Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Saat ini perkembangan dan kemajuan ilmu dan teknologi di dunia


pengeboran minyak lepas pantai (Offshore Drilling Oil) sudah maju,
hingga perkembangan dalam mengolah bahan-bahan mineral yang
terkandung di dalam perut bumi telah banyak menghasilkan berbagai
jenis produk muatan curah cair. Muatan cair tersebut mulai dari dari
minyak bumi yang diolah dan menghasilkan produk di antaranya adalah
solar, premium, kerosin, gas alam cair, dan masih banyak lagi produkproduk lainnya. Maka di butuhkan suatu sistem yang dapat menjamin
proses pengeboran minyak bumi ini berkesinambungan, efisien dan
aman bagi yang mengerjakannya terlebih lagi aman buat lingkungan.
Dalam konvensi internasional STCW 78 (Standart of Training
Certificate and Watchkeeping to seafeares) 2010 Manila amandement, di
keluarkan suatu persyaratan bagi pelaut agar melaksanakan standart
sertifikasi, pembelajaran, latihan / praktek tentang keselamatan dan
keamanan diatas kapal. Di setiap perusahaan pengeboran minyak lepas
pantai (Offshore), sangat perduli untuk keselamatan pekerja dan
lingkungannya. Dalam meningkatkan mutu pelayanan dan menciptakan
rasa aman, maka penerimaan awak kapal khususnya kapal Anchor
Handling harus benar-benar diperhatikan.
Salah satu perusahaan yang melayani jasa pelayanan pendukung
pekerjaan tersebut diatas adalah intermarine inc.ltd yang beralamat di
Almena Road,Port Khalid Berth#13 PO BOX 705 Sharjah U.A.E
(United Arab Emirates) Perusahaan ini bergerak dibidang penyewaan
kapal untuk anchor handling towing supply dan kapal supply. Jumlah
kapal yang dimiliki sebanyak 25 armada, 10 armada diantaranya adalah
1

kapal untuk pelayanan anchor handling dan 15 armada untuk pelayanan


deck cargo atau yang di kenal kapal supply.
Kapal AHTS dan Supply merupakan kapal khusus yang membantu
pekerjaan di Offshore Oilfield, selain itu juga melakukan pekerjaan
khusus yang berkaitan dengan pemasangan pipa, pipa raiser dibawah
air, instalasi jacket dan platform / module. Untuk itulah orang yang
bekerja diatas kapal yang khusus melayani kegiatan dalam pengeboran
minyak lepas pantai harus mempunyai pengalaman kerja khusus untuk
anchor handling serta cargo handling yang dibekali pengalaman kerja
dengan pendidikan / pelatihan secara intensif yang memenuhi standar
dan memerlukan ketelitian, kepekaan dan kedisiplinan yang tinggi untuk
menghindari kecelakaan pada waktu bekerja, karena kecelakaan kerja
dilaut disamping mengakibatkan kerugian mental juga mengakibatkan
kerugian material, berupa terganggunya operasional kerja, juga dapat
berakibat fatal pada hilangnya nyawa.
Jenis pekerjaan Anchor handling adalah satu aktivitas pekerjaan di
kapal yang bisa dikatakan sangat menyenangkan, membosankan
bahkan mengerikan. Karena pekerjaan ini tidak pernah terpisahkan dari
situasi bahaya yang mengandung resiko yang sangat tinggi. Namun jika
ditangani secara profesional pekerjaan ini akan menghasilkan kepuasan
tersendiri.
Diperlukan keahlian dan keterampilan khusus karena aktivitas kapal
dalam melayani area pengeboran lepas pantai dikategorikan dalam jenis
pekerjaan yang berisiko dan berbahaya. Selama penulis bekerja di
perusahaan intermarine inc.Ltd, hubungan antar pemilik dan pekerja
cukup baik. Begitupun antara penulis dengan awak kapal Bentuk
perusahaan ini adalah private limited, belum menjadi go public.

Selama penulis bekerja di perusahaan Intermarine Inc. Ltd. ada


beberapa kali hal yang penulis alami :
1. Kurang terampil dan pengetahuan awak kapal AHTS Intersurf
tentang

alat

alat

kerja

dan

fungsinya

sehingga

kadang

menghambat kelancaran operasional kapal.


2. Rendahnya disiplin seorang awak kapal dalam melaksanakan
tuganya diatas kapal.
Menurut Safety Buletin QATARGAS DRILLING COMPANY
September 2010 banyaknya kasus kecelakaan yang terjadi diatas kapal
80% adalah karena kesalahan dan kelalaian manusia selebihnya
disebabkan keadaan alam, dan faktor-faktor lainnya. Fenomena ini
menunjukkan betapa mutu dari SDM (Sumber Daya Manusia) yang
bekerja diatas kapal sangat minim. Berdasarkan dari banyaknya kasus
yang terjadi, menunjukkan ketidakterampilan dan ketidakdisiplinan dalam
mematuhi aturan dan prosedur, kurangnya pengetahuan dan lalai.
Hal inilah yang menjadi titik awal tentang pentingnya peningkatan
keterampilan kerja diatas kapal. Karena tanpa disadari kelalaian anak
buah kapal dalam mentaati peraturan-peraturan keselamatan kerja
diatas kapal, berujung pada kecelakaan kerja, disamping dari kelayakan
alat-alat keselamatan termasuk perawatan dan pemeliharaan terhadap
alat-alat tersebut ditambah faktor diluar kendali manusia itu sendiri
seperti cuaca buruk, dan keadaan-keadaan khusus lainnya. Pengawasan
dari nakhoda dan perwira sangat diperlukan untuk dilakukan terusmenerus

sehingga

hal-hal

yang

akan

menyebabkan

terjadinya

kecelakaan kerja yang disebabkan kelalaian dan ketidakdisiplinan tidak


terjadi.
Berdasarkan uraian diatas, menarik perhatian penulis untuk
menuangkannya dalam bentuk makalah dan diberi judul :
Upaya Meningkatkan Kedisiplinan dan Kualitas Kerja Awak
Kapal di Atas Kapal AHTS. Intersurf.

