Anda di halaman 1dari 20

REFRAT

Levonorgestrel Intrauterine System versus Medical Therapy for Menorrhagia

Pembimbing:
dr. Edy Priyanto, M.Kes, Sp.OG

Disusun Oleh :
Unggul Anugrah Pekerti (G4A013091)
Gesa Gestana Abdurahman (G4A013092)

SMF ILMU KEBIDANAN DAN PENYAKIT KANDUNGAN


RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARDJO
PURWOKERTO
2015

REFRAT

Levonorgestrel Intrauterine System versus Medical Therapy for Menorrhagia

Disusun oleh :
Unggul Anugrah Pekerti (G4A013091)
Gesa Gestana Abdurahman (G4A013092)

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat


di Kepaniteraan Klinik SMF Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan
RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto

Disetujui dan disahkan


Pada tanggal,

Februari 2015

Pembimbing,

dr. Edy Priyanto, M.Kes, Sp.OG

BAB I
PENDAHULUAN

Saat ini ada 3 jenis alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) yaitu Copper T 380 (Cu
- T), progestasert, dan AKDR yang mengandung LevonorgeStrel (LNg IUD). LNg
IUD lebih efektif dalam mencegah kehamilan dengan angka hampir sempurna yaitu
0,1%. (Cunningham et al 2014).
Penggunaan AKDR semakin populer karena beberapa alasan. Kemungkinan besar
alsannya berupa Cu T dan LNg IUD adalah metode kontrasepsi reversibel efektif
ynag bersifat setelah pemakaian lalu lupakan. Yang masing masing tidak perlu
penggantian selama hampir 10 tahun dan 5 tahun. Sedangkan progestasert perlu
penggantian tiap tahunnya. Sedangkan dengan penggunaan AKDR resiko infeksi panggul
menjadi lebih berkurang dikarenakan adanya benang monofilamen dan teknik baru yang
lebih menjamin keamanan dalam proses pemasangan (Cunningham et al 2014).
Progesteron dan AKDR memiliki kandungan levonorgestrel dapat mengurangi
perdarahan yang banyak serta dapat digunakan untuk mengobati menoragia. Selain itu
seiiring berkurangnya darah ketika haid dapat mengurangi dismenore. Wanita yang
memiliki kontra indikasi menggunakan pil kontrasepsi kombinasi dan implan dapat di
anjurkan untuk menggunakan kontrasepsi AKDR dan progesteron ini. Setalah masa
penggunaan AKDR dan progesteron ini habis dapat segera dilepas tanpa mengganggu
kesuburan setelah pemakainan kontasepsi ini (Cunningham et al 2014).
Haid merupakan proses kematangan seksual bagi seorang wanita (LK lee dkk,
2006). Haid adalah pendarahan secara periodik dan siklik dari uterus, disertai pelepasan
(deskuamasi) endometrium (Wiknjosastro, 2009)

