Anda di halaman 1dari 15

Kata Pengantar

Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang


Maha Kuasa. Atas segala rahmat, petunjuk, dan karunia-Nya, akhirnya
tugas yang berupa makalah ini dapat penulis hadirkan.
Adapun tujuan penulis dalam penulisan ini adalah laporan
mengenai Sejarang Gunung Api Batur. Makalah ini penulis susun
berdasarkan tugas yang diberikan oleh guru mata pelajaran Geografi
penulis. Selain itu, makalah ini juga penulis susun sebagai bukti fisik
proses pembelajaran khususnya mata pelajaran Geografi.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis juga dibantu ole
berbagai pihak dan dorongan dari orang-orang terdekat penulis seperti
guru pembina, teman-teman, serta orang tua. Untuk itu, penulis
menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya sehingga tugas ini
dapat penulis selesaikan tepat waktu.
Penulis menyadari, bahwa dalam penulisan makalah ini jauh
dari kesempurnaan, sesuai dengan peribahasa Tiada Gading Yang
Tak Retak. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun
dengan cara yang benar dari pembaca sangat penulis harapkan.
Bangli, April 2011

Tim Penulis

Daftar Isi
Kata Pengantar..............................................................................................1
Daftar Isi.........................................................................................................2
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................3
A. Latar Belakang Masalah............................................................................
B. Perumusan Masalah..................................................................................
C. Tujuan........................................................................................................
D. Metode Penulisan......................................................................................
BAB II PEMBAHASAN...................................................................................5
BAB III PENUTUP..........................................................................................14
A.Kesimpulan.................................................................................................
B. Saran.........................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................15

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Gunung Api Batur yang terdapat di Kabupaten Bangli Provinsi Bali merupakan
salah satu gunung api aktif di Bali khususnya dan di Indonesia pada umumnya.
Gunung Api Batur begitu terkenal di Indonesia bahkan di Dunia karena terletak di
dataran tinggi dan sekaligus tempat tersebut merupakan daerah wisata bagi para
wisatawan, baik wisatawan lokal maupun mancanegara. Latar belakang terjadinya
gunung api batur jika dilihat dari sejarahnya, dari proses terbentuknya hingga
keadaan dan bentuknya sampai sekarang tentunya memerlukan waktu yang
begitu panjang dan telah mengalami berbagai banyak peristiwa.

B. Perumusan Masalah
Dengan melihat latar belakang yang telah dikemukakan maka beberapa
masalah yang dapat penulis rumuskan dan akan dibahas dalam makalah ini
adalah:
1.
2.
3.
4.
5.

Bagaimana proses terbentuknya Gunung Api Batur?


Berapa kali Gunung Api Batur tersebut meletus?
Apa saja material yang dikeluarkan Gunung Api Batur saat meletus?
Di mana saja daerah rawan bencana Gunung Api Batur?
Apa saja manfaat adanya dan letusan Gunung Api Batur bagi masyarakat
sekitar maupun dari daerah lain?

C. Tujuan
Penulisanmakalahinidilakukanuntukmemenuhitujuantujuanyangdiharapkandapatbermanfaatbagikitasemuadalammenambahilmupenget
ahuandanwawasan.
Secaraterperincitujuandaripenelitiandanpenulisanmakalahiniadalah:
1. Mengetahui bagaimana proses terjadinya Gunung Api Batur
2. Mengetahui berapa kali Gunung Api Batur tersebut meletus
3. Mengetahui apa saja material yang dikeluarkan Gunung Api Batur saat
meletus
4. Mengetahui di mana saja daerah rawan bencana Gunung Api Batur
5. Mengetahui apa saja manfaat adanya dan letusan Gunung Api Batur bagi
masyarakat sekitar maupun dari daerah lain

D. Metode Penulisan
Untuk mendapatkan data dan informasi yang diperlukan penulis
mempergunakan metode observasi dan kepustakaan. Adapun teknik-teknik yang
dipergunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Observasi Lapangan
3

