Anda di halaman 1dari 35

Asuhan Keperawatan pada Gangguan Sistem Perkemihan

( Ca ginjal dan Ca kandung kemih )

Tingkat II A
Disusun oleh :
Alfi Hasanah

P17320312001

Bintang Cahaya R.

P17320312014

Dea Rahmayanti

P17320312015

Debora Siahaan

P17320312016

POLTEKKES KEMENKES BANDUNG


PROGRAM STUDI KEPERAWATAN BOGOR
Kampus : Jl. Dr. Semeru No. 116 Telp. (0251) 8325063/8326587
Bogor 16111

KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Atas terselesaikannya tugas
makalah mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah III di semester IV ini.
Makalah ini disusun dalam rangka untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh
dosen mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah III dengan judul Asuhan
Keperwatan pada gangguan system perkemihan ( Ca Ginjal dan Ca Kandung
Kemih). Sehubungan dengan tersusunnya makalah ini tidak terlepas dari bantuan
berbagai pihak. Oleh karena itu, Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada
semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini mendekati sempurna. Oleh karena itu,
saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan
makalah ini di masa mendatang.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para mahasiswa khususnya dan
masyarakat pada umumnya. Dan semoga makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan
untuk menambah pengetahuan para mahasiswa, masyarakat dan pembaca.

Bogor, Maret 2014

Penulis

DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Sitstem perkemihan merupakan organ vital dalam melakukan ekskresi dan
melakukan eliminasi sisa-sisa hasil metabolisme dalam tubuh. Kanker merupakan
salah satu masalah kesehatan yang dapat terjadi pada organ sistem perkemihan,
misalnya Ca Ginjal dan Ca Kandung Kemih
Carsinoma sel ginjal ( renal cell carcinoma ) adalah tumor malignansi renal
tersering, dua kali lebih sering ditemukan pada laki-laki dibandingkan pada wanita.
Kanker ginjal menyebabkan 2% dari semua penyakit kanker yang menyerang orang
dewasa di Amerika serikat. Penyakit ini menyerang laki-laki hampir dua kali lebih
banyak dari pada wanita dan umumnya mengenai laki-laki pada usia diatas 55 tahun.
Insidensi carsinoma sel ginjal ( kanker ginjal ) mengenai 3 per 1000 orang dan
ditemukan sekitar 31.000 kasus baru ditemukan disetiap tahun, serta 12.000 orang
meninggal karena kanker ginjal di AS.
Yang paling sering dijangkiti kanker dari alat perkemihan adalah kandung kemih.
Kanker kandung kemih terjadi tiga kali lebih banyak pada pria dibandingkan dengan
pada wanita, dan tumor-tumor multipel juga lebih sering, kira-kira 25% pasien
mempunyai lebih dari satu lesi pada satu kali dibuat diagnosa.
Pada tiga dasawarsa terakhir, kasus kandung kemih pada pria meningkat lebih dari
20 % sedangkan kasus pada wanita berkurang 25%. Faktor predisposisi yang
diketahui dari kanker kandung kemih adalah karena bahan kimia betanaphytilamine
dan xenylamine, infeksi schistosoma haematobium dan merokok.
Tumor dari kandung kemih berurutan dari papiloma benigna sampai ke carcinoma
maligna yang invasif. Kebanyakan neoplasma adalah jenis sel-sel transisi, karena
saluran kemih dilapisi epithelium transisi. Neoplasma bermula seperti papiloma,
karena itu setiap papiloma dari kandung kemih dianggap pramalignansi dan diangkat
bila diketahui. Karsinoma sel-sel squamosa jarang timbul dan prognosanya lebih
buruk. Neoplasma yang lain adalah adenocarcinoma.

Rumusan Masalah
1) Apa Pengertian dari Ca Gijal dan Ca Kandung Kemih
2) Apa Etiologi Ca Ginjal dan Ca Kandung Kemih
3) Apa Patofisiologi Ca Ginjal dan Kandung Kemih
4) Apa Tanda dan gejala Ca Ginjal dan Ca Kandung Kemih
5) Apa Komplikasi Ca Ginjal dan Ca Kndung Kemih
6) Bagaimana Penatalaksanaan Ca Gijal dan Ca Kandung Kemih
7) Bagaimana Pemeriksaan diagnostic Ca Ginjal dan Ca Kandung Kemih
8) Bagaimana Asuhan keperawatan Pada Ca Ginjal dan Kandung Kemih

Tujuan Penulisan
1) Untuk Memahami Pengertian Ca Ginjal dan Ca Kndung Kemih
2) Untuk Memahami Etiologi pada Ca Ginjal dan Ca Kandung Kemih
3) Untuk Memahami Patofisiologi pada Ca Ginjal dan Ca Kandung Kemih
4) Untuk Memahami Tanda dan Gejala pada Ca Ginjal dan Ca Kandung
Kemih
5) Untuk Memahami Komplikasi pada Ca Ginjal dan Ca Kanndung Kemih
6) Untuk Mengetahui Pencegahan pada Ca Ginjal dan Kandung Kemih
7) Untuk Mengetahui Pengobatan Ca Ginjal dan Kandung Kemih
8) Untuk Mengetahui Asuhan Keperawatan Pada Ca Ginjal dan Kandung
Kemih

Metode Penulisan
Adapun metode yang digunakan dalam pengumpulan data pada makalah ini yaitu
dengan mencari sumber referensi baik dari buku sumber maupun internet dalam
menunjang penyusunan makalah ini