Panjang siklus haid yang normal atau dianggap sebagai suatu siklus yang klasik
adalah 28 hari , tetapi cukup bervariasi tidak sama untuk setiap wanita (Guyton, 2008).
Lama haid biasanya antara 3-5 hari, ada yang 1-2 hari diikuti darah sedikitsedikit dan ada yang sampai 7-8 hari. Jumlah darah normal yang keluar rata-rata 33,2
16 cc. Rata-rata panjang siklus haid pada gadis usia 12 tahun ialah 25,1 hari, pada wanita
usia 43 tahun 27,1 hari dan pada wanita usia 55 tahun ialah 51,9 hari (Wiknjosastro et al,
2009).
Wanita usia reproduktif banyak memiliki masalah menstruasi atau haid yang
abnormal,seperti sindrom menstruasi dan menstruasi yang tidak teratur, Menoragia
merupakan salah satu masalah menstruasi atau haid yang tidak normal. (Wiknjosastro et
al, 2009)
Menorrhagia, atau perdarahan menstruasi yang banyak, merupakan penyebab
penting dari kesehatan yang buruk pada wanita. Diperkirakan bahwa 9-30 persen dari
wanita usia reproduksi menderita menorrhagia, prevalensi meningkat dengan usia, dan
memuncak sesaat sebelum menopause. Menorrhagia memiliki dampak pada kehidupan
banyak perempuan, dengan satu dari dua puluh wanita berusia 30-49 dengan menorrhagia
konsultasi dokter umum mereka setiap tahun (Clinical Practice Guidelines, 2004).
Menorrhagia dapat didefinisikan sebagai keluhan kehilangan darah menstruasi
yang banyak selama beberapa siklus menstruasi berturut-turut, pada wanita usia
reproduksi, atau lebih obyektif, total kehilangan darah haid lebih dari 80 ml per
menstruasi (Clinical Practice Guidelines, 2004).
Pada beberapa literatur dan jurnal mengatakan bahwa levonorgestrel intrauterin
system (LNg IUD) dapat menyembuhkan menorrhagia, dikarenakan LNg IUD
mengandung progesteron dapat mengurangi perdarahan yang banyak (Clinical Practice
Guidelines, 2004 dan Cunningham et al 2014).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A LEVONORGESTREL IUD
Levonorgrestel IUD merupakan alat kontrasepsi yang terbentuk dari alat
kontrasepsi hormonal dengan IUD yang berbentuk T (T-shaped) terbuat dari bahan
plastik, panjangnya 32 mm dan mengandung 52 mg LNg, progestin, dan dapat
mengeluarkan LNg 20 mcg/hari (Mirena, 2014).

Levonorgrestel IUD secara terus menerus mengeluarkan hormon progstin secara


lokal atau hanya di dalam uterus dapat menyebabkan penebalan lendir serviks sehingga
menghambat pergerakan dari sperma, menghambat kelangsungan hidup dari sperma dan
perubahan endometrium untuk mencegah penempelan dari sel telur (Mirena, 2014).

Gambar 1: Levonorgrestel IUD


1. Progestin
Progesteron adalah hormon yang dikeluarkan oleh sistem reproduksi wanita yang
berfungsi terutama untuk mengatur kondisi lapisan dalam (endometrium) rahim.
Progesteron diproduksi oleh ovarium, plasenta, dan kelenjar adrenal. Progestin adalah
istilah digunakan untuk menggambarkan progesteron dan hormon steroid sintetis
dengan sifat seperti progesteron, misalnya levonorgestrel progestogen. Progestin atau
progestogen adalah hormon sintetik progesteron. Progestogen memilik peran dalam
penempelan sel telur pada dinding rahim. Jika seltelur tidak dibuahi progesteron akan
di sekresikan sampai beberapa hari sebelum menstruasi, menyebabkan peluruhan
dinding endometrium. (Faculty of Sexual and Reproductive Healthcare, 2008; Guyton
et al, 2008 dan Wiknjosastro et al, 2009).
2. Farmakokinetik

Levonorgrestel IUD yang di insersii ke uterus dapat mengeluarkan LNg 20


mcg/hari selama 3 bulan pertama, lalu berkurrang sekresinya menjadi18 mcg / hari
setelah 1 tahun pemakaian dan kemudian menurun secara progresif menjadi sekitar 10
mcg / hari setelah 5 tahun pemakaian. Konsentrasi yang stabil tanpa pucak atau
peningkatan yang tajam dan palung atau penurunan yang tajam di tunjukan oleh LNg
setelah bebrapa minggu dari insersi LNg IUD. Konsentrasi LNg setelah penggunaan
12 bulan sebanyak180 66 pg / mL , 24 bulan sebanyak 192 140 pg / mL, dan 60
bulan 159 59 pg / mL (Mirena, 2014).

3. Indikasi Pemakaian
Levonorgrestel IUD di indikasikan untuk kontrasepsi intrauterin sampai dengan 5
tahun, jika sudah mencapai 5 tahun LNg Iud harus segera di lepas, LNg IUD juga bisa
di gunakan untuk pengobatan mennoraghia. (Mirena, 2014).