B. Tujuan Dan Manfaat Penulisan

1. Tujuan

Tujuan Penulisan makalah ini yaitu :

a. Mengetahui permasalahan penyebab atau kendala kurang


terampilnya awak kapal diatas kapal AHTS INTERSURF.
b. Mencari solusi untuk meningkatkan keterampilan kerja awak
kapal di atas kapal AHTS INTERSURF.

2. Manfaat penulisan

Manfaat penulisan makalah ini adalah :

a. Bagi Dunia Akademis


Secara khusus diharapkan dapat menambah pengetahuan
bagi penulis sendiri dan bagi pelaut lain secara umum untuk
mengetahui bagaimana upaya meningkatkan kemampuan SDM
diatas kapal anchor handling.

b. Bagi Dunia Praktis


Diharapkan dapat memberi sumbang saran pengetahuan
dan pengalaman kepada teman seprofesi dalam meningkatkan
keterampilan kerja awak kapal sesuai pengalaman penulis
selama bekerja diatas kapal AHTS INTERSURF yang melayani
pekerjaan anchor handling saat beroperasi di QATARGAS Field
berlokasi di perairan Qatar Midle East dengan Jack Up Rig
TRINDENT-19 dan sebagai masukan kepada pihak perusahaan
untuk meningkatkan kinerja perusahaan yang berkenaan dengan
4

sumber daya manusia, keselamatan dan kesejahteraan kerja


bagi nakhoda dan awak kapal.

C. Ruang Lingkup

Mengingat banyaknya permasalahan yang terjadi di atas kapal


AHTS INTERSURF, maka penulis membatasi lingkup pembahasan
makalah ini pada kinerja awak kapal yang kurang berpengalaman dan
pengetahuan awak kapal tentang alat-alat kerja dan fungsinya saat
melaksanakan pekerjaan Anchor Handling AHTS INTERSURF untuk
operasional Jack Up Rig di Lepas Pantai.

D. Metode Penyajian

Dalam penyajian makalah ini digunakan beberapa metode yang


digunakan penulis, antara lain :
1. Metode Pengumpulan Data
a. Studi Lapangan
Berdasarkan pengalaman penulis selama bekerja diatas
kapal AHTS milik perusahaan intermarine Inc.Ltd dari tahun
1996 sampai 2012 dan selama lima bulan di AHTS INTERSURF
dari bulan desember 2011 sampai dengan bulan Mei 2012 di
QATARGAS Field, Midle East sebagai berikut :
1) AHTS INTERSURF bekerja melayani Jack up Rig TRIDENT19

yang sedang melaksanakan pekerjaan pengeboran

(Drilling ) di platform QG WH-3


2) AHTS INTERSURF bekerja untuk melayani pekerjaan anchor

Handling dan

juga mensupply material - material

keperluan yang di butuhkan

untuk

Jack up Rig TRIDENT-19

selama pengeboran ( Drilling ).

b. Studi Kepustakaan
1) Bahan pembelajaran selama mengikuti program ANT-I di
BP3IP

yang

berkaitan

dengan

upaya

meningkatkan

ketrampilan kerja.
2) Referensi dari literature-literatur marine offshore.
3) Peraturan-peraturan

perusahaan

pelayaran

mengenai

disiplin dan keterampilan kerja di kapal.

2. Metode Analisa Data

Metode yang digunakan oleh penulis melalui pengamatan


yang penulis lakukan selama penulis berada di atas kapal dan
kemudian membandingkannya dengan kendala- kendala yang terjadi
di atas kapal selama menempuh pelayaran.

BAB II
FAKTA DAN PERMASALAHAN

A. Fakta
1. Data Kapal
AHTS adalah jenis kapal yang dirancang khusus sebagai
sarana untuk melayani pekerjaan-pekerjaan eksplorasi di lepas
pantai. Secara khusus kapal ini menjadi sarana pendukung yang
menjadi satu kesatuan dengan Platform instalation, Derrick Lay
Barges sebagai mitra kerja, DLB dilengkapi dengan 8 sampai 10
buah jangkar, berat setiap jangkar 15 sampai 25 Ton, jenis jangkar
Delta Flipper Anchor dengan panjang wire sampai 2000 m untuk
pekerjaan pemasangan pipa di dasar laut, instalasi jacket dan
Platform. AHTS mempunyai panjang yang ideal yaitu 55 mtr (LOA),
bentuk buritan yang spesifik sebagai tempat naik turunnya jangkar
(stern roller) dan dek yang lebar 12.6 m x 18 m sebagai tempat
jangkar dan buoy.

Kelengkapan khusus lainnya untuk kapal anchor

handling adalah :
a. Sistem propeler ganda dengan model khusus yaitu CPP
(Controllable Pitch Propeller) yang mudah di operasikan dan
mempunyai power yang besar (3.200 HP x 2) serta

bisa

bergerak dengan minimum power sampai 5 (lima) persen .


b. Mesin penggerak depan ( Bow thruster engine) sebagai mesin
pembantu untuk mempertahankan posisi kapal.
c. 1 unit winch (Brake holding capacity 400 T) dengan 2 unit drum
untuk spooling wire (upper drum)
panjangnya

untuk towing wire yang

2000 meter dengan diameter 64 mm, dan lower

drum sebagai tempat untuk spooling work wire yang panjangnya


7

300 meter dengan diameter 52 mm untuk di gunakan sebagai


penarik jangkar yang beratnya 15 25 ton.
d. Towing pin sebagai penahan wire jangkar agar tidak ke kiri dan
ke kanan.
e. Shark jaw sebagai alat pengunci/penjepit socket dari wire bila
akan

melakukan

running

recovery

dan

connecting

disconnecting segel penyambung wire dan jangkar.


f.

Lifter pin sebagai alat penjepit secara vertikal yang terletak tepat
di depan shark jaw

g. tugger winch (mini winch) yang wirenya berdiameter 25 mm


sebagai alat bantu untuk menarik tug line dan wire.
h. capstan yang merupakan winch kecil yang terletak di belakang
kiri dan kanan buritan kapal untuk membantu tuger winch pada
saat kegiatan cover / recover atau connect / disconnect anchor
di deck.
Semua peralatan dan perlengkapan ini seharusnya dalam
kondisi baik dan siap pakai. Pekerjaan bisa dimaksimalkan dengan
kondisi awak kapal yang terampil dalam melakukan pekerjaannya.
Hal ini dikarenakan pekerjaan diatas kapal Anchor Handling pada
umumnya dan

AHTS secara khusus merupakan pekerjaan berat

yang penuh bahaya dengan tantangan dan risiko yang tinggi.


