Anda di halaman 1dari 6

1.

Bleeding on probing : pendarahan saat proses probing (explorasi gigi untuk mengetahui kelainan
gingiva dengan periodontal probe). Pendarahan disebabkan karena inglamasi pada gingiva. Probe
memiliki ujung tumpul dengan unit pengukuran,juga untuk melihat adanya eksudat.
2. Gingivitis hiperplasia: inflamatorik enlargement,gingiva mengembang dari ukuran
normal,biasanya mengalami pengerasan jaringan karena adanya peningkatan jumlah fibrous dan
kolagen, tapi juga bisa bisa lunak pada kasus lain.
3. Probing depth : Jarak dari margin giniva sampai ujung periodontal probe yang dimasukkan
kedalam poket gingival yang bertujuan untuk enentukan adanya kelainan atau tudak.
4. Subgingiva : Daerah dibawah batas margin gingiva tau gingiva yang menutupi akar gigi.
5. Stipling: Tekstur pada gingiva yang menyerupai kulit jeruk bagian luar.Hal tersebut karena
intersesion retepeg terkena tekanan sehingga menimbulka tonjolan. Terbatas pada attach
gingiva,dominan di subgingiva dan meluas ke permukaan interdental.
6. Debris : benda asing stau selain organ normal rongga mulut yang harus di bersihkan untuk
menjaga kesehatan rongga mulut.
7. Gingivitis marginalis kronis: peradangan yang menyebar pada gingiva, memiliki level kronis
dan lokasinya terbatas pada marginal gingiva atau tepi gingiva.
B. Gingiva
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada pemerikasaan gingival :
1. Warna gingiva
Warna gingiva normal umumnya merah jambu (coral pink). Hal ini disebabkan oleh
adanya pasokan darah, tebal dan derajat lapisan keratin epithelium serta sel-sel pigmen.
Warna ini bervariasi untuk setiap orang erat hubungannya dengan pigmentasi kutaneous.
Pigmentasi pada gingiva biasanya terjadi pada individu berkulit gelap. Pigmentasi pada
gingiva cekat berkisar dari cokelat sampai hitam. Warna pigmentasi pada mukosa
alveolar lebih merah, karena mukosa alveolar tidak mempunyai lapisan keratin dan
epitelnya tipis.
Pada pemeriksaan yang dilakukan didapatkan warna gingival yang kemerahan, warna
kemerahan ini akibat adanya inflamasi (keradangan) yang terjadi. Inlamasi akan
menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah sehingga gingival Nampak lebih merah
2. Besar Gingiva
Besar gingiva ditentukan oleh jumlah elemen seluler, interseluler dan pasokan darah.
Perubahan besar gingiva merupakan gambaran yang paling sering dijumpai pada penyakit
periodontal.
Pada pemeriksaan yang dilakukan tidak didapatkan adanya pembesaran gingival.
3. Kontur Gingiva
Kontur dan besar gingiva sangat bervariasi. Keadaan ini dipengaruhi oleh bentuk dan
susunan gigi-geligi pada lengkungnya, lokalisasi dan luas area kotak proksimal, dan
dimensi embrasure (interdental) gingival oral maupun vestibular. Papilla interdental
menutupi bagian interdenterdental sehingga tampak lancip.
Dari pemeriksaan yang dilakukan didapatkan gingival dengan kontur membulat. Kontur
yang membulat dikarenakan adanya suatu keradangan sehingga terjadi pembengkakan
dan terlihat membulat.
4. Konsistensi
Gingival melekat erat ke struktur di bawahnya dan tidak mempunyai lapisan submukosa
sehingga gingiva tidak dapat digerakkan dan kenyal.
Pada pemeriksaan yang tdilakukan didapatkan konsistensi gingival yang kenyal.

