Anda di halaman 1dari 7

Masalah kesehatan di Indonesia tidak hanya kesehatan fisik, namun juga kesehatan

psikis. Saat ini terjadi peningkatan masyarakat Indonesia yang mengalami gangguan jiwa.
Berdasarkan Riskesdas 2007 disebut-kan, rata-rata nasional gangguan mental emosional
ringan, seperti cemas dan depresi pada penduduk berusia 15 tahun ke atas mencapai 11,6%,
dengan angka tertinggi terjadi di Jawa Barat, sebesar 20%. Sedang-kan yang mengalami
gangguan mental berat, seperti psikotis, skizofrenia, dan gangguan depresi berat, sebesar
0,46% (Depkes,2010). Masalah yang baru juga ditemukan terkait masalah pasien gangguan
jiwa yang di rawat di rumah sakit jiwa baik rawat inap maupun jalan pasien gangguan jiwa
yang di rawat di rumah sakit jiwa baik rawat inap maupun jalan adalah banyak yang usia
remaja yang tidak lain yaitu terkait masalah percintaan yang menjadi salah satu faktor
penyebab terjadinya depresi.
Dari banyaknya fenomena terkait depresi, aksi percobaan bunuh diri dikalangan
remaja semakin meningkat dan Posisi Indonesia hampir men-dekati negara-negara bunuh
diri, seperti Jepang, dengan tingkat bunuh diri mencapai lebih dari 30.000 orang per tahun
dan China yang mencapai 250.000 per tahun. Dari jumlah terse-but kelompok usia tertinggi
yang me-lakukan bunuh diri berada pada ke-lompok usia remaja dan dewasa muda (15 24
tahun) (Megawangi, 2009). Bila mencermati kasus-kasus tersebut yang ada dalam dalam benak kita adalah akan menjadi apa anak-anak tersebut di masa yang akan datang, atau
bagaimana kondisi masyarakat kita dengan gambaran kehidupan anak yang demikian
mencemaskan, padahal bagaimana nasib bangsa ini ke depan sangat tergantung dengan anakanak yang saat ini berusia 0-18 tahun (hart, 2010). Meningkatnya masyarakat yang
mengalami gangguan jiwa, aksi bunuh diri, sikap agresif dan kasus kriminal, serta
menurunnya toleransi, kualitas moral dan etos kerja dengan subjek maupun objek anak-anak
memang perlu mendapatkan kajian khusus. Apa sebetulnya yang melatarbela-kangi dan
bagaimana dinamikanya. Bila kita bicara mengenai anak tentu saja kita berbicara mengenai
kondisi anak itu sendiri, orang tua dan ke-luarga serta lingkungan. Keluarga sebagai unit
terkecil dalam masya-rakat memiliki tanggung jawab per-tama untuk menjaga pertumbuhan
dan perkembangan anak. Seorang anak akan mencapai pertumbuhan dan perkembangan
optimal jika ke-butuhan dasarnya terpenuhi, misalnya kebutuhan fisik (sandang, pangan,
papan) dan kebutuhan psikologis berupa dukungan, perhatian dan kasih sayang. Namun
ironisnya ke-luarga justru menjadi sumber anca-man dan ketidaktentraman anak, karena
perlakuan salah yang sering diterima anak dari keluarga, khusus-nya orang tua. Hal ini
sejalan dengan hasil penelitian yang dida-patkan oleh Putra (dalam Anda-yani, 2001) melalui

