Anda di halaman 1dari 13

Penelusuran Aktivitas Antibakteri 15 Jenis Jus Buah-buahan

dan Sayur-sayuran Terhadap Isolat Klinis Streptococcus


mutans dan Staphylococcus aureus
Asep Nurrahman Yulianto, Sri Agung Fitri Kusuma, dan
Sulistiyaningih
Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, Jatinangor Sumedang
ABSTRAK
Masalah yang paling sering terjadi dalam bidang kesehatan mulut
adalah karies atau plak gigi. Salah satu penyebab utama terbentuknya
plak gigi adalah adanya infeksi yang disebabkan oleh bakteri
Streptococcus mutans dan Staphylococcus aureus. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri, Konsentrasi
Hambat Tumbuh Minimum (KHTM), dan Konsentrasi Bunuh Minimum
(KBM) dari beberapa buah dan sayuran uji seperti alpukat, anggur,
apel, bayam, belimbing wuluh, brokoli, buah naga, jambu biji, jeruk
keprok, kubis, mentimun, pepaya, seledri, stroberi, dan wortel
terhadap masing-masing dua isolat klinis S.mutans dan S.aureus.
Pengujian aktivitas antibakteri, KHTM dan KBM dilakukan dengan
menggunakan metode mikrodilusi. Hasil penapisan fitokimia
menunjukkan bahwa jus buah dan sayuran uji umumnya mengandung
senyawa flavonoid dan polifenol. Hasil pengujian menunjukkan bahwa
jus stroberi memiliki aktivitas antibakteri terbesar terhadap seluruh
bakteri isolat klinis S.mutans dan S.aureus. Nilai KHTM dan KBM jus
stroberi terhadap bakteri isolat klinis S.mutans terletak pada rentang
konsentrasi 6,25% v/v 12,5% v/v. Nilai KHTM dan KBM jus stroberi
terhadap bakteri S. aureus isolat klinis 1 terletak pada rentang
konsentrasi 3,125% v/v 6,25% v/v dan terhadap bakteri S. aureus
isolat klinis 2 terletak pada rentang konsentrasi 6,25% v/v 12,5% v/v.
Kata kunci: Antibakteri, jus buah dan sayuran, Streptococcus mutans,
Staphylococcus aureus.
ABSTRACT
The most common problem in mouth health matter is caries or dental
plaque. The main factor causing dental plaque is the infection that
caused by Streptococcus mutans and Staphylococcus aureus. This
study was done to determine the antibacterial activity, Minimum
Inhibitory
Concentration
(MIC),
and
Minimum
Bactericidal
Concentration (MBC) from several fruits and vegetables such as
avocado, grape, aple, spinach, belimbing wuluh, broccoli, dragon
fruit, guava, orange, cabbage, cucumber, papaya, celery, strawberry,
and carrot against two clinical isolates each of S.mutans and S.aureus.
The antibacteria activity test, MIC, and MBC was conducted by using
microdilution method. The result of phytochemistry screening shows
that fruits and vegetables juice that was used in the test contains
1

flavonoids and polifenols. The result of the test also showed that
strawberry juice had the best antibacteria activity againts all of the
clinical isolate of S.mutans and S.aureus. The MIC and MBC value
against the clinical isolate of S.mutans is in the range of concentration
between 6.25% v/v 12.5% v/v. The MIC and MBC value against the
clinical isolate of S.aureus is in the range of concentration between
3.125% v/v 6.25% v/v for the first isolate and for the second isolate
is between 6.25% v/v 12.5% v/v.
Keywords:

Antibacterial, fruits and vegetables juice, Streptococcus


mutans, Staphylococcus aureus.

