Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Gangguan jiwa dalam berbagai bentuk adalah penyakit yang sering dijumpai pada
semua lapisan masyarakat. Penyakit ini dialami oleh siapa saja, tidak memandang jenis
kelamin, usia, serta status sosial. Gangguan jiwa dapat mempengaruhi fungsi kehidupan
seseorang, seperti aktivitas penderita, kehidupan sosial, pekerjaan serta hubungan dengan
keluarga dapat menjadi terganggu. Karena gejala ansietas, depresi, dan psikosis.
Salah satu tanda gejala dari skizofrenia adalah terjadinya halusinasi. Halusinasi
merupakan bentuk yang paling sering terjadi dari gangguan persepsi. Halusinasi
merupakan salah satu gangguan persepsi, dimana terjadi pengalaman panca indera tanpa
adanya ransangan sensorik ( persepsi yang salah). Dengan kata lain, klien berespon
terhadap ransangan yang tidak nyata yang hanya dirasakan oleh klien dan tidak dapat
dibuktikan. Dampak dari halusinasi ini adalah pasien sulit berespon terhadap emosi,
perilaku pasien menjadi tidak terkendali, dan akhirnya pasien mengalami isolasi sosial
karena tidak mampu bersosialisasi dengan orang lain.
Seorang dengan gangguan jiwa yang dirawat di rumah sakit jiwa membutuhkan
perawatan yang baik agar gangguan yang terjadi dapat diatasi. Seorang perawat dituntut
mampu melakukan asuhan keperwatan yang sesuai dengan permasalahan yang dialami
pasien.
Penanganan pada klien dengan masalah kesehatan jiwa merupakan tantangan yang
unik karena masalah kesehatan jiwa mungkin tidak dapat dilihat secara langsung, seperti
pada masalah kesehatan fisik yang memperlihatkan berbagai macam gejala dan
disebabkan berbagai hal kejadian masa lalu yang sama dengan kejadian saat ini, tetapi
mungkin muncul gejala yang berbeda banyak klien dengan masalah kesehatan jiwa tidak
dapat menceritakan masalahnya bahkan mungkin menceritakan hal yang berbeda dan
kontradiksi. Kemampuan mereka untuk berperan dan menyelesaikan masalah juga
bervariasi (Keliat, 2002).
B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan halusinasi ?
2. Apa saja macam-macam atau jenis dari halusinasi?
3. Apakah faktor penyebab / etiologi dari terjadinya halusinasi?
4. Apa sajakah dimensi halusinasi?
5. Bagaimanakah manifestasi klinik dari halusinasi?
6. Bagimanakah proses terjadinya halusinasi?
7. Bagaimana kah mekaisme koping individu yang mengalami halusinasi?
8. Apa saja akibat yang di timbulkan dari halusinasi?
9. Bagaimana kah penatalaksanaan terhadap pasien halusinasi?
10. Bagaimana kah pohon masalah dari halusinasi ?
1

11. Bagaimanakah asuhan keperawatan pada pasien halusinasi?


C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan halusinasi
2. Untuk mengetahui apa saja macam-macam atau jenis dari halusinasi
3. Untuk mengetahui faktor penyebab / etiologi dari terjadinya halusinasi
4. Untuk mengetahui apa saja dimensi halusinasi
5. Untuk mengetahui manifestasi klinik dari halusinasi
6. Untuk mengetahui proses terjadinya halusinasi
7. Untuk mengetahui mekaisme koping individu yang mengalami halusinasi?
8. Untuk mengetahui apa saja akibat yang di timbulkan dari halusinas
9. Untuk mengetahui penatalaksanaan terhadap pasien halusinasi
10. Untuk mengetahui pohon masalah dari halusinasi
11. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien halusinasi

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Halusinasi adalah pengalaman panca indera tanpa adanya rangsangan (stimulus)
misalnya penderita mendengar suara-suara, bisikan di telinganya padahal tidak ada
sumber dari suara bisikan itu (Hawari, 2001).
Halusinasi adalah persepsi sensorik yang keliru dan melibatkan panca indera
(Isaacs, 2002).
Halusinasi merupakan gangguan atau perubahan persepsi dimana klien
mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi. Suatu penerapan panca indra
tanpa ada rangsangan dari luar. Suatu penghayatan yang dialami suatu persepsi melalui
panca indra tanpa stimulus eksteren: persepsi palsu (Maramis, 2005).
Halusinasi adalah gangguan penyerapan atau persepsi panca indera tanpa adanya
rangsangan dari luar yang dapat terjadi pada sistem penginderaan dimana terjadi pada
saat kesadaran individu itu penuh dan baik. Maksudnya rangsangan tersebut terjadi pada
2

saat klien dapat menerima rangsangan dari luar dan dari dalam diri individu. Dengan kata
lain klien berespon terhadap rangsangan yang tidak nyata, yang hanya dirasakan oleh
klien dan tidak dapat dibuktikan (Nasution, 2003).
Halusinasi merupakan gangguan atau perubahan persepsi dimana klien
mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi. Suatu penerapan panca indra
tanpa ada rangsangan dari luar. Suatu penghayatan yang dialami suatu persepsi melalui
panca indra tanpa stimulus eksteren: persepsi palsu (Maramis, 2005).
Halusinasi adalah salah satu gejala gangguan jiwa dimana klien mengalami
perubahan sensori, seperti merasakan sensasi palsu berupa suara, penglihatan,
pengecapan, perabaan atau penghiduan. Klien merasakan stimulus yang sebetulnya tidak
ada. (WHO, 2006)
Halusinasi merupakan proses akhir dari pengamatan yang diawali oleh proses
diterimanya, stimulus oleh alat indra, kemudian individu ada perhatian, lalu diteruskan
ke otak dan baru kemudian individu menyadari tentang sesuatu yang dinamakan persepsi
(Yosep, 2009)
Halusinasi adalah sensasi panca indera tanpa adanya rangsangan. Klien merasa
melihat, mendengar, membau, ada rasa raba dan rasa kecap meskipun tidak ada sesuatu
rangsang yang tertuju pada kelima indera tersebut (Izzudin, 2005).
Halusinasi adalah kesan, respon dan pengalaman sensori yang salah (Stuart, 2007).
Kesimpulannya bahwa halusinasi adalah persepsi klien melalui panca indera
terhadap lingkungan tanpa ada stimulus atau rangsangan yang nyata.
B. Macam-Macam Halusinasi
1. Pendengaran
Mendengar suara atau kebisingan, paling sering suara orang. Suara berbentuk
kebisingan yang kurang jelas sampai kata-kata yang jelas berbicara tentang klien,
bahkan sampai pada percakapan lengkap antara dua orang yang mengalami
halusinasi. Pikiran yang terdengar dimana klien mendengar perkataan bahwa klien
disuruh untuk melakukan sesuatu kadang dapat membahayakan.
2. Penglihatan
Stimulus visual dalam bentuk kilatan cahaya, gambar

geometris,gambar

kartun,bayangan yang rumit atau kompleks. Bayangan bias menyenangkan atau


menakutkan seperti melihat monster.
3. Penghidu
Membaui bau-bauan tertentu seperti bau darah, urin, dan feses umumnya bau-bauan
yang tidak menyenangkan. Halusinasi penghidu sering akibat stroke, tumor, kejang,
atau dimensia.
4. Pengecapan
Merasa mengecap rasa seperti rasa darah, urin atau feses.
3

5. Perabaan
Mengalami nyeri atau ketidaknyamanan tanpa stimulus yang jelas. Rasa tersetrum
listrik yang datang dari tanah, benda mati atau orang lain.
6. Cenesthetic
Merasakan fungsi tubuh seperti aliran darah di vena atau arteri, pencernaan makan
atau pembentukan urine
7. Kinisthetic
Merasakan pergerakan sementara berdiri tanpa bergerak.

