Anda di halaman 1dari 31

RINITIS ALERGI

Jawahir Bin Madeaming


Mahasiswa Fakultas Kedokteran
Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No 6 Jakarta Barat, 11510
Ukrida.ac.id
___________________________________________________________________________
BAB I
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang

Rinitis alergi merupakan inflamasi dari membran nasal dan ditandai oleh gejala-gejala yang
terdiri dari kombinasi berikut ini: bersin, hidung tersumbat, rasa gatal dan rinore.
Definisi rhinitis alergi menurut WHO ARIA (Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma)
tahun 2001 adalah kelainan pada hidung dengan gejala bersin-bersin, rinore, rasa gatal, dan
tersumbat setelah mukosa hidung terpapar alergen yang diperantarai oleh Ig E.
Alergen yang paling umum diantaranya adalah debu, binatang peliharaan, jamur dan serbuk
sari. Alergen timbul dengan waktu dan tempat yang bervariasi, mengetahui alergen yang
berada dalam lingkungan dengan waktu yang spesifik dalam setahun membantu diagnosis
dan pengobatan serta pencegahan rinitis alergi. Terpaparnya alergen dapat menyebabkan
inflamasi pada saluran nafas atas dan bawah,termasuk hidung dan paru.
Rinitis alergi adalah penyebab paling umum dari rinitis, dan berdampak sekitar 20% dari
populasi masyarakat. Walaupun termasuk penyakit yang umum dijumpai, efek pada
kehidupan sehari-hari tidak dapat diremehkan. Meskipun bukan penyakit berbahaya yang
mematikan, rinitis alergi harus dianggap penyakit yang serius karena karena dapat
mempengaruhi kualitas hidup penderitanya. Tak hanya aktivitas sehari-hari yang menjadi
terganggu, biaya yang akan dikeluarkan untuk mengobatinya semakin mahal apabila penyakit
ini tidak segera diatasi karena telah menjadi kronis.
Jawahi Bin Madeaming / 102008258 / A5 / manjuk_paris@yahoo.com

BAB II
Isi/Pembahasan (rinitis alergi)

2.1. Anamnesis
Anamnesis sangat penting, karena sering kali serangan tidak terjadi dihadapan pemeriksa.
Hampir 50% diagnosis dapat ditegakkan dari Anamnesis saja. Anamnesis secara detail perlu
dilakukan untuk mengevaluasi rhinitis alergi terutama mengenai sifat, durasi, dan waktu dari
gejala; kemungkinan pencetus atau trigger , respon dari obat-obatan, gejala penyerta; riwayat
keluarga tentang penyakit alergi; paparan dari lingkungan, tempat kerja; serta efek terhadap
kualitas hidup pasien. Anamnesis secara menyeluruh dapat menolong dalam mengidentifikasi
pencetus yang spesifik dari rhinitis.(1,2)
Gejala yang berhubungan dengan rhinitis alergi antara lain bersin berulang, sumbatan hidung,
rasa gatal (pada hidung, mata, telinga, langit-langit mulut), rinorea (hidung berair), gangguan
penciuman, sakit kepala, nyeri pada telinga, mata berair, mata merah, bengkak pada mata,
rasa lelah atau lemas, tidak enak badan serta mengantuk.Menentukan umur saat onset gejala
dan apakah gejala tersebut berlangsung terus menerus sejak onset tersebut perlu dilakukan
dimana onset dari rinitis alergi dapat juga terjadi pada masa dewasa, dan gejala sebagian
besar pasien terjadi pada umur 20 tahun.(1,2)
Gejala rinitis alergi yang khas ialah terdapatnya serangan bersin berulang. Sebetulnya bersin
merupakan gejala yang normal, terutama pada hari atau bila terdapat kontak dengan sejumlah
besar debu. Hal ini merupakan mekanisme fisiologik, yaitu proses membersihkan sendiri (self
cleaning prosess) bersin ini terutama merupakan gejala pada RAFC dan kadang-kadang pada
RAFL sebagai akibat dilepaskannya histamin. (1)
Tentukan pola waktu dari gejala dan apakah gejala tersebut terjadi secara konsisten dalam
waktu tahunan (seperti rinitis perennial), hanya terjadi pada saat waktu atau musim tertentu
(rhinitis musiman), atau kombinasi dari keduanya. Selama periode eksaserbasi, tentukan
apakah gejala tersebut terjadi secara harian atau secara episodik. Tentuka juga apakah gejala
Jawahi Bin Madeaming / 102008258 / A5 / manjuk_paris@yahoo.com

berlangsung sepanjang hari atau hanya di waktu tertentu dalam satu hari. Informasi ini dapat
menolong dalam menegakan diagnosis dan mentukan kemungkinan pencetus. (2)
Tentukan juga sistem organ yang dipengaruhi serta gejala spesifiknya. Beberapa pasien
mempunyai keterlibatan pada hidung, dan sebagian yang lain mempunyai keterlibatan dari
berbagai organ. Beberapa pasien umumnya mempunyai keluhan bersin-bersin, gatal, mata
berair, dan hidung berair , dan yang lain mungkin hanya mengeluh hidung tersumbat.
Keluhan hidung tersumbat yang signifikan, khususnya bila unilateral, kemungkinan
mengarah ke obstruksi struktural seperti polip, benda asing, atau deviasi septum.
Tentukan apakah gejala berhubungan dengan faktor pencetus tertentu yang spesifik seperti
terpapar serbuk bunga di ruang terbuka, spora jamur saat melakuan pekerjaan taman,
binatang tertentu, atau debu sewatu membersihkan rumah. Pencetus iritan seperti asap,
polusi, dan bau yang kuat dapat memperburuk gejala pasien dengan rhinitis alergi. Hal
tersebut juga merupakan pencetus dari rhinitis vasomotor. Banyak pasien mempunyai kedua
rhinitis alergi dan rinitis vasomotor. Pasien lain mungkin menggambarkan gejala sepanjang
tahun yang tidak terlihat berhubungan dengan pencetus spesifik. Hal tersebut dapat saja
rhinitis nonalergi, tetapi alergen yang sepanjang tahun, seperti debu tungau atau pajanan
binatang harus dianggap pencetus pada situasi ini. (2)
Pasien dengan rhinitis alergi mungkin mempunyai kondisi atopi lain seperti asma atau
dermatitis atopi. Pasien dengan riwayat dermatitis atopi mempunyai 70% peluang untuk
mempunyai rhinitis alergi, asma, atau keduanya. Pasien dengan riwayat asma juga
mempunyai insidensi yang tinggi untuk memiliki rhinitis alergi. Pada 20 % pasien rhinitis
alergi juga mempunyai gejala asma dan rinitis alergi yang tidak terkontrol akan memperburuk
asma atau bahkan dermatitis alergi. Dicari juga kondisi yang mungkin terjadi akibat dari
komplikasi rinitis alergi. Sinusitis terjadi cukup sering. Kemungkinan komplikasi yang lain
termasuk otitis media, gangguan tidur atau sleep apnea, masalah gigi, dan abnormalitas langilangit mulut. Rencana pengobatan mungkin dibedakan bila satu dari komplikasi tersebut
terjadi. Polip nasi dapat terjadi berhubungan dengan rhinitis alergi, walaupun apakah rhinitis
alergi secara nyata penyebab dari polip nasi masih belum jelas. Polip mungkin tidak respon
terhadap pengoobatan medis dan mungkin juga predisposisi terhadap sinusitis atau gangguan
tidur(karena sumbatannya). (2)

