Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA NY. S DENGAN DIAGNOSA MEDIS OSTEOSARKOMA


DI RUANG 24B RSUD DR SAIFUL ANWAR MALANG
06 OKTOBER 11 OKTOBER 2014

Disusun guna memenuhi Praktek Klinik Keperawatan Medikal Bedah

DISUSUN OLEH :
RIA SEPTI HANDAYANI
NIM. 1201200003

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN LAWANG
TAHUN 2014

LEMBAR PENGESAHAN
Laporan Pendahuluan dan Asuhan Keperawatan pada Ny. S dengan diagnosa medis
Osteosarkoma di Ruang 24B RSUD dR. Saiful Anwar Malang 06 Oktober 11 Oktober 2014
yang disusun oleh RIA SEPTI HANDAYANI, NIM. 1201200003 telah diperiksa dan disetujui
pada :

Malang, 10 Oktober 2014


Mahasiswa,

(RIA SEPTI HANDAYANI)


NIM. 1201200003

Pembimbing Klinik Ruang 24B

( Farida Supariwati )

Pembimbing Institusi

(Marsaid, M.Kep)

LAPORAN PENDAHULUAN OSTEOSARKOMA


1.1.

PENGERTIAN
Osteosarkoma disebut juga osteogenik sarcoma adalah tumor maligna yang berada pada

tulang dan merupakan tumor tulang primer maligna yang paling sering dan paling fatal.
Osteosarcoma dan osteogenik sarcoma ini dipergunakan bukan karena tumor membentuk tulang,
tetapi karena pembentukan tumor ini berasal dari sel osteoblastik dan sel-sel masenkim
primitive. Tumor ini merupakan tumor yang sangat ganas, menyebar secara cepat pada
periosteum dan jaringan ikat di luarnya.
Osteosarcoma biasanya terdapat pad metafisis tulang panjang dimana lempeng
pertumbuhannya (epiphyseal growthplate) yang sangat aktif yaitu : pada distal femur, proksimal
tibia dan fibula, proksimal humerus, dan pelvis. Pada orangtua dengan umur diatas 50 tahun,
osteosarcoma dapat terjadi akibat degenerasi ganas dari penyakit paget, dengan prognosis sangat
jelek (Zairin Noor, 2012).
Sarkoma adalah tumor yang berasal dari jaringan penyambung (Danielle, 1999 : 244).
Kanker adalah neoplasma yang tidak terkontrol dari sel anaplastic yang menginvasi jaringan dan
cenderung bermetastase sampai ke sisi yang jauh dari tubuh (Wong : 2003 : 595). Osteosarkoma
(sarcoma osteogenik) adalah tumor yang muncul dari mesenkin pembentuk tulang (Wong :
2003 : 616).
Neoplasma system musculoskletal bisa berbentuk bermacam-macam, seperti tumor
osteogenik, konrogenik, fibrogenik, otot (rabdomiogenik), dan sel sumsum (reticulum) bisa juga
tumor saraf, vaskuler, dan sel lemak. Biasanya merupakan tumor primer atau tumor metastatic
dari kanker primer di tempat lain misalnya payudara, paru, prostat, ginjal) tumor tulang
metastatic lebih sering dibanding tumor tulang primer.
Klasifikasi tumor tulang dibagi menjadi 2 yakni :
1. Tumor tulang benigna
Tumor tulang benigna biasanya dan berbatas tegas, gejalanya sedikit, dan tidak
menyebabkan kematian. Neoplasma perifer benigna system musculoskletal meliputi
osteoma, osteokondroma, enkondroma, kista tulang, (kista tulang aneurisma)
rabdomioma, dan fibroma. Tumor benigna tulang dan jaringan lunak lebih sering
daripada tumor maligna. Beberapa tumor benigna, seperti sel tumor raksasa mempunyai

