Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Kemajuan suatu negara sangat ditentukan oleh kemampuan dan
keberhasilannya dalam melaksanakan pembangunan. Pembangunan
sebagaisuatu proses perubahan yang direncanakan mencakup semua aspek
kehidupan masyarakat. Efektifitas dan keberhasilan pembangunan terutama
ditentukan oleh dua faktor, yaitu sumber daya manusia, yakni (orang-orang
yang terlibat sejak dari perencanaan sampai pada pelaksanaan) dan
pembiayaan. Diantara dua faktor tersebut yang paling dominan adalah
faktor manusianya. Negara yang korupsi bukanlah merupakan sebuah
negara yang kaya malahan termasuk negara yang miskin. Mengapa
demikian? Salah satu penyebabnya adalah rendahnya kualitas sumber daya
manusianya. Kualitas tersebut bukan hanya dari segi pengetahuan atau
intelektualnya tetapi juga menyangkut kualitas moral dan kepribadiannya.
Rapuhnya moral dan rendahnya tingkat kejujuran dari aparat penyelenggara
negara menyebabkan terjadinya korupsi.Korupsi di negara-negara di dunia,
dewasa ini sudah merupakan patologi social (penyakit sosial) yang sangat
berbahaya yang mengancam semua aspek kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara. Korupsi telah mengakibatkan kerugian materil
keuangan negara yang sangat besar. Namun yang lebih memprihatinkan lagi
adalah terjadinya perampasan dan pengurasan keuangan negara yang
dilakukan secara kolektif oleh kalangan anggota legislatif.

Maka dari itu, dalam makalah ini akan dijelaskan secara lebih rinci mengenai
Korupsi, yangdijabarkan dalam rumusan masalah dibawah.
Rumusan Masalah
Berdasarkan Latar Belakang Masalah yang telah dijelaskan diatas, maka
dapat kita simpulkan Rumusan Masalah sebagai berikut
Apakah Pengertian dari Korupsi?
Apa saja Teori-teori dasar Korupsi?

Apakah Motif Yang Mendasari Terjadinya Korupsi?


Seperti apa Ruang Lingkup dan Bentuk Korupsi?
Bagaimana Pola Penindakan Korupsi serta Contoh Kasusnya?
Apakah Dampak dari terjadinya Korupsi?
Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui Pengertian dari Korupsi;
Untuk mengetahui Teori-teori Dasar Korupsi;
Untuk mengetahui Motif yang mendasari terjadinya Korupsi;
Untuk mengetahui Ruang Lingkup dan Bentuk dari Korupsi;
Untuk mengetahui Pola Penindakan Korupsi beserta contoh kasusnya;
Untuk mengetahui Dampak Korupsi.

BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Korupsi

Pengertian atau asal kata korupsi menurut Fockema Andrea dalam Andi
Hamzah, kata korupsi berasal dari bahasa latin corruptio atau corruptus yang
selanjutnya disebutkan bahwa corruptio itu berasal dari kata asal
corrumpere, suatu kata dalam bahasa latin yang lebih tua. Dari bahasa Latin
itulah turun ke banyak bahasa Eropa seperti Inggris, yaitu corruption,
corrupt; Perancis, yaitu corruption; dan Belanda, yaitu corruptie (korruptie),
dapat atau patut diduga istilah korupsi berasal dari bahasa Belanda dan
menjadi bahasa Indonesia, yaitu korupsi.
Menurut Dr. Kartini Kartono, korupsi adalah tingkah laku individu yang
menggunakan wewenang dan jabatan guna mengeduk keuntungan, dan
merugikan kepentingan umum.Dalam Kamus Umum Belanda Indonesia yang
disusun oleh Wijowasito, corruptie yang juga disalin menjadi corruptien
dalam bahasa Belanda mengandung arti perbuatan korup, penyuapan.
Pengertian dari korupsi secara harfiah menurut John M. Echols dan Hasan
Shadaly, berarti jahat atau busuk, sedangkan menurut A.I.N. Kramer SR
mengartikan korupsi sebagai ; busuk, rusak atau dapat disuap.
Pengertian korupsi menurut Gurnar Myrdal dalam bukunya Asian Drama,
Volume II adalah :
To include not only all forms of improper or selfish exercise of power and
influence attached to a public office or the special position one occupies in
the public life but also the acivity of the bribes.
Korupsi tersebut meliputi kegiatan-kegiatan yang tidak patut yang berkaitan
dengan kekuasaan, aktivitas-aktivitas pemerintahan, atau usaha-usaha
tertentu untuk memperoleh kedudukan secara tidak patut, serta kegiatan
lainnya seperti penyogokan.Kemudian arti korupsi yang telah diterima
dalam perbendaharaan kata bahasa Indonesia, disimpulkan oleh

Poerwadarminta : Korupsi ialah perbuatan yang buruk seperti penggelapan


uang, penerimaan uang sogok dan sebagainya.

Tindak pidana korupsi di Indonesia sudah sangat meluas dan telah masuk
sampai ke seluruh lapisan kehidupan masyarakat. Perkembangannya terus
meningkat dari tahun ke tahun, dalam jumlah kasus yang terjadi dan jumlah
kerugian keuangan negara serta dari segi kualitas tindak pidana korupsi
yang dilakukan semakin sistematis yang telah memasuki seluruh aspek
kehidupan masyarakat. Harus kita sadari meningkatnya tindak pidana
korupsi yang tidak terkendali akan membawa dampak yang tidak hanya
sebatas kehidupan perekonomian nasional tetapi juga pada kehidupan
berbangsa dan bernegara pada umumnya.
Perbuatan tindak pidana korupsi merupakan pelanggaran terhadap hak-hak
sosial dan hak-hak ekonomi masyarakat, sehingga tindak pidana korupsi
tidak lagi digolongkan sebagai kejahatan biasa melainkan telah menjadi
kejahatan luar biasa. Sehingga dalam upaya pemberantasannya tidak lagi
dapat dilakukan secara biasa, tetapi dituntut cara-cara yang luar biasa.
Penegakan hukum dalam rangka pemberantasan tindak pidana korupsi yang
selama ini dilakukan secara konvensial terbukti telah mengalami berbagai
hambatan. Dengan demikian, diperlukan metode penegakan hukum secara
luar biasa melalui pembentukan suatu badan khusus yang mempunyai
kewengangan luas, independen serta bebas dari kekuasaan manapun dalam
upaya pemberantasan tindak pidana korupsi, yang pelaksanaannya
dilakukan
secara
optimal,
intensif,
efektif,
profesional,
serta
berkesinambungan.
Badan khusus yang dimaksud adalah KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi)
yang memiliki kewenangan melakukan koordinasi dan supervise, termasuk
melakukan penyelidikan, penyidikan dan penuntutan, sedangakan mengenai
pembentukan, susunan organisasi, tata kerja dan pertanggungjawaban
diatur dengan undang-undang. KPK merupakan lembaga negara yang
bersifat independen, melaksanakan tugas dan wewenangnya bebas dari
kekuasaan manapun.
Tindak pidana korupsi merupakan masalah yang sangat serius, karena tindak
pidana korupsi dapat membahayakan stabilitas dan keamanan negara dan
masyarakatnya, membahayakan pembangunan sosial dan ekonomi
masyarakat, politik, bahkan dapat pula merusak nilai-nilai demokrasi derta

