Anda di halaman 1dari 4

SKEMA KONSEP HL BLUM

LINGKUNGAN

Buruknya sumber air minum.


Buruknya pengelolaan sampah.
Buruknya pembuangan limbah rumah tangga.

PERILAKU
Buruknya pengetahuan pencegahan diare.
Kurangnya kesadaran memeriksakan diri ke yankes.
Banyak balita bermain di tempat kotor (selokan, sampah, tanah kotor).

DIARE

YANKES

kurangnya pemantauan kembali penyelenggaraan penyuluhan


kurangnya peninjauan langsung ke pasien yang menderita diare

GENETIK :
Tidak ada hubungan

3.2. Pembahasan
Berdasarkan hasil survey pertama yang dilakukan ditemukan penyakit yang
memiliki frekuensi penderita terbanyak yakni penyakit ISPA sebesar 42 orang. Di
urutan kedua ada penyakit diare sebesar 8 orang dan di urutan ketiga ada penyakit
hipertensi sebesar 4 orang.
Hasil hanloon kualitatif pada permasalahan-permasalahan kesehatan yang
didapat menunjukkan bahwa penyakit diare (GIT) dan TB menduduki peringkat
pertama. Sedangkan penyakit ISPA dan hipertensi menduduki peringkat kedua dan
ketiga. Berdasarkan hasil tersebut, kelompok 1 memilih penyakit diare sebagai
prioritas permasalahan kesehatan yang akan diintervensi karena penderita diare
paling banyak.
Penyakit diare adalah penyakit yang sangat berbahaya dan terjadi hampir di
seluruh daerah geografis di dunia dan bisa menyerang seluruh kelompok usia baik
laki laki maupun perempuan, tetapi penyakit diare dengan tingkat dehidrasi berat
dengan angka kematian paling tinggi banyak terjadi pada bayi dan balita. Di negara
berkembang termasuk Indonesia anak-anak menderita diare lebih dari 12 kali per
tahun dan hal ini yang menjadi penyebab kematian sebesar 15-34% dari semua
penyebab kematian (Depkes, 2010)
Hasil survey kedua pada sampel yang sama dengan survey pertama didapatkan
beberapa faktor resiko yang mempengaruhi penyakit diare pada warga, yakni dari
lingkungan adalah buruknya sumber air minum, buruknya pengelolaan sampah,
dan buruknya pembuangan limbah rumah tangga. Dari segi pelayanan kesehatan
didapatkan kurangnya pemantauan kembali penyelenggaraan penyuluhan dan

kurangnya peninjauan langsung kepada warga penderita diare. Sedangkan dari


perilaku

didapati

kurangnya

pengetahuan

tentang

pencegahan

diare,

membersihkan lantai kurang dari 2x sehari, buruknya pengetahuan pemberian


oralit dan tablet zink, Kurangnya kesadaran memeriksakan diri ke yankes, Banyak
balita bermain di tempat kotor (selokan, sampah, tanah kotor), Kurang kesadaran
orang tua dalam menjaga kebersihan alat-alat makan keluarga.

Buruknya pengetahuan mengenai pencegahan diare


Berdasarkan hasil survey kedua menunjukkan bahwa dari 8 sampel KK
sebanyak 6 KK tidak mengetahui tentang pencegahan diare. Penelitian Notoadmojo
(2003) menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan dan sikap sangat mempengaruhi
kejadian diare.

Kebiasaan balita bermain di tempat kotor dan Kebersihan Lingkungan


Rumah
Berdasarkan hasil survey observasi menunjukkan bahwa masih banyak keluarga
yang membiarkan balitanya bermain di tempat kotor. Penelitian Wulandari (2009)
tentang hubungan antara faktor lingkungan dengan kejadian diare, ditunjukkan
bahwa ada hubungan kebersihan rumah dengan kejadian diare pada anak balita di
Desa Blimbing, Kecamatan Sambirejo, Sragen.

Pengelolaan sampah dan limbah rumah tangga yang kurang


Berdasarkan hasil survey kedua menunjukkan bahwa dari 8 sampel KK terdapat
sebanyak 7 KK masih belum memiliki tempat sampah yang cukup. Penelitian
Junias (2008) menemukan bahwa ada hubungan antara kondisi penggunaan tempat
sampah sementara dengan kejadian diare di Kelurahan Ngaliyan, dan penelitian
Nugraheni (2012) yang menemukan bahwa ada hubungan antara sarana

pembuangan sampah dengan kejadian diare pada balita di Kecamatan Semarang


Utara Kota Semarang.

Keefektifan penyuluhan dan peninjauan langsung untuk mencegah diare


Berdasarkan hasil MMD yang dilakukan di RW I maka dipilih penyuluhan
sebagai program untuk mencegah kejadian diare. Penelitian Juniardi (2008)
menyatakan bahwa ada hubungan yang kuat dan signifikan antara penyuluhan
kesehatan dengan upaya pencegahan yang dilakukan. Keefektifan ini dipengaruhi
oleh predisposisi factor (adanya tradisi, kepercayaan masyarakat, dan sebagainya),
enabling factor (tersedianya fasilitas atau sarana dan prasarana kesehatan), dan
reinforcing factor ( sikap dan perilaku tokoh masyarakat, dan tokoh agama serta
petugas kesehatan) (Notoatmodjo dan Soekidjo, 2003).