Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Peran organ dalam tubuh seseorang merupakan hal terpenting dalam proses ekresi
obat. Obat yang masuk kedalam tubuh akan mengalami absorsi, distribusi, metabolisme dan
yang terakhir ekresi. Dalam proses tersebut dibutuhkan organ yang sehat dan kuat jika tidak
obat dapat menjadi racun dalam tubuh kita.
Peran seorang farmasis dalam pemberian obat dan pengobatan telah berkembang
dengan cepat dan luas seiring dengan perkembangan pelayanan kesehatan. Farmasis
diharapkan terampil dan tepat saat melakukan pemberian obat. Pengetahuan tentang manfaat
dan efek samping obat sangat penting dimiliki oleh seorang farmasis. Keberhasilan promosi
kesehatan sangat tergantung pada cara pandang klien atau pasien sebagai bagian dari
pelayanan kesehatan, yang juga bertanggung jawab terhadap menetapkan pilihan perawatan
dan pengobatan, baik itu berbentuk obat alternatif, diresepkan oleh dokter, atau obat bebas
tanpa resep dokter. Sehingga, tenaga kesehatan terutama seorang farmasis harus dapat
membagi pengetahuan tentang obat-obatan sesuai dengan kebutuhan klien atau pasien.
Rute pemberian obat (Routes of Administration) merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi efek obat, karena karakteristik lingkungan fisiologis anatomi dan biokimia
yang berbeda pada daerah kontak obat dan tubuh karakteristik ini berbeda karena jumlah
suplai darah yang berbeda, enzim-enzim dan getah-getah fisiologis yang terdapat di
lingkungan tersebut berbeda.
1.2 Tujuan
1. Mengenal teknik-teknik pemberian obat melalui berbagai rute pemberian obat
2. Menyadari berbagai pengaruh rute pemberian obat terhadap efeknya
3. Dapat menyatakan beberapa konsekuensi praktis dari pengaruh rute pemberian
obat terhadap efeknya
4. Mengenal manifestasi berbagai obat yang diberi.

BAB II
1

TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Tinjauan Pustaka
Rute pemberian obat (Routes of Administration) merupakan salah satu faktor yang

mempengaruhi efek obat, karena karakteristik lingkungan fisiologis anatomi dan biokimia
yang berbeda pada daerah kontak obat dan tubuh karakteristik ini berbeda karena jumlah
suplai darah yang berbeda, enzim-enzim dan getah-getah fisiologis yang terdapat di
lingkungan tersebut berbeda. Hal-hal ini menyebabkan bahwa jumlah obat yang dapat
mencapai lokasi kerjanya dalam waktu tertentu akan berbeda, tergantung dari rute pemberian
obat.
Rute pemberian obat dibagi 2, yaitu enternal dan parenteral (Priyanto, 2008).
Jalur Enternal
Jalur enteral berarti pemberian obat melalui saluran gastrointestinal (GI), seperti
pemberian obat melalui sublingual, bukal, rektal dan oral. Pemberian melalui oral
merupakanjalur pemberianobat paling banyak digunakankarena paling murah, paling mudah,
dan paling aman. Kerugian dari pemberian melalui jalur enternal adalah absorpsinya lambat,
tidak dapat diberikan pada pasien yang tidak sadar atau tidak dapat menelan. Kebanyakan
obat diberikan melalui jalur ini, selain alasan di atas juga alasan kepraktisan dan tidak
menimbulkan rasa sakit. Bahkan dianjurkan jika obat dapat diberikan melalui jalur ini dan
untuk kepentingan emergensi (obat segera berefek), obat harus diberikan secara enteral.
Jalur Parenteral
Parenteral berarti tidak melalui enteral. Termasuk jalur parenteral adalah transdermal
(topikal), injeksi, endotrakeal (pemberian obat ke dalam trakea menggunakan endotrakeal
tube), dan inhalasi. Pemberian obat melalui jalur ini dapat menimbulkan efek sistemik atau
lokal. Tabel 1 merupakan deskripsi cara pemberian obat, keuntungan, dan kerugiannya.
Tabel 1. Keuntungan dan Kerugian dari Masing-masing Jalur Pemberian Obat
Deskripsi
Aerosal
Partikel halus atau tetesan
yang dihirup
Bukal
Obat diletakkan diantara pipi
dengan gusi Obat diabsorpsi

Keuntungan

Kerugian
Irtasi pada mukosa

Langsung masuk ke paru-

paru- paru atau saluran

paru

pernafasan, memerlukan alat

Tidak sukar, tidak perlu

khusus, pasien harus sadar.


Tidak dapat untuk obat yang

steril, dan efeknya cepat

rasanya tidak enak, dapat


terjadi iritasi di mulut, pasien

menembus membran
2

harus sadar, dan hanya


bermanfaat untuk obat yang
sangat non polar
Hanya berguna untuk obat
Pemberian dapat terus

yang dapat berbentuk gas

menerus walaupun pasien

pada suhu kamar, dapat

tidak sadar

terjadi iritasi saluran

Intramuskular
Obat dimasukkan kedalam

Absorbsi cepat, dapat di

pernafasan
Perlu prosedur steril, sakit,

berikan pada pasien sadar

dapat terjadi infeksi di

vena

atau tidak sadar

tempat injeksi
Perlu prosedur steriil, sakit,

Intravena
Obat dimasukkan ke dalam

Obat cepat masuk dan

Inhalasi
Obat bentuk gas diinhalasi

vena

bioavailabilitas 100%

dapat terjadi iritasi di tempat


injeksi, resiko terjadi kadar
obat yang tinggi kalau
diberikan terlalu cepat
Rasa yang tidak enak dapat
mengurangi kepatuhan,
kemungkinan dapat
menimbulkan iritasi usus dan

Oral
Obat ditelan dan diabsorpsi
di lambung atau usus halus

Mudah, ekonomis, tidak


perlu steril

lambung, menginduksi mual


dan pasien harus dalam
keadaan sadar. Obat dapat
mengalami metabolisme
lintas pertama dan absorbsi
dapat tergganggu dengan

Subkutan
Obat diinjeksikan dibawah
kulit
Sublingual
Obat terlarut dibawah lidah
dan diabsorpsi menembus
membran

Pasien dapat dalam kondisi


sadar atau tidak sadar

adanya makanan
Perlu prosedur steril, sakit
dapat terjadi iritasi lokal di

Mudah, tidak perlu steril dan

tempat injeksi
Tidak dapat untuk obat yang

obat cepat masuk ke sirkulasi

rasanya tidak ennak,dapat

sistemik

terjadi iritasi di mulut, pasien


harus sadar, dan hanya
bermanfaat untuk obat yang
3

sangat larut lemak


Obat dapat menembus kulit
Transdermal
Obat diabsorpsi menembus

secara kontinyu, tidak perlu


steril, obat dapat langsung ke

kulit

pembuluh darah

Hanya efektif untuk zat yang


sangat larut lemak, iritasi
lokal dapat terjadi

Memilih rute penggunaan obat tergantung dari tujuan terapi, sifat obatnya serta
kondisi pasien. Oleh sebab itu perlu mempertimbangkan masalah-masalah seperti berikut:
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)