BAB II
TINJAUAN TEORI
Ca Ginjal
Definisi
Adenikarsinoma ginjal adalah tumor ganas parenkim ginjal yang berasal dari
tubukus proksimalis ginjal. Tumor ini merupakan 3% dari seluruh keganasan pada orang
dewasa.
Seperti organ tubuh lainnya, ginjal kadang bisa mengalami kanker. Pada dewasa, jenis
kanker ginjal yang paling sering ditemukan adalah karsinoma sel ginjal (adenokarsinoma
renalis, hipernefroma), yang berasal dari sel-sel yang melapisi tubulus renalis. Sebagian besar
tumor ginjal yang solid (padat) adalah kanker, sedangkan kista (rongga berisi cairan) biasanya
jinak.
Penemuan kasus baru meningkat setelah diketemukannya alat bantu diagnosis
USG dan CT scan.
Angka kejadian pada pria lebih banyak daripada wanita dengan perbandingngan 2:1
meskipun tumor ini biasanya banyak diderita pada usia lanjut (setelah usia 40 tahun),
tetapi dapat pula menyerang usia yang lebih muda. Kejadian tumor pada kedua sisi
(bilateral) terdapat pada 2% kasus.
Tumor ini dikenal dengan nama lain sebagai : tumor Grawitz, Hipernefroma, Karsinoma
sel ginjal, atau Internist tumor .
Etiologi
Banyak faktor yang diduga menjadi penyebab timbulnya adenokarsinoma ginjal,
tetapi hingga saat ini belum diketemukan agen yang spesifik sebagai penyebab. Merokok
merupakan faktor resiko yang paling dekat dengan timbulnya kanker ginjal. Semakin
lama merokok, dan semakin muda seseorang mulai merokok semakin besar kemungkinan

4
menderita kanker ginjal. Meskipun belum ada bukti yang kuat, diduga kejadian kanker
ginjal berhubungan dengan konsumsi kopi, obat-obatan jenis analgetika, dan pemberian
estrogen
Patofisiologi
Tumor ini berasal dari tubulus proksimalis ginjal yang mula-mula berada di dalam
korteks, dan kemudian menembus kapsul ginjal. Beberapa jenis tumor bisa berasal dari
tubulus distalis maupun duktus kolegentes. Biasanya tumor ini disertai dengan
pseudokapsul yang terdiri atas parenkim ginjal yang tertekan oleh jaringan tumor dan
jaringan fibrosa. Tidak jarang ditemukan kista-kista yang berasal dari tumor yang
mengalami nekrosis dan diresorbsi. Fasia gerota merupakan barier yang menahan
penyebaran tumor ke organ sekitarnya.
Pada irisan tampak berwarna kuning sampai oranye, sedangkan pada gambaran
histopatologik terdapat berbagai jenis, yakni clear cell, granular, sarkomatoid, papiler,
dan bentuk campuran.
Manifestasi klinik

Didapatkan ketiga tanda trias klasik berupa : nyeri pinggang, hematuria, dan massa
pada pinggang merupakan tanda tumor dalam stadium lanjut. Nyeri terjadi akibat invasi
tumor ke dalam organ lain, sumbatan aliran urine, atau massa tumor yang menyebabkan

perengan kapsula fibrosa ginjal


Febris yang disebabkan karena nekrosis tumor atau terbebasnya pirogen endogen oleh

tumor ginjal.
Hipertensi yang mungkin disebabkam karena : oklusi vaskuler akibat penekanan oleh
tumor, terjadinya A-V (artei-venous) shunting pada masa tumor, atau hasil produksi

subtansi pressor oleh tumor.


Anemi karena terjadinya perdarahan intra tumoral.
Verikokel akut yang tidak mengecil dengan posisi tidur. Verikokel ini terjadi akibat
obstruksi vena spermatika interna karena terdesak oleh tumor ginjal atau tersumbat oleh

trombus sel-sel tumor.


Tanda-tanda metastasis ke paru atau ke hepar.
Kadang-kadang didapatkan sindroma paraneoplastik, yang terdiri atas : (1) sindroma
staufer (penurunan fungsi liver yang tidak ada hubungannya dengan metastasis pada
hepar dengan disertai nekrosis pada berbagai area pada liver), (2) hiperkalasemia

5
(terdapat pada 10% kasus kanker ginjal), (3) polistemia akibat peningkatan produksi
eritropoitin oleh tumor, dan (4) hipertensi akibat meningkatnya kadar renin.
Komplikasi
Metastase yang kuat ke berbagai organ, seperti:
1. Sumbatan arteri.
2. Perdarahan.
3. Kehilangan fungsi ginjal.
(Sumber :Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Sistem Perkemihan)
Stadium Kanker Ginjal
Stadium 1 : Tumor masih terbatas di dalam ginjal dengan fasia Gerota masih utuh
Stadium 2 : Invasi ke jaringan lemak perineal, dengan fasia Gerota masih utuh
Stadium 3 : Invasi ke vena kava atau limfonudi regional
Stadium 4 : Ekstensi ke organ sekitarnya / metastasis jauh (usus)

Penatalaksanaan
Terapi
1. Nefrektomi. Tumor yang masih dalam stadium dini dulakykan
nefrektomi radikal yaitu mengangkat ginjal beserta kapsula Gerota.
Beberapa kasus yang sudah dalam stadium lanjut tetapi masih mungkin
untuk dilakukan operasi, masih dianjurkan untuk dilakukan nefrektomi
paliatif. Pada beberapa tumor yang telah mengalami metastasi, setelah
tindakan nefrektomi kadang - kadang terjadi regresi pada fokus
metastasis. Tindakan nefretomi ini sering didahului dengan embolisasi

6
arteri renalis yang bertujuan untuk memudahkan operasi. 2. Hormonal.
Penggunaan terapi hormonal belum banyak diketahui hasilnya. Pereparat
yang dipakai adalah hormon progestagen. Dari berbagai literatur
disebutkan bahwa pemberian preparat hormon tidak banyak memberi
manfaat.
2. Immunoterapi. Pemberian imunoterapi dengan memakai interferon atau
dikombinasikan dengan interlukin saat ini sedang dicoba di negara
negara maju. Karena harganya sangat mahal dan hasil terapi dengan obatobatan imunoterapi masih belum jelas, maka pemakaian obat ini masih
sangat terbatas.
3. Radiasi eksterna. Radiasi eksterna tidak banyak memberikan manfaat
pada adenokarsinoma ginjal karena tumor ini aalah tumor yang
radioresisten.
4. Sitostatika. Demikian pula pemakaian sitostatika tidak banyak
memberikan manfaat pada tumor ginjal.
Pemeriksaan Diagnostik
Pada pemeriksaan fisik, kadang bisa diraba/dirasakan benjolan di perut. Jika
dicurigai kanker ginjal, maka dilakukan beberapa pemeriksaan sebagai berikut:
Urografi intravena
USG
CT scan
MRI bisa memberikan keterangan tambahan mengenai penyebaran tumor.
Jika tumornya berupa kista, bisa diambil contoh cairan untuk dilakukan analisa.
Aortografi dan angiografi arteri renalis bisa dilakukan sebagai persiapan pembedahan
untuk memberikan keterangan tambahan mengenai tumor dan arteri renalis.
(Sumber : Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan Edisi 2)
Prosedur diagnostic yang biasa dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Pemeriksaan laboratorium rutin
Biasanya tidak ditemukan kelainan selain hematuria. Anemia dapat dijumpai
sebagai tanda adanya perdarahan kronis atau pendesakan sel metastasis ke sumsum,
sedangkan uremia dapat dijumpai apabila tumor menyumbat kedua muara ureter baik

