Anda di halaman 1dari 8

BAB II

PENDAHULUAN
2.1 Pengertian Wet Scrubber
Sistem scrubber adalah kumpulan berbagai macam alat kendali polusi udara yang dapat
digunakan untuk membuang partikel dan/atau gas dari arus gas keluaran industri. Wet scrubber
adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan variasi alat yang menggunakan liquid
untuk membuang polutan. Wet Scrubber dapat didefinisikan sebagai alat pemisahan suatu
partikel solid ( debu ) yang ada di gas dalam udara dengan menggunakan cairan sebagai alat
bantu. Air adalah cairan yang pada umumnya digunakan dalam proses scrubbing, meskipun
dapat juga digunakan cairan lainnya ( seperti : asam sulfat, dll )
Wet Scrubber dapat mengurangi polutan udara yaitu penanggulangan emisi debu dan
penanggulangan emisi pencemar yang dihasilkan oleh gas buang suatu industri dalam sekali
proses. Pada umumnya, wet scrubber mampu menghasilkan partikel dengan ukuran 1 - 2
diameter.

2.2 Cara Kerja Wet Scrubber

Pada Wet scrubber, arus gas kotor dibawa menuju kontak dengan liquid pencuci dengan cara
menyemprotkan, mengalirkannya atau dengan metode kontak lainnya. Desain dari alat kontrol
polusi udara (termasuk Wet scrubber) tergantung pada kondisi proses industri dan sifat alami
polutan udara yang bersangkutan. Wet scrubber membuang partikel dengan cara menangkapnya
dalam tetesan atau butiran liquid. Adapun butiran liquid yang masih terdapat dalam arus gas
pasca pencucian selanjutnya harus dipisahkan dari gas bersih dengan alat lain yang disebut mist
eliminator atau entrainment separator. Kemampuan Wet scrubber terbatas yaitu menyisihkan
partikel kurang dari 0.3 mikron.
Prinsip operasi dari Wet scrubber adalah:
1. Menggunakan gaya inersia partikulat dan droplet untuk mentransfer partikulat dari aliran
gas ke liquid;
2. Di dalam scrubber, partikulat dalam aliran udara dipaksa untuk berkontak dengan liquid
droplet, liquid packing material, liquid jet dari pelat.
Pada Wet Scrubber prinsip kerjanya adalah dengan mengalirkan fluida cair pada aliran gas,
sehingga gas yang mengalir akan difiltrasi oleh fluida cair tersebut. Beberapa cara yang ada pada
Wet Scrubber untuk sistem distribusi fluida cair diantaranya adalah dengan proses atomizing,
proses ini mengatomisasi fluida cair menjadi partikel-partikel yang didistribusikan dalam jumlah
banyak sehingga sistem filtrasi terjadi secara merata. Terdapat 3 tipe berdasarkan arah aliran gas
dan air yang bersiklus yaitu Countercurrent, Crosscurrent, dan Cocurrent. Cara lain adalah
dengan mengalirkan gas melalui genangan fluida cair, dengan proses ini partikel akan melekat
dan mengendap pada genangan air.

2.3 Klasifikasi Wet Scrubber

Sistem pengendali basah didesain untuk segala bentuk dan ukuran, variasinya meliputi sistem
tangki sederhana yang menggunakan nozzle hingga sistem yang rumit dengan penambahan baffles,
motor, spray dan komponen lainnya Klasifikasi yang digunakan untuk membedakan wet scrubber
adalah jenis energi kontak yang digunakan antara droplet dan aliran udara.
Klasifikasi dari tipe Wet Scrubber ini cukup banyak, beberapa dari pembagiannya diantaranya :

Spray Tower
Tipe paling sederhana dari Wet Scrubber adalah Spray Tower, partikel yang ikut mengalir

bersama aliran gas disemprot dengan air menggunakan nozzle. konstruksi tipe ini bisa
ditempatkan secara horizontal atau vertikal. Berikut ini contoh dari Spray Tower dengan
pemasangan secara vertikal.