Sangatlah di perlukan kedisiplinan dan ketrampilan awak kapal
sehingga pekerjaan dapat di lakukan dengan baik dan selamat serta
tingkat kecelakaan kerja dapat diminimalisir atau menjadi zero
accident.

2. Fakta kondisi
a. Banyak Teguran atau Komplain dari Pen-charter
Selama penulis bekerja di atas kapal AHTS INTERSURF
pada bulan Desember 2011 Mei 2012, banyak mendapat
8

teguran dari pencharter. Banyaknya program kerja yang harus di


penuhi dan di laksanakan oleh Anak Buah Kapal dan awak kapal
kapal lainnya, bahkan kadang-kadang pihak pencharter atau
rekanan kerja I mitra kerja memberi order yang terus menerus.
Di sisi lain, hal demikian dapat membuat pihak kapal dan awak
kapalnya kewalahan dan merasa tertekan. Suasana yang tidak di
harapkan tersebut dapat lebih cepat tercipta atau berkembang
apabila dari atas kapal sendiri tersedia tenaga yang cukup tetapi
keterampilan awak kapal masih sangat kurang, Sedangkan dari
pihak pencharter atau mitra kerja tidak mau tahu dengan kondisi
kapal beserta awak kapalyang mereka inginkan adalah semua
order yang mereka berikan harus dapat dilaksanakan dengan
tepat dan baik untuk menunjang kelancaran program-program
serta kedisiplinan kerja yang telah di canangkan. Kurangnya
pengalaman awak kapa dalam pengoperasian kapal AHTS bisa
menimbulkan hambatan / kendala-kendala serta operasional
kapal jadi kurang lancar.
Akibatnya kapal tersebut banyak mendapat teguran dari
pencharter yang ditujukan kepada Nakhoda yang menyangkut
tentang kesalahan dan keterlambatan bekerja dalam operasional
kapal. Hal tersebut diakibatkan karena kurangnya pengalaman
dan keterampilan serta kedisiplinan kerja yang di miliki oleh dua
awak kapal diatas kapal AHTS.INTERSURF yang bekerja di
deck, sebab dalam pengoperasianya awak kapal di deck
memegang peranan penting dalam kegiatan Anchor Handling
serta cargo operations. Kegiatan kapal tersebut adalah Anchor
Handling Towing Supply terhadap sebuah Barge, Jack Up Rig
dan Derick Lay Barge (DLB).

b. Pekerjaan Tidak Dapat Diselesaikan Tepat Pada Waktunya


Pada

bulan

February

2012,

penulis

mengalami

keterlambatan waktu kerja saat melakukan pekerjaan Rig Move.


Keterlambatan waktu itu terjadi di sebabkan karena awak kapaldi
deck kurang menguasai dan memahami penggunaan alat-alat
kerja dalam pelaksanaan anchor handling dan segala peralatan
yang di perlukan dalam rangka melaksanakan pekerjaan
tersebut di atas.
Akibatnya pekerjaan di lokasi Rig Move tidak maksimal
karena awak kapaldi deck kurang menguasai dan memahami
penggunaan alat-alat serta kebutuhan beberapa peralatan yang
tidak lengkap ataupun jenisnya tidak sesuai, di tambah lagi
dengan kondisi pelaksanaan kerja yang kurang baik, maka
terjadilah in-efisiensi. Dampak terjadinya in-efisiensi dalam
pelaksanaan anchor handling, maka terjadilah keterlambatan
dalam menyelesaikan pekerjaan diatas kapal AHTS.

B. Permasalahan
Kapal AHTS adalah kapal yang dibuat khusus untuk melayani
pekerjaan pengeboran lepas pantai. Selama penulis bekerja di atas kapal
AHTS ada beberapa permasalahan yang dihadapi yaitu :
1. Identifikasi Masalah
a.

Minimnya keterampilan awak kapal dalam melaksanakan


pekerjaan
Di atas kapal penulis menemukan bahwa sejumlah awak
kapal belum mengetahui prosedur kerja anchor handling dengan
baik karena tidak memiliki keterampilan yang sesuai dengan
jabatannya yang seharusnya. Masalah rendahnya keterampilan
10

awak

kapal

ini

tentu

akan

berdampak

negatif

pada

pengoperasian kapal secara keseluruhan, yang pada gilirannya


akan merugikan perusahaan.
Kurangnya keterampilan dan pengetahuan awak kapal
tentang anchor handling juga dikarenakan tidak tersedianya
lembaga

pendidikan

di

darat

yang

khusus

memberikan

pengetahuan mengenai pekerjaan pada kapal-kapal yang


melayani pengeboran minyak lepas pantai khususnya kapal
AHTS, sehingga menyebabkan para perwira dan awak kapal
yang baru akan memulai bekerja di kapal AHTS masih belum
mengerti tentang prosedur kerja diatas kapal AHTS.
b.

Terbatasnya Pengetahuan awak kapal tentang alat-alat kerja


Ada dua awak kapal yang tidak memahami mulai dari nama
alat itu, bagaimana cara menggunakan alat tersebut, hingga
fungsi dari alat - alat kerja khusus kapal AHTS INTERSURF.
Hal ini jelas sangat mengganggu dan harus di cari jalan
keluarnya sesegera mungkin. Kalaupun mereka dua awak kapal
tersebut belum mampu menguasai semua, paling tidak mereka
bisa menguasai beberapa alat - alat kerja pokok AHTS
INTERSURF yang fungsinya sangat vital.
Selain melakukan pekerjaan utamanya anchor handling,
towing and supply, kapal jenis AHTS dikarenakan perkembangan
tekhnologi dan tuntutan pasar juga memiliki beberapa fungsi lain/
multipurpose, bisa disimpulkan dari hasil obervasi penulis bahwa
pengetahuan sangat kurang.