Observasi lapangan ini dilakukan dengan cara langsung ke tempat di mana


digunakan sebagai bahan makalah ini, yaitu di Gunung Api Batur tersebut.
Bertujuan untuk memperjelas dan mencari data secara langsung ke tempat objek
tersebut. Selain itu penulis mencari data di tempat Museum Gunung Api Batur
(Batur Volcano Museum). Yang bertujuan menambah data dan memperdalam
informasi untuk penulisan. Kegiatan ini kami lakukan pada saat acara kegiatan
Outdoor yang diselenggarakan oleh sekolah kami dalam rangka menambah
materi pelajaran geografi. Kami sebagai penulis lebih banyak meluangkan waktu
untuk mendapatkan informasi di Museum Gunung Api Batur. Di sana terdapat
berbagai macam media-media informasi mengenai Gunung Api Batur, alur
kunjungan kami di sana adalah sebagai berikut:
Lantai I :
Lukisan Benawang Nala di Areal Loby
Panel Pembentukan Gunung Api/ Volcano Formatian
Panel Fenomena Gunung Api/ Volcanic Phenomena
Panel Tipe Erupsi Gunung Api/ Type of Eruption
Panel Bentuk Gunung Api/ Volcanic Stucture
Slide Show Gunung Batur dan Gunung Agung
Peta Sebaran Gunung Api dan Jalur Gempa di Indonesia di Dunia
Komputer Animasi Letusan
Panel Photo Grafis Gunung Api yang ada di Indonesia
Diorama Gunung Api Batur
Panel Photo Grafis Panorama Gunung dan Danau Batur
Panel Photo Gunung Api Batur Tempoe Doeloe dan Photo Dampak Letusan
Gunung Agung
Panel Evolusi Kaldera Batur, Komputer Game Evolusi Kaldera Batur
Panel sejarah Letusan Gunung Api Batur
Peta Geologi Kaldera Batur, Peta Kawasan Rawan Bencana dan Maket
Geologi Kaldera Batur

Lantai II :
Ruang Audio Visual/Bioskop
Ruang Rapat/converence Room
Lantai III dan IV :
Lantai 3 merupakan tempat yang digunakan petugas volkanologi untuk
memantau aktivitas gunung Batur.
Lantai 4 merupakan tempat untuk menikmati pemandangan gunung dan
Danau Batur. Karena tempatnya yang tinggi pengunjung bisa menikmati
pemandangan dari dalam ruangan dengan menggunakan teropong.
2. StudiPustaka
Pada metode ini, penulis membaca buku-buku dan literature yang
berhubungan dengan penulisan makalah ini. Salah satunya buku yang didapat di
Museum Gunung Batur.
3. Internet

Pada metode ini penulis juga mencari materi yang berhubungan dengan
penulisan ini di internet.

BAB II
PEMBAHASAN
1. Proses terjadinya Gunung Api Batur
Gunung Batur merupakan gunungapi berkaldera dengan membentuk danau di
bagian dalamnya. Kaldera Batur terbentuk dari dua periode, yaitu Kaldera Batur I
dan Kaldera Batur II.
Pertumbuhan kerucut gunungapi purba dengan ketinggian 300 m di atas muka
laut. Sekitar 29300 tahun yang lalu terjadi letusan awan panas yang mengandung
batuapung berkomposisi dasit, setelah letusan tersebut terjadilah amblasan pada
bagian atas kerucut yang membentuk Kaldera Batur I, dengan Gunung Ambang
(+2152 m) merupakan sisa tubuh kerucut purba.
Letusan besar kedua terjadi sekitar 20150 tahun yang lalu dengan komposisi
yang sama dengan yang pertama, letusan ini diikuti dengan pembentukan
beberapa kerucut dan kubah seperti Gunung Payang dan Gunung Bunbulan.
Amblasan kedua terjadi dan membentuk Kaldera Batur II dengan kerucut Gunung
Payang dan Gunung Bunbulan ikut amblas hampir separuhnya. Amblasan kedua
kalinya Kaldera I membentuk undak Kintamani di sebelah barat dan baratlaut di
dalam kaldera.
Kegiatan purna kaldera ditandai dengan pertumbuhan kerucut Gunung Batur
hingga kini terbentuk. Kegiatan ini diawali sekitar 5000 tahun yang lalu oleh
pembentukan kerucut Gunung Batur berkomposisi basal sampai andesit basalan.
Kawah puncaknya berpindah-pindah berarah timurlaut baratdaya antara
Gunung Payang dan Gunung Bunbulan.
Menurut I.S. Sutawidjaja, 1990; kronologi pembentukan kaldera tersebut
adalah sebagai berikut :
Bentuk danStruktur
Menurut Kemmerling (1918) dan Stehn (1928), Kaldera Batur merupakan
ketel raksasa berukuran 13,8 x 10 km. Kaldera ini tertutup dari segala arah,
merupakan salah satu kaldera terbesar dan terindah di dunia (van Bemmelen,
1949). Pematang kaldera tingginya berkisar antara 1267 m 2152 m (Puncak G.
Abang). Di dalam Kaldera I terbentuk Kaldera II yang berbentuk melingkar dengan
5

