenjar gonad
terjadi pada masa prepubertas dengan meningkatnya sekresi gonadotropin (FSH dan LH)
akibat penurunan inhibisisteroid.

Hormon
Hormon (dari bahasa Yunani, : horman - "yang menggerakkan") adalah
pembawa pesan kimiawi antar sel atau antar kelompok sel. Semua organisme multiselular,
termasuk tumbuhan juga memproduksi hormon.
Hormon beredar di dalam sirkulasi darah dan fluida sell untuk mencari sel target.
Ketika hormon menemukan sel target, hormon akan mengikat protein reseptor tertentu pada
permukaan sel tersebut dan mengirimkan sinyal. Reseptor protein akan menerima sinyal
tersebut dan bereaksi baik dengan mempengaruhi ekspresi genetik sel atau mengubah
aktivitas protein seluler, termasuk di antaranya adalah perangsangan atau
penghambatan pertumbuhan serta apoptosis (kematian sel terprogram), pengaktifan atau

1.

2.

a.

b.

c.

penonaktifan sistem kekebalan, pengaturan metabolisme dan persiapan aktivitas baru


(misalnya
terbang,
kawin,
dan
perawatan
anak),
atau
fase
kehidupan
(misalnya pubertas dan menopause). Pada banyak kasus, satu hormon dapat mengatur
produksi dan pelepasan hormon lainnya. Hormon juga mengatur siklus reproduksi pada
hampir semua organisme multiselular.
Pada hewan, hormon yang paling dikenal adalah hormon yang diproduksi
oleh kelenjar endokrin vertebrata. Walaupun demikian, hormon dihasilkan oleh hampir semua
sistem organ dan jenis jaringan pada tubuh hewan. Molekul hormon dilepaskan langsung
ke aliran darah, walaupun ada juga jenis hormon - yang disebut ektohormon (ectohormone) yang tidak langsung dialirkan ke aliran darah, melainkan melalui sirkulasi atau difusi ke sel
target.
Pada prinsipnya pengaturan produksi hormon dilakukan oleh hipotalamus (bagian dari
otak). Hipotalamus mengontrol sekresi banyak kelenjar yang lain, terutama melalui kelenjar
pituitari, yang juga mengontrol kelenjar- kelenjar lain. Hipotalamus akan memerintahkan
kelenjar pituitari untu mensekresikan hormonnya dengan mengirim faktor regulasi ke lobus
anteriornya dan mengirim impuls saraf ke posteriornya dan mengirim impuls saraf ke lobus
posteriornya.
Fisiologi Hormon secara umum
Sistem endokrin terdiri dari kelenjar-kelenjar endokrin. Kelenjar endokrin merupakan
sekelompok susunan sel yang mempunyai susunan mikroskopis sangat sederhana. Kelompok
ini terdiri dari deretan sel-sel, lempengan atau gumpalan sel disokong oleh jaringan ikat halus
yang banyak mengandung pembuluh kapiler. Kelenjar endokrin mensekresi substansi kimia
yang langsung dikeluarkan ke dalam pembuluh darah. Sekresinya disebut hormon. Hormon
yaitu penghantar (transmitter) kimiawi yang dilepas dari sel-sel khusus ke dalam aliran darah.
Selanjutnya hormon tersebut dibawa ke sel-sel target (responsive cells) tempat terjadinya efek
hormon.
Klasifikasi hormon
Tergantung dari pandangan seseorang hormon dapat diklasifikasikan ke dalam dua
kelompok atau kelas, yaitu dari sudut susunan atau struktur kimia alamiahnya dan yang kedua
dari segi fungsi atau kerjanya. Bila ditilik dari struktur kimianya maka hormon dapat kita
katagorikan sebagai berikut :
Protein. Hormon tumbuh atau grwoth hormone termasuk hormon protein yang terbesar
yang mengandung 191 asam amnio (pada manusia). Jumlah adam amino pada hormon
tumbuh bervariasi tergantung pada species. Hormon parathyroid mempunyai sekitar 80-85
asam amino, sedangkan insulin yang terdiri dari rantai A dan rantai B mengandung asam
amino sebanyak 49-52. Susunan asam amino pada insulin ini adalah 20-21 asam amino pada
rantai A dan sejumlah 29-31 asam amino pada rantai B.
Peptida. Yang termasuk peptida antaranya adalah beberapa hormon yang dihasilkan oleh
hipothalamus yaitu TRF dalam bentuk tripeptida, vasopressin dan oxytocin yang secara
struktur kimianya termasuk octapeptida. Hormon gastrin mempunyai komponen asam amino
sebanyak 17 buah. Hormon perangsang alpha-melanosit (Alpha-melanocyte-stimulating
hormone) mempunyai komponen asam amino sejumlah 13 buah, sedangkan yang beta (Betamelanocyte-stimulating hormone) mengandung 18 atau 22 asam amino. Glucagon
mempunyai komponen asam amino sebanyak 29 buah, calcitonin 32 buah dan ACTH 39
buah.
Asam amino. Yang termasuk kelompok ini adalah hormon-hormon amine, yaitu yang
berasal dari asam amino yang mengalami modifikasi. Di antara yang termasuk ke dalam
hormon amine adalah epinephrine dan norepinephrine yang merupakan hasil modifikasi dari
asam amino tyrosine. Modifikasi dari asam amino tryptophan dapat menghasilkan serotonin

d.

e.