Jawahi Bin Madeaming / 102008258 / A5 / manjuk_paris@yahoo.com

Oleh karena rhinitis alergi mempunyasi komponen genetik yang signifikan, riwayat atopi
dalam keluarga yang positif membuat diagnosis lebih mungkin. Faktanya, semakin besar nya
resiko rhinitis alergi dapat terjadi bila kedua orang tua mempunyai atopi dibandingkan salah
seorang dari orang tua. Bila seorang anak mempunyai seorang dari orangtuanya yang
memiliki alergi, peluang untuk mendapatkan rhinitis alergi sekitar 30%. Hal ini meningkat
sampai 50-70% bila kedua orang tuanya mempunyai alergi atau asma. Bagaimanapun,
penyebab rhinitis alergi merupakan multifaktorial, dan seorang yang tidak mempunyai
riwayat rhinitis alergi dalam keluarga, dapat mempunyai rhinitis alergi. (2)
Riwayat lengkap dari lingkungan pasien sangat penting dan dapat menolong dalam
mengidentifikasi pencetus spesifik alergi. Hal ini termasuk investigasi faktor resiko untuk
menunjukan alergen tahunan seperti tungau, spora, hewan peliharaan. Faktor beresiko pada
tungau umumnya ada pada karpet berbulu, area suhu panas, dan lembab, serta tempat tidur
yang tidak memiliki pelindung terhadap tungau. Kelembaban yang kronis pada rumah
merupakan pembentukan dari munculnya faktor resiko munculnya spora jamur. Riwayat hobi
dan aktivitas rekreasi membantu kita untuk memnentukan resiko dan pola waktu paparan
dari serbuk sari. Selain itu tanyakan mengenai lingkungan kerja dan sekolah termasuk
paparan terhadap alergen tahunan (tungau, spora, bulu hewan) allergen dalam pekerjaan
yang khusus seperti hewan laboratorium, produk hewani, serbuk kayu,material organic,
karet, ataupun enzim/ bahan kimia).
Respon terhadap pengobatan seperti antihistamin mendukung diagnosis rinitis alergi,
walaupun bersin-bersin, rasa gatal, dan rinorea berhubungan dengan rhinitis nonalergi yang
juga membaik dengan antihistamin. Respon terhadap kortikosteroid intranasal mendukung
rhinitis alergi, walau beberapa kasus rhinitis non alergi juga (khususnya rhinitis nonalergi
dengan sindrom eusinofil [NARES]) membaik dengan steroid hidung. (2)
2.2 Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan menyeluruh dilakukan untuk menemukan penyakit lain yang mungkin ada
seperti asma, eksim, dan cystic fibrosis, yang seringkali muncul sehubungan dengan rhinitis
alergi. Evaluasi melingkupi kepala, mata, telinga, hidung dan kerongkongan. Pada saat
pemeriksaan, perhatikan gejala-gejala berikut :

Jawahi Bin Madeaming / 102008258 / A5 / manjuk_paris@yahoo.com

2.2.1

Kepala

Allergic shiners adalah lingkaran hitam, bengkak sekitar mata (kelopak bawah mata)
dan dihubungkan dengan vasodilatasi atau kongesti hidung.Nasal Crease yaitu
lipatan horizontal atau garis melintang yang melewati dari dorsum nasi bagian
sepertiga bawah yang disebabkan oleh garukan berulang kea rah atas pada puncak
hidung dengan menggunakan punggung tangan Allergic salute. Morgan-Dennie
lines, garis dibawah kelopak mata, mungkin dapat terlihat.
2.2.2

Mata

Tentukan apakah ada eritema dan edema pada konjungtiva palpebra dan hipertrofi
papil dari konjungtiva tarsal. Kemosis pada konjungtiva mungkin terjadi. Pasien
biasanya mengalami mata berair. Katarak dapat terjadi akibat menggaruk mata yang
gatal.
2.2.3

Telinga

Membran timpani harus diperiksa untuk menilai adanya infeksi kronis atau efusi
telinga tengah. Peran dari allergic rhinitis dalam media otitis kronis tidak jelas, tetapi
penurunan jumlah infeksi telah dicatat pada anak-anak dengan rhinitis alergi yang
mengikuti terapi.
2.2.4

Hidung

Pemeriksaan hidung sering menolong dalam menegakan diagnosis. Pada rinoskopi


anterior tampak mukosa edema, basah, berwarna pucat atau livid disertai adanya
sekret encer yang banyak. Bila gejala persisten, mukosa inferior tampak hipertrofi
pemeriksaan nasoendoskopi dapat dilakukan bila fasilitas tersedia. Lakukan penilaian
terhadap karakter dan banyaknya lendir hidung. Ingus biasanya cair bening atau putih
dan sedikit, jarang bewarna kuning atau hijau. Bila didapati ingus yang berwarna,
kental, dan banyak, diagnosis infeksi virus atau sinusitis dipertimbangkan. Darah
kering umumnya ditemukan sebagai trauma sekunder akibat dari menggosok hidung.
Periksa septum nasi untuk melihat adanya deviasi septum atau perforasi septum yang
mungkin dapat disebabkan oleh rhinitis kronik, penyakit granulamatosis, pecandu
kokain, pengguna obat dekongestan berlebih, akibat operasi sebelumnya. Periksa
rongga hidung untuk melihat adanya masa seperti polip dan tumor. Polip jarang
ditemukan pada anak-anak.
Jawahi Bin Madeaming / 102008258 / A5 / manjuk_paris@yahoo.com

2.2.5

Rongga mulut

Pemeriksaan pada pertumbuhan gigi dapat informatif. Perubahan warna pada gigi seri
dan lengkungan pada langit-langit mulut tinggi berhubungan dengan pernafasan mulut
yang lama. Serta maloklusi sering berhubungan dengan pernafasan melalui mulut
yang kronis. Permukaan berbenjol-benjol atau granuler dan edema (cobblestone
appearance), pada faring posterior juga merupakan tanda dari hipertrofi folikular dari
mukosa jaringan limfoid akibat dari kongesti hidung yang kronik. Dinding leteral
faring menebal. Lidah tampak seperti gambaran peta (geographic tongue). Tentukan
ukuran tonsil, yang mungkin dapat meberikan petunjuk ukuran dari adenoid. Adenoid
yang besar dapat menimbulkan gejala dan tanda rhinitis alergi. Sumbatan hidung
yang kronis akibat hipertrofi adenoid sering ditemukan pada anak-anak dengan otitis
media dan sinusitis berulang.
2.2.6

Paru-paru

Dicari apakah terdapat tanda-tanda dari asma.


2.2.7

Kulit

Dievaluasi apakah terdapat tanda dermatitis atopi


2.3 Pemeriksaan penunjang
2.3.2

Tes Alergi

Tes ini dilakukan untuk menegakkan bukti secara objektif akan adanya penyakit atopi.
Ia juga dapat menentukan agen penyebab reaksi alergi tersebut, yang akan dapat
membantu dalam penanganan secara spesifik. Terdapat dua tipe pemeriksaan yang
sering digunakan bagi menilai secara kausatif maupun kuantitatif sensitifitas suatu
alergen: tes kulit dan serum in vitro (in vitro serum assay).(2)
2.3.2.1 Tes Kulit
Dapat dilakukan secara epikutan, intradermal atau kombinasi keduanya.
a. Tes cukit kulit merupakan tes kulit secara epikutan yang paling sering
digunakan. Secara umumnya tes ini tergolong cepat, spesifik, aman
dan ekonomis. Dengan adanya sistem tes multipel yang tersedia, tes ini
mudah dilaksanakan dan prosedurnya selalu tidak pernah berubah.

