Anda di halaman 1dari 6

Tugas

Hukum Adat Bali

NAMA : Komang Andhika Yuna Arinata Thema


NIM : 1216051025
KELAS : A

FAKULTAS HUKUM EKSTENSI


UNIVERSITAS UDAYANA

Desa Pakraman
Di Provinsi Bali dikenal ada 2 bentuk desa yaitu :
1. Desa dinas (desa dan kelurahan)
2. Desa pakraman atau desa adat

Desa Dinas
organisasi pemerintahan di desa yang menyelenggarakan fungsi administratif , seperti mengurus
kartu tanda penduduk , dan lain lain persoalan kedinasan (pemerintahan)

Desa Pakraman
lembaga yang melaksanakan hukum adat

Desa Pakraman Sebagai Masyarakat Hukum Adat di Bali


Pengertian Desa Pakraman
Menurut Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2001 tentang Desa Pakraman :
Desa pakraman adalah kesatuan masyarakat hukum adat di Propinsi Bali yang mempunyai satu
kesatuan tradisi dan tata krama pergaulan hidup masyarakat umat Hindu secara turun temurun
dalam ikatan kahyangan tiga atau kahyangan desa yang mempunyai wilayah tertentu dan harta
kekayaan sendiri serta berhak mengurus rumah tangganya sendiri.
Desa Pakraman di Bali memiliki ciri ciri yang bersifat khusus yang berlandasan filosofis
Hindu yang menjiwai kehidupan masyarakat hukum adat di Bali , yang di kenal dengan Tri Hita
Karana.
Tiga unsur Tri Hita Karana :
a. Parhyangan yaitu hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan
b. Pawongan yaitu hubungan yang harmonis antara manusia dengan manusia
c. Palemahan yaitu hubungan harmonis manusia dengan alam semesta

Tugas dan Wewenang Desa Pakraman


Dalam peraturan Daerah Propinsi Bali Nomor 3 Tahun 2001 tentang Desa Pakraman ,
kewenangan desa pakraman diatur pada pasal 5.
1.
2.
3.
4.

Membuat awig awig


Mengatur krama desa
Mengatur pengelolaan harta kekayaan desa
Bersama sama pemerintah melaksanakan pembangunan disegala bidang terutama

dibidang keagamaan, kebudayaan dan masyarakatan


5. Membina dan mengembangan nilai-nilai budaya Bali dalam rangka memperkaya,
melestarikan dan mengembangkan kebudayaan nasional pada umumnya dan kebudayaan
daerah pada khususnya, berdasarkan paras-paros,sagilik saguluk salunglung sabayantaka
(musyawarah mufakat)
6. Mengayomi krama desa

Struktur Organisasi Desa Pakraman


a. Susunan desa pakraman
Susunan Desa pakraman ada 2 yaitu ;
Desa bersusun tunggal : terdiri dari satu banjar
Desa bersusun tingkat : terdiri dari beberapa banjar
b. Sistem keanggotaan desa pakraman
Sistem pakraman berdasarkan ngemong karang ayahan
sistem ini umumnya dianut pada desa pakraman yang masih sangat kuat pengaruh
dari tanah adatnya.

Sistem Pakraman berdasarkan mapikuren


sistem ini keanggotaan seseorang menjadi krama desa dimulai setelah yang
bersangkutan berumah tangga ( kawin )

c. Sistem pemerintahan desa pakraman

Sistem pemerintahan desa pakraman ada 2 yaitu pemerintahan tunggal dan pemerintahan
kolektif
1. Sistem pemerintahan tunggal dalam struktur prajuru terdapat seorang pejabat puncak
yang disebut Bendesa yang dibantu oleh penyarikan dan patengen serta prajuru
lainnya.
2. Sistem pemerintahan kolektif terdapat lebih dari dua orang pejabat puncak dalam
struktur pemerintahannya.

Pecalang Desa Pakraman


Pecalang dibentuk untuk membantu tugas-tugas prajuru dibidang keamanan dan ketertiban
interen desa pakraman, kususnya terkait dengan pelaksanaan hukum adat Bali dan agama Hindu.
Pasal 17 Peraturan Daerah Prop.Bali Nomor 3 Tahun 2001 tentang Desa pakraman :
1. Keamanan dan ketertiban wilayah desa pakraman, dilaksanakan oleh pecalang
2. Pecalang melaksanakan tugas-tugas pemanganan dalam wilayah desa pakraman dalam
hubunan tugas adat dan agama
3. Pecalang diangkat dan diberhentikan oleh desa pakraman berdasarkan paruman desa

Majelis Desa Pakraman (MDP)