potensial mengalami transformasi maligna. Kista tulang merupakan lesi yang invasive
pada tulang. Kista tulang aneurisma sering dilihat pada dewasa muda dan ditandai
dengan terabanya massa yang nyeri pada tulang panjang vertebrata, tulang pipih.
Osteokandroma merupakan tumor tulang benigna yang paling sering, biasanya terjadi
sebagai tonjolan tulang besar pada ujung tulang panjang (pada lutut dan bahu). Terjadi
pada masa pertumbuhan dan kemudian menjadi massa tulang statis. Lapisan kartigo pada
osteokandroma dapat mengalami transformasi maligna setelah trauma, dan dapat terjadi
kondrosarkoma. Enkondroma merupakan tumor tulang yang sering pada kartilago hialin
yang tumbuh di tangan, rusuk, femur, tibia, humerus dan pelvis. Umumnya satu-satunya
gejala adalah linu yang ringan, dapat terjadi fraktur patologis. Tumor nyeri yang terjadi
pada anak-anak dan dewasa muda adalah osteoid osteoma. Jaringan neoplastik ini
dikelilingi oleh pembentukan tulang reaktif yang membantu pada identifikasi radiologis.
Tumor sel raksasa (osteoklastoma) adalah tumor benigna selama beberapa waktu tetapi
dapat menginvasi jaringan local dan menyebabkan destruksi terjadi pada dewasa muda
dan bersifat lunak dan hemoragis, kadang tumor sel raksasa dapat mengalami
transformasi maligna dan bermetastasis.
2. Tumor tulang maligna
Tumor muskuloskletal maligna primer relative jarang dan tumbuh dari sel
jaringan ikat dan penyokong (sarcoma) atau dari elemen sumsum tulang (myeloma).
Tumor muskuloscletal primer maligna meliputi osteosarcoma, kondrosarkoma, sarcoma
ewing, dan fibrosarcoma. Tumor tulang biasanya bermetastasis ke tulang. Sarcoma
osteogenik (osteosarcoma) merupakan tumor tulang primer maligna yang paling sering
dan paling fatal. Ditandai dengan metastasis hematogen awal paru. Tumor ini
menyebabkan mortalitas tinggi karena sarcoma sering sudah menyebar ke paru ketika
pasien pertama kali berobat, sarcoma osteogenik lebih sering pada pria umur 10-25
tahun. Pada tulang yang sering tumbuh cepat dan kelompok lebih tua yang menderita
penyakit paget atau akibat pajanan radiasi. Bermanifestasi sebagai nyeri, pembengkakan,
keterbatasan gerak, dan kehilangan berat badan, massa tulang dapat teraba, nyeri tekan
dan tidak bisa digerakkan, dengan peningkatan suhu kulit diatas massa dan ketegangan
vena. Lesi primer dapat mengenai semua tulang namun tempat yang paling sering adalah
distal femur, proksimal tibia, dan proksimal humerus.

Tumor maligna kartilago dinamakan kondrosarkoma dan merupakan tumor tulang


maligna primer kedua tersering. Tumor ini merupakan tumor besar, tumbuh lambat yang
mengenai orang dewasa (pria lebih sering daripada wanita). Tempat tumor tersering
adalah pelvis, rusuk, femur, humerus, vertebrata, scapula, dan tibia (Brunner dan
Suddarth, 2001).
1.2.

ETIOLOGI
Etilogi osteosarcoma belum diketahui secara pasti, tetapi ada berbagai macam factor

predisposisi sebagai penyebab osteosarcoma antara lain :