moralitas bangsa karena dapat berdampak membudayanya tindak pidana


korupsi tersebut.

Teori-teori Dasar Korupsi


Ada beberapa teori dasar yang menjelaskan tentang korupsi. Teori itu antara
lain:
Teori Vroom
P = f (A x M)
P = Performance
A = Ability
M = Motivation
Berdasarkan Teori Vroom, kinerja (performance) seseorang tergantung pada
tingkat kemampuannya (ability) dikalikan dengan motivasi (motivation).
Kemampuan seseorang berbanding lurus dengan tingkat pendidikan yang
dimilikinya. Jadi, dengan tingkat motivasi yang sama seseorang dengan
tingkat pendidikan lebih tinggi akan menghasilkan kinerja yang lebih baik.
Namun, permasalahannya tidak sesederhana itu masih ada rumusan Vroom
mengenai motivasi (motivation) seseorang yaitu:
M = f (E x V)
M = Motivation
E = Expectation
V = Valance/Value
Motivasi tergantung pada harapan (expectation) orang yang bersangkutan
dikalikan dengan nilai (value) yang terkandung dalam setiap pribadi
seseorang. Jika harapan seseorang adalah ingin kaya, maka ada dua

kemungkinan yang akan dia lakukan. Jika nilai yang dimiliki positif maka, dia
akan melakukan hal-hal yang tidak melanggar hukum agar bisa menjadi
kaya. Namun jika dia seorang yang memiliki nilai negatif, maka dia akan
berusaha mencari segala cara untuk menjadi kaya sehingga muncullah
korupsi sebagai jalan pintas.
Teori Kebutuhan Maslow
Teori Kebutuhan Maslow tersebut menggambarkan hirarki kebutuhan dari
paling mendasar (bawah) hingga naik paling tinggi adalah aktualisasi diri.
Kebutuhan paling mendasar dari seorang manusia adalah sandang dan
pangan (physical needs). Selanjutnya kebutuhan keamanan adalah
perumahan atau tempat tinggal, kebutuhan sosial adalah berkelompok,
bermasyarakat, berbangsa. Ketiga kebutuhan paling bawah adalah
kebutuhan utama (prime needs) setiap orang. Setelah kebutuhan utama
terpenuhi, kebutuhan seseorang akan meningkat kepada kebutuhan
penghargaan diri yaitu keinginan agar kita dihargai, berperilaku terpuji,
demokratis dan lainya. Kebutuhan paling tinggi adalah kebutuhan pengakuan
atas kemampuan kita, misalnya kebutuhan untuk diakui sebagai kepala,
direktur maupun walikota yang dipatuhi bawahannya.
Teori Klitgaard dan Ramirez Torres
Teori Klitgaard:
C=M+DA
C = Korupsi
M= Monopoly of Power
D= Discretion of official
A= Accountability
Menurut Robert Klitgaard, monopoli kekuatan oleh pimpinan (monopoly of
power) ditambah dengan tingginya kekuasaan yang dimiliki seseorang
(discretion of official) tanpa ada pengawasan yang memadai dari aparat
pengawas (minus accountability), maka akan terjadi korupsi.Perubahan pola
pemerintahan yang tersentralisasi menjadi terdesentralisasi dengan adanya
otonomi daerah telah menggeser praktik korupsi yang dahulu hanya
didominasi oleh pemerintah pusat kini menjadi marak terjadi di daerah. Hal
ini selaras dengan teori Klitgaard bahwa korupsi mengikuti kekuasan.

Teori Ramirez Torres:


Rc > Pty x Prob
Rc = Reward
Pty=Penalty
Prob=Probability (kemungkinan tertangkap)
Korupsi adalah kejahatan kalkulasi atau perhitungan (crime of calculation)
bukan hanya sekedar keinginan (passion). Seseorang akan melakukan
korupsi jika hasil yang didapat dari korupsi tinggi dan lebih besar dari
hukuman yang didapat serta kemungkinan tertangkap kecil.

Teori Jack Bologne (GONE)


Menurut Jack Bologne akar penyebab korupsi ada empat, yaitu
G = Greedy
O = Opportunity
N = Needs
E = Expose
Greed, terkait keserakahan dan kerakusan para pelaku korupsi. Koruptor
adalah orang yang tidak puas akan keadaan dirinya. Opportuniy, sistem yang
memberi peluang untuk melakukan korupsi. Need, sikap mental yang tidak
pernah merasa cukup, selalu sarat dengan kebutuhan yang tidak pernah
usai. Exposes, hukuman yang dijatuhkan kepada para pelaku korupsi yang
tidak memberi efek jera pelaku maupun orang lain.
Motif Terjadinya Korupsi
Untuk memahami masalah korupsi yang begitu meluas di berbagai negara
khususnya pada negara berkembang, harus dikaitkan bahwa korupsi seolaholah sebagai satu keharusan dan tidak terpisahkan dengan negara-negara
berkembang. Korupsi sesungguhnya merupakan suatu proses yang
berhubungan dengan latar belakang sejarah bangsa atau negara yang
bersangkutan. Tanpa memahami latar belakang budaya dan sejarahnya,

