Anda di halaman 1dari 9

KRITIK ARSITEKTUR

NAMA : HENDRA

APRESIASI ARSITEKTUR
Kata apresiasi berasal dari bahasa Inggris appreciation dengan
penterjemahan sebagai appraisement (penilaian harga), generous esteem
(penghargaan yang sangat tinggi), a symphatetic literary essay (karya tulis
yang penuh perhatian), increase in value (peningkatan nilai). Secara umum,
apresiasi diterjemahkan sebagai penilaian atau penghargaan terhadap
sesuatu. Jadi apresiasi arsitektur berarti : penilaian atau penghargaan
terhadap arsitektur. Untuk dapat menilai dan menghargai arsitektur,
tentunya

perlu

modal

pengetahuan

yang

tidak

sederhana.

Ketidak

sederhanaan pengetahuan ini setara dengan kerumitan yang melekat pada


arsitektur itu sendiri. Selain ilmu, seseorang yang berapresiasi dengan
arsitektur membutuhkan alat, yaitu segenap indera yang dimiliki dan paling
memungkinkan untuk digunakan dalam menilai atau menghargai arsitektur.
Indera manusia yang berhubungan dengan arsitektur terbagi menjadi
berbagai kelompok, yaitu indera pelihat, pendengar, pencium dan peraba.
Dengan penglihatan dapat dirasakan nuansa ruang dan dinamisitas bentuk
arsitektur, pendengaran dan penciuman turut serta memperkuat ke-khasan
arsitektur, sedangkan perabaan selain memperjelas ketajaman tekstur juga
untuk merasakan suhu dan kelembaban tertentu. Menikmati arsitektur tidak
hanya dapat dilakukan dengan melihat gambar-gambar saja, namun perlu
diserap ke dalam segenap budi dan daya tubuh hingga muncul berbagai
apresiasi. Karena menyangkut budi daya manusia itulah maka sebuah karya
arsitektur harus dapat diapresiasi unsur estetikanya.

Estetika merupakan salah satu faktor penting dalam perwujudan


arsitektur yang telah diteliti oleh berbagai filsuf selama berabad-abad.
Perdebatan mengenai estetika berkenaan dengan rasa akan keindahan.
Sesuatu yang estetis juga memiliki konteks tertentu berkaitan dengan sudut
pandang orang yang berapresiasi. Pandangan estetik dari masyarakat dalam
lingkungan tropis tentu akan berbeda dengan masyarakat yang tinggal di
daerah dengan iklim 4 musim. Pandangan estetik dari masyarakat agraris
juga akan berbeda dengan masyarakat industrialis. Setiap konteks memiliki
cara tertentu dalam menampilkan estetika dan menrealisasikannya ke dalam
sebuah karya. Karya realis yang paling mudah dirasakan adalah fenomena
yang menyangkut bentuk.
Bentuk arsitektur dipahami sebagai wujud dari sebuah fenomena
penciptaan tempat bagi manusia untuk berbudaya. Bentuk merupakan
gubahan hasil pemikiran manusia dalam mengelola bahan alam sehingga
menghasilkan perwujudan yang khas. Masyarakat primordial menggubah
gua-gua alam menjadi tempat yang layak ditinggali. Masyarakat vernakular
menggubah elemen alam dengan kesederhanaannya agar dapat digunakan
sebagai pelingung kegiatan manusia, masyarakat tradisional memberi
sentuhan adat dan budaya dari unsur alam dengan segala kebijakannya.
Masyarakat

modern

melakukan

inovasi

teknologi

untuk

dapat

mendayagunakan unsur alam menjadi lebih efektif dan efisien. Dalam dunia
modern yang kita alami sekarang, faktor industri telah mempengaruhi
penciptaan karya arsitektur dengan segala keterukurannya. Berkembangnya
keterukuran bentuk dari pengetahuan bangsa Yunani menghasilkan ilmu
geometri yang berpengaruh besar bagi modernisasi.
Geometri adalah perayaan kemenangan manusia dalam menguasai
bentuk. Segala rumusan dan keteraturan dapat dicari hingga menciptakan
ketetapan yang mempermudah kegiatan manusia dalam berarsitektur.
Degan adanya geometri, sebuah bentuk dapat dihitung hingga menghasilkan

perwujudan

yang

dapat

Perhitungan struktur

ini

dipertanggung
menyebabkan

jawabkan

secara

struktural.

perkembangan teknologi

yang

menginovasi penciptaan bentuk arsitektur secara lebih radikal, baik dari


skala dan bentangannya. Teknologi inilah yang membuat arsitektur pada
saat ini tidak pernah terlepas dari logika struktur dan konstruksi, bahkan
aktualisasi perpaduan antara struktur/konstruksi dan keindahan dalam
bentuk tektonik menjadi sebuah pembahasan tersendiri yang cukup menarik.
Tektonika

merupakan

hasil

budaya

manusia

dalam

memahami

arsitektur dan memadukannya dengan teknologi struktur dan konstruksi.