PENDAHULUAN
Kesehatan gigi dan mulut
di
Indonesia
merupakan
masalah yang masih perlu
mendapat
perhatian
secara
menyeluruh dari semua pihak.
Dalam bidang kesehatan mulut,
masalah yang sering dihadapi
adalah karies atau plak gigi.
Hasil survey kesehatan gigi dan
mulut
di
tujuh
wilayah
pembangunan provinsi Jawa
Barat
pada
tahun
1994
menunjukkan bahwa prevalensi
penyakit karies gigi masyarakat
provinsi Jawa Barat rata-rata
78,9% dengan angka DMF-T
(Decayed Missing,Filled-Teeth)
sebesar 5,74 (Dinas Kesehatan
Provinsi Jawa Barat, 2004).
Plak merupakan masalah
kesehatan gigi yang dapat
menyebabkan bau mulut dan
merusak gigi (Lucida, 2006).
Plak merupakan lapisan biofilm
yang tersusun dari sel-sel
mikroorganisme
yang
berkolonisasi pada permukaan
gigi
(Madigan,
2006).
Mikroorganisme yang terdapat
di dalam plak gigi antara lain
genus
Streptococcus
(S.
mutans, S. sanguis, S. viridians,
S. salivarius), berbagai jenis
Actinomyces (A. viscosus, A.
naeshundii, A. israelii), dan
Staphylococcus
aureus
(Daniluk, et al., 2006).
Staphylococcus
aureus
umumnya
ditemukan
pada
permukaan
kulit,
membran
mukosa,
air
liur,
dan
permukaan
gigi
manusia.
Apabila Staphylococcus aureus
yang terdapat pada plak gigi
masuk
ke dalam sirkulasi
darah, bakteri dapat meluas ke
berbagai bagian tubuh dan
menyebabkan infeksi berupa

endokarditis dan osteomielitis


(Ontengco,
et
al.,
2003).
Apabila terhirup ke dalam paruparu, maka dapat menyebabkan
infeksi
saluran
pernafasan
seperti pneumonia, bronkhitis,
dan penyakit paru obstruksi
kronik (Yulianty, 2010).
Bakteri
lain
yang
menyebabkan plak gigi adalah
Streptococcus mutans (Jawetz,
et al., 1995). Streptococcus
mutans biasanya ditemukan
pada rongga gigi manusia yang
luka dan menjadi bakteri yang
paling kondusif menyebabkan
karies
untuk
email
gigi
(Michalek dan Mc Ghee, 1982).
Pengobatan
dan
pencegahan
yang
sering
dilakukan untuk menghambat
pertumbuhan
bakteri
pada
permukaan gigi adalah obat
kumur (Amtha, 1997). Obat
kumur
yang
selama
ini
dianggap aman ternyata ada
yang memiliki efek samping
khususnya yang mengandung
alkohol
(Azril,
2009).
Dilaporkan
bahwa
semakin
lama
obat
kumur
yang
mengandung
alkohol
tinggi
berkontak
dengan
mukosa
mulut,
makin
besar
kemungkinannya
untuk
menimbulkan lesi atau kanker
mulut (Gargari, et al., 1995).
Oleh karena itu, penggunaan
buah-buahan dan sayur-sayuran
dapat
dijadikan
terobosan
menarik untuk pengobatan plak
gigi tersebut terutama yang
mengandung
senyawa
antibakteri berupa flavonoid
dan polifenol. Beberapa buah
dan sayuran yang memiliki
kandungan senyawa flavonoid
dan
polifenol
diantaranya
adalah alpukat, anggur, apel,
bayam,
belimbing
wuluh,
3

brokoli, buah naga, jambu biji,


jeruk keprok, kubis, mentimun,
pepaya, seledri, stroberi, dan
wortel.
Penelusuran
obat
antiplak gigi terus dilakukan
demi penemuan obat yang
aman. Telah dibuktikan pada
penelitian sebelumnya bahwa
jus apel, anggur, dan stroberi
memiliki aktivitas antibakteri
terhadap Streptococcus mutans
karena didalam jus tersebut
memiliki kandungan senyawa
antibakteri berupa flavonoid
dan polifenol (Paramita, 2007;
Febrina, 2007; Godfried, 2007).
Dengan
demikian,
pada
penelitian ini akan ditelusuri
aktivitas antibakteri beberapa
buah dan sayuran yang biasa
dikonsumsi
sehari-hari
dan
memiliki kandungan senyawa
antibakteri terhadap bakteri
penyebab
karies
gigi,
diantaranya
Streptococcus
mutans dan Staphylococcus
aureus
hasil
isolat
klinis
sehingga
aman
digunakan
dalam pengobatan plak gigi.
BAHAN DAN METODE
Bahan
Bahan uji: Bahan uji yang
digunakan
adalah
alpukat
(Persea
americana
Mill.),
anggur (Vitis vinifera L.), apel
(Pyrus
malus
L.),
bayam
(Amaranthus
tricolor),
belimbing
wuluh
(Averrhoa
bilimbi L.), brokoli (Brassica
oleracea var. italica), buah naga
(Hylocereus
undatus
(Haw.)Britt.Et R), jambu biji
(Psidium guajava L.), jeruk
keprok (Citrus nobilis Lour),
kubis (Brassica oleracea var.
capitata
L.),
mentimun
(Cucumis sativus L.), pepaya

