Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN STROKE

1. DEFINISI
Stroke adalah suatu sindrom klinis yang awal timbulnya mendadak, progr
esif cepat, berupa defisit neurologis fokal dan atau global, yang berlangsung 24
jam atau lebih atau langsung menimbulkan kematian, dan semata-mata disebab
kan oleh gangguan peredaran darah otak non traumatik. Bila gangguan peredar
an darah otak ini berlangsung sementara, beberapa detik hingga beberapa jam (
kebanyakan 10-20 menit) tapi kurang dari 24 jam disebut sebagai serangan iske
mia otak sepintas (TIA : Transient Ischaemia Attack) (Mansjoer, 2000)
Menurut Brunner & Sudarth stroke adalah kehilangan fungsi otak yang
diakibatkan oleh berhentinya suplai darah kebagian otak.
Menurut WHO stroke adalah adanya tanda-tanda klinis yang berkembang
cepat akibat gangguan fungsi otak fokal (global) dengan gejala-gejala yang
berlangsung selama 24 jam atau lebih yang menyebabkan kematian tanpa
adanya penyebab lain yang jelas selain vaskular.
Menurut Arif Mutaqin stroke adalah penyakit (kelainan) fungsi otak yang
timbul mendadak yang disebabkan terjadinya gangguan peredaran darah otak
yang timbul mendadak yang disebabkan terjadinya gangguan peredaran darah
otak dan bisa terjadi pada siapa saja dan kapan saja.
Menurut Marilyn E. Doenges stroke/penyakit serebrovaskuler menunjukan
adanya beberapa kelainan otak baik secara fungsional maupun struktural yang
disebabkan oleh keadaan patologis dari pembuluh darah serebral atau dari
seluruh sistem pembuluh darah otak.

2. ETIOLOGI
Stroke biasanya diakibatkan dari salah satu dari empat kejadian (Brunner dan
Suddarth, 2002. Hal 2130-2144)
1) Trombosis
Trombosis ialah proses pembentukan bekuan darah atau koagulan
dalam sistem vascular (yaitu,pembuluh darah atau jantung) selama
manusia masih hidup, serta bekuan darah didalam pembuluh darah
otak atau leher. Koagulan darah dinamakan trombus. Akumulasi darah
yang membeku diluar sistem vaskular, tidak disebut sebagai trombus.
Trombosis ini menyebabkan iskemia jaringan otak yang dapat
menimbulkan edema disekitarnya.
2) Embolisme serebral
Embolisme serebral adalah bekuan darah dan material lain yang
dibawa ke otak dari bagian tubuh lain. Merupakan penyumbatan
pembuluh darah otak oleh bekuan darah, lemak dan udara. Pada
umumnya emboli berasal dari trombus di jantung yang terlepas dan
menyumbat sistem arteri serebri.
3) Iskemia serebri
Iskemia adalah penurunan aliran darah ke area otak. Otak normalnya
menerima sekitar 60-80 ml darah per 100 g jaringan otak per menit.
Jika alirah darah aliran darah serebri 20 ml/menit timbul gejala iskemia
dan infark. Yang disebabkan oleh banyak faktor yaitu hemoragi,
emboli, trombosis dan penyakit lain.
4) Hemoragi serebral
Hemoragi serebral adalah pecahnya pembuluh darah serebral dengan
pendarahan ke dalam jaringan otak atau ruangan sekitar otak.
Pendarahan intraserebral dan intrakranial meliputi pendarahan didalam
ruang subarakhnoid atau didalam jaringan otak sendiri. Pendarahan ini
dapat terjadi karena arterosklerosis dan hipertensi. Pecahnya pembuluh
darah otak menyebabkan perembesan darah kedalam parenkim otak.
a. Infark otak (80%)
- Emboli
- Aterotrombolitik (penyakit pembuluh darah otak besar-sedang)
b. Perdarahan intraserebral
- Hipertensi
- Malformasi arteri vena

- Angiopati amiloid
c. Perdarahan subaraknoid
d. Penyebab lain (dapat menimbulkan infark atau perdarahan)
- Trombosis sinus dura
- Diseksi arteri karotis atau vertebralis
- Vaskulitis sistem saraf pusat
- Penyakit moya-moya (oklusi arteri besar intracranial yang progresif
-

)
Migren
Kondisi hiperkoagulasi
Penyalahgunaan obat (kokain atau amfetamin)
Kelainan hematologis (anemia sel sabit, polisitemia atau leukemia)
Miksoma atrium (Manjoer Arif dkk, 2000)