Hunian bagi manusia diawali dengan memanfaatkan potensi alam dari guagua

di

pegunungan,

kemudian

perkembangan

pengetahuannya

menyebabkan manusia membuat tempat tinggal dengan dari bahan kayu


maupun

tanah.

Semakin

berkembangnya

pengetahuan

manusia

menyebabkan budaya yang menyentuh elemen hunian dengan unsur


estetika. Berbagai teknik sambungan konstruksi dan bentuk struktur
ditemukan hingga memperkaya kazhanah arsitektur di dunia. Terciptalah
bentuk-bentuk arsitektur dengan keanekaragamannya. Bentuk tersebut
mewujudkan pernaungan yang bukan hanya sekedar layak untuk ditinggali,
namun lebih dari itu juga mampu meningkatkan harkat kehidupan manusia
dalam berbudaya. Bentuk-bentuk tersebut telah memberi manusia tempat
dalam melakukan kehidupan sehari-hari yang disebut dengan ruang.
Ruang adalah materi yang dapat berpadu dengan kegiatan manusia.
Materi yang tidak dapat berpadu disebut sebagai batas ruang (enclosure).
Setiap ruang yang dibuat akan memiliki karakteristik tertentu. Budaya
manusia telah menetapkan ruang dalam penggolongan dan pemahamannya
sendiri. Ruang bagi masyarakat empat musim dipandang sebagai sebuah
kekosongan yang diciptakan tersendiri agar manusia dapat beraktifitas tanpa
terganggu ganasnya alam. Ruang bagi masyarakat dua musim merupakan
pengejawantahan rasa syukur dan lebur dengan alam semesta. Kebudayaan

telah membawa manusia memahami ruang dengan pikir dan rasa yang
tinggi, bahkan kebudayan tersebut telah menciptakan arti tersendiri dari
arsitektur yang dipahami dengan keberadaan makna.
Makna arsitektur dicari dalam proses perancangan dan diungkapkan
dalam pembicaraan yang penuh perhatian. Perhatian ini secara khusus
terlingkup dalam paham fenomenologi, di mana sebuah proses perancangan
dibawa kepada ekspresi murni yang menggambarkan arti konsep esensi dan
formula yang mengaturnya. Esensi membuat arsitektur dapat dikenali dalam
intuisi yang berhubungan dengan akar murni dalam realisme pembuktian diri
yang asli. Aktualisasinya dengan cara membuat kembali dan kembali
kepada basis. Paham fenomenologi ternyata bukanlah satu-satunya tolok
ukur dalam menilai kebenaran arsitektur. Beberapa paham lain juga perlu
dipelajari agar apresiasi dapat berjalan secara obyektif. Paham-paham
tersebut dalam sejarah telah mengisi berbagai pemikiran dunia tentang
arsitektur yang terdefinisikan melaui ebrbagai filsafat.
Filsafat merupakan sebuah ilmu pengetahuan kuno yang telah
dikembangkan

sejak

beberapa

abad

menghasilkan

pemikiran-pemikiran

sebelum

yang

masehi.

mempengaruhi

Banyak

filsuf

pengambilan

keputusan, termasuk di dalam arsitektur. Sejak awal perkembangannya


pemahaman

tentang

arsitektur

dipengaruhi

filsafat

tradisional

barat,

kemudian dalam era modern muncul filsafat-filsafat baru yang cukup deras.
Paham rasionalis mempengaruhi cara pandang terhadap arsitektur agar
dapat terwujud dengan logika. Paham empiris merupakan pemikiran yang
mengarahkan arsitektur agar dapat terwujud dari keberhasilan kegiatan
percobaan. Paham strukturalis berusaha mencari kembali makna kehadiran
arsitektur sebagai sebuah sistem. Paham pragmatis menetapkan bahwa
arsitektur selayaknya dibuat berdasarkan model. Paham fenomenologi
memandang pengalaman sebagai aspek penting dalam berarsitektur. Paham
intuitif melihat pentingnya rasa dari seorang arsitek dalam mewujudkan

karya. Setiap paham memiliki sudut pandang tersendiri dalam menilai dan
mewujudkan arsitektur. Paham-pahm tersebut berguna sebagai pegangan
dalam menilai karya arsitektur baik dariperwujudannya maupun konsepnya.
Perwujudan merupakan aspek teraga (tangibe), sedagkan konsep merupakan
aspek yang tidak teraga (intangible).
Aspek tangible dan intangible telah mewarnai perwujudan arsitektur
berdasarkan sudut pandang yang digunakan oleh arsitek. Seseorang yang
ingin berapresiasi dengan karya arsitek tertentu selayaknya menempatkan
diri dalam sudut pandang yang sama dengan arsitektnya. Seorang arsitek
yang menghasilkan karya dengan aspek tangible dalam sudut pandang
struktural tentu tidak akan dapat diapresiasi oleh seseorang dengan
penilaian

intangible

yang

berada

dalam

sudut

pandang

eksotisme.