(Carica papaya L.), seledri


(Apium
graveolens
var.
secalinum), stroberi (Fragaria x
ananassa Duch), dan wortel
(Daucus
carota
L.)
yang
diperoleh
dari
daerah
Jatinangor dan Bandung, Jawa
Barat. Bahan kimia: Bahan
kimia yang digunakan adalah
amil alkohol (Merck), amonia
10% (Merck), asam klorida 2 N
(Merck), aquadest, besi (III)
klorida, eter (Merck), kloroform
(Merck), larutan asam asetat
anhidrat dalam H2SO4 pekat
(Merck), larutan gelatin 1%
(Merck), pereaksi Dragendorff
(larutan kalium bismuth iodida),
pereaksi Mayer (larutan kalium
merkuri iodida), larutan vanilin
10%
dalam
H2SO4
pekat
(Merck), natrium hidroksida 1
N, serbuk kalium permanganat,
dan
serbuk
magnesium.
Bakteri uji: Bakteri uji yang
digunakan
adalah
masingmasing
dua
isolat
klinis
Streptococcus
mutans
dan
Staphylococcus aureus yang
diisolasi dari plak gigi pasien di
Unit Pelayanan Terpadu (UPT)
Padjadjaran, Jatinangor.
Alat
Alat-alat yang digunakan pada
penelitian ini adalah juicer
(philips), microtitter plates 96
well
(Kartel),
otoklaf
(Hirayama), oven (Memmert
200 dan Memmert 400-800),
inkubator
(Sakura
IF-4),
mikropipet volume 20-200 L
dan 100-1000 L (Eppendorf),
tip
mikropipet,
ose,
sentrifugator,
dan
sungkub
anaerob.
Metode
Pengumpulan
dan
Determinasi Bahan: Bahan uji
4

yang digunakan diperoleh dari


daerah
Jatinangor
dan
Bandung,
Jawa
Barat.
Determinasi
tumbuhan
dilakukan
di
Laboratorium
Taksonomi Tumbuhan, Jurusan
Biologi, Fakultas Matematika
dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Universitas
Padjadjaran,
Jatinangor.
Pengolahan Bahan: Sebanyak
100 g buah dan sayuran uji
segar
dipotong-potong
dan
direndam
dengan
menggunakan
kalium
permanganat selama 15 menit.
Setelah itu buah dan sayuran
uji dimasukan ke dalam juicer.
Jus yang dihasilkan kemudian
disentrifugasi selama 30 menit
dengan kecepatan 4000 rpm.
Supernatan
yang
didapat
kemudian
diambil
dan
disterilkan
dengan
cara
pasteurisasi pada suhu 65 C
selama 30 menit.
Penapisan
Fitokimia:
Penapisan fitokimia dilakukan
dengan metode Phytochemical
Screening of Plants untuk
mengetahui golongan metabolit
sekunder yang terdapat pada
bahan uji.
Pengujian
Aktivitas
Antibakteri,
Penentuan
KHTM
dan
KBM
Jus:
Pengujian aktivitas antibakteri,
penentuan KHTM dan KBM
dilakukan
dengan
menggunakan
metode
mikrodilusi. Jus buah dan
sayuran
dibuat
dalam
9
konsentrasi
yang
berbeda
menggunakan media MHB yang
sudah ditambahkan suspensi
bakteri, lalu diinkubasi selama
18-24 jam. Penentuan letak