Jawahi Bin Madeaming / 102008258 / A5 / manjuk_paris@yahoo.com

Namun bila hasil tes ini diragukan, selanjutnya dilakukan tes secara
intradermal.
b. Tes cukit kulit secara intradermal menggunakan pengenceran berseri
yang kuantitatif 1:5 merupakan tes pilihan bagi kebanyakan ahli
spesialis THT setelah dilakukan tes cukit kulit secara epikutan. Tipe tes
yang dikenal sebagai intradermal dilutional testing (IDT), dulunya
dikenal sebagai serial endpoint titration (SET) ini sangat berguna
dalam menentukan tahap sensitifitas alergen, dan dalam rangka itu,
amat bermanfaat dalam penentuan terapi imunal yang tepat dan aman
bagi penderita rhinitis alergi.(2)
2.3.2.2 Tes in vitro:
Tes ini melibatkan IgE serum yang spesifik dengan alergen dan merupakan teknik
yang mudah dikerjakan serta akurat dalam mendeteksi adanya pengaruh atopi
pada pasien dengan rhinitis alergi. Teknologi in vitro juga sudah sangat
dikembangkan sedemikian rupa sehingga efektifitasnya sudah kurang lebih sama
dengan tes cukit kulit. Tes ini aman, murah dan cukup spesifik sehingga penderita
tidak perlu bebas dari pengaruh antihistamin atau obat-obat lain pada saat
pemeriksaan dijalankan, yang kalau pada tes cukit kulit, dapat mengganggu
penilaian. Tes ini juga sangat mudah dan cepat dikerjakan sehingga menjadi
pilihan dalam menangani pasien anak-anak maupun dewasa yang disertai
gangguan anxietas.(2)

Walaupun tes in vitro yang pertama yaitu radioallergosorbent test (RAST) sudah
tidak dikerjakan lagi, terminologi RAST ini masih digunakan secara umum dalam
menjelaskan pemeriksaan IgE spesifik darah. Saat ini, sudah banyak tipe esai in
vitro yang ditinggalkan, karena peralihan ke tipe baru yang lebih cepat, dapat
diandalkan dan lebih efisien contohnya ImmunoCap. Dengan tidak menggunakan
tes yang dapat diandalkan, dapat berakibat buruk kepada diagnosis atopi yang
seterusnya membawa kepada penanganan yang tidak adekuat. Dibawah
merupakan bagan pelaksanaan tes in vitro:
Gambar 1

Jawahi Bin Madeaming / 102008258 / A5 / manjuk_paris@yahoo.com

Proses tes invitro (2)


Hitung eosinofil dalam darah tepi dapat normal atau meningkat. Demikian pula
pemeriksaan IgE total (prist-paper radio immunosorbent test) seringkali menunjukkan
nilai normal, kecuali bila tanda alergi pada pasien lebih dari satu macam penyakit,
misalnya selain rinitis alergi juga menderita asma bronkial atau urtikaria. Pemeriksaan
ini berguna untuk prediksi kemungkinan alergi pada bayi atau anak kecil dari satu
keluarga dengan derajat alergi yang tinggi.(1)

Pemeriksaan sitologi hidung, walaupun tidak dapat memastikan diagnosis tetapi


berguna sebagai pemeriksaan pelengkap. Ditemukannya eosinofil dalam jumlah
banyak menunjukkan kemungkinan alergi inhalan. Jika basofil (>5sel/lap)
kemungkinan disebabkan alergi makanan, sedangkan jika ditemukan sel PMN
menunjukkan adanya infeksi bakteri.(1)

2.3.3

I n v i v o Untuk alergi makanan

Untuk alergi makanan, uji kulit yang akhir-akhir ini banyak dilakukan adalah
Intracutaneus Provocative Dilutional Food Test (IPDFT), namun sebagai baku emas
dapat dilakukan dengan diet eleminiasi dan provokasi Challenge Test. Alergen
ingestan

secara

tuntas

lenyap

dari

tubuh

dalam

waktu

lima

hari.

Karena itu pada Challenge Test, makanan yang dicurigai diberikan pada pasien setelah
berpantang selama 5 hari, selanjutnya diamati reaksinya. Pada diet eliminasi, jenis
makanan setiap kali dihilangkan darimenu makanan sampai suatu ketika gejala
menghilang dengan meniadakan suatu jenis makanan.(1)
2.4 Etiologi
Jawahi Bin Madeaming / 102008258 / A5 / manjuk_paris@yahoo.com

Rinitis alergi dapat disebabkan oleh hal-hal berikut ini: 1. faktor herediter (riwayat rinitis
alergi dalam keluarga) 2. faktor lingkungan (pajanan debu dan jamur) 3. pajanan alergen
(serbuk sari, bulu hewan, dan makanan) 4. perokok pasif (terutama dalam masa kanak-kanak)
5. polusi pabrik. Pada bayi dan balita, alergen berupa makanan seperti susu, telur, kedelai
serta debu dan alergen inhalan merupakan penyebab utama dari rinitis alergi dan menjadi
komorbid dari penyakit dermatitis atopi, otitis media, dan astma. Pada anak yang lebih besar,
serbuk sari mejadi faktor penyebab rinitis alergi.(2)

2.5

Epidemiologi

Rhinitis alergi berdampak pada kurang lebih 40 juta penduduk Amerika Serikat. Penelitian di
Scandinavia menunjukan bahwa prevalensi kumulatif pada laki-laki adalah sebesar 15% dan
14% pada wanita. Prevalensi dari penyakit ini bervariasi di tiap negara, yang mungkin
dipengaruhi oleh perbedaan letak geografis dan tipe serta potensi alergen. Rinitis alergi dapat
terjadi pada setiap individu dan muncul pada tiap ras. Prevalensi penyakit ini sangat
bervariasi antara populasi dan budaya yang disebabkan oleh perbedaan genetik, faktor
geografi atau perbedaaan lingkungan. Pada anak-anak, rinitis alergi lebih sering pada laki-laki
dibanding perempuan. tetapi pada usia dewasa dapat terjadi dengan prevalensi yang sama
besar antara lelaki dan wanita. Onset sering terjadi pada masa anak-anak, usia remaja dan
dewasa muda, dengan usia onset rata-rata 8-11 tahun. tetapi rinitis alergi dapat muncul pada
usia berapa saja, dalam 80% rinitis alergi terjadi pada usia 20 tahun. prevalensi dari penyakit
ini telah dilaporan sebanyak 40% pada anak-anak, dan menurun sesuai dengan usia.(2)
Gambar 2

prevalensi rinitis alergi mengikut umur (2)


Jawahi Bin Madeaming / 102008258 / A5 / manjuk_paris@yahoo.com

2.5.2

Morbiditas dan mortalitas

Walaupun rinitis alergi bukan merupakan penyakit yang mengancam nyawa, (kecuali
diikuti oleh astma berat atau anafilaksis) morbiditas dari kondisi ini dapat signifikan.
Rinitis alergi sering muncul bersama dengan asma dan dapat dikaitkan dengan
eksersebasi asma, otitis media, disfungsi tuba eustachius, sinusitis, polip nasal,
konjungtivitis alergi, dan dermatitis alergi. dapat pula menyebabkan kesulitan belajar,
gangguan tidur, dan kelelahan. Rinitis alergi dapat menyebabkan gangguan kehidupan
sehari-hari sehingga terjadi penurunan kualitas hidup.

2.6

Patofisiologi(1,2,3,4)

Rinitis alergi merupakan suatu penyakit inflamasi yang diawali dengan tahap sensitisasi dan
diikuti dengan tahap provokasi/ reaksi alergi alergi terdiri dari 2 fase yaitu Intermediate
Phase Allergic Reeaction atau alergi fase cepat (RAFC) yang berlangsung sejak kontak
dengan alergen sampai 1 jam setelahnya dan late phase allergic reaction atau Reaksi Alergi
Fase Lambat (RAFL) yang berlangsung 2-4 jam dengan puncak 6-8 jam (fase hipr-raktifitas)
setelah pemaparan dan dapat berlangsung sampai 24-48 jam.
Gambar 3

Patofisiologi rinitis alergi (paparan pertama pada alergen)


Pada kontak pertama dengan alergen atau tahap sensitisasi, makrofag atau monosit yang
berperan sebagai sel penyaji (Antigen Presenting Cell/APC) akan menangkap alergen yang
menempel di permukaan mukosa hidung. Setelah diproses, antigen akan membentuk fragmen
pendek peptida dan bergabung dengan molekul HLA kelas II membentuk komplek peptida
MHC kelas II (Major Histo Compatibility Complex) yang kemudian dipresentasikan pada sel
Jawahi Bin Madeaming / 102008258 / A5 / manjuk_paris@yahoo.com