7
karena obstruksi tumornya sendiri ataupun limfadenopati.
2. Pemeriksaan radiologi
Dilakukan foto polos abdomen, pielografi intravena, dan foto torax. Pemeriksaan
ini bertujuan untuk menilai keadaan traktus urinarius yaitu berupa adanya gangguan
fungsi eksresi ginjal, hidronefrosis, hidroureter, dan filling defect pada buli-buli,
menilai infiltrasi tumor ke dinding buli-buli, dan melihat adanya metastasis regional
atau jauh.
3. Sitoskopi dan biopsy
Pada persangkaan adanya tumor buli-buli maka pemeriksaan sitoskopi adalah
mutlak dilakukan, bila perlu pdapat dilakukan CT-scan. Pada pemeriksaan sitoskopi,
dapat dilihat adanya tumaor dan sekaligus dapat dilakukan biopsi atau reseksi tumor
yang juga merupakan tindakan pengobatan pada tumor-tumor superficial. (Sumber
:Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Sistem Perkemihan)

Ca Kandung Kemih
Definisi
Kanker kandung kemih (karsinoma buli-buli ) adalah kanker yang mengenai
kandungkemih dan kebanyakan menyerang laki-laki berusia diatas 50 tahun
Kanker kandung kemih adalah papiloma yang tumbuh didalam lumen kandung
kemih,meskipun pada pertumbuhannya mungkin menginfiltrasi sampai dinding
kandung kemih (Luckman and Sorensen. 1993).
Karsinoma kandung kemih merupakan 2% dari seluruh keganasan, dan
merupakan keganasan kedua terbanyak pada sistem urogenitalia setelah karsinoma
prostat. Tumor ini dua kali lebih sering menyerang pria dari pada wanita. Di daerah
industri kejadian tumor meningkat tajam.
Bentuk
-

Papiler

Tumor noninvasif (in situ)

Noduler (infiltratif)

8
-

Campuran antara papiler dan infiltratif

Etiologi
Keganasan kandung kemih terjadi karena induksi bahan karsinogen yang banyak
terdapat disekitar kita. Beberapa faktor resiko yang mempermudah seseorang
menderita karsinoma kandung kemih adalah :
1. Pekerjaan. Pekerja-pekerja di pabrik kimia (terutama pabrik cat),
labolatorium, pabrik korek api, tekstil, pabrik kulit dan pekerja pada
salon/ pencukur rambut sering terpapar oleh karsinogen berupa senyawa
amin aromatik (2-naftilamin, bensidin, dan 4-aminobifamil)
2. Perokok. Resiko untuk mendapatkan karsinoma kandung kemih pada
perokok adalah 2-6 kali lebih besar dibandungkan dengan bukan perokok.
Rokok mengandung bahan karsinogen berupa amin aromatik dan
nitrosamin.
3. Infeksi saluran kemih. Telah diketahui bahwa kuman kuman E.coli
dan Proteus spp menghasilkan nitrosamin yang merupakan zat
karsinogen.
4. Kopi, pemanis buatan, dan obat-obatan. Kebiasaan mengkonsumsi
kopi , pemanis buatan yang mengandung sakarin dan siklamat, serta
pemakaian obat-obatan siklofosfasmid yang diberikan intravesika,

9
fenasetin, opium, dan obat antituberkolosa INH dalam jangka waktu lama
dapat meningkatkan resiko timbulnya karsinoma kandung kemih.
5. Usia, resiko terjadinya kanker kandung kemih meningkat sejalan dengan
pertambahan usia.
6. Ras, orang kulit putih memiliki resiko 2 kali lebih besar, resiko terkecil
terdapat pada orang Asia.Pria, memiliki resiko 2-3 kali lebih besar.
7. Riwayat keluarga, Orang-orang yang keluarganya ada yang menderita
kanker kandung kemih memiliki resiko lebih tinggi untuk menderita
kanker ini.
Faktor yang mempengaruhi terjadinya karsinoma kandung kemih adalah zat
karsinogen,baik eksoghen dari rokok atau bahan kimia atau endogen dari hasil
metabolisme. Penyebab lain diduga akibat dari pemakaian analgetik,sitostatik,dan
iritasi kronik oleh batu, sistosomiasis (infeksi parasit karena iritasi kandung kemih)
atau radiasi.

Patofisiologi
Kanker kandung kemih lebih sering terjadi pada usia di atas 50 tahun dan angka
kejadian laki-laki lebih besar daripada perempuan. Karena usia yang semakin tua,
maka akan terjadi penurunan imunitas serta rentan terpapar radikal bebas
menyebabkan bahan karsinogen bersirkulasi dalam darah. Selanjutnya masuk ke
ginjal dan terfiltrasi di glomerulus. Radikal bebas bergabung dg urin terus menerus,
masuk ke kandung kemih. Radikal bebas mengikat elektron DNA & RNA sel
transisional sehingga terjadi kerusakan DNA. Mutasi pada genom sel somatik
menyebabkan pengaktifan oonkogen pendorong pertumbuhan, perubahan gen yang
mengendalikan pertumbuhan, dan penonaktifan gen supresor kanker. Sehingga
produksi gen regulatorik hilang dan replikasi DNA berlebih. Akhirnya terjadi kanker
pada kandung kemih.

Manifestasi klinik
1. Hematuria : hematuria dapat dibagi menjadi hematuria intermiten atau penuh,
dan dapat dinyatakan sebagai hematuria awal atau terminal hematuria, sebagian dari
pasien kanker kandung kemih akan ada pembuangan gumpalan gumpalan darah dan
bangkai bangkai busuk .