KHTM
dilakukan
dengan
pengamatan kekeruhan media
uji dengan pembanding kontrol
positif
dan
negatif
yang
digunakan. Nilai KHTM terletak
pada konsentrasi uji terkecil
dimana terdapat penurunan
jumlah koloni bakteri yang
tinggi pada media uji. Setelah
itu, dilakukan teknik dropping
untuk melihat pertumbuhan
koloni bakteri ke dalam media
lempeng agar darah untuk
bakteri S.mutans dan media
MHA untuk bakteri S.aureus.
Nilai
KBM
berada
pada
konsentrasi uji terkecil dimana
tidak terdapat pertumbuhan
koloni bakteri.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Pengumpulan
dan
Determinasi Bahan
Bahan
uji
yang
digunakan adalah alpukat ,
anggur, apel, bayam, belimbing
wuluh, brokoli, buah naga,
jambu biji, jeruk keprok, kubis,
mentimun,
pepaya,
seledri,
stroberi, dan wortel
yang
diperoleh
dari
daerah
Jatinangor dan Bandung, Jawa
Barat.
Determinasi
tumbuhan
telah
dilakukan
di
Laboratorium
Taksonomi
Tumbuhan, Jurusan Biologi,
Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan
Alam
yang
hasilnya menunjukkan bahwa
ke-15 bahan uji berasal dari
divisi
Magnoliophyta.
Hasil
determinasi ke-15 bahan uji
tersebut dapat dilihat pada
Gambar 1, Lampiran A.
Hasil Pengolahan Bahan
Proses pengolahan bahan
uji dengan juicer dipilih karena
5

menghasikan jus buah dan


sayur yang lebih murni dan
lebih
banyak
dibandingkan
dengan menggunakan blender.
Kalium permanganat digunakan
untuk
menghilangkan
kontaminasi
dari
mikroorganisme yang ada pada
permukaan buah dan sayur.
Gambar jus buah dan sayuran
uji dapat dilihat pada Gambar
2, Lampiran B.

Hasil Penapisan Fitokimia


Secara umum, senyawa
metabolit
sekunder
yang
terkandung di dalam bahan uji
adalah senyawa flavonoid dan
polifenol.
Hal
ini
mengindikasikan
bahwa
seluruh bahan uji mengandung
zat antibakteri. Hasil penapisan
fitokimia tersebut dapat dilihat
pada Tabel 1.

Tabel 1 Hasil Penapisan Fitokimia Jus Buah dan Sayuran Uji


Sampel
Alk
Fla
Pol
Tan M&S
S&T
Kui
Alpukat
+
+
+
+
+
+
+
Anggur
+
+
+
+
Apel
+
+
+
+
+
Bayam
+
+
+
+
Belimbing
+
+
+
+
+
wuluh
Brokoli
+
+
+
Buah naga
+
+
+
Jambu biji
+
+
+
Jeruk
+
+
Kubis
+
+
+
+
Pepaya
+
+
+
Seledri
+
+
+
+
Stroberi
+
+
+
Timun
+
+
+
Wortel
+
+
+
Keterangan :
(+)
: terdeteksi
(-)
: tidak terdeteksi
Alk
: Alkaloid
Fla
: Flavonoid
Tan : Tanin
Pol
: Polifenol
M&S : Monoterpenoid dan seskuiterpenoid
S&T : Steroid dan triterpenoid
Kui
: Kuinon
Sap : Saponin

Sap
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
-

dapat menentukan aktivitas


antibakteri, konsentrasi hambat
tumbuh minimum (KHTM) dan
konsentrasi bunuh minimum
(KBM)
secara
sekaligus,
pengerjaan yang mudah, waktu
pengerjaan yang cepat dan
hanya memerlukan jumlah zat
uji yang kecil.
Hasil pengujian aktivitas
antibakteri
dan
penentuan
KHTM dan KBM dari bahan uji
terhadap bakteri uji dapat
dilihat pada Tabel 2 5.

Hasil Pengujian Aktivitas


Antibakteri,
Penentuan
KHTM dan KBM Jus
Metode yang digunakan
untuk uji aktivitas antibakteri,
penentuan konsentrasi hambat
tumbuh minimum (KHTM) dan
konsentrasi bunuh minimum
(KBM) dari 15 jus buah dan
sayuran uji adalah metode
pengenceran mikro. Metode ini
dipilih karena metode yang
terstandar secara internasional,

Tabel 2 Hasil Uji Aktivitas Antibakteri, Penentuan Konsentrasi Hambat


Tumbuh Minimum (KHTM) dan Konsentrasi Bunuh Minimum
(KBM) Jus Terhadap Streptococcus mutans Isolat Klinis 1
Konsentrasi (v/v)
Bahan Uji