C. Etiologi
1. Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi adalah factor resiko yang mempengaruhi jenis dan jumlah
sumber yang dapat dibangkitkan oleh individu untuk mengatasi stress. Diperoleh
baik dari klien maupun keluarganya. Factor predisposisi dapat meliputi factor
perkembangan, sosiokultural, biokimia, psikologis, dan genetic. (Yosep, 2009)
a) Faktor perkembangan
Jika tugas perkembangan mengalami hambatan dan hubungan interpersonal
terganggu, maka individu akan mengalami stress dan kecemasan.
b) Faktor sosiokultural
Berbagai factor dimasyarakat dapat menyebabkan seseorang merasa disingkirkan,
sehingga orang tersebut merasa kesepian dilingkungan yang membesarkannya.
c) Faktor biokimia
Mempunyai pengaruh terhadap terhadap terjadinya gangguan jiwa. Jika seseorang
mengalami stress yang berlebihan, maka didalam tubuhnya akan dihasilkan suatu

zat yang dapat bersifat halusinogenik neurokimia seperti buffofenon dan


dimethytrenferase (DMP).
d) Faktor psikologis
Tipe kepribadian lemah dan tidak bertanggungjawab mudah terjerumus pada
penyalahgunaan zat adiktif. Berpengaruh pada ketidakmampuanklien dalam
mengambil keputusan demi masa depannya. Klien lebih memilih kesenangan
sesaat dan lari dari alam nyata menuju alam hayal.
e) Faktor genetic
Gen yang berpengaruh dalam skizofrenia belum diketahui, tetapi hasil studi
menunjukkan bahwa factor keluarga menunjukkan hubungan yang sangat
berpengaruh pada penyakit ini.
2. Faktor Presipitasi
Secara umum klien dengan gangguan halusinasi timbul gangguan setelah
adanya hubungan yang bermusuhan, tekanan, isolasi, perasaan tidak berguna, putus
asa dan tidak berdaya. Penilaian individu terhadap stressor dan masalah koping dapat
mengindikasikan kemungkinan kekambuhan (Keliat, 2006).
Menurut Stuart (2007), faktor presipitasi terjadinya gangguan halusinasi adalah:
a. Biologis
Gangguan dalam komunikasi dan putaran balik otak, yang mengatur proses
informasi serta abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam otak yang
mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif menanggapi stimulus yang
diterima oleh otak untuk diinterpretasikan.
b. Stress lingkungan
Ambang toleransi terhadap stress yang berinteraksi terhadap stressor lingkungan
untuk menentukan terjadinya gangguan perilaku.
c. Sumber koping
Sumber koping mempengaruhi respon individu dalam menanggapi stressor.
D. Dimensi Halusinasi
Menurut Rawlins dan Heacock, 1993 halusinasi dapat dilihat dari 5 dimensi yaitu :
1. Dimensi fisik
Halusinasi dapat timbul oleh kondisi fisik seperti kelelahan yang luar biasa,
penyalahgunaan obat, demam, kesulitan tidur.
2. Dimensi emosional
Perasaan cemas yang berlebihan atas masalah yang tidak dapat diatasi merupakan
penyebab halusinasi berupa perintah memaksa dan menakutkan.
3. Dimensi intelektual
Halusinasi merupakan usaha dari ego untuk melawan implus yang menekan
merupakan suatu hal yang menimbulkan kewaspadaan yang dapat mengambil
seluruh perhatian klien.
4. Dimensi sosial
5

Klien mengalami interaksi sosial menganggap hidup bersosialisasi di alam nyata


sangat membahyakan. Klien asyik dengan halusinasinya seolah merupakan temapat
memenuhi kebutuhan dan interaksi sosial, kontrol diri dan harga diri yang tidak di
dapatkan di dunia nyata.
5. Dimensi spiritual
Secara spiritual halusinasi mulai denga kehampaan hidup, ritinitas tidak bermakna,
hilangnya aktifitas ibadah dan jarang berupaya secara spiritual untuk menyucikan
diri.
E. Manifestasi Klinik
Menurut Yosep, 2009 tanda dan gejala halusinasi adalah :
1. Melihat bayangan yang menyuruh melakukan sesuatu berbahaya.
2. Melihat seseorang yang sudah meninggal.
3. Melihat orang yang mengancam diri klien atau orang lain
4. Bicara atau tertawa sendiri.
5. Marah-marah tanpa sebab.
6. Menutup mata.
7. Mulut komat-kamit
8. Ada gerakan tangan
9. Tersenyum
10. Gelisah
11. Menyendiri, melamun
F. Proses Terjadinya Halusinasi
1. Fase Pertama / comforting / menyenangkan
Pada fase ini klien mengalami kecemasan, stress, perasaan gelisah, kesepian. Klien
mungkin melamun atau memfokukan pikiran pada hal yang menyenangkan untuk
menghilangkan kecemasan dan stress. Cara ini menolong untuk sementara. Klien
masih mampu mengotrol kesadarnnya dan mengenal pikirannya, namun intensitas
persepsi meningkat.
Perilaku klien : tersenyum atau tertawa yang tidak sesuai, menggerakkan bibir tanpa
bersuara, pergerakan mata cepat, respon verbal yang lambat jika sedang asyik dengan
halusinasinya dan suka menyendiri.
2. Fase Kedua / comdemming
Kecemasan meningkat dan berhubungan dengan pengalaman internal dan
eksternal, klien berada pada tingkat listening pada halusinasi. Pemikiran internal
menjadi menonjol, gambaran suara dan sensasi halusinasi dapat berupa bisikan yang
tidak jelas klien takut apabila orang lain mendengar dan klien merasa tak mampu
mengontrolnya. Klien membuat jarak antara dirinya dan halusinasi dengan
memproyeksikan seolah-olah halusinasi datang dari orang lain.

Perilaku klien : meningkatnya tanda-tanda sistem saraf otonom seperti


peningkatan denyut jantung dan tekanan darah. Klien asyik dengan halusinasinya dan
tidak bisa membedakan dengan realitas.
3. Fase Ketiga / controlling
Halusinasi lebih menonjol, menguasai dan mengontrol klien menjadi terbiasa
dan tak berdaya pada halusinasinya. Termasuk dalam gangguan psikotik.
Karakteristik : bisikan, suara, isi halusinasi semakin menonjol, menguasai dan
mengontrol klien. Klien menjadi terbiasa dan tidak berdaya terhadap halusinasinya.
Perilaku klien : kemauan dikendalikan halusinasi, rentang perhatian hanya
beberapa menit atau detik. Tanda-tanda fisik berupa klien berkeringat, tremor dan
tidak mampu mematuhi perintah.
4. Fase Keempat / conquering/ panik
Klien merasa terpaku dan tak berdaya melepaskan diri dari kontrol
halusinasinya. Halusinasi yang sebelumnya menyenangkan berubah menjadi
mengancam, memerintah dan memarahi klien tidak dapat berhubungan dengan orang
lain karena terlalu sibuk dengan halusinasinya klien berada dalam dunia yang
menakutkan dalam waktu singkat, beberapa jam atau selamanya. Proses ini menjadi
kronik jika tidak dilakukan intervensi.
Perilaku klien : perilaku teror akibat panik, potensi bunuh diri, perilaku
kekerasan, agitasi, menarik diri atau katatonik, tidak mampu merespon terhadap
perintah kompleks dan tidak mampu berespon lebih dari satu orang.
Klien dengan halusinasi cenderung menarik diri, sering didapatkan duduk
terpaku dengan pandangan mata pada satu arah tertentu, tersenyum atau berbicara
sendiri, secara tiba-tiba marah atau menyerang oranglain, gelisah, melakukan gerakan
seperti sedang menikmati sesuatu. Juga keterangan dari klien sendiri tentang
halusinasi yang dialaminya ( apa yangdilihat, didengar atau dirasakan). Berikut ini
merupakan gejala klinis berdasarkan halusinasi (Budi Anna Keliat, 1999) :
a. Tahap I : halusinasi bersifat menyenangkan
Gejala klinis :
1) Menyeringai/ tertawa tidak sesuai
2) Menggerakkan bibir tanpa bicara
3) Gerakan mata cepat
4) Bicara lambat
5) Diam dan pikiran dipenuhi sesuatu yang mengasikkan
b. Tahap 2 : halusinasi bersifat menjijikkan
Gejala klinis :
1) Cemas
2) Konsentrasi menurun
3) Ketidakmampuan membedakan nyata dan tidak nyata
c. Tahap 3 : halusinasi yang bersifat mengendalikan
Gejala klinis :
7