T helper (Th 0). Kemudian sel penyaji akan melepas sitokin seperti interleukin 1 (lL 1) yang
akan mengaktifkan Th0 untuk berproliferasi menjadi Th 1 dan Th 2. Th 2 akan menghasilkan
berbagai sitokin seperti lL 3, lL 4, lL 5 dan lL 13. lL 4 dan lL 13 dapat diikat oleh reseptornya
di permukaan sel limfosit B, sehingga sel limfosit B menjadi aktif dan akan memproduksi
Imunoglobulin E (lgE). lgE di sirkulasi darah akan masuk kejaringan dan diikat oleh reseptor
lg E di permukaan sel mastosit atau basofil (sel mediator) sehingga ke dua sel ini menjadi
aktif. Proses ini disebut sensitisasi yang menghasilkan sel mediator yang tersensitisasi. Bila
mukosa yang sudah tersensitisasi terpapar dengan alergen yang sama, maka kedua rantai lgE
akan mengikat alergen spesifik dan terjadi degranulasi (pecahnya dinding sel) mastosit dan
basofil dengan akibat terlepasnya mediator kimia yang sudah terbentuk (Preformed
Mediators) terutama histamin. Selain histamin juga dikeluarkan Newly Formed Mediators
antara lain prostaglandin D2 (PGD2), Leukotrien D4 9LT D4), Leukotrien C4 (LT C4),
bradikinin, Platelet Activating Factor (PAF) dan berbagai sitokin. (lL3, lL4, lL6, lL6, (PAF)
dan berbagai sitokin. (lL3, lL4, lL5, lL6, GM-CSF (Granulocyte Macrophage Colony
Stimulating Fakor) dll. Inilah yang disebut Reaksi Alergi Fase Cepat (RAFC).
Gambar 4

Patofisiologi rinitis alergi (paparan pertama dan berulang terhadap alergen)


Histamin akan merangsang reseptor H1 pada ujung saraf vidianus sehingga menimbulkan
rasa gatal pada hidung dan bersin. Histamin juga akan menyebabkan kelenjar mukosa dan sel
goblet mengalami hipersekresi dan permeabilitas kapiler meningkat sehingga terjadi rinore.
Gejala lain adalah gidung tersumbat akibat vasodilatasi sinosoid. Selain histamin merangsang
ujung saraf Vidianus, juga mengakibatkan rangsangan pada mukosa hidung sehingga terjadi
pengeluaran Inter Celluler Adhesion Molecule 1 (lCAM 1).

Jawahi Bin Madeaming / 102008258 / A5 / manjuk_paris@yahoo.com

Pada RAFC, sel mastosit juga akan melepaskan molekul komotaktik yang menyebabkan
akumulasi sel eosinofil dan netrofil di jaringan target. Respons ini tidak berhenti sampai
disini saja, tetapi gejala akan berlanjut dan mencapai puncak 6-8 jam setelah pemaparan.
Pada RAFL ini ditandai dengan penambahan jenis dan jumlah sel inflamasi seperti eosinofil,
limfosit, netrofil, basofil dan mastosit di mukosa hidung serta peningkatan sitokin seperti
seperti IL3, IL4, IL5 dan Granulocyte Macrophag Colony Stimulating Factor (GMCSF) dan
ICAM 1 pada sekret hidung. Timbulnya gejala hiperaktif atau hiperrresponsif hidung akibat
peranan eosinofil dan mediator inflamasi dari granulnya seperti Eosiniphilic derived protein
(EDP), Major Basic Protein (MPB) dan Eosinophilic peroxidase (EPO). Pada fase ini, selain
factor spesifik (alergen), iritasi oleh faktor non-spesifik dapat memperberat gejala seperti
asap rokok, bau yang merangsang, perubahan cuaca dan kelembaban udara yang tinggi.
Gambar 5

Jawahi Bin Madeaming / 102008258 / A5 / manjuk_paris@yahoo.com

Patofisiologi rinitis alergi ( early and late phase reaction )


2.7

Gambaran histologik (1)

Secara mikroskopik tampak adanya dilatasi pembuluh darah (vascular bad) dengan
pembesaran sel goblet dan sel pembentuk mucus. Terdapat juga pembesaran ruang
interseluler dan penebalan membrane basal, seta ditemukan infiltrasi sel-sel eosinofil pada
jaringan mukosa dan submukosa hidung. Gambaran yang demikian terdapat pada saat
serangan. Diluar keadaan serangan, mukosa kembali normal. Akan tetapi serangan dapat
terjadi terus menerus/persisten sepanjang tahun, sehingga lama kelamaan terjadi perubahan
Jawahi Bin Madeaming / 102008258 / A5 / manjuk_paris@yahoo.com

yang ireversibel, yaitu terjadi proliferasi jaringan ikat dan hyperplasia mukosa, sehingga
tampak mukosa hidung menebal.
Berdasarkan cara masuknya alergen dibagi atas :
1. Alergen inhalan, yang masuk bersama dengan udara penapasan, misalnya tungau
debu rumah (D. pteronyssinus, D.farinae, B.tropicalis), kecoa, serpihan epitel kulit
binatang (kucing, anjing), rerumputan (Bermuda grass) serta jamur (Aspergillus,
Alternaria).
2. Alergen ingestan yang masuk ke saluran cerna, berupa makanan, misalnya susu,
sapi, telur, coklat, ikan laut, udang kepting dan kacang-kacangan.
3. Alergen injektan, yang masuk melalui suntikan atau tusukan, misalnya penisilin dan
sengatan lebah.
4. Alergen kontaktan, yang masuk melalui kontak kulit atau jaringan mukosa,
misalnya bahan komestik, perhiasan.
Satu macam alergen dapat merangsang lebih dari satu organ sasaran, sehingga memberi
gejala campuran, misalnya tungau debu rumah yang memberi gejala asma bronkial dan rinitis
alergi. Dengan masuknya antigen asing ke dalam tubuh terjadi reaksi yang secara garis besar
terdiri dari:
1.

Respons Primer: Terjadi proses eliminasi dan fagositosis antigen (ag). Reaksi ini
bersifat non spesifik dan dapat berakhir sampai disini. Bila Ag tidak berhasil
seluruhnya dihilangkan, reaksi berlanjut menjadi respons sekunder.

2.

Respons Sekunder: Reaksi yang terjadi bersifat spesifik, yang mempunyai 3


kemungkinan ialah sistim imunitas selular atau humoral atau keduanya
dibangkitkan. Bila Ag berhasil dieliminasi pada tahap ini, reaksi selesai. Bila Ag
masih ada atau memang sudah ada defek dari sistim imunologik, maka berlanjut
menjadi respons tertier.

3.

Respons Tertier: Reaksi imunologik yang terjadi ini tidak menguntungkan tubuh.
Reaksi ini dapat bersifat sementara atau menetap, tergantung dari daya eliminasi Ag
oleh tubuh.