dan melatonin. Hormon thyroxin (T4) juga termasuk hormon amine, sebagai hasil yodanisasi
dan kondensasi dari dua molekul asam amino tyrosine.
Steroid. Hormon steroid dihasilkan dari metabolisme dan proses konversi dari kolesterol
yang mengandung 27 buah atom karbon (C-27). Hormon steroid larut dalam lemak dan
dihasilkan oleh kelenjar adrenal, testes, ovarium, dan plasenta. Hormon-hormon itu
diantaranya adalan estrogen (C-18), androgen (C-19), corticoid (C-12) dan progesteron (C21).
Asam lemak. Hormon prostaglandin adalah satu-satunya hormon yang masuk katagori ini.
Prostaglandin dihasilkan oleh beragam sel hewan yang merupakan biosintesis dari dua asam
lemak yaitu asam lemak arachidonic dan di-homo-gamma-linolenic (arachidonic acid; dihomo--linolenic acid).
Sebagai dikemukakan di atas hormon-hormon dapat pula dibeda-bedakan berdasarkan
kerja mereka (klasifikasi secara fungsional). Berdasarkan klasifikasi ini, hormon-hormon
dapat dikelompokk sebagai berikut :
Hormon perkembangan (Development hormone). Yang dimasukkan ke dalam
kelompok ini adalah hormon-hormon yang memegang peranan di dalam perkembangan dan
pertumbuhan serta peranannya dalam biologi reproduksi, baik ketika individu masih dalam
kandungan (intrauterine) maupun setelah berada di luar kandungan (extrauterine) sampai
mencapai usia remaja (pubertas) pada manusia atau dewasa kelamin pada hewan. Termasuk
dalam kelompok hormon ini adalah hormon-hormon yang dihasilkan oleh kelenjar gonad.
Hormon metabolisme (Metabolic hormone). Konservasi atau proses homeostasis
gula (glukosa) dalam tubuh diatur oleh beragam hormon, diantaranya glucocorticoid,
glucagon, dan catecholamine. Sebaliknya insulin, somatomedin dannonsuppressible insulinelike activity (NSILA) mempunyai efek yang berlawanan dengan glucocorticoid maupun
dengan glucagon ataupun catecholamine. Hormon tumbuh (Growth Hormone) dan thyroxin
memegang peranan pula di dalam metabolisme, di samping peranan kedua macam hormon
dalam proses pertumbuhan. Hormon-hormon androgen, estrogen, dan progesteron meskipun
mempunyai peranan utama dalam perkembangan indiividu atau hewan, ketiga macam
hormon ini juga mempunyai peranan dalam proses metabolisme dan pertumbuhan.
Hormon trofik (Tropic hormone). Di dalam prose evolusi dan perkembangan
species sampai mencapai peringkat vertebrata terbentuklah suatu struktur dari organ tubuh
yang mempunyai peranan yang khusus. Di dalam pengaturan fungsi kelenjar endokrin
terbentuk suatu sistem yang menghasilkan hormon yang merangsang kelenjar endokrin agar
pada gilirannya kelenjar endokrin ini menghasilkan hormon pula. Hormon yang dihasilkan
oleh struktur yang khusus ini, yaitu hipofisa adalah hormon-hormon yang dikatagorikan
sebagai hormon trofik. Hormon-hormon tersebut adalah hormon perangsang kelenjar thyroid
(TSH), hormon perangsang folikel (FSH) yang merangsang pertumbuhan folikel pada
ovarium dan proses spermatogenesis; hormon penguning (Luteinizing hormone;LH) yang
mengatur produksi progesteron pada hewan betina dan testosteron pada hewan jantan;
hormon adrenocortikotrofik (ACTH) yang merangsang korteks kelenjar adrenal untuk
menghasilkan hormon glucocorticoid dan hormon-hormon yang dihasilkan oleh
hipothalamus (hypothalamic releasing hormone atau hypothalamic releasing factor).
Dua hormon lain yang bersifat trofik tetapi dihasilkan diluar hipofisa adalah chorionic
gonadotropin manusia (human chorionic gonadotropin; HCG) dan chorionic thyrotropin
manusia (human chorionic thyrotropin) yang dihasilkan oleh placenta. HCG mempunyai
fungsi atau efek yang sama dengan LH sedangan HCT mempunyai peranan yang mirip
dengan TSH dari hipofisa. Meskipun belum umum diterima, telah sejak tahun 1975
disarankan bahwa placenta juga menghasilkan hormon ACTH (human chorionic
corticotrophin; HCC).

3.

Renin, meskipun zat ini tidak dapat dikategorikan sebagai hormon berdasarkan
batasan yang dipakai, mampu menghasilkan Angiotensin dan selanjutnya Angiotensin
berperan dalam produksi hormon mineralocorticoid yang mengatur metabolisme mineral. Di
dalam perkembangan species selanjutnya dijumpai pembentukan hormon-hormon dengan
fungsi dan peranan yang spesifik. Hormon-hormon tersebut adalah hormon perangsang
pigmen (melanocyte stimulating hormone; MSH) dan oxytocin yang berperan pada proses
kelahiran dan ekskresi air susu.
Hormon pengatur metabolisme air dan mineral. Calcitonin yang dihasilkan oleh
kelenjar thyroid (sel C atau sel-sel parafolikuler) mempunyai peranan untuk mengatur
metabolisme calcium dan fosfor. Meningkatnya produksi calcitonin akan menyebabkan
menurunnya calsium dan fosfor dalam darah dan meningkatkan ekskresi calsium, fosfor,
natrium, kalium dan magnesium melalui ginjal. Hormon parathyroid yang dihasilkan oleh
kelenjar parathyroid mengatur homeostasi mineral terutama calcium dan fosfor. Peningkatan
produksi hormon parathyroid akan berakibat meningkatnya calcium di dalamserum dan
meningkatnya ekskresi fosfor melalui air seni. Aldosteron adalah mineralocorticoid yang
dihasilkan oleh zona glomerulosa dari kelenjar adrenal. Hormon ini berperan di dalam
pengaturan metabolisme natrium dan kalium. Peningkatan produksi aldosteron akan
meningkatkan reabsorbsi natrium dan sekresi kalium dan hydrogen (dalam bentuk
ammonium) di kawasan tubuli pengumpul bagian kortikal (cortical collecting tubules) pada
ginjal. Vasopressin dihasilkan oleh sel-sel dari nucleus supraoptik dan paraventrikuler
(supraoptic and paraventricular nuclei) yang kemudian disimpan di dalam hipofisa pars
nervosa (neurohypophysis) menunggu sampai diperlukan oleh tubuh untuk disekresikan ke
dalam aliran darah. Peranan vasopressin (ADH; antidiuretic hormone) adalah melakukan
konservasi air tubuh dengan jalan mengurangi ekskresi air seni.
Hormon pengatur sistem kardiovaskuler. Epinephrine dihasilkan oleh bagian medula
dari kelenjar adrenal. Efek dari hormon ini tergantung dari reseptor dari setiap organ tujuan
(target organ), yaitu adregenic receptor (alpha atau beta). Pada jantung yang mempunyai beta
receptor epinephrine akan mengakibatkan peningkatan konduksi dan kontraksi dari jantung.
Pada arteriol yang mempunyai reseptor beta epinephrine akan menyebabkan vasokontriksi.
Dengan jalan demikian keseimbangan hemodinamika oleh epinephrine disesuaikan. Selain
terhadap sistem kardiovaskuler, epinephrine juga mempunyai peranan terhadap sistem
pernapasan yaitu menyebabkan dilatasi pada saluran pernapasan (bronchus) dan
menyebabkan menurunnya gerakan atau kontraksi usus. Namun demikian kerja ketiga sistem
tersebut (kardiovaskuler, pernapasan, dan usus) lebih didominasi oleh catecholamin dan
acetylkolin (catecholamine, acetylcholine) yang dihasilkan oleh ujung-ujung saraf simpatis
dan parasimpatis.
Patofisiologi hormon secara umum
Hormon berperan mengatur dan mengontrol fungsi organ. Pelepasannya bergantung
pada perangsangan atau penghambatan melalui faktor yang spesifik. Hormon dapat bekerja di
dalam sel yang menghasilkan hormone itu sendiri (autokrin), mempengaruhi sel sekitar
(parakrin), atau mencapai sel target di organ lain melalui darah (endokrin).
Di sel target, hormon berikatan dengan reseptor dan memperlihatkan pengaruhnya
melaui berbagai mekanisme transduksi sinyal selular. Hal ini biasanya melalui penurunan
faktor perangsangan dan pengaruhnya menyebabkan berkurangnya pelepasan hormon
tertentu, berarti terdapat siklus pengaturan dengan umpan balik negatif. Pada beberapa kasus,
terdapat umpan balik positif (jangka yang terbatas), berarti hormon menyebabkan
peningkatan aktifitas perangsangan sehingga meningkatkan pelepasannya. Istilah
pengontrolan digunakan bila pelepasan hormon dipengaruhi secara bebas dari efek
hormonalnya. Beberapa rangsangan pengontrolan dan pengaturan yang bebas dapat bekerja
pada kelenjar penghasil hormon.