+
+

7
5
%
+
+
+

5
0
%
+
+
+

2
5
%
+
+
+
+

+
+
+
+
+
+

+
+
+
+
+
+

+
+
+
+
+
+
+

10
0%

Alpukat
Anggur
Apel
Bayam
Belimbing
wuluh
Buah naga
Jambu biji
Jeruk
Kubis
Pepaya
Seledri
Stroberi
Timun
Wortel

Keterangan:
-

Kontrol

12,
5%

6,25
%

3,12
5%

1,562
5%

0,781
25%

(+
)

()

Jus

+
+
+
+

+
+
+
+

+
+
+
+

+
+
+
+

+
+
+
+

+
+
+
+

+
+
+
+
+
+
+
+

+
+
+
+
+
+
+
+

+
+
+
+
+
+
+
+
+

+
+
+
+
+
+
+
+
+

+
+
+
+
+
+
+
+
+

+
+
+
+
+
+
+
+
+

+
+
+
+
+
+
+
+
+

+ : keruh
: bening

Berdasarkan Tabel 2,
diperoleh 6 jenis jus buah dan
sayuran yang memiliki aktivitas
antibakteri
terhadap
Streptococcus mutans isolat
klinis 1, yaitu jus anggur, apel,
belimbing wuluh, jambu biji,
kubis, dan stroberi. Aktivitas
antibakteri terbesar dihasilkan
oleh jus stroberi. Rentang
konsentrasi hambat tumbuh

minimum (KHTM) konsentrasi


bunuh minimum (KBM) jus
stroberi
terhadap
Streptococcus mutans isolat
klinis 1 terletak pada rentang
konsentrasi jus 6,25 12,5 %
(v/v). Hasil dropping dari 15 jus
buah dan sayuran uji tersebut
dapat dilihat pada Gambar 3
6, Lampiran C.

Tabel 3 Hasil Uji Aktivitas Antibakteri, Penentuan Konsentrasi Hambat


Tumbuh Minimum (KHTM) dan Konsentrasi Bunuh Minimum
(KBM) Jus Terhadap Streptococcus mutans Isolat Klinis 2
Konsentrasi (v/v)
Bahan Uji

+
+

7
5
%
+
+
+

5
0
%
+
+
+

2
5
%
+
+
+
+

+
+
+
+
+
+
+

+
+
+
+
+
+
+

+
+
+
+
+
+
+
+

10
0%

Alpukat
Anggur
Apel
Bayam
Belimbing
wuluh
Brokoli
Buah naga
Jambu biji
Jeruk
Kubis
Pepaya
Seledri
Stroberi
Timun
Wortel

Keterangan:

Kontrol

12,
5%

6,25
%

3,12
5%

1,562
5%

0,781
25%

(+
)

()

Ju
s

+
+
+
+

+
+
+
+

+
+
+
+

+
+
+
+

+
+
+
+

+
+
+
+

+
+
+
+
+
+
+
+
+

+
+
+
+
+
+
+
+
+

+
+
+
+
+
+
+
+
+
+

+
+
+
+
+
+
+
+
+
+

+
+
+
+
+
+
+
+
+
+

+
+
+
+
+
+
+
+
+
+

+
+
+
+
+
+
+
+
+
+

+ : keruh
: bening

Berdasarkan Tabel 3,
diperoleh 6 jenis jus buah dan
sayuran yang memiliki aktivitas
antibakteri
terhadap
Streptococcus mutans isolat
klinis 2, yaitu jus anggur, apel,
belimbing wuluh, jambu biji,
kubis, dan stroberi. Aktivitas
antibakteri terbesar dihasilkan
oleh jus stroberi. Rentang
konsentrasi hambat tumbuh

minimum (KHTM) konsentrasi


bunuh minimum (KBM) jus
stroberi
terhadap
Streptococcus mutans isolat
klinis 2 terletak pada rentang
konsentrasi jus 6,25 12,5 %
(v/v). Hasil dropping dari 15 jus
buah dan sayuran uji tersebut
dapat dilihat pada Gambar 7
10, Lampiran C.