garis tengah lk. 7 km. Dasar Kaldera II terletak antara 120 - 300 m lebih rendah
dari Undak Kintamani (dasar Kaldera I). Di dalam kaldera tersebut terdapat danau
yang berbentuk bulan sabit yang menempati bagian tenggara yang panjangnya lk.
7,5 km, lebar maksimum 2,5 km, kelilingnya lk. 22 km, luasnya lk. 16 km 2. Tinggi
permukaan air 1031 m di atas muka laut. Danau tersebut terjadi karena suatu
penurunan dasar (Slenk, graben). Menurut van Bemmelen (1949) diperkirakan
terbentuk bersamaan dengan pembentukan Kaldera II; menurut Stehn (1926)
terbentuknya kemudian.
Kondisi Kawah
Kegiatan purna kaldera ditandai dengan pertumbuhan kerucut G. Batur.
Kegiatan ini sekitar diawali 5000 tahun yang lalu oleh pembentukan kerucut G.
Batur berkomposisi basal sampai andesit basalan. Kawah puncaknya berpindah
berarah timurlaut - baratdaya antara G. Payang dan G. Bunbulan. Sejak tahun
1800 G. Batur telah meletus sekurang-kurangnya 28 kali, umumnya bersifat efusif
(leleran lava) dan strobolian. leelran lava terbanyak terjadi pada bulan September
1963 menutupi daerah seluas lk. 5.967.550 m 2. Lokasi kawah-kawah G. Batur dan
penyebaran endapan leleran lava serta tahun kejadiannya dapat dilihat pada
(Gambar 7 dan 8). Letusan terakhir terjadi 7 Juli 2000, sebanyak 3 kejadian, pusat
letusan dari Kawah 1999. Letusan disertai lontaran piroklastik, seperti pasir, lapili
dan bongkah mengendap dengan radius lk. 100 m dari bibir kawah. Asap letusan
mencapai tinggi lk. 300 m di atas bibir kawah. Aktifitas vulkanik G. Batur purna
letusan Juli 2000, berupa kegiatan solfatara di dalam kawah-kawahnya.
Sebaran Batuan Hasil Letusan G.Batur
Penyebaran batuan yang dihasilkan dari G. Batur dapat dibagi menjadi 5
periode yaitu :
Periode II Zaman Kuarter (Pra Kaldera)
Batuan yang tersingkap dari yang tertua sampai termuda adalah sebagai
berikut : Endapan Aliran Piroklastik Tianyar yang tersebar di bagian timur, Kerucut
Sinder Paleg yang tersebar di lereng timurlaut kaldera, Lava Gunung Abang yang
tersusun dari porfiritik basal tersebara di bagian tenggara cukup luas dan endapan
yang termuda adalah Lahar Tukad Daya yang terpadatkan.

Periode III Zaman Pembentukan Kaldera I ( 29300 tahun yang lalu)


6

Batuan tertua yang tersingkap selama pembentukan Kaldera I adalah


Ignimbrit Ubud yang tersebar sangat luas di sebelah selatan di luar Kaldera.
Batuan lainnya adalah Endpan Aliran Piroklastik Gretek tersebar di bagian luar
kaldera sebelah timurlaut dekat pantai. Batuan yang tersingkap paling muda
adalah Lava Tanjungbatu, tersebar di bagian utara hingga baratlaut, serta pada
dinding Kaldera I
Periode IV Zaman Pembentukan Kaldera II (20150 tahun yang lalu)
Batuan yang tersingkap pada Zaman ini yang tertua adalah Ignimbrit
Gunungkawi (Gki) dan Ignimbrit Batur (Bri) yang memiliki umur sama, Gki
tersingkap di luar kaldera di bagian selatan tersebar sangat luas, hasil analisa 14c
batuan ini memiliki umur 19600 + 690 (wk-1450), sedangkan Bri tersebar pada
dinding Kaldera II bagian dalam. Batuan lebih mudanya lagi tersingkap adalah
Ignimbrit Payang terdapat di dalam Kaldera I tersebar di sekitar G. Payang.
Batuan yang tersingkap adalah Lava Payang tersingkap di sekitar G. Payang dan
menyebar ke arah selatan.
Periode V Zaman Purna Kaldera (5500 tahun yang lalu)
Batuan yang tersingkap pada Zaman ini adalah batuan hasil letusan di
dalam Kaldera I mungkin hasil dari pembentukan Kaldera III. Batuan yang
tersingkap dari tua kemuda adalah: Lava Bunbulan yang tersingkap di sekitar G.
Bunbulan sebelah timurlaut G. Batur, Endapan Surge Blingkang yang tersingkap
di antara dinding Kaldera I dan II sebelah timurlaut G. Batur, Ignimbrit Blingkang
bersifat andesitik tersebar menutupi endapan Surge Blingkang, Endapan
Freatomagmatik Blingkang bersifat dasit dan andesitik tersebar luas di antara
Kaldera