1) Cenderung mengikuti halusinasi


2) Kesulitan berhubungan dengan orang lain
3) Perhatian atau konsentrasi menurun dan cepat berubah
4) Kecemasan berat (berkeringat, gemetar, tidak mampu mengikuti petunjuk)
d. Tahap 4 : halusinasi bersifat menaklukkan
Gejala klinis :
1) Pasien mengikuti halusinasi
2) Tidak mampu mengendalikan diri
3) Tidak mampu mengikuti perintah nyata
4) Beresiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan
G. Mekanisme Koping
Mekanisme koping merupakan tiap upaya yang diarahkan pada pengendalian stress,
termasuk upaya penyelesaian masalah secara langsung dan mekanisme pertahanan lain
yang digunakan melindungi diri. Mekanisme koping menurut Yosep, 2009 meliputi cerita
dengan orang lain (asertif), diam (represi/supresi), menyalahkan orang lain (sublimasi),
mengamuk (displacement), mengalihkan kegiatan yang bermanfaat (konversi),
memberikan alasan yang logis (rasionalisme), mundur ke tahap perkembangan
sebelumnya (regresi), dialihkan ke objek lain, memarahi tanaman atau binatang
(proyeksi).
H. Akibat Yang Ditimbulkan
Pasien yang mengalami perubahan persepsi sensori: halusinasi dapat beresiko
mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungannya. Resiko mencederai merupakan
suatu tindakan yang kemungkinan dapat melukai/ membahayakan diri, orang lain dan
lingkungan.
Tanda dan Gejala antara lain:
1. Memperlihatkan permusuhan
2. Mendekati orang lain dengan ancaman
3. Memberikan kata-kata ancaman dengan rencana melukai
4. Menyentuh orang lain dengan cara yang menakutkan
5. Mempunyai rencana untuk melukai
Klien yang mengalami halusinasi dapat kehilangan control dirinya sehingga bisa
membahayakan diri sendiri, orang lain maupun merusak lingkungan (resiko mencederai
diri sendiri, orang lain dan lingkungan). Hal ini terjadi jika halusinasi sudah sampai fase
ke IV, dimana klien mengalami panic dan perilakunya dikendalikan oleh isi halusinasinya.
Klien benar-benar kehilangan kemampuan penilaian realitas terhadap lingkungan. Dalam
situasi ini klien dapat melakukan bunuh diri, membunuh orang lain bahkan merusak
lingkungan. Tanda dan gejalanya adalah muka merah, pandangan tajam, otot tegang, nada
suara tinggi, berdebat dan sering pula tampak klien memaksakan kehendak: merampas
makanan, memukul jika tidak senang.
8

I. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada pasien halusinasi dengan cara :
1. Menciptakan lingkungan yang terapeutik
Untuk mengurangi tingkat kecemasan, kepanikan dna ketakutan klien akibat
halusinasi, sebaiknya pada permulaan pendekatan dilakukan secara individual dan
usahakan agar terjadi kontak mata, kalau bisa pasien disentuh atau dipegang. Pasien
jangan di isolasi baik secara fisik atau emosional. Setiap perawat masuk ke kamar
atau mendekati klien, bicaralah dengan klien. Begitu juga bila akan meninggalkannya
hendaknya klien diberitahu. Klien diberitahu tindakan yang akan dilakukan. Di
ruangan itu hendaknya disediakan sarana yang dapat merangsang perhatian dan
mendorong pasien untuk berhubungan dengan realitas, misalnya jam dinding, gambar
atau hiasan dinding, majalah dan permainan.
2. Melaksanakan program terapi dokter
Sering kali klien menolak obat yang diberikan sehubungan dengan rangsangan
halusinasi yang diterimanya. Pendekatan sebaiknya secara persuatif tapi instruktif.
Perawat harus mengamati agar obat yang diberikan betul ditelannya, serta reaksi obat
yang diberikan.
3. Menggali permasalahan klien dan membantu mengatasi masalah yang ada
Setelah pasien lebih kooperatif dan komunikatif, perawat dapat menggali masalah
klien yang merupakan penyebab timbulnya halusinasi serta membantu mengatasi
masalah yang ada. Pengumpulan data ini juga dapat melalui keterangan keluarga
klien atau orang lain yang dekat dengan klien.
4. Memberi aktivitas pada klien
Klien diajak mengaktifkan diri untuk melakukan gerakan fisik, misalnya berolah
raga, bermain atau melakukan kegiatan. Kegiatan ini dapat membantu mengarahkan
klien ke kehidupan nyata dan memupuk hubungan dengan orang lain. Klien diajak
menyusun jadwal kegiatan dan memilih kegiatan yang sesuai.
5. Melibatkan keluarga dan petugas lain dalam proses perawatan
Keluarga klien dan petugas lain sebaiknya di beritahu tentang data klien agar ada
kesatuan pendapat dan kesinambungan dalam proses keperawatan, misalnya dari
percakapan dengan klien diketahui bila sedang sendirian ia sering mendengar lakilaki yang mengejek. Tapi bila ada orang lain di dekatnya suara-suara itu tidak
terdengar jelas. Perawat menyarankan agar klien jangan menyendiri dan
menyibukkan diri dalam permainan atau aktivitas yang ada. Percakapan ini
hendaknya diberitahukan pada keluarga klien dan petugas lain agar tidak
membiarkan klien sendirian dan saran yang diberikan tidak bertentangan.
6. Farmakologi:
a. Anti psikotik:
9

1) Chlorpromazine (Promactile, Largactile)


a) Indikasi
Indikasi obat ini utnuk sindrom psikis yaitu berdaya berat dalam
kemampuan menilai realitas, kesadaran diri terganggu, daya ingat norma
social dan tilik diri terganggu. Berdaya berat dalam fungsi-fungsi mental
seperti: waham dan halusinasi. Gangguan perasaan dan perilaku yang
aneh atau tidak terkendali, berdaya berat dalam fungsi kehidupan seharihari seperti tidak mampu bekerja, hubungan social dan melakukan
kegiatan rutin.
b) Mekanisme kerja
Memblokade dopamine pada reseptor pasca sinap di otak, khususnya
system ekstra pyramidal.
c) Efek samping
Sedasi, dimana pasien mengatakan merasa melayang-layang antar

sadar atau tidak sadar.


Gangguan otonomi (hipotensi) antikolinergik atau parasimpatik,
seperti mulut kering, kesulitan dalam miksi dan defekasi, hidung
tersumbat, mata kabur, tekana intraokuler meninggi, gangguan irama

jantung.
Gangguan ektrapiramidal seperti : distonia akut, akathsia syndrome

parkinsontren, atau bradikinesia regiditas.


d) Kontra indikasi
Kontra indikasi obat ini seperti penyakit hati, penyakit darah, epilepsi
(kejang, perubahan kesadaran), kelainan jantung, febris (panas),
ketergantungan obat, penyakit SSP (system saraf pusat), gangguan
kesadaran disebabkan oleh depresan.
e) Penggunaan obat
Penggunaan obat pada klien dengan kondisi akut di berikan 3x100mg.
Apabila kondisi klien sudah stabil dosisnya di kurangi menjadi
1x100mg pada malam hari saja.
2) Haloperidol (Haldol, Serenace, Lodomer)
a) Indikasi
Indikasi dalam pemberian obat ini, yaitu pasien yang berdaya berat dalam
kemampuan menilai realitas, baik dalam fungsi mental dan dalam fungsi
kehidupan sehari-hari.
b) Mekanisme kerja
Obat anti psikis ini dapat memblokade dopamine pada reseptor pasca
sinaptik neuron di otak, khususnya system limbic dan system pyramidal.
c) Efek samping
10

Sedasi dan inhibisi psikomotor


Gangguan miksi dan parasimpatik, defekasi, hidung tersumbat, mata

kabur, tekanan intraokuler meninggi, gangguan irama jantung.