Tujuan terapi menghendaki efek lokal atau efek sistemik


Apakah kerja awal obat yang dikehendaki itu cepat atau masa kerjanya lama
Stabilitas obat di dalam lambung atau usus
Keamanan relatif dalam penggunaan melalui bermacam-macam rute
Rute yang tepat dan menyenangkan bagi pasien dan dokter
Harga obat yang relatif ekonomis dalam penyediaan obat melalui bermacam-macam rute
Kemampuan pasien menelan obat melalui oral.
Bentuk sediaan yang diberikan akan mempengaruhi kecepatan dan besarnya obat

yang diabsorpsi, dengan demikian akan mempengaruhi pula kegunaan dan efek terapi obat.
Bentuk sediaan obat dapat memberi efek obat secara lokal atau sistemik. Efek sistemik
diperoleh jika obat beredar ke seluruh tubuh melalui peredaran darah, sedang efek lokal
adalah efek obat yang bekerja setempat misalnya salep.
2.2

Absorpsi
Absorpsi merupakan proses masuknya obat dari tempat pemberian ke dalam darah

bergantung pada cara pemberiannya, tempat pemberian obat adalah saluran cerna (mulut
sampai dengan rectum), kulit, paru,otot, dan lain lain. Yang terpenting adalah cara pemberian
obat per oral dengan cara ini tempat absorbs utama adalah usus halus karena memiliki
permukaan absorbsi yang sangat luas, yakni 200 m2 (Anonim,2007).
Cara pemberian obat yang paling umum dilakukan adalah pemberian obat per oral,
karena mudah, aman, dan murah . Dengan cara ini tempat absorpsi utama adalah usus halus,
karena memiliki permukaan absorpsi yang sangat luas, yakni 200 m2. Pada pemberian secara
oral, sebelum obat masuk ke peredaran darah dan didistribusikan ke seluruh tubuh, terlebih
dahulu harus mengalami absorbsi pada saluran cerna.
1. Bentuk Sediaan
Terutama berpengaruh terhadap kecepatan absorbsi obat, yang secara tidak langsung
dapat mempengaruhi intensitas respon biologis obat. Dalam bentuk sediaan yang

berbeda, maka proses absorpsi obat memerlukan waktu yang berbeda-beda dan jumlah
ketersediaan hayati kemungkinan juga berlainan.
2. Sifat Kimia dan Fisika Obat
Bentuk asam, ester, garam, kompleks atau hidrat dari bahan obat dapat mempengaruhi
kekuatan dan proses absorpsi obat. Selain itu bentuk kristal atau polimorfi, kelarutan
dalam lemak atau air, dan derajat ionisasi juga mempengaruhi proses absorpsi. Absorpsi
lebih mudah terjadi bila obat dalam bentuk non-ion dan mudah larut dalam lemak.
3. Faktor Biologis
Antara lain adalah pH saluran cerna, sekresi cairan lambung, gerakan saluran cerna,
waktu pengosongan lambung dan waktu transit dalam usus, serta banyaknya pembuluh
darah pada tempat absorpsi.
4. Faktor Lain-lain
Antara lain umur, makanan, adanya interaksi obat dengan senyawa lain dan adanya
penyakit tertentu.
Kerugian pemberian per oral adalah banyak faktor dapat mempengaruhi bioavaibilitas
obat. Karena ada obat-obat yang tidak semua yang diabsorpsi dari tempat pemberian akan
mencapai sirkulasi sistemik. Sebagian akan dimetabolisme oleh enzim di dinding usus dan
atau di hati pada lintasan pertamanya melalui organ-organ tersebut (metabolisme atau
eliminasi lintas pertama). Eliminasi lintas pertama obat dapat dihindari atau dikurangi dengan
cara pemberian parenteral, sublingual, rektal, atau memberikannya bersama makanan. Selain
itu, kerugian pemberian melalui oral yang lain adalah ada obat yang dapat mengiritasi saluran
cerna, dan perlu kerja sama dengan penderita, dan tidak bisa dilakukan saat pasien koma.
Pemberian obat dibawah lidah hanya untuk obat yang sangat larut dalam lemak,
karena luas permukaan absorbsinya kecil sehingga obat harus melarut dan diabsorbsi dengan
sangant cepat, karena darah dari mulut langsung ke vena kava superior dan tidak melalui
vena porta, maka obat yang diberikan sublingual ini tidak mengalami metabolisme lintas
pertama oleh hati. (Anonim,2007)
Pada pemberian obat melalui rektal misalnya untuk pasien yang tidak sadar atau
muntah, hanya 50% darah dari rectum yang melalui vena porta, sehingga eliminasi lintas
pertama oleh hati juga hanya 50%. Akan tetapi, adsorpsi obat melui rectum sering kali tidak
teratur dan tidak lengkap dan banyak obat menyebabkan iritasi rectum. (Anonim,2007)
Bentuk sediaan yang diberikan akan mempengaruhi kecepatan dan besarnya obat
yang diabsorpsi, dengan demikian akan mempengaruhi pula kegunaan dan efek terapi obat.
Bentuk sediaan obat dapat memberi efek obat secara lokal atau sistemik. Efek sistemik
diperoleh jika obat beredar ke seluruh tubuh melalui peredaran darah, sedang efek lokal
adalah efek obat yang bekerja setempat misalnya salep (Anief, 1994).
5

Efek sistemik dapat diperoleh dengan cara (Anief, 1994):


a. Oral melalui saluran gastrointestinal atau rectal
b. Parenteral dengan cara intravena, intra muskuler dan subkutan
c. Inhalasi langsung ke dalam paru-paru.
Efek lokal dapat diperoleh dengan cara (Anief, 1994):
a. Intraokular, intranasal, aural, dengan jalan diteteskan ada mata, hidung, telinga
b. Intrarespiratoral, berupa gas masuk paru-paru
c. Rektal, uretral dan vaginal, dengan jalan dimasukkan ke dalam dubur, saluran kencing dan
kemaluan wanita, obat meleleh atau larut pada keringat badan atau larut dalam cairan
badan.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Absorpsi Obat, antara lain :


1. Biologis/ Hayati
A. Kecepatan pengosongan lambung
Kecepatan pengosongan lambung besar penurunan proses absorpsi obat-obat yang
bersifat asam.
Kecepatan pengosongan lambung kecil peningkatan proses absorpsi obat-obat
yang bersifat basa
B. Motilitas usus
Jika terjadi motilitas usus yang besar (ex : diare), obat sulit diabsorpsi.
C. pH medium
Lambung : asam untuk obat-obat yang bersifat asam
Usus : basa untuk obat-obat yang bersifat basa.

D. Jumlah pembuluh darah setempat


Intra muskular dengan subkutan
Intra muscular absorpsinya lebih cepat, karena jumlah pembuluh darah di otot lebih
banyak dari pada di kulit.
2. Hakiki / Obat
Polaritas koefisien partisi
Semakin non polar semakin mudah diabsorpsi
3. Makanan
Paracetamol terganggu absorpsinya dengan adanya makanan dalam lambung, maka
dapat diberikan 1 jam setelah makan.
4. Obat lain
Karbon aktif dapat menyerap obat lain.
5. Cara pemberian
Per oral dan intravena berbeda absorpsinya.

Beberapa Faktor Fisiologi Biologi Yang Berpengaruh Pada absorpsi Gastro Intestinal
1.

pH di lumen gastro intestinal


Keasaman cairan gastro intestinal yang berbea-beda di lambung (pH 1-2) duodenum (pH

4-6) sifat-sifat dan kecepatan berbeda dalam absorpsi suatu obat.