Faktor Predisposisi
-

Tekanan darah tinggi


Diabetes melitus
Merokok
Penyakit arteri carotis dan perifer
Atrial fibrilation
Penyakit jantung
Transient ischemia attack (TIA)
Hiperkolesterolemia
Obesitas dan kurang aktifitas
Penggunaan alkohol
Penggunaan obat obat terlarang

3. KLASIFIKASI STROKE
a. Stroke non hemoregik
Gejala :
- Timbulnya defisit neurologi mendadak
- Terjadi pada waktu istirahat atau bangun tidur
- Kesadaran biasanya tidak menurun kecuali bila embolus cukup
-

besar
Biasanya terjadi pada usis > 50 tahun

b. Stroke hemoregik
Pendarahan intaserebral (PIS)
Gejala:
-

gejala prodomal tidak jelas, kecuali nyeri kepala karna hipertensi


serangan sering kali disiang hari, waktu kerja, emosi, marah
sifat nyeri kepala hebat sekali
mual muntah sering terjadi pada permulaan serangan
hemifaresis/ hemiplegi bisa terjadi sejak terjadi serangan
kesadaran biasanya menurun

pendarahan subaraknoid (PSA)


Gejala :
-

prodromal, nyeri kepala hebat dan akut


kesadaran sering terganggu dan berpariasi
ada tanda/ gejala rangsanggan maningal

4. MANIFESTASI KLINIS
- Kelumpuhan wajah, anggota badan yang timbul mendadak
- Gangguan hemisensorik
- Perubahan mendadak setatus mental
- Afasia
- Gangguan penglihatan
- Ataksia
- Fertigo, mual dan muntah, nyeri kepala
5. PATOFISIOLOGI
Otak membutuhkan banyak oksigen. Berat otak hanya 2,5% dari berat bad
ab seluruhnya, namun yang dibutuhkan hampir mencapai 20% dari kebutuhan
badan seluruhnya. Oksigen ini diperoleh dari darah. Di otak sendiri hampir tida
k ada cadangan oksigen. Dengan demikian, otak sangat bergantung pada keada
an aliran darah setiap saat. Bila lebih lama dari 6-8 menit, terjadi jejas (lesi) ya
ng tidak pulih lagi (irreversible) dan kemudian kematian.
Beberapa daerah di otak lebih peka terhadap iskemia (berkurang aliran dar
ah). Daerah dengan aktivitas metabolik yang lebih tinggi membutuhkan makan
an yang lebih banyak untuk mempertahankan integritas strukturalnya. Dengan
demikian masa kelabu yang mempunyai aktivitas metabolik yang lebih tinggi l
ebih sensitif terhadap iskemia
Kelainan yang terjadi akibat gangguan peredaran darah di otak dibagi atas 2 go
longan, yaitu :
1. Infark iskhemia, disebut juga sebagai stroke non hemorargia
2. Perdarahan , disebut juga sebagai stroke hemorargia
Hemorargi dapat meninggikan tekanan di rongga tengkorak dan menyebab
kan iskemia di daerah lain yang tidak terlibat hemorargi. Di daerah iskemia dap
at pula terjadi hemorargi. Iskhemia otak merupakan akibat mengurangnya alira
n darah otak, baik secara umum maupun secara lokal.
Stroke iskhemia dan stroke non hemorargia pada kelompok usia 45 tahun,
paling banyak disebabkan atau ada akitanya dengan aterosklerosis
(Lumbantobing, 2003).
6. PEMERIKSAAN PENUNJANG

a. CT-scan
b. Pemeriksaan laboratorium yang meliputi :
- Hitung darah tepi lengkap
- Waktu protombin, waktu protombin parsial
- Analisa urine
- Foto rontgen dada
- EKG
c. EEG
d. Lumbal fungsi
7. PENATALAKSANAAN
Stroke iskemik/ stroke non hemoragik
Pase akut ( hari ke 0-14 sesudah onset penyakit)
1) Sasaran terapi : menyelamatkan neuron
2) Respirasi
: jalan nafas bersih dan longar
3) Jantung : harus berfungsi baik
4) Pantau tekanan darah
5) Kadar gula yang tinggi pada fase akut tidak diturunkan secara derastis
6) Gawat / coma : pantau balans cairan, elektrolit dan basa darah
7) Obat obatan :
a. Anti edema otak
- Gliserol 10%, perinfus, 1 gr/ kg B/ hari dalam 6 jam
- Kortikosteroid
: dexametason
b. Anti agregasi terombotik ASA (asam asetil salisilat) seperti: asfirin,
asfilet dll dengan dosis 80-300 mg/hari
c. Antikoagulasi, misalnya heparin
d. Lain lain : trombosilin
8. KOMPLIKASI
Komplikasi stroke meliputi hipoksia serebral, penurunan aliran darah serebral,
dan luasnya area cedera antara lain (Brunner dan Suddarth, 2002. Hal 21302144):
a. Hipoksia serebral diminimalkan dengan memberi oksigenisasi darah
adekuat ke otak. Fungsi otak bergantung pada ketersediaan oksigen
yang dikirimkan ke jaringan. Pemberian oksigen suplemen dan
mempertahankan hemoglobin serta hematokrit pada tingkat dapat
diterima akan membantu dalam mempertahankan oksigenisasi jaringan.
b. Aliran darah serebral bergantung pada tekanan darah, curah jantung,
dan integritas pembuluh darah serebral. Hidrasi adekuat (cairan
intravena)

