Anda di halaman 1dari 42

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Kesehatan merupakan karunia tuhan yang sangat berharga dan merupakan
hak dasar manusia, serta menjadi salah satu dari tiga faktor utama selain faktor
pendidikan dan pendapatan yang menentukan indeks pembangunan sumber daya
manusia. Derajat kesehatan di Indonesia tiga dekade ini, telah mengalami
peningkatan yang bermakna, tetapi bila dibandingkan dengan negara-negara
tetangga, maka peningkatan tersebut masih terhitung rendah. Permasalahan utama
yang dihadapi adalah masih rendahnya kualitas kesehatan masyarakat yang
terlihat dengan masih tingginya Angka Kematian Bayi (AKB): 31 per 1000
kelahiran hidup (2010), Angka Kematian Ibu (AKI): 226 per 100.000 (2010) ,
kelahiran hidup dan Usia Harapan Hidup (UHH): 71,5 tahun (2010). (DepKes RI
2010/http://www.scribd.com/doc/44801993/Angka-Harapan-Hidup-Sebagai
Indikator Derajat-Kesehatan-Di-Indonesia. Di akses pada tanggal 4 November
2011 pada pukul 13.00 wib).
Dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, banyak hal
yang perlu diperhatikan. Salah satu diantaranya yang dianggap mempunyai
peranan yang cukup penting adalah penyelenggaraan pelayanan kesehatan.
Pelayanan bidang kesehatan merupakan bentuk konkret pelayanan publik, dan
mutlak dilaksanakan dengan baik oleh pemerintah. Dalam UUD 1945 pasal 34

16

Universitas Sumatera Utara

ayat 2 memberi amanat Agar manusia mengembangkan sistem jaminan sosial


bagi seluruh rakyat

dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak

mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan.


Hal ini juga sesuai dengan peraturan Undang-Undang No. 23 Tahun 1992
tentang Kesehatan. Agar penyelenggaraan pelayanan kesehatan dapat mencapai
tujuan yang diinginkan maka pelayanan harus memenuhi berbagai syarat
diantaranya; tersedia dan berkesinambungan, dapat diterima dan wajar, mudah
dicapai, mudah dijangkau, dan bermutu. Dengan ini semua akan memberikan
kepuasan yang berefek terhadap keinginan pasien untuk kembali kepada institusi
yang memberikan pelayanan kesehatan yang efektif tersebut. Pembangunan
kesehatan saat ini mempunyai visi pencapaian Indonesia Sehat 2010. Ada
beragam target yang diharapkaan bisa tercapai, diantaranya adalah pelayanan
kesehatan yang optimal di Puskesmas. Puskesmas merupakan salah satu sarana
dalam pemberian pelayanan kesehatan yang terdekat dengan masyarakat.
Pentingnya sarana pelayanan kesehatan diakibatkan karena kesehatan merupakan
aspek yang paling penting dan salah satu indikator dalam mengukur kesejahteraan
masyarakat di suatu daerah.
Selama ini pemerintah telah membangun Puskesmas dan jaringannya di
seluruh Indonesia. Puskesmas telah diperkenalkan di Indonesia sejak tahun 1968,
rata-rata setiap Kecamatan mempunyai dua Puskesmas, setiap tiga desa
mempunyai satu Puskesmas pembantu. Puskesmas pun telah menyiapkan
berbagai

upaya

kesehatan

yang

harus

dilaksanakan

sebagai

17

Universitas Sumatera Utara

pertanggungjawabannya ke Dinas Kesehatan. Puskesmas berada di bawah


pengawasan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, dengan wilayah pembinaannya
satu kecamatan. Jika kemudian dalam satu kecamatan itu ditemukan dua
puskesmas, maka wilayahnya dibawa berdasarkan daerah terdekatnya.
Akan tetapi yang masih menjadi kendala adalah peran puskesmas itu
sendiri apakah sudah optimal melaksanakan tugasnya dalam memberikan
pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Dalam sebuah berita di Medan saya
menemukan bahwa masyarakat dinilai masih enggan berobat ke Puskesmas, yang
dibuktikan dengan masih tingginya pasien yang memilih berobat ke rumah sakit.
Direktur RSU dr Pirngadi Medan, dr Sjahrial R Anas, mengatakan bahwa
peran puskesmas dalam memberikan pelayanan kesehatan masih perlu
dipertanyakan, karena masih banyak masyarakat yang datang berobat ke
rumah sakit. Padahal penyakit yang dideritanya termasuk penyakit ringan
yang juga dapat disembuhkan di puskesmas. Tambahnya, banyak alasan
masyarakat enggan berobat ke puskesmas, di antaranya dokter sering
terlambat datang atau tidak sembuhnya penyakit yang diderita masyarakat.
Inilah yang membuat pasien tidak mau berobat ke puskesmas dan lebih
memilih ke rumah sakit.(Jurnal Mukhlidah. Jumat, 31 Oktober 2009.
http://mukhlidah.multiply.com/journal/item/63/Meningkatkan_peran_puskes
mas_sebagai_primary_care_dalam_mencapai_Indonesia_Sehat_2010.diakse
s pada tanggal 5 November 2011 pukul 11.00 WIB).
Dari kutipan jurnal yang berjudul Meningkatkan peran puskesmas sebagai
primary care dalam mencapai Indonesia Sehat 2010

yang di tulis oleh

Mukhlidah tahun 2009 dapat kita lihat orang lebih memilih ke rumah sakit dengan
biaya mahal dari pada ke puskesmas. Melihat kenyataan yang terjadi di lapangan,
maka perlu ditinjau ulang peran puskesmas dalam memberikan pelayanan
kesehatan di masyarakat. Pembangunan Puskesmas akan semakin nyata ketika

18

Universitas Sumatera Utara

peran dalam memberikan pelayanan kesehatan dirasakan oleh semua kalangan


masyarakat di berbagai wilayah baik itu di perkotaan maupun di pedesaan.
Salah satu visi gubernur Sumatera Utara yakni rakyat tidak sakit. Hal ini
selaras dengan visi pencapaian Indonesia Sehat 2010. Dalam Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintah daerah
mengamatkan adanya urusan pemerintahan yang menjadi urusan wajib
pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota. Salah satu di antara urusan wajib
tersebut adalah urusan bidang kesehatan. Kabupaten Deli Serdang yang termasuk
dalam provinsi Sumatera Utara juga menjalankan urusan wajib tersebut. Salah
satunya melalui sarana kesehatan Puskesmas yang disediakan oleh pemerintah
kabupaten Deli Serdang.
Keberadaan Puskesmas yang akhir-akhir ini mulai kehilangan peran dalam
memberikan pelayanan kesehatan khususnya di kabupaten Deli Serdang
dikarenakan semakin berkurangnya kepercayaan masyarakat untuk berobat.
Puskesmas diharapkan mampu memberikan pelayanan kesehatan secara maksimal
kepada masyarakat terutama bagi masyarakat miskin. Apalagi sekarang banyak
peristiwa-peristiwa yang terjadi yang berkenaan tentang semakin buruknya
pelayanan kesehatan di Puskesmas. Selain itu sering ditemuinya berita-berita di
media massa yang berisi tentang keluhan masyarakat khususnya di desa di
kabupaten Deli Serdang. Berikut ini kutipan artikel tentang masalah pelayanan
puskesmas yang dimuat di Sumut Daily :
Niat warga untuk mengobati penyakitnya ke Pusat Kesehatan Masyarakat
(PUSKESMAS) kandas setelah Puskesmas desa di hamparan perak