diagnosis dan terapi yang dilakukan untuk pemberantasan atau


penanggulangan korupsi bisa saja keliru, yang akan berakibat besar dan
merupakan masalah tersendiri karena tindakan-tindakan penanggulangan
yang diterapkan tidak akan efektif.
Motif, penyebab, atau pendorong seseorang untuk melakukan tindakan
korupsi sebenarnya bervariasi dan beranekaragam. Akan tetapi, secara
umum dapat dirumuskan, bahwa tindakan korupsi dilakukan dengan tujuan
mendapat keuntungan pribadi, keluarga, kelompok, golongannya sendiri.
Dengan mendasarkan pada motif keuntungan pribadi atau golongan ini,
dapatlah dipahami jika korupsi terdapat dimana-mana dan terjadi kapan saja
karena masalah korupsi selalu terkait dengan motif yang ada pada tiap insan
manusia untuk mendapatkan keuntungan pribadi atau golongannya.
Cara yang ditempuh menurut norma-norma yang berlaku merupakan usaha
yang bersifat halal dan ridha. Cara korupsi yang dilakukan untuk
mendapatkan keuntungan tidak mengikuti dan didasari norma-norma yang
berlaku, jelas bahwa hal ini tidak halal dan tidak diridhai. Apabila tindakan
atau usaha ini dilakukan dengan penggunaan dan atau penyalahgunaan
kekuasaan atau wewenang atau kesempatan kerja dengan persyaratan
seperti dirumuskan dalam pengertian kerja, usaha ini dikategorikan tindakan
korupsi.
Banyak faktor yang mempengaruhi motif untuk melakukan tindakan korupsi
yang menginginkan keuntungan pribadi atau golongan. Menurut komisi IV,
terdapat tiga indikasi yang menyebabkan meluasnya korupsi di Indonesia,
yakni.
Pendapatan atau gaji yang tidak mencukupi
Penyalahgunaan kesempatan untuk memperkaya diri, dan
Penyalahgunaan kekuasaan untuk memperkaya diri.
Komisi IV juga menyatakan, kemungkinan meluasnya perbuatan korupsi
berhubungan dengan meningkatnya kegiatan dalam bidang ekonomi
pembangunan, seperti perluasan perkreditan, bantuan luar negeri dan
penanaman modal asing.
Menurut Dr. Sarlito W, tidak ada jawaban yang persis untuk menjawab alasan
apa yang mendorong terjadinya korupsi, tetapi ada dua hal yang jelas, yaitu
faktor rangsangan dari dalam diri sendiri (keinginan, hasrat, kehendak dan

sebagainya) dan faktor rangsangan dari luar (misal dorongan dari temanteman, adanya kesempatan, dan kurang kontrol dan sebagainya.
A.S. Harris Sumidiria menjawab bahwa korupsi lahir karena ambruknya nilainilai sosial, korupsi kambuh karena adanya penyalahgunaan tujuan
wewenang dan kekuasaan, dan korupsi hidup karena sikap dan mental
pejabat yang bobrok, baik pejabat tinggi maupun pejabat rendahan. Dr. Andi
Hamzah dalam disertasinya menginventariskan beberapa penyebab korupsi,
yakni kesan yang berlebih-lebihan, seolah-olah telah tersebar luas, terutama
di kalangan pejabat tinggi. Rasa khawatir akan membesarnya kesan inilah
yang menyebabkan Nehru secara terus-menerus menolak tuntutan-tuntutan
agar dia membersihkan pemerintahannya dan birokrasi negara dari korupsi.
Berteriak keras-keras bahwa setiap orang berbuat korupsi hanya akan
menciptakan iklim korupsi, katanya. Rakyat akan berpendapat bahwa
mereka hidup dalam iklim korupsi dan karena itu akan melakukan korupsi
pula.
Dengan mempertimbangkan pandangan Nehru mengenai dongeng rakyat
tentang korupsi tersebut, mungkin perlu pula dipertimbangkan tentang
strategi atau taktik untuk penanggulangan dan pemberantasan korupsi,
apakah perlu dilaksanakan secara sensional ataukah secara tenang-tenang
atau diam-diam tetapi dengan langkah-langkah yang pasti, terencana,
operasional, dan efektif. Di samping itu, mungkin terdapat pula aspek lain
yang perlu dipertimbangkan dalam masalah ini, yakni tentang kemungkinan
adanya golongan tertentu (politik misalnya) memang dengan sengaja
mengobarkan api desas-desus dongeng rakyat tentang korupsi ini.

Apabila diinventarisasikan, banyak sekali faktor-faktor yang dapat disebut


sebagai penyebab timbul, lahir, tumbuh, serta perkembangan korupsi,
khususnya di negara-negara yang sedang berkembang. Diantara sekian
banyak faktor ini, James C. Scot mengemukakan beberapa hal yang secara
khusus memiliki hubungan dengan aspek politik dan pemerintahan, yakni:
Sistem politik resmi belum sepenuhnya diterima dan masih lemah
landasan hukumnya dibandingkan dengan ikatan keluarga dan suku yang
masih kukuh;
Pemerintah penting sebagai sumber pekerjaan dan mobilits sosial;
Ada golongan-golongan elite yang kaya raya yang tidak diberi kesempatan
mempengaruhi kebijaksanaan pemerintah secara langsung dan terbuka;

Tidak ada kemauan yang sungguh-sungguh untuk hidup berlandaskan


hukum yang berlaku di pihak golongan-golongan elite maupun dipihak rakyat
banyak.
Ruang Lingkup dan Bentuk Korupsi
Asal mula berkembangnya korupsi barangkali dapat ditemukan sumbernya
pada fenomena sistem pemerintahan monarki absolut tradisional yang
berlandaskan pada budaya feodal. Pada masa lalu, tanah-tanah di wilayah
suatu negara atau kerajaan adalah milik mutlak raja, yang kemudian
diserahkan kepada para pangeran dan bangsawan yang ditugasi untuk
memungut pajak, sewa dan upeti dari rakyat yang menduduki tanah
tersebut. Disamping membayar dalam bentuk uang atau in natura, sering
pula rakyat diharuskan membayar dengan hasil bumi serta dengan tenaga
kasar, yakni bekerja untuk memenuhi berbagai keperluan sang raja atau
penguasa. Elite penguasa yang merasa diri sebagai golongan penakluk,
secara otomatis juga merasa memiliki hak atas harta benda dan nyawa
rakyat yang ditaklukkan. Hak tersebut biasanya diterjemahkan dalam
tuntutan yang berupa upeti dan tenaga dari rakyat (Onghokham, 1995).
Seluruh upeti yang masuk ke kantong para pembesar ini selain dipergunakan
untuk memenuhi kebutuhan pembesar itu sendiri, pada dasarnya juga
berfungsi sebagai pajak yang dipergunakan untuk membiayai kegiatankegiatan negara. Hanya saja, belum ada lembaga yang secara resmi ditunjuk
sebagai pengumpul pajak, sehingga para pembesar atau pejabat tadi juga
merangkap sebagai pengumpul dana (revenue gathering). Parahnya,
kedudukan dalam pemerintahan sebagai pembesar atau pejabat ini dapat
diperjualbelikan (venality of office), yang menyebabkan pembeli jabatan tadi
berusaha untuk mencari kompensasi atas uang yang telah dikeluarkannya
dengan memungut upeti sebesar-besarnya dari rakyat.