Menurut teori umum absorpsi : obat-obat golongan asam lemah organic lebih baik di
absorpsi di dalam lambung dari pada di intestinum karena fraksi non ionic dari zatnya yang
larut dalam lipid lebih besar dari pada kalau berada di dalam usus yang pHnya lebih tinggi.

Absorpsi basa-basa lemah seperti antihistamin dan anti depressant lebih berarti atau
mudah di dalam usus halus karena lebih berada dalam bentuk non ionic daripada

bentuk ionik. Sebaliknya sifat asam cairan lambung bertendensi melambatkan atau
mencegah absorpsi obat bersifat basa lemah.

Penyakit dapat mempengaruhi pH cairan lambung.

Lemak-lemak dan asam-asam lemak telah diketahui menghambat sekresi lambung

Obat-obat anti spasmodic seperti atropine, dan anti histamine H2 bloker seperti
cimetidin dan ranitidin pengurangan sekresi asam lambung

2. Motilitas gastro intestinal dan waktu pengosongan lambung


Lama kediaman (residence time) obat di dalam lambung juga menentukan absorpsi
obat dari lambung masuk ke dalam darah.
Faktor-faktor tertentu dapat mempengaruhi pengosongan lambung akan dapat berpengaruh
terhadap lama kediaman obat di suatu segmen absorpsi.
Pengosongan lambung diperlama oleh lemak dan asam-asam lemak dan
makanan,depresi mental, penyakit-penyakit seperti gastro enteritis, tukak lambung (gastric
ulcer) dll.
Pemakaian obat-obat juga dapat mempengaruhi absorpsi obat lainnya, baik dengan
cara mengurangi motilitas (misal obat-obat yang memblokir reseptor-reeptor muskarinik)
atau dengan cara meningkatkan motilitas (misalnya metoklopropamid, suatu obat yang
mempercepat pengosongan lambung).
3. Aliran darah (blood flow) dalam intestine.
Debit darah yang masuk ke dalam jaringan usus dapat berperan sebagai kecepatan
pembatas (rate limited) dalam absorpsi obat.
Dalam absorpsi gastro intestinal atau in vivo sebagai proses yang nyata untuk proses
penetrasi zat terlarut lewat barrier itu sendiri.
Maka ditentukan oleh 2 langkah utama, Yaitu :

Permeabilitas membrane GI terhadap obat, dan

Perfusi atau kecepatan aliran darah didalam barrier GI membawa zat terdifus ke hati

Aliran darah normal disini 900ml/menit.


Efek- Efek Makanan Atas Absorpsi
Secara umum absorpsi obat lebih disukai atau berhasil dalam kondisi lambung kosong.

Kadang-kadang tak bisa diberikan dalam kondisi demikian karena obat dapat
mengiritasi lambung.
Ex : Asetosal (dapat menyebabkan iritasi karena bersifat asam)

Kecepatan absorpsi kebanyakan obat akan berkurang bila diberikan bersama


makanan.
Ex : Digoksin, Paracetamol, Phenobarbital (obat sukar larut)

Pemakaian antibiotika setelah makan seringkali penurunan bioavailabilitasnya


maka harus diberikan sebelum makan.
Ex : Tetraciklin, Penisilin, Rifampisin, Erytromycin strearat

Absorpsi griseofulvin meningkat bila makanan mengandung lemak

Pengaruh Faktor-Faktor Fisika Kimia Atas Absorpsi GI


Misal :

Antibiotik penisilin
Penisilin oral bisa diformulasikan sebagai asam bebas yang bersifat sukar larut, atau dalam

bentuk garam yang mudah larut.


Jika penisilin dalam bentuk garam kalium diberikan, maka obat tersebut akan mengendap
sebagai asam bebas setelah mencapai lambung, dimana pH nya rendah, membentuk suatu
suspensi dengan partikel-partikel halus dan diabsorpsi dengan cepat.
Tetapi bila diberikan dalam bentuk asam, maka penisilin bentuk asam ini sukar larut dalam
lambung dan absorpsinya jauh lebih lambat, sebab partikel-partikel yng terbentuk adalah
besar.

Antibiotik Tetrasiklin
Tetrasiklin mengikat ion-ion Ca dengan kuat, dan makanan yang kaya kalsium (terutama

susu) dapat mencegah absorpsi tetrasiklin

Pemberian paraffin cair sebagai pencahar akan menghambat absorpsi obat-obat yang
bersifat lipofilik seperti vitamin K.

2.3

Faktor Yang Mempengaruhi Dengan Pemberian Oral


Faktor yang mempengaruhi penyerapan obat dari saluran pencernaan terdapat pada

tabel 2.
Tabel 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyerapan obat dari saluran pencernaan
Faktor yang mempengaruhi penyerapan obat melalui saluran pencernaan
1. Formulasi Obat
Waktu hancur
Waktu disolusi
2. Karakteristik Pasien
Pengosongan lambung
Waktu transit diusus
Luas permukaan saluran pencernaan
Adanya penyakit cerna
3. Adanya Campuran Zat Lain Pada Saluran Pencernaan
Interaksi dengan obat lain
Interaksi dengan makanan
4. Karakteristik Farmakokintek Obat
Metabolisme obat oleh bakteri usus
Metabolisme diusus tanpa bakteri
Formulasi obat memiliki efek dramatis pada penyerapan, misalnya eksipien yang
terkandung dalam kapsul fenitoin yang ada di Negara Autralia berubah bioavaibilitasnya
meningkat dan hal ini dapat mengakibatkan keracunan epidemi fenitoin. Adanya obat lain di
dalam usus juga dapat mengubah dan merusak faktor penyerapan obat tersebut. Diketahui
juga bahwa penyerapan tetrasiklin terganggu dengan adanya garam besi serta kation lain
seperti kalsium atau magnesium. Resin penukar anion seperti cholestiramine dapat
mengganggu penyerapan obat, mengingat pada saat yang sama seperti warfarin.
Sering dinyatakan bahwa makanan yang ada di dalam lambung akan merusak
penyerapan obat, tetapi tidak ada pola yang konsisten dalam efek ini. Penyerapan beberapa
obat seperti propanolol dapat ditingkatkan jika berinteraksi dengan makanan. Beberapa faktor
pasien yang paling penting yang dapat mempengaruhi penyerapan obat adalah pada waktu
pengosongan lambung. Jika pengosongan lambung berjalan lambat, maka penyerapan obat
senyawa asam di dalam perut dapat ditingkatkan.
Pada umumnya, faktor perlambatan pengosongan lambung akan cenderung untuk
memperlambat tingkat dimana obat diserap tetapi biasanya tidak akan mengurangi jumlah
obat yang diserap.
2.4