1. Trauma
Osteosarcoma dapat terjadi beberapa bulan atau beberapa tahun setelah terjadinya
injuri. Walaupun demikian trauma ini tidak dapat dianggap sebagai penyebab utama
karena tulang yang fraktur akibat trauma ringan maupun parah jarang menyebabkan
osteosarcoma.
2. Ekstrinsik karsinogen
Penggunaan substansi radioaktif dalam jangka waktu lama dan melebihi dosis
juga diduga merupakan penyebab terjadinya osteosarcoma ini. Salah satu contoh adalah
radium. Radiasi yang diberikan untuk penyakit tulang seperti kista tulang aneurisma,
fibrosus dysplasia, setelah 3-40 tahun dapat mengakibatkan osteosarcoma.
3. Karsinogenik kimia
Ada dugaan bahwa penggunaan thorium untuk penderita TBC (tuberculosis)
mengakibatkan 14 dari 53 pasien berkembang menjadi osteosarcoma. Dan adapun
dugaan bahwa penggunaan obat-obatan untuk meninggikan tinggi badan mengakibatkan
terjadinya osteosarcoma.
4. Virus
Penelitian tentang virus yang dapat menyebabkan osteosarcoma baru dilakukan
pada hewan, sedangkan sejumlah usaha untuk menemukan onkogenik virus pada
osteosarcoma manusia tidak berhasil, walaupun beberapa laporan menyatakan adanya
partikel seperti virus pada sel osteosarcoma dalam kultur jaringan. Selain bahan kimia,
virus, radiasi, dan factor trauma pertumbuhan yang cepat dan besarnya ukuran tubuh
dapat juga menyebabkan terjadinya osteosarcoma selama masa pubertas. Hal ini
menunjukkan bahwa hormone seks penting walaupun belum jelas bagaimana hormone
dapat mempengaruhi perkembangan osteosarcoma.
5. Keturunan (genetic)

Anak-anak yang menderita osteosarcoma sangat mungkin mengalami turunan genetic


dari generasi sebelumnya (ayah/ibu) sekalipun belum ada peneliti manapun yang
menemukan kemungkinan ini. Mungkin kelainan genetic pada kromosom seseorang bisa
memicu osteosarcoma. Apapun itu, sebaiknya penderita memeriksakan tubuh ke otoritas
medis secara berkala dan konsisten untuk mencegah kemungkinan sekecil apapun
terjangkitnya osteosarcoma atau penyakit lainnya. Sebagaimana diketahui bahwa
osteosarcoma termasuk tumor ganas yang paling sering ditemukan pada anak-anak dan
remaja karena berhubungan dengan periode pertumbuhan.
1.3.

KLASIFIKASI OSTEOSARCOMA
1. Local osteosarcoma
Kanker sel belum tersebar di luar tulang atau dekat jaringan dimana kanker berasal.
2. Metastatic osteosarcoma.
Kanker sel telah menyebar dari tulang yang kanker berasal, ke bagian tubuh yang lain.
Kanker yang paling sering menyebar ke paru-paru. Mungkin juga menyebar ke tulang
lain. Tentang satu dari lima pasien dengan osteosarcoma dengan kanker yang telah
metastasized pada saat itu dapat terdiagnosa. Dalam multifocal osteosarcoma, tumor
muncul dalam 2 atau lebih tulang, tetapi belum menyebar ke paru-paru.
3. Berulang
Penyakit berulang berarti kanker telah datang kembali (recurred) setelah dirawat. Hal itu
dapat datang kembali dalam jaringan dimana pertama kali atau mungkin datang kembali
di bagian lain dari tubuh. Osteosarcoma paling sering terjadi dalam paru-paru. Ketika
osteosarcoma ditemukan, biasanya dalam waktu 2 sampai 3 tahun setelah perawatan
selesai. Kekambuhan ini sifatnya langka.

1.4.

PATOFISIOLOGI
Sarkoma osteogenik (osteosarcoma) merupakan neoplasma tulang primer yang sangat

ganas. Tumor ini tumbuh dibagian metafisis tulang tempat yang paling sering terserang tumor ini
adalah bagian ujung tulang panjang terutama lutut.
Penyebab osteosarcoma belum jelas diketahui, adanya hubungan kekeluargaan menjadi
suatu predisposisi. Begitu pula adanya heredity. Dikatakan beberapa virus onkogenik dapat