10
2. Iritasi kandung kemih : tumor terbentuk di trigonum kandung kemih, lingkup
patologi meluas atau saat terjadi infeksi dapat menstimulasi sampai ke kandung
kemih sehingga menyebabkan fenomena sering buang air kecil dan urgen.
3. Gejala obstruktif saluran kemih : tumor yang lebih besar, tumor pada leher
kandung kemih dan penyumbatan gumpalan darah akan menyebabkan buang air
bahkan sampai retensi urin. Infiltrasi tumor ke dalam lubang saluran kemih dapat
menyebabkan obstruksi saluran kemih, sehingga menimbulkan nyeri pinggang,
hidronefrosis dan fungsi ginjal terganggu.
4. Gejala metastase : invasi tumor stadium lanjut sampai ke jaringan kandung
kemih sekitarnya, organ lain atau metastasis kelenjar getah panggul simpul, akan
menyebabkan nyeri di daerah kandung kemih, uretra fistula vagina, dan edema
ekstremitas bawah, metastasis sampai organ yang lebih jauh, nyeri tulang dan
cachexia.

Stadium kanker kandung kemih


Stadium 0 : Juga dikenal sebagai karsinoma in situ, di dalam kandung kemih
organisme bagian tepi timbul tumor.
Stadium I : sel kanker telah menyebar ke lapisan dalam dan luar kandung kemih
Stadium II : sel kanker telah menyebar ke lapisanan otot dinding kandung kemih
Stadium III : sel kanker telah menyebar sampai jaringan adipose pada sekitar
kandung kemih, kemungkinan menyebar sampai ke alat kelamin
Stadium IV : Sel kanker telah menyebar dari kandung kemih sampai ke
peritoneum atau ke panggul. Sel kanker mungkin telah mempengaruhi sampai ke
kelanjar getah bening atau sampai ke organ lain dalam tubuh.
Kekambuhan : setelah dilakukan pengobatan kanker kandung kemih,
kandung kemih atau bagian lain dalam tubuh bisa mengalami kekambuhan.
Klasifikasi Kanker
Klasifikasi DUKE-MASINA, JEWTT dengan modifikasi STRONG-MARSHAL untuk
menentukan operasi atau observasi :
a. T = pembesaran lokal tumor primer
Ditentukan melalui : Pemeriksaan klinis, uroghrafy, cystoscopy, pemeriksaan bimanual
di bawah anestesi umum dan biopsy atau transurethral reseksi.

11
No

Kode
1

Tis

Keterangan
Carcinoma insitu (pre invasive Ca)

Tx

Cara pemeriksaan untuk menetapkan

penyebaran tumor, tak dapat


3

To

dilakukan
Tanda-tanda tumor primer tidak ada

T1

Pada pemeriksaan bimanual

didapatkan masa yang bergerak


5

T2

Pada pemeriksaan bimanual ada


indurasi daripada dinding buli-buli.

T3

Pada pemeriksaan bimanual indurasi


atau masa nodular yang bergerak

T3a

bebeas dapat diraba di buli-buli.


Invasi otot yang lebih dalam

T3b

Perluasan lewat dinding buli-buli

T4

Tumor sudah melewati struktur

T4a

sebelahnya
Tumor mengadakan invasi ke dalam

T4b

prostate, uterus vagina


Tumor sudah melekat pada dinding

9
1
10
1
11

pelvis atau infiltrasi ke dalam


abdomen
b. N= Pembesaran secara klinis untuk pembesaran kelenjar limfe pemeriksaan

kinis, lympgraphy, urography, operative.

12
No

Kode
1. Nx

Keterangan
Minimal yang ditetapkan kel. Lymfe

2. No

regional tidak dapat ditemukan


Tanpa tanda-tanda pemebsaran kelenjar

3. N1

lymfe regional.
Pembesaran tunggal kelenjar lymfe

4. N2

regional yang homolateral.


Pembesaran kontralateral atau bilateral

5. N3

atau kelenjar lymfe regional yang multiple


Masa yang melekat pada dinding pelvis
dengan rongga yang bebeas antaranya dan
tumor
Pemebesaran kelenjar lymfe juxta regional

6. N4

c.

M = metastase jauh termasuk pemebesaran kelenjar limfe yang jauh.

Pemeriksaan klinis , thorax foto, dan test biokimia.


No
1

Kode
Mx

Keterangan
Kebutuhan cara pemeriksaan minimal
untuk menetapkan adanya metastase jauh,

2
3

M1
M1a

tak dapat dilaksanakan.


Adanya metastase jauh.
Adanya metastase yang tersembunyi pada

M1b

test-test biokimia.
Metastase tunggal dalam satu organ yang

M1c

tunggal.
Metastase multiple dalam satu terdapat

M1d

organ yang multiple.


Metastase dalam organ yang multiple

13

Palpasi Bimanual
Palpasi bimanual dikerjakan dnegan narkose umum (supaya otot kandung kmeih rileks)
pada saat sebelum dan sesudah intervensi TUR kandung kemih. Jari telunjuk kanan melakukan
colok dubur atau colok vagina sedangkan tagan kiri melakukan palpasi kandung kemih di
dsaerah supra simpisis untuk memperkirakan luas infiltrasi tumor (T).

Komplikasi
1. Infeksi sekunder bil atumor mengalami ulserasi

14
2. Retensi urine bil atumor mengadakan invasi ke bladder neck
3. Hydronephrosis oleh karena ureter menglami oklusi
Penatalaksanaan
Faktor-faktor yang mempengaruhi rencana pengobatan meliputi jenis tumor,
kedalam invasi tumor dalam kandung kemih, penyebaran penyakit, dan keadan umum
klien. Faktor-faktor tersebut penting dalam rencana perawatan klien.
Penatalaksanaan pada stadium 1 :
Sistem sederhana (pengangkatan kandung kemih) sistem sistektomi radikal
dilakukan pada kangker kandung kemih yang invasif atau multivokal. Sistektomi
radikal pada pria meliputi pengangkatan kandung kemih, prostat serta vesikulus
seminalis dan jaringan vesikal di sekitarnya. Pada wanita, sistektomi radikal meliputi
pengangkatan kandung kemih, ureter bagian bawah, uterus, tuba palopii, ovarium
vagina anterior dan uretra. Oprasi ini dapat mencakup pula limfadenaktomi
(pengangkatan nodus lifatikus). Pengangkatan kandung kemih memerlukan prosedur
diversi urin.

