Anda di halaman 1dari 5

Faktor

yang
memengaruhi kerja obat

1.
2.
3.
4.
5.

Akibat perbedaan cara dan tipe kerja obat , respons terhadap obat sangat
bervariasi. Faktor selain karakteristik obat juga memengaruhi kerja obat.
Klien mungkin tidak memberi respons yang sama terhadap setiap dosis
obat yang diberikan. Begitu juga obat yang sama dapat menimbulkan
respons yang berbeda pada klien yang berbeda.Faktor yang memengaruhi
kerja obat yaitu :
Perbedaan Genetik
Variabel Fisiologis
Kondisi Lingkungan
Faktor Psikologis
Diet
Penjelasan :
1.Perbedaan Genetik
Susunan genetik memengaruhi biotransformasi obat. Pola metobolik
dalam keluarga seringkali sama. Faktor genetik menentukan apakah enzim
yang terbentuk secara alami ada untuk membantu penguraian obat.
Akibatnya anggota keluarga sensitif terhadap suatu obat.
2. Variabel Fisiologis
Perbedaan hormonal antara pria dan wanita mengubah metabolisme obat
tertentu. Hormon dan obat saling bersaing dalam biotransformasi karena
kedua senyawa tersebut terurai dalam proses metabolik yang sama.

Variasi diurnal dalam sekresi estrogen bertanggung jawab untuk fluktuasi


siklik reaksi obat yang dialami wanita.
3. Kondisi lingkungan
Stres fisik dan emosi yang berat akan memicu respons
hormonal yang akhirnya mengganggu metabolisme obat pada klien.
Radiasi ion menghasilkan efek yang sama dengan mengubah kecepatan
aktivitas enzim.
Pajanan pada panas dan dingin dapat memengaruhi respons
terhadap obat. Klien Hipertensi diberi vasodilator untuk mengontrol tekanan
darahnya. Pada cuaca panas dosis vasodilator perlu dikurangi karena suhu
yang tinggi meningkatkan efek obat. Cuaca dingin cenderung
meningkatkan vasokontriksi, sehingga dosis vasodilator perlu ditambah.
4. Faktor Psikologis
Sikap seseorang terhadap obat berakar dari pengalaman
sebelumnya atau pengaruh keluarga. Melihat orang tua sering
menggunakan obat obatan dapat membuat anak menerima obat sebagai
bagian dari kehidupan normalnya.
Makna obat atau signifikansi mengonsumsi obat memengaruhi
respons klien terhadap terapi. Sebuah obat dapat digunakan sebagai cara
untuk mengatasi rasa tidak aman. Pada situasi ini klien bergantung pada
obat sebagai media koping dalam kehidupan.
5. Diet
Interaksi obat dan nutrien dapat mengubah kerja obat atau efek nutrien.
Contoh : vitamin K terkandung dalam sayuran hijau berdaun merupakan
nutrien yang melawan efek warfarin natrium (coumadin) mengurangi
efeknya pada mekanisme pembekuan darah. Minyak mineral menurunkan
absorpsi vitamin larut lemak. Klien membutuhkan nutrisi tambahan ketika
mengonsumsi obat yang menurunkan efek nutrisi. Menahan konsumsi
nutrien tertentu dapat menjamin efek terapeutik obat.

Penyebab mastitis
a.

Staphylococcus
Staphylococcus merupakan bakteri Gram positif, berbentuk kokus, diameter 1 m, tidak motil,
facultative anaerob, catalase positif, dapat tumbuh pada media yang kurang menguntungkan,
dapat menyebabkan infeksi pyogenic.
Habitat staphylococcus,hidup normal pada kulit hewan dan manusia. Mereka sering ditemukan
pada membrane mukosa traktus respiratorius dan sedikit di saluran urogenital serta saluran
pencernaan.
Staphylococcus aureusmerupakan salah satu penyebab utama mastitis pada sapi perah yang
menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup besar akibat turunnya produksi susu.
Patogenisitas dan virulensi Staphylococcus sp. ditentukan oleh substansi-substansi yang
diproduksi oleh organisme ini antara lain adalah enzim ekstraseluler yang dikenal dengan
eksoprotein. Staphylococcusaureus memproduksi eksoprotein yang dibagi menjadi 2 kelompok
utama yaitu, kelompok enzim antara lain koagulase, lipase, hialuronidase, stafilokinase
(fibrinolisin) dan nuklease serta kelompok eksotoksin misalnya leukosidin, eksfoliatif toksin,
enterotoksin dan toxic schock syndrome toxin-1 (TSST-1).
Hemolisin merupakan eksoprotein yang mempunyai aktivitas baik enzimatis maupuntoksin
sehingga tidak termasuk dalam klasifikasi ini (Williams et al., 2000). Sitolitiktoksin yang
dihasilkan oleh S. aureus adalah , , , dan -hemolisin. Eksoprotein enzimatis ini kemungkinan
mempunyai fungsi utama dalam menyokong nutrisi untuk pertumbuhan bakteri, sedangkan
eksotoksin berperan dalammenimbulkan berbagai penyakit.