Berkurangnya pengaruh hormon dapat disebabkan oleh gangguan sintesis dan


penyimpanan hormon. Penyebab lain adalah gangguan transport di dalam sel yang
mensintesis atau gangguan pelepasan. Defisiensi hormon dapat juga terjadi jika kelenjar
hormon tidak cukup dirangsang untuk memenuhi kebutuhan tubuh, atau jika sel penghasil
hormon tidak cukup sensitive dalam bereaksi terhadap rangsangan, atau jika sel panghasil
hormon jumlahnya tidak cukup (hipoplasia, aplasia).
Berbagai penyebab yang mungkin adalah penginaktifan hormon yang terlalu cepat
atau kecepatan pemecahannya meningkat. Pada hormon yang berikatan dengan protein
plasma, lama kerja hormon bergantung pada perbandingan hormon yang berikatan. Dalam
bentuk terikat, hormon tidak dapat menunjukkan efeknya, pada sisi lain, hormon akan keluar
dengan dipecah atau dieksresi melalui ginjal.
Beberapa hormon mula-mula harus diubah menjadi bentuk efektif di tempat
kerjanya. Namun, jika pengubahan ini tidak mungkin dilakukan, misalnya defek enzim,
hormon tidak akan berpengaruh. Kerja hormon dapat juga tidak terjadi karena target organ
tidak berespons (misal, akibat kerusakan pada reseptor hormone atau kegagalan transmisi
intra sel) atau ketidakmampuan fungsional dari sel atau organ target .
Penyebab meningkatnya pengaruh hormon meliputi, yang pertama peningkatan
pelepasan hormon. Hal ini dapat disebabkan oleh pengaruh rangsangan tunggal yang
berlebihan. Peningkatan sensitivitas, atau terlau banyak jumlah sel penghasil hormon
(hyperplasia, adenoma). Kelebihan hormon dapat juga disebabkan oleh pembentukan hormon
pada sel tumor yang tidak berdiferensiasi diluar kelenjar hormonnya (pembentukan hormon
ektopoik).
Peningkatan kerja hormon juga diduga terjadi jika hormone dipecah atau diinaktifkan
terlalu lambat, missal pada gangguan inaktivasi organ (ginjal atau hati). Pemecahan dapat
diperlambat dengan meningkatnya hormon ke protein plasma, tetapi bagian yang terikat
dengan protein.
E.
Sifat Kimia Hormon Vertebrata
Terdapat banyak jenis hormon Vertebrata dengan banyak pola aksi, tetapi berdasar
struktur dan sifat kimianya, hormon-hormon Vertebrata dapat dikelompokkan menjadi 3 ,
yaitu kelompok hormon steroid, hormon peptida dan protein, dan hormon yang berasal dari
tirosin. Struktur dan sifat kimia hormon menentukan pola aksi hormon terhadap sel sasaran.
Hormon steroid berasal dari kolesterol, dengan struktur dasar 3 cincin karbon
(tersusun atas 6 atom karbon) dan satu cincin karbon yang tersusun dari 5 atom karbon.
Perbedaan struktur kimia sedikit saja akan mengakibatkan perbedaan efek fisiologi yang
besar. Sebagai contohnya adalah sedikit perbedaan struktur kimia pada estradiol dan
testosteron mengakibatkan dua jenis hormon steroid tersebut mempunyai pengaruh yang
berlawanan.
Hormon-hormon yag tergolong dalam kelompok ini adalah hormon androgen,
estrogen, progesteron, dan kortikosteroid. Hormon-hormon yang termasuk ke dalam
kelompok hormon peptida dan protein dapat dilihat pada Tabel berikut.
Beberapa jenis hormon hipotalamus mempengaruhi pelepasan/sekresi hormon lain
yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin tertentu. Hormon hipotalamus dengan aksi memacu
pelepasan hormon lain disebut sebagai releasing hormone, sedangkan sebaliknya releaseinhibiting hormone. Hormon-hormon hipotalamus merupakan peptida dengan jumlah asam
amino penyusun sekitar 3-14 asam amino. Thyrotropin releasing hormone (TRH) tersusun
hanya dari 3 asam amino, growth hormone releasing hormone (GH-RH) tersusun atas 10
asam amino, dan growth hormone release-inhibiting hormone (GH-RIH) tersusun atas 14
asam amino.