Penatalaksanaan pada stadium 2, 3, 4 :


Kemoterapi dengan menggunakan kombinasi metotreksat, vinblastin, dexorubisin
(adriamisin) dan cisplatin (M-VAC) terbukti untuk menghasilkan remisi parsial
karsinoma sel transisional kandung kemih pada sebagian pasien. Kemoterpi intravena
dapat dilakukan bersama dengan terapi radiasi.
Kemoterapi topikal (kemoterapi intravesikal atau terapi dengan memasukkan
larutan obat antineoplastik ke dalam kandung kemih yang membuat obat tersebut
mengenai dinding kandung kemih) dapat di pertimbangkan jika terdapat resiko
kekambuhan yang tinggi,jika terdapat kanker in situ atau jika reseksi tumor tidak
tunas. Kemoterapi topikal adalah pemberian medikasi dengan konsentrasi yang tinggi
(thiotepa, doxorubisin, mitomisin, ethouglusid dan bacillus calmette-guerin atau
BCG) untuk meningkatkan jaringan tumor. BCG kini dianggap sebagai priparat
intravesikal yang paling efektif untuk kangker kandung kemih yang kambuhan karena
priparat ini akan mengalahkan respon imun tubuh terhadap kangker. Pasien
dibolehkan makan dan minum sebelum prosedur pemasukan (instilasi) obat
dilaksanakan, terapi setelah kandung kemih terisi penuh,pasien harus menahan
larutan priparat intravesikal tersebut selama 2 jam sebelum mengalirkannya keluar
dengan berkemih. Pada terakhir prosedur,pasien dianjurkan untuk dianjurkan untuk

15
buang air kecil dan meminum cairan sekehendak hati (adlibitum) untuk membilas
priparat tersebut dari dalam kandung kemih.
Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan bimanual sangat berguna untuk menentukan infiltrasi. Pada
sistografi dan pielografi intravena nampak lesi defek isian dalam kandung kemih.
Endoskopy dilakukan untuk melihat bentuk dan besar tumor. Perubahan dalam
kandung kemih, dan melakukan biopsy. Pemeriksaan sitologi membantu diagnosis.
Karsinoma kandung kemih perlu dibedakan dari tumor ureter yang menonjol
dalam kandung kemih, karsinoma prostat, dan hipertrofi prostat lobus median prostat.
Untuk membedakan kelainan ini dibutuhkan Endoscopy dan Biopsy, urografi atau
IVP, Ct Scan, USG dan sitoscopy.
Tingkat keganasan dibedakan menjadi tiga golongan yaitu : Deferensiasi baik (G
I), sedang (G II), dan kurang berdiferensiasi (G III).
Karsinoma sel transisional dan karsinoma in-situ akan melepaskan sel-sel kanker
yang dapat dikenali,pemeriksaan sitologi urine yang baru dan larutan salin yang
digunakan sebagai pembilas kandung kemih akan memberikan informasi tentang
prognosis paien, khususnya pasien yang beresiko tinggi untuk terjadinya tumor
primer kandung kemih.
1. Laboratorium
Hb menurun oleh karena kehilangan darah, infeksi, uremia, gros atau micros
hematuria
Lukositosis bila terjadi infeksi sekunder dan terdapat pus dan bakteri dalam urine
RFT normal
Lymphopenia (N = 1490-2930)
2. Radiology
excretory urogram biasanya normal, tapi mungkin dapat menunjukkan tumornya.
Retrograde cystogram dapat menunjukkan tumor
Fractionated cystogram adanya invasi tomor dalam dinding buli-buli
Angography untuk mengetahui adanya metastase lewat pembuluh lymphe

16
3. Cystocopy dan biopsy
cystoscopy hamper selalu menghasilkan tumor
Biopasi dari pada lesi selalu dikerjakan secara rutin.
4. cystologi
Pengecatan sieman/papanicelaou pada sediment urine terdapat transionil cel
daripada tumor

BAB III
PEMBAHASAN

17

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN


DENGAN GANGGUAN SISTEM PERKEMIHAN
Ca Ginjal
KONSEP DASAR
1. Pengkajian
a. Pengumpulan Data
Aktivitas / Istrahat
G :

Klien mengeluh tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari

T :

Penurunan tonus otot, kelelahan, keletihan

ejala
anda
Sirkulasi
T :

Peningkatan tekanan darah, polisitemia

anda
Makanan dan Cairan
G :
ejala

Klien mengeluh tidak ada nafsu makan, klien mengeluh rasa

mual dan muntah


T :
Penurunan berat badan, porsi makan tidak dihabiskan

anda
Nyeri / Kenyamanan
G :

Klien mengeluh nyeri pada pinggang

T :

Nyeri tekan pada daerah ginjal yang terkena, ekspresi wajah

ejala
anda
nampak meringis
Integritas Ego
G :
ejala

Klien mengeluh takut akan kondisi kesehatannya, klien

bertanya tentang penyakitnya


T :
Kegelisaan, ekspresi wajah tampak tidak tenang.

anda
Eliminasi
G :

Klien mengeluh kencingnya berwarna merah

T :

Hematuria

ejala

18
anda
Keamanan
Gejala

Klien mengeluh badannya


terasa panas

Tanda

Suhu diatas normal tetapi


hilang timbul

b. Pengelompokan Data
Data Subyektif
Klien mengeluh tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari
Klien mengeluh tidak ada nafsu makan
Klien mengeluh rasa mual dan muntah
Klien mengeluh nyeri pada pinggang
Mengeluh takut akan kondisi kesehatannya
Klien bertanya tentang penyakitnya
Klien mengeluh kencingnya berwarna merah
Klien mengeluh badannya terasa panas