Majelis Desa Pakraman adalah satu-satunya wadah desa pakraman di Bali, beranggotakan
seluruh desa pakraman yang ada di Bali Pasal 16 Peraturan daerah Tugas MDP adalah
a. Mengayomi adat-istiadat
b. memberikan saran usul dan pendapat kepada berbagai pihak baik perorangan,
kelompok/lembaga maupun pemerintah tentang masalah-masalah adat
c. Melaksanakan setiap keputusan-keputusan paruman dengan aturan-aturan yang
ditetapkan
d. Membantu penyuratan awig-awig
e. Melaksanakan Penyuluhan

Awig-awig Desa Pakraman


Awig-awig adalah patokan-patokan tingkah laku, baik tertulis maupun tidak tertulis yang dibuat
oleh masyarakat yang bersangkutan, berdasarkan rasa keadilan dan kepatutan yang hidup dalam

masyarakat, dalam hubungan antara krama dengan Tuhan, antara sesama krama, maupun krama
dengan lingkungannya
Awig-awig diatur dalam Pasal 1 angka 11 Perda Nomor 3 Tahun 2001

Harta Kekayaan dan Pendapatan Desa Pakraman


Pasal 9 Peraturan Daerah Nomro 3 Tahun 2001 menyebutkan bahwa harta kekayaan desa
pakraman adalah kekayaan yang telah ada maupun yang akan ada yang berupa harta bergerak
dan tidak bergerak, material maupun inmaterial serta benda-benda yang bersifat religius magis
yang menjadi milik desa pakraman

Syarat untuk mengetahui Desa Adat


Van Vollenhoven (Bapak Hukum Adat)
menurut van vollenhoven untuk mengetahui desa adat yaitu :
Organisasi masyarakat
Sistem Kekerabatan
Dalam struktur masyarakat adat kita menganut adanya tiga (3) macam sistem kekerabatan, yaitu:

Sistem kekerabatan parental


Sistem kekerabatan yang anggotanya menarik garis keturunan dari kedua pihak laki-laki
dan perempuan / ayah dan ibu.

Sistem kekerabatan patrilineal


sistem kekerabatan yang anggota-anggotanya menarik garis keturunan hanya dari pihak
laki-laki /ayah saja

Sistem kekerabatan matrilineal


merupakan sistem kekerabatan yang anggota-anggotanya menarik garis keturunan hanya
dari pihak perempuan / ibu saja

Prof.Dr.Wayan P.Windia, SH., M.Si


Menurut Prof.Dr. Wayan P. Windia untuk mengetahui desa adat ada 2 yaitu
1.Dasar Agama Hindu

Tiga Dasar kerangka Agama Hindu


1. Tattwa (filsafat) : berarti pandangan seseorang mencari kebenaran yang hakiki di dalam
Hindu diuraikan dalam ajaran filsafat
2. Susila (etika) : berarti Agama hindu menuntut umatnya untuk selalu beretika yang baik
dan tidak menyimpang dari semua ajarannya.
3. Yadnya (upacara) : suatu karya suci yang dilaksanakan dengan ikhlas karena getaran
jiwa/ rohani dalam kehidupan ini berdasarkan dharma, sesuai ajaran sastra suci Hindu
yang ada (Weda)
2.Sistem Kasta
Pembagian manusia dalam masyarakat agama Hindu (Bangsa-bangsa Kerajaan Nusantara):

Kasta Brahmana, orang yang mengabdikan dirinya dalam urusan bidang spiritual seperti
sulinggih, pandita dan rohaniawan. Selain itu disandang oleh para pribumi. Seseorang
yang berasal dari keturunan kasta brahmana ini akan memiliki nama depan Ida Bagus

untuk anak laki-laki, Ida Ayu untuk anak perempuan


Kasta Ksatria, para kepala dan anggota lembaga pemerintahan. Seseorang yang
menyandang gelar ini tidak memiliki harta pribadi semua harta milik negara. Dari segi
nama yang berasal dari keturunan kasta ksariya ini akan menggunakan nama Anak

Agung, Dewa Agung, Tjokorda, dan ada juga yang menggunakan nama Dewa.
Kasta Waisya, orang yang telah memiliki pekerjaan dan harta benda sendiri petani,
nelayan, pedagang, dan lain-lain. Dari segi nama kasta ini menggunakan nama seperti I

Gusti Agung, I Gusti Bagus, I Gusti Ayu, ataupun I Gusti


Kasta Sudra, pelayan bagi ketiga kasta di atasnya. Dari segi nama warga masyarakat dari
kasta Sudra akan menggunakan nama seperti berikut : Wayan, Made, Nyoman dan Ketut