Hormon utama yang berasal dari adenohipofisis merupakan protein yang mengandung
beberapa ratus asam amino. Growth hormone manusia, sebagai contoh mengandung 191
asam amino dan mempunyai berat molekul sekitar 22.000. Beberapa merupakan glikoprotein
yang selain mengandung rantai peptida juga mengandung komponen karbohidrat.
Sebagaimana protein, ukurannya tak terlalu besar, beberapa jenis berberat molekul sekitar
30.000, tetapi seringkali sulit mengatakan apakah komponen aktif yang diisolasi dari kelenjar
identik dengan hormon fungsional pada organisme hidup.
Hormon-hormon yang berasal dari tirosin, misalnya dua jenis katekolamin yang
dikenal yaitu noradrenalin dan adrenalin, berbeda gugus metilnya (-CH3). Adrenalin
mengandung gugus metil sedangkan noradrenalin tidak. Tirosin juga merupakan bahan baku
pembuatan hormon tiroid (T3 dan T4). Hormon tiroid bukan katekolamin, tetapi membentuk
kelompok tersendiri. Hormon tiroid dibentuk dari tirosin dengan jalan mengkondensasi 2
cincin C6. Hormon aktif setelah terjadi iodinasi.
F.
Pengaturan Fungsi Endokrin Oleh Otak
Organ-organ endokrin secara konstan berinteraksi dengan sistem saraf pusat. Otak
mempengaruhi dan mengendalikan fungsi-fungsi endokrin baik secara langsung maupun tak
langsung.
Hormon-hormon berpengaruh besar terhadap funsi sistem saraf pusat. Sebagai contoh,
anjing betina yang sedang birahi menerima perilaku kawin anjing jantan meski pada saat lain
sinyal yang sama menimbulkan perilaku antagonis. Kenyataannya bahwa sinyal yang sama
yang dapat mengakibatkan perilaku berbeda tergantung pada pengaruh hormonal yang dapat
ditiru dengan menginjeksikan hormon yang sesuai.
G.
Sistem Kontrol Hipotalamus
Hipotalamus terletak pada dasar otak, berdekatan dengan hipofisis (kelenjar pituitari),
jadi terletak posterior chiasma optici.
Hipotalamus merupakan tempat pengatur beberapa fungsi saraf, termasuk pengaturan
temperatur tubuh dan pengaturan intake minum dan makanan. Pengendalian suhu tubuh
merupakan sistem feedback. Perannya dalam pengaturan intake makanan dapat ditunjukkan
dengan merusak bagian tertentu hipotalamus dengan stimulasi elektrik. Jika perusakan pada
lokasi yang tepat, hewan akan makan dalam jumlah yang sangat besar dan tumbuh gemuk
abnormal.
Pengaturan intake air, dapat ditunjukkan dengan cara serupa. Stimulasi elektrik atau
injeksi larutan garam pekat ke area tertentu di hipotalamus, akan menyebabkan hewan minum
berlebihan. Dengan cara tersebut, biri-biri akan minum terus secara berlebih, hanya dalam
hitungan menit, 40% berat badannya adalah air.
Hipotalamus merupakan bagian penting dalam pengendalian endokrin karena
hipotalamus mengendalikan fungsi-fungsi hipofisis yang disebut sebagai master gland dari
sistem endokrin. Pengendalian ini diperantarai oleh neurohipofisis melalui pembuluh darah
khusus yang dikenal dengan sirkulasi portal.
Neurohipofisis mengandung dua jenis hormon yaitu vasopressin (yang berperan
dalam reabsorbsi air di ginjal dan diperlukan dalam pemekatan urin ) dan oksitosin
(menyebabkan kontraksi otot polos uterus menjelang melahirkan). Anti diuretic hormon
mamalia identik dengan vasopresin (disebut sebagai vasopresin karena injeksi dalam jumlah
besar mengakibatkan peningkatan nyata pada tekanan darah akibat konstriksi arteriol).
Vasopresin dan oksitosin merupakan oktapeptida. Keduanya dibentuk dalam sel saraf
di dekat hipotalamus, dan ditranspor sepanjang akson menuju ke akhiran saraf di
neurohipofisis, dari neurohipofisis kemudian dilepaskan ke darah. Dengan demikian
neurohipofisis hanya berperan sebagai penyimpan dan pelepas hormon (organ neurohemal)
karena hormon yang disekresikannya ternyata dihasilkan oleh bagian otak yang lain.

