Anda di halaman 1dari 6

I.

1
I.1.1

Gangguan dan Kegagalan Pada Ginjal


Batu Ginjal
Kristal garam yang terdapat dalam urin terkadang mengendap dan memadat

menjadi batu yang tidak larut disebut batu ginjal. Batu ginjal umumnya mengandung
kristal kalsium oksalat, asam urat atau kalsium fosfat. Kondisi ini menyebabkan
formasi kalkulus termasuk konsumsi kalsium yang terlalu banyak, konsumsi air
sedikit, abnormalitas alkalin atau asam urat, dan kelebihan kapasitas kelenjar
paratiroid.
Penderita gagal ginjal dapat diberikan Shock Wave Litotripsy untuk
menghilangkan batu ginjal. Shock Wave Litotripsy adalah serangkaian prosedur yang
menggunakan gelombang kejut berenergi tinggi untuk menghancurkan batu ginjal.
Selain metode tersebut, dapat juga dilakukan operasi pengangkatan batu ginjal.
I.1.2

Infeksi Saluran Urin


Merupakan infeksi bagian sistem urinaria atau keberadaan mikroba dalam

jumlah banyak dalam urin. Penyakit ini umumnya terjadi pada wanita karena wanita
memiliki uretra lebih pendek disbanding laki-laki.Infeksi saluran urin ini termasuk di
dalamnya radang uretra (urethritis), radang kandung kemih (cystisis), dan radang
ginjal (pyelonephritis).
Sakit atau rasa terbakar saat buang air kecil, seing buar air kecil, nyeri
pinggang dan mengompol merupakan gejala yang dialami oleh penderita penyakit
ini. Ada beberapa cara untuk mengatasi penyakit ini, antara lain:

Antibiotik untuk mengatasi inflamasi

I.1.3

Tidak menahan buang air kecil karena dengan kandung kemih yang

kosong akan mengurangi jumlah bakteri di saluran urin.


Minum banyak air
Meredakan nyeri dengan air hangat.

Glomerulonefritis
Merupakan inflamasi ginjal pada bagian glomerulus. Umumnya disebabkan

oleh reaksi alergi terhadap toksin yang dihasilkan oleh bakteri streptokokus yang
sudah terlebih dahulu menginfeksi bagian tubuh lain, seperti tengorokan. Pada
keadaan ini glomerulus akan mengalami inflamasi sehingga darah dan protein
plasma akan lolos dari membran filtrasi akibatnya urin mengandung eritrosit dan
protein. Jika glomerulus rusak permanen, keadaan ini akan mengarah ke gagal ginjal
kronis.
I.1.4

Penyakit Ginjal Polikistik


Merupakan keadaan dimana tubulus ginjal dipenuhi oleh ratusan hingga

ribuan kista. Hal ini menyebabkan apoptosis sel pada tubulus non kistik sehingga
terjadi penurunan progresif fungsi ginjal dan akhirnya terjadi gagal ginjal stadium
akhir. Penderita penyakit ini juga mungkin memiliki kista di ogan tubuh lainnya
seperti pada hati, pancreas, limpa dan gonad.
Gejala seperti sakit pinggang, infeksi salurran kencing, darah di urin, dan
hipertensi tidak akan terlihat hingga penderita berusia lanjut. Beberapa hal yang
dapat dilakukan untuk menghambat penyakit ini antara lain:

Obat-obatan untuk menormalkan tekanan darah.


Membatasi konsumsi protein dan garam.
Mengontrol kesehatan saluran kencing.

I.1.5

Gagal Ginjal
Gagal ginjal akut merupakan keadaan saat ginjal tiba-tiba berhenti seluruhnya.

Karakteristik dari gagal ginjal akut adalah adanya tekanan dari aliran urian, seperti
oliguria dan anuria. Penyebab gagal ginjal akut antara lain rendahnya volume darah,
penurunan output kardiak, kerusakan tubulus ginjal, adanya batu ginjal, pemakaian
pewarna di angiogram serta obat anti inflamasi non steroid dan beberapa obat
antibiotic.
Pasien yang menderita ini dapat mengalami edema karena retensi garam dan
air serta asidosis metabolik karena ketidakmampuan ginjal mengekskresikan zat
asam. Urea dalam darah karena ekskresi ginjal untuk produk sisa metabolic dan
potassium rusak parah. Anemia karena ginjal tidak memproduksi cukup eritroprotein
untuk memproduksi eritrosit. Serta osteomalasia karena ginjal tidak dapat merubah
vitamin D menjadi kortisol yang dibutuhkan tubuh untuk absorpsi kalsium di usus
halus.
Gagal gijal kronis mengacu pada penurunan progresif dan biasanya tidak dapat
kembali pada laju filtrasi glomerulus. Penyebabnya antara lain glomerulonephritis,
penyakit ginjal polikistik, serta kerusakan pada jaringan ginjal.
Gagal ginjal kronis terdiri dari tiga tahap. Tahap pertama adalah pengurangan
cadangan ginjal di mana nefron rusak hingga 75% fungsi nefron hilang. Biasanya
tidak terlihat gejala karena nefron lainnya membesar dan mengambil alih fungsi
nefron lain yang rusak. Tahap kedua adalah insufisiensi ginjal. Terjadi pengurangan
pada laju filtrasi glomerulus, dan meningkatnya kadar darah yang mengandung
Nitrogen sehingga ginjal tidak efektif untuk mengencerkan urin. Pada tahap terakhir,