d) Kontra indikasi
Kontra indikasi obat ini seperti penyakit hati, penyakit darah, epilepsi
(kejang, perubahan kesadaran), kelainan jantung, febris (panas),
ketergantungan obat, penyakit SSP (system saraf pusat), gangguan
kesadaran.
e) Penggunaan obat
Penggunaan obat pada klien dengan kondisi akut biasanya dalam bentuk
injeksi 3x5mg IM pemberian ini dilakukan 3x24 jam. Sedangkan
pemberian peroral di berikan 3x1,5mg atau 3x5 mg.
3) Stelazine
4) Clozapine (Clozaril)
5) Risperidone (Risperdal)
b. Anti parkinson:
1) Trihexyphenidile
a) Indikasi dalam pemberian obat ini, yaitu segala jenis penyakit parkinson,
termasuk pasca encephalitis (infeksi obat yang disebabkan oleh virus atau
bakteri) dan idiopatik (tanpa penyebab yang jelas). Sindrom Parkinson
akibat obat, misalnya reserpina dan fenotiazine.
b) Mekanisme kerja
Obat ini sinergis (bekerja bersama) dengan obat kiniden; obat depreson,
dan antikolinergik lainnya.
c) Efek samping
Mulut kering, penglihatan kabur, pusing, mual, muntah, bingung, agitasi
(gerakan motorik yang menunjukkan kegelisahan), konstipasi, takikardia,
dilatasi, ginjal, retensi urine.
d) Kontra indikasi
Kontra indikasinya seperti hipersensitif terhadap trihexypenidil (THP),
glaucoma sudut sempit, psikosis berat psikoneurosis, hipertropi prostat,
dan obstruksi saluran edema.
e) Penggunaan obat
Penggunaan obat ini di berikan pada klien dengan dosis 3x2 mg sebagai
anti parkinson.
2) Arthan
J. Tindakan Keperawatan Pasien Halusinasi
1. Tujuan tindakan untuk pasien meliputi :
a. Pasien mengenali halusinasi yang dialaminya
b. Pasien dapat mengontrol halusinasinya
c. Pasienmengikuti program pengobatan secara optimal
2. Tindakan keperawatan :
11

a. Membantu pasien mengenali halusinasi. Anda dapat melakukannya dengan cara


berdiskusi dengan pasien tentang isi halusinasi (apa yang di dengar/dilhat), waktu
terjadi halusinasi, frekuensi terjadinya halusinasi, situasi yang menyebabkan
halusinasi muncul dan respons pasien saat halusinasi muncul.
Bantu pasien mengenal halusinasi, jelaskan cara cara kontrol halusinasi, ajarkan
pasienmengontrol halusinasi dengan cara pertama yaitu menghardik halusinasi
Orientasi :
selamat pagi, D saya perawat puskesmas ... yang akan merawat D. Nama saya SS, senang
dipanggil S. Nama D siapa? Senang dipanggil apa?
Bagaimana perasaan D hari ini? apa keluhan disaat ini ?
Baiklah, bagaimana kalau kita bercakap cakap tentang suara yang selama ini D dengar tetapi
tak tampak wujudnya ? Dimana kita duduk? Di ruang tamu? Berapa lama? Bagaimana kalau
30 menit ?
Kerja :
Apakah D mendengar suara tanpa ada wujudnya? Apa yang dikatakan suara itu ?
Apakah terus menerus terdengar atau sewaktu waktu? Kapan yang paling sering D dengar
suara? Berapa kali sehari D alami? Pada keadaan apa suara itu terdengar? Apakah pada waktu
sendiri ?
Apa yang D rasaakan pada saat mendengar suara itu?
Apa yang D lakukan saat mendengar suara itu? Apakah dengan itu suara-suara itu hilang?
Bagaimana kalau kita blajar cara-cara untuk mencegah suara suara muncul ?
D, ada 4 cara untuk mencegah suara suara itu muncul . Pertama,dengan menghardik suara
itu muncul. Kedua, dengan bercakap cakap dengan orang lain. Ketiga, melakukan kegiatan
yangg sudah terjadwal. dan keempat minum obat secara teratur.
Bagaimana kalau kita belajar satu cara dulu yaitu dengan menghardik
Caranya sebagai berikut: saat suara suara itu muncul, langsung D bilang, pergi saya tidak
mau dengar,...saya tidak mau dengar, pergi jangan ganggu saya. stop jangan ganggu saya.
begitu diulang ulang sampai suara itu tak terdengar lagi. Coba D peragakan! Nah..,
begitu..Bagus! Coba lagi! Ya bgus, D sudah dapat
Teminasi:
Bagaimana perasaan D stelah peragaan latihan tadi? Kalau suara suara itu muncul lagi,
silahkan coba cara tersebut! Bagaimana kalau kita buat jadwal latihannya? Mau pukul berapa
12

saja latihannya? (anda memasukankegiatan latihan menghardik halusinasi kedalam jadwal


kegiatan harian pasien). Bagaimana kalau kita bertemu lagi untuk belajar dan latihan
mengendalikan suara suara dengan cara kedua ? Jam berapa D? Bagiamana kalau 2 jam lagi?
Berapa lama kita akan berlatih? Dimana tempatnya?
Baiklah, sampai jumpa
b. Melatih pasien mengontrol halusinasi . Dapat dilatih dengan 4 cara:
1) Menghardik halusinasi: adalah upaya mengendalikan diri terhadap halusinasi
dengan cara menolak halusinasi yang muncul. Pasien dilatih untuk
mengatakan tidak terhadap halusinasi yang muncul atau tidak memedulikan
halusinasinya . Kalau ini dapat dilakukan pasien akan mampu mengendalikan
diri dan tidak mengikuti halusinasi yang muncul. Mungkin halusinasi tetap
ada namun dengan kemampuan ini pasien tidak akan larut untuk menuruti apa
yang ada dalam halusinasinya. Tahapan tindakan meliputi :
a) menjelaskan cara menghardik halusinasi
b) memperagakan cara menghardik
c) meminta pasienmemperagakan ulang
d) memantau penerapan cara ini, menguatkan perilaku pasien
2) Bercakap cakap dengan orang lain. Hal ini dapat mengontrol halusinasi. Ketik
pasien bercakap-cakap dengan orang lain maka terjadi distraksi, fokus
perhatian klien akan beralih dari halusinasi ke percakapan yang dilakukan
dengan orang lain tersebut.

Latihan pasien mengontrol halusinasi dengan cara kedua yaitu bercakap cakap dengan

orang lain
Orientasi :
Selamat pagi D. Bagaimana perasaan D hari ini? apakah suara suara itu masih muncul ?

apakah suadah dipakai cara yang kita latih? berkurangkah suara suara nya? Bagus! sesuai

janji kita tadi, saya akan melatih cara kedua untuk mengontrol halusinasi dengan bercakapc
cakap dengan orang lain. kita akan latihan selama 20 menit. mau dimana? disini saja ?

Kerja :
Cara kedua untuk mencegah/mengontrol halusinasi yang lain adalah dengan , ber-cakap

cakap dengan orang lain. Jadi, kalau D mulai mendengar suara suara, langsung saja cari

teman untuk di ajak bicara. Minta teman untuk ngobrol dengan D. Contohnya begini ..

tolong, saya mulai mendengar suara-suara. ayo ngobrol dengan saya ! atau kalau ada orang

di rumah ini mis. Kakak. D katakan, kak ayo ngobrol dengan D. D sedang dengar suara

suara. begitu D. Coba D lakukan seperti yang tadi saya lakukan. Ya, begitu. Bagus ! Nah

13

latih terus ya, D!

Terminasi :
Bagaimana perasaan D setelah latihan ini ? Jadi sudah ada berapa cara yang D pelajari untuk

mencegah suara-suara itu? Bagus, cobalh kedua cara ini kalau D mengalamai halusinasi lagi.

Bagaimana kalau kita masukan dalam jadwal harian D ? Mau pukul berapa latihan bercakap

cakap? Nah nanti lakukan secara teratur jika sewaktu waktu suara itu muncul! Besok pagi

saya akan kemari lagi. Bagaimana kalau kita latih cara yang ketiga yaitu melakukan aktivitas

terjadwal ? Mau pukul berapa? Bagaimana kalau pukul 10? Mau dimana? disini lagi? Sampai
besok ya. Selamat pagi
3) Melakukan aktivitas yang terjadwal. Hal ini untuk mengurangi risiko
munculnya kemblai halusinasi. Pasien tidak akan mengalami banyak waktu
luang sendiri yang sering kali mencetuskan halusinasi. Tahapan intervensinya
adalah sebagai berikut :
a) menjelaskan pentingnya aktivitas yang teratur untuk mengatasi halusinasi
b) mendiskusikan aktivitas yang biasa dilakukan oleh pasien
c) melatih pasien melakukan aktivitas
d) Menyusun jadwal aktivitas sehari hari
e) memantau pelaksanaan jadwal kegiatan dan memberikan penguatan
terhadap perilaku pasien yang positif.