19

Universitas Sumatera Utara

Kabupaten Deli Serdang.Tak satupun pegawai maupun tim pengobat


berada di Puskesmas tersebut. Dengan wajah kecewa,warga tersebut
meninggalkan Puskesmas, Jumat (25/06/2010). Seperti yang dialami salah
seorang warga pada sejumlah wartawan mengaku bernama Soleh. Bapak
tiga anak itu berniat untuk membawa salah satu putrinya untuk berobat ke
Puskesmas. Soleh berharap dengan berobat ke Puskesmas, biaya yang
harus dikeluarkannya tidaklah banyak. Dengan menggunakan jasa
angkutan umum, Soleh mendatangi Puskesmas yang dipimpin Dr Ulina.
Harapannya akan pengobatan murah sirna, dihalaman Puskesmas tak
satupun terlihat penjaga alias Satpam. Lebih lanjut Soleh masuk kedalam
Puskesmas. Didalam keadaannya lebih parah. "Sepi kali bang didalam
puskesmas. Dokter yang akan mengobati penyakit demam anakku tak ada.
Aku Tanya, banyak pegawai yang tak masuk. Untuk apa aku mengobati
anakku sama penjaga Puskesmas," sesal Soleh. Tak mau berlama-lama,
warga kurang mampu. tersebut akhirnya memilih untuk pulang
kekediamannya. Sambil menggendong putrinya yang masih berusia tiga
tahun, warga tersebut
pulang dengan mengenderai angkot.
(http://sumutdaily.com/index.php/sumut-today/84-agama/297-warga
kecewa-terhadap-pelayanan-puskesmas-.html. Diakses pada tanggal 5
September 2011 pukul 13.00 WIB)
Dari kutipan tersebut dapat kita lihat bahwa ada masalah mengenai
pelayanan dari pengelola Puskesmas di desa Kabupaten Deli Serdang yang dapat
menghambat pemberian pelayanan kesehatan kepada masyarakat dengan adanya
keluhan atau pengaduan dari masyarakat terhadap kondisi pelayanan di puskesmas
tersebut. Dalam mengatasi kondisi tersebut diharapkan Puskesmas mampu
memberikan pelayanan kesehatan secara maksimal kepada masyarakat terutama
bagi masyarakat miskin di desa. Dengan memiliki sikap bertindak cepat dan
tepat, berpihak kepada masyarakat, menegakkan kedisiplinan, menunjukkan
transparansi, dan mewujudkan akuntabilitasnya.
Masalah yang sama juga terjadi pada puskesmas desa Bandar Khalipah
yang berada di kecamatan Percut Sei Tuan. Kecamatan Percut Sei Tuan adalah
salah satu kecamatan di Deli Serdang. Kecamatan ini memiliki 18 desa dan 2

20

Universitas Sumatera Utara

kelurahan. Kecamatan ini memiliki sarana kesehatan yang salah satunya berada di
desa Bandar khalipah yaitu Puskesmas. Puskesmas Bandar Khalipah adalah
sebuah wadah kesehatan bagi masyarakat Bandar Khalipah. Puskesmas ini
memiliki wilayah kerja 7 desa dengan jumlah penduduk dari wilayah kerja itu
151.643 jiwa dengan rincian 77.198 berjenis kelamin laki-laki dan 74.445 berjenis
kelamin perempuan.
Bagi masyarakat Bandar Khalipah, Puskesmas adalah satu-satunya sarana
kesehatan atau tempat berobat yang disediakan pemerintah terdekat dan dengan
biaya terjangkau. Biaya berobat kerumah sakit terlalu mahal membuat puskesmas
menjadi sarana kesehatan yang diharapkan masyarakat. Puskesmas Bandar
Khalipah memegang peranan yang cukup penting dalam menjaga sekaligus
mengobati kesehatan masyarakat

Bandar

Khalipah. Pentingnya peranan

Puskesmas ini menuntut Puskesmas untuk memberi pelayanan yang lebih baik.
Paradigma Puskesmas sebagai tempat berobat yang seadanya perlu diganti dengan
sebuah paradigma baru. Puskesmas Bandar Khalipah sebagai satu-satunya fasilitas
kesehatan terdekat dituntut untuk memberikan pelayanan kesehatan yang mudah,
murah, cepat, tepat dan bermutu serta menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Seperti Puskesmas lainnya yang ada, Puskesmas Bandar Khalipah juga
memiliki masalahnya sendiri. Dari segi bangunan fisik, Puskesmas Bandar
Khalipah memang sudah cukup baik, bahkan untuk sebuah pelayanan rawat inap.
Tetapi, Peralatan kesehatan yang ada masih belum lengkap. Puskesmas induk
yang hanya satu saja sangat menyulitkan masyarakat yang tinggalnya jauh dari

21

Universitas Sumatera Utara

lokasi Puskesmas. Apalagi angkutan umum yang melewati Puskesmas itu sangat
sedikit membuat Puskesmas sulit dijangkau sebagian masyarakat.
Dari sudut pandang sumber daya manusia pelaku kesehatannya,
Puskesmas Bandar khalipah hanya memiliki beberapa dokter. Namun dokter
tersebut jarang ada di tempat. Dengan kata lain dokter yang ada tidak melayani
sesuai dengan jam kerja yang seharusnya, ditambah lagi pelayanan yang belum
maksimal seperti masih tampak adanya keluhan yang terjadi seperti perawat yang
kurang ramah dan petugas kesehatan yang masih lamban dalam menangani, masih
adanya pegawai nakal yang meminta uang minum untuk pegurusan surat-surat
serta ketidakdisiplinan pegawai seperti waktu datang dan pulang yang tidak jelas.
Hal ini jelas membuat pasien merasa kecewa.
Berdasarkan uraian di atas, penulis sadar kesehatan adalah sesuatu hal
yang penting dan harus di dukung dengan sebuah pelayanan yang baik pula,
karena itu penulis tertarik untuk meneliti masalah tersebut dengan judul
Efektivitas

Pelayanan

Kesehatan

di

Pusat

Kesehatan

Masyarakat

(Puskesmas) Desa Bandar Khalipah Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten


Deli Serdang.

I.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka
rumusan masalah dari penelitian ini adalah Bagaimana efektivitas pelayanan

22

Universitas Sumatera Utara

kesehatan di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Desa Bandar


Khalipah ?.

I.3 Tujuan Penelitian


Tujuan dengan dilaksanakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui
efektivitas pelayanan kesehatan di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Desa
Bandar Khalipah.

I.4 Manfaat Penelitian


Manfaat yang ingin diharapkan dari dilaksanakannya penelitian ini adalah:
a. Manfaat Ilmiah
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangan ilmiah dan
informasi tambahan bagi dunia pendidikan.
b. Manfaat Institusi
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai masukan bagi
pemerintah maupun pihak pengelola Puskesmas dalam rangka peningkatan
efektivitas pelayanan kesehatan sehingga kualitas pelayanan semakin baik untuk
ke depannya.
c. Manfaat Praktis
Penelitian ini sangat bermanfaat bagi peneliti dalam hal mengaplikasikan
ilmu dalam hal administrasi dan kebijakan di bidang kesehatan.

23

Universitas Sumatera Utara

I.5 Kerangka teori


Menurut Kerlinger dalam Singarimbun (1995: 37), teori merupakan
serangkaian

asumsi,

konsep,

konstruksi,

definisi

dan

proposisi

untuk

menerangkan suatu fenomena sosiak secara sistematis dengan cara merumuskan


hubungan antara konsep dan kerangka teori disusun sebagai landasan berfikir
untuk menunjukkan perspektif yang digunakan dalam memandang fenomena
sosial yang menjadi obyek penelitian.
Menurut Arikunto (2002: 92), Kerangka teori adalah bagian dari
penelitian, tempat peneliti memberikan penjelasan tentang hal-hal yang
berhubungan dengan variable pokok, sub variable atau pokok masalah yang ada
dalam penelitian.
Sebagai landasan berfikir dalam menyelesaikan atau memecahkan masalah
yang ada, perlu adanya pedoman teoritis yang dapat membantu dan sebagai bahan
referensi dalam penelitian. Kerangka teori diharapkan memberikan pemahaman
yang jelas dan tepat bagi peneliti dalam memahami masalah yang diteliti. Adapun
kerangka teori dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

I.5.1 Efektivitas
Terkadang banyak orang yang menyamakan makna efektivitas dengan
efisiensi, namun sebenarnya keduanya memiliki makna yang berbeda. Efektivitas
merupakan salah satu pencapaian yang ingin diraih oleh sebuah organisasi. Untuk
memperoleh teori efektivitas peneliti dapat menggunakan konsep-konsep dalam