Pada masa-masa sesudahnya, kondisi ini ternyata memperkuat sistem


patron client, bapak anak, atau kawula gusti, dimana seorang pembesar
sebagai patron harus dapat memenuhi harapan rakyatnya, tentu saja
dengan adanya timbal balik dari rakyat sebagai client-nya. Hubungan patron
clientini merupakan salah satu sumber korupsi, sebab seorang pejabat
untuk membuktikan efektivitasnya harus selalu berbuat sesuatu tanpa
menghiraukan apakah ini untuk kepentingan umum atau kepentingan
kelompok bahkan perorangan, yakni para anak buah yang seringkali adalah
saudaranya sendiri. Selain itu, sistem patron client juga menjadi faktor

perusak koordinasi dan kerjasama antar para penguasa, dimana timbul


kecenderungan persaingan antara para penguasa, dimana timbul
kecenderungan persaingan antara para pejabat untuk menganakemaskan
orangnya. Disinilah faksionalisme dikalangan elite menjadi berkepanjangan.
Korupsi yang sekarang merajalela di Indonesia, berakar pada masa tersebut
ketika kekuasaan bertumpu pada birokrasi patrimonial yang berkembang
pada kerangka kekuasaan feodal dan memungkinkan suburnya nepotisme.
Dalam struktur kekuasaan yang demikian, maka penyimpangan, penyuapan,
korupsi dan pencurian akan dengan mudah berkembang (Mochtar Lubis,
1995).
Dalam perkembangan selanjutnya, dapat dilihat bahwa ruang lingkup korupsi
tidak terbatas pada hal-hal yang sifatnya penarikan pungutan dan nepotisme
yang parah, melainkan juga kepada hal-hal lain sepanjang perbuatan
tersebut merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. Selain itu
juga dapat dikategorikan ke dalam perbuatan korupsi adalah setiap
pemberian yang dikaitkan dengan kedudukan atau jabatan tertentu. UU
Nomor 3 tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
menentukan bahwa seseorang dianggap melakukan tindak pidana korupsi
apabila :
Secara melawan hukum melakukan perbuatan atau memperkaya diri
sendiri atau orang lain, atau sesuatu badan yang secara langsung atau tidak
langsung merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.
Dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau sesuatu
badan, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada
padanya karena jabatan atau kedudukan, yang secara langsung atau tidak
langsung merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.
Memberi hadiah atau janji kepada pegawai negeri dengan mengingat
sesuatu kekuasaan dan kewenangan yang melekat pada jabatan atau
kedudukannya. Termasuk dalam hal ini adalah siapa saja yang tanpa alas n
yang wajar, tidak melaporkan pemberian atau janji tersebut kepada yang
berwajib dalam waktu yang sesingkat-singkatnya setelah menerima suatu
pemberian atau janji.

Bahkan untuk mencegah terjadinya korupsi, usaha-usaha percobaan atau


permufakatan untuk melakukan tindak pidana sebagaimana tersebut diatas,
sudah dianggap sebagai perbuatan korupsi. Adapun dari segi tipologi, Alatas

(1987) membagi korupsi kedalamtujuh jenis yang berlainan. Ketujuh jenis


korupsi itu adalah sebagai berikut :
Korupsi transaktif (transactive corruption), menunjuk kepada adanya
kesepakatantimbal balik antara pemberi dan pihak penerima, demi
keuntungan kedua belah pihak.
Korupsi yang memeras (extortive corruption), menunjuk adanya
pemaksaan kepada pihak pemberi untuk menyuap guna mencegah kerugian
yang sedang mengancan dirinya, kepentingannya atau hal-hal yang
dihargainya.
Korupsi investif (investive corruption), adalah pemberian barang atau jasa
tanpa ada pertalian langsung dengan keuntungan tertentu, selain
keuntungan yang dibayangkan akan diperoleh dimasa yang akan datang.
Korupsi perkerabatan (nepotistic corruption) adalah penunjukan yang tidak
sah terhadap teman atau sanak saudara untuk memegang jabatan dalam
pemerintahan, atau tindakan yang memberikan perlakuan istimewa secara
bertentangan dengan norma dan peraturan yang berlaku.
Korupsi defensif (defensive corruption) adalah perilaku korban korupsi
dengan pemerasan. Korupsinya dalam rangka mempertahankan diri.
Korupsi otogenik (autogenic corruption) yaitu korupsi yang dilakukan oleh
seseorang seorang diri.
Korupsi dukungan (supportive corruption) adalah korupsi yang dilakukan
untuk memperkuat korupsi yang sudah ada.
Dalam Undang-Undang No. 31 tahun 1999 dan Undang-Undang No. 20 tahun
2001 terdapat 30 rumusan bentuk/jenis tindak pidana korupsi. Pasal-pasal
tersebut menerangkan secara terpisah dan terperinci mengenai perbuatanperbuatan yang dikenakan pidana korupsi. Namun pada dasarnya 30
bentuk/jenis korupsi itu dapat dikelompokan menjadi:
Kerugian keuangan negara
Suap menyuap
Pengelapan dalam jabatan
Pemerasan
Perbuatan curang