Latih pasien mengontrol halusinasi dengan cara ketiga, yaitu melaksanakan aktivitas
terjadwal
Orientasi :

selamat pagi, D. Bagaimana perasaan D hari ini ? apakah suara suara nya masih muncul?

apakah sudah dipakai dua cara yang kita latih ? bagaimana hasilnya?bagus! sesuai janji kita,

hari ini kita akan belajar cara yang ketiga untuk mencegah halusinasi yaitu melakukan

kegiatan terjadwal. mau dimana kita bicara? baik, kita duduk di ruang tamu. berapa lama kita
bicara? bagaimana kalau 30 menit? Baiklah
Kerja:

apa saja yang biasa D lakukan ? apa saja keggiatan yang biasa dilakukan? (terus tanyakan

sampai didapatkan kegiatan sampai malam). wah banyak sekali kegiatannya. mari kita latih

dua kegiatan hari ini (latih kegiatan tersebut). bagus sekali D dapat lakukan. kegiatan ini

dapat D lakukan untuk mencegah suara tersebut muncul. kegiatan yang lain akan kita latih
lagi agar dari pagi sampai malam ada kegiatan

14

Terminasi :

bagaimana perasaan D setelah kita bercakap cakap cara yang ketiga untuk mencegah suara-

suara? bagus sekali! coba sebut kan 3 cara yang telah kita latih untuk mencegah suara suara.

bagus sekali. mari kita masukan ke dalam jadwal kagiatan harian D. coba lakukan sesuai

jadwal ya! (anda dapat melatih aktivitas yang lain pada pertemuan berikut sampai terpenuhi

seluruh aktivitas dari pagi sampai malam) bagaimana kalau kita membahas cara minum obat
yang baik serta kegunaan obat pada kunjungan saya berikutnya. sampai jumpa
4) Menggunakan obat secara teratur. Tindakan keperawatan agar pasien patuh
menggunakan obat :
a) jelaskan kegunaan obat
b) jelaskan akibat putus obat
c) jelaskan cara mendapatkan obat/berobat
d) jelaskan cara menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (benar obat,
benar pasien, benar cara, benar waktu, benar dosis)
Latih pasien menggunakan obat secra teratur
Orientasi :

selamat pag D. bagaimana perasaan D hari ini ?apakah suara suaranya masih muncul?

apakah sudah dipakai tiga cara yang telah kita latih? apakah jadwal kegiatannya sudah di

laksanakan? apakah pagi ini sudah minum obat? baik. hari ini kita akan mendiskusikan

tentang obat-obatan yang D minum. kita akan berdiskusi selama 20 menit sambil menunggu
makan siang. disini saja ya D?
Kerja :

D, apakah bedanya setelah minum obat secara teratur? apakah suara-suara berkurang atau

hilang? minum obat sangat penting supaya suara suara yang D dengar dan mengganggu

selama ini tidak muncul lagi. berapa macam obat yang D minum? (perawat menyiapkan obat

pasien) ini yang warna orange CPZ 3 kali sehari pukul 7 pagi, pukul 1 siang dan pukul 7

malam gunanya untuk membuat pikiran tenang. ini yang putih (THP) 3 kali sehari pukulnya

sama gunanya untuk rileks dan tidak kaku. sedangkan yang merah jambu 3 kali sehari , waktu

nya sama gunannya untuk menghilangkan suara suara. kalau suara suara sudah hilang

obatnya tidak boleh diberhentikan. nanti konsultasikan dengan dokter , sebab kalau putus

obat D akan kambuh dan sulit untuk mengembalikan ke keadaan semula. kalau obat habis D

dapat minta ke dokter untuk mendapatkan obat lagi. D juga harus teliti saat menggunakan

obat obatan ini. pastikan obatnya benar. artinya D harus memastikan bahwa itu benar benar

15

punya D. jangan kelitu dengan obat milik orang lain. baca nama kemasannya. pastikan obat

diminum pada waktunya, dengan cara yang benar. yaitu diminum sesudah makan dan tepat

pada waktunya. D juga harus memperhatikan berapa jumlah obatsekali minum danharus
cukup minum 10 gelas per hari
Terminasi :

bagaimana perasaan D setelah bercakap cakap tentang obat? sudah berapa cara yang kita

latih untuk mencegah suara suara? Coba sebutkan! bagus! (jika jawaban benar) mari kita

masukan jadwal minum obatnya pada jadwal kegiatan D. jangan lupa pada waktunya minta

obat pada perawat atau pada keluarga kalau dirumah. nah, maknan sudah datang. kita ketemu

lagi untuk melihat manfaat 4 cara yang sudah mencegah suara yang telah kita bicarakan

bagaimana kalau minggu depan? mau pukul berapa? bagaimana kalau pukul 10? sampai
jumpa

K. Tindakan Keperawatan Untuk Keluarga


1. Tujuan Tindakan Keperawatan :
a. keluarga dapat terlibat dalam perawatn pasien baik di rumah sakit maupu
keluarga
b. keluarga dapat menjadi sistem pendukung yang efektif untuk pasien
2. Tindakan keperawatan :
a. Mendiskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat pasien
b. Memberikan pendidikan kesehatan tentang pengertian halusinasi, jenis halusinasi
yang dialami pasien, tanda dan gejala halusinasi, proses terjadinya halusinasi, dan
cara merawat pasien halusinasi
c. Memberikankesempatan pada keluarga untuk memperagakan cara merawat
pasien dengan halusinasi langsung dihadapan pasien
d. memberikan pendidikan kesehatan kepada keluarga tentang perawatan lanjutan
pasien.
Pendidikan kesehatan tentang pengertian halusnasi, jenishalusinasi yang
dialami pasien, tanda dan gejala halusinasi dan cara cara merawat pasien
halusinasi
Peragakan percakapan berikut ini dengan pasangan anda!
Orientasi:
selamat pagi, bapak ibu saya SS, perawat yang merawat anak bpk/ibu
bagaimana perasaan bapak /ibu hari ini? apa pendapat bpk/ibu tentang anak
16

bpk/ibu?
hari ini kita akan berdiskusi tentang apa masalah yang bpk/ibu hadapi dalam
merawat D?
kita mau diskusi dimana? bagaimana kalau di ruang tamu? berapa lama waktu
bpk /ibu? bagaimana kalau 30 menit?
Kerja :
apa yang bpk/ibu rasakan menjadi masalah dalam merawat D? apa yang bpk/ibu
lakukan?
Ya, gejala yang dialami oleh anak bpk/ibu namanya halusinasi, yaitu mendengar
atau melihat sesuatu yang sebetulnya tidak ada bendanya
tandan tandanya bicara dan tertawa sendiri, atau marah marah tanpa sebab
jadi kalau anak bpk ibu mendengar suara suara, sebenarnya suara itu tidak ada
kalau anak bpk/ibu mengatakan melihat bayangan-bayangan, sebenarnya bayangan
itu tidak ada
untuk itu kita diharapkan dapat membantunya dengan bebrapa cara. ada beberapa
cara untuk mebantu anak bpk/ibu agar dapat mengendalikan halusinasi. cara cara
tersebut antara lain: pertama, dihadapan anak bpk/ibu jangan mebantah hakusinasi
atau menyokongnya. katakan saja bahwa bpk/ibu percaya bahwa D memang
mendengar suara atau bayangan, tetapi bpk/ibu sendiri tidak mendengar ataupun
melihatnya
kedua, bantu anak bpk/ibu minum obat secra teratur. jangan menghentikan obat
tanpa konsultasi. terkait dengan obat ini, saya juga sudah melatih D untuk minum
oat secara teratur. Jadi bpk ibu dapat mengingatkan kembali . obatnya ada 3 acam ini
yang orange namanya CPZ gunanya untuk menenangkan pikiran. diminum 3 kali
sehari pada pukul 7 pagi, 1 siang, dan 7 malam. yang putih namanya THP gunanya
17

membuat rileks, waktu minum nya sama dengan CPZ tadi. yang biru namanya HP.
gunanya menghilangkan suara suara. waktu minum ny sama dengan CPZ. obat perlu
selalu diminum untuk mencegah kekambuhan
:terakhir bila tandatanda halusinasi mulai muncul, putus halusinasi D dengan cara
menepuk punggung anak bpk/ibu. kemudian suruhlah D menghardik suara tersebut.
D sudah saya ajarkan cara menghardik halusinasi.
sekarang, mari kita latihan memutus halusinasi D. sambil menepuk punggung D,
katakan D: D , sedanf apa kamu? kamu ingat kan apa yang diajarkan perawat bila
suara siuara itu datang? Ya. usir dan katakan stop pada suara itu. tutup telinga kamu
dan katakan pada suara itu saya tidak mau dengar, jangan ganggu saya, stop
tinggalkan saya. ucapkan berulang ulang D sekarang coba bpk/ibu praktikan cara
yang baru saja saya ajarkan
bagus pak/bu
Terminasi:
bagaimana perasaan bpk/ibu setelah kita berdiskusi dan memerlukan latihan
memutuskan halusinasi D?
sekarang coba bpk/ibu sebutkan kembali tiga cara merawat D
bagus sekali pakbu. bagaimana kalau dua hari lagi kita bertemu untuk
mempraktikan cara memutus halusinasi langsung kepada D
pukul berapa kita bertemu?
baik, sampai jumpa.selamat pagi
Latih keluarga melakukan praktik merawat pasien secara langsung dihadapan pasien
Beri kesempatan kepada keluarga untuk memperagakan cara merawat pasien halusinasi
langsung dihadapan pasien.
Orientasi:
18