24

Universitas Sumatera Utara

teori manajemen dan organisasi khususnya yang berkaitan dengan teori


efektivitas. Atmosoeprapto (2002 :139) menyatakan Efektivitas adalah melakukan
hal yang benar, sedangkan efisiensi adalah melakukan hal secara benar, atau
efektivitas adalah sejauh mana kita mencapai sasaran dan efisiensi adalah
bagaimana kita mencampur segala sumber daya secara cermat.
Menurut Stoner dalam Kurniawan (2005 :106) menekankan pentingnya
efektivitas organisasi dalam pencapaian tujuan-tujuan organisasi dan efektivitas
adalah kunci dari kesuksesan suatu organisasi. Efektivitas dalam kegiatan
organisasi dapat dirumuskan sebagai tingkat perwujudan sasaran yang
menunjukkan sejauh mana sasaran telah dicapai. Sumaryadi (2005:105)
berpendapat dalam bukunya bahwa organisasi dapat dikatakan efektif bila
organisasi tersebut dapat sepenuhnya mencapai sasaran yang telah ditetapkan.
Efektivitas umumnya dipandang sebagai tingkat pencapaian tujuan operatif dan
operasional.
Menurut Silalahi (2002:10), efektivitas menunjuk pada keberhasilan
pencapaian sasaran-sasaran organisasi dan efektivitas adalah kunci dari
kesuksesan suatu organisasi. Sedangkan Tangkilisan (2005:139), efektivitas
organisasi adalah keseimbangan atau pendekatan secara optimal pada pencapaian
tujuan, kemampuan dan pemanfaatan tenaga manusia.
Ditinjau dari aspek ketepatan waktu maka menurut Siagian (2002 :171),
efektivitas adalah tercapainya berbagai sasaran yang telah ditentukan sebelumnya,

25

Universitas Sumatera Utara

tepat waktunya dengan menggunakan sumber-sumber tertentu yang sudah


dialokasikan untuk melakukan berbagai kegiatan.
Efektivitas memiliki tiga tingkatan sebagaimana yang didasarkan oleh
David J. Lawless dalam Gibson, Ivancevich dan Donnely (1997: 25) antara lain :
1.

Efektivitas Individu
Efektivitas Individu didasarkan pada pandangan dari segi individu yang
menekankan pada hasil karya karyawan atau anggota dari organisasi.

2.

Efektivitas kelompok
Adanya pandangan bahwa pada kenyataannya individu saling bekerja sama
dalam kelompok. Jadi efektivitas kelompok merupakan Jumlah kontribusi
dari semua anggota kelompoknya;

3.

Efektivitas Organisasi
Efektivitas organisasi terdiri dari efektivitas individu dan kelompok. Melalui
pengaruh sinergitas, organisasi mampu mendapatkan hasil karya yang lebih
tinggi tingkatannya daripada jumlah hasil karya tiap-tiap bagiannya.

Selain itu, Gibson, Ivancevich dan Donnely (1997 :31) memberikan


batasan dalam kriteria efektivitas organisasi melalui pendekatan teori sistem
antara lain:
1.

Produksi
Produksi merupakan kemampuan organisasi untuk memproduksi jumlah dan
mutu output sesuai dengan permintaan lingkungan.

26

Universitas Sumatera Utara

2.

Efisiensi
Konsep efisiensi didefinisikan sebagai angka perbandingan antara output
dengan input. Ukuran efisiensi harus dinyatakan dalam perbandingan antara
keuntungan dan biaya atau dengan waktu atau dengan output.

3.

Kepuasan
Kepuasan menunjukkan sampai di mana organisasi memenuhi kebutuhan
para karyawan dan pengguna.

4.

Adaptasi
Kemampuan adaptasi adalah sampai seberapa jauh organisasi dapat
menenggapi perubahan ekstern dan intern.

5.

Perkembangan
Organisasi harus dapat berkembang dalam organisasi itu sendiri untuk
memperluas kemampuannya untuk hidup terus dalam jangka panjang.

6.

Hidup terus
Organisasi harus dapat hidup terus dalam jangka waktu yang panjang.

Efektivitas merupakan unsur pokok aktivitas untuk mencapai tujuan atau


sasaran yang telah di tentukan sebelumnya. Dengan kata lain segala sesuatu
dikatakan efektif apabila tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya
tercapai.
Maka dapat disimpulkan bahwa konsep tingkat efektivitas organisasi
menunjuk pada tingkat sejauh organisasi melaksanakan kegiatan atau fungsi-

27

Universitas Sumatera Utara

fungsi sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai dengan menggunakan
secara optimal alat-alat dan sumber-sumber yang ada, ketepatan waktu dalam
melaksanakan tugas serta kemampuan untuk melaksanakan tugas tersebut yang
dapat dilihat dari kuanlitas maupun kuantitas dan dapat bermanfaat bagi anggotaanggota yang ada di sekitarnya.
Dengan membaca uraian di atas maka penulis menyimpulkan bahwa
efektivitas berhubungan dengan empat hal yaitu :

a. Pencapaian tujuan yang telah disepakati, sebuah kegiatan yang


dikatakan efektif apabila tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai.
b. Penyelesaian pekerjaan tepat waktu, sebuah pekerjaan dikatakan
efektif apabila pekerjaan tersebut dilakukan secara tepat waktu.
c. Kemampuan sumber daya manusia untuk melaksananan tugas ataupun
pekerjaannya.
d. Adanya manfaat yang nyata yang dirasakan oleh masyarakat yang ada
di sekitarnya.

Masih soal effektivitas, ada beberapa pendekatan terhadap efektivitas.


Pendekatan- pendekatan itu adalah :

1. Pendekatan sasaran (Goal Approach)

Pendekatan ini mencoba mengukur sejauh mana suatu lembaga berhasil


merealisasikan suatu lembaga yang hendak dicapai. Pendekatan sasaran

28

Universitas Sumatera Utara

dalam pengukuran efektivitas dimulai dengan menidentifikasi sasaran


orgainisasi dalam pencapaian sasaran tersebut.

2. Pendekatan Sumber (System Resources Approach)

Pendekatan sumber mengukur efektivitas melalui keberhasilan suatu


lembaga

dalam

mendapatkan

berbagai

macam

sumber

yang

dibutuhkannya. Suatu lembaga harus dapat memperoleh berbagai amcam


sumber dan juga memelihara keadaan dan sistem agar dapat menjadi
efektif.

3. Pendekatan Proses (Internal Proses Approach)

Pendekatan proses menganggap efektivitas sebagai efisiensi dan kondisi


kesehatan dari suatu lembaga internal. Pada lembaga yang efektif, proses
internal berjalan dengan lancar dimana kegiatan bagian-bagian yanga da
berjalan secara terkoordinasi. Pendekatan ini tidak memperhatikan
lingkungan melainkan memusatkan perhatian pada kegiatan yang
dilakuakan terhadap sumber-sumber yang dimiliki lembaga, yang
menggambarkan tingkat efisiensi serta kesehatan lembaga.