Benturan kepentingan dalam pengadaan, dan


Gratifikasi
Dalam buku Toward A General Theory Of Official Corruption karangan Gerald
E Caiden bentuk umum korupsi yang dikenal antara lain:
Berkhianat, subversi, transaksi luar negeri ilegal, penyeludupan;
Mengelapkan barang milik lembaga, swastanisasi anggaran pemerintah,
menipu dan mencuri;
Menggunakan uang yang tidak tepat, memalsukan dokumen dan
menggelapkan uang, mengalirkan uang lembaga ke rekening pribadi,
menggelapkan pajak, menyalahgunakan dana;
Menyalahgunakan wewenang, intimidasi, menyiksa, penganiayaan,
memberi ampun dan grasi tidak pada tempatnya;
Menipu dan mengecoh, memberi kesan yang salah, mencurangi dan
memperdaya, memeras;
Mengabaikan keadilan, melanggar hukum, memberikan kesaksian palsu,
menahan secara tidak sah, menjebak;
Tidak menjalankan tugas, desersi, hidup menempel pada orang lain
seperti benalu;
Penyuapan dan penyogokan, memeras, mengutip pungutan, menerima
komisi;
Menjegal pemilihan umum, memalsukan surat suara, membagi-bagi
wilayah pemilihan umum agar bisa unggul;
Menggunakan informasi internal dan informasi rahasia untuk kepentingan
pribadi, membuat laporan palsu;
Menjual tanpa izin jabatan pemerintah, barang miliki pemerintah dan
surat izin pemerintah;
Manipulasi peraturan, pembelian barang persediaan, kontrak dan
pinjaman uang;
Menghidari pajak, meraih laba berlebih-lebihan;
Menjual pengaruh, menawarkan jasa perantara, konflik kepentingan;

Menerima hadiah, uang jasa, uang pelicin dan hiburan, perjalanan yang
tidak pada tempatnya;
Berhubungan dengan organisasi kejahatan, operasi pasar gelap;
Perkoncoan, menutupi kejahatan;
Memata-matai secara tidak sah, menyalahgunakan telekomunikasi;
Menyalahgunakan stempel dan kertas surat kantor, rumah jabatan dan
hak istimewa jabatan.
Pola Penindakan Korupsi
Meskipun sudah banyak yang tertangkap dan terjerat hukum, para koruptor
sepertinya belum juga jera. Serangkaian kasus korupsi ini seakan
mengingatkan kita akan merosotnya moral dan hilangnya sikap
kepemimpinan dari pemimpin bangsa Indonesia. Besarnya pengeluaran saat
kampanye Pilkada menuntut mereka mengembalikan biaya politik yang
sudah di keluarkan. Dan korupsilah jalan yang menjadi pilihannya.
Merasuknya laten korupsi sangat merugikan dan dapat merusak setiap sendi
kebersamaan bangsa. Kerugian besar sedang melanda Indonesia sebagai
akibat dari korupsi. Apalagi kalau biaya antisipasi dan penanganan kasus
korupsi ini juga dimasukkan. Realita yang harus di wujudkan adalah
reformasi hukum berkaitan dengan sanksi terhadap pelaku korupsi. Sanksi ini
harus diperberat agar memberi efek jera kepada pelakunya. Putusan hakim
pun harus benar-benar menunjukkan kesadaran dalam diri hakim bahwa
korupsi merupakan tindak kejahatan yang luar biasa merugikan negara dan
rakyat. Selain itu, pembinaan sistem anti-korupsi serta transparansi APBN
harus di perketat pembinaannya. Apalagi yang berkaitan dengan jumlah,
alokasi anggaran sampai penggunaan anggaran APBN. Kalau hal ini bisa
dilakukan, penyalahgunaan anggaran pasti bisa di tekan. Masyarakatpun
bisa mengontrol penggunaan anggaran tersebut.
Terlebih lagi kalau koruptor ini mau bercermin dari kasus yang menjerat
Angelina Sondakh yang membuatnya harus mendekam di penjara selama 12
tahun penjara dan mengembalikan uang suap yang diterimanya sebesar
Rp12,58 miliar plus 2,350 juta dolar AS. Hal ini harusnya bisa membuat
koruptor yang masih berkeliaran diluar sana enggan dan jera untuk
melakukan tindakan korupsinya.

Hukum yang jauh lebih ekstrim ternyata memang harus pemerintah


terapkan. Hukuman yang selama ini dijatuhkan kepada koruptor yang sudah
terbukti korupsi belum benar-benar memberikan efek jera. Hukuman yang
dijatuhkan kepada Angelina Sondakh sudah seharusnya diberlakukan pula
kepada koruptor lain. Hal ini pula harus menjadi tolok ukur bagi hakim lain
dalam memberikan putusan atas kasus korupsi yang di tanganninya
Contoh Kasus: Kasus Korupsi Angelina Sondakh
Kronologi Terseretnya Angelina Sondakh
Terseretnya Angelina Patricia Pingkan Sondakh atau Angelina Sondakh atau
Angie dalam kasus korupsi Kasus Wisma Atlet SEA Games Palembang dan
Kemendikbud berawal dari nyanyian para tersangka pendahulunya yang
ditangkap terlebih dulu oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Tersangka
awal itu adalah M. Nazarrudin, Muhammad El Idrus, Mindo Rosalinda
Manulang, Wafid Muharam. Dan Angelina Sondakh diseret masuk oleh M.
Nazarrudin dan Mindo Rosalinda Manulang.
Kecuali Angelina Sondakh semua tersangka telah divonis, masing-masing
Rosa divonis 2,5 tahun dan denda Rp. 200 juta, Mohammad El Idris divonis
dua tahun dan denda Rp. 200 juta, Wafid Muharam dihukum tiga tahun dan
denda Rp. 150 juta, serta Muhammad Nazarudin, dijatuhi hukuman empat
tahun 10 bulan penjara dan denda Rp. 200 juta.
Nazar dalam pengakuannya di persidangan mengungkapkan, bahwa Angie
pernah mengaku menerima sejumlah uang di depan Tim Pencari Fakta yang
dibentuk Partai Demokrat. Dalam rapat Tim Pencari Fakta yang dihadiri
Benny K. Harman, Jafar Hafsah, Edi Sitanggang, Max Sopacua, Ruhut
Sitompul, M. Nasir, janda mendiang Adjie Massaid itu menerima uang Rp. 9
miliar dari Kemenpora (dalam hal ini Wafid Muharam), sebanyak Rp. 8 miliar
diserahkan ke Wakil Ketua Banggar DPR, Mirwan Amir. Namun hal itu
dibantah oleh Angie.
Selain Nazarudin, Rosa juga menyebut Angelina telah menerima uang
darinya terkait proyek pembangunan wisma Atlet SEA Games di Palembang.
PT Anak Negeri mengeluarkan Rp. 10 miliar melalui Angie. Sebanyak Rp. 5
miliar untuk Angie, Rp. 5 miliar sisanya tidak diketahui, namun diduga
digunakan sebagai pelicin ke Badan Anggaran DPR agar anggaran segera
turun.