11

c. Rendahnya disiplin awak kapal saat bekerja di AHTS


Intersurf
Kedisiplinan

merupakan

faktor

penentu

di

dalam

kesuksesan pengoperasian kapal. Apapun bidang kerjanya, kita


dituntut untuk selalu bersikap disiplin sehingga kita bisa sukses
dalam menjalankan kewajiban kita, termasuk pada pekerjaan
yang berkaitan dengan anchor handling . Sebagaimana yang
penulis perhatikan, sebagian anak buah kapal masih lemah
dalam hal disiplin yang sangat dibutuhkan untuk melakukan
anchor handling . Bahkan tidak jarang bahwa rendahnya tingkat
disiplin ini pada akhirnya menyebabkan kecelakaan kerja.
Lemahnya disiplin ini tentu saja menyebabkan pekerjaan menjadi
berantakan dan tidak dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
Masalah ini salah satunya disebabkan oleh kurang tegasnya
master yang berperan di dalam menegakkan disiplin kerja di atas
kapal.

d. Familiarisasi saat akan bekerja di atas kapal tidak maksimal

Familiarisasi pada awak kapal tidak ada waktu

untuk

dilaksanakan sebab begitu ketatnya schedule pekerjaan lepas


pantai. Dan Kurangnya pengenalan arti tanda tanda signal dan
peralatan peralatan untuk anchor handling. Juga awak kapal
kadang-kadang tidak menyadari bahwa familiarisasi sangat
penting untuk memperbaiki suatu pekerjaan anchor handling.
Perusahaan semestinya juga memperhatikan dan memberikan
famaliarisasi khusus kepada awak kapal yang mau naik kapal
agar untuk menunjang ketrampilan awak kapal pada pekerjaan
anchor handling.

12

e. Kerja di kapal yang melebihi kontrak

Perjanjian Kerja Laut adalah suatu perjanjian yang dibuat


antara Perusahaan Pelayaran dengan awak kapal yang meliputi
hak hak awak kapal atas upah dan cuti. Perjanjian Kerja Laut
mencantumkan kapan masa kontrak awak kapal akan berakhir.
Dalam kaitannya dengan habisnya masa kontrak ini, pihak
perusahaan tidak konsisten menjalankan kewajibannya untuk
menyiapkan pengganti untuk awak kapal yang akan pulang karna
habis masa kontraknya dikapal tersebut. Pada dasarnya pihak
perusahaan mengetahui kapan awak kapal akan berakhir masa
kontraknya sesuai yang ada dalam Perjanjian Kerja Laut dan ini
juga dikuatkan dengan pemberitahuan oleh Nakhoda perihal akan
berakhirnya masa kontrak awak kapal kepada Perusahaan
Pelayaran. Namun kurangnya konsistensi pihak Perusahaan
Pelayaran mengakibatkan awak kapal yang tidak bisa pulang
pada

saat

masa

kontraknya

berakhir

menjadi

menurun

motivasinya untuk bekerja.

2.

Masalah Utama

Berdasarkan identifikasi masalah di atas maka dalam penulisan


makalah ini penulis membahas dua masalah utama yaitu :
a. Minimnya keterampilan awak kapal dalam melaksanakan
pekerjaan
b. Rendahnya disiplin awak kapal saat bekerja di AHTS
Intersurf

13

BAB III
PEMBAHASAN

A. Landasan teori

Pada bab ini penulis akan menguraikan landasan teori yang berkaitan
dengan pokok bahasan. Adapun landasan teori yang dimaksud adalah:

1. I S M Code (International Safety Management Code)

ISM

Code

merupakan

panduan

yang

berisi

petunjuk

pengoperasian kapal, yang menuntut organisasi untuk menyusun


sistem manajemen keselamatan pelayarannya sesuai kapal yang di
miliki dan di gunakan. Keseluruhan manualnya harus mencakup
pengendalian kerja di kapal dan seluruh pendukungnya di darat.
Sertifikat akan di terbitkan untuk setiap kapal bila pelaksanaan sudah
diverifikasi memenuhi persyaratan standar ISM Code. Sertifikat ini
berlaku 5 tahunan dan selama masa tersebut akan di lakukan audit
oleh penerbit sertifikat.
Pemahaman arti keselamatan sebagai Bebas dari bahaya
baik pada kapal, manusia dan lingkungan. Keamanan pelayaran
merupakan faktor utama dalam sistem manajemen untuk pelayaran.
Bahaya pelayaran merupakan faktor yang tidak dapat tidak terjadi
sama sekali, namun dapat dikurangi dan ditekan secara terus
menerus dengan berbagai upaya yaitu :
a. Melaksanakan prosedur kerja dengan konsisten
b. Melakukan komunikasi dengan tepat dan benar
c. Menggunakan alat-alat pelindung yang tepat.

14

d. Menyusun perancanaan kerja dan pemantauan hasil kerja dan


melatih personil secara rutin.

Awak kapal yang bekerja di atas kapal haruslah memenuhi syarat


dan memiliki spesifikasi yang baik seperti yang tercantum dalam ISM
Code 6. Sumber daya dan personil yaitu :
6.2 Perusahaan harus memastikan bahwa setiap kapal diawaki
oleh pelaut-pelaut yang memenuhi syarat bersertifikasi dan
secara medis sehat sesuai persyaratan baik nasional maupun
international.
6.3 Perusahaan harus menyusun prosedur yang memastikan agar
personil baru atau personil yang dipindahkan ketugas baru
yang berhubungan dengan keselamatan dan perlindungan
lingkungan diberikan penjelasan yang cukup terhadap tugastugasnya. Petunjuk penting yang disiapkan sebelum berlayar,
harus

disampaikan

setelah

sebelumnya

diteliti

dan

didokumentasikan.
6.4 Perusahaan harus memastikan agar seluruh personil yang
terlibat dalam SMS perusahaan memiliki pengertian yang cukup
luas atas aturan dan peraturan code dan garis panduan yang
berkaitan.
6.5 Perusahaan harus menyusun dan memelihara prosedur agar
dapat ditentukan pada setiap pelatihan yang diperlukan dalam
menunjang pelaksanaan SMS dan meyakini bahwa latihan
dimaksud diberikan kepada seluruh personil terkait.