5. Tekstur
Permukaan gingiva cekat berbintik-bintik seperti kulit jeruk. Bintik-bintik ini disebut
stipling. Stipling akan terlihat jelas jika permukaan gingiva dikeringkan. Stipling ini
bervariasi dari individu ke individu yang lain dan pada permukaan yang berbeda pada
mulut yang sama. Stipling akan lebih jelas terlihat pada permukaan vestibular
dibandingkan dengan permukaan oral. Pada permukaan marginal gingival tidak terdapat
stipling.
Pada pemeriksaan yang dilakukan didapatkan tekstur yang halus mengkilat. Hal tersebut
karena adanya inflamasi yang terjadi sehingga bentukan stipling yang kasar menjadi
halus dan lebih mengkilat disbanding gingival yang tidak terjadi radang.
6. Resesi Gingiva
Resesi gingival pada penderita mengarah pada resesi gingival fisiologis yang
kemungkinan diakibatkan oleh cara menggosok gigi yang kurang tepat.
C. Bleeding On Probing (Bop)
Bleeding On Probing (BOP) normal : Tidak ada perdarahan
Pada pemeriksaan yang dilakukan didapatkan bleeding on probing positif. Adanya Bleeding On
Probing merupakan tanda awal keradangan. Oleh karena GCF tidak mampu menahan
mikroorganisme, maka produk-produk mikroorganisme ini akan merusak epitel sulkular sehingga
epitel sulcular menipis. Kapiler membesar (dilatasi) dan letaknya dekat dengan permukaan dalam,
maka dengan sedikit rangsangan akan menjadi mudah berdarah.
Probing Depth
Pada pemeriksaan yang dilakukan didapatkan PD !-2 mm, dan ini termasuk nilai yang normal.
Gingiva
_ Lebih merah karena lapisan epitel yang tipis, zat tanduknya sedikit dan adanya
vaskularisasi pembuluh darah yang banyak.
_ Kurangnya stippling karena papila jaringan ikat dari lamina propria lebih pendek dan
lebih datar
_ Konsistensinya lunak karena kurang padatnya jaringan ikat dari lamina propria.
Sulkusnya relatif dalam.
_ Tepi-tepi menggumpal dan membulat dihubungkan dengan adanya hiperami dan
edema yang disebabkan proses erupsi gigi.
1. Gambaran klinis, Tanda tanda dan gejala gingivitis
Gambaran klinis
Berwarna merah (vasodilatasi pembuluh darah)
Pembengkakan karena inflamasi
Mudah berdarah (epitel tipis karena ulserasi)
Perubahan konsistensi menjadi Lunak(destruktif) atau keras (reparative)
BOP hasil positif
Tanda tanda gingivitis
PD, tekstur, warna, konsistensi, kontur, pembentukan poket, bau mulut (banyak
debris dan bakteri)
Cara mengukur BOP
0 = belum mengalami radang gingival
1 = gingivitis ringan

2 = ada perdarahan jika dites dengan probe


3 = perdarahan spontan
Pengukuran plak
0 = tidak ada
1 = ada plak tapi tidak terlihat
2 = plak selapis tipis
3 = plak lebih dalam sampai ke poket gingiva

Gejala gingivitis
Terjadi supurasi (pus)
Sakit
Disetai demam
Terjadi edema dan eritema