29

Universitas Sumatera Utara

I.5.2 Pelayanan
I.5.2.1 Definisi Pelayanan
Seperti yang telah dijelaskan diatas pelayanan merupakan salah satu tugas
pokok pemerintah. Secara umum pelayanan dapat diartikan dengan melakukan
perbuatssan yang hasilnya ditujukan untuk kepentingan orang lain, baik
perorangan, maupun kelompok atau masyarakat. Menurut Keputusan Menteri
Negara Aparatur Negara No. 63 Tahun 2003, disebutkan bahwa pelayanan adalah
Segala bentuk kegiatan pelayanan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah di
pusat, di daerah, dan di lingkungan badan usaha milik negara /daerah dalam
bentuk barang atau jasa dalam rangka pemenuhan kebutuhan masyarakat maupun
dalam rangka pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Menurut Gronroos yang dikutip dari Ratminto (2005: 2), pelayanan adalah
suatu aktivitas atau serangkaian aktivitas yang bersifat tidak kasat mata (tidak
dapat diraba) yang terjadi sebagai akibat adanya interaksi antar konsumen dengan
karyawan atau hal-hal lain yang disediakan oleh organisasi pemberi pelayanan
yang dimaksudnya untuk memecahkan untuk memecahkan permasalahan
konsumen atau pelanggan.
Moenir (2000: 27) berpendapat pelayanan hakikatnya adalah serangkaian
kegiatan, karena itu ia merupakan proses, sebagai proses pelayanan berlangsung
secara rutin dan berkesinambungan meliputi seluruh kehidupan orang dalam
masyarakat. Menurut Lijan Poltak (2006: 5), Pelayanan adalah setiap kegiatan

30

Universitas Sumatera Utara

yang menguntungkan dalam suatu kumpulan atau kesatuan ,dan menawarkan


kepuasan meskipun hasilnya tidak terkait pada suatu produk secara fisik.
Menurut Paimin (2007: 164), Pelayanan adalah serangkaian kegiatan suatu
proses pemenuhan kebutuhan orang lain secara lebih memuaskan berupa produk
jasa dengan sejumlah ciri seperti tidak terwujud ,cepat hilang, lebih dapat
dirasakan daripada memilki, dan pelanggan lebih dapat berpartisispasi aktif dalam
proses mengkonsumsi jasa tersebut.
Berdasarkan uraian diatas, maka pelayanan dapat disimpulkan sebagai
kegiatan yang dilakukan suatu oraganisasi yang ditujukan untuk konsumen atau
masyarakat umum yang berbentuk jasa untuk memenuhi kebutuhan.
Ada pun dua bagian konsep pelayanan yang ada di Indonesia yaitu :
1. Pemerintah memberi pelayanan secara langsung melalui dinas daerah.
Pada kategori ini kebijakan yang harus dilakukan guna mengoptimalkan
pelayanan pada masyarakat adalah unit dinas di daerah agar lebih mampu
memudahkan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai
dengan bidang tugasnya.
2. Pemerintah menyerahkan fungsi pelayanan kepada masyarakat atau
swasta. Hal ini dilakukan karena berbagai keterbatasan yang dimilikinya.
Pemerintah berfungsi mendorong peran serta masyarakat dan swasta
dalam memenuhi tuntutan kebutuhan masyarakat. Pemerintah berperan
sebagai fasilitator dan pengawas terhadap fungsi pelayanaan yang telah
diberikan.

31

Universitas Sumatera Utara

I.5.2.2 Fungsi Pelayanan

Pelayanan memiliki beberapa fungsi yang diberikan oleh pemerintah.


Fungsi tersebut dibagi menjadi tiga kelompok yaitu :

1.

Fungsi pelayanan masyarakat (Publik Service Functions)

a. Pendidikan
b. Kesehatan Masyarakat
c. Kesehatan Lingkungan
d. Penataan Jaringan Jalan dan Taman
e. Penyediaan Air Bersih

2. Fungsi Pembangunan (Development Functions)

a. Perencanaan Pembangunan (Fisik, Sosial Ekonomi, Sosial


Budaya)
b. Kebijakan Pengembangan Perekonomian sesuai dengan potensi
daerah (kerajinan tangan, pariwisata, perdagangan, industri)
untuk meningkatkan pendapatan dan mengurangi pengangguran.
c. Mengatur Perizinan, memfasilitasi hubungan dengan berbagai
pihak dalam rangka pengembangan daerah secara ekonomi
maupun fisik.
d. Mendorong Partisipasi Masyarakat, secara langsung melalui
Lembaga Swadaya Masyarakat.

32

Universitas Sumatera Utara

3. Fungsi Ketertiban dan Ketentraman (Prospective Functions)


a. Penciptaan ketertiban dan ketentraman
b. Perlindungan terhadap bencana alam
c. Perlindungan terhadap kebakaran
I.5.3 Pelayanan publik
I.5.3.1 Definisi Pelayanan Publik

Pelayanan publik menjadi fokus studi disiplin ilmu administrasi publik


Indonesia, masih menjadi persoalan yang perlu memperoleh perhatian dan
penyelesaian yang komprehensif. Pelayanan yang diberikan oleh pemerintah
kepada rakyat terus mengalami pembaruan, baik dari sisi paradigma maupun
format pelayanan seiring dengan meningkatnya tuntutan masyarakat dan
perubahan di dalam pemerintah itu sendiri. Meskipun demikian, pembaruan
dilihat dari dua sisi tersebut belumlah memuaskan, bahkan masyarakat masih
diposisikan sebagai pihak yang tidak berdaya dan termarginalisasikan dalam
kerangka pelayanan.
Pelayanan publik merupakan segala kegiatan dalam rangka pemenuhan
kebutuhan dasar sesuai dengan hak-hak dasar setiap warga Negara dan penduduk
atas suatu barang, jasa dan atau pelayanan administrasi yang disediakan oleh
penyelenggara pelayanan yang terkait dengan kepentingan publik.
Menurut Undang-Undang No. 25 tahun 2009, pelayanan publik adalah
kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan
sesuai dengan peratuaran perundang-undangan bagi setiap warga Negara dan

33

Universitas Sumatera Utara

penduduk atas barang, jasa dan atau pelayanan administrative yang disediakan
oleh penyelenggara peleyanan publik.
Menurut Ratminto (2005:5), Pelayanan publik adalah segala bentuk
pelayanan, baik dalam bentuk barang publik maupun jasa publik yang pada
prinsipnya menjadi tangguang jawab dan dilaksanakan oleh instansi pemerintah di
pusat, di daerah, dan di lingkungan Badan Usaha Milik Negara atau Badan Usaha
Milik Daerah, dalam rangka upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat maupun
dalam rangka pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Sementara menurut Kurniawan (2005: 4), Pelayanan publik adalah
pemberian layanan (melayani) keperluan orang atau masyarakat yang mempunyai
kepentingan pada organisasi itu sesuai dengan aturan pokok dan tata cara yang
telah ditetapkan.
Berdasarkan beberapa definisi diatas, maka dapat ditarik kesimpulan
bahwa pelayanan publik adalah keseluruhan pelayanan yang dilaksanakan oleh
aparatur pemerintah kepada publik didalam suatu organisasi atau instansi untuk
memenuhi kebutuhan penerima pelayanan publik/ masyarakat.
Ruang lingkup pelayanan publik menurut Undang-Undang Nomor 25
tahun 2009, Pelayanan Publik meliputi pelayanan barang publik dan jasa publik
serta pelayanan administratif yang diatur dalam peraturan perundang-undangan.
Dalam ruang lingkup tersebut, termasuk pendidikan, pengajaran, pekerjaan dan
usaha, tempat tinggal, komunikasi dan informasi, lingkungan hidup, kesehatan,

34

Universitas Sumatera Utara

jaminan sosial, energi, perbankan, perhubungan, sumber daya alam, pariwisata,


dan sektor strategis lainnya.
Adapun penyelenggara pelayanan publik adalah lembaga dan petugas
pelayanan publik baik pemerintah daerah maupun Badan Usaha Milik daerah
yang menyelenggarakan pelayanan publik. Sedangkan penerima pelayanan publik
adalah orang perorangan dan atau kelompok orang dan atau badan hukum yang
memiliki hak, dan kewajiban terhadap suatu pelayanan publik (Rohman, Ahmad
ainur. 2008: 3).
I.5.3.2 Bentuk-bentuk pelayanan publik
Pemerintah

merupakan

pihak

yang

memberikan

pelayanan

bagi

masyarakat. Adapun didalam pelaksanaannya pelayanan ini terdiri dari beberapa


bentuk. Menurut Moenir (2010: 190), bentuk pelayanan itu terdiri dari :
1. Pelayanan lisan
Pelayanan dengan lisan dilakukan oleh petugas-petugas dibidang
hubungan masyarakat, dibidang layanan informasi dan di bidang-bidang lain yang
tugasnya memberikan penjelasan atau keterangan kepada siapapun yang
memerlukan.
2. Pelayanan berbentuk tulisan
Ini merupakan jenis pelayanan dengan memberikan penjelasan melalui
tulisan di dalam pengelolahan masalah masyarakat. Pelayanan dalam bentuk
tulisan ini terdiri dari dua jenis yakni:

35

Universitas Sumatera Utara

a. Pelayanan yang berupa petunjuk, informasi dan yang sejenis ditujukan


kepada orang-orang yang berkepentingan agar memudahkan mereka dalam
berurusan dengan institusi atau lembaga.
b. Pelayanan yang berupa reaksi tertulis atas permohonan, laporan, keluhan,
pemberian/penyerahan, pemberitahuan dan lain sebagainya.