Gell dan coombs mengklasifikasikan reaksi ini atas 4 tipe, yaitu tipe 1, atau reaksi anafilaksis
(immediate hypersentitivity), tipe 2 atau reaksi sitotoksik/sitolitik, tipe 3 atau reaksi kompleks

Jawahi Bin Madeaming / 102008258 / A5 / manjuk_paris@yahoo.com

imun dan tipe 4 atau reaksi tuberkulin (delayed hypersensitivity). Manifestasi klinis
kerusakan jaringan yang banyak dijumpai dibidang THT adalah tipe 1 yaitu rinitis alergi.
2.8 Diagnosis
2.8.2

Diagnosis kerja

Rinitis alergi adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien
atopi yang sebelumnya sudah tersensitisasi dengan alergen yang sama serta dilepaskannya
suatu mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan alergen tersebut (Von Pirquet,
1986). Definisi rhinitis alergi menurut WHO ARIA (Allergic Rhinitis and its Impact on
Asthma) tahun 2001 adalah kelainan pada hidung dengan gejala bersin-bersin, rinore, rasa
gatal, dan tersumbat setelah mukosa hidung terpapar alergen yang diperantarai oleh Ig E.
(1,2)

Untuk menegakkan diagnosis rinitis alergi, diperlukan anamnesis yang teliti dan lengkap,
serta pemeriksaan fisik yang menyeluruh. Riwayat alergi pada pasien ataupun
keluarganya adalah sangat penting untuk membantu diagnosis.
Gejala rinitis alergi yang khas adalah terdapatnya serangan bersin berulang. Sebetulnya
bersin merupakan gejala yang normal, terutama pada pagi hari atau bila terdapat kontak
dengan sejumlah besar debu. Hal ini merupakan mekanisme fisiologik, yaitu proses
membersihkan sendiri (self cleaning process). Bersin dianggap patologik, bila terjadinya
lebih dari lima kali setiap serangan, terutama merupakan gejala pada RAFC dan kadangkadang pada RAFL sebagai akibat dilepaskannya histamin. Gejala lain ialah keluar ingus
(rinore) yang encer dan banyak, hidung tersumbat, hidung dan mata gatal, yang kadangkadang disertai dengan banyak air mata keluar (lakrimasi). Rinitis alergi sering disertai
oleh gejala konjungtivitis alergi. Sering kali gejala yang timbul tidak lengkap,
terutama pada anak. Kadang-kadang keluhan hidung tersumbat merupakan keluhan
utama atau satu-satunya gejala yang diutarakan oleh pasien.
Pada rinoskopi anterior tampak mukosa edema, basah, berwarna pucat atau livid
disertai adanya sekret encer yang banyak. Bila gejala persisten,

mukosa inferior

tampak hipertrofi. Pemeriksaan nasoendoskopi dapat dilakukan bila fasilitas tersedia.


Gejala spesifik lain pada anak adalah terdapatnya bayangan gelap di daerah
bawahmata yang terjadi karena stasis vena sekunder akibat obstruksi hidung. Gejala ini
disebut allergic shiner. Selain dari itu sering juga tampak anak menggosok-gosok
Jawahi Bin Madeaming / 102008258 / A5 / manjuk_paris@yahoo.com

hidung, karena gatal, dengan punggungtangan. Keadaan ini disebut sebagai allergic
salute. Keadaan menggosok ini lama kelamaan akan mengakibatkan timbulnya
garis melintang di dorsum nasi bagian sepertiga bawah, yang disebut sebagai
allergic crease. Mulut sering terbuka dengan lengkung langit-langit yang
sehingga akan menyebabkan gangguan

pertumbuhan

tinggi,

gigi geligi (facies adenoid).

Dinding posterior faring tampak granuler dan edema (cobblestone appearance), serta
dinding

lateral

faring

menebal. Lidah tampak seperti gambaran peta

(geographic

tongue)..
2.8.2.1 Klasifikasi rinitis alergi(1,2,4)
Dahulu rinitis alergi dibedakan dalam 2 macam berdasarkan sifat berlangsungnya,
yaitu:
1.

Rinitis alergi musiman (seasonal, hay fever, polinosis). Di indonesia


tidak dikenal rinitis alergi musiman, hanya ada di negara yang
mempunyai 4 musim. Alergen penyebabnya spesifikm, yaitu tepungsari
(pollen) dan spora jamur. Oleh karena itu nama yang tepat ialah
polinosis atau rino konjungtivitis karena gejala klinik yang tampak ialah
gejala pada hidung dan mata (mata merah, gatal disertai lakrimasi).

2.

Rinitis alergi sepanjang tahun (perennial). Gejala pada penyakit ini


timbul intermiten atau terus menerus, tanpa variasi musim, jadi dapat
ditemukan sepanjang tahun. Penyebab yang paling sering ialah alergen
inhalan, terutama pada orang dewasa, dan alergen inhalan utama
aladalah alergen diluar rumah (outdoor). Alergen ingestan sering
merupakan penyebab pada anak-anak dan biasanya disertai dengan
gejala alergi yang lain, seperti urtikaria, gangguan pencernaan.
Gangguan fisiologik pada golongan perenial lebih ringan dibandingkan
dengan golongan musiman tetapi karena lebih persisten maka
komplikasinya lebih sering ditemukan.

Saat ini digunakan klasifikasi rinitis alergi berdasarkan rekomendasi dari WHO
initiative ARIA (Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma) tahun 2001, yaitu
berdasarkan sifat berlangsungnya dibagi menjadi:
Jawahi Bin Madeaming / 102008258 / A5 / manjuk_paris@yahoo.com

1.

Intermiten (kadang-kadang): bila gejala kurang dari 4 hari/minggu atau

2.

kurang dari 4 minggu.


Persisten/menetap bila gejala lebih dari 4 hari/minggu dan lebih dari 4
minggu.

Sedangkan untuk tingkat berat ringannya penyakit, rinitis alergi dibagi menjadi dua:
1. Ringan bila tidak ditemukan gangguan tidur, gangguan aktivitas

harian,

bersantai, berolahraga, belajar, bekerja dan hal-hal lain yang mengganggu.


2. sedang-berat bila terdapat satu atau lebih dari gangguan tersebut diatas.
2.8.3 Diagnosis banding
2.8.3.1 Rinitis vasomotor (1)
Rhinitis vasomotor adalah suatu keadaan idiopatik yang didiagnosis tanpa adanya
infeksi, alergi, eosinofilia, p0erubahan hormonal (kehamilan, hipertiroid) dan
pajanan obat (kontrasepsi oral, antihipertensi, B-blocker, aspirin, klorpromazin
dan obat topikal hidung dekongestan). Pada rhinitis vasomotor, gejala sering
dicetuskan oleh berbagai rangsangan non-spesifik, seperti asap/rokok, bau yang
menyengat, parfum, minuman beralkohol, makanan pedas, udara dingin,
pendingin dan pemanas ruangan, perubahan kelembaban, perubahan suhu luar,
kelelahan dan stress/ emosi.
Kelainan ini mempunyai gejala yang mirip dengan rhinitis alergika, namun gejala
yang dominan adalah hidung tersumbat, bergantian kiri dan kanan, tergantung
pada posisi pasien. Selain itu, terdapat rinore yang mukoid atau serosa. Keluhan
ini jarang disertai dengan gejala mata. Gejala dapat memburuk pada pagi hari
waktu bangun tidur oleh karena adanya perubahan suhu yang ekstrim, udara
lembab, juga karena asap rokok dan sebagainya.
Berdasarkan gejala yang menonjol, kelainan ini dibedakan dalam 3 golongan,
yaitu 1)golongan bersin (sneezers), gejala biasanya memberikan respon yang baik
dengan terapi antihistamin dan glukokortikosteroid topikal; 2) golongan rinore
(runners), gejala dapat diatasi dengan pemberian antikolinergik topikal; dan 3)
golongan tersumbat (blockers), kongesti umumnya memberikan respon yang baik
dengan terapi glukokortikosteroid topikal dan vasokonstriktor oral.