15

2. Teori Kedisiplinan

Menurut buku manajemen sumber daya manusia, Malayu S.P


Hasibuan, 2012 : 05, Kedisiplinan merupakan suatu hal yang
penting dan kunci terwujudnya tujuan karena tanpa disiplin yang
baik, sulit terwujud tujuan yang maksimal. Kedisiplinan adalah
keinginan dan kesadaran dalam menaati peraturan-peraturan
perusahaan dan norma-norma sosial. Tujuan dari disiplin dalam
menjalankan prosedur kerja dan keselamatan kerja di atas kapal
adalah

untuk

mengurangi

kecelakaan

kerja

dan

menjamin

keselamatan jiwa awak kapal di atas kapal.

B. Analisis Penyebab Masalah


Dalam permasalahan yang penulis bahas di dalam makalah ini,
maka penulis mengambil beberapa penyebabnya yaitu sebagai berikut :

1.

Minimnya

keterampilan

awak

kapal

dalam

melaksanakan

pekerjaan
Penyebabnya adalah :
a. Kurangnya pelatihan khusus tentang anchor handling bagi
awak kapal
Tidak adanya Diklat atau pelatihan khusus tentang anchor
handling atau towing job sehingga bagian penerimaan awak
kapal mendapat kesulitan dalam proses seleksi penerimaan
tenaga baru yang kompeten. Pengalaman menunjukan bahwa
kepandaian dan keahlian seseorang yang di peroleh dari pelatihan
/ pendidikan formal tidak selamanya dapat memenuhi ketentuan
suatu pekerjaan atau job requirement sehingga tidak jarang kita

16

melihat atau menemukan hasil-hasil tugas kegiatan Anchor


Handling

yang

menghasilkan

kurang

suatu

memuaskan.

kegagalan

yang

dengan

kata

mana

dapat

lain

suatu

kepandaian atau keahlian yang diperoleh pada saat pendidikan


tidak seluruhnya dapat dipergunakan untuk mencapai sasaran
suatu pekerjaan Anchor Handling. Pelatihan-pelatihan pada kapalkapal AHTS harus sudah dilaksanakan karena kapal-kapal jenis
AHTS mempunyai karakteristik yang sangat berbeda dalam
berolah gerak terutama pada saat pelaksanaan pekerjaan Anchor
Handling.

b. Kurang selektifnya proses rekruitment yang dilakukan oleh


Perusahaan
awak kapal yang diatas kapal yaitu awak kapal yang baru
dan tidak mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang
memadai sehingga dapat membuat pekerjaan anchor handling
tidak memuaskan. Jadi dapat disimpulkan bahwa awak kapal
kurangnya

pengetahuan

dalam

pekerjan

anchor

handling

Perusahaan pada waktu penerimaan pegawai hanya melihat


ijazah / sertifikat tetapi tidak memperhatikan pengetahuan awak
kapal dalam pekerjaan anchor handling. Perusahaan tidak
selektif dalam memilih atau menerima anak buah kapal yang akan
naik kapal. Seringnya terjadi hambatan-hambatan pada saat
pelaksanaan kerja Anchor Handling yang disebabkan oleh
kurangnya kemampuan dan pengalaman dalam pelaksanaan
kerja Anchor Handling baik perwira maupun anak buah kapal.

2. Rendahnya disiplin awak kapal saat bekerja di AHTS Intersurf


Penyebabnya adalah :

17

a. Kurangnya pengawasan kerja terhadap awak kapal


Kurangnya

pengawasan

dari

para

perwira

kapal

mengakibatkan awak kapal yang melakukan pekerjaan tidak


mengikuti

prosedur

kerja

yang

telah

ada

namun

awak

kapalmenggunakan caranya sendiri, sehingga berakibat banyak


kendala dalam menyelesaikan

pekerjaan tersebut. Ditambah

dengan kelalaian dari Perwira Deck untuk tidak melakukan


pengawasan terhadap awak kapal secara terus menerus selama
awak kapal melakukan pekerjaan. Guna menghindari pengawasan
secara terus menurus terhadap awak kapal deck disaat bekerja

b. Tidak adanya penghargaan atau sanksi bagi awak kapal

Penghargaan merupakan salah satu faktor yang membuat


seseorang bersemangat dalam melakukan suatu. Khususnya
bagi awak kapal, tentunya akan termotivasi apabila diberikan
penghargaan apabila awak kapal berhasil memberikan kinerja
terbaik dalam menjalani pekerjaan dan tanggung jawabnya di
atas kapal. Namun karena tidak adanya penghargaan berupa
pujian, promosi jabatan, atau pemberian kompensasi berupa
bonus

dari

perusahaan

membuat

awak

kapal

kurang

bersemangat dalam memberikan kinerja yang maksimal.


Selain itu juga tidak adanya sanksi di atas kapal membuat
beberapa awak kapal nampak terlihat bekerja semaunya. Ada
beberapa awak kapal yang tidak disiplin padahal mengetahui
prosedur kerja yang benar. Kadang timbul beberapa masalah
atau kendala diakibatkan karena kelalaian atau kesalahan dari
awak kapal itu sendiri. Tentunya ini sangat menghambat
operasional kapal. Fatalnya kesalahan tersebut terjadi berulang
kali atau terus menerus, namun tidak ada tindakan tegas dari

18

para Perwira. Disinilah dibutuhkan sanksi yang tegas berupa


teguran atau hukuman bagi awak kapal yang melanggar, tidak
disiplin dan sering melakukan kesalahan yang sama.

C. Analisis Pemecahan Masalah


1. Minimnya

keterampilan

awak

kapal

dalam

melaksanakan

pekerjaan

Pemecahannya adalah :

a. Meningkatkan pelatihan di atas kapal / on board training


bagi awak kapal

Para awak kapalKapal baru (non pengalaman) yang


diterima tidak mempunyai kemapuan secara penuh untuk
melaksanakan tugas-tugas pekerjaan mereka. Bahkan para
awak kapal Kapal yang sudah berpengalaman pun perlu belajar
dan menyesuaikan dengan kondisi kapal, orang-orangnya,
kebijaksanaan-kebijaksanaannya

dan

prosedur-prosedurnya.