3. Pelayanan berbentuk perbuatan


Dalam kenyataan sehari-hari jenis layanan ini memang tidak terhindar dari
layanan lisan , jadi antara layanan perbuatan dan layanan lisan sering bergabung.
Hal ini disebabkan karena hubungan lisan paling banyak dilakukan dalam
hubungan pelayanan secara umum. Hanya titik berat terletak pada perbuatan itu
sendiri yang ditunggu oleh orang yang berkepentingan. Jadi tujuan utama yang
berkepentingan ialah mendapatkan pelayanan dalam bentuk perbuatan atau hasil
perbuatan, bukan hanya sekedar penjelasan dan kesanggupan secara lisan. Disini
faktor kecepatan dalam pelayanan menjadi dambaan setiap orang, disertai dengan
kualitas hasil yang memadai.

I.5.3.3 Azas pelayanan publik


Untuk dapat memberikan pelayanan yang memuaskan bagi pengguan jasa,
penyelenggara pelayanan harus memenuhi azas-azas pelayanan sebagai berikut
(Ratminto, 2005: 19) :
a. Transparansi

36

Universitas Sumatera Utara

Bersifat terbuka, mudah dan dapat diakses oleh semua pihak yang membutuhkan
dan disediakan secara memadai serta mudah dimengerti.
b. Akuntabilitas
Dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
c. Kondisional
Sesuai dengan kondisi dan kemampuan pemberi dan penerima pelayanan dengan
tetap berpegang teguh pada prinsip efisiensi dan efektivitas.
d. Partisipatif
Mendorong peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan public
dengan memperhatikan aspirasi, kebutuhan, dan harapan masyarakat.
e.Kesamaan Hak
Tidak diskriminatif dalam arti tidak membeda-bedakan suku, ras, agama,
golongan, gender, dan status ekonomi.
f. Keseimbangan hak dan kewajiban
Pemberi dan penerima pelayanan public harus memenuhi hak dan kewajiban
masing-masing pihak.
Lembaga administrasi Negara membuat beberapa kriteria pelayanan publik
yang baik, antara lain meliputi, kesederhanaan, kejelasan dan kepastian, kemauan
ketebukaan, efisiensi, ekonomis, dan keadilan merata, ketepatan waktu serta
kriteria kuantitatif.

37

Universitas Sumatera Utara

I.5.3.4 Prinsip-prinsip pelayanan publik


Berdasarkan keputusan menteri pendayagunaan aparatur Negara nomor 63
tahun 2003, dijelaskan bahwa dalam menyelenggarakan pelayanan harus
memenuhi beberapa prinsip yaitu:
1. Kesederhanaan , prosedur /tata cara pelayanan diselenggarakan secara mudah,
cepat , tidak berbelit-belit, mudah dipahami dan mudah dilaksanakan.
2. Kejelasan mencakup beberapa hal antara lain :
a. Persyaratan teknis dan administrasi pelayanan umum.
b. Unit kerja atau pejabat yang berwenang dan bertangguang jawab dalam
memberikan

pelayanan dan penyelesaian keluhan/persoalan/sengketa

dalam pelaksanaan pelayanan publik.


c. Rincian biaya pelayanan dan tata cara pembayaran.
3. Kepastian waktu. Pelaksanaan pelayanan publik dapat diselesaikan dalam kurun
waktu yang telah ditentukan.
4. Akurasi. Produk pelayanan publik diterima dengan benar, tepat dan sah.
5. Rasa aman. Proses dan produk pelayanan publik memberikan rasa aman dan
kepastian hukum.
6. Tanggung jawab. Pimpinan penyelenggara pelayanan publik atau pejabat yang
ditunjuk bertangguang jawab atas penyelenggaraan pelayanan dan penyelesaian
keluahan atau persoalan dalam pelaksanaan pelayanan publik.

38

Universitas Sumatera Utara

7. Kelengkapan sarana dan prasarana. Tersedianya sarana dan prasarana

kerja,

peralatan kerja dan pendukung lainnya yang memadai termasuk penyediaan


sarana teknologi telekomunikasi dan informatika.
8. Kemudahan akses. Tempat dan lokasi serta sarana prasarana kerja yang
memadai dan mudah dijangkau oleh masyarakat, dan dapat memanfaatkan
teknologi telematika.
9. Kedisiplinan, kesopanan dan keramahan. Pemberi layanan harus bersikap
disiplin, sopan, dan santun, ramah serta memberikan pelayanan yang ikhlas.
10. Kenyamanan. Lingkungan pelayanan harus tertib, disediakan ruang tunggu
yang nyaman , bersih, rapi, lingkungan yang indah, sehat serta dilengkapi
dengan fasilitas pendukung pelayanan, seperti parker, toilet, tempat ibadah,
dan lain-lain.

I.5.4 Pelayanan Kesehatan


I.5.4.1 Definisi Pelayanan Kesehatan
Sebelum kita membahas mengenai pelayanan kesehatan terlebih dahulu
kita harus mengetahui definisi dari kesehatan. Kesehatan berdasarkan UndangUndang No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan pasal 1 ayat 1 didefinisikan
sebagai Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang
memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Jadi
pengertian kesehatan cakupannya sangat luas, mencakup sehat fisik maupun non
fisik (jiwa, sosial, ekonomi). Sedangkan upaya kesehatan adalah setiap kegiatan

39

Universitas Sumatera Utara

untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah


dan atau masyarakat.
Dalam pasal 1 juga tertuang definisi jaminan pemeliharaan kesehatan
masyarakat adalah

suatu cara penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan yang

paripurna berdasarkan asas usaha bersama dan kekeluargaan, berkesinambungan


dan dengan mutu yang terjamin serta pembiayaan yang dilaksanakan secara
praupaya. Dalam pasal 3 menjelaskan bahwa pembangunan kesehatan bertujuan
untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap
orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Pasal 8
menjelaskan bahwa pemerintah bertugas menggerakkan peran serta masyarakat
dalam penyelenggaraan dan pembiayaan

kesehatan, dengan memperhatikan

fungsi sosial sehingga pelayanan kesehatan bagi masyarakat kurang mampu tetap
terjamin.
Menurut Sutadi (2005 :10), Pelayanan kesehatan merupakan komoditi
yang unik dan khusus, tidak dapat disamakan dengan komoditi lain karena
pelayanan yang diberikan berupa jasa, sehingga sulit untuk mencapai kepuasan
pelanggan. Dalam pengertian ini, pelayanan kesehatan disamping sebagai suatu
usaha untuk memperbaiki kesejahteraan masyarakat, sekaligus juga dalam rangka
usaha pembinaan, pengembangan pemanfaatan sumber daya manusia.
Maka Pelayanan kesehatan adalah setiap upaya yang diselenggarakan secara
sendiri atau secara bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara,

40

Universitas Sumatera Utara

meningkatkan kesehatan,

mencegah dan

menyembuhkan penyakit

serta

memulihkan kesehatan perorangan, keluarga, kelompok, dan ataupun masyarakat.