harus

menjamin

penurunan

viskositas

darah

dan

memperbaiki aliran darah serebral. Hipertensi atau hipotensi ekstrem

perlu dihindari untuk mencegah perubahan pada pada aliran darah


serebral dan potensi meluasnya area cedera.
c. Embolisme serebral dapat terjadi setelah infark miokard atau fibrilasi
atrium atau dapat berasal dari katup jantung prostetik. Embolisme akan
menurunkan aliran darah ke otak dan selanjutnya menurunkan aliran
darah serebral. Disritmia dapat mengakibatkan curah jantung tidak
konsisten dan menghentikan trombus lokal. Selain itu, disritmia dapat
menyebabkan embolus serebral dan harus diperbaiki.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN STROKE


1. Pengkajian
a.
-

Pengkajian Primer
Airway
Airway artinya mengusahakan agar jalan napas bebas dari
segala hambatan, baik akibat hambatan yang terjadi akibat benda

asing maupun sebagai akibat strokenya sendiri.


Breathing

Breathing atau fungsi bernapas yang mungkin terjadi akibat


gangguan di pusat napas (akibat stroke) atau oleh karena
-

komplikasi infeksi di saluran napas.


Circulation
Cardiovaskular function (fungsi kardiovaskular),

yaitu

fungsi jantung dan pembuluh darah. Seringkali terdapat gangguan


irama, adanya trombus, atau gangguan tekanan darah yang harus
ditangani secara cepat. Gangguan jantung seringkali merupakan
penyebab stroke, akan tetapi juga bisa merupakan komplikasi dari
stroke tersebuT.
b. Pengkajian Sekunder
1) Identitas klien: Meliputi nama, umur (kebanyakan terjadi pada
usia tua), jenis kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan, agama,
suku bangsa, tanggal dan jam masuk rumah sakit, nomor
register, diagnosa medis.
2) Keluhan utama: Biasanya didapatkan kelemahan anggota gerak
sebelah badan, bicara pelo, dan tidak dapat berkomunikasi.
3) Riwayat penyakit sekarang: Identifikasi faktor penyebab, Kaji
saat mulai timbul; apakah saat tidur/ istirahat atau pada saat
aktivitas, Bagaimana tanda dan gejala berkembang; tiba-tiba
kemungkinan stroke karena emboli dan pendarahan, tetapi bila
onsetnya berkembang secara bertahap kemungkinan stoke
trombosis, Bagaimana gejalanya; bila langsung memburuk
setelah onset yang pertama kemungkinan karena pendarahan,
tetapi bila mulai membaik setelah onset pertama karena emboli,
bila tanda dan gejala hilang kurang dari 24 jam kemungkinan
TIA, Observasi selama proses interview/ wawancara meliputi;
level kesadaran, itelektual dan memory, kesulitan bicara dan
mendengar, Adanya kesulitan dalam sensorik, motorik, dan
visual.
4) Riwayat penyakit dahulu: Ada atau tidaknya riwayat trauma
kepala, hipertensi, cardiac desease, obesitas, DM, anemia, sakit
kepala, gaya hidup kurang olahraga, penggunaan obat-obat anti
koagulan, aspirin, vasodilator dan obat-obat adiktif

5) Riwayat penyakit keluarga: Biasanya ada riwayat keluarga yang


menderita hipertensi ataupun diabetes militus.
6) Riwayat psikososial: Stroke memang suatu penyakit yang
sangat mahal. Biaya untuk pemeriksaan, pengobatan dan
perawatan dapat mengacaukan keuangan keluarga sehingga
faktor biaya ini dapat mempengaruhi stabilitas emosi dan
pikiran klien dan keluarga
7) Pola-pola fungsi kesehatan:
- Pola kebiasaan. Biasanya ada riwayat perokok, penggunaan
-

alkohol.
Pola nutrisi dan metabolisme , adanya keluhan kesulitan
menelan, nafsu makan menurun, mual muntah pada fase

akut.
Pola eliminasi: Biasanya terjadi inkontinensia urine dan
pada pola defekasi biasanya terjadi konstipasi akibat

penurunan peristaltik usus.