Streptococcus
Streptococcus agalactiaetermasuk dalam genus Streptococcus golongan B. Bakteri ini
merupakan bakteri Gram positif.Streptococcus agalactiae merupakan sebagian dari flora normal
pada vagina dan mulut wanita pada 5-25 %.Bakteri ini secara khas merupakan hemolitik dan
membentuk daerah hemolisis yang hanya sedikit lebih besar dari koloni (bergaris tengah 1-2
mm).Streptococcus golongan B menghidrolisis natrium hipurat dan memberi respons positif
pada tes CAMP (Christie, Atkins, Munch-Peterson), peka terhadap basitrasin.
Streptococcus agalactiae mampu bertahan pada inang dalam temperature tinggi, tergantung dari
kemampuannya untuk melawan fagositosis.Isolat dari Streptococcus agalactiae memproduksi

kapsul polisakarida.Kapsul polisakarida tersebut tersusun atas galaktosa dan glukosa,


berkombinasi dengan 2-acetamido-2-deoxyglucose, N-acetylglucosamine dan pada ujungnya
terdapat asam sialik, yang memberikan muatan negatif.Kapsul polisakarida tersebut merupakan
faktor virulensi yang penting.Kapsul-kapsul tersebut menghalangi fagositosis dan sebagai
komplemen saat tidak ada antibodi.Hasil selanjutnya dihilangkan bersama dengan pengeluaran
residu asam sialik, dan kekurangan serum antibodi untuk melengkapi antigen tidaklahopsonik.
Meskipun infeksi/penyerangan bisa saja dihubungkan dengan semuaserotype, namun golongan
dengan kapsul serotype III mendominasi isolat dariinfeksi neonatal (Carter,2004 ; Quinn,2002)
PATOGENESIS MASTITIS
Patogenesis mastitis dibagi menjadi beberapa fase, yaitu: infiltrasi, infeksi, infasi
1. Fase Infasi
Masuknya organisme ke dalam puting. Kebanyakan terjadi karena terbukanya lubang saluran
putting, terutama setelah diperah. Infasi ini dipermudah dengan adanya lingkungan yang jelek,
populasi terlalu tinggi, adanya lesi pada putting susu atau karena daya tahan sapi menurun.
2.

FaseInfeksi
Terjadinya pembentukan koloni oleh mikroorganisme yang dalam waktu singkat menyebar ke
lobuli dan alveoli.

3. Fase Infiltrasi
Ditandai saat mikroorganisme sampai ke mukosa kelenjar, tubuh akan bereaksi dengan
memobilisasi leukosit dan terjadi radang. Adanya radang menyebabkan sel darah dicurahkan ke
dalam susu, sehingga sifat fisik seta susunan susu mengalami perubahan.

Karakteristik case control antara lain :


1. Merupakan penelitian observasional yang bersifat retrospektif
2. Penelitian diawali dengan kelompok kasus dan kelompok kontrol
3. Kelompok kontrol digunakan untuk memperkuat ada tidaknya hubungan sebab-akibat
4. Terdapat hipotesis spesifik yang akan diuji secara statistik
5. Kelompok kontrol mempunyai risiko terpajan yang sama dengan kelompok kasus

6. Pada penelitian kasus-kontrol, yang dibandingkan ialah pengalaman terpajan oleh faktor
risiko antara kelompok kasus dengan kelompok kontrol
7. Penghitungan besarnya risiko relatif hanya melalui perkiraan melalui perhitungan odds
ratio