Berdasarkan rumusan pengertian di atas, dapat dipahami bahwa bentuk dan
jenis pelayanan kesehatan tergantung dari beberapa faktor yaitu:
1. Pengorganisasian

pelayanan;

pelayanan

kesehatan

dapat

dilaksanakan secara sendiri atau bersama-sama sebagai anggota


dalam suatu organisasi.
2. Tujuan atau ruang lingkup kegiatan; pencegahan penyakit,
memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan, penyembuhan/
pengobatan dan pemulihan kesehatan.
3. Sasaran

pelayanan;

perorangan,

keluarga,

kelompok,

dan

masyarakat.
Pelayanan kesehatan memilik tiga fungsi yang saling berkaitan, saling
berpengaruh dan saling bergantungan , yakni fungsi sosial (fungsi untuk
memenuhi harapan dan kebutuhan masyarakat pengguna pelayanan kesehatan),
fungsi teknis kesehatan (fungsi untuk memenuhi harapan dan kebutuhan
masyarakat pemberi pelayanan kesehatan), dan fungsi ekonomi (fungsi untuk
memenuhi harapan dan kebutuhan institusi pelayanan kesehatan). Ketiga fungsi
tersebut ditanggung jawab oleh tiga pilar utama pelayanan kesehatan yaitu,
masyarakat (yang dalam prakteknya dilaksanakan bersama antara pemerintah dan
masyarakat), tenaga teknis kesehatan ( yang dilaksanakan oleh tenaga professional

41

Universitas Sumatera Utara

kesehatan),

dan

tenaga

administrasi/manajemen

kesehatan

(manajemen/administrator kesehatan).

I.5.4.2 Sasaran pelayanan kesehatan


Menurut Hodgetts dan Cascio dalam Azwar (1996 : 36) , Pelayanan
kesehatan dapat dibagi menjadi dua bagian utama jika dilihat berdasarkan
sasarannya :
1. Pelayaanan kesehatan personal (Personal health services) maksudnya sasaran
pelayanan kesehatan ini adalah untuk pribadi atau perorangan.
2. Pelayanan kesehatan lingkungan (Environmental health services) yaitu sasaran
pelayanan kesehatan ini adalah lingkungan, kelompok, atau masyarakat.

I.5.4.3 Syarat pokok pelayanan kesehatan


Pelayanan kesehatan yang baik memiliki berbagai persyaratan pokok.
Syarat pokok yang dimaksud yaitu sebagai berikut :
1. Tersedia dan berkesinambungan
Yaitu syarat pokok pertama pelayanan kesehatan yang baik adalah
pelayanan kesehtaan tersebut harus tersedia di masyarakat serta bersifat
berkesinambungan. Artinya semua jenis pelayanan kesehatan yang dibutuhkan
oleh masyarakat tidak sulit ditemukan serta keberadaannya dalam masyarakat
selalu ada ketika dibutuhkan.
2. Dapat diterima dan wajar

42

Universitas Sumatera Utara

Pelayanan kesehatan tersebut tidak bertentangan dengan keyakinan dan


kepercayaan masyarakat. Pelayanan kesehatan yang bertentangan dengan adapt
istiadat, kebudayaan, keyakakinan, dan kepercayaan masyarakat, serta bersifat
tidak wajar bukanlah suatu pelayanan kesehatan yang baik.
3. Mudah dicapai
Lokasi yang mudah dijangkau oleh masyarakat. Dengan demikian maka
pengaturan distribusi sarana kesehatan menjadi sangat penting, pelayanan
kesehatan yang terlalu terkonsentrasi pada perkotaan saja dan tidak ditemukan di
daerah pedesaaan bukanlah pelayanan kesehatan yang baik.
4. Mudah dijangkau
Dapat dilihat dari segi biaya, untuk dapat mewujudkan keadaan yang
seperti ini harus diupayakan biaya pelayanan kesehatan yangb sesuai dengan
kemempuan ekonomi masyarakat. Pelayanan kesehatan yang mahal dan hanya
bisa dijangkau oleh sebagian masyarakat bukanlah pelayanan kesehatan yang
baik.
5. Bermutu
Maksudnya menunjuk pada tingkat kesempurnaan pelayanan kesehatan
yang diselenggarakan, yang di satu pihak dapat memuaskan para pemakai jasa
pelayanan. Dan dipihak lain tata cara penyelenggaraan sesuai kode etik serta
standar yang telah ditetapkan.

43

Universitas Sumatera Utara

I.5.4.4 Stratifikasi pelayanan kesehatan


Menurut Azwar (1996 :41 ) dalam bukunya yang berjudul Menjaga
Mutu Pelayanan Kesehatan , Staratifikasi pelayanan kesehatan yang dianut
setiap Negara tidaklah sama, namun secara umum berbagai strata ini dapat
dikelompokkan menjadi tiga macam yaitu :
1. Pelayanan kesehatan tingkat pertama (primary health services)
Pelayanan kesehatan tingkat pertama merupakan pelayanan kesehatan
yang bersifat pokok, yang sangat dibutuhkan oleh sebagian besar masyarakat serta
mempunyai nilai strategis untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
Pada umumnya pelayanan kesehatan tingkat pertama ini bersifat pelayanan rawat
jalan (ambulatory/out patient services).
2. Pelayanan kesehatan tingkat kedua
Pelayanan kesehatan tingkat kedua adalah pelayanan yang lebih lanjut,
telah bersifat rawat inap (in patient services) dan untuk menyelenggarakannya
telah dibutuhkan tenaga spesialis.
3. Pelayanan kesehatan tingkat ketiga
Pelayanan kesehatan tingkat ketiga adalah pelayanan kesehatan yang
bersifat lebih komplek dan umumnya diselenggarakan oleh tenaga-tenaga
subspesialis.
I.5.4.5 Tujuan pelayanan kesehatan
Tujuan pelayanan kesehatan sesuai dengan visi dan misi pembangunan
kesehatan yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Visi

44

Universitas Sumatera Utara

pembangunan kesehatan Indonesia yaitu :gambaran masyarakat Indonesia yang


dicapai melalui pembangunan kesehatan adalah masyarakat,bangsa, dan Negara
yang ditandai oleh penduduknya hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku
sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pola kesehatan yang bermutu
secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya
diseluruh wilayah republik Indonesia( DepKes RI ).
Visi kesehatan Indonesia dilaksanakan melalui misi yang juga ditetapkan
oleh Departemen Kesehatan Reepublik Indonesia. Misi pembangunan kesehatan
Republik Indonesia adalah sebagai berikut :
a. Menggerakkan pembangunan kesehatan berwawasan kesehatan
Para

penanggung

jawab

program pembangunan

harus

memasukkan

pertimbangan kesehatan didalam semua kebijakan pembangunannya. Program


yang tidak berkontribusi positif terhadap kesehatan diharapkan untuk tidak
dilaksanakan.
b. Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup mendiri
Kesehatan merupakan tangguang jawab individu, masyarakat, pemerintah dan
swata, itu artinya kesehatan bukan hanya tanggung jawab pemerintah ,
masyarakat juga harus mandiri menjaga kesehatannya sendiri.
c. Memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu,merata, dan
terjangkau.

45

Universitas Sumatera Utara

d. Menjangkau dan meningkatkan kesehatan individu, keluarga, dan masyarakat


beserta

lingkungan

tanpa

meninggalkan

upaya

penyembuhan

penyakit.(DepKes RI)

I.5.5 Pelayanan Kesehatan di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas)


I.5.5.1 Definsi Puskesmas
Pusat Kesehatan Masyarakat (PUSKESMAS) merupakan sebuah wadah
kesehatan yang lahir untuk menjawab semua masalah pelayanan kesehatan yang
ada. Puskesmas adalah unit fungsional pelayanan kesehatan terdepan sebaga unit
pelaksaan teknis dinas kesehatan kota atau kabupaten yang melaksanakan upaya
penyuluhan, pencegahan, dan penanganan kasus-kasus penyakit di wilayah
kerjanya secara terpadu dan terkoordinasi. Definisi Puskesmas berdasarkan
Kepmenkes No 128 Tahun 2004 tentang Kebijakan Dasar Puskesmas adalah unit
pelaksana teknis (UPT) dinas kesehatan kabupaten/kota yang bertanggungjawab
menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja UPT tugasnya
adalah menyelenggarakan sebagian tugas teknis Dinas Kesehatan.
Puskesmas hadir sebagai upaya untuk memberikan pelayanan kesehatan
yang memadai dan memiliki jangkauan luas bagi masyarakat. Tujuan umum
pelayanan kesehatan melalui puskesmas adalah untuk terselenggaranya upaya
kesehatan masyarakat yang bermutu, merata, terjangkau, dan peran serta
masyarakat.