dan

II

sebelah

utara

hingga

baratlaut

G.

Batur. Endapan

Freatomagmatik Payang bersifat dasitik tersebar di dalam Kaldera I bagian barat


hingga tenggara G. Batur. Endapan Jatuhan Piroklastik Panelokan tersebar luas
keluar Kaldera I bagian baratlaut hingga baratdaya berkomposisi dasit. Endapan
Jatuhan Penulisan tersebar menutupi sekeliling permukaan Kaldera I bagian luar.
Maar Sampeanwani merupakan kelompok beberapa kawah di dalam kaldera
dalam bentuk maar, umumnya hancur oleh leleran lava G. Batur. Yang terakhir
adalah Kerucut Sinder Gunung Anti membentuk kelompok sinder di dalam Kaldera
II.
Batuan yang tercatat dalam sejarah yang merupakan hasil letusan dari kerucut
G. Batur adalah leleran lava, hasil letusan pada 1849, 1888, 1904, 1905, 1921,
1926, 1963, 1968, 1974, yang sebaran endapanya terbatas di dalam Kaldera II,
seperti trelihat pada peta geologi dalam Kaldera Batur (Gambar 7). Setelah
7

letusan 1974 yang menghasilkan leleran lava, belum pernah terjadi lagi letusan
yang disertai leleran lava. Letusan-letusan terakhir terjadi dalam tahun 1994,
1995, 1997, 1998, 1999 dan 2000, hasil letusannya berupa jatuhan piroklastik dan
bom vulkanik yang menyebar dan mengendap hanya di skitar lubang letusan.

2. Sejarah Letusan Gunung Batur


Kegiatan letusan Gunung Api Batur yang tercatat dalam sejarah dimulai tahun
1804 dan terakhir tahun 2000, secara singkat kegiatan letusannya seperti tabel
berikut.
Tabel 3. Tahun letusan G. Batur yang tercatat dalam sejarah kegiatannya.
Tahun

Keterangan

1804

Terjadi letusan dari kawah utamanya.

1821

Terjadi letusan dari kawah utamanya.

1849

Letusan dengan aliran lava ke jurusan selatan sampai danau.

1888

Terjadi letusan celah pada lereng tenggara, lava mengalir ke jurusan


tenggara sampai danau.

1897

Terjadi letusan dari kawah utamanya

1904

Letusan parasit di sebelah barat, yaitu sekitar Gunung Anti dan Gunung
Pandang, lavanya tersebar di sekitarnya.

1905

Letusan dari Kawah Batur I, Batur II dan Batur III. Lavanya mengalir ke
jurusan selatan, baratdaya dan selatan.

1921

Letusan dimulai 29 januari dan berakhir 17 April, aliran lavanya ke arah


baratdaya dan selatan.

1922

30 Agustus terjadi letusan dari kawah utamanya.

1923

Peningkatan kegiatan selama 2 hari.

1924

Letusan abu terjadi pada bulan Maret.

1925

Awal Januari terjadi letusan abu, diikuti leleran lava pijar selama 1 hari.

1926

Letusan dimulai 2 Agustus dan berakhir 21 September.

1963

Letusan dimulai 5 September dan berakhir 10 Mei 1964, letusan disertai


leleran lava.

1965

Pada 18 Agustus terjadi letusan abu.

1966

Pada 28 April terjadi letusan abu.

1968

Letusan dimulai 23 Januari dan berakhir 15 Februari, leleran lava ke


arah selatan.
8

1970

Akhir januari terjadi letusan abu sangat tipis sampai di Kintamani.