Gambar 2. LNg IUD dan inserter


4. Kontraindikasi pemakaian
- Hamil atau curiga adanya kehamilan
- Kelainan bentuk uterus kongenital
- Acute pelvic inflammatory disease atau memiliki riwayat pelvic inflammatory
disease
- Postpartum endometritis atau infected abortion kurang dari 3 bulan
- uterine / cervical neoplasia atau curiga uterine / cervical neoplasia
- kanker payudata atau progestin-sensitive cancer (Mirena, 2014).
5. Efek samping
- Kehamilan ektopik terganggu, KET dapat terjadi di karenakan sel telur tidak dapat
melewati T- body dari LNg IUD di samping wanita yang pernah mengalami Ket
-

sebelumnya.
Kehamilan dengan LNg di dalam uterus. jika pemasangan LNg IUD tidak benar
Infeksi atau Sepsis. Di karenakan pada saat pemasangan tidak di lakukan septik

dan anti septik yang baik dapat menyebabkan group a streptococcus sepsis.
Infeksi pelvis. Dapat terjadi jikaa wanit yang terkena penyakit infeksi menular

seksual. Bakteri dapat masuk melalui benang LNg IUD.


Perforasi uterus. terjadi kesalahan dalam pemasangan LNg IUD, biasanya terjadi
di karena kan tertembus oleh sonde uterus saat pengukuran kedalaman uterus
(Mirena, 2014).

Uji klinis Levonorgestrel IUD di Finlandia dan Swedia menyatakan dari 45.000
wanita yang berusia 18 sampai 35 tahun yang mamakai LNg IUD tidak ada yang
memiliki keluahan kehamilan ektopik terganggu dan penyakit radang panggul selama 12
bulan setelah pelepsan LNg IUD, setelah pelepasan telah dilaporkan hanya 0,2 % per 100
perempuan yang sulit hamil ketika pelepasan LNg IUD (Mirena, 2014).
Keberhasilan Levonorgresrel IUD dalam pengobatan perdarahan menstruasi berat
dipelajari secara random dan open label, Active Control, paralel kelompok uji coba
membandingkan LNg IUD (n = 79) untuk terapi yang disetujui, medroxyprogesterone

acetate (MPA) (n = 81), lebih dari 6 siklus. Subyek termasuk wanita usia reproduksi
sehat, dengan tidak ada kontraindikasi dengan produk obat dan dengan dikonfirmasi
menstruasi berat perdarahan ( 80 mL kehilangan darah menstruasi [MBL]) ditentukan
dengan metode alkali hematin. Dikecualikan adalah perempuan dengan kondisi organik
atau sistemik yang dapat menyebabkan perdarahan berat uterus (kecuali fibroid kecil,
dengan total volume tidak> 5 mL). Pengobatan dengan Mirena menunjukkan penurunan
statistik signifikan lebih besar di MBL dan sejumlah statistik signifikan lebih besar dari
subjek dengan pengobatan yang berhasil Keberhasilan pengobatan didefinisikan sebagai
proporsi subyek dengan (1) end-of-studi MBL <80 mL dan (2) a 50 % penurunan MBL
dari awal sampai akhir dari penelitian (Mirena, 2014).

Gambar 3 : Median Menstrual Blood Loss (MBL) by Time and Treatment dan Proportion of
Subjects with Successful Treatment
B HAID
1 Definisi
Haid adalah perdarahan secara periodik dan siklik yang alamiah dari uterus,
disertai (deskuamasi) endometrium. Haid merupakan proses kematangan seksual
bagi seorang wanita yang beranjak dewasa (Lee et al., 2006 dan Wiknjosastro et at.,
2009).