penelitiannya A Focused on Child Abuse in Six Selected Provinces in Indonesia,menemukan bahwa hasil-hasil perlakuan salah (maltreated) terhadap anak yang terjadi
dalam ranah publik dan domestik ternyata sebagian besar dilakukan oleh orang tua mereka.
Adapun yang dimaksud dengan perlakuan salah dalam hal ini adalah segala jenis bentuk
perlakuan terhadap anak yang mengancam kesejahteraan anak untuk tumbuh dan berkembang
secara optimal baik fisik, sosial, psikologis, mental dan spiritual (Erickson, 2010).
Depresi adalah gangguan mood yang dapat diselesaikan oleh beberapa prespektif.
Salah-satunya psikoanalisa yang menitik beratkan pada konflik bawah alam sadar yang
berhubungan dengan duka dan kehilangan. Seperti yang dipaparkan oleh Freud bahwa
potensi depresi berada pada masa anak-anak karena fase itu dapat menentukan kepribadian
seseorang secara permanen atau juga sementara (Syam, 2011).
Dalam membantu menyembuhkan masalah-masalah mental freud menggunakan
prosedur yang inovatif yang dinamakan psikoanalisis. Penggunaan psikoanalisis memerlukan
interaksi verbal yang cukup lama dengan pasien untuk menggali pribadinya yang lebih
dalam. Banyak buku yang telah di tulis freud, dan dari teori freud ini memiliki beberapa
kelemahan terutama dalam hal-hal berikut :
1. Ketidaksadaran (uniconsciousness) amat berpengaruh terhadap prilaku manusia.
Pendapat ini menunjukan bahwa manusia menjadi budak dirinya sendiri.
2. Pengalaman masa kecil sangat menentukan atau berpengaruh terhadap kepribadian
masa dewasa. Ini menunjukan bahwa manusia dipandang tidak berdaya untuk
mengubah nasibnya sendiri.
3. Kepribadian manusia terbentuk berdasarkan cara-cara yang ditempuh untuk mengatasi
dorongan-dorongan seksualnya. Ini menunjukan bahwa dorongan yang lain dari
individu kurang diperhatikan.
Psikoanalisis merupakan model yang menjelaskan bahwa gangguan jiwa dapat terjadi
pada seseorang apabila ego (akal) tidak berfungsi dalam mengontrol id (kehendak nafsu atau
insting). Ketidakmampuan seseorang dalam menggunakan akalnya (ego) untuk mematuhi
tata tertib, peraturan, norma, agama (super ego), akan mendorong terjadinya penyimpangan
perilaku (deviation of behavior). Tokoh utama psikoanalisa ialah Sigmund Freud (Yosep,
2009). Freud memandang sifat manusia pada dasarnya pesimistik, deterministik,
mekanistik, dan reduksionistik. Dimana manusia dideterminasi oleh kekuatan-kekuatan
irasional, motivasi-motivasi tidak sadar, kebutuhan-kebutuhan dan dorongan-dorongan
biologis dan naluriah. Freud menekankan peran naluri-naluri yang bersifat bawaan dan

biologis, ia juga menekankan pada naluri seksual dan impuls-impuls agresif (Townsend,
2013)
Perkembangan manusia dalam psikoanalitik merupakan suatu gambaran yang sangat
teliti dari proses perkembangan psikososial dan psikoseksual, mulai dari lahir sampai dewasa.
Dalam teori Freud setiap manusia harus melewati serangkaian tahap perkembangan dalam
proses menjadi dewasa. Tahap-tahap ini sangat penting bagi pembentukan sifat-sifat
kepribadian yang bersifat menetap. Menurut Freud, kepribadian orang terbentuk pada usia
sekitar 5-6 tahun, meliputi beberapa tahap yaitu tahap oral, tahap anal, tahap halik, tahap
laten, dan tahap genital. Freud yakin Anak adalah ayah manusia adalah menarik
menentukan preferensi kuat pada penjelasan genetik atas tingkah laku orang dewasa
semacam itu, Sementara Freud sendiri jarang menyelidiki anak-anak kecil secara langsung. Ia
lebih suka melakukan menyelidiki struksi tentang kehidupan masa silam seseorang
berdasarkan evidensi yang terdapat dalam ingatan-kenangannya di masa dewasa. Kepribadian
berkembang sebagai respon terhadap empat sumber tegangan pokok, yaitu (a) proses partum
buhan fisiologis, (b) frustasi-frustasi, (c) konflik-konflik, dan (d) ancaman-ancaman. Sebagai
akibat langsung dari meningkatnya ketegangan yang ditimbulkan oleh sumber-sumber ini,
sang pribadi terpaksa mempelajari cara-cara baru mereduksikan tegangan. Proses belajar
inilah yang dimaksudkan dengan perkembangn kepribadian (Yosep, 2009).

Kasus
Seorang anak berinisial R mengalami suatu depresi murung dan menarik diri oleh
penolakan terhadap peristiwa meninggal ayahnya. Sebulan yang lalu Anak R meminta
ayahnya untuk menjemput dirinya dirumah temannya. Ketika di dalam perjalanan mobil yang
dikendarai ayah anak R mengalami kecelakaan lalu lintas sehingga menyebabkan peristiwa
meninggal ayahnya. Semenjak saat itu anak R merasa menyesal dan berpikir apabila anak R
tidak meminta ayahnya menjemput dirinya di rumah temannya, peristiwa tersebut tidak akan
terjadi sehingga ayahnya masih bisa tetap ada bersamanya. Anak R tidak bisa
mengarahkannya rasa bersalahnya kepada orang lain sehingga Anak R mengarahkan rasa
bersalah itu kepada dirinya sendiri.
Pembahasan
Berdasarkan ilustrasi kasus, depresi (murung dan menarik diri) yang dialami anak R
merupakan tindakan mekanisme pertahanan ego, karena adanya ketidak seimbangan antara