1971

Mulai 11 Maret tejadi letusan abu, letusan berlangsung sampai Mei.

1974

Letusan terjadi pada 12 maret, leleran lava terjadi pada 17 Maret ke


arah barat sekitar Yehmampeh.

1994

Letusandimulai tgl. 7 Agustus 1994, kegiatan letusan 1994 bersifat


eksplosif yang pada awal letusan berupa letusan abu, kemudianl etusanletusan berikutnya disertai lontaran material pijar, mengasilkan kawah
baru (Kawah 1994). Produk letusan lapili dan bom vulkanik hanya
mengendap sekitar kawah dengan radius lebih kurang 300 m dari pusat
letusan, sedangkan abu letusan mengendap ke arah barat sampai di
Kintamani. Tinggi asap letusan berkisar antara 25 - 300 m di atas bibir
kawah.

1995

Letusan 26 Mei 1995, pusat letusan dari Kawah 1994, kegiatannya


berupa letusan-letusan eksplosif disertai lontaran metrial pijar. Sifat
letusannya sama dengan kegiatan letusan 1994.

1997

Letusan terjadi mulai 8 November 1997, pusat letusan dari Kawah Batur
III. Kegiatan letusan berupa pelepasan gas kering yang teramati kebirubiruan yang dikeluarkan dari Kawah Batur III.

1998

Letusan dimulai 2 Juni 1998, menghasilkan kawah baru (Kawah 1998),


yang lokasinya terletak di antara Kawah Batur III dengan Kawah 1994.
Letusa-letusan selama Juni 1998 dicirikan oleh letusan-letusan gas
kering yang teramati kebiru-biruan, yang pada malam hari termati
sebagai semburan /sinar api.

1999

Letusan dimulai 1 Pebruari 1999, menghasilkan kawah baru (Kawah


1999), kegiatan vulkanik dari kawah ini berupa letusan/hembusan asap.
Pada tgl. 15 Maret 1999 pematang yang memisahkan Kawah 1998
dengan Kawah 1999 amblas, sehingga kedua kawah tersebut menjadi
satu.

2000

Pada tgl. 7 Juli 2000, pkl 12:16 Wita, kembali terjadi letusan sebanyak 3
kejadian, pusat letusan dari Kawah 1999. Tinggi asap letusan mencapai
maksimum 300 m di atas bibir kawah, condong ke arah baratlaut. Asap
letusan berwarna abu-abu kehitaman. Letusan disertai lontaran
piroklastik seperti pasir, lapili dan bongkah, mengendap dengan radius
lk. 100 m dari pusat letusan. Kejadian letusan kali ini telah
mengakibatkan korban 1 orang langsung meninggal dan 1 orang lukaluka, korban tersebut adalah wistawan asing yang mendaki tanpa
pemandu wisata. Pada saat letusan 7 Juli 2000, kondisi Gunung Batur
masih dalam status Waspada, dengan saran wisatwan dilarang
mendekati pusat letusan dengan radius 500 m dari pusat kegiatan
(Kawah 1994).

Karakter Letusan
Untuk mengetahui karakter letusan Gunung Batur harus diketahui sifat
erupsi (letusan) dan produk erupsinya. Keterangan letusan-letusan Gunung Batur
oleh para peneliti yang terkumpul di antaranya sebagai berikut :
Junghun 1850, mencatat letusan dan aliran lava tahun 1849 yang mengalir
ke arah selatan sampai Danau Batur. Beberapa letusan seperti pada tahun 1888,
1904 dan 1905. Pada tahun 1926 letusan Gunung Batur mengeluarkan leleran
lava yang menimbun Desa Batur dengan penduduk 2000 orang, semua
penduduknya pada saat itu dapat menyelamatkan diri, karena aliran leleran
lavanya sangat lamban.
Kusumadinata 1964, mencatat letusan Gunung Batur pada 1963,
letusannya dimulai tanggal 5 September 1963 dan berlangsung sampai 10 Mei
1964, mengeluarkan leleran lava dalam tiga kompleks. Kompleks pertama terdiri
dari dari dua leleran, ke arah barat melanda daerah lk. 1.285.250 m 2 dan ke arah
selatan dan baratdaya melanda daerah lk. 4.324.750 m 2.
Kompleks kedua, leleran lava ke arah barat melanda daerah seluas
188.550 m2, dan kompleks ketiga kearah barat melalui kawah Gunung Butus,
menempati daerah seluas 19.000 m2. Umunya leleran lava 1963 - 1964 mengalir
sangat lamban dan tidak menimbulkan letusan eksplosif (Suryo, 1964). Beberapa
letusan skala kecil dilaporkan terjadi pada tahun 1965 dan 1966 terbatas letusan
abu di sekitar kawahnya.
Wikartadipura, 1968, mencatat leleran lava melanda lereng selatan seluas
670.000 m2, tgl. 23 Januari sampai 15 Februari 1968 diikuti letusan dan lontaran
bahan vulkanik pijar. Dalam tahun 1969 dilaporkan bau belerang di permukaan
Danau Batur, warna airnya berubah dari hijau menjadi putih, ikan pada mabuk.
Kejadian ini berlangsung selama dua hari. Peristiwa serupa pernah terjadi pada
1959.
Kegiatan selanjutnya pada awal Januari dan 11 Maret sampai dengan 15
Mei 1971, keduanya berupa letusan abu yang menyebar di dalam kaldera dan
hujan abu tipis di Kintamani. Letusan Maret 1974 berupa letusan yang
mengeluarkan leleran lava ke arah barat, sekitar Yehmampeh.
Letusan periode 1994 - 2000
Letusan periode tahun 1994 - 1995 didominasi oleh letusan strobolian,
kemudian periode 1997 - 1999 letusan-letusannya dominan bersifat letusan
10