menimbulkan osteosarcoma pada hewan percobaan. Radiasi ion dikatakan menjadi 3% penyebab
langsung osteosarcoma. Akhir-akir ini dikatakan ada 2 tumor suppressor gene yang berperan
secara signifikan terhadap tumorigenesis pada osteosarcoma yaitu protein P53 (kromosom 17)
dan Rb (kromosom 13).
Lokasi tumor dan usia penderita pada pertumbuhan pesat dari tulang memunculkan
perkiraan adanya pengaruh dalam pathogenesis osteosarcoma. Mulai tumbuh bisa didalam tulang
atau pada permukaan tulang dan berlanjut sampai pada jaringan lunak sekitar tulang epifisis dan
tulang rawan sendi bertindak sebagai barrier pertumbuhan tumor ke dalam sendi. Osteosarcoma
mengadakan metastase secara hematogen paling sering ke paru atau pada tulang lainnya dan
didapatkan sekitar 15%-20% telah mengalami metastase pada saat diagnosis ditegakkan (Salter
Robert, 2006).
Adanya tumor di tulang menyebabkan reaksi tulang normal dengan respons osteolitik
(destruksi tulang) atau respons osteoblastik (pembentukan tulang). Beberapa tumor tulang sering
terjadi dan lainnya jarang terjadi, beberapa tidak menimbulkan masalah, sementara yang lainnya
ada yang sangat berbahaya dan mengancam jiwa.
Tumor ini tumbuh dibagian metafisis tulang panjang dan biasanya ditemukan pada ujung
bawah femur, ujung atas humerus dan ujung atas tibia. Secara histologik, tumor terdiri dari
massa sel-sel kumparan atau bulat yang berdiferensiasi jelek dan sering dengan elemen jaringan
lunak seperti jaringan fibrosa atau miksomatosa atau kartilaginosa yang berselang seling dengan
ruangan darah sinusoid. Sementara tumor ini memecah melalui dinding periosteum dan
menyebar ke jaringan lunak sekitarnya : garis epifisis membentuk terhadap gambarannya di
dalam tulang.
Adanya tumor pada tulang menyebabkan jaringan lunak dinrasi oleh sel tumor. Timbul
reaksi dari tulang normal dengan respon osteolitik yaitu proses destruksi atau penghancuran
tulang dan respon osteoblastik atau proses pembentukan tulang terjadi destruksi tulang local.
Pada proses osteoblastik, karena adanya sel tumor maka terjadi penimbunan periosteum tulang
yang baru dekat tempat lesi terjadi sehingga terjadi pertumbuhan tulang yang abortif.
1.5.

MANIFESTASI KLINIS
Sama sepertinya jenis penyakit lainnya, osteosarcoma juga memiliki gejala yang bisa

dikenali untuk kemudian ditindaklanjuti. Mengetahui gejala dan tanda penyakit ini sedini

mungkin sangat penting dilakukan untuk memudahkan dan mempercepat penanganan dan
penyembuhannya. Tindakan medis dan perlakuan pengobatan terhadap penderita osteosarcoma
yang sudah berada di level Metastatic Osteosarcoma (telah menyebar) tentunya berbeda dengan
penderita yang masih pada level local osteosarcoma.
Adapun gejala yang paling umum ditemui yang menunjukkan seseorang menderita
osteosarcoma sepertinya adanya keluhan rasa sakit atau adanya pembengkakan pada lengan atau
kaki. Hal tersebut ialah pertanda yang paling umum ditemukan, dimana biasanya terlihat
benjolan atau pembengkakan di lengan atas dekat bahu atau di atas dan di bawah lutut. Sakit
yang diakibatkan oleh benjolan tersebut mungkin bentuknya tidak berbeda jauh dengan benjolan
bisul yang sangat mengganggu dan menimbulkan rasa sakit. Bahkan yang lebih parah, rasa sakit
tersebut bisa sampai membangunkan penderitanya yang sedang istirahat di malam hari. Dalam
beberapa kasus, osteosarcoma yang telah membuat semakin melemahnya tulang akan membuat
penderita rentan mengalami sakit ketika istirahat tengah malam.
Kalau selnya kanker belum menyebar sampai ke paru-paru maka presentase harapan
hidupnya bisa mencapai 60%. Data statistic menunjukkan bahwa sedikitnya 75% penderita
osteosarcoma bisa bertahan hidup sampai 5 tahun setelah penyakitnya terdiagnosis. Maka
melakukan diagnosis sedini mungkin bisa mengurangi resiko yan lebih besar dari osteosarcoma
ini. Tanda dan gejalanya antara lain :
a. Rasa sakit (nyeri), nyeri dan atau pembengkakan ekstremitas yang terkena (biasanya
menjadi semakin parah pada malam hari dan meningkat sesuai dengan progresivitas
penyakit).
b. Pembengkakan, pembengkakan pada atau di atas tulang atau persendian serta pergerakan
c.
d.
e.
f.

