Anda di halaman 1dari 2

Dunia ini penuh dengan bangsat.

Bangsat-bangsat yang mondar-mandir, mengitari


rumah bangsat. Memang dasar bangsat, ya bangsat.
Bangsat itu kini berada di kamar. Tak terdengar suaranya yang bangsat. Hanya suara
celotahan dan tawaan anak dan istri bangsat itu.
“Hehehaheha,”
Badanku pegal-pegal karena suara bangsat itu, ingin rasanya ku tertidur sejenak,
melepaskan lelah. Namun belum sempat ku beranjak dari tempat ku duduk di ruang
tamu, bangsat itu terus berteriak.
“Jangan kemana-mana, tunggu tukang ketoperaknya,”
Bangsat, dasar bangsat, malam-malam seperti malam ini ku disuruh sendirian oleh
bangsat itu, menunggu pedagang ketoperak lewat.
Bangsat, dasar bangsat, ingin sekali makan ketoprak dengan keluarga bangsat.
Menanti-nantinya penuh harap dan berbagai ingin.
Mana ada tukang ketoprak lewat malam-malam begini. Bayangkan saja, ketoprak itu
sejatinya makanan untuk sarapan, mana mungkin di jual malam hari.
Lihat saja isi dari ketoprak itu, ketupat, tauge, tahu dan kerupuk. Mana ada makanan
seperti itu di makan malam hari. Dengan bumbu kacangnya, dan juga bawang
putihnya yang amat bau. Bisa-bisa tidak ada wanita yang mau mendekati apalagi
mencium. Apalagi ini malam minggu, malam untuk bermesra-mesraan. Dasar
bangsat.
Mataku berat kelelahan menunggu tukang ketoperak dari dua jam yang lalu, kini
menatap ke depan dua pohon jarak berdiri berjarak sekitar satu meter, sejajar.
Akarnya yang kurus terlihat menyembul keluar dari dalam tanah yang ditumbuhi
rerumputan hijau liar. Terlihat semut-semut bersalaman beriringan membentuk
barisan yang panjang di lantai keramik putih, di depan rerumputan hijau itu.
Dibalut keadaan dingin, malam itu makin sunyi. Angin berhembus cukup kencang
namun kencangnya angin malam pada malam itu cukup bersahabat. Semilirnya
menepuk keadaan di sekitar. Bertambah lama berselang, semakin bertambah kencang
tepukannya. Meski begitu, tak mampu membuat pohon jarak di depanku itu bergerak,
hanya terkadang dedaunannya melambai seperti penari ular.
Iya, penari ular. Ingin tertawa rasanya ketika mengingat-ingat cerita teman SMA ku di
SMA dulu tentang penari ular. Temanku itu sepertinya keturunan arab, namun tetap
saja ia tak bisa bahasa arab, mungkin identitas arabnya hilang, tinggal mukanya saja
yang menandakannya arab. Ia pernah umrah ke mekkah. Bersama keluarganya ia
melakukan haji kecil itu. Selepas ritual peribadatannya itu usai, ia kembali ke hotel
tempatnya menginap. Tentunya hotel adalah sarana yang mewah untuk tinggal.
Disuguhkannya mereka dengan makanan yang amat mewah ketika malam itu. Diringi
musik khas padang pasir, mereka melakukan santap malam yang amat indah. Namun,
ternyata bukan hanya iringan musik gurun saja yang disajikan tapi beberapa wanita
seksi menampilakan kemolekkan tubuhnya dan tubuh peliharaannya, ular, di depan
pengunjung hotel restoran itu.
“Habis ibadah nonton gituan,” ujar temanku itu sambil tertawa lepas. Kami yang
mendengarkan juga ikut tertawa. Aku tak bisa membayangkan menatap dalam
kedalaman udel penari arab setelah ku menatap dalam-dalamnya keindahan rumah
suci. Betapa kontrasnya dunia ini.
“Gleduk,”
Suara gemuruh itu muncul dari dalam rumah bangsat itu. Berulang-ulang, bersaut-
sautan keras.
“Kamu mabuk-mabukkan mulu, buang dari mulutmu,”
“Siapa?”
“Kamu,”
“Tidak,”
“Iya,”
“Aku bosan menunggu,” bentak bansat.
Istri bangsat itu menuduh bangsat itu selalu mabuk-mabukkan, suaranya semakin
keras semakin bangsat itu menjawab tidak.
Ayunan demi ayunan lemparan benda pecah terus terdengar deras. Beling-belingnya
menderas masuk ke dalam lubang kuping, merobek gendang telinga. Tak sampai di
situ saja, pecahan-pecahan itu bahkan sampai ke otakku, merobek setiap neuron-
neuron yang berkaitan, membuatku dangkal, bingung memperhatikan apa yang
terjadi.
Sejadi-jadinya ku menguap heran. Dua makhluk itu bertatap-tatapan penuh merah.
Muka mereka merah, mata mereka merah, tangan mereka mengepal merah,
kemarahan mereka merah.
Badan kekar, wajah kekar dan tangan kekarnya bangsat. Yang ketiga kekarnya
bangsat melayang, mengarah ke wajah Istri bangsat. Anaknya memelototi tangan
bangsat, bola matanya bergerak seirama ayunan tamparan.
“Mau apa kamu,”
“Mau menampar,”
“Tidak kena,” ujar Istri bangsat, menangkis tamparan dengan pipinya.
“Apa yang kau sebut tidak kena?”
“Wajahmu merah kena tampar,” bangsat tersenyum puas, menjilati dan mengulumi
jari jemari bekas menampar.
“Kamu tidak mengenai hatiku,”
“Kamu hanya mengenai fisikku, bukan cintaku,” ujar Istri bangsat
“Ku mengerti tamparan itu keras, tapi tidak membuatmu gila kan?” tanya bangsat
“Aku gila karena perlakuanmu terhadap aku,”
“Kau tak pernah mengerti betapa kusam jiwaku tanpa deterjen cintamu,” ujar Istri
bangsat. Matanya meleleh, jiwanya menguap, cintanya membeku. Istri bangsat
mungkin sudah putus asa dengan sikap bangsat.
“Hah, omong kosong, dari awal kau tak pernah mencintaiku,”
“Kau memahami kekayaanku, kemamapanku akan kehidupan dunia ini, namun apa
yang kau beri, kau tak mampu memberikanku sepercik harapan untuk memahami
hidup,”
“Kau hanya memanfaatkanku,” bangsat selalu duduk berselonjor di lantai ketika ia
marah.
“Tidak. Aku mencintaimu sepenuh hati, hampir-hampir aku mati menananti cintamu
yang tak kunjung hadir kini,” tangan Istri bangsat diulurkan ke bangsat. Mata bangsat
mengedap-ngedip, mengalir beberapa tetes butir air.
“Aku masih tidak mempercayaimu, akan apa yang kau katakan barusan,”
“Namun apakah kau mendengar?”
“Iya aku mendengar,” ujar Istri bangsat.
“Cepat ambil piring sana,” perintah bangsat kepadaku.
Dengan laparnya mereka menghabisi ketoprak itu.