selamat pagi!
bagaimana perasaan bpk/ibu pagi ini?
apakah bpk ibu masih ingat bagaimana cara memutus halusinasi D yang sedang mengalami
halusinasi? bagus!
sesuai dengan perjanjian kita, selama 20 menit ini kita akan mempraktikan cara memutus
halusinasi langsung kepada D
mari kita temui D
Kerja:
selamat pagi D. D, bpk/ibu D sangat ingin membantu D mengendalikan suara suara yangs
sering D dengar. untuk ini pagi ini bpk/ibu D akan mempraktikan cara memutus suara-suara
yang D dengar. D nanti kalau sedang dengar dengar suara-suara bicara atau tersenyumsenyum sendiri, maka bpk/ibu akan mengingatkan sperti ini.sekarang, coba bpk/ibu
peragakan cara memutus halusinasi yang sedang D alami seperti yang sudah kita pelajari
sebelumnya. Tepuk punggung D lalu suruh D mengusir suara dengan menutup telinga dan
menghardik suara tersebut(anda mengobservasi apa yang dilakukan keluarga terhaap pasien).
bagus sekali! bagimana D? senang di bantu bpk/ibu? nah, bpk/ibu ingin melihat jadwal harian
D. (pasien memperlihatkan dan mendorong oran tua memberikan pujian) baiklahsekarang
saya dan orang tua D ke ruang perawat dulu (anda dan keluarga meninggalkan pasien untuk
melakukan terminasi dengan keluarga)
Terminasi :
bagaimana perasaan bpk/ibu setelah mempraktikan cara memutus halusinasi lngsung kepada
D?
diingat ingat pelajaran kita hari ini ya Pak/bu. bpk ibu dapat melakukan cara itu bila D
mengalami halusinasi
bagaimana kalau kita bertemu dua hari lagi untuk membicarakan tentang jadwal kegiatan
harian D. jam berapa bpk/ibu dapat datang ? tempatnya disini ya. sampai jumpa.

19

Jelaskan perawatan lanjutan


Peragakan kepada pasngan anda komunikasi dibawah ini!
Orientasi:
selamat pagi pak/bu, karena progran kunjungan saya sudah mau berakhir, sesuai janji kita
sekarang bertemu untuk membicarakan jadwal D
nah, sekarang kita bicarakan jadwal D. mari kita duduk di ruang tamu !
berapa ama bpk/ibu ada waktu? bagaimana kalau 30 menit?
Kerja:
ini jadwal kegiatan D yang telah disusun. jadwal ini dapat dilanjtkan. coba bpk/ibu lihat
mungkinkahh dilakukan? siapa yang kira kira memotivasi dan mengingatkan? jadwal yang
telah kita buat tolong dilanjtkan, baik jadwal aktivitas maupun jadwal minum obatnya
hal hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah perilaku yang ditampilkan oleh D. Mis.
kaluD terus menerus mendengar suara suara yang mengganggu dan tidak memperlihatkan
perbaikan, menolak minum obat atau memperlihatkan perilaku membahayakan orang lain.
jika hal ini terjadi segera hubungi saya di puskesmas, ini nomor telepon puskesmasnya
xxxx.
Terminasi:
bagaimana bpk/ibu? ada yang ingin ditanyakan? coba ibu sebutkan cara cara merawat D!
bagus (jika ada yang lupa segera diingatkan oleh perawat) ini jadwalnya. sampai jumpa!

L. Pohon Masalah

20

M. Asuhan Keperawatan
1. Data yang Perlu Dikaji
a. Alasan masuk RS
Umumnya klien halusinasi di bawa ke rumah sakit karena keluarga merasa tidak
mampu merawat, terganggu karena perilaku klien dan hal lain, gejala yang
dinampakkan di rumah sehingga klien dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan
perawatan.
b. Faktor prediposisi
1) Faktor perkembangan terlambat
a) Usia bayi tidak terpenuhi kebutuhan makanan, minum dan rasa aman.
b) Usia balita, tidak terpenuhi kebutuhan otonomi.
c) Usia sekolah mengalami peristiwa yang tidak terselesaikan
2) Faktor komunikasi dalam keluarga
a) Komunikasi peran ganda
b) Tidak ada komunikasi
c) Tidak ada kehangatan
d) Komunikasi dengan emosi berlebihan
e) Komunikasi tertutup
f) Orangtu yang membandingkan anak-anaknya, orangtua yang otoritas dan
konflik dalam keluarga
3) Faktor sosial budaya
Isolasi sosial pada yang usia lanjut, cacat, sakit kronis, tuntutan lingkungan
yang terlalu tinggi.
4) Faktor psikologis
Mudah kecewa, mudah putus asa, kecemasan tinggi, menutup diri, ideal diri
tinggi, harga diri rendah, identitas diri tidak jelas, krisis peran, gambaran diri
negatif dan koping destruktif.
5) Faktor biologis
21

Adanya kejadian terhadap fisik, berupa : atrofi otak, pembesaran vertikel,


perubahan besar dan bentuk sel korteks dan limbik.
6) Faktor genetik
Telah diketahui bahwa genetik schizofrenia diturunkan melalui kromoson
tertentu. Namun demikian kromoson yang keberapa yang menjadi faktor
penentu gangguan ini sampai sekarang masih dalam tahap penelitian. Diduga
letak gen skizofrenia adalah kromoson nomor enam, dengan kontribusi
genetik tambahan nomor 4,8,5 dan 22. Anak kembar identik memiliki
kemungkinan mengalami skizofrenia sebesar 50% jika salah satunya
mengalami skizofrenia, sementara jika di zygote peluangnya sebesar 15 %,
seorang anak yang salah satu orang tuanya mengalami skizofrenia berpeluang
15% mengalami skizofrenia, sementara bila kedua orang tuanya skizofrenia
maka peluangnya menjadi 35 %.
c. Faktor presipitasi
Faktor faktor pencetus respon neurobiologis meliputi:
1) Berlebihannya proses informasi pada system syaraf yang menerima dan
memproses informasi di thalamus dan frontal otak.
2) Mekanisme penghataran listrik di syaraf terganggu (mekanisme penerimaan
abnormal).
3) Adanya hubungan yang bermusuhan, tekanan, isolasi, perasaan tidak berguna,
putus asa dan tidak berdaya.
Menurut Stuart (2007), pemicu gejala respon neurobiologis maladaptif adalah
kesehatan, lingkungan dan perilaku.
1) Kesehatan
Nutrisi dan tidur kurang, ketidakseimbangan irama sikardian, kelelahan dan
infeksi, obat-obatan sistem syaraf pusat, kurangnya latihan dan hambatan
untuk menjangkau pelayanan kesehatan.
2) Lingkungan
Lingkungan sekitar yang memusuhi, masalah dalam rumah tangga,
kehilangan kebebasab hidup dalam melaksanakan pola aktivitas sehari-hari,
sukar dala, berhubungan dengan orang lain, isolasi sosial, kurangnya
dukungan sosialm tekanan kerja, dan ketidakmampuan mendapat pekerjaan.
3) Sikap
Merasa tidak mampu, putus asam merasa gagal, merasa punya kekuatan
berlebihan,

merasa

malang,

rendahnya

kemampuan

sosialisasi,

ketidakadekuatan pengobatan dan penanganan gejala.