Sementara mantan anak buah Nazaruddin yang merupakan Wakil Direktur


Keuangan PT Permai Grup, Yulianis, juga membenarkan ucapan Rosa itu.
Bahwa Angelina Sondakh dan Wayan Koster mendapat Rp. 5 miliar.
Pada Rabu, 15 September 2011, Angelina Sondakh mendatangi Kantor KPK
untuk diperiksa selama delapan jam sebagai saksi dalam kasus
pembangunan wisma atlet SEA Games di Palembang yang melibatkan
tersangka Muhammad Nazaruddin.
Pada Jumat, 3 Februari 2012, Angelina Sondakh dicegah untuk tidak
bepergian ke luar negeri hingga 3 Februari 2013. Pencekalan ini terkait
penyebutan nama keduanya oleh para tersangka dan terdakwa kasus suap
Kementrian Pemuda dan Olahraga. Bahkan rencana umroh Angie juga batal.

KPK juga menetapkan Angie sebagai tersangka, menjerat dengan Pasal 5,


Pasal 10 dan Pasal 11 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi. Pasal tersebut
berisi ancaman pidana 1 tahun, 2 tahun dan 5 tahun serta denda maksimal
Rp.250.000.000.
Setelah resmi menjadi tersangka, dia diberhentikan dari jabatan sebagai
Wakil Sekjen Partai Demokrat (PD).
Tindakan KPK terhadap Angelina Sondakh
Eksekusi putusan
Terkait dengan eksekusi terhadap putusan itu, Deputi Penindakan KPK Warih
Sadono mengatakan akan segera melaksanakannya. Eksekusi segera
dilakukan setelah jaksa menerima petikan putusan atau ekstrak vonis. Tahap
pertama eksekusi pidana pokok tentang penjara. Untuk eksekusi amar
putusan lain tentu harus dipelajari secara lengkap setelah mendapatkan
salinan putusan, ucap Warih.
Soal uang pengganti yang harus dibayarkan Angie, Warih mengatakan, akan
diupayakan agar mantan Puteri Indonesia tersebut membayar uang
pengganti dari hartanya yang sudah diblokir atau disita. Namun, dia belum
tahu secara detail berapa jumlah harta Angie yang telah diblokir dan disita
KPK. Jika tidak mampu atau tidak mencukupi, dilaksanakan pidana penjara
subsidernya, lanjutnya.
Progresif dan menjerakan

Secara terpisah, peneliti Indonesian Legal Roundtable, Erwin Natosmal


Oemar, menyatakan, putusan majelis kasasi itu adalah putusan yang
progresif dan mampu menjerakan koruptor. Putusan tersebut harus menjadi
tolok ukur dan standar bagi hakim-hakim dalam menjatuhkan pidana
terhadap terdakwa korupsi.
Kalau bicara efek jera dalam pemberantasan korupsi, cara pandang hakim
seharusnya seperti cara pandang hakim MA dalam putusan Angie ini.
Efektifkan pidana tambahan. Sita uang hasil korupsi. Kalau tidak dilakukan,
orang tidak takut korupsi karena hanya akan dikenai hukuman badan
(penjara) saja, sementara uang hasil korupsinya aman. Setelah bebas, ia
masih bisa menikmati hasil korupsi. Ini yang ada di benak koruptor saat ini,
ungkap Erwin.
Dalam persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jaksa KPK Kresno
Anto Wibowo mengatakan Angelina dianggap bersalah telah menggiring
anggaran proyek di Kemenpora dan Kemendiknas. Mahkamah Agung (MA)
telah memperberat hukuman terpidana kasus korupsi Kementerian
Pendidikan Nasional dan Kementerian Pemuda dan Olahraga, Angelina
Sondakh, dari empat tahun enam bulan penjara menjadi 12 tahun penjara.
Angelina juga diminta membayar uang pengganti sebesar Rp 12,58 miliar
dan USD 2,35 juta. Apabila tidak sanggup membayar maka diganti dengan
pidana penjara selama dua tahun.Menurut Juru Bicara KPK, Johan Budi, KPK
berencana tetap akan mengajukan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU)
mengenai uang pengganti kerugian negara terhadap Puteri Indonesia 2001
itu dengan Pasal 18 UU Pemberantasan Korupsi.
Kami sudah memutuskan untuk banding. Jadi ada dua hal, yang pertama
soal tuntutan hukuman terutama Pasal 12 huruf a itu akan kita konstruksikan
kembali dalam memori banding. Kedua, Pasal 18 juga akan kami
konstruksikan kembali di tingkat banding, kata Johan.
Johan menjelaskan, hal itu merupakan bagian dari upaya terobosan yang
dilakukan KPK.Di mana tindak pidana korupsi berupa suap itu harus terdapat
penyitaan dan perampasan aset yang dilakukan kepada terpidana.
Ini upaya untuk mengembalikan uang ke negara sekaligus juga efek
jera.Jadi orang tidak sembarangan korupsi karena bakal disita hartanya,
katanya.

Johan mengakui upaya Jaksa KPK menkontruksikan kembali mengenai uang


pengganti kerugian negara dalam memori banding itu merupakan tantangan
tersendiri.
Mengingat di pengadilan tingkat pertama, tuntutan itu tidak terbukti.Jadi
kami challenge dan uji di tingkat banding nanti. Apakah hakim nanti
melihatnya berbeda ataukah sama nantinya, ujarnya.
Johan menambahkan, KPK juga tak menutup kemungkinan menjerat
Angelina Sondakh dengan pasal Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).Dia
menilai, hal tersebut terbuka lebar tergantung dari vonis hakim nanti.
Kemungkinan itu bisa saja tergantung dari vonis hakim nanti. Ini kan belum
berkekuatan hukum tetap. Nanti akan sejauh mana putusan, pertimbanganpertimbangan kemudian yang jadi acuan hakim itu apa ini nanti bisa
digunakan oleh KPK apa bisa menggunakan TPPU atau tidak, terangnya.
Karena tegas Johan, vonis terhadap Angelina nantinya menjadi pintu masuk
KPK dalam mengembangkan kasus Wisma Atlet terkait pembahasan
anggarannya
Angelina didakwa menerima uang itu dari grup Permai pada 2010 terkait
pengurusan proyek di sejumlah universitas di Dirjen Pendidikan Tinggi
Kementerian Pendidikan termasuk program pengadaan sarana dan
prasarana di Kemenpora. Jaksa mengatakan hal-hal yang memberatkan
Angelina adalah ia tidak mengakui perbuatannya dan tidak menyesal. Ia juga
dinilai tidak mendukung program pemberantasan korupsi atau memberi
teladan pada masyarakat.