Adenohipofisis, sebaliknya, menghasilkan hormon dan pelepasnan hormon-hormon


tersebut ke darah diatur oleh hipotalamus melalui hormon yang dihasilkan oleh hipotalamus.
Hormon tersebut dapat mencapai hipofisis melalui sirkulasi portal. saat ini diketahui ada 10
hormon pengatur yang dihasilkan oleh hipotalamus yang terlibat dalam sistem pengendalian
hipofisis. Tiga hormon adenohipofisis (GH, prolaktin/ P, dan melanocyte stimulating
hormon/MSH) dikendalikan hipotalamus secara dual, satu inhibisi dan satunya lagi stimulasi.
Dengan demikian pelepasan ketiga jenis hormon tersebut tidak diatur dengan sistem feedback
sederhana, meskipun tidak diragukan lagi bahwa sinyal feedback terlibat dalam pengaturan
tersebut.
Pelepasan empat hormon yang lain nampaknya tergantung pada sistem feedback
negatif. Corticotropin (ACTH), TSH, LH, dan FSH mempunyai organ target korteks adrenal,
tiroid, dan gonad. Kelenjar-kelenjar tersebut saat distimulasi melepaskan hormon yang sesuai
ke dalam darah. Keberadaan hormon di dalam darah sebaliknya menghambat, dengan
feedback negatif, sekresi hormon-hormon tropik. Bukti-bukti menunjukkan bahwa inhibisi
terjjadi pada tingkat hipotalamus (kecuali tiroksin yang kemungkinan mempunyai lengkung
feedback lebih pendek melalui adenohipofisis).
Peran utama hipotalamus pada pengaturan endokrin menimbulkan pertanyaan
bagaimana organ penting tersebut dikendalikan. Hubungan hipotalamus dengan berbagai
lokasi di otak melalui saraf memungkinkan pengendalian oleh berbagai lingkungan, juga
faktor-faktor emosi, siklus terang gelap, musim, dan sebagainya. Dengan demikian jjelas
bahwa sistem endokrin secara keseluruhan ada di bawah kendali saraf, melalui peran
hipotalamus.
H.
Efek cascade
Pengendalian fungsi-fungsi metabolik oleh sistem endokrin dapat menyebabkan
terjadinya cascade, atau amplifikasi tahap-demi tahap (step by step amplification) yang
memungkinkan pengendalian suatu proses akhir dengan hanya memerlukan sangat sedikit
hormon untuk mengawali proses.
Sebagai contoh, untuk proses akhir deposisi glikogen pada hepar, diperlukan sejumlah
kecil C-RH (0,1 ug) yang dilepaskan oleh hipotalamus. pelepasan C-RH mengakibatkan
rangkaian peristiwa dengan tahap akhir pembentukan 5.600 ug glikogen di hepar.
I.
Interaksi hormon dengan sel target
Suatu hormon hanya dapat menampakkan aksinya pada sel target jika sel tersebut
mempunyai reseptor yang sesuai, dan sel lain-yang bukan merupakan sel target- harus tidak
mempunyai reseptor tersebut.
Dalam kaitannya dengan sel target, hormon dapat dikelompokkan menjadi (1)
katekolamin dan hormon peptida, yang beraksi melalui reseptor pada permukaan sel, dan (2)
steroid dan hormon tiroid, yang mampu melakukan penetrasi ke dalam sel dan menampakkan
efeknya langsung pada inti sel dan mekanisme sintesis protein selular.
Hasil pengamatan aksi adrenalin pada hepatosit menunjukkan bahwa adrenalin
menyebabkan terjadinya konversi glikogen menjjadi glukosa dengan jalan mengendalikan
pembentukan c-AMP. Proses tersebut tergantung serangkaian enzim, yang salah satunya
adalah fosforilase yang merupakan rate limiting step proses (gambar 21). Enzim aktif,
fosforilase a dibentuk dari prekursor, fosforilase b melalui aksi suatu fosforilase kinase dan
ATP pada fosforilase a. Proses secara keseluruhan hanya diawali dari terikatnya adrenalin
pada reseptornya pada membran sel. Ikatan adrenalin-reseptor mengakibatkan pelepasan
enzim adenilat siklase yang kemudian akan megkatalisis pembentukan cAMP dari ATP.
AMP siklik (C-AMP) disebut sevagai second messenger pada proses aksi hormon,
sedangkan hormonnya disebut sebagai first messenger CAMP dan adenilat siklase
ditemukan pada beberapa jenis jaringan Vertebrata dan Avertebrata, dan ditemukan pula pada

J.

1.

2.

3.

4.

sel bakteria. Peristiwa awal aksi hormon melalui c-AMP selalu melibatkan pelepasan adenilat
siklase dari tapak pengikatan hormon di membran sel.
Fungsi sel dapat juga dimodulasi oleh mekanisme aktivasi reseptor yang tidak
melibatkan c-AMP. Proses tersebut salah satunya tergantung pada pembentukan inositol
trifosfat dan mobilisasi ion kalsium dari pool kalsium intraselular. Pada sistem ini ion kalsium
dan fosfoinositol berperan sebagai second messenger.
Hormon steroid, termasuk hormon seks betina dan jantan, dan hormon yang
disekresikan korteks adrenal, beraksi melalui mekanisme yang berbeda. Estradiol terikat pada
reseptor di uterus, testosteron pada prostat, progesteron pada oviduct burung, dan sebagainya.
Pada permukaan sel, hormon-hormon tersebut membentuk kompleks dengan dengan proein
reseptor dan dengan cepat menuju ke nukleus, menstimulasi/ menginduksi ekspresi gen.
Hormon steroid yang disekresikan gonad tikus yang baru lahir dapat dirunut hingga
ke sel target di area tertentu di otak, Hormon berinteraksi dengan reseptor spesifik dan
menginduksi perkembangan jaringan saraf. Jaringan saraf yang diinduksi perkembangannya
tersebut, akan menjadi pengendali apakah individu dewasa menunjukkan perilaku jantan atau
betina. Diferensiasi seksual pada jaringan saraf menentukan terjadinya aktivasi pada jenis
perlaku tertentu dan supresi bagi perilaku yang lain. Selama perkembangan fungsi sistem
saraf pusat dimodulasi hormon dan seperti kita ketahui sistem saraf pusat yang kemudian
menjadi pengatur utama fungsi-fungsi endokrin tubuh.
Sistem endokrin pada Invertebrata
Sejumlah invertebrata tidak mempunya organ khusus untuk sekresi hormon sehingga
sekresinya dilaksanakan oleh sel neurosekretori, yang merupakan sumber hormon pada
invertebrata. Sel neurosekretori dapat ditemukan antara lain pada :
Coelenterata
Contohnya ialah Hydra. Hydra mempunyai sejumlah sel yang dapat menghasilkan senyawa
kimia yang berperan dalam proses reproduksi, pertumbuhan, dan regenerasi. Apabila kepala
hydra dipotong, sisa tubuhnya akan mengeluarkan molekul peptide yang disebut activator
kepala. Zat tersebut akan memnyebabkan sisa tubuh hydra dapat membentuk mulut dan
tentakel, dan selanjutnya membenyuk daerah kepala.
Platyhelminthes
Hewan ini dapat menghasilkan hormon yang berperan penting dalam proses regenerasi.
Hormon yang dihasilkan tersebut juga terlibat dalam regulasi osmotic, ionic, dan dalam
proses reproduksi.
Nematoda
Hewan ini dapat mengalami ganti kulit hingga 4 kali dalam siklus hidupnya., serta
mempunyai struktur khusus yang berfungsi untuk sekresi neurohormon, yang berkaitan erat
dengan sistem saraf. Struktur khusus tersebut terdapat pada ganglion di daerah kepala dan
beberapa pada daeran korda saraf.
Annelida
Sejumlah annelida seperti poliseta (misalnya neris), oligoseta (misalnya lumbricus),dan
hirudinae (misalnya lintah) sudah memperlihatkan adanya derajat sefalisasi yang memadai.
Otak hewan tersebut memiliki sejumlah besar sel saraf yang berfungsi sebagai sel sekretori.
Hewan ini juga telah memiliki system sirkulasi yang berkembang sangat baik sehingga
kebutuhan untuk menyelenggarakan system kendali endokrin dapat terpenuhi.sistem endokrin
annelida berkaitan erat dengan aktivitas pertumbuhan, perkembangan, regenerasi, dan
reproduksi.
Contoh yang baik untuk hal tersebut ialah perubahan bentuk cacing poliseta dewasa, yang
dikenal dengan istilah epitoki.epitoki ialah perubahan sejumlah ruas tubuh menjadi struktur
reproduktif.dalam proses tersebut ,beberapa ruas tubuh annelida yang mengalami perubahan
bentuk akan terlepas dari tubuh utamanya, dan berkembang menjadi organisme hidup

5.