Cyclonic Spray
Perbedaan antara Cyclonic Spray dengan Spray Tower adalah dari segi konstruksi pada

bagian aliran udara masuk ke Scrubber. Cyclonic Spray memiliki konstruksi bagian inlet gas
yang dibuat pada posisi tangensial terhadap silinder Scrubber sehingga gas yang masuk akan
mengalami aliran turbulen sehingga alirannya akan bersinggungan dengan dinding silinder
Scrubber. Hal ini mengakibatkan gas yang mengalir bertambah kecepatan alirannya. Sedangkan

air yang disemprotkan berasal dari nozzle yang ditempatkan pada bagian tengah atas konstruksi
inlet atau dari pipa yang ditempatkan ditengah sepanjang Scrubber. Berikut beberapa tipe dari
Cyclonic Spray.

Irrigate Cyclone Scrubber dan Cyclonic Spray Scrubber

Ventury Scrubber
Pada tipe ini konstruksinya mengalami pengecilan diameter lalu pembesaran kembali.

Bagian yang memiliki diameter terkecil disebut throat, dengan adanya throat aliran gas akan
mengalami proses pencekikan, sehingga akan terjadi tumpukan partikel pada bagian tersebut..
Aliran air ditempatkan untuk menggenangi dan mengalir melalui throat seperti diperlihatkan
pada gambar berikut ini.

Kecepatan aliran gas dengan kondisi pencekikan pada bagian throat menghasilkan efisiensi
tinggi pada tipe ini yaitu antara 70 99% untuk partikel berukuran > 1m tetapi hanya > 50%
untuk ukuran partikel sub mikron.
2.4 Kelebihan dan kekurangan Wet scrubber

Kelebihan Wet scrubber


1. Dapat secara simultan/bersamaan menyisihkan partikulat dan gas;
2. Digunakan pada sumber yang mengeluarkan gas atau partikulat bersifat explosive;
3. Bentuknya kecil dan dapat digabungkan dengan unit lainnya dalam ruang terbatas.

Kekurangan Wet scrubber


1. Menimbulkan pencemaran air;
2. Menimbulkan korosif;
3. Membutuhkan biaya yang besar pada pembuangan slugenya.
Keunggulan
Kebutuhan tempat kecil
Scrubber

mengurangi

temperatur

Kelemahan
Masalah korusi
dan Air

dan

polutan

terlarut

dapat

volume arus gas prosedur. Oleh karena itu, membentuk suatu senyawa asam yang
ukurran vessel termasuk fan dan duct yang sangat korosif. Kontruksi material yang
mengarah downstream lebih kecil daripada sesuai sangat penting, dan juga area
yang terdapat di alat lain. Ukuran yang yang rentan akan keadaan basah-kerung
lebih kecil menghasilkan biaya pokok dapat menimbulkan korosif.
yang lebih kecil dan lebih fleksibel dalam
penempatan lokasi.
Tidak ada sumber pengotor kedua

Kebutuhan power tinggi

Begitu partikel terkumpul, partikel tidak Efisiensi


dapat keluar selama proses berjalan.