90% nefron telah rusak. Laju filtrasi glomerulus berkurang hingga 10% - 15%
normal. Terjadi oliguria dan peningkatan Nitrogen dalam darah, mengandung sisa
dari kreatinin. Penderita pada tahap ini membutuhkan dialysis atau transplantasi
ginjal.
I.2

Hemodialisis
Hemodialisis berasal dari kata hemo artinya darah, dan dialisis artinya

pemisahan zat-zat terlarut. Hemodialisis berarti proses pembersihan darah dari zatzat sampah, melalui proses penyaringan di luar tubuh. Hemodialisis menggunakan
ginjal buatan berupa mesin dialisis. Hemodialisis dikenal secara awam dengan istilah
cuci darah.
Pada hemodialisis darah dikeluarkan dari tubuh penderita dan diedarkan dalam
sebuah mesin di luar tubuh, sehingga cara ini memerlukan jalan keluar-masuk aliran
darah. Untuk itu dibuat jalur buatan di antara pembuluh arteri dan vena atau disebut
fistula arteriovenosa melalui pembedahan. Lalu dengan selang darah dari fistula,
darah dialirkan dan dipompa ke dalam mesin dialisis. Untuk mencegah pembekuan
darah selama proses pencucian, maka diberikan obat antibeku yaitu Heparin.
Sebenarnya proses pencucian darah dilakukan oleh tabung di luar mesin yang
bernama dialiser. Di dalam dialiser, terjadi proses pencucian, mirip dengan yang
berlangsung di dalam ginjal. Pada dialiser terdapat 2 kompartemen serta sebuah
selaput di tengahnya. Mesin digunakan sebagai pencatat dan pengontrol aliran darah,
suhu, dan tekanan.
Aliran darah masuk ke salah satu kompartemen dialiser. Pada kompartemen
lainnya dialirkan dialisat, yaitu suatu carian yang memiliki komposisi kimia

menyerupai cairan tubuh normal. Kedua kompartemen dipisahkan oleh selaput


semipermeabel yang mencegah dialisat mengalir secara berlawanan arah. Zat-zat
sampah, zat racun, dan air yang ada dalam darah dapat berpindah melalui selaput
semipermeabel menuju dialisat. Itu karena, selama penyaringan darah, terjadi
peristiwa difusi dan ultrafiltrasi. Ukuran molekul sel-sel dan protein darah lebih
besar dari zat sampah dan racun, sehingga tidak ikut menembus selaput
semipermeabel. Darah yang telah tersaring menjadi bersih dan dikembalikan ke
dalam tubuh penderita. Dialisat yang menjadi kotor karena mengandung zat racun
dan sampah, lalu dialirkan keluar ke penampungan dialisat.
Difusi adalah peristiwa berpindahnya suatu zat dalam campuran, dari bagian
pekat ke bagian yang lebih encer. Difusi dapat terjadi bila ada perbedaan kadar zat
terlarut dalam darah dan dalam dialisat. Dialisat berisi komponen seperti larutan
garam dan glukosa yang dibutuhkan tubuh. Jika tubuh kekurangan zat tersebut saat
proses hemodialisis, maka difusi zat-zat tersebut akan terjadi dari dialisat ke darah.
Ultrafiltrasi merupakan proses berpindahnya air dan zat terlarut karena perbedaan
tekanan hidrostatis dalam darah dan dialisat. Tekanan darah yang lebih tinggi dari
dialisat memaksa air melewati selaput semipermeabel. Air mempunyai molekul
sangat kecil sehingga pergerakan air melewati selaput diikuti juga oleh zat sampah
dengan molekul kecil.
Kedua peristiwa tersebut terjadi secara bersamaan. Setelah proses penyaringan
dalam dialiser selesai, maka akan didapatkan darah yang bersih. Darah itu kemudian
akan dialirkan kembali ke dalam tubuh.

Rata-rata tiap orang memerlukan waktu 9 hingga 12 jam dalam seminggu


untuk menyaring seluruh darah dalam tubuh. Tabi biasanya akan dibagi menjadi tiga
kali pertemuan selama seminggu, jadi 3 - 5 jam tiap penyaringan. Tapi hal ini
tergantung juga pada tingkat kerusakan ginjalnya.