4) Perilaku

22

Respon perilaku klien terhadap halusinasi dapat berupa curiga, ketakutan,


rasa tidak aman, gelisah, bingung, perilaku merusak, kurang perhatian, tidak
mampu mengambil keputusan, bicara sendiri. Perilaku klien yang mengalami
halusinasi sangat tergantung pada jenis halusinasinya. Apabila perawat
mengidentifikasi adannya tanda-tanda dan perilaku halusinasi maka
pengkajian selanjutnya harus dilakukan tidak hanya sekedar mengetahui jenis
halusinasinya saja. Validasi informasi tentang halusinasi yang iperlukan
meliputi :
a) Jenis dan Isi halusinasi
Data objektif dapat anda kaji dengan cara mengobservasi perilaku pasien,
sedangkan data subjktif dapat anda kaji dengan melakukan wawancara
dengan pasien. Menanyakan suara siapa yang didengar, apa yang
dikatakan.
b) Waktu, frekuensi dan situasi yang menyebabkan halusinasi.
Kapan halusinasi terjadi? Pukul berapa? Frekuensi terjadinya apakah terus
menerus atau hanya sekali-kali? Situasi terjadinya apakah ketika sendiri
atau setelah terjadi kejadian tertentu? Perawat perlu mengidentifikasi
situasi yang dialami sebelum halusinasi muncul. Perawat bisa
mengobservasi apa yang dialami klien menjelang munculnya halusinasi
untuk memvalidasi pertanyaan klien.
c) Respon klien terhadap halusinasi
Sejauh mana halusinasi telah mempengaruhi klien. Bisa dikaji dengan apa
yang dilakukan oleh klien saat mengalami pengalamana halusinasi.
Apakah klien bisa mengontrol stimulus halusinasinya atau sebaliknya.
d. Pemeriksaan fisik
Yang dikaji adalah tanda-tanda vital (suhu, nadi, pernafasan dan tekanan darah),
berat badan, tinggi badan serta keluhan fisik yang dirasakan klien.
1) Status mental
a) Penampilan : tidak rapi, tidak serasi
b) Pembicaraan : terorganisir/berbelit-belit
c) Aktivitas motorik : meningkat/menurun
d) Afek : sesuai/maladaprif
e) Persepsi : ketidakmampuan menginterpretasikan stimulus yang ada sesuai
dengan nformasi
f) Proses pikir : proses informasi yang diterima tidak berfungsi dengan baik
dan dapat mempengaruhi proses pikir
g) Isi pikir : berisikan keyakinan berdasarkan penilaian realistis
h) Tingkat kesadaran
i) Kemampuan konsentrasi dan berhitung
2) Mekanisme koping
23

a) Regresi : malas beraktifitas sehari-hari


b) Proyeksi : perubahan suatu persepsi dengan berusaha untuk mengalihkan
tanggungjawab kepada oranglain.
c) Menarik diri : mempeecayai oranglain dan asyik dengan stimulus internal
3) Masalah psikososial dan lingkungan: masalah berkenaan dengan ekonomi,
pekerjaan, pendidikan dan perumahan atau pemukiman.
2. Masalah Keperawatan yang Mungkin Muncul
Ada beberapa diagnosa keperawatan yang sering ditemukan pada klien dengan
halusinasi menurut Keliat (2006) yaitu:
a. Resiko Perilaku kekerasan berhubungan dengan halusinasi pendengaran.
b. Gangguan persepsi sensori: halusinasi berhubungan dengan menarik diri.
c. Isolasi sosial: menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah.
d. Defisit perawatan diri berhubungan dengan isolasi sosial.
3. Rencana Tindakan

DIAGNOSA
KEPERAWA
TAN
Resiko
perilaku
kekerasan

TUJUAN

INTERVENSI

TUM: Selama
perawatan Tindakan Psikoterapi
diruangan,
pasien
tidaka. Pasien BHSP
memperlihatkan
perilaku Ajarakan SP I:
kekerasan,
dengan
criteria Diskusikan penyebab, tanda dan
hasil (TUK):
gejala, bentuk dan akibat PK
Dapat membina hubungan saling
yang dilakukan pasien serta
percaya
akibat PK
Dapat mengidentifikasi penyebab, Latih pasien mencegah PK
tanda dan gejala, bentuk dan
dengan cara: fisik (tarik nafas
akibat PK yang sering dilakukan
dalam & memeukul bantal)
Dapat mendemonstrasikan cara Masukkan dalam jadwal harian
mengontrol PK dengan cara :
Ajarkan SP II:
Fisik
Diskusikan jadwal harian
Social dan verbal
Latih pasien mengntrol PK
Spiritual
dengan cara sosial
Minum obat teratur
Latih pasien cara menolak dan
Dapat
menyebutkan
dan
meminta yang asertif
dalam
jadwal
mendemonstrasikan
cara Masukkan
mencegah PK yang sesuai
kegiatan harian
Dapat memelih cara mengontrol PK Ajarkan SP III:
Diskusikan jadwal harian
yang efektif dan sesuai
Dapat melakukan cara yang sudah Latih cara spiritual untuk
24

dipilih untuk mengontrl PK


Memasukan cara yang sudah dipilih
dalam kegitan harian
Mendapat dukungan dari keluarga
untuk mengontrol PK
Dapat terlibat dalam kegiatan
diruangan

mencegah PK
Masukkan
dalam
jadawal
kegiatan harian
Ajarkan SP IV
Diskusikan jadwal harian
Diskusikan tentang manfaat obat
dan kerugian jika tidak minum
obat secara teratur
Masukkan
dalam
jadwal
kegiatan harian
Bantu pasien mempraktekan
cara yang telah diajarkan
Anjurkan pasien untuk memilih
cara mengontrol PK yang sesuai
Masukkan cara mengontrol PK
yang telah dipilih dalam
kegiatan harian
Validasi pelaksanaan jadwal
kegiatan pasien dirumah sakit
Keluarga :
Diskusikan
masalah
yang
dirasakan
keluarga
dalam
merawat pasien PK
Jelaskan pengertian tanda dan
gejala PK yang dialami pasien
serta proses terjadinya
Jelaskan dan latih cara-cara
merawat pasien PK
Latih keluarga melakukan cara
merawat pasien PK secara
langsung
Discharge planning : jadwal
aktivitas dan minum obat
Tindakan psikofarmako
Berikan obat-obatan sesuai
program pasien
Memantau kefektifan dan efek
samping obat yang diminum
Mengukur vital sign secara
periodic
Tindakan manipulasi lingkungan
Singkirkan semua benda yang
25

Gangguan
persepsi
sensori:
halusinasi

berbahaya dari pasien


Temani pasien selama dalam
kondisi
kegelisahan
dan
ketegangan mulai meningkat
Lakaukan
pemebtasan
mekanik/fisik
dengan
melakukan pengikatan/restrain
atau masukkan ruang isolasi bila
perlu
Libatkan pasien dalam TAK
konservasi energi, stimulasi
persepsi dan realita

Setelah
dilakukan
tindakanTINDAKAN PSIKOTERAPEUTIK
keperawatan selama 3 x 24 jam Klien
klien mampu mengontrol halusinasi Bina hubungan saling percaya
dengan kriteria hasil:
Adakan kontak sering dan singkat
Klien dapat membina hubungan
secara bertahap
Observasi tingkah laku klien
saling percaya
Klien
dapat
mengenal
terkait halusinasinya
halusinasinya; jenis, isi, waktu, Tanyakan keluhan yang dirasakan
dan frekuensi halusinasi, respon
klien
klien
tidak
sedang
terhadap
halusinasi,
dan Jika
tindakan yg sudah dilakukan
berhalusinasi klarifikasi tentang
Klien dapat menyebutkan dan
adanya pengalaman halusinasi,
mempraktekan cara mengntrol
diskusikan dengan klien tentang
halusinasi
yaitu
dengan
halusinasinya meliputi :
menghardik,
bercakap-cakap SP I
dengan orang lain, terlibat/ Identifikasi jenis halusinasi
melakukan kegiatan, dan minum
Klien

Identifikasi isi halusinasi Klie


obat
Klien dapat dukungan keluarga Identifikasi waktu halusinasi
dalam mengontrol halusinasinya
Klien
Klien dapat minum obat dengan Identifikasi frekuensi halusinasi
bantuan minimal
Klien
Mengungkapkan
halusinasi Identifikasi
situasi
yang
sudah hilang atau terkontrol
menimbulkan halusinasi
Identifikasi
respons
Klien
terhadap halusinasi
Ajarkan Klien menghardik
halusinasi
Anjurkan Klien memasukkan
26

cara menghardik halusinasi


dalam jadwal kegiatan harian
SP II
Evaluasi jadwal kegiatan harian
Klien
Latih
Klien
mengendalikan
halusinasi dengan cara bercakapcakap dengan orang lain
Anjurkan Klien memasukkan
dalam jadwal kegiatan harian
SP III
Evaluasi jadwal kegiatan harian
Klien
Latih Klien mengendalikan
halusinasi dengan melakukan
kegiatan (kegiatan yang biasa
dilakukan Klien di rumah)
Anjurkan Klien memasukkan
dalam jadwal kegiatan harian
SP IV
Evaluasi jadwal kegiatan harian
Klien
Berikan pendidikan kesehatan
tentang penggunaan obat secara
teratur
Anjurkan Klien memasukkan
dalam jadwal kegiatan harian
Beri
pujian
jika
klien
menggunakan obat dengan benar.
Menganjurkan
Klien
mendemonstrasikan cara control
yang sudah diajarkan
Menganjurkan Klien memilih
salah satu cara control halusinasi
yang sesuai
Keluarga
Diskusikan
masalah
yang
dirasakn
keluarga
dalam
merawat Klien
Jelaskan pengertian tanda dan
gejala, dan jenis halusinasi yang
dialami Klien serta proses
27

terjadinya
Jelaskan dan latih cara-cara
merawat Klien halusinasi
Latih keluarga melakukan cara
merawat Klien halusinasi secara
langsung
Discharge planning : jadwal
aktivitas dan minum obat