yang terbatas (Gale, 1999 : 245)


Keterbatasan gerak
Fraktur patologik
Menurunnya berat badan
Teraba massa, lunak dan menetap dengan kenaikan suhu kulit di atas massa serta distensi

pembuluh darah maupun pelebaran vena


g. Gejala-gejala penyakit metastatic meliputi nyeri dada, batuk, demam, berat badan
menurun dan malaise (Smeltzer, 2001 : 2347)
Tingkatan stadium

Sesuai dengan Enneking System, maka tingkatan dari osteosarcoma adalah sebagai
berikut :
1.
2.
3.
4.
5.
1.6.

Stadium tumor rendah, Intracompartmental I-A


Stadium tumor rendah, Extracompartmental I-B
Stadium tumor tinggi, Intracompartmental II-A
Stadium tumor tinggi, Extracompartmental II-B
Tumor dengan metastasis III
LABORATORIUM DAN RADIOGRAFI
Studi radiografikal, scan MRI dan CT pada tulang yang terkena penyakit, mielogram

arteriografi, dan essai biokimia darah dan urine akan memberikan informasi diagnostic. Pada
radiografi, terdapat tanda kerusakan tulang di dalam diafisis dengan erosi korteks tulang,
terangkatnya periosteum terlihat pada tepi lesi di tempat terbentuknya tulang baru di bawah
(segitiga codman). Terbentuknya tulang baru terlihat di dalam medula atau korteks tulang,
tergantung dari tumor tersebut apakah osteolitik atau osteoblastik.
1.7.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan yang biasa dilakukan :
a. Pemeriksaan radiologis menyatakan adanya segitiga codman dan destruksi tulang.
b. CT Scan dada untuk melihat adanya penyebaran ke paru-paru.
c. Biopsy terbuka menentukan jenis malignasi tumor tulang, meliputi tindakan insisi,
eksisi, biopsy jarum, dan lesi-lesi yang dicurigai.
d. Skening tulang untuk melihat adanya penyebaran tumor.
e. Pemeriksaan darah biasanya menunjukkan adanya peningkatan alkalin fosfatase
f. MRI digunakan untuk menentukan distribusi tumor pada tulang dan penyebaran pada
jaringan lunak sekitarnya.
g. Scintigrafi untuk dapat dilakukan mendeteksi adanya skip lesion (Rasjad, 2003)

1.8.

DIAGNOSA BANDING
a. Lesi tulang infeksiosa terutama karena sifilis
b. Neoplasma tulang yang lain seperti kondrosarkoma
c. Tumor sel datia atau defosit metastasis karsinomatosa pada tulang dari tumor primer.

1.9.

PENATALAKSANAAN
a. Penatalaksanaan medis :

Penatalaksanaan tergantung pada tipe dan fase dari tumor tersebut saat
didiagnosis. Tujuan penatalaksanaan secara umum meliputi pengangkatan tumor,
pencegahan amputasi jika memungkinkan dan pemeliharaan fungsi secara maksimal dari
anggota tubuh atau ekstremitas yang sakit.
b. Tindakan keperawatan :