Hal yang meringankan adalah ia dinilai berperilaku santun dalam


persidangan, belum pernah dihukum dan memiliki anak balita. Tim kuasa
hukum Angelina mengatakan klien mereka akan mengajukan nota
pembelaan.
Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Abraham Samad menilai putusan
hakim
MA
tersebut
telah
memberikan
rasa
keadilan
dalam
masyarakat.Putusan seperti itu diharapkan lanjut Abraham dapat
memberikan efek jera terhadap koruptor yang kerap mendapatkan hukuman
yang tidak setimpal.

Dia menyatakan putusan MA terhadap Angelina Sondakh sudah sangat tepat


di tengah pusaran pemikiran hukum para penegak hukum yang masih jauh
dari keadilan dan tidak mampu menangkap kekhawatiran masyarakat terkait
upaya pemberantasan korupsi.
Abraham mengungkapkan putusan hakim MA terhadap Angelina Sondakh
harus menjadi tolok ukur bagi hakim-hakim dalam menjatuhkan pidana
terhadap koruptor.
Kita ingin setiap terdakwa kasus korupsi putusannya bisa memberikan efek
jera sehingga orang berfikir seribu kali untuk melakukan korupsi .Kita
mengapresiasi putusan dari Mahkamah Agung.Kita mengapresiasi telah
memberikan keadilan di dalam masyarakat, kata Abrahan Sahad.
Komisioner Komisi Yudisial Taufiqurrahman Sahuri mengungkapkan bahwa
putusan kasasi MA terhadap Angelina Sondakh (Angie), sebagai obat
kekecewaan publik terhadap putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi
(Tipikor) Jakarta yang sebelumnya hanya menjatuhkan pidana empat
setengah tahun penjara.
Putusan itu telah mengobati kekecewaan masyarakat pada saat putusan di
pengadilan negeri yang menghukum empat tahun.Dan ini saya rasa putusan
yang terberat yang dikeluarkan Mahkamah Agung terhadap koruptor pasca
putusan terhadap Abdullah Puteh 10 tahun. Setelah itu putusan terhadap
koruptor turun-turun empat tahun, dua tahun, tiga tahun seperti itu, nah ini
barulah 12 tahun, kata Taufiqurrahman Sahuri
Dalam putusan kasasi MA, Angelina dinilai aktif meminta dan menerima
uang terkait proyek-proyek di Kementerian Pendidikan Nasional serta
Kementerian Pemuda dan Olahraga
Dampak Korupsi
Bagi perekonomian Indonesia
Korupsi mengurangi pendapatan dari sektor publik dan meningkatkan
pembelanjaan pemerintah untuk sektor publik. Korupsi juga memberikan
kontribusi pada nilai defisit fiskal yang besar, meningkatkan income
inequality, dikarenakan korupsi membedakan kesempatan individu dalam
posisi tertentu untuk mendapatkan keuntungan dari aktivitas pemerintah
pada biaya yang sesungguhnya ditanggung oleh masyarakat Ada indikasi
yang kuat, bahwa meningkatnya perubahan pada distribusi pendapatan
terutamadi negara-negara yang sebelumnya memakai sistem ekonomi

terpusat disebabkan
perusahaan negara.

oleh

korupsi,

terutama

pada

proses

privatisasi

Korupsi mengurangi kemampuan pemerintah untuk melakukan perbaikan


dalam bentuk peraturan dan kontrol akibat kegagalan pasar (market failure).
Ketika kebijakan dilakukan dalam pengaruh korupsi yang kuat maka
pengenaan peraturan dan kebijakan, misalnya, pada perbankan, pendidikan,
distribusi makanan dan sebagainya, malah akan mendorong terjadinya
inefisiensi.
Korupsi menjadi bagian dari welfare cost, memperbesar biaya produksi,
dan selanjutnya memperbesar biaya yang harus dibayar oleh konsumen dan
masyarakat (dalam kasus pajak), sehingga secara keseluruhan berakibat
pada kesejahteraan masyarakat yang turun.
Korupsi mereduksi peran fundamental pemerintah (misalnya pada
penerapan dan pembuatan kontrak, proteksi, pemberian property rights dan
sebagainya). Pada akhirnya hal ini akan memberikan pengaruh negatif pada
pertumbuhan ekonomi yang dicapai.
Korupsi mengurangi legitimasi dari peran pasar pada perekonomian, dan
juga proses demokrasi. Kasus seperti ini sangat terlihat pada negara yang
sedang mengalami masa transisi, baik dari tipe perekonomian yang
sentralistik ke perekonomian yang lebih terbuka atau pemerintahan otoriter
ke pemerintahan yang lebih demokratis, sebagaimana terjadi dalam kasus
Indonesia.
Korupsi memperbesar angka kemiskinan. Selain dikarenakan programprogram pemerintah sebagaimana disebut di atas tidak mencapai sasaran,
korupsi juga mengurangi potensi pendapatan yang mungkin diterima oleh si
miskin. Menurut Tanzi (2002), perusahaan perusahaan kecil adalah pihak
yang paling sering menjadi sasaran korupsi dalam bentuk pungutan tak
resmi (pungutan liar). Bahkan, pungutan tak resmi ini bisa mencapai hampir
dua puluh persen dari total biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan ini
amat mengkhawatirkan, dikarenakan pada negara negara berkembang
seperti Indonesia, perusahaan kecil (UKM adalah mesin pertumbuhan karena
perannya yang banyak menyerap tenaga kerja).
Dampak Korupsi Bagi Masyarakat
Korupsi sangat berdampak negatif pada kehidupan masyarakat sekitar.
Adapun dampak korupsi yang terlihat secara langsung dan tidak langsung
adalah sebagai berikut :

Kenaikan harga-harga barang akibat anggaran APBN yang dikorupsi


Bertambahnya rakyat miskin dikarenakan uang tunjangan bagi rakyat
miskin yang seharusnya disalurkan dikorupsi.
Mahalnya biaya yang harus rakyat keluarkan untuk mendapatkan layanan
dasar seperti pendidikan dan kesehatan yang seharusnya bersubsidi.
Kesenjangan pendapatan semakin tinggi.
Banyaknya rkyat yang di PHK akibat perusahaan kecil tempat mereka
kerja gulung tikar akibat dana investasinya dikorupsi.
Dan masih banyak lagi dampak negatif korupsi.
Dampak Korupsi Dalam Bidang Pendidikan
Menurunnya kualitas pendidikan di Indonesia disebabkan oleh adanya faktorfaktor yang menyebabkan. Kurangnya fasilitas yang tersedia menjadi faktor
utama terhadap baik atau buruknya kualitas pendidikan di Indonesia. Bisa
kita lihat banyak fasilitas yang sudah tidak layak dipakai masih digunakan
sebagai sarana pendidikan, contohnya pada lingkungan pedesaan banyak
fasilitas yang sudah tidak layak dipakai masih digunakan untuk sarana
belajar mengajar sesuai fungsinya. Fasilitas yang rusak ini mengakibatkan
banyak anak- anak pedesaan tidak bisa menggunakan fasilitas dengan baik.
Fasilitas yang kurang dan rusak disebabkan karena kurangnya dana yang
diberikan oleh pemerintah. Menurut pasal 31 ayat 4 dengan bunyi Negara
memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang- kurangnya 20% dari
anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan
dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelengaraan pendidikan
nasional.