6.

a.
b.
c.

bebas.epitoki di kendalikan oleh system neuroendokrin.hormon yang dilepaskan bersifat


menghambat epitoki sehingga epitoki hanya akan berlansung pada saat kadar hormon
tersebut rendah.cara kerja hormone ini tidak diketahui secara jelas, tetapi diduga sekresinya
diatur oleh faktor lingkungan.
Moluska
Moluska (terutama siput) mempunyai sejumlah besar sel neuroendokrin yang terletak pada
ganglia penyusun system saraf pusat. Hewan ini juga memiliki organ endokrin klasik.
Senyawa yang dilepaskan menyerupai protein dan berperan penting dalam mengendalikan
osmoregulasi,
pertumbuhan,
serta
reproduksi.
Reproduksi pada muluska sangat rumit karena hewan ini bersipat hommoprodit (gamet jantan
dan betina terdapat dalam satu tubuh). Beberapa sepesies hewan dari kelompok ini bersipat
protandri. Pada hewan yang bersipat protandri, gamet jantan terbentuk labih dahulu dari pada
gamet betina. Pada hewan ini di temukan adanya hormone yang merangsang pelepasan telur
dari gonad dan pengeluaran telur dari tubuh. Pada Cephalopoda, hewan yang tidak bersipat
hermaprodit,proses preproduksi di kendalikan Oleh endokrin. Dalam hal ini, organ endokrin
kalalsik(terutama kelenjar optik) diduga memilki peran yang sangat penting. Kelenjar optik
diduga menyekresi beberapa hormon yang diperlukan untuk perkembangan sperma dan telur.
Crustacea
Seperti halnya invertebrate lain, sistem endokrin pada krustasea umumnya berupa
system neuroendokrin, meskipun mempunyai organ endokrin klasik. Fungsi tubuh yang
dikendalikan oleh sistem endokrin antara lain osmoregulasi, laju denyut jantung, komposisi
darah, pertumbuhan, dan pergantian kulit. Sistem kendali endokrin yang berkembang paling
baik dapat ditemukan pada Malakostra (antara lain ketam, lobster/udang besar, dan udang)
Organ neuroendokrin krustasea terdapat pada tiga daerah utama yaitu sebagi berikut: .
Kompleks kelenjar sinus, organ ini kadang-kadang disebut kompleks golongan kepala dan
lobus optik ad tangkai mata .
Organ post- komisural.organ ini juga menerima akson dari otak dan berakhir pada awal
esofogus.
Organ perikardial : organ ini terletak sangat dekat dengan jantung danmenerima akson dari
ganglion toraks.
Krustasea memiliki jumlah kecil sel endokrin klasik, yaitu organ Y dan kelenjar mandibula.
Organ Y merupakan sepasang kelenjar yang terletak di daerah dada(toraks), tepat nya pada
luas maksila (rahang atas) atau ruas antena.Hormon dari kelenjar Y diduga memengaruhi
proses molting. Kelanjar mandibula terletak di dekat organ Y dan di duga memeliki pungsi
endokrin juga.Krustasea juga mempunyai kelenjar androgenik yang diyakini berperan dalam
perkembangan testis dan produksi seperma.
Salah satu proses pada krustasea yang dikendalikan oleh system endokrin ialah
pengubahan warna kulit. Krutasea mampu menerima rangsang berupa warna latar belakang
mereka, yang mendorong meereka untuk menyesuaikan warna tubuh nya dengan warna
itu.dengan cara demikian,krustasea dapat terhindar dari perhatian musuh nya .
Kemampuan untuk mengubah warna yang di miliki suatu spesies dapat berbeda dari
sepesies lain nya.beberapa hewan hany adapat mengubah warna kulit dan terng ke
gelap,sementara hewan yang lain dapat menanggapi beraneka warna latar belakang.
Perubahan warna kulit krustasea dipengaruhi oleh penyebaran pigmen yang tedapat dalam
kromatofor
(sel
pembawa
pigmen).
Kromatopor pada umum nya terdapat pada sel kulit luar tubuh,tetepi dapat juga terletak pada
organ yang lebih dalam. Fungsi kromatopor dapat diubah oleh sejumlah hormon, misalnya
hormon peptide yang di hasilkan oleh kompleks kelenjar sinus. Hormon ini menyebabkan
pigmen menumpul atau menyebar. Hormon yang di lepaskan oleh prikardial juga di anggap
dapat memengaruhi fungsi kromatopor.

7.
1.
2.
3.

K.

1.