pembuangan

tinggi

untuk

partikel pada hanya dapat dicapai pada


pressure

drop

yang

tinggi,

yang

berujung pada biaya operasi yang


tinggi.
2.5 Kriteria ukuran Wet Scrubber

Ukuran scrubber keseluruhan (diameter) adalah fungsi dari kecepatan gas jenuh melalui
shell scrubber. Untuk memperlihatkan volume correction dalam perhitungan wet scrubber dapat
dilihat pada Gambar 2.9.
Gambar 2.9 Volume Correction
Para perkiraan partikulat dan / atau kabut efisiensi untuk scrubber venturis dan Impinjet dapat
ditentukan oleh efisiensi grafik pada Gambar 2.10. Untuk menentukan jumlah tahap Impinjet
dibutuhkan untuk penyerapan gas seperti asam, memerlukan perhitungan kompleks dengan
variabel terlalu banyak menggunakan grafik sederhana. Namun, untuk partikulat atau
penyerapan, beberapa hal yang harus diperhatikan:
1. Volume gas;
2. Proses deskripsi
3. Suhu;
4. Ukuran partikel;
5. Kadar air;
6. Jenis kontaminan
Gambar 2.10 Efisiensi Partikulat
2.6 Parameter - Parameter Desain
Parameter yang mempengaruhi performa wet scrubber secara keseluruhan adalah:
Waste gas flow rate, temperature dan humidity;
Kecepatan gas dan pressure drop;
Liquid-to-gas (L/G) ratio;
Residence time
Droplet size; dan
Persamaan pressure drop
2.6.1 Waste Gas Flow Rate, Temperature, dan Humidity
Laju aliran arus gas adalah parameter untuk pengukuran dimensi yang paling penting
pada wet scrubber. Makin tinggi laju aliran gas, makin besar sistem venturi dan volume

scrubbing liquid yang dibutuhkan untuk mencuci gas. Wet scrubber beroperasi pada laju alir gas
lebih kecil daripada baghouses atau ESPs karena injeksi liquid.
Temperatur gas dan humiditas juga berpengaruh pada desain venturi. Ketika udara
melewati wet scrubber, air menguap dan menyebabkan humiditas meningkat dan mendinginkan
arus gas. Jumlah penguapan ditentukan oleh temperatur inlet dan humiditas. Laju penguapan
yang tinggi akan meningkatkan konsumsi air yang dibutuhkan atau liquid-to-gas ratio.
2.6.2 Kecepatan Gas dan Pressure Drop
Meningkatkan kecepatan relatif antara gas dan droplet liquid meningkatkan momentum
partikel, menyebabkan partikel lebih kecil untuk terkumpul oleh mekanisme impaction.
Kecepatan relatif dapat ditingkatkan dengan cara mempersempit throat, menginjeksikan liquid
counter-current ke aliran gas, atau menyemprot liquid ke throat.
2.6.3 Liquid-to-Gas (L/G) Ratio
Liquid-to-gas ratio (L/G) adalah volume liquid yang diinjeksikan per volume gas masuk.
Secara umum, L/G ratio meningkatkan collection efficiency karena density droplet di sepanjang
area permukaan tertentu pada scrubber lebih tinggi.
2.6.4 Residence time
Menambah panjang throat dan bagian diverging, meningkatkan waktu kontak antara
liquid dan partikel pengotor dalam arus gas. Untuk sistem energi tinggi, direkomendasikan
panjang bagian diverging dari throat minimal 4 kali lebar throat agar memenuhi waktu kontak
yang cukup.
2.6.5 Droplet Size
Terdapat ukuran droplet optimum untuk memaksimalkan pengumpulan partikel. Droplet
lebih kecil memiliki permukaan lebih besar terhadap rasio volume, maka akan menangkap
partikel lebih banyak per volume yang diinjeksikan. Bagaimanapun juga, jika ukuran droplet
terlalu kecil, momentum dari arus gas dapat berpindah ke droplet yang akan menurunkan
kecepatan relatif antara droplet dan partikel. Sedangkan kecepatan relatif rendah menghasilkan
collection efficiency yang rendah pula.

2.6.5 Persamaan Pressure drop


Persamaan pressure drop yang paling banyak dipakai untuk venturi scrubber adalah :

= Pressure drop di sepanjang venturi


v
g
L/G
k

= Kecepatan di throat
= Density gas
= Rasio liquid-gas
= Faktor korelasi untuk scrubber tertentu
Persamaan lain yang lebih luas diterima untuk memperkirakan pressure drop di sepanjang

venturi scrubber diperkenalkan oleh Calvert