Siklus Haid
Setiap wanita memiliki siklus haid yang berbeda beda, siklus haid teratur pada
wanita yaitu berada pada jangka waktu 21- 35 hari, dengan rata-rata memiliki
panjang siklus selama 28 hari. Panjang siklus haid ialah jarak antara tanggal
mulainya haid yang lalu dan mulainya siklus haid berikutnya, hari pertama
pendarahan dikatakan hari pertama siklus haid. siklus menstruasi dibagi menjadi 5
fase, yaitu fase awal folikuler, fase akhir folikuler, fase praovulasi dan ovulasi, fase
awal luteal dan fase akhir luteal. Kelima fase ini sudah mencakup fase di ovarium
dan di endometrium (Guyton et al., 2008 dan Wiknjosastro et at., 2009).
a. Fase awal folikel
Pada saat terjadinya menstruasi, seluruh lapisan endometrium terlepas,
terkecuali lapisan dalam tipis yang terdiri dari sel-sel epitel dan kelenjar yang
nanti akan menjadi endometrium. Prostaglandin pada uterus juga merangsang
kontraksi ritmik ringan pada endometrium. Prostaglandin uterus juga
merangsang kontraksi ritmik ringan pada miometrium. Semua kontraksi
kontraksi

tersebut

membantu

untuk

mengeluarkan

darah

dan

debris

endometrium dari rongga uterus melalui vagina. Pada saat lahir, ovum
dikelilingi oleh selapis sel granulosa dan ovum dengan sel selubung
granulosanya yang di sebut folikel primordial. Pada saat pubertas, hormon FSH
dari kelenjar hipofisis anterior mulai disekresikan, sehingga seluruh ovarium
bersama folikelnya akan mulai berkembang (Guyton et al., 2008).
.
b. Fase Akhir Folikel
Fase akhir folikuler berlangsung 7 - 14 hari. Pada fase akhir folikuler ini
terjadi pertumbuhan folikel dari folikel primer menjadi antral. Pertumbuhan
awal dari folikel primer menjadi antral dirangsang oleh FSH. Efek dari FSH

adalah proliferasi yang berlangsung cepat dari sel granulosa, yang menyebabkan
lebih banyak sel-sel granulosa. Selain itu, banyak sel-sel berbentuk kumparan
yang dihasilkan dari interstitium ovarium yang berkumpul dalam beberapa
lapisan diluar sel granulosa, membentuk kelompok sel kedua disebut teka. Teka
menjadi dua yaitu teka interna dan teka eksterna (Guyton et al., 2008).
Sel granulosa dan sel teka bekerja sama untuk menghasilkan estrogen.
Reseptor LH hanya ada pada sel teka, begitu juga reseptor FSH hanya ada pada
granulosa. Pada teka interstisial, yang berlokasi di teka interna memiliki kirakira 20.000 reseptor LH di membran selnya yang merangsang jaringan teka
untuk menghasilkan androgen yang akan mengalami aromatisasi sehingga
menjadi estrogen melalui FSH di sel granulosa (Speroff et al., 2005).
c. Fase Praovulasi dan ovulasi
Fase praovulasi dan ovulasi berlangsung 13 - 14 hari. Pada fase
praovulasi dan ovulasi terjadi pertumbuhan folikel yang cepat sebagai
persiapan untuk terjadinya ovulasi. Pertumbuhan yang cepat setelah terbentuk
folikel antral meningkatkan diameter ovum tiga sampai empat kali lipat
menghasilkan peningkatan diameter total sampai menjadi sepuluh kali lipat.
Salah satu folikel biasanya tumbuh lebih cepat dari pada folikel-folikel lain,
berkembang menjadi folikel matang (de Graaf) (Guyton et al., 2008 dan
Sherwood, 2001).
d. Fase awal luteal
Fase awal luteal berlangsung 14 - 21 hari ruptur folikel pada ovulasi
merupakan tanda berakhirnya fase folikel dan mulainya fase luteal. Folikel
yang ruptur dan tertinggal di ovarium mengalami perubahan cepat segera
terisi darah. (Sherwood, 2001 dan Wiknjosastro et al., 2009).
e. Fase Akhir luteal