46

Universitas Sumatera Utara

Menurut KepMen kesehatan tersebut, Dalam menjalankan tugasnya


Puskesmas memiliki beberapa usaha pokok tentang Kebutuhan Dasar Puskesmas,
dimana beban pokok Puskesmas dikurangi dari 18 menjadi 6 yaitu :
1. Kesehatan Ibu dan Anak serta KB
2. Perbaikan Gizi Masyarakat
3. Kesehatan Lingkungan
4. Pemberantasan Penyakit Menular
5. Promosi Kesehatan
6. Pengobatan
Dalam menciptakan efektifitas pegawai harus juga memberikan pelayanan
yang baik bagi masyarakat. Menurut Putu Sudayasa (2009), Ada lima nilai dasar
dalam aspek pelayanan kesehatan yang sebaiknya selalu dijunjung tinggi oleh
para pegawai dan aparat kesehatan, dalam upaya memberdayakan masyarakat
untuk hidup bersih dan sehat. Lima nilai dasar tersebut adalah:

1.

Bertindak Cepat dan Tepat

Cepat mengambil keputusan dalam memberikan pelayanan atau tindakan


kesehatan, terhadap kasus/masalah yang bisa bersifat mendadak (emergency)
maupun mendesak (urgency). Tepat dalam melaksanakan proses pelayanan
kesehatan sesuai prosedur tetap (protap) atau standar operasional prosedural
(SOP) yang telah ditentukan.

2.

Berpihak Kepada Masyarakat

47

Universitas Sumatera Utara

Masyarakat sebagai subyek pelayanan, berhak menentukan jenis pelayanan


kesehatan yang terbaik sesuai masalah yang dihadapinya. Masyarakat sebagai
obyek pelayanan, wajib diberikan pelayanan kesehatan yang bermutu agar
mencapai derajat kesehatan yang optimal.

3.

Meneggakkan Kedisiplinan:

Disiplin kerja adalah menegakkan semangat kerja dalam memberikan


pelayanan yang terbaik kepada masyarakat atau sasaran pelayanaan. Disiplin
Administrasi adalah melakukan pencatatan dan pelaporan hasil kegiatan
pelayanan secara tertib, teratur, terarah, terbuka dan terukur.

4.

Menunjukkan Transparansi :

Menunjukkan keterbukaan pelayanan, dengan aturan kerja yang jelas,


ringkas dan tuntas, sehingga bisa dipahami oleh sasaran pelayanan. Menunjukkan
keterbukaan anggaran, sesuai tata hukum dan peraturan yang berlaku dalam
lingkup pelayanan kesehatan

5.

Mewujudkan Akuntabilitas:

Hasil kegiatan pelayanan diarahkan secara bertanggungjawab terhadap


institusi internal didalam lingkup pelayanan kesehatan dan kepada institusi
eksternal diluar lingkungan pelayanan kesehatan. Tanggungjawab terhadap
masyarakat, sangat penting sekali karena menyangkut upaya peningkatan

48

Universitas Sumatera Utara

pemberdayaan

derajat

kesehatan

masyarakat

secara

holistik.

(http://www.puskel.com/hakikat-5-nilai-dasar-pelayanan-kesehatan-puskesmas/.
Diakses pada tanggal 5/09/2011 pukul 11:10 wib).

I.5.5.2 Fungsi Puskesmas


Berdasarkan Kepmenkes No 128 Tahun 2004, Puskesmas memiliki
beberapa fungsi yang harus dilaksanakan oleh Puskesmas, diantaranya:
1.

Pusat Penggerak Pembangunan Berwawasan Kesehatan


Dalam hal ini Puskesmas selalu berupaya menggerakkan lintas sektor dan

dunia usaha di wilayah kerjanya agar menyelenggarakan pembangunan yg


berwawasan kesehatan. Selain itu juga aktif memantau dan melaporkan dampak
kesehatan dari penyelenggaraan setiap program pembangunan di wilayah
kerjanya. Serta mengutamakan pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit
tanpa mengabaikan penyembuhan dan pemulihan.
2.

Pusat Pemberdayaan Masyarakat


Puskesmas selalu berupaya agar perorangan terutama pemuka masyarakat,

keluarga dan masyarakat termasuk dunia usaha memiliki kesadaran, kemauan, dan
kemampuan melayani diri sendiri dan masyarakat untuk hidup sehat, berperan
aktif dalam memperjuangkan kepentingan kesehatan termasuk pembiayaannya,
serta ikut menetapkan, menyelenggarakan dan memantau pelaksanaan program
kesehatan.

49

Universitas Sumatera Utara

3.

Pusat Pelayanan Kesehatan Strata Pertama


Puskesmas bertanggung jawab menyelenggarakan pelayanan kesehatan

tingkat pertama secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan yang terdiri


dari pelayanan kesehatan perorangan dan masyarakat. Pelayanan kesehatan
tingkat pertama yang menjadi tanggung jawab puskesmas meliputi :
a. Pelayanan kesehatan perorangan
Pelayannan kesehatan perorangan adalah pelayanan yang bersifat
pribadi (private Goods) dengan tujuan utama menyembuhkan penyakit
dan pemulihan kesehatan perorangan tanpa mengabaikan pemeliharaan
kesehatan dan pencegahan penyakit. Pelayanan perorangan tersebut
adalah rawat jalan dan untuk puskesmas tertentu rawat inap.
b. Pelayanan kesehatan masyarakat
Pelayanan kesehatan masyarakat adalah pelayanan yang bersifat umum
(Public Goods) dengan tujuan utama memelihara dan meningkatkan
kesehatan serta mencegah penyakit tanpa mengabaikan menyembuhkan
penyakit dan pemuluhan kesehatan. Pelayaanan kesehatan tersebut
antara

lain

adalah

promosi

kesehatan,

memberantas

penyakit,

penyehatan lingkungan, perbaikan gizi, peningkatan kesehatan keluarga,


keluarga berencana, kesehatan jiwa serta berbagai program kesehatan
masyarakat lainnya.

50

Universitas Sumatera Utara

I.5.6 Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan


Salah satu upaya untuk mengurangi variasi proses adalah dengan
melakukan standarisasi. Proses standarisasi. Meliputi penyusunan, penerapan,
monitoring, pengendalian ,serta evaluasi dan revisi standar (Koentjoro, 2007 :24).
Dalam PP 102/2000 dijelaskan standar adalah spesifikasi teknis atau
sesuatu yang dilakukan termasuk tata cara dan metode yang disusun berdasarkan
konsensus semua pihak yang terkait dengan memperhatikan syarat-syarat
keselamatan, keamanan, kesehatan, lingkungan hidup, perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, serta pengalaman, yakni perkembangan masa kini dan
masa yang akan datang, untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya
(2007:25).
Standar pelayanan minimal bidang kesehatan sangat terkait dengan
indikator Indonesia sehat 2010, karena baik SPM bidang kesehatan maupun
indikator Indonesia sehat 2010 sama-sama memberikan target-target yang harus
dicapai dalam pelayanan public bidang kesehatan. Standar pelayanan minimal
bidang kesehatan untuk tingkat nasional diatur dengan Keputusan Menteri
Kesehatan Nomor 1457/ MENKES/SK/X/2003 tentang standar pelayanan
minimal bidang kesehatan di kabupaten/ kota. Dalam pasal 2 KEPMENKES
tersebut diamanatkan kabupaten/kota untuk menyelenggarakan pelayanan
kesehatan sesuai standar pelayanan minimal. Adapun target yang merupakan SPM