id, ego dan superego, yaitu dengan melakukan represi dan penolakan terhadap peristiwa
meninggal ayahnya, karena dia tidak bisa mengarahkannya kepada orang lain sehingga
konseli mengarahkan rasa bersalah itu kepada dirinya sendiri.
Hubungan anak dengan orang tua merupakan sumber emosional dan kognitif bagi
anak. Hubungan tersebut memberi kesempatan bagi anak untuk mengeksplorasi lingkungan
maupun kehidupan sosial. Hubungan awal ini dimulai sejak anak terlahir ke dunia, bahkan
sebetulnya sudah dimulai sejak janin berada dalam kandungan alam membentuk kelekatan
(attachment) dan karakter (Sutcliffe, 2002). kelekatan adalah ikatan emosional yang dibentuk
seorang individu dengan orang lain yang bersifat spesifik, mengikat mereka dalam suatu
kedekatan yang bersifat kekal sepanjang waktu. Kelekatan merupakan suatu hubungan yang
didukung oleh tingkah laku lekat (attachment behavior) yang dirancang untuk memelihara
hubungan tersebut. Sudut pandang dari kelompok psikoanalisis bahwa pada fase oral
menurut Freud (Crain, 2007) bahwa Secara natural bayi mendapatkan kenikmatan tersebut
dari kedua orang tuanya terutama seorang ibu disaat bayi menghisap susu dari payudara atau
mendapatkan stimulasi oral dari ibu. Proses ini menjadi sarana penyimpanan energi libido
bayi dan ibu selanjutnya menjadi objek cinta pertama seorang bayi. Kelekatan bayi dimulai
dengan kelekatan pada payudara ibu dan dilanjutkannya dengan kelekatan pada ibu. Selanjutnya (Erikson, 2010) menjelaskannya bagaimana terbentuknya kepercayaan dasar (basic
trust). Ibu dalam hal ini digambarkan sebagai figur sentral yang dapat membantu bayi
mencapai kepercayaan dasar tersebut. Hal tersebut dikarenakan ibu berperan sebagai sumber
pemenuhan kebutuhan bayi, menjadi sumber bergantung pemenuhan kebutuhan nutrisi serta
sumber kenyamanan. Pengalaman oral dianggap Erickson sebagai prototip proses memberi
dan menerima (giving and taking). Berbeda dengan kelompok behaviorism bahwa susu yang
diberikan ibu menjadi primary reinforcer dan ibu menjadi second-dary reinforce. Stimulasi
yang diberikan ibu pada bayi, baik itu visual, auditori dan taktil dapat menjadi sumber
pembentukan kelekatan (Gewirtz dalam Hetherington dan Parke, 1999). Sedangkan menurut
teori perkembangan kognitif kelekatan baru dapat terbentuk apabila bayi sudah mampu
membedakan antara ibunya dengan orang asing serta dapat memahami bahwa seseorang itu
te-tap ada walaupun tidak dapat dilihat oleh anak. Hal ini merupakan cer-minan konsep
permanensi objek yang dikemukakan Piaget (Hetherington dan Parke, 1999).
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan seorang anak, yaitu
faktor dari dalam diri, dari luar diri anak dan interaksi keduanya. Adapun faktor yang ber-asal
dari luar adalah faktor kondisi ibu dan kondisi lingkungan. Perilaku orangtua terutama ibu