Fase akhir luteal berlangsung 21 - 28 hari, estrogen dan progesteron


yang disekresi oleh korpus luteum mempunyai efek umpan balik yang kuat
terhadap hipofisis anterior dalam mempertahankan kecepatan sekresi FSH dan
LH yang rendah. Selain dari itu sel luteain juga menyekresi sejumlah kecil
hormon inhibin yang juga menghambat sekresi hipofisis anterior, khususnya
sekresi FSH, mengakibatkan konsentrasi FSH dan LH dalam darah menjadi
rendah dan hilangnya hormon ini menyebabkan korpus luteum berdegenerasi
secara menyeluruh, terjadi hampir tepat 12 hari setelah korpus luteum
3

terbentuk, yaitu 2 hari sebelum dimulainya menstruasi (Guyton et al., 2008)


Menorraghia
Menorraghia adalah perdarahan uterus yang terjadi secara berkala atau terus
menerus lebih dari 7 hari, definisi klasik menorraghia merupakan perdarahan yang
melebihi 80 ml per siklus. Istilah "perdarahan uterus abnormal" meliputi pendarahan
nonsiklik dan siklik. Perdarahan anovulasi perdarahan adalah jenis yang paling
umum dari perdarahan uterus nonsiklik. Menorrhagia didefinisikan sebagai
perdarahan uterus siklik yang berlebihan yang terjadi secara berkala selama beberapa
siklus, atau perdarahan berkepanjangan yang berlangsung selama lebih dari tujuh
hari. Rata rata perdarahan menstruasi normal antara 30 40 ml (Apgar et al, 2007).
Faktor risiko yang ditetapkan untuk menorrhagia meliputi peningkatan usia,
leiomyomata premenopause, polip dan endometrium. Sedangkan paritas, indeks
massa tubuh, dan merokok bukan merupakan faktor risiko dari menorraghia. Bagi
beberapa wanita, penyebab menorrhagia tidak dapat dijelaskan. Menurut Apgar et al
pada tahun 2007, fungsi pembekuan darah merupakan faktor resiko seperti penyakit
von willebrand (Apgar et al, 2007).

Menorraghia dapat menyebabkan anemia, telah dilaporkan wanita dengan


menorraghia, sebanyak 58 % memiliki riwayat anemia, dimana 89% mendapatkan
terapi, dan 4% penderita mendapatkan tranfusi darah. Pengobatan menorraghia
bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup dari wanita yang terdiagnosis
menorraghia (Apgar et al, 2007).
Pilihan terapi untuk menorraghia berupa pil kontrasepsi atau progestogen.
Progestogen merupakan terapi yang paling banyak digunakan pada kasus
menorraghia. Ketika progestogen di berikan pada fase luteal progestogen sedikit
lebih efektif dari pada levonorgestrel IUD (Apgar et al, 2007).
Terapi progestin oral selama 21 hari berturut-turut (hari 5-26 dari siklus haid)
secara efektif mengurangi kehilangan darah menstruasi, tapi kepuasan pasien lebih
tinggi dengan LNg IUD. Meskipun digunakan sebagai alat kontrasepsi, LNg IUD
dapat menghasilkan penurunan yang signifikan pada kehilangan darah saat
menstruasi. Suatu penelitian menyatakan konsumsi progestin pada hari ke 5 26
pada siklus menstruasi dibandingkan LNg IUD menyatakan LNg IUD lebih efektif
dalam mengurangi perdarahan menstruasi (Apgar et al, 2007).
C PEMBAHASAN JURNAL
Penelitian yang di lakukan oleh Gupta et al, 2013 menyatakan, pada wanita
dewasa dengan menorraghia yang di laporkan oleh klinisi, bahwa levonorgrestel IUD
lebih efektif dalam mengobati perdarahan menstruasi yang banyak dan dapat
memperbaiki kualitas hidup seperti pada rutinitas sehari-hari mereka, termasuk
pekerjaan, kehidupan sosial , dan psikologis serta kesejahteraan fisik (Gupta et al, 2013).
Hasil dari percobaan klinis menunjukan bahwa levonorgestrel-IUS dibandingkan
dengan pengobatan biasa pada menorrhagia, peningkatannya lebih bagus yaitu pada efek
perdarahan menstruasi yang hebat terhadapa rutinitas sehari-hari termasuk didalamnya