Jawahi Bin Madeaming / 102008258 / A5 / manjuk_paris@yahoo.com

Diagnosis umumnya ditegakkan dengan cara ekslusi, yaitu menyingkirkan adanya


rinitis infeksi, alergi, okupasi, hormonal dan akibat obat. Dari anamnesis dicari
faktor yang mempengaruhi timbulnya gejala. Pada pemeriksaan rinoskopi anterior
tampak gambaran yang khas berupa edema mukosa hidung, konka berwarna
merah gelap atau merah tua, tapi dapat pula pucat. Hal ini perlu dibedakan dengan
rinitis alergi. Permukaan konka dapat licin atau berbenjol-benjol (hipertrofi). Pada
rongga hidung terdapat sekresi mukoid, biasanya sedikit. Akan tetapi pada
golongan rinore sekret yang ditemukan ialah serosa dan banyak jumlahnya.
Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan rinitis
alergi. Kadang ditemukan juga eosinofil pada sekret hidung, akan tetapi dalam
jumlah sedikit. Tes cukil kulit biasanya negatif. Kadar IgE spesific tidak
meningkat.
2.8.3.2 Rinitis simpleks (1)
Merupakan penyakit virus yang paling sering ditemukan pada manusia. Sering
disebut juga sebagai selesema, common cold, flu. Penyebabnya adalah beberapa
jenis virus dan yang paling penting adalah rhinovirus. Penyakit ini sangat menular
dan gejala dapat timbul sebagai akibat tidak adanya kekebalan, atau menurunnya
daya tahan tubuh (kedinginan, kelelahan, adanya penyakit menahun, dan lainlain).
Pada stadium prodromal yang berlangsung beberapa jam, didapatkan rasa panas,
kering dan gatal di dalam hidung. kemudian akan timbul bersin berulang-ulang,
hidung tersumbat dan ingus encer, yang biasanya disertai dengan demam dan
nyeri kepala. Mukosa hidung tampak merah dan membengkak. Bila terjadi infeksi
sekunder bakteri, ingus menjadi mukopurulen.
Tidak terdapat terapi spesifik untuk rhinitis simpleks, selain istirahat dan
pemberian obat-obat simptomatis, seperti analgetika, antipiretika dan obat
dekongestan. Antibiotika diberikan bila terdapat infeksi sekunder oleh bakteri.
2.8.3.3 Polip hidung
Jawahi Bin Madeaming / 102008258 / A5 / manjuk_paris@yahoo.com

Polip hidung ialah massa lunak yang mengandung banyak cairan di dalam rongga
hidung, berwarna putih keabu-abuan, yang terjadi akibat inflamasi mukosa. Polip
dapat timbul pada penderita laki-laki maupun perempuan, dari usia anak-anak
sampai usia lanjut. Bila ada polip pada anak bawah 2 tahun, harus disingkirkan
kemungkinan meningokel atau meningoensefalokel.
Dulu diduga predisposisi timbulnya polip nasi ialah adanya rinitis alergi atau
penyakit atopi, tapi makin banyak penelitian yang mengemukakan berbagai teori
dan para ahli sampai saat ini menyatakan bahwa etiologi polip nasi masih belum
diketahui dengan pasti.
Pembentukan polip sering diasosiasikan dengan inflamasi kronik, disfungsi saraf
otonom serta predisposisi genetik. Menurut teori Bernstein, terjadi perubahan
mukosa hidung akibat peradangan atau aliran darah yang bertubulensi, terutama di
daerah sempit di kompleks osteomeatal. Terjadi prolaps submukosa yang diikuti
oleh reepitelisasi dan pembentukan kelenjar baru. Juga terjadi peningkatan
penyerapan natrium oleh permukaan sel epitel yang berakibat retensi air sehingga
terbentuk polip.
Teori lain mengatakan karena ketidakseimbangan saraf vasomotor terjadi
peningkatan permeabilitas kapiler dan gangguan regulasi vaskular yang
mengakibatkan dilepasnya sitokin-sitokin dari sel mast, yang menyebabkan edema
dan lama-kelamaan menjadi polip.
Bila proses terus berlanjut, mukosa yang sembab makin membesar menjadi polip
dan kemudian akan turun ke rongga hidung dengan membentuk tangkai.
Berdasarkan jenis sel peradangannya, polip dikelompokkan menjadi 2 yaitu polip
tipe eosinofilik dan tipe neurofilik.
Keluhan utama penderita polip nasi ialah hidung rasa tersumbat dari yang ringan
sampai berat, rinore mulai yang jerbih sampai purulen, hiposmia, atau anosmia.
Munkin disertai bersin-bersin, rasa nyeri pada hidung disertai sakit kepala di

Jawahi Bin Madeaming / 102008258 / A5 / manjuk_paris@yahoo.com

daerah frontal. Bila disertai infeksi sekunder mungkin didapat post nasal drip dan
rinore purulen.
Gejala sekunder yang dapat timbul adalah bernafas melalui mulut, suara sengau,
halitosis, gangguan tidur, dan penurunan kualitas hidup. Dapat menyebabkan
gejala pada saluran napas bawah, berupa batuk kronik dan mengi, terutama
penderita polip nsai dengan asma.
Polip nasi yang masif dapat menyebabkan deformitas hidung luar sehingga hidung
tampak mekar karena pelebaran batang hidung. Pada pemeriksaan rinoskopi
anterior terlihat sebagai massa yang berwarna pucat yang berasal dari meatus
medius dan mudah digerakkan.
Pembagian stadium polip menurut Mackay dan Lund (1997):
a. stadium 1 : polip masih terbatas di meatus medius
b. stadium 2 : polip sudah keluar dari meatus medius, tampak di rongga
hidung, tapi belum memenuhi rongga hidung
c. stadium 3 : polip yang masif

Tabel 1
Rhinitis Alergika

Rhinitis Vasomotor Rhinitis Simpleks

Polip hidung

Mulai
serangan

Belasan tahun

Dekade ke 3-4

Semua umur

usia anak-anak
sampai usia
lanjut

Riwayat
terpapar
alergen

Riwayat terpapar
alergen (+)

Riwayat terpapar
alergen (-)

Riwayat terpapar
alergen (-)

alergi dianggap
faktor
predisposisi

Jawahi Bin Madeaming / 102008258 / A5 / manjuk_paris@yahoo.com

Reaksi Ag-Ab
terhadap
rangsangan
spesifik

Reaksi
neurovaskuler
terhadap beberapa
rangsangan
mekanis atau
kimia, psikologis

Virus, terutama
rhinovirus

Gatal &
bersin

Menonjol

Tidak menonjol

Menonjol

Gatal di
mata

Sering dijumpai

Tidak dijumpai/
jarang

Tidak dijumpai

Test kulit

Positif

Negatif

Negatif

Etiologi

belum
diketahui pasti

tidak menonjol

tidak
dijumpai/jaran
g
+/-

Perbandingan rhinitis alergika, rhinitis vasomotor, rhinitis simpleks, dan polip hidung
2.9 Penatalaksanaan
Dalam menangani rinitis alergi perlu dipertimbangkan gejala utama, derajat penyakitnya,
kualitas hidup penderita, perbelanjaan yang digunakan selama terapi serta alergen yang
terlibat agar tiap terapi yang dipilih bertepatan dengan tiap individu yang menderita rinitis
alergi. Secara umumnya yang dipilih sebagai terapi terbagi kepada tiga kategori besar yaitu
menghindari kontak dengan alergen dan pengelolaan lingkungan, farmakoterapi dan
imunoterapi.
2.9.2

Non-medikamentosa

2.9.2.1 Pengelolaan Lingkungan


Terapi yang paling ideal adalah dengan menghindari kontak dengan
alergen

penyebabnya

semaksimalnya

kontak

(avoidance)
dengan

dan

alergen

eleminasi.(1)
dapat

Mengurangi

menurunkan

kadar

kambuhnya gejala rinitis alergi secara signifikan. Bagi penderita yang


Jawahi Bin Madeaming / 102008258 / A5 / manjuk_paris@yahoo.com

alergi terhadap tepung sari (pollen), dapat dianjurkan mengurangi kegiatan


di luar rumah selama musim yang bersangkutan, menutup celah yang
membolehkan udara luar masuk ke dalam rumah atau mobil serta
menggunakan pendingin udara. Pengendalian debu rumah, jamur dan bulu
binatang, yang berikut dapat dilakukan: (1) mengurangi tahap kelembapan
rumah sehingga dibawah paras 50%; (2) mencuci pakaian terutama alas
kasur dengan air hangat; (3) jauhkan karpet dan binatang piaraan dari
ruang yang sering digunakan penderita; (4) menggunakan bahan yang
hipoalergenik; dan (5) bagi penderita yang tinggal di daerah padat dan
kotor, sedapatnya membasmi kecoa. (2)
Tabel 2