gas/asap, sedangkan letusan 7 juli 2000 berupa letusan strombolian. Dari 28


kejadian letusan yang diketahui secara rinci dari hasil para peneliti terdahulu,
maka karakter letusan Gunung Batur dapat dibedakan berupa lontaran
piroklastik/strombolian dan leleran lava, leleran lava, letusan abu dan semburan
gas, dengan persentase kecenderungan dominan sebagai berikut :
Periode Letusan
Periode letusan Gunung Batur umumya berlangsung lama (bulanan)
dengan intesitas relatif kecil/lemah. Sedangkan tenggang waktu antar kejadian
letusan dalam sutu periode berlangsung beberapa menit/detik hingga beberapa
jam. Waktu istirahat antar pereode letusan 1 s/d 39 tahun.
3. Material Hasil Letusan
Gunung Batur Purba diperkirakan mempunyai ketinggian 2500 - 300 m di atas muka
laut.lava basalt yang dihasilkan oleh Batur Purba tersingkap pada barroncos yang cukup
dalam di lereng utara. Satu sukuen aliran lava tersingkap secara setempat di dasar
dinding kaldera. Lava tersebut mengandung plagioklas dan olivin, dan sedikit
klinopiroksen serta Ti-magnetit sebagai fenokris, dan umumnya mempunyai masa dasar
gelas.
Dinding Kaldera Batur terutama terdiri dari piroksendasitik, termasuk beberapa type
piroklastik yang terlaskan (ignimbrite) dan tidakterlaskan. Endapan-endapan piroklastik
berupa material dasitik berwarna hitam dan bersifat gelasan. Mineral-mineral terdiri dari
plagioklas, klinopiroksen, orthopiroksen, olivin, Ti-magnetit dan apatit. Mikroxenolithan
desitik berbentuk angular banyak ditemukan pada beberapa batuan.
Produk-produk terbaru Gunung Batur banyak berupa aliran-aliran lava basalt dan
mengisi dasar kaldera. Volumenya kecil, bersifat vesikuler, mengandung olivin,
klinopiroksen, plagioklasdan Ti-magnetit sebagai fenokris. Sembilan buah aliran lava telah
dihasilkan sejak 1849 di bagian barat dasar kaldera. Beberapa aliran lava yang lebih tua
terdapat dibagian timur. Lava termuda dihasilkan oleh aktifitas 1974. Aliran lava terbesar
dalam sejarah terjadi tahun 1963 ketika Gunung Agung meletus secara lebih eksplosif.