Seseorang yang selalu berapresiasi dengan penilaian intangible dalam sudut


pandang paradoksial (perlawanan azas) juga tidak akan pernah dapat
melakukan apresiasi secara tepat pada karya arsitektur yang menggunakan
aspek tangible olah geometri. Demikianlah pentingnya sudut pandang
sebagai konteks yang harus dipegang secara bersama antara karya
arsitektur dan orang yang berapresiasi dengannya. Setiap orag memiliki
pemikiran tersndiri dalam menilai yang dipengaruhi oleh pandanganpandangan tertentu. Segenap pandangan manusia terjabarkan dalam
permasalahan yangmenyakngkut persepsi.
Persepsi adalah proses memperoleh atau menerima informasi dari
lingkungan.

Persepsi

dari

sebuah

apresiasi

arsitektur

tidak

hanya

terpengaruh indera manusia, namun juga penafsiran pengalamnnya (the


interpretation

of

experience).

Ketika

seseorang

berapresiasi

dengan

arsitektur, maka secara psikologis terjadi sebuah stimulus (rangsangan).


Individu menjadi sadar akan adanya stimuli melalui sel saraf reseptor
(indera). Jika sejumlah penginderaan dikoordinasikan dalam pusat saraf yang
lebih tinggi (otak) maka manusia bisa mengenali dan berapresiasi dengan

sebuah obyek arsitektur. Dalam proses pemikiran yang lebih lanjut individu
akan mencari hubungan obyek dengan suatu gejala atau peristiwa.
Seseorang yang berapresiasi dengan hasil karya arsitek perlu untuk memiliki
persepsi

yang

sama

dari

hasil

pembelajaran

pengalaman-pegalaman

manusia. Keselarasan persepsi itulah yang akan menjadi tolok ukur


keberhasilan desain arsitektur. Jika persepsi tidak selaras, maka bisa
dimungkinkan tujuan desain akan berbeda dengan segala sesuatu yang
dialami oleh penguna. Untuk menilai pengalaman perseptual dan berbagai
fenomena arsitektur lainnya perlu dilakukan pembelajaran melalui evaluasi
karya arsitektur yang telah digunakan.
Evaluasi terhadap karya arsitektur yang telah dipakai biasa disebut
dengan post occupancy evaluation (evaluasi pasca huni). Kegiatan ini
didefinisikan sebagai pengujian efektifitas sebuah lingkungan binaan bagi
kebutuhan manusia. Pengujian dalam evaluasi pasca huni diarahkan pada
penilaian terhadap efektifitas arsitekturnya sendiri maupun efektifitas
program dan tujuan dirancangnya arsitektur etrhadap kebutuhan pengguna.
Kegiatan yang menyangkut evaluasi pasca huni dapat berupa eksperimen,
studi lapangan, studi teoritis dan penelitian aplikatif.

The Roots o Ugliness


Bangunan yang baik adalah bangunan yang digunakan berdasarkan
fungsi dan memperhatikan lingkungannya. Kegagalan arsitektur bisa terjadi
apabila seorang arsitek tidak mengikuti aspek-aspek atau prosedur yang
berlaku

dan

tidak

memikirkan

dampak

bangunan

tersebut

terhadap

lingkungan disekitarnya. Kegagalan arsitektur juga bukan hanya dikarenakan


kegagalan pada konstruksi bangunannya. Tetapi Arsitektur yang gagal
adalah membangun bangunan dengan merusak ekosistem disekitarnya.
Untuk apa bangunan megah dibangun tetapi memberikan dampak negatif di