pekerjaan,social, dan kelurag dan juga kesehatan fisiki dan psiskisnya (Gupta et al,
2013).
Menurut baseline skornya wanita yang terpengaruh oleh perdarahan menstruasi
yang hebat, yang dinilai dengan meggunakan skor MMAS dan SF36. Peningkatan skor
secara signifikan terlihat selama 2 tahun pengamatan pada masing-masing kelompok.
Bagaimanapun peningkatan rata-rata skor dan tanda-tanda residual pada 6 domain
MMAS lebih baik pada kelompok yang mendapatkan levonorgestrel daripada pengobatan
biasa. Secara kesluruhan rata-rata perbedaan skor antar kedua kelompok yang diambil
dari pengamatan selama 2 tahun followup adalah 13,4 poin dengan peningkatan lebih
bagus pada kelompok dengan levonorgestreldibadningkan pengobatan biasa. Perbedaan
tersebut signifikan ssecara statistic dan begitu bermakna secara klinis (Gupta et al, 2013).
Perbedaan antar kedua kelompok lebihdari 0,5SD, sangat minim seklai perbedaan
yang teridentifikasi pada peninjauan system pelaporan data penilitian, yang diambil dari
pengukuran hubungan kesehatan dengan kualitas hidup. Terdapat sebesar 13,4 poin yang
terpresntasi pada 2 atau 3 domain skor MMAS yang memiliki pengaruh minimal dari
menorrhagia(dari frekuensi kegagalan pekerjaan dan kehidupan sehari-hari) atau dari
pengaruh yang minimal menjadi tidak berpengaruh sama sekali(contohnya kondisi
kehidupan keluarga yang penuh ketegangan menjadi tidak ada ketegangan sama sekali).
Perbedaan antara kedua kelompok juga melaporkan hasil observasi dan dibandingkan
antara pengobatan yang direncanakan mendpatkan pembedahan ataupun yang tidak
(Gupta et al, 2013).
Kekuatan pada percobaan klinis ini yaitu terdiri dari besar sampel9yang lebih
ditekankan pada pengobatan perdaraha hebat karena menstruasi), desain penilitian yang
multicenter, kriteria insklusi pasien yang berasalkan dari populasi warga UK, minimnya
jumlah responden yang menghilang saat folowwup, dan penilaian terhadap oucome yang

didaptkan selama 2 tahun. Pada penelitian sebelumnya, penelitian hanya dilakuan selam 6
dan 12 bulan saja, Kemudian pada penenltian sebelumnya hanya focus pada pengrungan
jumlah darah menstruasi, namun tidak menggambrakan efek menorrhagia terhadap
kehidupan wanita secara jelas. Pada penelitian ini pengkuran outcome primer bersumber
dari laporan pasien, validitas psikomteri, dan skor MMAS. Skor ini lebih baik dalam
menggambrkan pengalamanseorang wanita terhadap kejadian menorrhagia. Penilaiian
kualitas hidupa pada peneltian ini agak mengrahkan ke persepsi mengani perdarhan
menstruasi yang hebat. Hal ini dijadikan sebagai alasan utama wanita memutuskan untuk
mencari pengobatan (Gupta et al, 2013).
Beberapa keterbatas penilitian ini sudah tercatat dengan baik. Jumlah pengobatan
medis alternative yang tersedia sebagai usaha untuk menbandingkan levonorgestrel-IUS
dengan pengobatan

lainnya. Bagaimanapu pengobatan alternative tersebut secara

representatif berlangsung di pelayanan kesehatan. Ditambah lagi dengan responden yang


mengubaha pengobatan yang dijalani, bagaimanapun perubahan pengobatan ini
diperkirakan menjadi hasil atas kurangnya estimasi atas keuntungan yang diperoleh.
Besarnya sensitivitas analisis pada penlitian ini telah ,mengubah kesimpulan. Meskipun
besrifat sebagai intervensi, pada percobaan klinis ini merepresntasikan ketersediaan
alternative pilihan obat pada pelayanan primer di UK. Selain itu, proses pemasukan alat
intrauteri tidak menjadi bagian pelayan kesehatan primer dan dalam beberapa keadaan
harus diknsultasikan pada seorang ginekologis (Gupta et al, 2013).
Peningkatan poin dari baseline skor rata-rata skor MMAS pada 6 bulan pad
kelompok yang mendapatakna pengobtan biasayang kemudian diteruskan dengan
followup selama 2 tahun, tidak bisa menjelaskna perubahan pemberian pengobatan, hal
ini dikarenakan peningkatan yang sama tercata ketika terjadi perubahan dari pengobatan