Petrogarfi/Mineralogi
Dalam dasit Gunung Batur kristal-kristal plagioklas memiliki komposisi intermidiet
Ar

( 60-31), tidak memiliki inklusi dan zoning tidak kuat (WhellerdanVarne, 19986). Analisa
terhadap intifenokrisplagioklas dalam bom dasit menunjukkan sebuah distribusi komposisi
bimodal. Pendugaan terhadapCoexistingpiroksen-piroksen dalam dasit (Lindsley, 1983)

11

memberikan petunjuk bahwa temperature magmatik berkisar antara 1070oC sampai


1000oC.
Olivin-olivin dalam dasit Gunung Batur Mempunyai Fe yang tinggi (Fe56-32) yang
mana hal ini tidak biasa terjadi dalam komposisi yang sama, sebagai contoh adalah
batuan vulkanik sub alkaline glass Mountain, dimana olivine mengandung Mg yang tinggi
menunjukkan proses kritalisasi dari magma basalt yang mengalami percampuran dengan
riolit dan membentuk dasit (Eichelberger, 1975 dan WhillerdanVarne, 1986).
Dengan mengaplikasikan Geophygrometer dari Merzbacher dan Eggler (1984)
terduga bahwa dasit Batur memiliki<>oC, P-T-H2O experiment dari Mezbacherdan Eggler
(1984) St. Helens dasit lapili maka diduga dasi tBatur terbentuk pada tekanan yang
sangat rendah, kemungkinan sekitar 0,5 kbar (sekitar kedalaman 1,5 km).
Walaupun demikian dasit Gunung Batur memiliki perbedaan komposisi dengan
dasit St. Helens, dimana dasit Batur mengandung normative quartz sedikit lebih kecil,
juga anortit dan enstatit serta lebih normative alkali feldsfar.

4. Kawasan Rawan Bencana


Pembuatan Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) G. Batur adalah sebagai salah
satu sarana (data acuan) dalam pelaksanaan penanggulangan mitigasi bencana letusan
G. Batur, dalam kondisi pra letusan, kondisi letusan maupun purna letusan. Hal ini sangat
diperlukan karena bannyak pemukiman penduduk yang berda di dalam kawasan Rawan
Bencana Letusan G. Batur, disamping obyek wisata kawasan G. Batur berkembang
pesat.

G. Batur termasuk gunungapi yang sering meletus, walaupun letusanletusannya tidak begitu besar, tetapi karena kepadatan penduduk serta banyaknya
wisatawan di kawasan tersebut. Maka Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi
bencana Geologi telah melakukan pemantauan G. Batur, disamping menyusun
Peta Kawasan Rawan Bencana. Peta Kawasan Rawan Bencana G. Batur
(Gambar 5) dibagi menjadi tiga satuan yaitu : Kawasan Rawan Bencana III,
Kawasan Rawan Bencana II dan Kawasan Rawan Bencana I.
Kawasan Rawan Bencana III G. Batur adalah kawasan yang sering terlanda
aliran lava, lontaran batu pijar, hujan abu lebat dan kemungkinan gas beracun.
Kawasan ini meliputi daerah puncak G. Batur dan lereng bagian tenggara,
selatan, baratdaya, barat dan baratlaut. Ke arah tenggara Kawasan Rawan
Bencana III ini dibatasi oleh danau Batur, sedangkan ke arah lainnya dibatasi oleh

12

dinding kaldera dalam. Karena tingginya tingkat kerawanan bencana di kawasan


ini maka pemukiman dan usaha jasa pariwisata yang bersifat menetap seperti
mendirikan dan rumah makan tidak diperbolehkan. Pada saat terjadi peningkatan
kegiatan/letusan masyarakat juga tidak boleh melakukan kegiatan apapun di
kawasan ini.
Kawasan Rawan Bencana II G. Batur adalah kawasan yang berpotensi
terlanda hujan abu lebat dan kemungkinan perluasan aliran lava serta lontaran
batu pijar. Daerah ini mencakup kaki sebelah utara, timurlautdan timur G. Batur,
hingga berbatasan dengan didinding kaldera dalam Batur dan danau Batur.
Kawasan rawan bencana hujan abu lebat dan lontaran batu pijar meliputi
wilayah hingga jari-jari lk. 3 km dari puncak G. Batur. Pada peningkatan kegiatan
atau erupsi, pernyataan atau saran apakah penduduk harus mengungsi atau tetap
tinggal di tempat, wisatawan dilarang memasuki kawasan rawan bencana, serta
keadaan telah aman kembali diputuskan oleh pemerintah daerah setempat atas
saran dari Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.
Kawasan ini hanya akan terancam oleh hujan abu dan kemungkinan lontaran
batu pijar, meliputi kawasan kaldera Batur dengan radius lk. 6 km dari puncak G.
Batur. Karena tingkat letusan G. Batur lemah, maka KRB I ini umumnya hanya
terjadi hujan abu tipis. dengan demikian secara relatif wilayah ini cukup layak
untuk pemukiman dan kegiatan usaha. Kewaspadaan sangat diperlukan apabila
mendirikan bangunan di kaki kaldera yang berlereng sangat terjal, karena daerah
tersebut rawan tanah longsordan batu guling. Bila terjadi letusan G. Batur,
pengungsian