dianggap memegang peranan penting dalam perkembangan anak karena memegang peranan
penting di awal kehidupan seorang anak. Anak mendapatkan kesan pertama mengenai dunia
melalui perilaku dan sikap ibu/orang-tua terhadap anak terutama di awal usianya. Jika ibu
berlaku baik maka kesan anak tentang dunia dan Kelekatan (Attachment) dan Pembentukan
Karakter lingkungan positif dan sikap anak juga akan menjadi positif. Hal ini dapat
menyebabkan anak mampu mengeksplorasi lingkungan secara optimal, akibatnya
perkembangan perilaku, emosi, sosial, kognitif dan kepribadian anak akan optimal pula.
Selanjutnya anak akan berkembang dan memiliki karakter yang kuat.
Berdasarkan uraian kasus diatas maka upaya perawat untuk membantu mengatasi
masalah diatas berdasarkan teori psikoanalisis adalah dengan mengadakan konseling
psikoanalisis. Perawat membantu anak R untuk dapat bersikap yang relatif rasional, realistik,
dan tidak neurosis, hal ini merupakan pra-kondisi untuk terwujudnya keberhasilan konseling
psikoanalisis. Selain itu. Perawat mengalihkan segenap pengalaman masa lalu Anak R
terhadap ayahnya kepada perawat. Kemudian perawat membantu anak R untuk mencapai
pemahaman tentang bagaimana dirinya telah salah dalam menerima, menginterpretasikan,
dan merespon pengalamannya pada saat ini dalam kaitannya dengan masa lalunya.
Perawat melakukan pengkajian dengan mengidentifikasi konflik-konflik bawah sadar
dari anak R, meliputi: Persepsi anak R terhadap dirinya, hubungan interpersonalnya,
dorongan dan dinamika psikologis yang dialami, serta bagaimana anak R mengkontrol
emosinya. Tujuan konseling yang dilakukan adalah untuk membentuk kembali struktur
karakter anak R dengan cara merekonstruksi, membahas, menganalisa, dan menafsirkan
kembali pengalaman-pengalaman masa lampau, yang terjadi di masa kanak-kanak.
Membantu anak R untuk membentuk kembali struktur karakternya dengan menjadikan halhal yang tidak disadari menjadi disadari oleh anak R secara spesifik, membawa anak R dari
dorongan-dorongan yang ditekan (ketidaksadaran) berupa pengalaman masa lalu baik dengan
orang tunya sebelum ayahnya meninggal dan hal-hal yang mengakibatkan kecemasan anak R,
menuju ke arah perkembangan kesadaran intelektual, menghidupkan kembali masa lalu
anak R dengan menembus konflik yang ditekan berupa urusan yang tidak selesai di masa
lampau, memberikan kesempatan kepada anak R untuk menghadapi situasi yang selama ini
ia gagal mengatasinya yaitu peristiwa kematian ayahnya.

Teknik-teknik konseling yang digunakan

Asosiasi bebas
Perawat membantu anak R untuk mengingat kembali pengalaman-pengalaman masa
lampau dan pelepasan-pelepasan emosi yang berkaitan dengan peristiwa kematian
ayahnya. Pada teknik asosiasi bebas anak R mengalami proses katarsis, dimana anak R
dapat dengan bebas untuk mengemukakan segenap perasaan dan pikiran yang terlintas di
benaknya, baik yang menyenangkan maupun yang tidak. Kemudian perawat berusaha
untuk mengenali peristiwa-peristiwa yang disimpan dan dikurung oleh anak R dalam
ketidaksadarannya.

Interpretasi
Perawat menafsirkan pengalaman anak R kemudian membimbingnya ke arah peningkatan
pemahaman atas dinamika yang tidak disadari olehnya berupa resistensinya dan
penolakannya terhadap kematian ayahnya.

Analisis resistensi
Jika anak R mengalami resistensi dalam proses konseling. Perawat tidak bisa membiarkan
hal ini terjadi karena akan menghambat proses konseling. Penafsiran terhadap resistensi
harus dilaksanakan untuk membantu anak R untuk menyadari alasan-alasan yang ada di
balik resistensi dan kemudian mampu menyelesaikan konfliknya secara realistis.

Analisis transferensi
Perawat membantu anak R untuk dapat mengatasi urusan yang belum selesai dengan
orang-orang penting di masa lalu seperti ayahnya, yang terdistorsi ke masa sekarang dan
memberikan reaksi kepada perawat sebagaimana dia bereaksi terhadap ayah pada masa
ayahnya masih hidup. Di sini perawat melakukan penafsiran agar anak R mampu
menembus konflik masa lalu, dan menggarap konflik emosional yang terdapat pada
hubungan terapeutiknya bersama sang perawat (yang dianggap sebagai ayahnya).

Atwool, Nicola, Attachment Issues, Community and Family Studies, University of


Otago.
Crain, William, Teori Perkembangan, Terjemahan, Yogyakarta: Pustaka pelajar, 2007.
Erickson, Childhood and Society, terjemahan, Yogyakarta: Pustaka pelajar, 2010.
Hart, Jonathan, Limke, Alicia, etc, Attachment and faith Development, Journal of
Psychology and Theology, 2010.
Megawangi, Ratna, Pendidikan Karakter Solusi Tepat untuk pembangunan bangsa,
Bogor: IHF, 2009.
Schore, Allan, Effect Of A Scure Attachment, Infant Mental Health Journal, 2001.
Hurlock, Elizabeth H, Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang
Kehidupan, Edisi Kelima, Jakarta: Penerbit Erlangga, 2002.
Klein, D and White, J., Family Theories An Introduction, London New Delhi: Sage
Production, 1996.
Sutcliffe Approach to Life Span Development. University of Texas: Mc Craw Hill,
2002.