Pola aktivitas dan latihan, adanya kesukaran untuk
beraktivitas karena kelemahan, kehilangan sensori atau

paralise/ hemiplegi, mudah lelah,


Pola tidur dan istirahat biasanya klien mengalami kesukaran

untuk istirahat karena kejang otot/nyeri otot,


Pola hubungan dan peran: Adanya perubahan hubungan dan
peran

karena

klien

mengalami

kesukaran

untuk

berkomunikasi akibat gangguan bicara.


Pola persepsi dan konsep diri: Klien merasa tidak berdaya,

tidak ada harapan, mudah marah, tidak kooperatif.


Pola sensori dan kognitif: Pada pola sensori klien
mengalami gangguan penglihatan/kekaburan pandangan,
perabaan/ sentuhan menurun pada muka dan ekstremitas
yang sakit. Pada pola kognitif biasanya terjadi penurunan

memori dan proses berpikir.


Pola reproduksi seksual: Biasanya terjadi penurunan gairah
seksual akibat dari beberapa pengobatan stroke, seperti obat
anti kejang, anti hipertensi, antagonis histamin.

Pola penanggulangan stress: Klien biasanya mengalami


kesulitan untuk memecahkan masalah karena gangguan

proses berpikir dan kesulitan berkomunikasi.


Pola tata nilai dan kepercayaan: Klien biasanya jarang
melakukan ibadah karena tingkah laku yang tidak stabil,

kelemahan/kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh.


2. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum: mengelami penurunan kesadaran, Suara bicara :
kadang mengalami gangguan yaitu sukar dimengerti, kadang tidak
bisa bicara/afasia: tanda-tanda vital: TD meningkat, nadi
bervariasi.
b. Pemeriksaan integument:
- Kulit: jika klien kekurangan O2 kulit akan tampak pucat dan
jika kekurangan cairan maka turgor kulit kan jelek. Di samping
itu perlu juga dikaji tanda-tanda dekubitus terutama pada daerah
yang menonjol karena klien CVA Bleeding harus bed rest 2-3
minggu.
Kuku : perlu dilihat adanya clubbing finger, cyanosis.
Rambut : umumnya tidak ada kelainan.
c. Pemeriksaan leher dan kepala:
- Kepala: bentuk normocephalik
- Wajah: umumnya tidak simetris yaitu mencong ke salah satu sisi
- Leher: kaku kuduk jarang terjadi.
d. Pemeriksaan dada: Pada pernafasan kadang didapatkan suara nafas
-

terdengar ronchi, wheezing ataupun suara nafas tambahan,


pernafasan tidak teratur akibat penurunan refleks batuk dan
menelan.
e. Pemeriksaan abdomen: Didapatkan penurunan peristaltik usus
akibat bed rest yang lama, dan kadang terdapat kembung.
f. Pemeriksaan inguinal, genetalia, anus: Kadang terdapat
incontinensia atau retensio urine.
g. Pemeriksaan ekstremitas: Sering didapatkan kelumpuhan pada
salah satu sisi tubuh.
h. Pemeriksaan neurologi:
- Pemeriksaan nervus cranialis: Umumnya terdapat gangguan
-

nervus cranialis VII dan XII central.


Pemeriksaan motorik: Hampir selalu terjadi kelumpuhan/

kelemahan pada salah satu sisi tubuh.


Pemeriksaan sensorik: Dapat terjadi hemihipestesi.

Pemeriksaan refleks: Pada fase akut reflek fisiologis sisi yang


lumpuh akan menghilang. Setelah beberapa hari refleks
fisiologis akan muncul kembali didahuli dengan refleks
patologis.

3. DIAGNOSA KEPERAWATAN dan INTERVENSI


1) Perfusi jaringan (cerebral) tidak efektif b.d oklusi otak, perdarahan, va
sospasme, edema otak
Tujuan : Perfusi jarinngan adekuat
Kriteria hasil:
- Mempertahankan / meningkatkan tingakat kesadaran, kognitif, dan f
-

ungsi motorik sensori


Menunjukkan kestabilan tanda tanda vital dan tidak ada penurunan

TIK
Menunjukkan berkurangnya kerusakan / defisit.