Tabel 4 Hasil Uji Aktivitas Antibakteri, Penentuan Konsentrasi Hambat


Tumbuh Minimum (KHTM) dan Konsentrasi Bunuh Minimum
(KBM) Jus Terhadap Staphylococcus aureus Isolat Klinis 1
Konsentrasi (v/v)
Bahan Uji
Alpukat
Anggur
Apel
Bayam
Belimbing
wuluh
Brokoli

+
+

7
5
%
+
+

5
0
%
+
+

2
5
%
+
+
+

10
0%

Kontrol

12,
5%

6,2
5%

3,12
5%

1,562
5%

0,781
25%

(+
)

(-)

Jus

+
+
+
+

+
+
+
+

+
+
+
+

+
+
+
+

+
+
+
+

+
+
+
+

Buah naga
Jambu biji
Jeruk
Kubis
Pepaya
Seledri
Stroberi
Timun
Wortel

+
+
+
+
+
+

Keterangan:

+
+
+
+
+
+

+
+
+
+
+
+
+

+
+
+
+
+
+
+
+

+
+
+
+
+
+
+
+

+
+
+
+
+
+
+
+

+
+
+
+
+
+
+
+
+

+
+
+
+
+
+
+
+
+

+
+
+
+
+
+
+
+
+

+
+
+
+
+
+
+
+
+

+ : keruh
: bening

Berdasarkan
Tabel
4,
diperoleh 6 jenis jus buah dan
sayuran yang memiliki aktivitas
antibakteri
terhadap
Staphylococcus aureus isolat
klinis 1, yaitu jus anggur, apel,
belimbing wuluh, jeruk, kubis,
dan
stroberi.
Aktivitas
antibakteri terbesar dihasilkan
oleh jus stroberi. Rentang
konsentrasi hambat tumbuh

minimum (KHTM) konsentrasi


bunuh minimum (KBM) jus
stroberi
terhadap
Staphylococcus aureus isolat
klinis 1 terletak pada rentang
konsentrasi jus 3,125 6,25 %
(v/v). Hasil dropping dari 15 jus
buah dan sayuran uji tersebut
dapat dilihat pada Gambar 12
15, Lampiran C.

Tabel 5 Hasil Uji Aktivitas Antibakteri, Penentuan Konsentrasi


Hambat Tumbuh Minimum (KHTM) dan Konsentrasi Bunuh
Minimum (KBM) Jus Terhadap Staphylococcus aureus Isolat
Klinis 2
Konsentrasi
Bahan Uji
Alpukat
Anggur
Apel
Bayam
Belimbing
wuluh
Brokoli
Buah naga
Jambu biji
Jeruk
Kubis
Pepaya
Seledri
Stroberi
Timun
Wortel

+
+

7
5
%
+
+

5
0
%
+
+
+

2
5
%
+
+
+
+

+
+
+
+
+
+
+
-

+
+
+
+
+
+
+
+

+
+
+
+
+
+
+
+
+

10
0%

Keterangan: +
-

:
:

Kontrol

12,
5%

6,2
5%

3,12
5%

1,562
5%

0,781
25%

(+
)

()

Ju
s

+
+
+
+

+
+
+
+

+
+
+
+

+
+
+
+

+
+
+
+

+
+
+
+

+
+
+
+
+
+
+
+
+

+
+
+
+
+
+
+
+
+

+
+
+
+
+
+
+
+
+
+

+
+
+
+
+
+
+
+
+
+

+
+
+
+
+
+
+
+
+
+

+
+
+
+
+
+
+
+
+
+

+
+
+
+
+
+
+
+
+
+

keruh
bening

Berdasarkan Tabel 5,
diperoleh 6 jenis jus buah dan
sayuran yang memiliki aktivitas
antibakteri
terhadap
Staphylococcus aureus isolat
klinis 2, yaitu jus anggur, apel,
belimbing
wuluh,
kubis,
stroberi, dan wortel. Aktivitas
antibakteri terbesar dihasilkan
oleh jus stroberi. Rentang
konsentrasi hambat tumbuh
minimum (KHTM) konsentrasi
bunuh minimum (KBM) jus
stroberi
terhadap
Staphylococcus aureus isolat
klinis 2 terletak pada rentang
konsentrasi jus 6,25 12,5 %
(v/v). Hasil dropping dari 15 jus
buah dan sayuran uji tersebut
dapat dilihat pada Gambar 16
19, Lampiran C.