Pengelolaan lingkungan terhadap alergen(2)


2.9.3

Medikamentosa
Gambar 6

Jawahi Bin Madeaming / 102008258 / A5 / manjuk_paris@yahoo.com

Algoritme penatalaksanaan rinitis alergi menurut WHO (1)


2.9.3.1 Farmakoterapi

Jawahi Bin Madeaming / 102008258 / A5 / manjuk_paris@yahoo.com

Saat memilih terapi yang cocok bagi rinitis alergi, beberapa hal yang menjadi
pertimbangan adalah keadaan penyakit penderita saat itu, gejala yang paling
dominan, umur, gejala saluran pernafasan lain yang ada di penderita serta riwayat
pengobatan yang sebelumnya.
a. Antihistamin(1,2)
Antihistamin banyak dipilih sebagai terapi lini pertama dan banyak dari tipe
antihistamin bisa dibeli tanpa resep dokter. Obat ini memblokir reseptor H 1
justru menghalangi terjadinya reaksi histamin seperti mencegah peningkatan
permeabilitas vaskuler, mencegah kontraksi otot polos, meningkatkan
produksi mukus dan mencegah pruritus. Oleh karena obat ini menghilangkan
gejala

reaksi

histamin

di

kulit,

penderita

tidak

dianjurkan

untuk

mengkonsumsinya beberapa hari sebelum dilakukan tes cukit kulit karena


hasilnya dapat menjadi negatif. Pada tes in vitro, mengkonsumsi antihistamin
tidak akan berpengaruh pada hasil tes.
Antihistamin sangat efektif pada reaksi alergi fase cepat (RAFC) sehingga
dapat mencegah gejala bersin, rinore dan pruritus namun kurang berpengaruh
pada reaksi alergi fase lambat (RAFL) contohnya sumbatan hidung (nasal
congestion/blockers). Antihistamin generasi pertama yang banyak bisa dibeli
tanpa resep mempunyai efek sedasi sehingga berpengaruh terhadap penurunan
prestasi dan tumpuan penderita, kadang dapat mengakibatkan kecelakaan saat
menyetir atau di tempat kerja. Efek samping yang lain adalah efek
antikolinergik

yang

dapat

mengakibatkan

mulut

kering

contohnnya

difenhidramin, hidroksizin, klorfeniramin dan bromfeniramin. Dua obat


terakhir yang disebutkan sebelumnya banyak ditemukan dalam preparat obat
flu di warung.
Generasi kedua sangat kecil sekali kemungkinan mengikat reseptor H1 sentral,
sehingga mengurangi efek sedasi serta tidak berefek antikolinergik. Golongan
ini diabsorpsi secara baik, kerja cepat dan menghilangkan gejala dalam waktu
sejam. Pemakaiannya cukup sekali sehari dan tidak menimbulkan efek
penggunaan jangka panjang contohnya loratadin dan levosetirisin.
b. Kortikosteroid intranasal(2)

Jawahi Bin Madeaming / 102008258 / A5 / manjuk_paris@yahoo.com

Kortikosteroid intranasal mungkin adalah terapi yang paling efektif bagi tiap
tingkat gejala rinitis alergi. Keberkesanan maksimal timbul pada minggu
pertama sampai kedua dari hari pertama penggunaan. Efektifitasnya
tergantung pemakaian yang sering dan keadaan hidung yang adekuat untuk
inhalasi obat. Obat ini turut bekerja pada RAFL sehingga mencegah terjadinya
peningkatan sel inflamasi yang mendadak. Formulasi mutakhir seperti
triamsinolon, budesonid dan flutikason mempunyai ciri absorpsi sistemik yang
minimal dengan hampir tiada efek samping sistemik sehingga aman pada tiap
golongan umur termasuk anak-anak. Efek samping lokal seperti hidung kering
dan epistaksis dapat diregulasi dengan instruksi pemakaian yang benar.
c. Kortikosteroid sistemik(2)
Preparat ini sesuai bagi gejala sangat berat yang menetap. Pemberiannya
adalah melalui intramuskuler atau per oral. Jika lewat oral, penurunan dosis
secara tapering off diberikan dalam tiga sampai tujuh hari. Obat ini bertindak
terhadap inflamasi justru menurunkan gejala rinitis alergi secara signifikan.
Namun pada penggunaan jangka panjang dapat timbul efek samping yang
serius seperti penekaan aksis HPA dan efek samping kortikosteroid sistemik
lain yang lazim ditemukan.
d. Dekongestan(2)
Dekongestan bekerja pada reseptor -adrenergik di hidung, menimbulkan efek
vasokonstriksi sehingga kongesti nasal dikurangi. Kongesti rongga hidung
berkurang namun obat ini tidak mengatasi gejala lainnya seperti rinore, bersin
dan pruritus. Obat ini banyak ditemukan dalam preparat flu yang bisa dibeli
tanpa resep namun pemakaian pada penderita dengan kelainan jantung dan
hipertensi harus dengan berhati-hati. Dekongestan intranasal seperti
oksimetazolin dapat menimbulkan kekambuhan kongesti nasal serta
menimbulkan ketergantungan pada pemakaian lebih dari tiga hari (rinitis
medikamentosa).
e. Antikolinergik intranasal(2)
Obat ini berpengaruh dalam mengurangi gejala rinore namun tidak gejala
lainnya. Contohnya adalah ipratrium bromida dan obat ini dapat digunakan

Jawahi Bin Madeaming / 102008258 / A5 / manjuk_paris@yahoo.com

dengan obat alergi lainnya terutama bagi penderita dengan rinitis alergi tipe
sepanjang tahun (perennial).
f. Kromolin intranasal(2)
Preparat ini harus digunakan sebelum munculnya gejala untuk menjadi efektif.
Penggunaannya harus sepanjang paparan terhadap alergen dengan dosis
sehingga empat kali sehari dan cukup aman bagi penderita.
g. Inhibitor leukotrien(2)
Obat ini mengatasi kelebihan plasebo dalam menangani rinitis alergi namun
masih jauh ketinggalan efeknya berbanding antihistamin dan kortikosteroid
intranasal.
Tabel 3

Farmakoterapi untuk rinitis alergi (2)


\\\

2.9.3.2 Operatif(1)
Tindakan konkotomi parsial (pemotongan sebagian konka superior), konkoplasti
atau multiple outfractured, inferior turbinoplasty perlu dipikirkan bila konka
inferior hipertrofi berat dan tidak berhasil dikecilkan dengan cara kateterisasi
memakai AgNO3 25% atau triklor asetat.(1)

2.9.3.3 Imunoterapi
Jawahi Bin Madeaming / 102008258 / A5 / manjuk_paris@yahoo.com

Cara pengobatan ini dilakukan pada alergi inhalan dengan gejala yang berat dan
sudah berlangsung lama serta dengan pengobatan cara lain tidak memberikan hasil
yang memuaskan.(1)
Tujuan terapi ini adalah untuk meningkatkan ambang batas (threshold) sebelum
munculnya gejala pada penderita yang terpapar pada alergen. Mekanisme kerja
terapi imun ini masih belum jelas dimengerti. Teori yang bersangkutan adalah
wujudnya blok antibody (IgE blocking antibody) dan regulasi kaskade imun yang
memacu terjadinya reaksi alergi. Ada 2 metode imunoterapi yang umum
dilakukan yaitu intradermal dan sub-lingual. (2)
Indikasi imunoterapi adalah penggunaan farmakoterapi jangka panjang, terapi
farmakologi yang tidak adekuat dan tidak dapat ditoleransi oleh penderita serta
sensitifitas signifikan terhadap alergen. Sebelum memulai imunoterapi, harus
ditentukan alergen yang tepat pada penderita. Di Amerika Serikat yang biasa
dilakukan adalah penyuntikan alergen secara subkutan yang gradual sehingga
timbul reaksi sistemik yang ringan atau reaksi lokal yang berat. Teknik lain adalah
pemberian secara sublingual yang terutama dianuti di Eropa. Teknik ini lebih
aman dan mudah dilakukan sendiri oleh penderita di rumah. (2)
Masih belum ada penelitian yang adekuat mengenai lama pelaksanaan
imunoterapi ini namun pada kebanyakan penderita, cukup hanya dua hingga tiga
tahun sebelum ambang batas terhadap alergen dapat ditingkatkan.(2)

2.10 Komplikasi

Komplikasi rinitis alergi yang sering ialah(1)


1. Polip hidung
Beberapa peneliti mendapatkan, bahwa alergi hidung merupakan salah satu faktor
penyebab terbentuknya polip hidung dan kekambuhan polip hidung.
2. Otitis media efusi yang sering residif, terutama pada anak-anak.
3. Sinusitis paranasal.