biasa ke pengobatan dengan levonorgestrel IUS yang diekskusikan dari analisis penlitian
ini. Tingginya jumlah responden yang mengubah pengobtannya dari pengobtan biasa ke
pengobatan dengan levonorgestrel, menggambarkan bahwa levonorgestrel-IUS lebih
bagus.Namun alaasan perubahan pengobatan dari pengobatan biasa, bisa juga terk=jadi
karena kurangnya konsultasi. Selama 2 tahun, 6% wanita pada kelompok levonorgeestrelIUS melakukan perubahan pengobatan dikarenakan kekurangefektifan, ketidak aturan,
dan perdarahan yang lebih lama. Hal ini semua merupakan alasan dalam pemberhentian
penggunaan levonorgestrel-IUS. Proporsi ini sesuai dengan proporsi wanita dalam
meberhentikan pengobatan yang akhirnya memilih tindakan bedah hosterektomi( 31%
adri 117 wanita) atau tindakan ablasi endometrial (28% dari 105 wanita setlah 2 tahun)
(Gupta et al, 2013).
Pada analisis sub kelompok levonorgestrel-IUS terlihat memilki efek atau
keuntungan yang kurang pada wanita dengan IMT sama atau kurang dari 25, dan lebih
baik pada wanita dengan IMT lebih dari 25. Sedangkan pada kelompok yang mendpatkan
pengobatan standard efeknya lebih bagus pada waita yang lebih kurus. Analisis ini adalah
satu dari sekian bnyak analisi sub kelompok dan seharusnya terinterpretasi juga dengan
penyebabnya. Hal ini bisa dijelaskna dalam peneltian ini dikarenakan adanya kesempatan
untuk menilai dan konfirmasi permintaan dari responden (Gupta et al, 2013).
Kami harap intervensi pembedahan pada kelompok yang menggunakan
levonorgestrel, namun kenyataany yang didapatkan hanya sedikitpada kedua kelompok
tersebut/padahal penemuan ini dapat menggambarkan suatu eligiilitas kriteria. Tapi pada
penelitian ini wanita yang memilki fibroid dan kelainan lainnya di eksklusikan (Gupta et
al, 2013).
Dapar disimpulkan bahwa pada peneltian ini diperluka perjalana penyakit
menorrhagia dari responden yang lebih lama. Hasil peneltian harusnya dinilai leboh dari

2 tahun, harusnya direncanaakan inetnsitas untuk menganalisi pengobatan selama 5 atau


10 tahun (Gupta et al, 2013).
Kesimpulannya, peniltian kami menunjukan bahwa diantara levonorgestrel-IUS
dan pengobatan yang biasa di berikan, dapat mengurangi efek

merugikan dari

menorrhagia pada kehidupan seorang wanita selama lebih dari 2 tahun. Namun,
levonorgestrel-IUS dapat dijadikan pilihan pertama karena efeknya yang lebih baik dalam
mengtasi perdarahan menstruasi terhadap kualiast hidup seorang wanita (Gupta et al,
2013).

BAB III
KESIMPULAN

Saat ini ada 3 jenis alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) yaitu Copper T 380 (Cu - T),
progestasert, dan AKDR yang mengandung LevonorgeStrel (LNg IUD). LNg IUD

lebih efektif dalam mencegah kehamilan dengan angka hampir sempurna yaitu 0,1%.
Levonorgrestel IUD merupakan alat kontrasepsi yang terbentuk dari alat kontrasepsi
hormonal dengan IUD yang berbentuk T (T-shaped) terbuat dari bahan plastik, panjangnya
32 mm dan mengandung 52 mg LNg, progestin, dan dapat mengeluarkan LNg 20