2. Patogenesis Gingivitis Hiperplasia dan Gingivitis Marginal Kronis


a. Gingivitis Hiperplasia
Gingivitis hiperplasia terjadi akibat faktor plak yang terakumulasi. Pada keadaan normal,
jumlah bakteri aerob lebih banyak, namun pada gingivitis bakteri anaerob lebih
mendominasi, yaitu bakteri berupa basil dan bakteri gram negatif anaerob.
Bakteri yang masuk merusak jaringan gingiva sehingga terjadi peradangan. Setelah terjadi
peradangan, muncul nodula yaitu eksudat yang berisi jaringan ikat disertai iritasi.
Kemudian adanya vesikel, yaitu berupa peninggian mukosa yang berisi cairan. Vesikel yang
semakin besar menyebabkan terbentuknya bula. Karena mengalami pembesaran dengan
kandungan cairan-cairan eksudat, maka muncullah nanah (pustula) yang kemudian
mengalami keratosis, yaitu penebalan tidak normal pada lapisan luar epitel.
b. Gingivitis Marginal Kronis
Tahap terjadinya Gingivitis Marginal Kronis dibagi menjadi 4 tipe lesi, yaitu:
1. Initial lesion (Lesi Dini)
Pada tahap ini terjadi akumulasi plak pada margin gingiva. Karena Semakin banyak
bakteri plak yang menempel, pada tahap ini mulai terjadi adanya gingivitis ringan
namun belum ada tanda klinis.
2. Early lesion (lesi awal)
Pada tahap ini Sudah terdapat eritema, epitel gingiva menipis, dan tes bleeding on
probing (BOP) positif, sehingga terdapat perdarahan.
3. Established lesion
Merupakan tahap gingivitis kronis karena terjadi pembengkakan pembuluh darah.
4. Advanced lesion
Merupakan lanjutan dari gingivitis kronis yang selanjutnya dapat menimbulkan
degradasi tulang alveolar sehingga menimbulkan periodontitis kronis.
5.
Rongga mulut sangatlah mudah terpapar efek yang merugikan akibat merokok. Mulut
meruupakan tempat awal terjadinya penyerapan zat-zat hasil pembakaran rokok, temperatur
rokok pada bibir adalah 300 C, sedangkan ujung rokok yang terbakar bersuhu 9000 C.3 Asap
panas yang berhembus terus menerus ke dalam rongga mulut merupakan rangsangan yang
menyebabkan perubahan aliran darah dan mengurangi sekresi saliva. Akibatnya rongga mulut
menjadi kering dan lebih anaerob dalam plak. Dengan sendirinya perokok beresiko lebih besar
dibandingkan dengan mereka yang bukan perokok. Dalam asap sebatang rokok yang dihisap
mengandung zat kimia beracun yang terdiri dari komponen gas (85%) dan partikel. Komponen
gas asap rokok adalah karbonmonoksida, amoniak, asam hidrosianat, nitrogen oksida dan