Jawahi Bin Madeaming / 102008258 / A5 / manjuk_paris@yahoo.com

Otitis media dan sinusitis paranasal bukanlah akibat langsung dari rinitis alergi melainkan
adanya sumbatan pada hidung sehingga menghambat drainase. Selain itu, penyulit lain ialah
sinusitis dengan tria asma yakni asma, sinusitis dengan poliposis nasal, dan sensitif terhadap
aspirin, obstruksi tuba Eustachian dan efusi telinga bagian tengah, serta hipertrofi tonsil dan
adenoid.
Beberapa peneliti mendapatkan, bahwa alergi hidung merupakan salah satu faktor penyebab
terbentuknya polip hidung dan kekambuhan polip hidung. Polip hidung biasanya tumbuh di
meatus medius dan merupakan manifestasi utama akibat proses inflamasi kronis yang
menimbulkan sumbatan sekitar ostium sinus di meatus medius. Sinusitis paranasal pula
merupakan inflamasi mukosa satu atau lebih sinus paranasal. Ianya terjadi akibat edema
ostium sinus oleh proses alergis dalam mukosa. Edema mukosa ostium menyebabkan
sumbatan ostium. Penyumbatan tersebut akan menyebabkan penimbunan mukus sehingga
terjadi penurunan oksigenasi dan tekanan udara rongga sinus. Hal tersebut akan menyuburkan
pertumbuhan bakteri terutama bakteri anaerob.
Selain dari itu, proses alergi akan menyebabkan rusaknya fungsi barier epitel antara lain
akibat dekstruksi mukosa oleh mediator-mediator protein basa yang dilepas sel eosinofil
(MBP) dengan akibat sinusitis akan semakin parah.
Pengobatan

komplikasi

rinits

alergi

harus

ditujukan

untuk

menghilangkan

obstruksi ostium sinus dan tuba Eustachius, serta menetralisasi atau menghentikan
reaksi humoral maupun seluler yang terjadi lebih meningkat. Untuk tujuan ini maka
pengobatan rasionalnya adalah pemberian antihistamin, dekongestan, antiinflamasi,
antibiotia adekuat, imunoterapi dan bila perlu operatif.

2.11 Preventif
Para ahli tidak tahu bagaimana cara yang tepat untuk mencegah rhinitis alergi. Hal ini
karena udara persekitaran yang sering menyebabkan kita terdedah kepada bermacammacam alergen, asap rokok, serta polusi sehingga mengiritasi hidung dan menyebabkan
terjadinya alergi. Walau bagaimanapun, kita dapat mengambil beberapa langkah yang
dapat mengurangi gejala rhinitis alergi serta dapat menurunkan keparahan gejala. Penting
untuk menghindari alergen yang dapat menimbulkan gejala. Langkah pencegahan yang
dapat diambil antara lain ialah seperti berikut:
Jawahi Bin Madeaming / 102008258 / A5 / manjuk_paris@yahoo.com

a) Membersihkan kawasan tempat tinggal terutamanya kamar tidur dari debu dan habuk,
mencuci sarung bantal dan kasur dengan air hangat. (5)
b) Mengontrol alergen dari binatang misalnya jika kita mempunyai binatang peliharaan,
kita menyediakan ruangan khas untuk binatang peliharaan. (5)
c) Mengelakkan diri dari berada di kawasan yang terlalu kotor dan berdebu. (5)
d) Hasil penelitian mengatakan konsumsi alkohol dapat memperburuk alergi. Jadi,
konsumsi alkohol patut dikurangkan agar keparahan gejala rhinitis alergi dapat
dikurangkan.(6)
e) Ada juga hasil penelitian yang mengatakan bahwa paparan awal terhadap alergen
seperti debu, bulu binatang, makanan tertentu dan lain-lain dalam kehidupan
sebenarnya dapat mencegah terjadinya alergi pada anak-anak. (6)

2.12 Prognosis (2)


Sebagian besar pasien dapat hidup normal. Hanya pasien yang mendapat imunoterapi
untuk alergen spesifik yang dapat sembuh dari penyakitnya dan banyak juga pasien yang
melakukan pengobatan simtomatik saja secara intermiten dengan baik. Rinitis alergi
mungkin dapat timbul kembali dalam 2-3 tahun setelah pemberhentian imunoterapi.
Gejala rinitis alergi akan menurun pada pasien bila mencapai umur 4 dekade.

BAB III
Penutup/Ringkasan

Rinitis alergi adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien
atopi yang sebelumnya sudah tersensitisasi dengan alergen yang sama serta dilepaskannya
suatu mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan alergen tersebut. Antara
gejala yang menonjol pada rinitis alergi adalah gejala bersin-bersin, rinore, rasa gatal, dan
tersumbat setelah mukosa hidung terpapar alergen yang diperantarai oleh Ig E. Anamnesis
yang benar dan teliti, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan laboratorium/penunjang yang
Jawahi Bin Madeaming / 102008258 / A5 / manjuk_paris@yahoo.com

akurat adalah sangat penting untuk menegakkan diagnosis. Walaupun rinitis alegika boleh
diobati dengan pengobatan histamin dan kortikosteroid, namun yang paling utama adalah
menghindari kontak dengan alergen penyebab dan eliminasi. Rinitis lergi kebanyakan
bisa sembuh dengan kontrol yang baik namun kadar kekambuhan juga tinggi. Kontrol
yang baik dengan pengobatan yang teratur adalah penting untuk mengelakkan komplikasi
rinitis alergi misalnya polip hidung dan otitis media paranasal.

Daftar pustaka

1. Soepardi EA, Iskandar N, BAshiruddin J, Restudi RD. Buku Ajar Ilmu Kesehatan
Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala & Leher. Balai penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia (FKUI), Jakarta. Cetakan 1 edisi keenam 2007;(VI):118-136,
140
2. Saurabh B.Shaha, Emanual IA. Nonallergic & Allergic Rhinitis. 2007; 264-272
3. Carol Mattson Porth, Glenn Matfin. Pathophysiology, concepts of altered health states
8th edt. Lippincott-Raven Publisher 2009; (VIII): 672-674
4. Valentina L. Brashers. Rhinitis alergika. Clinical Applications of Pathophysiology;
Assessment, Diagnostic Reasoning, and Management 2nd ed, 2001; (2):377-378,

Jawahi Bin Madeaming / 102008258 / A5 / manjuk_paris@yahoo.com

5. Allergic
rhinitis;
Prevention.
2010.
Diunduh
http://www.webmd.com/allergies/tc/allergic-rhinitis-prevention, 20 Maret 2011.

dari

6. Prevention
of
allergy.
2006.
Diunduh
dari
http://www.healthcentral.com/allergy/understanding-allergy-000077_13-145.html, 20
Maret 2011.

Jawahi Bin Madeaming / 102008258 / A5 / manjuk_paris@yahoo.com