mcg/hari.
Menorrhagia dapat didefinisikan sebagai keluhan kehilangan darah menstruasi yang
banyak selama beberapa siklus menstruasi berturut-turut, pada wanita usia reproduksi, atau

lebih obyektif, total kehilangan darah haid lebih dari 80 ml per menstruasi
Progesteron adalah hormon yang dikeluarkan oleh sistem reproduksi wanita yang berfungsi
terutama untuk mengatur kondisi lapisan dalam (endometrium) rahim. Progesteron
diproduksi oleh ovarium, plasenta, dan kelenjar adrenal. Progestin adalah istilah digunakan
untuk menggambarkan progesteron dan hormon steroid sintetis dengan sifat seperti
progesteron, misalnya levonorgestrel progestogen. Progestin atau progestogen adalah
hormon sintetik progesteron. Progestogen memilik peran dalam penempelan sel telur pada
dinding rahim. Jika seltelur tidak dibuahi progesteron akan di sekresikan sampai beberapa

hari sebelum menstruasi, menyebabkan peluruhan dinding endometrium.


Pada beberapa literatur dan jurnal mengatakan bahwa levonorgestrel intrauterin system
(LNg IUD) dapat menyembuhkan menorrhagia, dikarenakan LNg IUD mengandung

progesteron dapat mengurangi perdarahan yang banyak


Menorrhagia merupakan suata permasalahan yang biasa terjadi di masyrakat namun

menurut data evidence, terapi menorrhagia masih terbatas.


Pengobatan yang biasa dan seringkali dilakukan pada menorrhagia adalah menggunakan

asam mefenamat, asam mefenamat, estrogen-progestreon atau pogestreon tunggal


Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan levonorgestrel-IUS lebih efektif
dalam mengurangi efek perdarahan hebat pada menorrhagia terhadap kualitas hidup wanita
daripa pengobbatan yang biasa dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA
Apgar BS , Kaufman AH, Nwogu UG, Md, Kittendorf A. 2007. Treatment Of Menorrhagia.
University Of Michigan Medical Center. American Family Physician. 75 ( 12) : 1813
-1819.
Cunningham, G.F et l. 2014. Obstetri William, edisi 24. Jakarta: EGC.
Clinical Practice Guidelines. 2004. Management Of Menorrhagia. Ministry Of Health
Malaysia; Academy Of Medicine Malaysia. Moh/P/Pak/95.04
Faculty of Sexual and Reproductive Healthcare. 2008. Progestogen-only Pills. Royal college
of obstetricians and gynecologist. P 1 - 19
Gupta J, Kai J, Middleton L, Helen Pattison L, Gray R, Daniels J. 2013. Levonorgestrel
Intrauterine System Versus Medical therapy For Menorrhagia. The New England Journa
L Of Medicine. 368 : 128 - 137.
Guyton, C. A. & Hall, J.E. 2008. Female Physiology Before Pregnancy and Female
Hormones. In: Textbook of Medical Physiology. 11 th ed. 1011- 1022.

Lee LK, Chen PCY, Lee KK, Kaur J. 2006. Menstruation among adolescent girls in Malaysia:
a cross-sectional school survey. Singapore Mededical Journal. 47 (10) : 869.
Mirena. 2014. Levonorgestrel-Releasing Intrauterine System. Highlights Of Prescribing
Information. NDA 21225 p 1 27.
Sherwood L. 2001. Sistem Reproduksi. Fisiologi Manusia dari sel ke Sistem Edisi 2. Jakarta:
EGC hlm 690 - 739.
Speroff.L., and Fritz, M.A. 2005. Regulation of the menstrual cycle. Clinical Gynecologi
Endocrinology and infertility. 7 th Ed. Lipincott Williams & Wilkins. : hlm 187 - 225.
Wiknjosastro H, Saifuddin AB, Rachimhadhi T. 2009. Haid dan siklusnya. Ilmu kandungan.
cetakan ke 7. Bina Pustaka Sarwono Praworohardjo. Jakarta : hlm 103 - 120.