Rute Alternatif Pemberian Obat


10

1. Pemberian Secara Intramuskular atau Intravena


Pemberian dapat diberikan melalui suntikan intramuskular. Pemberian ini akan
bekerja dengan obat yang diberikan dapat hancur di dalam perut, sebagai contoh
benzilpenicillin, lignokain karena biasa diperuntukkan sebagai terapi atau untuk
mempercepat laju timbulnya efek terapetik. Namun, masalah dapat timbul jika obat
tersebut tidak larut dalam air dan dapat mengendap dari larutan sebelum penyerapan
dapat terjadi, misalnya seperti diazepam.
Penyerapan setelah pemberian intramuscular dapat terhambat jika pemberian
obat dikurangi akan menyebabkan efek lambat pada aliran darah, hal ini dapat terjadi
misalnya pada pasien syok diberikan mrofin secara intramuscular setelah terjadi infark
miokard.
2. Pemberian Secara Bukal (Diantara Gusi dengan Membran Mukosa Antara Pipi)
Pemberian ini digunakan untuk memastikan kedua onset yang cepat misalnya
sebagai contoh adalah gliseril trinitrat. Berdasarkan data yang pernah ada, penyerapan
obat tersebut langsung kesirkulasi sistemik dan penyerapan obat yang akan dihancurkan
oleh keasaman lambung atau metabolisme pertama cukup luas, sebagai contoh
misalnya morfin atau buprenorphine.
Dalam beberapa tahun terakhir industri farmasi telah menyadari bahwa
keuntungan dari rute pemberian bukal dan formulasi agen terapi untuk pemanfaatan
lebih cepat efeknya dibandingkan dengan pemberian lainnya, seperti contoh yaitu
morfin, buprenorfin, turunan nitrat seperti gliseril atau isosorbid.
3. Pemberian Secara Rektal
Obat dapat diberikan sebagai suppositoria karena alasan yang sama seperti
pemberian secara bukal, tetapi secara umum kurang memberikan efek. Efek pertama
yang tidak dapat benar-benar dihindari adalah karena aliran vena ganda rektum ke
aliran portal dan sistem sistemik. Karena luas permukaan rectum yang kecil, sehingga
penyerapan menjadi lambat. Namun, hal ini memiliki keuntungan yaitu ketika pasien
asma diberikan suppositoria yaitu aminofillin pada malam hari untuk memastikan efek
yang berkepanjangan
4. Pemberian Secara Perkutan
Banyak obat yang diserap dengan baik dikulit, terutama jika kulit dalam
keadaan sakit atau meradang. Obat diberikan dengan cara diserap langsung ke dalam
sirkulasi sistemik sehingga untuk menghindari metabolisme yang akan terjadi. Bahkan
pada kulit yang normal akan mudah menyerap obat yang mengandung lipid, meskipun

11

penyerapannya lebih cepat dimana kulit kurang keratin, misalnya pada lengan atas, di
dada atau dibelakang telinga.
Rute pemberian ini memiliki keuntungan lebih cepat dalam pemberian obat
dan dapat dihentikan cepat dengan menghapus obat yang telah dioleskan dari kulit. Ada
kemungkinan bahwa obat lain akan diberikan untuk pemberian perkutan dalam waktu
dekat.
5. Pemberian Yang Diberikan Melalui Paru-paru (Pulmonary)
Pemberian melalui anatesi atau secara bius biasanya diserap dengan cara ini.
Stimulan beta, salbutamol atau terbutalin diberikan secara inhaler memberikan efek
lebih cepat dan dalam dosis lebih kecil dari pada ketika diberikan secara oral. Natrium
kromoglikat tidak baik diserap dari saluran pencernaan dan hanya aktif dalam
mencegah asma ketika serbuk dihirup.
Pasien perlu dilatih dalam penggunaan inhaler, kemudian lebih dari 90% obat
akan ditelan. Partikel inhalasi dalam ukuran 2-5 m untuk mencapai bronkiolus
terkecil.
Rute lain dalam pemberian obat dapat digunakan misalnya secara konjungtiv, vaginal,
tetapi diantara pemberian tersebut masing-masing memiliki indikasi, efek keuntungan dan
kerugian yang utama.

12

BAB III
PEMBAHASAN
3.1

MEKANISME OBAT
Mekanisme obat meliputi 3 fase yaitu fase farmasetik, fase farmakokinetik, dan fase

farmakodinamik.
1. Fase Farmasetik
Pada fase farmasetik ini sediaan yang sering dipakai adalah sediaan padat atau cair.
Untuk dapat diabsorpsikan harus dapat melarutkan dalam tempat absorpsinya. Jadi obat
bentuk tablet untuk dapat diabsorpsikan harus mengalami proses-proses seperti pecah
(terdegradasi) menjadi granul, lalu granul-granul terpecahkan menjadi partikel-partikel
yang lebih kecil, berikutnya terjadi pelepasan zat aktif dari zat pembawa (tambahan),
berikutnya zat aktif terdisolusi (larut) dan diabsorpsi.
Sediaan obat yang cepat larut, secara teoritis akan lebih cepat diabsorpsi dan cepat
menimbulkan relative. Urutan kecepatan melarutkan atau kecepatan absorsi dari beberapa
sediaan obat adalah sebagai berikut.
LARUTAN > SUSPENSI > SERBUK > KAPSUL >TABLET > TABLET SALUT.
2. Fase Farmakokinetik
Farmakokinetik adalah ilmu yang mempelajari absorpsi, distribusi, metabolisme, dan
ekskresi (ADME) obat dari dalam tubuh. Atau mempelajari pengaruh tubuh terhadapa
obat.
a. Absorbsi
adalah proses masuknya obat dari tempat obat kedalam sirkulasi sistemik (pembuluh
darah). kecepatan obat tergantung dari kecepatan obat melarutkan pada tempat
absorpsi , derajad ionisasi, pH tempat absorpsi dan sirkulasi darah di tempat obat
melarutkan.
13

a. Transpor obat dari saluran cerna


Obat-obat dapat diabsorbsi dari saluran cerna dengan cara difusi pasif dan transpor
aktif.
1) Difusi pasif
Tenaga dari penggerak difusi pasif dari suatu obat adalah perbedaan
konsentrasi

yang

melewati

suatu

membran

yang

memisahkan

dua

kompartemen tubuh, obat tersebut bergerak dari suatu bagian yang


konsentrasinya tinggi ke konsentrasinya yang rendah. Sebagian besar obat
masuk kedalam tubuh dengan mekanisme ini.
2) Transpor aktif
Cara masuk obat ini melibatkan protein-protein karier terutama yang
terentang pada membran sel. Transpor aktif mampu membawa obat melawan
suatu concentration-gradient, yaitu dari bagian yang konsentrasi rendah ke
bagian yang konsentrasinya tinggi. Pada proses menunjukkan titik jenuh
suatu kecepatan maksimum pada kadar substrat yang tinggi ketika ikatan ke
enzim tersebut sudah maksimal.
Kecepatan obat tergantung dari kecepatan obat melarutkan pada tempat
absorpsi , derajad ionisasi, pH tempat absorpsi dan sirkulasi darah di tempat
obat melarutkan.
a. Kelarutan
Untuk dapat di absorpsi, obat dapat melarut atau dalam bentuk , yang
sudah terlarut. Sehingga kecepatan melarut dari suatu obat akan sangat
menentukan kecepatan absorpsi.untuk itu , sediaan obat, obat padat
sebaiknya di minum dengan cairan yang cukup untuk membantu
mempercepat kelarutan obat.
b. pH
adalah derajad keasaman atau kebasaan jika zat berada dalam bentuk
larutan. Obat yang terlarut dapat berupa ion atau non ion. Bentuk non ion
relatif lebih mudah larut dalam lemak sehingga lebih mudah menembus
membran, karena sebagian besar membran sel tersusun dari lemak.
Kelarutan obat menembus membran dipengaruhi oleh pH obat dalam
larutan dan pH dari lingkungan obat berada. Obat yang bersifat asam
lemah akan mudah menembus membrane sel pada suasana asam. Karena
dalam suasana asam, obat relatif tidak terionisasi atau bentuk ionnya
sedikit sehingga lebih mudah menembus membrane sel. Sebagai contoh
aspirin (suatu obat yang bersifat asam) akan lebih mudah menembus
membrane lambung yang relative asam jika dibandingkan dengan pH usus
14