Insecta
Terdapat 3 kelompok sel neuroendokrin yang utama, sebagai berikut.
Sel neurosekretori medialis : memiliki akson yang membentang hingga ke korpora
kardiaka, yakni sepasng organ yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan dan pelepasan
neurohormon.
Sel neurosekretori lateralis : memiliki akson yang membentang hingga ke korpora
kardiaka.
Sel neurosekretori subesofageal : terdapat di bawah kerongkongan dan memiliki akson
yang membentang ke korpora alata yang merupakan organ endokrin klasik.
Ketiganya berfungsi untuk mengendalikan berbagai aktivitas pertumbuhan dan pengelupasan
rangka luar (kulit luar).
Sistem endokrin invertebrata umumnya mengatur proses yang sama seperti halnya
pada vertebrata seperti pengembangan, pertumbuhan, dan reproduksi. Karena spesies
invertebrata telah mengembangkan keragaman sejarah kehidupan dengan peristiwa
karakteristik seperti pembentukan larva, sering dengan serangkaian tahapan yang berbeda dan
/ atau pupation, metamorfosis, diapause atau tahap istirahat yang tidak terjadi pada
vertebrata , jelas bahwa sistem endokrin dari invertebrata jauh lebih beragam dari yang
ditemukan pada vertebrata.
Invertebrata menggunakan steroid, terpenoid dan hormon peptida, tetapi ini adalah
yang paling umum di antara filum ini. Struktur sekretori pada invertebrata sering kali berasal
dari neuronal sehingga disebut sebagai organ atau sel neurosekretori. Steroid seperti ecdysone
dan steroid jenis vertebrata, khususnya terpenoid berbeda dari hormon peptida pada sifat fisik
dan kimia serta kelarutan dan ketahanan terhadap degradasi (Oehlmann, 2003).
Secara umum, sistem endokrin invertebrata belum didokumentasikan dalam rincian
yang sama seperti vertebrata. Meskipun terdapat keragaman endokrinologi pada invertebrata,
beberapa generalisasi dasar dapat dibuat.
Sistem Endokrin disebut juga kelenjar buntu. Sekret dari kelenjar endokrin dinamakan
hormon. Hormon berperan penting untuk mengatur berbagai aktivitas dalam tubuh hewan,
antara lain aktivitas pertumbuhan, reproduksi, osmoregulasi, pencernaan, dan integrasi serta
koordinasi tubuh. Sistem endokrin hampir selalu bekerja sama dengan sistem saraf, namun
cara kerjanya dalam mengendalikan aktivitas tubuh berbeda dari sistem saraf.
Sistem Endokrin pada Vertebrata
Gambar : Sistem Endokrin pada Vertebrata
Berbeda dengan invertebrata, sistem endokrin pada vertebrata terutama sekali tersusun
atas berbagai organ endokrin klasik. Sistem endokrin vertebrata dapat dibedakan menjadi 3
kelompok kelenjar utama yaitu hipotalamus, hipofisis atau pituitari, dan kelenjar endokrin
tepi. Pada vertebrata, sistem syaraf memberikan pengaruh yang sangat jelas terhadap sistem
endokrin. Berbagai organ endokrin tepi pada vertebrata bekerja di bawah kendali kelenjar
pituitari bagian depan (anterior) yang merupakan salah satu organ endokrin pusat. Pituitari
anterior bekerja dibawah pengaruh hipotalamus, yang kerjanya dipengaruhi oleh syaraf.
Hipotalamus dan Pituitari
Hipotalamus dan pituitari merupakan organ endokrin pusat yang dimilki hewan
vertebrata. Hipotalamus merupakan bagian otak vertebrata yang terletak di bawah talamus
dan berperan dalam mempertemukan sistem saraf dan endokrin. Talamus adalah kumpulan
sel syaraf yang terletak di bagian tengah otak vertebrata. Hipotalamus berfungsi untuk
mengendalikan kelenjar pituitari, sementara pituitari juga berfungsi mengendalikan kelenjar
endokrin lainnya. Oleh karena itu hipotalamus disebut sebagai kelenjar induk. Hormon yang
dikeluarkan oleh hipotalamus akan dibawa ke pituitari ada dua jenis hormon dari hipotalamus
yaitu hormon yang dilepaskan ke pituitari depan dan hormon yang dilepas ke pituitari

belakang. Hormon yang dilepas ke pituitari belakang akan dilepas melalui akson plasma yang
membentang dari hipotalamus hingga ke bagian tersebut . Kelenjar pituitari belakang disebut
daerah neurondokrinal karena pada daerah ini banyak ditemukan juluran saraf dari sel
neurosekretori, yang badan selnya terletak di hipotalamus. Oleh karena itu pituitari belakang
disebut juga neurohipofisis. Dari neurohipofisis hormon dari hipotalamus akan langsung
dilepas ke sirkulasi melalui ujung akson. Hormon hipotalamus yang dilepas di pituitari
belakang ialah hormon ADH dan oksitosin. ADH sangat penting untuk mengendalikan
penyerapan air di saluran ginjal sedangkan oksitosin berperan merangsang kontraksi otot
polos pada dinding rahim dan kelenjar susu. ADH dan oksitosin merupakan hormon dari
golongan peptida. Pada semua vertebrata dapat ditemukan peptida yang memiliki efek hayati
serupa dengan ADH dan oksitosin tetapi susunan asam aminonya berbeda. Hormon penting
lain yang dikeluarkan oleh hipotalamu yaitu hormon pelepas ( releasing hormon, RH ) dan
hormon penghambat (Release inhibiting hormon, RIH . Kedua jenis hormon tersebut dilepas
dari ujung akson sel neurosekretori di hipotalamus ke kapiler darah di dekatnya. Dari
hipotalamus, RH, RIH dibawa oleh darah ke pituitari depan yang juga disebut adenohipofisis.
RH bekerja untuk mempengaruhi pelepasan hormon dari pituitari depan. Hormon dari
pituitari depan selanjutnya akan mempengaruhi pengeluaran hormon dari kelenjar lain yang
merupakan kelenjat tepi, sebaliknya RIH menghambat pelepasan hormon dari pituitari depan.
Hormon pertumbuhan merangsang pertumbuhan tubuh pada semua hewan dan
berpengaruh pada metabolisme karbohidrat, lipid dan protein. Hormon ini juga merangsang
hati untuk melepaskan somatomedin, yang dapat merangsang mitosis dalam jaringan tulang.
TRH merangsang kelenjar tiroid untuk menyekresikan hormon tiroksin dan tirodotiromin
yang dapat mengendalikan laju metabolisme pada mamalia dan metamorfosis pada amfibi.
2.
Organ Endokrin Tepi
Organ endokrin tepi adalah semua organ endokrin diluar hipotalamus dan pituitari.
Semakin hari semakin banyak ditemukan organ endokrin baru pada vertebrata. Saat ini
banyak diketahui jantung juga mampu menghasilkan hormon yang disebut ANP. Hormon
tersebut berkaitan erat dengan pengaturan ion natrium di ginjal.
Hampir semua aktivitas dalam tubuh hewan dipengaruhi oleh hormon. Aktivitas
tersebut meliputi proses pencernaan, peredaran darah, pengeluaran, osmoregulasi. Dalam
mengatur aktivitas tubuh sistem endokrin biasanya bekerjasama dengan sistem saraf
Contoh kerja hormon dalam mengatur kadar kalsium dan gula darah manusia.
Keseimbangan kalsium dalam darah manusia dapat dicapai melalui kerjasama antara hormon
paratiroid dan kalsitonin. Keseimbangan kadar kalsium yang normal sangat penting karena
akan mempengaruhi kemamapuan saraf dan otot untuk menerima rangsang, pembekuan
darah, permeabilitas membran sel, serta fungsi normal enzim tertentu. Sebagai contoh
hipokalsemia (keadaan yang ditandai dengan kadar kalsium dalam darah yang rendah) akan
meningkatkan kepekaan saraf beberapa kali lipat sehingga dapat menimbulkan kejang otot.
L.
Feromon pada Hewan
Feromon adalah zat kimia yang berasal dari kelenjar endokrin dan digunakan oleh
makhluk hidup untuk mengenali sesama jenis, individu lain, kelompok, dan untuk membantu
proses reproduksi. Berbeda dengan hormon, feromon menyebar keluar tubuh dan hanya
memengaruhi dan dikenali oleh individu lain yang sejenis (satu spesies).
a. Feromon pada Kupu-Kupu
Ketika kupu-kupu jantan atau betina memgepakkan sayapnya, saat itulah feromon tersebar di
udara dan mengundang lawan jenisnya untuk mendekat secara seksual. Feromon seks
memiliki sifat yang spesifik untuk aktivitas biologis dimana jantan atau betina dari spesies
yang lain tidak akan merespon terhadap feromon yang dikeluarkan jantan atau betina dari
spesies yang berbeda.
b. Feromon pada Rayap