TINDAKAN PSIKOFARMAKO
Berikan obat-obatan sesuai
program Klien
Memantau kefektifan dan efek
samping obat yang diminum
Mengukur vital sign secara
periodic
TINDAKAN
MANIPULASI
LINGKUNGAN
Libatkan Klien dalam kegiatan
di ruangan
Libatkan Klien dalam TAK
halusinasi
Isolasi Sosial

Setelah
dilakukan
tindakanTINDAKAN PSIKOTERAPEUTIK
keperawatan
selama 3 x 24 Klien
jam Klien
dapat
berinteraksi SP 1
dengan orang lain baik secara Bina hubungan saling percaya
individu
maupun
secara Identifikasi penyebab isolasi
berkelompok dengan kriteria hasil :
sosial
Klien dapat membina hubungan SP 2
Diskusikan
bersama
Klien
saling percaya.
Dapat menyebutkan penyebab
keuntungan berinteraksi dengan
isolasi sosial.
orang lain dan kerugian tidak
Dapat menyebutkan keuntungan
berinteraksi dengan orang lain
Ajarkan kepada Klien cara
berhubungan dengan orang lain.
Dapat menyebutkan kerugian
berkenalan dengan satu orang
tidak
berhubungan
dengan Anjurkan kepada Klien untuk
orang lain.
memasukan kegiatan berkenalan
Dapat berkenalan dan bercakapdengan
orang
lain
cakap dengan orang lain secara
dalam jadwal kegiatan
harian
bertahap
dirumah
28

Terlibat dalam aktivitas seharihari

SP 3
Evaluasi
pelaksanaan
dari
jadwal kegiatan harian Klien
Beri kesempatan pada Klien
mempraktekan cara berkenalan
dengan dua orang
Ajarkan Klien berbincangbincang dengan dua orang
tetang topik tertentu
Anjurkan kepada Klien untuk
memasukan
kegiatan
berbincang-bincang
dengan
orang
lain
dalam jadwal kegiatan
harian
dirumah
SP 4
Evaluasi
pelaksanaan
dari
jadwal kegiatan harian Klien
Jelaskan tentang obat yang
diberikan (Jenis, dosis, waktu,
manfaat dan efek samping obat)
Anjurkan Klien memasukan
kegiatan
bersosialisasi dalam jadwal kegi
atan harian dirumah
Anjurkan
Klien
untuk bersosialisasi
dengan
orang lain
Keluraga
Diskusikan
masalah
yang
dirasakan kelura dalam merawat
Klien
Jelaskan pengertian, tanda dan
gejala isolasi sosial yang
dialami Klien dan proses
terjadinya
Jelaskan dan latih keluarga caracara merawat Klien
TINDAKAN PSIKOFARMAKA
Beri
obat-obatan
sesuai
program
29

Pantau keefektifan dan efek


sampig obat yang diminum
Ukur vital sign secara periodik

TINDAKAN
MANIPULASI
LINGKUNGAN
Libatkan dalam makan bersama
Perlihatkan sikap menerima
dengan cara melakukan kontak
singkat tapi sering
Berikan reinforcement positif
setiap Klien berhasil melakukan
suatu tindakan
Orientasikan Klien pada waktu,
tempat, dan orang sesuai
kebutuhannya
Defisit
perawatan diri

Setelah
dilakukan
tindakan TINDAKAN
keperawatan selama 3 x hari, klien PSIKOTERAPEUTIK
dapat
mandiri
melakukan Pasien
Menjelaskan
pentingnya
perawatan diri dengan kriteria:
Dapat menjelaskan pentingnya
kebersihan dan kerapian diri
Mendiskusikan ciri-ciri badan
kebersihan dan kerapian
Menyebutkan ciri-ciri badan
bersih dan rapi
Menjelaskan
manfaat
bsdsn
yang bersih dan rapi
Dapat menyebutkan manfaat
bersih dan rapi dan kerugian jika
badan bersih dan rapi
jika badan tidak bersih dan tidak
Dapat menyebutkan kerugian
rapi
cara
menjaga
badan badan yang tidak bersih Mengajarkan
dan tidak rapi
kebersihan dan kerapian diri
Dapat
mempraktikan
cara Memberikan kesempatan pada
melakukan cara perawatan diri
pasien untuk mendemonstrasikan
dengan benar
cara menjaga kebersihan dan
Badan bersih dan rapi
kerapian diri
Badan tidak bau
Menganjurkan pasien memasukan
Dapat
melakukan
aktifitas
cara menjaga kebersihan dan
perawatan diri secara mandiri
kerapian kedalam jadwal kegiatan
harian
Keluarga
Mendiskusikan kesulitan yang
dirasakan
keluarga
dalam
merawat pasien dengan masalah
30

deficit perawatan diri


Menjelaskan ciri-ciri pasien yang
mengalami
masalah
deficit
perawatan diri dan jenis deficit
perawatan diri yang sering
dialami oleh pasien dan proses
terjadinya
Menjelaskan cara cara merawat
pasien deficit perawatan diri
Melatih keluarga mempraktekan
cara merawat pasien dengan
deficit perawatan diri
Membantu keluarga membuat
jadwal aktifitas perawatan diri
bagi pasien dirumah termasuk
minum obat (discharge planning)
TINDAKAN PSIKOFARMAKO
Memberikan obat-obatan sesuai
program pengobatan pasien
Memantau keefektifan dan
efeksamping obat yang diminum
Mengukur vital sign secara
periodic (tekanan darah, nadi
dan pernafasan)
TINDAKAN
MANIPULASI
LINGKUNGAN
Mendukung
pasien
untuk
melakukan perawatan diri sesuai
kemampuan
dengan
menyediakan alat-alat untuk
perawatan diri
Memberikan pengakuan atau
penghargaan yang positif untuk
kemampuannya
melakukan
perawatan diri
Jadwalkan pasien melakukan
defekasi dan berkemih, jika
pasien mengotori dirinya
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

31

1. Halusinasi adalah persepsi klien melalui panca indera terhadap lingkungan tanpa ada
stimulus atau rangsangan yang nyata.
2. Macam macam halusinasi antara lain : Pendengaran, Penglihatan, Penghidu,
Pengecapan, Perabaan, Cenesthetic, Kinisthetic
B. Saran
Gangguan jiwa salah satunya halusinasi, perlu dan harus mendapat perhatian khusus
dari masyarakat maupun dari tenaga kesehatan. Saran untuk mahasiswa yaitu melakukan
pengkajian sesuai dengan teori dan dapat mendokumentasikan data secara lengkap, serta
dalam melakukan pengkajian, perawat hendaknya menggunakan teknik komunikasi
terapeutik, sehingga dapat terbina hubungan saling percaya antara klien atau keluarga
dengan perawat.

DAFTAR PUSTAKA
Kusumawati dan Hartono . 2010 . Buku Ajar Keperawatan Jiwa . Jakarta : Salemba Medika
Stuart dan Sundeen . 2005 . Buku Keperawatan Jiwa . Jakarta : EGC .
32

Keliat Budi Ana. 1999. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa edisi I. Jakarta : EGC
Nita Fitria. 2009. Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan dan Strategi
Pelaksanaan Tindakan Keperawatan untuk 7 Diagnosis Keperawatan Jiwa Berat.
Jakarta: Salemba Medika.
Rasmun,

(2001). Keperawatan

Kesehatan

Mental

Psikiatri

Terintegrasi

Dengan

Keluarga. Konsep, Teori, Asuhan Keperawatan dan Analisa Proses Interaksi (API).
Jakarta : fajar Interpratama.
Akemat. 2013. Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas. Jakarta: EGC

33

Anda mungkin juga menyukai