halus. Jika pH obat berubah (di tambah buffer) atau pH lambung beruban
karna pemberian antasida (basa) absorpsi aspirin akan melambat.
Sebaiknya obat yang bersifat basa lemah akan mudah di absorpsi di usus
halus karena juga relatif tidak terionisasi.
c. Tempat absorpsi
Obat dapat diabsorpsi pada berbagai tempat, misalnya dikulit,
membran mukosa, lambung, dan usus halus. Namun demikian, untuk obat
oral absorpsi banyak berlangsung di usus halus karena paling luas
permukaannya. Begitu pula obat yang diberikan melalui nhalasi di
absorpsi sangat cepat karena epithelium paru-paru juga sangat luas.
Absorpsi obat yang menembus lapisan sel tunggal (tipis), seperti pada
epithelium intestinal akan lebih cepat jika dibandingkan kalau menembus
membrane kulit yang berlapis-lapis karena kecepatan absorpsi berbanding
lurus dengan luas membran dan berbanding terbalik dengan tebal
membran.
d. Sirkulasi darah
Obat umumnya diberikan pada daerah yang kaya akan sirkulasi darah
(vaskularisasi). Misalnya pemberian melalui sublingual akan lebih cepat
di absorpsi jika di bandingkan dengan kalau diberikan melalui subkutan.
Karena sirkulasi darah di subkutan lebih sedikit dibandingkan
disublingual.
Selain itu aliran darah secara keseluruhan juga berpengaruh pada
absorpsi obat. Sebagai contoh, obat yang diberikan pada pasien yang syok,
absorpsinya akan melambat atau tidak konstan.
b. Distribusi
adalah penyebaran obat dari pembulu darah kejaringan atau tempat kerjanya.
Kecepatan distribusi di pengaruhi oleh permeabilitas membrane kapiler terhadap
molekul obat. Karena membran kapiler kebanyakan terdiri dari lemak, obat yang
mudah larut dalam lemak juga akan mudah terdistribusi. Faktor lain yang
mempengaruhi distribusi adalah fungsi kardiovaskuler, ikatan obat dengan protein
plasma, dan adanya hambatan fisiologi tertentu.
Volume distribusi obat adalah suatu volume cairan, yang secara hifotesis, tempat
obat tersebar didalamnya.
c. Metabolisme
Metabolisme atau biotransformasi ialah reaksi perubahan zat kimia dalam
jaringan biologi yang dikatalisis oleh enzim menjadi metabolitnya. Proses
metabolisme mengubah obat-obat lipofilik mejadi produk yang bersifat lebih polar
15

dan mudah diekresi. Lokasi utama pada proses metabolisme adalah hati tetapi pada
obat-obat tertentu dapat mengalami biotransformasi dalam jaringan lain seperti pada
ginjal dan usus. Beberapa obat yang pada awalnya berbentuk senyawa tidak aktif
harus dimetabolisme menjadi bentuk aktif.
3. Fase Farmakodinamik
Farmakodinamik mempelajari efek obat terhadap fisiologi dan biokimia selular dan
mekanisme kerja obat. Respons obat dapat menyebabkan efek fisiologi primer atau sekunder
atau kedua-duanya. Efek primer adalah efek yang diinginkan, dan efek sekunder bisa
diinginkan atau tidak diinginkan. Salah satu contoh dari obat dengan efek primer dan
sekunder adalah difenhidramin (benadryl) suatu antihistamin. Efek primer dari difenhidramin
adalah untuk mengatasi gejala-gejala alergi, dan efek sekundernya adalah penekanan susunan
saraf pusat yang menyebabkan rasa kantuk. Efek sekunder ini tidak diinginkan jika sedang
mengendarai mobil, tetapi pada saat tidur, dapat menjadi diinginkan karena menimbulkan
sedasi ringan.
3.2 Prinsip Prinsip Pemberian Obat Pada Pasien
Menggambarkan 6 hal yaitu benar dalam pemberian obat, agar dapat tercapainya
pemberian obat yang aman, seorang farmasis harus dapat melakukan hal tersebut:

Tepat pasien
Tepat obat
Tepat dosis
Tepat waktu
Tepat rute pemberian
dan dokumentasi yang benar.

Memberikan pedoman keamanan dalam pemberian obat. Beberapa pedoman umum


dalam pemberian obat dijelaskan dalam prosedur pemberian obat-obat yang benar yang
terdiri dari 4 langkah (persiapan, pemberian, pencatatan, dan hal-hal yang tidak boleh dalam
pemberian obat).
3.3

Faktor Yang Memengaruhi Kerja Obat


Akibat perbedaan cara dan tipe kerja obat,respon terhadap obat sangat bervariasi.

Faktor selain karakteristik obat juga mempengaruhi kerja obat. Pasien atau klien mungkin
tidak memberi respon yang sama terhadap setiap dosis obat yang diberikan.Begitu juga obat
yang sama dapat menimbulkan respons yang berbeda pada klien yang berbeda.
16

1. Perbedaan Genetik
Susunan genetik memepengaruhi biotransformasi obat. Pola metabolik dalam
keluarga seringkali sama.Faktor genetik menentukan apakah enzim yang terbentuk secara
alami ada untuk meembantu penguraian obat.Akibatnya anggota keluarga sensitif
terhadap suatu obat.
2. Variabel Fisiologi
Perbedaan hormonal antara pria dan wanita mengubah metabolisme obat tertentu.
Hormon dan obat saling bersaing dalam biotransformasi karena kedua senyawa tersebut
terurai dalam proses metabolik yang sama. Variasi diurnal pada sekresi estrogen
bertanggung jawab untuk fluktuasi siklik reaksi obat yang dialami wanita. Usia
berdampak langsung pada kerja obat. Bayi tidak memiliki banyak enzim yang diperlukan
untuk metabolisme obat normal. Sejumlah perubahan fisiologis yang menyertai penuaan
memengaruhi respon terhadap terapi obat. Sistem tubuh mengalami perubahan fungsi dan
struktur yang mengubah pengaruh obat. Sebagai seorang farmasis harus berupaya untuk
meminimalkan efek obat yang berbahaya dan meningkatkan kapasitas fungsi yang tersisa
pada kien. Apabila status nutrisi klien buruk, sel tidak dapat berfungsi dengan normal,
sehingga biotransformasi tidak berlangsung seperti semua fungsi tubuh, metabolisme obat
bergantung pada nutrisi yang kuat untuk membentuk enzim dan protein. Kebanyakan obat
berikatan dengan protein sebelum didistribusi ke tempat kerja obat. Setiap penyakit yang
merusak fungsi organ yang bertanggung jawab untuk farmakoniketik normal juga
merusak kerja obat. Perubahan integritas kulit, penurunan absorpsi atau motilitas saluran
cerna, dan kerusakan fungsi ginjal dan hati hanya beberapa kondisi penyakit yang
berhubungan dengan kondisi yang dapat mengurangi kemanjuran obat atau membuat
klien berisiko mengalami toksikasi obat.
3. Kondisi Lingkungan
Stres fisik dan emosi yang berat akan memicu respons hormonal yang pada akhirnya
menggangu metabolisme obat pada klien atau pasien. Radiasi ion menghasilkan efek yang
sama dengan mengubah kecepatan aktivitas enzim. panas dan dingin dapat memengaruhi
respons terhadap obat. Klien atau pasien hipertensi diberi vasodilator untuk mengatur
tekanan darahnya. Pada cuaca panas,dosis vasodilator perlu di kurangi karnar suhu yang
tinggi meningkatkan efek obat. Cuaca dingin cenderung meningkatkan vasokontriksi,
sehingga dosis vasolidator perlu di tambah. Reaksi suatu obat bervariasi, bergantung pada
lingkungan obat tersebut digunakan. Klien atau pasien yang dilindungi dalam isolasi dan
diberi analgesik memperoleh efek peredaan nyeri yang lebih kecil dibanding klien yang
17