Rencana tidakan :
a. Kaji ulang adanya kaku kuduk, twitching, kelelahan,iritabilitass
dan onset kejang
b. Monitor status neurologis dan bandingkan dengan yang normal.
c. Monitor TTV hipertensi atau hipotensi, bandingkan tekanan
antara kedua lengan
d. tentukan faktor npenyebab gangguan,penyebab koma,
penurunan perfusi cerebral dan potensial peningkatan TIK.
e. Evaluasi pupil amati ukuran,etajaman dan reaksi terhadap
cahaya.
f. Posisikan kepala ditinggikan sedikit dengan posisi netral (hanya
tempat tidur yangt ditinggikan)
g. Pertahankan istirahat ditempat tidur, beri lingkungan yang
tenang, batasi pengunjung dan aktivitas sesuai dengan indikasi.
h. Cegah mengejan yang terlalu kuat, bantu dengan latihan nafas d
alam.
i. Kolaborasi dengan medis untuk pemberian O2 dan pengobatan.
2) Kerusakan mobilitas fisik b.d kelemahan neurologi muskuler, flasit, pa
ralisis
Tujuan : Dapat mempertahankan posisi dan fungsi tubuh optimal
Rencana tindakan :
a. Observasi sisi yang sakit seperti warna, edema, atau perubahan
sirkulasi.

b. Berikan posisi prone satu atau dua kali sehari jika pasien bisa
mentolelir.
c. Mulai ROM aktif atau pasif untuk semua ekstremitas.
d. Gunakan segitiga penyangga lenggan pada pasien dengan posis
tegak
e. Pertahankan kaki pada posisi netral dengan trochanter.
f. Bantu pasien duduk jika TTV stabil, kecuali pada pasien stoke
hemoragic.
g. Anjurkan pasien untuk membantu melatih sisi yang sakit
dengan ekstremitas yang sehat.
h. Kolaborasi dengan dokter untuk pengobatan dan dengan ahli
fisioterapi untuk program fisioterapi
3) Kurang perawatan diri b.d kelemahan neuromuskular, menurunya kekua
tan da kesadaran, kehilangan kontrol obat / koordinasi
Tujuan : Pasien dapat merawat diri
Kreteria hasil:
- Pasien dapat menunjukkan perubahan gaya hidup untuk kebutuhan
-

merawat diri.
Pasien mampu melakukan aktivitas perawan diri sesuai deengan tin
gkat kemampuan.

Rencana tindakan :
a. Hindari melakukan sesuatu yang dapat dilakukan pasien sendiri,
tetapi berikan bantuan sesuai kebutuhan.
b. Pertahankan dukungan dan sikap yang tegas, beri waktu yang cu
kup pada pasien untuk mengerjakan tugasnya.
c. Berikan umpan balik yang positif untuk setiap usaha yang dilak
ukan.
d. Beri kesempatan untuk menolong diri seperti ekstensi untuk ber
pijak pada lantai atau ketoilet, kursi untuk mandi.
e. Rencanakan tindakan untuk devisit penglihatan seperti tempatka
n makanandan peralatan dalam suatu tempat, dekatkan tempat ti
dur ke dinding.
f. Libatkan keluarga dalam memenuhi kebutuhan perawatan diri
pasien.
4) Gangguan komunikasi verbal bd gangguan sirkulasi cerebral,
kehilangan kontrol tonus otot fasial atau oral, dan kelemahan secara
umum

Tujuan : Komunikasi verbal adekuat


Kriteria hasil:
- Pasien dapat menunjukkan pengertian terhadap masalah komun
- Mampu mengekspresikan perasaannya
- Mampu menggunakan bahasa isyarat
Rencana tindakan :
a. Kaji tipe disfungsi
b. Katakan untuk mengikuti perintah secara sederhana seperti tutup
matamu, dan lihat kepintu
c. Bicara dengan nada normal dan hindari ucapan yang terlalu
cepat. Berikan waktu untuk merespon
d. Memilih metode komunikasi alternatif misalnya menulis pada p
apan tulis, menggambar dan mendemonstrasikan secara visual g
erakan tangan
e. Kolaborasi dengan ahli terapi wicara

DAFTAR PUSTAKA

Brunner dan Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8, Volume 3.
Jakarta: Buku Kedokteran EGC
Doengoes, Marlyn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan
dan Pendokumentasian Perawatan Pasien: Jakata. Buku Kedokteran EGC.
Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem
Persyarafan. Jakarta: Salemba Medika.

Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jilid 2, Jakarta: Media
Aesculapius.
http://www.scribd.com/doc/60253384/Askep-Stroke diakses tanggal 13 maret 2014 jam
08.30
http://www.scribd.com/doc/49249136/ASUHAN-KEPERAWATAN-STROKE diakses
tanggal 13 maret s2014 jam 08.45