Data Obyektif
Penurunan tonus otot
Kelelahan
Keletihan
Peningkatan tekanan darah

19
Polisitemia
Penurunan berat badan
Porsi makan tidak dihabiskan
Nyeri tekan pada daerah ginjal yang terkena
Ekspresi wajah nampak meringis
Kegelisaan
Ekspresi wajah tampak tidak tenang.
Hematuria
Suhu diatas normal tetapi hilang timbul
c. Analisa Data
Data
Ds :
Klien mengeluh nyeri
pada pinggang
Nyeri tekan pada daerah
ginjal yang terkena
Ekspresi wajah nampak
meringis
Do :
Kegelisaan
Hematuria
Klien mengeluh
kencingnya berwarna
merah
Ds :
Mengeluh takut akan
kondisi kesehatannya
Klien bertanya tentang
penyakitnya

Penyebab
Factor penyebab ca. ginjal

Pembentukan jaringan

Masalah
Nyeri

baru yang berlebihan

Menekan saraf perifer

Merangsang pengeluaran
zat pirogen

Impuls disampai ke cortex


serebri

Thalamus

Nyeri dipersepsikan
Ca ginjal

Perubahan kondisi
kesehatan

Kurang pengetahuan

Kecemasan

20
Do :
Kegelisaan
Ekspresi wajah tampak
tidak tenang.

Ds :
Klien mengeluh tidak
dapat melakukan
aktivitas sehari-hari
Do :
Penurunan tonus otot
Kelelahan dan keletihan
Ds :

tentang penyakit

Koping indvidu tidak


efektif

Stress psikologi

Kecemasan
Ca ginjal

Perubahan kondisi
kesehatan

Perubahan tonus otot

Kelemahan otot

Intoleransi aktivitas
Faktor penyebab

Klien mengeluh tidak

ada nafsu makan


Klien mengeluh rasa

Ca ginjal

mual dan muntah

Sekresi protein terganggu

Do :
Penurunan berat badan
Porsi makan tidak
dihabiskan

Sindrom uremia

Gangguan keseimbangan
asam basa

Produksi dan asam


lambung naik

Gastritis

Mual, muntah

Intoleransi
aktivitas

Gangguan
pemenuhan nutrisi

21
Intake nutrisi kurang

Gangguan pemenuhan
nutrisi
d. Prioritas Masalah
1. Nyeri
2. Gangguan kebutuhan nutrisi
3. Intoleransi aktivitas
4. Kecemasan
2. Diagnosa Keperawatan
Nyeri berhubungan dengan pembentukan jaringan baru yang berlebihan yang
menekan saraf perifer ditandai dengan :
D

Klien mengeluh nyeri pada


pinggang
Nyeri tekan pada daerah ginjal
yang terkena
Ekspresi wajah nampak meringis

Kegelisaan
Hematuria
Klien mengeluh kencingnya
berwarna merah

Gangguan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan intake nutrisi tidak adekuat


ditandai dengan :
D
s

Klien mengeluh tidak ada nafsu


makan

22
Klien mengeluh rasa mual dan
muntah
D

Penurunan berat badan


Porsi makan tidak dihabiskan

Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan otot ditandai dengan :


D

s
o

Klien mengeluh tidak dapat


melakukan aktivitas sehari-hari
Penurunan tonus otot
Kelelahan dan keletihan

Kecemasan berhubungan dengan kurang terpajang informasi tentang penyakitnya


ditandai dengan :
D

Mengeluh takut akan kondisi


kesehatannya
Klien bertanya tentang
penyakitnya

Kegelisaan
Ekspresi wajah tampak tidak
tenang.

Perencanaan
Nyeri berhubungan dengan pembentukan jaringan baru yang berlebihan yang
menekan saraf perifer
Tupan : Setelah diberi askep selama beberapa hari gangguan nyaman nyeri klien
teratasi
Tupen : Setelah diberi askep selama beberapa hari nyeri klien berangsur angsur
dapat berkurang dengan kriteria :
Klien melaporkan tidak nyeri lagi
Ekspresi wajah tidak meringis

23
Intervensi
Kaji skala nyeri, frekuensi, dan lokasi nyeri
R/ Mengetahui derajat nyeri, dan lokasi yang dirasakan sehingga memudahkan
dalam menentukan tindakan selanjutnya

Atur posisi klien senyaman mungkin


R/ posisi yang nyaman membantu mengurangi rasa nyeri yang muncul
Ajarkan klien tehnik relaksasi dan tehnik distraksi
R/ Dengan tehnik menarik napas dalam dan mengeluarkan serta mengajak klien
untuk berbincang membantu mengalihkan stimulus nyeri yang dirasakan
Ciptakan lingkungan yang tenang dan anjurkan klien beristrahat yang cukup
R/ Lingkungan yang tentang dapat membuat klien dapat beristrahat yang cukup
sehingga mengurangi itensitas nyeri
Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat analgetik
R/ Membantu mengurangi rasa nyeri dengan menekan pusat nyeri

Gangguan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan intake nutrisi tidak adekuat


Tupan : Setelah diberi askep selama beberapa hari kebutuhan nutrisi klien dapat
terpenuhi
Tupen : Setelah diberi askep selama beberapa hari masalah nutrisi klien akan
membaik secara bertahap dengan kriteria :
Klien mengatakan tidak mual dan muntah-muntah lagi
Porsi makan dihabiskan
Intervensi
Awasi konsumsi makanan/cairan dan hitung masukan kalori perhari

24
R/ Mengidentifikasi kekurangan nutrisi/kebutuhan terapi.
Anjurkan pasien mempertahankan masukan makanan harian, termasuk perkiraan
jumlah konsumsi elektrolit (perhatikan individu, contoh natrium, kalium, klorida,
magnesium), dan protein
R/ Membantu pasien untuk menyadari gambaran besar dan untuk memenuhi
keinginan individu dalam pembatasan identifikasi.
Ukur massa otot melalui lipatan trisep atau prosedur serupa
R/ Mengkaji keadekkuatan penggunaan nutrisi melalui pengukuran perubahan
deposit lemak yang dapat memperkirakan adanya/takadanya katabolisme jaringan.
Dorong pasien untuk bepartisipasi dalam perencanaan menu
R/ Dapat meningkatakan asupan oral dan meningkatkan perawaan
kontrol/tanggung jawab.
Berikan makan sedikit dan frekuensi sering. Jadwalkan makan sesuai dengan
kebutuhan (untuk dialisis)
R/ Porsi lebih kecil dapat meningkatkan masukan. Tipe dialisan mempengaruhi
pola makan.
Berikan perawatan mulut.
R/ Menurunkan ketidaknyamanan stomatitis oral dan rasa tak disukai dalam
mulut, yang dapat mempengaruhi masukan makanan.
Kolaborasi: berikan diet tinggi karbohidrat yang meliputi jumlah protein kualitas
tinggi dan asam amino esensial dengan pembatasan natrium/kalium sesuai indekasi.
R/ Memberikan nutrien cukup untuk memperbaiki energi, mencegah penggunaan
otot, meningkatkan regenerasi jaringan/penyembuhan, dan keseimbangan elektrolit.
Berikan antiemetik, contoh ptoklotperazin.
R/ Menurunkan stimulasi pada pusat muntah.

Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan otot


Tupan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan masalan intoleransi aktivitas

25
teratasi
Tupen : Setelah dilakukan tindakan keperawatan secara bertahap klien mampu
beraktivitas secara mandiri dengan kriteria :
Klien dapat memenuhi kebutuhan secara mandiri
Klien dapat ikut serta dalam proses pengobatan
Intervensi
Pantau kemampuan klien dalam melakukan aktivitas sehari-hari
R/ Untuk mengetahui tindakan apa yang dapat dilakukan oleh klien sehingga
perawat mudah dalam mengambil keputusan selanjutnya

Bantu klien dalam melakukan pemeuhan kebutuhan sehari-hari


R/ Membantu klien memenuhi aktivitas sehari hari
Anjurkan klien untuk ikut serta dalam tindakan pemulihan kesehatan klien
R/ Dengan partisipasi keluarga klien dapat merasakan bahwa keluarga memberi
support dalam pemulihan kesehatan

Kecemasan berhubungan dengan kurang terpajang informasi tentang penyakitnya


Tupan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan kecemasan klien teratasi
Tupen : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama beberapa hari masalah
ansietas beransur ansur hilang dengan kriteria :
Klien dapat memahami tentang penyakit dan proses pengobatannya
Klien menerima akan kondisi kesehatannya
Intervensi
Kaji rasa kecemasan yang dialami klien
R/ mengetahui perasaan yang dialami klien serta dapat sebagai patokan dalam

26
menentukan tindakan keperawatan selanjutnya
Berikan informasi yang akuran pada klien mengenai penyakitnya dan rencana
tindakan keperawatan yang akan dilakukan
R/ informasi yang akurat dapat menambah pengetahui klien sehingga kecemasan
yang dialami klien bisa berkurang
Anjurkan keluarga untuk memberikan suppor pada klien
R/ Support keluarga menambah rasa kepercayaan diri klien
Kaji ulang pemahaman klien akan informasi yang telah diberikan
R/ Untuk mengetahui apakah klien memahami informasi yang diberikan pada
klien mengenai penyakit nya dan pengobatannya
Ikut sertakan klien dalam proses penyembuhan
R/ Agar klien mengetahui cara perawatan akan penyakitnya.

Ca Kandung Kemih
1. Pengkajian
A. Identitas Pasien.
B. Riwayat Keperawatan
a) Keluhan Utama : Pasien nyeri saat BAK dan agak mengedan, ada benjolan
pada abdomen sebelah bawah, sulit BAB, dan nyeri diseluruh tubuh terutama
dipinggang.
b) Riwayat Penyakit Sekarang(riwayat penyakit yang diderita pasien saat masuk
rumah sakit). Darah keluar sedikit-sedikit saat BAK dan terasa nyeri sera sulit BAB.
c) Riwayat Penyakit Dahulu (riwayat penyakit yang sama atau penyakit lain
yang pernah diderita oleh pasien).
d) Riwayat Kesehatan Keluarga, penyakit yang pernah diderita anggota keluarga
yang menjadi faktor resiko.

27
e) Riwayat psikososial dan spiritual.
f)

Kondisi lingkungan rumah.

g) Kebiasaan sehari-hari (pola eliminasi BAK, pola aktivitas latihan, pola


kebiasaan yang mempengaruhi kesehatan (rokok, ketergantungan obat, minuman
keras)).
C. Pemeriksaan Fisik
a.

Aktivitas/Istirahat

Gejala : Merasa lemah dan letih


Tanda : Perubahan kesadaran
b. Sirkulasi
Gejala : Perubahan tekanan darah normal (hipertensi)
Tanda : Tekanan darah meningkat, takikardia, bradikardia, disritmia
c.

Integritas Ego

Gejala : Perubahan tingkah laku atau kepribadian


Tanda : Cemas, mudah tersinggung
d. Eleminasi
Gejala : Perubahan gejala BAK
Tanda : Nyeri saat BAK, Urine bewarna merah
e.

Makanan & Cairan

Gejala : Mual muntah


Tanda : Muntah
f.

Neurosensori

Gejala : Kehilangan kesadaran sementara (Vertigo)


Tanda : Perubahan kesadaran sampai koma, perubahan mental

28
g. Nyeri/Kenyamanan
Gejala : Sakit pada daerah abdomen
Tanda : Wajah menyeringai, respon menarik pada rangsangan nyeri
h. Interaksi Sosial
Gejala : Perubahan interaksi dengan orang lain
Tanda : Rasa tak berdaya, menolak jika diajak berkomunikasi
i.

Keamanan

Gejala : Trauma baru


Tanda :Terjadi kekambuhan lagi
j.

Seksualisasi

Gejala : Tidak ada sedikitnya tiga silus menstruasi berturut-turut


Tanda : Atrofi payudara, amenorea
k. Penyuluhan/Pembelajaran
Gejala : Riwayat keluarga lebih tinggi dari normal untuk insiden depresi
Tanda : Prestasi akademik tinggi
2 Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri berhubungan dengan proses penyakit (penekanan/kerusakan jaringan
syaraf, infiltrasi system suplai syaraf, obtruksi jalur syaraf, inflamasi).
b. Gangguan eliminasi urin berhubungan dengan obstruksi / iritasi kandung
kemih.
c. Gangguan nutrisi (kurang dari kebutuhan tubuh) berhubungan dengan
hipermetabolik yang berhubungan dengan kanker.
d. Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit.
3 Intervevsi

29
a. Dx 1 : Nyeri berhubungan dengan proses penyakit (penekanan/kerusakan
jaringan syaraf, infiltrasi system suplai syaraf, obtruksi jalur syaraf, inflamasi).
Setelah dilakukan asuhan keperawatan 1x24 jam diharapkan nyeri pasien
terkontrol.
Dengan kriteria hasil:

Skala nyeri berkurang sampai hilang.