dirawat di ruang tempat keluarga dapat mengunjungi klien atau pasien. Contoh lain ialah
jika minum alkohol sendirian; efek yang timbul hanya mengantuk. Namun. Minum
bersama sekelompok teman membuat individu menjadi ceria dan bergaul.
4. Faktor Psikologis
Sejumlah faktor psikologis memengaruhi penggunaan obat dan respons terhadap obat.
Sikap seseorang terhadap obat berakar dari pengalaman sebelumnya atau pengaruh
keluarga. Melihat orangtua sering menggunakan obat-obatan dapat membuat anak
menerimat obat sebagai bagian dari kehidupan normalnya.Makna obat atau signifikansi
mengonsumsi obat mempengaruhi respon klien terhadap terapi.Sebuah obat dapat
digunakn sebagai cara untuk mengatasi rasa tidak aman.Pada situasi ini ,klien bergantung
pada obat sebagai media koping dalam kehidupan .Sebaliknya jika klien kesal terhadap
kondisi fisik mereka ,rasa marah dan sikap bermusuhan dapat menimbulkan reaksi yang
diinginkan terhadap obat.Obat seringkali memberi rasa aman .penggunaan secara teratur
obat tanpa resep atau obat yang dijual bebas.misalnya vitamin,laksatif,dan aspirin,banyak
orang merasa mereka dapat mengontrol kesehatannya.Prilaku perawat saat memberikan
obat dapat berdampak secara signifikan pada respon klien terhadap pengobatan.Apabila
perawat memberi kesan bahwa obat dapat membantu pengobatan kemungkinan akan
memberi efek yang positif.Apabila perawat terlihat kurang peduli saat klien merasa tidak
nyaman,obat yang diberikan terbuktif relatif tidak efektif.
5.

Diet
Interaksi obat dan nutrien dapat mengubah kerja obat atau efek nutrien dapat
mengubah kerja obat atau efek nutrien. Contoh vitamin K (terkandung dalam sayuran
hijau berdaun) merupakan nutrien yang melawan efek warfarin natrium (Coumadin)
mengurangi efeknya pada mekanisme pembekuan darah. Minyak mineral menurunkan
absorbsi vitamin larut lemak. Klien atau pasien membutuhkan nutrisi tambahan ketika
mengonsumsi obat yang menurunkan efek nutrisi. Menahan konsumsi nutrien tertentu
dapat menjamin efek terapeutik obat.

3.4

Rute pemberian obat


Obat dapat diberikan melalui sejumlah rute yang berbeda. Faktor yang menentukan

pemberian rute terbaik ditentukan oleh keadaan umum pasien, kecepatan respon yang
diinginkan, sifat kimiawi dan fisik obat serta tempat kerja yang diinginkan. Pemberian obat
ikut juga dalam menentukan cepat lambatnya dan lengkap tidaknya resorpsi suatu obat.

18

Tergantung dari efek yang diinginkan, yaitu efek sistemik (di seluruh tubuh) atau efek lokal
(setempat) dapat dipilih di antara berbagai cara untuk memberikan obat.
1. Oral
Adalah rute pemberian yang paling umum dan palin g banyak dipakai karena ekonomis, paling nyaman
dan aman. Obat dapat juga diabsorbsi melalui rongga mulut (sublingual atau bukal) seperti tablet
ISDN. Bentuk sediaan obatnya dapat berupa Tablet, Kapsul, Larutan (solution), Sirup,
Eliksir, Suspensi, Magma, Jel, dan Bubuk.
Kelebihan:
relatif aman,
praktis, ekonomis,
meminimalkan ketidak nyamanan pada klien dan dengan efek samping yang paling
kecil.
Kekurangan

bioavaibilitasnya banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor,


iritasi pada saluran cerna, perlu kerjasama dengan penderita (tidak bisa diberikan pada
penderita koma),
timbul efek lambat, tidak bermanfaat untuk pasien yang sering muntah, diare, tidak
sadar, tidak kooperatif; untuk obat iritatif
rasa tidak enak penggunaannya terbatas,
obat yang inaktif/terurai oleh cairan lambung/ usus tidak bermanfaat (penisilin G,
insulin),
obat absorpsi tidak teratur, kerja obat oral lebih lambat dan efeknya lebih lama.

2. Bukal
Pemberian obat melalui rute bukal dilakukan dengan menempatkan obat padat di
membran mukosa pipi sampai obat larut. Klien harus diajarkan untuk menempatkan dosis
obat secara bergantian di pipi kanan dan kiri supaya mukosa tidak iritasi, diperingatkan untuk
tidak mengunyah atau menelan obat atau minum air bersama obat.
Kelebihan:

onset cepat,
mencegah first-pass effect
tidak diperlukan kemampuan menelan

Kekurangan:

absorbsi tidak adekuat,


kepatuhan pasien kurang (compliance),
mencegah pasien menelan

3. Parenteral
19

Rute parenteral adalah memberikan obat dengan meninginjeksi ke dalam jaringan


tubuh, obat yang cara pemberiaannya tanpa melalui mulut (tanpa melalui saluran
pencernaan) tetapi langsung ke pembuluh darah. Misalnya sediaan injeksi atau suntikan.
Tujuannya adalah agar dapat langsung menuju sasaran.
Kelebihan:

bisa untuk pasien yang tidak sadar,


sering muntah dan tidak kooperatif,
tidak dapat untuk obat yang mengiritasi lambung,
dapat menghindari kerusakan obat di saluran cerna dan hati, bekerja cepat dan dosis
ekonomis.