Mereka juga memerlukan latihan dan pengembangan lebih lanjut


untuk mengerjakan tugas-tugas secara baik.
Dimana semua pelatihan-pelatihan yang dilaksanakan di
atas kapal harus memenuhi persyaratan-persyaratan sebagai
berikut :
1) Awak kapal menerima pelatihan yang praktis dan mudah
dipahami.
2) Harus dikoordinasikan dan dipantau oleh perwira-perwira
yang berkompeten di dalam pelaksanaan Anchor Handling.
3) Setiap pelatihan yang dilaksanakan harus didokumentasikan
di dalam catatan pelatihan.
19

Ada dua tujuan utama program pendidikan dan pelatihan


awak kapal Kapal. Pertama, pendidikan dan pelatihan dilakukan
untuk menutup perbedaan antara kecakapan atau kemampuan
awak kapal Kapal dengan kebutuhan awak kapal diatas kapal.
Kedua,

program-program

tersebut

diharapkan

dapat

meningkatkan efesiensi dan efektifitas kerja awak kapal Kapal


dalam mencapai sasaran-sasaran kerja yang telah ditetapkan.
Sekali lagi meskipun usaha-usaha tersebut memakan waktu,
tetapi akan mengurangi perputaran tenaga kerja dan membuat
awak kapal menjadi lebih produktif. Lebih lanjut, pendidikan dan
pelatihan membantu mereka dalam menghindarkan diri dari
ketertinggalan dan dapat melaksanakan pekerjaan dengan lebih
baik.
Meskipun awak kapalbaru telah menjalani orientasi dengan
baik,

mereka

jarang

melaksanakan

pekerjaan

dengan

memuaskan. Mereka harus terus dilatih dan dikembangkan


dalam bidang tugas-tugas mereka. Begitu pula awak kapal lama
yang telah berpengalaman memerlukan juga latihan-latihan
untuk mengurangi atau menghilangkan kebiasaan-kebiasaan
yang buruk.
Pendidikan dan pelatihan mempunyai berbagai manfaat
jangka panjang yang membantu awak kapal untuk bertanggung
jawab lebih besar diwaktu yang akan datang. Program latihan
tidak hanya penting untuk individu tetapi juga organisasi dan
hubungan manusiawi dalam kelompok kerja, dan bahkan bagi
negara. Latihan dapat juga digunakan apabila tingkat kecelakaan
kerja atau pemborosan tinggi, semangat kerja dan motivasi
rendah atau masalah-masalah operasional lainnya.
Program
keterampilan

berupaya
tertentu,

untuk

mengajarkan

menyampaikan

berbagai

pengetahuan

yang

dibutuhkan atau mengubah sikap. Agar program efektif, prinsip20

prinsip belajar harus diperhatikan. Prinsipprinsip ini adalah


bahwa program bersifat partisipasif, relevan, pengulangan dan
memberikan umpan balik mengenai kemajuan peserta pelatihan.
Semakin terpenuhi prinsip prinsip tersebut latihan akan semakin
efektif. Di samping itu perancangan program juga perlu
menyadari perbedaan individual, karena pada hakekatnya para
awak kapal mempunyai kemampuan, sifat dan sebagainya yang
berbeda satu dengan yang lainnya.
Metoda latihan yang digunakan dalam proses pelatihan
terhadap awak kapal adalah mencoba metoda praktis, awak
kapal dilatih langsung oleh seorang yang berpengalaman seperti
seorang Mualim 1 atau Nakhoda sebagai supervisor / penyelia.
Berbagai bentuk teknik yang digunakan dalam praktek adalah
sebagai berikut :
1) Coaching :
Adalah bentuk pelatihan dan pengembangan yang
dilakukan di tempat kerja oleh atasan dengan membimbing
bawahan

melakukan

pekerjaan

secara

informal

dan

biasanya tidak terencana, misalnya bagaimana menyiapkan


peralatan Rig Move, hal-hal yang harus diperhatikan saat
menyiapkan alat-alat Rig Move, posisi masing-masing alat
tersebut. Dilihat dari prinsip belajar partisipasi, relevance,
transference, dan feedback.

2) Penugasan Sementara :
Penempatan awak kapal pada posisi tertentu untuk
jangka waktu yang ditetapkan. Misal seorang awak kapal
ditempatkan di posisi menyambung Towing Wire dari kapal
dengan Towing Pendant dari Rig, sementara awak kapal
yang lain membantu menyiapkan alat-alat untuk menyambung
21

segel, dilain waktu akan ditugaskan untuk melaksanakan


komunikasi antara Vessel Deck dengan Rig Deck dan Rig
Crane sehingga masing-masing awak kapal

memahami

masalah-masalah operasional dalam pelaksanaan Rig Move


secara nyata.

3) Simulasi :
Program latihan di sela-sela waktu operasi kapal agar
tidak mengganggu operasi-operasi normal, dapat dilakukan
dengan cara seorang Mualim satu atau Nakhoda (supervisor /
penyelia) memberikan latihan kepada awak kapal yang
dikatakan baru dengan pekerjaan di atas kapal.
Dengan seijin dari pihak Rig, kapal dapat mengadakan
pelatihan-pelatihan yang diperlukan. Untuk pelaksanaan Rig
Move, masing- masing awak kapal ditempatkan pada posisi
yang berbeda dalam setiap pelatihan yang diadakan,
sehingga

memungkinkan

mereka

untuk

mengetahui

keseluruhan tugas yang harus diselesaikan dengan cepat,


karena faktor waktu penyambungan Towing Wire ke Towing
Pendant merupakan saat yang sangat krusial. Hal itu akan
memudahkan Nakhoda untuk berolah gerak secara nyaman
dan aman bagi kapal dan kru di dek serta Rig.
Pelatihan dimulai dengan menyiapkan alat-alat untuk
Rig Move antara lain :
a) Towing Wire
b) Towing Pin
c) Shark Jaw
d) Wire Lift
e) Tugger Winch
f)

Shackles

g)