dan

kebijaksanaan

lainnya

hanya

dilakukan

atas

perintah

pemerintah daerah setempat berdasarkan saran dari Direktorat Vulkanologi dan


Mitigasi Bencana Geologi.
Upaya mitigasi bencana gunungapi perlu dilakukan dengan cepat, tepat dan
terkoordinir agar tercapai hasil yang maksimal, sehingga prediksi kegiatan
gunungapi secara tepat merupakan unsur utama dalam informasi peringatan dini
bahaya letusan gunungapi, terutama dalam untuk menyelamatkan penduduk yang
bermukim di Kawasan Rawan bencana agar terhindar dari ancaman bahaya
letusan gunungapi.

5. Manfaat Hasil Letusan Gunung Api


Batuan hasil letusan gunung api dapat memberikan manfaat besar bagi
kesejahteraan masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Batur. Endapan lava
hasil letusan kaldera gunung Batur digunakan masyarakat sebagai bahan
13

bangunan dan penyusunan pura. Alam dan masyarakat Batur merupakan satu
kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Saling menjaga dan bahkan saling
membudidayakan dan memelihara lingkungannya. Lahar hasil letusan itu
menjadikan tanah di sekitarnya menjadi subur sehingga tanaman-tanaman
dengan mudah tumbuh dan menjadi penghasilan hidup bagi masyarakat. Selain
itu, danau yang terbentuk dari letusan kaldera II mempunyai potensi yang tinggi,
danau tersebut dimanfaatkan sebagai tempat membudidayakan ikan-ikan.
Terdapat baerbagai macam suber daya yang ada di Gunung Batur.
Sumberdaya gunungapi yang terdapat di kawasan Gunung Batur adalah:
1. Cadangan bahan galian produk erupsi Gunung Batur masa lampau, seperti
pasir dan kerikil (sirtu). Cadangan ini tersebar di dalam kaldera, yang
ditambang oleh masyarakat, secara tradisional, terutama di bagian utara dan
baratlaut dari puncak.
2. Cadangan

endapan

leleran

lava

purna

pembetukan

kaldera

yang

penyebarannya hampir mengelingi kawah-kawah G. Batur dan terbatas di


dalam kaldera.
Pemanfaatan lainnya adalah endapan lava dijadikan sebagai bahan bangunan
sarana jalan, bangunan gedung dan sarana lainnya.
3. Cadangan endapan ignimbrit G. Batur yang terserbar luas di luar kaldera,
ditambang sebagai bahan bangunan, bahan kerajinan seni.
4. Mata air panas yang lokasinya di Toyobangkah di dalam kaldera.

BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Dari awal terjadinya Gunung Batur sampai keadaan sekarang ini tetu saja
banyak hal-hal yang dapat kita petik dari informasi ini. Gunung Batur ini
merupakan ancaman di berbagai sektor kehidupan karena gunung ini merupakan
gunung api yang sewaktu-waktu dapat meletus dan mengakibat kan kerusakan. Di
samping itu, tentu saja banyak manfaat-manfaat dari adanya Gunung Batur ini

14

mulai dari sektor ekonomi, bahkan sektor pariwisata juga bisa berkembang
dengan adanya Gunung Batur. Melalui infomasi ini juga kita diharapkan agar tahu
dan waspada terhadap gunung api agar saat gunung api meletus kita dapat
menyelamatkan diri dari bencana tersebut.

2. Saran
Marilah kita menambah ilmu kita, khususnya mengenai informasi tentang
gunung api. Jika suatu saat nanti terjadi bencana gunung meletus atau bencana
lainnya, kita dapat melakukan tindakan-tindakan untuk menyelamatkan diri
maupun orang lain. Dan juga melalui informasi ini kita bisa tahu manfaat- manfaat
dari bencana gunung api. Semoga makalah ini dapat berguna untuk kita semua
dalam menambah wawasan kita sebagai manusia yang cerdas dan bermoral.

Daftar Pusataka

www.google.com
www.baturmuseum.com
Geografi Tiga Serangkai
LKS geografi Kreatif

15