Kekurangan:
kurang aman karena jika sudah disuntikan ke dalam tubuh tidak bisa dikeluarkan lagi
jika terjadi kesalahan,
tidak disukai pasien,
berbahaya (suntikan infeksi).
Pemberian parenteral meliputi empat tipe utama injeksi berikut:
a. Intravena (iv)
Tidak mengalami tahap absorpsi. Obat langsung dimasukkan ke pembuluh darah
sehingga kadar obat di dalam darah diperoleh dengan cepat, tepat dan dapat disesuaikan
langsung dengan respons penderita.
Kelebihan:
cepat mencapai konsentrasi,
dosis tepat,
mudah menitrasi dosis
kekurangan:
obat yang sudah diberikan tidak dapat ditarik kembali, sehingga efek toksik lebih mudah
terjadi.
Jika penderitanya alergi terhadap obat, reaksi alergi akan lebih terjadi.
Pemberian intravena (iv) harus dilakukan perlahan-lahan sambil mengawasi respons
penderita.
konsentrasi awal tinggi toksik, invasive resiko infeksi,
memerlukan keahlian.
b. Intramuscular (im)
Kelarutan obat dalam air menentukan kecepatan dan kelengkapan absorpsi. Obat yang
sukar larut seperti dizepam dan penitoin akan mengendap di tempat suntikan sehingga
absorpsinya berjalan lambat, tidak lengkap dan tidak teratur.
Kelebihan:
20

tidak diperlukan keahlian khusus,


dapat dipakai untuk pemberian obat larut dalam minyak,
absorbsi cepat obat larut dalam air.
Kekurangan:
rasa sakit, tidak dapat dipakai pada gangguan bekuan darah (Clotting time),
bioavibilitas bervariasi, obat dapat menggumpal pada lokasi penyuntikan.
c. Subkutan (SC)
Hanya boleh dilakukan untuk obat yang tidak iritatif terhadap jaringan. Absorpsi
biasanya berjalan lambat dan konstan, sehingga efeknya bertahan lebih lama. Absorpsi
menjadi lebih lambat jika diberikan dalam bentuk padat yang ditanamkan dibawah kulit atau
dalam bentuk suspensi. Pemberian obat bersama dengan vasokonstriktor juga dapat
memperlambat absorpsinya Penyuntikkan dibawah kulit
Kelebihan:
diperlukan latihan sederhana,
absorpsi cepat obat larut dalam air,
mencegah kerusakan sekitar saluran cerna.
Kekurangan:

dalam pemberian subkutan yaitu rasa sakit dan kerusakan kulit,


tidak dapat dipakai jika volume obat besar,
bioavibilitas bervariasi sesuai lokasi.
Efeknya agak lambat

4. Rektal
Obat dapat diberi melalui rute rektal berupa enema atau supositoria yang akan
mencair pada suhu badan. Pemberian rektal dilakukan untuk memperoleh efek lokal.
Bentuknya suppositoria dan clysma obat pompa. Pemberian obat perektal memiliki efek yang
lebih cepat dibandingkan pemberian obat bentuk oral, namun sayangnya tidak semua obat
disediakan supositoria.
Kelebihan:

Baik sekali untuk obat yang dirusak oleh asam lambung,


diberikan untuk mencapai takaran yang cepat dan tepat,
tidak dapat dipakai jika pasien tidak biasa per-oral,
tidak dapat mencegah first-pass-metabolism,
pilihan terbaik untuk anak-anak.

Kekurangan:
absorbsi tidak kuat,
banyak pasien tidak nyaman / risih per-rektal.
5. Transdermal
21

Transdermal adalah rute administrasi dimana bahan aktif yang disampaikan dikulit untuk
distribusi sistemik. Cara pemakaian melalui permukaan kulit, berupa plester. Obat menyerap
secara perlahan dan kontinyu, masuk ke sistem peredaran darah, langsung ke jantung.
Umumnya untuk gangguan jantung misalnya angina pectoris, tiap dosis dapat bertahan 24
jam.
Kelebihan:
Durasi yang lama dari tindakan yang mengakibatkan penurunan frekuensi dosis,
Peningkatan kenyamanan untuk mengelolah obat-obatan yang tidak akan membutuhkan
dosis sering,
meningkatkan bioavaibilitas,
lebih seragam plasma level,
mengurangi efek samping dan terapi karena pemeliharaan kadar plasma sampai akhir
interval pemberian dosis,
Obat terhindar dari first passed effect,
terhindar dari degradasi oleh saluran gastro interstinal,
Absorbsi obat relative konstan dan kontinyu.
Kekurangan:

Memiliki koefisien partisi sedang (larut dalam lipid maupun air),


memiliki titik lebut yang relative rendah,
memiliki effective dose yang relative rendah,
range obat terbatas (terutama terkait untuk molekulnya),
dosis harus kecil,
kemungkinan terjadinya iritasi dan sensitivitas kulit, tidak semua bagian tubuh dapat
menjadi tempat aplikasi obat-obat transdermal. Misalnya telapak kaki,dll,

6. Inhalasi
Yaitu pemberian obat melalui saluran pernafasan. Saluran nafas memiliki epitel untuk
absorpsi yang sangat luas, dengan demikian berguna untuk pemberian obat secara local, pada
salurannya, misalnya salbutamol (ventolin), combivent, berotek untuk asma, atau dalam
keadaan darurat misalnya terapi oksigen. Obat diberikan untuk disedot melalui hidung atau
mulut atau disemprotkan Penyerapan dapat terjadi pada selaput mulut, tenggorokan dan
pernafasan. Bentuk sediaan : Gas dan Zat padat, tetapi bisa juga mempunyai efek sistemik.
Kelebihan:
absorpsi terjadi cepat dan homogen,
kadar obat dapat terkontrol,
terhindar dari efek lintas pertama dan dapat diberikan langsung kepada bronkus.
Kekurangan:
Metode ini lebih sulit dilakukan,
22

memerlukan alat dan metode khusus


sukar mengatur dosis
sering mengiritasi paru.
7. Intranasal
Pemberian obat secara intranasall merupakan alternative ideal untuk menggantikan
sistem penghantaran obat sistemik parenteral.
Kelebihan:
Pencegahan eliminasi lintas perta hepatic
Metabolisme dinding saluran cerna atau destruksi obat disaluran cerna kecepatan dan
jumlah absorpsi
Profil konsentrasi obat versus waktu relatif sebanding dengan pengobatan secara
intravena
Kekurangan:
Secara kosmetik tidak menarik
Absorbsi tidak kuat
8. Pervaginam
Obat diberikan melalui selaput lendir/mukosa vagina, Diberikan pada antifungi dan
anti kehamilan, Obat yang dimasukkan pada umumnya bekerja secara local. Obat ini tersedia
dalam bentuk krim, tablet yang dapat larut dengan perlahan ataupun dapat juga dalam bentuk
salep dan suppositoria
Kelebihan:
Obat cepat bereaksi
Efek yang ditimbulkan bersifat lokal
Kekurangan:
Dapat membangkitkan rasa malu
Kesulitan dalam melakukan prosedur terhadap wanita lansia
Setiap rabas yang keluar memungkinkan berbau busuk

Farmakokinetika Klinik Tetrasiklin


Tetrasiklin merupakan salah satu obat antimikroba yang menghambat sintesis protein
mikroba. Untuk kehidupannya, sel mikroba perlu mensintesis berbagai protein. Sintesis
protein berlangsung di ribosom, dengan bantuan mRNA dan tRNA. Pada bakteri, ribosom
terdiri atas atas dua subunit, yang berdasarkan konstanta sedimentasi dinyatakan sebagai
23

ribosom 30S dan 50S. untuk berfungsi pada sintesis protein, kedua komponen ini akan
bersatu pada pangkal rantai mRNA menjadi ribosom 70S.
Golongan tetrasiklin yang pertama ditemukan adalah klortetrasiklin kemudian
ditemukan oksitetrasiklin. Tetrasiklin sendiri dibuat secara semisintetik dari klortetrasiklin,
tetapi juga dapat diperoleh dari species Streptomyces lain. Demeklosiklin, doksisiklin dan
minosiklin juga termasuk antibiotic golongan tetrasiklin.
a. Mekanisme kerja
Golongan tetrasiklin menghambat sintesis protein bakteri pada ribosomnya. Paling
sedikit terjadi 2 proses dalam masuknya antibiotik ke dalam ribosom bakteri gram negatif;
pertam yang disebut difusi pasif melalui kanal hidrofilik, kedua ialah sistem transport aktif.
Setelah masuk maka antibiotik berikatan dengan ribosom 30S dan menghalangi masuknya
tRNA-asam amino pada lokasi asam amino.
b. Efek Antimikroba
Pada umumnya spektrum golongan tetrasiklin sama (sebab mekanismenya sama),
namun terdapt perbedaan kuantitatif dan aktivitas masing-masing drivat terhadap kuman
tertentu. Hanya mikroba yang cepat membelah yang dipengaruhi obat ini. Golongan
tetrasiklin termasuk antibiotik yang terutama bersifat bakteriostatik dan bekerja dengan
jalan menghambat sintesis protein kuman.