SIMPULAN DAN SARAN


Berdasarkan
hasil
penelitian, dapat disimpulkan
bahwa jus stroberi memiliki
aktivitas antibakteri terbesar
terhadap masing-masing isolat
klinis Streptococcus mutans
dan Staphylococcus aureus.
Hasil
penapisan
fitokimia

menunjukan
bahwa
secara
umum
senyawa
metabolit
sekunder yang terkandung di
dalam
bahan
uji
adalah
senyawa
flavonoid
dan
polifenol. Nilai KHTM dan KBM
jus stroberi terhadap bakteri
isolat klinis S.mutans terletak
pada
rentang
konsentrasi
6,25% v/v 12,5% v/v. Nilai
KHTM dan KBM jus stroberi
terhadap bakteri S. aureus
isolat klinis 1 terletak pada
rentang konsentrasi 3,125% v/v
6,25% v/v dan terhadap
bakteri S. aureus isolat klinis 2
terletak
pada
rentang
konsentrasi 6,25% v/v 12,5%
v/v.
Dari hasil penelitian ini
disarankan untuk melakukan
penelusuran
senyawa
aktif
antibakteri dari jus buah dan
sayuran, khususnya yg memiliki
aktivitas antibakteri terhadap
bakteri
isolat
klinis
Streptococcus
mutans
dan
Staphylococcus
aureus
sehingga
dapat
dijadikan
sebagai dasar pengembangan
formulasi sediaan obat herbal
terstandar yang berguna bagi
bidang kesehatan gigi dan
mulut.

DAFTAR PUSTAKA
Daniluk, Tokajuk G., Cylwik-Rokicka D., Rozkiewicz D., Zaremba M. L.,
Stokowska W. 2006. Aerobic and anaerobic bacteria in
subgingival and supragingival plaques of adult patients with
periodontal disease. Advances in Medical Science. 81-85.
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat. 2004. Karies, Dominasi Masalah
Kesehatan Gigi. Tersedia di : http://www.pdpersi.co.id. [Diakses
tanggal 9 April 2011].
Febrina W.N. 2007. Perbandingan Efek Antibakteri Jus Anggur Merah
(Vitis
Vinifera)
Pada
Berbagai
Konsentrasi
Terhadap
Streptococcus
mutans.
[Skripsi].
Semarang:
Fakultas
Kedokteran Universitas Diponegoro.
Gagari, Kabani S. 1995. Adverse effect of mouthwash use Oral srg
Oral Med Oral pathol. 80: 432-9.
Godfried E.Y. 2007. Perbandingan Efek Antibakteri Jus Stroberi
(Fragariavesca L.) pada Berbagai Konsentrasi Terhadap
Streptococcus
mutans.
[Skripsi].
Semarang:
Fakultas
Kedokteran Universitas Diponegoro.
Jawetz, E., Melnick, L. Josept, Adelberg, A. Edward. 1995. Medical
Microbiology. 20th Edition. Connecticut: Appleton and Lange.
Lucida, H. 2006. Determination of the ionization constant and the
stablility of catechin from gambir ( Uncaria gambir (Hunter)
Roxb). ASOPMS 12 International Conference, Padang.
Madigan MT, Martinko JM, Brock TD. 2006. Brock Biology of
Microorganisms. 11th Ed. New Jersey: Pearson Prentice Hall.
617-619.
Michalek, S and J. Mcghee. 1982. Oral Streptococci with Emphasis on
Streptococcus mutans. Philadelphia: Harper and Row Publisher
Ontengco, D. C., L. A. Baltazar, R. S. Santiago, R. R. Matias, and C. A.
Isaac. 2003. Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus
Isolates from Filipino Patients (1999-2003). Phil J. Microbiol
Infect Dis. 17(1) : 4-8.
Paramita K. 2007. Perbandingan Efek Antibakteri Jus Apel (Pyrus
malus) Jenis Granny Smith Pada Berbagai Konsentrasi Terhadap
Streptococcus
mutans.
[Skripsi].
Semarang:
Fakultas
Kedokteran Universitas Diponegoro.

Yulianty. 2010. Hubungan Antara Penyakit Periodontal dengan


Penyakit Saluran Pernafasan. [Skripsi]. Medan: Universitas
Sumatera Utara.