Pasien mengungkapkan perasaan nyaman berkurangnya nyeri.

Intervensi:
1. Kaji nyeri : karakteristik, intensitas, lamanya dan faktor yang mempengaruhi
nyeri.
2. Beri kompres hangat pada daerah yang nyeri.
3. Berikan terapi non farmakologis untuk menghilangkan nyeri seperti teknik
nafas dalam dan teknik distraksi.
4. Berikan pengalihan seperti reposisi dan aktivitas menyenangkan seperti
mendengarkan musik atau nonton TV.
5. Kolaborasi dengan dokter tentang pemberian analgesik.
b. Dx 2 : Gangguan eliminasi urin berhubungan dengan obstruksi.
Setelah dilakukan asuhan keperawatan 1x24 jam diharapkan pola eliminasi urine
kembali normal. Dengan kriteria hasil : tidak ada nyeri saat BAK.
Intervensi :
1. Observasi output dan intake cairan selama 24 jam.
2. Anjurkan pasien mempertahankan intake cairan yang adekuat.
3. Jelaskan pada pasien dan keluarga bahwa kanker kandung kemih
menyebabkan iritasi kandung kemih sehingga terjadi frekuensi dan urgensi.
4. Kolaborasi pemberian analgesik atau antipasmodik untuk mengurangi gejala
iritasi saat BAK dan menghambat kontraksi kandung kemih yang tidak stabil.
c.

Dx 3 : Gangguan nutrisi (kurang dari kebutuhan tubuh) berhubungan dengan

30
hipermetabolik yang berhubungan dengan kanker.
Setelah dilakukan asuhan keperawatan 7x24 jam diharapkan kebutuhan nutrisi
pasien adekuat. Dengan kriteria hasil :

Porsi makan pasien habis.

Pasien menunjukkan berat badan stabil, hasil lab normal dan tidak ada tanda
malnutrisi.
Intervensi:
1. Monitor intake makanan setiap hari, apakah klien makan sesuai dengan
kebutuhannya untuk memberikan informasi tentang status gizi klien.
2. Timbang dan ukur berat badan, ukur trisep serta amati penurunan berat badan
untuk memberikan informasi tentang penambahan dan penurunan berat badan klien.
3. Anjurkan klien untuk mengkonsumsi makanan tinggi kalori dengan intake
cairan yang adekuat (porsi sedikit tapi sering). Anjurkan pula makanan kecil untuk
klien.
4. Kontrol faktor lingkungan seperti bau busuk atau bising. hindarkan makanan
yang terlalu manis, lemak dan pedas untuk mencegah mual muntah, distensti
berlebihan, dyspepsia yang menyebabkn penurunan nafsu makan seta
mengurangi stimulus berhaya yang dapat meningkatkan ansietas.
5. Ciptakan suasana makan yang menyenangkan misalnya makan bersama teman
atau keluarga.
6. Anjurkan tehnik relaksasi, visualisasi, latihan moderate sebelum makan.
7. Anjurkan komunikasi terbuka tentang problem anoreksia yang dialami klien.
8. Kolaboratif:Amati studi laboraturium seperti total limposit, serum transferin
dan albumin.
d. Dx 4 : Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang
penyakit.
Setelah dilakukan asuhan keperawatan 1x24 jam diharapkan cemas pasien
berkurang. Dengan kriteria hasil:

Pasien tidak menanyakan terus menerus tentang penyakitnya.

31

Rileks dan dapat melihat dirinya secara obyektif.

Menunjukkan koping yang efektif serta mampu berpartisipasi


dalam pengobatan.

Intervensi:
1.

Berikan informasi tentang prognosis secara akurat.

Beri kesempatan pada klien untuk mengekspresikan rasa marah, takut,


konfrontasi. Beri informasi dengan emosi wajar dan ekspresi yang sesuai.
2.

Jelaskan pengobatan, tujuan dan efek samping. Bantu klien mempersiapkan


diri dalam pengobatan.
3.

Catat koping yang tidak efektif seperti kurang interaksi sosial, ketidak
berdayaan dll.
4.

5.

Anjurkan untuk mengembangkan interaksi dengan support system.

6.

Berikan lingkungan yang tenang dan nyaman.

7.

Pertahankan kontak dengan klien, bicara dan sentuhlah dengan wajar.

4. Implementasi
Mendorong individu untuk bertanya mengenai masalah, penanganan,
perkembangan dan prognosis kesehatan
a.

b.

Mengidentivikasi factor lingkungan yang memungkinkan resiko terjadinya

cedera
Menjelaskan kembali mengenai patofisiologi / prognosis penyakit dan
perlunya pengobatan / penanganan dalam jangka waktu yang lama sesuai prosedur.
c.

Meninjau kembali obat-obat yang didapat, penting sekali memakan obat


sesuai petunjuk, dan tidak menghentikan pengobatan tanpa pengawasan dokter.
Termasuk petunjuk untuk pengurangan dosis.
d.

Memerikan informasi pada keluarga tentang tindakan yang harus dilakukan


selama pasien merasakan sakit.
e.

32

BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Adenikarsinoma ginjal adalah tumor ganas parenkim ginjal yang berasal dari
tubukus proksimalis ginjal. Tumor ini merupakan 3% dari seluruh keganasan pada
orang dewasa.
Kanker kandung kemih (karsinoma buli-buli ) adalah kanker yang mengenai
kandungkemih dan kebanyakan menyerang laki-laki berusia diatas 50 tahun

33

DAFTAR PUSTAKA
Basuki b purnomo.2003.Dasar-dasar Urologi edisi ketiga.Jakarta : Perpustakaan
Nasional RI
Nursalam dan fransisca.2008.Asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan
system perkemihan.Jakarta : Salemba Medika
http://asuhankeperawatanblog.blogspot.com/2012/05/asuhan-keperawatan-padapasien-adeno.html
http://anajem.blogspot.com/2013/01/karsinoma-sel-ginjal.html
http://www.slideshare.net/septianraha/ca-ginjal#