Sesuai dengan apa yang termuat di dalam UUD 1945 sebanyak 20%
keuangan negara itu digunakan sebagai dana pendidikan. Namun saat ini
sesuai dengan apa yang telah kita ketahui kualitas pendidikan di indonesia
begiu rendah, lalu dimana uang yang seharusnya dipakai sebagai dana
pendidikan?. Korupsi itulah jawaban yang tepat. Meski Indonesia menganut
sistem pemerintahan presidensil, dan pembagian tugas pemeritahan sudah
terlihat sangat jelas. Korupsi tetap saja menjadi masalah yang sangat besar
bagi keuangan negara. Hal inilah yang berdampak negatif terhadap kualitas

pendidikan di Indonesia. Banyak pendidikan yang terkorbankan karena tidak


adanya fasilitas dan dana yang cukup .

Dampak negatif dari korupsi ini tentu sangatlah banyak salah satunya adalah
uang negara yang seharusnya di pakai untuk memenuhi fasilitas pendidikan
tapi menjadi bubur hangat bagi para koruptor di Indonesia dan hal ini juga
yang telah menyebabkan negara indonesia tidak maju- maju dan tetap pada
posisi sebagai negara berkembang dengan kualitas pendidikan yang rendah.
Dari kasus korupsi yang terjadi perhatian pemerintah menjadi sangat
berkurang terhadap kualitas pendidikan di Indonesia. Tidak heran jika
kualitas penddidikan di indonesia menjadi rendah dan tidak dapat
berkembang sesuai dengan perkembangan zaman saat ini. Perlu adanya
tindak lanjut yang lebih agar pendidikan di Indonesia bisa seperti negara
yang maju saat ini, tidak cukup hanya dengan pemberian hukuman kepada
koruptor tapi perlu adanya inovasi baru yang dapat memberikan hukuman
yang sebanding dengan apa yang telah dilaksanakan oleh para koruptor.
Berantas korupsi dan segala tindakan menyimpang lainnya yang akan
berdampak negative pada kualitas pendidikan di indonesia.
Seperti yang kita lihat, Indonesia menyandang sebagai negara yang memiliki
begitu banyak sumber daya yang tentunya dapat di manfaatkan untuk
meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia. Jika pemanfaatan dan
penggunaannya dilakukan secara efesien serta terhindar dari tangan- tanagn
yang tak bertanggung jawab maka akan tercipta indonesia yang maju. Kita
sebagai genrasi penerus bangsa dan negara, perlu pemahaman yang luas
akan dunia pendidikan agar kualitas pendidikan di indonesia bisa
berkembang dan maju seperti halnya sama dengan tujuan dan cita- cita
bangsa kita. Indonesia yang aman, maju dan sejahtera adalah harapan
utama kita semua sebagai rakyat republik Indonesia. Tingkatkan terus
kualitas penndidikan di Indonesia agar indonesia dapat kembali lagi menjadi
indonesia yang memiliki kualitas pendidikan yang tinggi.

BAB II
PENUTUP

Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa korupsi merupakan penyelewengan atau
penggelapan (uang negara atau perusahaaan) dan sebagainya untuk
keuntungan pribadi atau orang lain serta selalu mengandung unsur
penyelewengan atau dishonest (ketidakjujuran). Dan korupsi akan
berdampak pada masarakat luas serta akan merugikan masyarakat umum
dan negara.di indonesiakorupsi identik dengan tindakan buruk yang
dilakukan oleh aparatur birokrasi serta orang-orang yang berkompeten
dengan birokrasi. Korupsi dapat bersumber dari kelemahan-kelemahan yang
terdapat pada sistem politik dan sistem administrasi negara dengan birokrasi
sebagai prangkat pokoknya.
Keburukan hukum merupakan penyebab lain meluasnya korupsi. Seperti
halnya delik-delik hukum yang lain, delik hukum yang menyangkut korupsi di
Indonesia masih begitu rentan terhadap upaya pejabat-pejabat tertentu
untuk membelokkan hukum menurut kepentingannya. Dalam realita di
lapangan, banyak kasus untuk menangani tindak pidana korupsi yang sudah
diperkarakan bahkan terdakwapun sudah divonis oleh hakim, tetapi selalu
bebas dari hukuman ataupun mendapat hukuman yang tidak sesuai dengan
pelanggaranya contoh saja Angelina Sondakh seperti yang sudah dijelaskan
diatas . Itulah sebabnya kalau hukuman yang diterapkan tidak drastis, upaya
pemberantasan korupsi dapat dipastikan gagal.

DAFTAR PUSTAKA

Alatas, Syed Hussein. 1986. Sosiologi Korupsi. Jakarta: LP3ES


Ermansjah Djaja. 2008.Memberantas Korupsi Bersama KPK Kajian Yuridis
Normatif UU Nomor 31 tahun 1999 juncto UU Nomor 20 Tahun 2001 Versi UU
Nomor 30 Tahun 2002. Jakarta : Sinar Grafika.
Soewartojo, Junaidi. 1997. Korupsi Pola KEgiatan dan Penindakannya serta
peran pengawasan dalam penanggulangannya. Balai Pustaka. Jakarta.
Darwis
Muhammad.
2009.
Teori
Korupsi
dalam
http://pakarhukum.blogspot.com/2009/09/teori-korupsi.html. Diakses pada 20 April
2014
Penebar Swadaya. 2013. Teori Korupsi Dan Macam Macam Korupsi, dalam
http://politkum.blogspot.com/2013/04/teori-korupsi-dan-macam-macamkorupsi.Diakses pada 2 Mei 2014