Untuk dapat mendeteksi jalur yang di jelajahinya, individu rayap yang berada di depan
mengeluarkan feromon penanda jejak (trail following pheromone) yang keluar dari kelenjar
stenum (sternal gland di bagian bawah, belakang abdomen), yang dapat dideteksi oleh rayap
yang berada di belakangnya. Sifat kimiawi feromon ini sangat erat hubungannya dengan bau
makanannya sehingga rayap mampu mendeteksi obyek makanannya.
Disamping feromon penanada jejak , para pakar etologi (perilaku) rayap juga menganggap
bahwa pengaturan koloni berada di bawah kendali feromon dasar (primer pheromone).
c. Feromon pada Ngengat
Ngengat gipsi betina dapat memengaruhi ngengat jantan beberapa kilometer jauhnya dengan
memproduksi feromon yang disebut disparlur. Karena ngengat jantan mmampu mengindra
beberapa ratus molekul dari betina yang mengeluarkan isyarat dalam hanya satu mililiter
udara, disparlur tersebut efektif saat disebarkan di wilayah yang saat besar sekalipun.
d. Feromon pada Semut dan Lebah Madu
Semut menggunakan feromon sebagai penjejak untuk menunjukkan jalan menuju sumber
makanan. Bila lebah madu menyengat, ia tak hanya meninggalkan sengat pada kulit
korbannya, tetapi juga meninggalakan zat kimia yang memanggil lebah madu lain untuk
menyerang. Demikian pula, semut pekerja dari berbagai spesies mensekresi feromon sebagai
zat tanda bahaya, yang digunakan ketika terancam musuh. Feromon disebar di udara dan
mengumpulkan pekerja lain. Bila semut-semut ini bertemu musuh, mereka juga memproduksi
feromon sehingga isyaratnya bertambah atau berkurang, bergantung pada sifat bahayanya.

BAB III
PENUTUP
A.
1.

2.

3.

B.

Kesimpulan
Kesimpulan makalah ini antara lain:
Sistem endokrin dan sistem saraf bekerja sama secara kooperatif untuk mengatur aktivitas
dalam tubuh hewan, dengan cara menghasilkan hormon yang kan mempengaruhi sel sasaran.
Hormon dapat dihasilkan oleh organ endokrin sejati atapun oleh neurosekretori. Hormon
dapat diklasifikasi menjadi 3 yaitu steroid, peptida, dan turunan tirosin.
Timbulnya tanggapan hayati pada sel target akibat rangsang hormon relatif lebih lambat
jika dibandingkan dengan tanggapan yang timbul akibat rangsang saraf. Hormon
mempengaruhi sel target secara spesifik. Pengaruh tersebut berkaitan erat dengan adanya
reseptor hormon pada sel target yang sesuai dengan hormon tetentu. Reseptor hormon ada
yang terdapat di membran sel.
Sistem endokrin pada invertebrata masih sederhana dan organ endokrin yang dimiliknya
pada umunya berupa organ neuroendokrin. Sedangkan sistem endokrin pada vertebrata sangat
kompleks. Organ endokrin yang dimiliki vertebrata pada umumnya berupa organ endokrin
klasik terdiri atas organ endokrin pusat dan tepi.
Saran
Tidak ada kata sempurna yang pantas untuk segala hal di dunia, begitu juga dengan
makalah yang telah kami susun, oleh karena itu bagi pihak terkait kami mengharapkan kritik
dan saran guna perbaikan dan semoga makalah ini dapat bermanfaat. Amiin.

DAFTAR PUSTAKA
Bond, C. E. 1979. Biology of Fishes. W. B. Saunders, Philadelphia.
Fujaya, Yushita., Ir., M.Si. 2004. Fisiologi Ikan. Rineka Cipta. Jakarta.
Helfman, G. S.., B. C. Collete dan D. E. Facey. 1997. The Diversity of Fishes. Blackwell Science,
UK.
Isnaeni, Wiwi. 2006. Fisiologi Hewan. Kanisius. Jogyakarta
Syahraini, 2012. Sistem Endokrin pada Hewan. http://syahraini-ritz.blogspot.com/. Diakses pada
tanggal 24 Maret 2013 pukul 15.00.
Anonim, 2013. Hormon dan Sistem Endokrin. http://sehat-enak.blogspot.com/ diakses pada tanggal 26
Maret 2013 pukul 14.14 WITA, Makassar.
Ulfhitha, Desi, 2012. Sistem Endokrin. http://desyyulfitha.blogspot.com/ diakses pada tanggal 26
Maret 2013 pukul 14.20 WITA, Makassar.