c. Farmakokinetik
Absorpsi
Sekitar 30-80% tetrasiklin diserap dalam salura cerna. Doksisiklin dan minosiklin
iserap lebih dari 90%. Absorpsi sebagian besar berlangsung di lambung dan usus
halus. Adanya makanan dalam lambung menghambat penyerapan, kecuali minosiklin
dan doksisiklin. Absorpsi dihambat dalam derajat tertentu oleh pH tinggi dan
24

pembentukan kelat yaitu kompleks tetrasiklin dengan suatu zat lain yang sukar
diserap seperti aluminium hidroksid, garam kalsium dan magnesium yang biasanya
terdapat dalam antasida, dan juga ferum. Tetrasiklin diberikan sebelum makan atau 2
jam sesudah makan.
Distribusi
Dalam plasma semua jenis tetrasiklin terikat oleh protein plasma dalam jumlah yang
bervariasi. Dalam cairan cerebrospinal (CSS) kadar golongan tetrasiklin hanya 1020% kadar dalam serum. Penetrasi ke CSS ini tidak tergantung dari adanya
meningitis. Penetrasi ke cairan tubuh lain dan jaringan tubuh cukup baik. Obat
golongan ini ditimbun di hati, limpa dan sumssum tulang serta di sentin dan email
gigi yang belum bererupsi. Golongan tetrasiklin menembus sawar uri dan terdapat
dalam ASI dalam kadar yang relatif tinggi. Dibandingkan dengan tetrasiklin lainnya,
doksisiklin dan minosiklin daya penetrasinya ke jaringan lebih baik.
Ekskresi
Golongan tetrasiklin diekskresi melalui urin dengan filtrasi glomerolus dan melalui
empedu. Pemberiaan per oral kira-kira 20-55% golongan tetrasiklin diekskresi
melalui urin. Golongan tetrasiklin yang diekskresi oleh hati ke dalam empedu
mencapai kadar 10 kali kadar dalam serum. Sebagian besar obat yang diekskresi ke
dalam lumen usus ini mengalami sirkulasi enterohepatik; maka obat ini masih
terdapat dalam darah untuk waktu lama setelah terapi dihentikan. Bila terjadi
obstruksi pada saluran empedu atau gangguan faal hati obat ini akan mengalami
kumulasi dalam darah. Obat yang tidak diserap diekskresi melalui tinja.
d. Efek samping
Gangguan lambung. Penekanan epigastrik biasanya disebabkan iritasi ari mukosa
lambung dan sering kali terjadi pada penderita yang tidak patuh yang diobati dengan
obat ini.
Efek terhadap kalsifikasi jaringan. Deposit dalam tulang dan pada gigi timbul selama
kalsifikasi pada anak yang berkembang. Hal ini menyebabkan pewarnaan dan hipoplasi
pada gigibdan menganggu pertumbuhan sementara.

25

Hepatotoksisitas fatal. Efek samping ini telah diketahui timbul bila obat ini diberikan
pada perempuan hamil dengan dosis tinggi terutama bila penderita tersebut juga pernah
mengalami pielonefritis.
Fototoksisitas . Fototoksisitas, misalnya luka terbakar matahari yang berat terjadi bila
pasien menelan tetrasiklin terpajan oleh sinar matahari atau UV. Toksisitas ini sering
dijumpai dengan pemberian tetrasiklin, doksisiklin dan deklosiklin.
Gangguan keseimbangan. Efek samping ini misalnya pusing, mual, muntah terjadi bila
mendapat minosiklin yang menumpuk dalam endolimfe telinga dan mempengaruhi
fungsinya.
Pseudomotor serebri. Hipertensi intrakranial benigna ditandai dengan sakit kepala dan
pandangn kabur yang dapat terjadi pad orang dewasa. Meskipun penghentian meminum
obat membalikkan kondisi, namun tidak jelas apakah dapat terjadi sekuela permanen.
Superinfeksi. Pertumbuhan berlebihan dari kandida (misalnya dalam vagina) atau
stafilokokus resisten (dalam usus) dapat terjadi.
e. Penggunaan klinik
Penyakit yang obat pilihannya golongan tetrasiklin adalah:
Riketsiosis. Perbaikan yang dramatik tampak setelah penggunaan obat golongan ini.
Demam mereda dalam 1-3 hari dan ruam kulit hilang dalam 5 hari. Perbaikan klinis
tampak 24 jam setelah terapi.
Infeksi klamidia.
Limfogranuloma venereum: Golongan tetrasiklin merupakan obat pilihan utama
penyakit ini. Terapi 3-4 minggu dan 1-2 bulan untuk keadaan kronik.
Psitakosis: pemberiaan golongan tetrasiklin selama beberapa hari mengatasi gejala
klinis.
f. Interaksi obat

26

Bila tetrasiklin diberikan dengan metoksifluoran maka dapat menyebabkan nefrotoksisk.


Bila dikombinasikan dengan penisilin maka aktivitas antimikrobanya dihambat. Bila
tetrasiklin digunakan bersamaan dengan produk susu maka akan menurunkan absorpsinya
karena membentuk khelat tetrasiklin dengan ion kalsium yang tidak dapat diabsorpsi.

BAB IV
PENUTUP

4.1

Kesimpulan
Mekanisme kerja obat setelah melalui proses absorpsi, distribusi, dan metabolisme

obat akan dikeluarkan dari tubuh. Fase ini dinamakan fase ekskresi. Eksresi dapat melalui
ginjal, urin, feses, keringat dan lain-lain. Ginjal adalah eksresi paling sering terjadi.
Dalam memberikan dosis obat harus sesuai dengan kondisi dan usia pasien. Dengan
menggunakan rumus yang telah ditetapkan untuk menentukan dosis yang tepat agar pasien
merasa puas atas tindakan keperawatan yang kita berikan.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi distribusi obat yaitu:

Formulasi obat

Karakteristik pasien

Adanya zat lain pada saluran pencernaan

Karakteristik farmakokinetik obat


Rute lain dari pemberian obat dapat digunakan misalnya secara konjungtiv, vaginal

dan intranasal, tetapi diantara masing-masing terapi tersebut memiliki indikasi, kekurangan
dan kelebihan dari masing-masing obatnya.
27

4.2

Saran
Dalam proses ekskresi juga dibutuhkan organ yang sehat agar semua berjalan dengan

lancer, dan menjaga kesehatan adalah hal yang utama. Dalam memberikan dosis obat yang
tepat dan juga akurat. Dibutuhkan kemampuan untuk mengetahui dan menerapkan rumus
perhitungan dosis. Jadi, kita sebagai perawat yang profesi professional harus mampu
menguasai tentang dosis obat.

28