Chain Stopper
22

Waktu menyambung Towing Wire dengan Penant Wire


merupakan saat yang sangat krusial, sehinga pada tiap
pelatihan akan dicatat waktu dari masing-masing awak kapal
dalam menyambung Towing Wire dengan Pendant Wire. Hal
ini untuk memotivasi awak kapal untuk meningkatkan
kecakapan mereka dalam bekerja di bawah tekanan saat
menyambung Towing Wire ke Pendant Wire.
Selain waktu untuk menyambung Towing Wire ke
Pendant Wire yang harus cepat, posisi masing masing
awak

kapal

saat

mengambil

Pendat

Wire

dan

menyambungnya juga perlu diperhatikan. Karena banyak


diantara awak kapal adalah orang-orang yang belum pernah
berlayar, mereka tidak mengetahui bahaya-bahaya yang bisa
ditimbulkan oleh Wire yang tegang. Sering terjadi mereka
berdiri dengan Wire berada diantara kaki mereka. Sering
juga terjadi mereka berdiri dibawah Pendant Wire yang
diturunkan dari Rig dengan menggunakan Rig Crane, dan
tidak memperhatikan apabila Pendant tersebut putus akan
membahayakan jiwa mereka.
Hal-hal inilah yang selalu ditekankan dan diberikan
pelatihan secara terus menerus kepad para awak kapal
sehingga diharapkan mereka akan memahami tugas masingmasing dalam pelaksanaan Rig Move dan juga faktor-faktor
keselamatan yang menyertainya.
Pengembangan Sumber Daya Manusia jangka panjang
adalah aspek yang semakin penting dalam suatu organisasi.
Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan elemen utama
organisasi, dibandingkan dengan elemen lain seperti modal,
tekhnologi dan uang, sebab manusia itu sendiri yang
mengendalikan yang lain. Manusia memilih tekhnologi,
manusia yang mencari modal, manusia yang menggunakan
23

dan memeliharanya, di samping manusia dapat menjadi salah


satu sumber keunggulan bersaing dan sumber keunggulan
bersaing yang langgeng. Oleh karena itu, pengelolaan
Sumber Daya Manusia dalam organisasi menjadi suatu hal
yang sangat penting. Melalui pengembangan mutu awak
kapalyang ada sekarang, akan mengurangi resiko bagi
perusahaan untuk melakukan penarikan tenaga kerja baru.
Bila para awak kapal Kapal dikembangkan secara tepat,
promosi dan transfer lebih mungkin dipenuhi terlebih dahulu
secara internal, dan juga menunjukkan kepada awak kapal
bahwa mereka mempunyai kesempatan untuk meningkatkan
karier. Manfaat dari pengembangan ini juga akan secara
langsung dirasakan perusahaan melalui peningkatan efisiensi
operasional sebagai efek dari turunnya angka interupsi
operasi akibat pergantian awak kapal. Belum lagi nilai tambah
berupa ikatan emosional berbentuk loyalitas semakin besar
dari awak kapal terhadap perusahaan.

b. Perusahaan lebih selektif dalam merekrut awak kapal

Pada saat diadakan penerimaan karyawan khususnya


awak kapalyang bersangkutan harus memiliki pengetahuan
dalam pekerjaan offshhore, bukan hanya karena memiliki ijazah
laut dan berpengalaman. Untuk itu perusahaan dituntut untuk
melakukan seleksi awak kapal dengan ketat sebelum mereka
ditempatkan di atas kapal. Hal ini sangat perlu dilakukan agar
awak kapal yang diterima bekerja adalah orang-orang yang
berkompeten dan menguasai bidang kerjanya, terutama yang
bekaitan dengan pekerjaan anchor handling.
Dalam perekrutan para pelaut yang berkompeten di bidang
kapal-kapal offshore, perusahaan pelayaran atau crew agency
24

agar memperhatikan apakah awak kapal tersebut mampu dalam


mengoperasikan alat-alat atau mengoperasikan kapal-kapal
AHTS.
2. Rendahnya disiplin awak kapal saat bekerja di AHTS Intersurf
Pemecahannya adalah :
a. Meningkatkan pengawasan kerja terhadap awak kapal
Sebagai seorang perwira yang berpengalaman, harus
dapat

mengkoordinasi

terhadap

anak

dan

buahnya.

melakukan pengawasan kerja


Di

dalam

melaksanakan

suatu

pekerjaan yang dihadapi pasti akan menemui kendala, sebab


ada kalanya kita mendapat suatu tugas pekerjaan yang mungkin
memakan waktu lama, Di sinilah perlunya melningkatkan
pengawasan

kerja

dan

membuat

kelompok

kerja

yang

berkesinambungan, hingga tercapai hasil kerja yang diharapkan.


Setelah

membentuk

prosedur

pelaksanaan

kelompok-kelompok
pekerjaan

kerja,

tersebut

yang

disusunlah
langsung

dipimpin Mualim I. Untuk mengantisipasi munculnya kendala


dalam suatu pekerjaan, sebaiknya diadakan Pre Job Meeting
dimana seluruh awak kapal yang akan turut berperan didalam
suatu pekerjaan dikumpulkan, kemudian Nakhoda dan Mualim I
menjelaskan secara rinci mengenai pekerjaan yang akan
dilaksanakan. Di sini diadakan pembagian tugas untuk masingmasing personil.
Untuk menghasilkan kemampuan dan produktivitas yang
tinggi

dalam

pengoperasian

kapal,

aspek

dari

manusia

memegang peranan yang sangat penting, yaitu disiplin tinggi dari


seluruh awak kapal kapal, terutama para perwira, yang
merupakan contoh bagi anak buah. Disiplin perwira-perwira yang

25

baik, akan berkembang menjadi suatu disiplin kelompok.


Kelompok kerja yang baik, akan menghasilkan suatu tugas yang
baik pula sesuai dengan permintaan pencharter.
Produktivitas

yang

tinggi

ini

juga

dilalui

dengan

meningkatkan pengawasan kerja terhadap awak kapal dan


persiapan kapal dalam melayani pihak pencharter. Pada
umumnya setiap perusahaan pelayaran telah membuat atau
menetapkan rincian tentang tugas dan tanggung jawab untuk
masing-masing awak kapal, termasuk Nakhoda, yang lazim
disebut Job Safety Analysis dan Job Description yang
tujuannya adalah, untuk menjamin kelancaran pelaksanaan
tugas di atas kapal. Perlu ada batas-batas mengenai tugas dan
wewenang,

dari

masing-masing

pelaksana

kerja

yang

dituangkan dalam bentuk uraian jabatan dan tanggung jawab


masing-masing.

b. Memberikan penghargaan bagi awak kapal yang berprestasi,


memberikan sanksi kepada awak kapal yang melanggar
Penghargaan

merupakan

salah

satu

faktor

yang

memotivasi seseorang dalam memberikan kinerja yang baik.