masa yang akan datang, misalnya seperti sekarang ini terjadi global
warming di bumi dan berkurangnya populasi hewan, karena saat ini sebagian
besar wilayah di kota-kota seluruh dunia didominasi oleh bangunan
menjulang tinggi.
KEGAGALAN ARSITEKTUR TERHADAP LINGKUNGAN
Istilah arsitek seringkali diartikan secara sempit sebagai seorang perancang
bangunan, adalah orang yang terlibat dalam perencanaan, merancang, dan
mengawasi konstruksi bangunan, yang perannya untuk memandu keputusan
yang mempengaruhi aspek bangunan tersebut dalam sisi astetika, budaya,
atau masalah sosial. Definisi tersebut kuranglah tepat karena lingkup
pekerjaan seorang arsitek sangat luas, mulai dari lingkup interior ruangan,
lingkup bangunan, lingkup kompleks bangunan, sampai dengan lingkup kota
dan regional. Karenanya, lebih tepat mendefinisikan arsitek sebagai seorang
ahli di bidang ilmu arsitektur, ahli rancang bangun atau lingkungan binaan.
(wikipedia)
Seorang arsitek haruslah benar-benar teliti dan peduli lingkungan dalam
merancang dan membangun proyek jangan sampai proyek yang kita bangun
berdampak buruk bagi lingkungan sekitarnya. Seorang Arsitek haruslah
melakukan analisa terhadap lingkungan untuk mengetahui segala aspekaspek yang baik maupun buruk sehingga dapat meminimalisir kesalahan dan
kegagalan di masa yang akan datang maupun ketika suatu proyek itu
dibangun. Begitu pula masalah penempatan suatu bangunan haruslah
mengikuti fungsi dari bangunan tersebut,sehingga tidak merusak tata ruang
kota. Misalnya tanah untuk pemukiman janganlah dibuat pabrik karna akan
mengganggu warga dan lingkungan sekitar. Karena arsitek tidak hanya
merancang

bangunan

tapi

juga

lingkungan

sekitarnya.

Kegagalan bangunan dilihat dari dampak negatif terhadap lingkungan.


Lingkungan tercemar juga merupakan dasar dari kegagalan bangunan .
Bukan hanya saat pelaksanaan konstruksi, kesalahan desain memberikan

kontribusi terhadap kegagalan bangunan. Bangunan yang mengalami gagal


fungsi sebelum akhir umur pemakaiannya yang direncanakan termasuk
dalam

kegagalan

bangunan.

Bangunan

yang

berefek

jelek

terhadap

lingkungan sekitarnyanya terjadi karena kesalahan dalam konsep desain,


walau pelaksanaannya benar, termasuk dalam kegagalan bangunan juga.

Gambar 1 : Pruitt-Igoe dihancurkan


Pruitt-Igoe merupakan sebuah proyek perumahan besar perkotaan
pertama yang diduduki pada tahun 1954 di kota AS St Louis, Missouri yang
dirancang oleh arsitek Minoru Yamasaki. Awalnya Pruitt-Igoe dilihat sebagai
terobosan

dalam

pembaruan

perkotaan

dengan

latar

belakang

pembangunan proyek kawasan Pruitt Igoe ialah untuk mengatasi masalah


faktor kesenjangan sosial masyarakat yang berada di kota AS St Louis.
Pada masa itu Pruitt igoe berkembang sebagai Kompleks bangunan
yang berjumlah 2870 apartemen yang sekaligus merupakan apartemen

terbesar di kota ini. Pruitt-Igoe memiliki 33 bangunan dan memang ditujukan


untuk masyarakat kelas menengah serta ada pemisahan ruang antara
masyarakat berkulit hitam dan putih. Pruitt igoe yang awalnya dibanggakan
sebagai pemecah masalah faktor sosial kawasan St Louise semakin lama
mulai ditinggalkan pada akhir tahun 1960-an karena ketidak layakan
bangunan serta mulai menimbulkan berbagai macam kriminalitas pada
bangunan itu. Alih-alih 43 gedung apartemen ini menjadi model perumahan
yang nyaman dengan uang sewa murah, proyek ini menjadi sarang penjahat
dan perusuh . Apartemen yang direncanakan sebagai tempat berlindung
yang nyaman dan aman bagi kaum miskin menjadi pangkalan yang penuh
teror diatas tanah tak bertuan sehingga proyek pruitt igoe dianggap sebagai
proyek gagal.
Melihat keadaan tersebut maka pada tahun 1968, Departemen federal
Perumahan mulai mendorong warga yang tersisa untuk meninggalkan PruittIgoe. Pada bulan Desember 1971, negara bagian dan federal memberikan
kewenangan

untuk

menghancurkan

Pruitt-Igoe.

Bangunan

pertama

dihancurkan pada 16 Maret 1972 hingga selesai pada tahun 1976. Kegagalan
bangunan tersebut membuktikan bahwa dasar filosofi dan teori Arsitektur
Modern sudah tidak relevan lagi dengan tuntutan zaman. Doktrin-doktrin
seperti Rasionalisme, Behaviorisme, dan Pragmatisme yang mendasari
pertumbuhan Arsitektur Modern dianggap sudah tidak rasional lagi