51

Universitas Sumatera Utara

bidang kesehatan tingkat nasional adalah sebagai berikut (Keputusan Menteri


Kesehatan Nomor 1457/ MENKES/SK/X/2003 )( Ratminto. 2005: 271) :
a. Pelayanan kesehatan Ibu dan Bayi:
1. Cakupan kunjungan ibu hamil K4 (95%)
2. Cakupan pertolongan persalinan oleh bidan atau tenaga kesehatan yang
memiliki kompetensi kebidanan (90%)
3. Ibu hamil resiko tinggi yang dirujuk (100%)
4. Cakupan kunjungan neonatus (90%)
5. Cakupan kunjungan bayi (90%)
6. Cakupan bayi berat lahir rendah /BBLR yang ditangani (100%)
b. Pelayanan kesehatan anak Pra Sekolah dan Usia Sekolah
1. Cakupan deteksi dini tumbuh kembang anak balita dan pra sekolah
(90%)
2. Cakupan pemeriksaan kesehatan siswa SD dan setingkat oleh tenaga
kesehatan atau tenaga terlatih / guru UKS / Dokter kecil (100%)
3. Cakupan pelayanan kesehatan remaja (80%)
C. Pelayanan Keluar Bencana
1. Cakupan peserta aktif KB (70%)
d. Pelayanan Imunisasi
1. Desa / Kelurahan Universal Child Immunization (UCI) (100%)
e. Pelayanan Pengobatan/ Perawatan
1. Cakupan rawat jalan (15%)

52

Universitas Sumatera Utara

2. Cakupan Rawat Inap (1,5%)


f. Pelayanan Kesahatan Jiwa
1. Pelayanan kesehatan jiwa di sarana pelayanan kesehatan umum (15%)
g. Pemantauan Pertumbuhan Balita
1. Balita yang naik berat badannya (80%)
2. Balita Bawah Garis Merah (<15%)
h. Pelayanan Gizi
1. Cakupan balita mendapat kapsul vitamin A 2 kali per tahun (90%)
2. Cakupan ibu hamil mendapat 90 tablet Fe (90%)
3. Cakupam pemberian makanan pendamping ASI pada bayi bawah garis
merah dari keluarga miskin (100%)
4. Balita gizi buruk mendapat perawatan (100%)
i. Pelayanan Obstetrik dan Neonatal Emergensi dasar dan komprehensif
1. Akses terhadap ketersediaan darah dan komnen yang aman untuk
menangani rujukan ibu hamil dan neonatus (80%)
2. Ibu hamil resiko tinggi/ komplikasi yang ditangani (80%)
3. Neonatal resiko tinggi/ komplikasi yang ditangani (80%)
j. Pelayanan gawat darurat
1. Sarana kesehatan dan kemampuan pelayanan gawat darurat yang dapat
diakses masyarakat (90%)
k. Penyelenggaraan penyelidikan epidemologi dan penanggulangan kejadian luar
biasa (KLB) dan gizi buruk

53

Universitas Sumatera Utara

1. Desa/ kelurahan mengalami KLB yang ditangani < 24 jam (100%)


2. Kecamatan bebas rawan gizi (80%)
l. Pencegahan dan Pemberantasan penyakit polio
1. AFP rate per 100.000 penduduk < 15 tahun (> 1)
m. Pencegahan dan Pemberantasan penyakit TB paru
1. Kesembuhan penderita TBCBTA positif (>85%)
n. Pencegahan dan Pembrantasan penyakit ISPA
1. Cakupan balita dengan pneumonia yang ditangani (100%)
o. Pencegahan dan Pembrantasan penyakit HIV AIDS
1. Klien yang mendapatkan penanganan HIV AIDS (100%)
2. Infeksi menular seksual yang diobati (100%)
p. Pencegahan dan pembrantasan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)
1. Penderita DBD yang ditangani (100%)
q. Pencegahan dan pembrantasan penyakit Diare
1. Balita dengan diare di tangani (100%)
Dan lainnya.
I.5.7 Peran Pemerintah dalam Regulasi Pelayanan Kesehatan
Regulasi pelayanan kesehatan (Ratminto, 2005 : 25) adalah upaya publik
untuk memberikan pengaruh secara langsung atau tidak langsung terhadap
perilaku dan fungsi organisasi maupun perorangan yang menyediakan pelayanan
kesehatan. Diterapkan otonomi daerah bukan berarti organisasi pelayanan

54

Universitas Sumatera Utara

kesehatan di daerah dapat melakukan kegiatan pelayanan secara bebas tanpa


adanya kendali. Peran pemerintah pusat dan masyarakat diperlukan sebagai
pengendali melalui kegiatan regulasi. Peran pemerintah pusat tersebut tentunya
juga dapat diwujudkan melalui lembaga masyarakat yang dipercaya dan
mendapatkan otoritas untuk melakukan kegiatan regulasi. Pada dasarnya kegiatan
regulasi diperlukan untuk mengendalikan kegiatan pelayanan kesehatan agar
dilaksanakan sesuai persyaratan yang berlaku, yang dapat dilakukan oleh
pemerintah dan masyarakat.
Persyaratan regulasi disusun agar organisasi pelayanan kesehatan
memenuhi persyaratan yang ditetapkan dengan memperhatikan nilai-nilai sosial
yang ada di masyarakat, antara lain akuntabilitas pelayanan publik, keragaman
yang ada di masyarakat, keseimbangan dan keadilan, pilihan masyarakat terhadap
pelayanan publik dan swasta, pembiayaan kesehatan kebutuhan masyarakat
terhadap keterbukaan informasi, dan perlindungan terhadap lingkungan.
Disamping mengendalikan mutu pelayanan kesehatan, regulasi juga dilakukan
untuk melindungi masyarakat terhadap kegagalan pasar, meningkatkan efisiensi
pelayanan, dan mencegah terjadinya diskriminasi pelayanan terhadap masyarakat.

55

Universitas Sumatera Utara

I.6 Definisi Konsep


Konsep adalah istilah dan definisi yang digunakan untuk menggambarkan
secara abstrak kejadian,keadaan kelompok, atau individu yang menjadi pusat
perhatian ilmu sosial (Singarimbun, 1995:37). Tujuannya adalah untuk
memudahkan pemahaman dan menghindari terjadinya interpretasi ganda dari
variabel yang diteliti. Oleh karena itu untuk mendapatkan batasan yang jelas dari
masing-masing konsep yang diteliti, maka penulis mengemukakan definisi konsep
dari penelitian ini yaitu :
Efektivitas adalah tingkatan sejauh mana suatu organisasi dapat
melaksanakan kegiatan atau fungsi-fungsinya sehingga dapat mencapai tujuan
yang telah ditetapkan sebelumnya dengan menggunakan secara optimal alat-alat
dan sumber-sumber yang ada.
Pelayanan kesehatan adalah setiap upaya yang diselenggarakan secara
sendiri atau secara bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan
meningkatkan kesehatan,

mencegah dan

menyembuhkan penyakit

serta

memulihkan kesehatan perorangan, keluarga, kelompok, dan ataupun masyarakat.


Maka dapat disimpulkan, Efektivitas pelayanan kesehatan adalah tingkatan
sejauh mana suatu organisasi dapat melaksanakan kegiatan atau fungsi-fungsinya
dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan
penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan, keluarga, kelompok, dan
ataupun masyarakat.

56

Universitas Sumatera Utara

I.7

Sistematika Penulisan

BAB I

: PENDAHULUAN
Bab ini memuat latar belakang, fokus masalah dan perumusan
masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kerangka teori,
definisi konsep dan sistematika penulisan.

BAB II

: METODE PENELITIAN
Bab ini memuat bentuk penelitian, lokasi penelitian, informan
penelitian, teknik pengumpulan data dan teknik analisa data.

BAB III

: DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN


Bab ini berisikan gambaran umum lokasi penelitian, sejarah
singkat dan visi serta misi organisasi.

BAB IV

: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


Bab ini berisikan hasil data yang diperoleh dari lapangan dan atau
berupa dokumen yang akan di analisis serta berisikan tentang
uraian data-data yang diperoleh setelah melaksanakan penelitian.

BAB V

: PENUTUP
Bab ini memuat kesimpulan dan saran-saran yang diperoleh dari
hasil penelitian.

57

Universitas Sumatera Utara