Penghargaan diberikan kepada awak kapal yang berusaha dan
berhasil menyelesaikan pekerjaan dengan hasil yang maksimal.
Bentuk penghargaan bisa berupa pujian seorang Nakhoda atau
perwira kepada awak kapal sehingga ada rasa kebanggaan
tersendiri dan merasa dihargai oleh atasan atau pimpinannya di
atas kapal. Bentuk penghargaan lainnya yaitu bisa berupa
promosi jabatan, bonus atau kompensasi berupa gaji dari
Perusahaan. Apabila kinerja awak kapal semakin membaik dan
cenderung meningkat, maka Perwira bisa mempromosikan ke

26

perusahaan bahwa ada beberapa awak kapal yang memiliki


tanggung jawab dan loyalitas tinggi terhadap pekerjaannya.
Pemberian penghargaan akan memacu semangatawak
kapallain untuk semakin berusaha memberikan kinerja terbaik
dalam

menyelesaikan

pekerjaan

dan

tanggung

jawabnya

masing-masing di atas kapal. Jika ini bisa dipertahankan maka


akan sangat membantu sekali dalam menunjang kelancaran
pengoperasian kapal agar tidak ada lagi komplain dari pihak
pencharter. Keuntungan bagi perusahaan diantarannya adalah
akan dapat meningkatkan kepercayaan pencarter. Sementara
itu, perusahaan juga dapat memberikan insentif yaitu tambahan
penghasilan yang diberikan kepada awak kapal tertentu sebagai
balas jasa atas pencapaian prestasi kerja di atas prestasi
standar.

Insentif

ini

merupakan

alat

yang

dipergunakan

pendukung prinsip penghargaan dalam pencapaian prestasi.


Jadi dalam upaya untuk meningkatkan motivasi anak buah
kapal dalam bekerja, perusahaan pelayaran perlu membuat
program pemberian kompensasi tambahan guna meningkatkan
kesejahteraan awak kapal sehingga mereka merasa dihargai dan
diperhatikan oleh perusahaan yang pada akhirnya membuat
mereka lebih bersemangat dalam bekerja dan senantiasa
berupaya menampilkan prestasi kerja yang baik.
Selain itu pemberian sanksi bagi awak kapal yang
melakukan pelanggaran atau kelalaian yang berakibat pada
kesalahan dalam melakukan pekerjaan di atas kapal merupakan
tindakan

yang

efektif

untuk

mengurangi

kendala

yang

menghambat pekerjaan. Kendala yang terjadi di atas kapal


sebagian besar karena kesalahan manusia atau kelalaian dari
awak kapalitu sendiri. Kelalaian ini timbul karena beberapa faktor
misalnya awak kapal tidak termotivasi sehingga menurunkan
kinerjanya, awak kapal yang tidak sungguh-sungguh dalam
27

bekerja, tidak disiplinnya awak kapal terhadap prosedur kerja di


atas kapal. Dari semua itu menimbulkan hambatan yang menjadi
kendala

besar

dalam

suatu

pekerjaaan.

Maka

dengan

diberlakukannya sanksi atau hukuman bagi awak kapal yang


lalai, tidak disiplin atau tidak serius dalam menyelesaikan
pekerjaan merupakan suatu tindakan yang tegas agar tidak
terjadi kesalahan yang sama lagi di waktu yang akan datang.

28

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan permasalahan yang telah di uraikan, penulis
menyimpulkan sebagai berikut :
1. Terbatasnya pelatihan khusus tentang anchor handling bagi awak
kapal sehingga masih minimnya keterampilan awak kapal dalam
melaksanakan pekerjaan.
2. Tidak selektifnya proses rekruitment yang dilakukan oleh Perusahaan
sehingga

awak

kapal

yang

bekerja

di

atas

kapal

kurang

berpengalaman dalam bidangnya.


3. Pengawasan kerja yang tidak maksimal terhadap awak kapal
sehingga tidak disiplin dan tidak mematuhi prosedur kerja yang
berlaku di atas kapal dalam melaksanakan pekerjaan dan tanggung
jawabnya.
4. Tidak adanya penghargaan atau sanksi bagi awak kapal sehingga
menurunnya motivasi awak kapal dalam memberikan kinerja yang
baik.

B. Saran

Dari kesimpulan di atas, penulis memberikan beberapa saran


sebagai berikut :
1. Meningkatkan pelatihan di atas kapal / on board training bagi awak
kapalagar awak kapal memiliki pengetahuan dan keterampilan yang
memadai khususnya dalam melaksanakan pekerjaan anchor handling.

29

2. Perusahaan lebih selektif dalam merekrut awak kapal yang akan


bekerja di atas kapal agar awak kapal yang ditugaskan untuk bekerja
mempunyai kemampuan yang memadai dan memiliki keahlian di
bidangnya.
3. Meningkatkan pengawasan kerja terhadap awak kapal agar awak
kapal dapat bersikap disiplin serta mematuhi prosedur kerja yang
sudah ditetapkan di atas kapal sehinga pekerjaan berjalan dengan
lancar
4. Memberikan penghargaan bagi awak kapal yang memberikan kinerja
yang baik dan sanksi bagi yang melanggar agar dapat meningkatkan
semangat kerja awak kapal yang termotivasi dengan bentuk
penghargaan yang diberikan serta dapat mengurangi pelanggaran
atau kesalahan kerja dengan diberlakukannya sanksi berupa teguran
dan hukuman.

30

DAFTAR PUSTAKA

Hasibuan Malayu SP, (2006), Manajemen Sumber Daya Manusia, Bumi


Aksari, Jakarta.

IMO, (2001), Safety Of Life at Sea (SOLAS), London International Maritime


Organization.

International Maritime Organization (IMO), STCW Convention and STCW


Code Including 2010 Manila Amendments Third Consolidated
edition 2011, IMO Publication, London

Rosadhi Sammi, Drs, MM. (1999), Implementasi STCW 1995, Edisi kesatu,
Jakarta.

Yatim,

Rozaimi,

(2003),

Kodefikasi

Manajemen

Keselamatan

Internasional (ISM CODE), Penerbit Yayasan Bina Citra Samudra


Jakarta.

31