formaldehid. Partikelnya berupa tar, indol, nikotin, karbazol, dan kresol. Zat-zat ini beracun,
mengiritasi dan karsinogen.
Nikotin yang merupakan salah satu zat yang terdapat didalam rokok merupakan zat yang
dapat meracuni tubuh, meningkatkan tekanan darah, menimbulkan penyempitan pembuluh darah
tepi dan menyebabkan ketagihan serta ketergantungan pada pemakainya. Kadar nikotin yang
dihisap oleh orang dewasa setiap hari sudah bisa membuat seseorang ketagihan. Sedangkan zat
lainnya, misalkan tar yang merupakan kumpulan dari beribu-ribu bahan kimia dalam komponen
padat asap rokok yang bersifat karsinogen. Pada saat rokok dihisap, tar masuk kedalam rongga
mulut sebagai uap padat. Setelah dingin akan menjadi padat dan membentuk endapan warna
cokelat pada permukaan gigi, saluran pernafasan dan paru-paru. Pengendapan ini bervariasi
antara 3-40 mg / batang rokok, sementara kadar tar dalam rokok berkisar 24-45 mg. Banyaknya
komponen bergantung pada tipe tembakau, temperatur pembakaran, panjang rokok, porositas,
kertas pembungkus, bumbu rokok, serta ada atau tidaknya filter. Jenis kertas pada rokok juga
dapat mempengaruhi kadar nikotin yang masuk kedalam rokok dan larut, sehingga dapat
mengurangi kadar nikotin yang masuk kedalam paru-paru perokok. Penggunaan filter dapat
mendinginkan rokok dan memudahkan dihisap. Filter mengandung lebih dari 12.000 serat putih.
Secara mikroskopis, serat-serat tersebut terbuat dari selulosasetat dan berbentuk Y serta
mengandung titanium dioksida. Selulosa asetat merupakan substansi yang menyerupai plastik
sintesis yang biasa digunakan untuk film pada fotografi, dan diikat oleh triasetin (gliserol
triasetat). Filter dapat mengahalangi sejumlah tar dan partikel yang dihisap oleh perokok. Kini
90% rokok yang dijual didunia merupakan rokok filter.
Kebiasaan merokok atau kebiasaan menguntah tembakau. Berperannya kebiasaan merokok
sebagai factor etiologi bisa karena ;
Mempermudah penumpukan kalkulus
- Asap rokok bisa memperlemah kemampuan khemotaksis dan fagositosis netrofil
- Kandungan nikotin rokok dapat memperlemah kemampuan fagositosis, menekan proliferasi
osteoblas, dan kemungkinan juga mengurangi aliran darah ke gingival.
Gingivitis
2.2.1. Pengertian gingivitis
Salah satu kelainan dalam rongga mulut yang prevalensinya paling tinggi adalah penyakit periodontal
yang paling sering dijumpai, yaitu gingivitis. Gingivitis atau keradangan gingiva merupakan kelainan
jaringan penyangga gigi
yang hampir selalu tampak pada segala bentuk kelainan jaringan penyangga gigi yang hampir selalu
tampak pada segala bentuk kelaianan gingiva (Musaikan, et al,2003).
Gingivitis adalah peradangan pada gingiva yang disebabkan bakteri dengan tanda-tanda klinis perubahan
warna lebih merah dari normal, gingiva bengkak dan berdarah pada tekanan ringan. Penderita biasanya
tidak merasa sakit pada gingiva. Gingivitis bersifat reversible yaitu jaringan gingiva dapat kembali normal
apabila dilakukan pembersihan plak dengan sikat gigi secara teratur. Periodontitis menunjukkan
peradangan sudah sampai ke jaringan pendukung gigi yang lebih dalam. Penyakit ini bersifat progresif
dan irreversible dan biasanya dijumpai antara usia 30-40 tahun. Apabila tidak dirawat dapat menyebabkan
kehilangan gigi, ini menunjukkan kegagalan dalam mempertahankan keberadaan gigi di rongga mulut
sampai seumur hidup yang merupakan tujuan dari pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut (Nield, 2003)
Tanda-tanda yang berhubungan dengan terjadinya impaksi makanan yaitu
a. perasaan tertekan pada daerah proksimal
b. rasa sakit yang sangat dan tidak menentu
c. inflamasi gingiva dengan perdarahan dan daerah yang terlibat sering berbau.
d. resesi gingiva
e. pembentukan abses periodontal menyebabkan gigi dapat bergerak dari soketnya, sehingga terjadinya
kontak prematur saat berfungsi dan sensitif terhadap perkusi.

f. kerusakan tulang alveolar dan karies pada akar


8
4. Pernafasan Mulut
Kebiasaan bernafas melalui mulut merupakan salah satu kebiasaan buruk. Hal ini sering dijumpai secara
permanen atau sementara. Permanen misalnya pada anak dengankelainan saluran pernafasan, bibir
maupun rahang, juga karena kebiasaan membuka mulut terlalu lama. Sementara misal pasien penderita
pilek dan pada beberapa anak yang gigi depan atas protrusi sehingga mengalami kesulitan menutup bibir.
Keadaan ini menyebabkan viskositas (kekentalan) saliva akan bertambah pada permukaan gingiva
maupun permukaan gigi, aliran saliva berkurang, populasi bakteri bertambah banyak, lidah dan palatum
menjadi kering dan akhirnya memudahkan terjadinya penyakit periodontal.
5. Sifat fisik makanan
Sifat fisik makanan merupakan hal yang penting karena makanan yang bersifat lunak seperti bubur atau
campuran semiliquid membutuhkan sedikit pengunyahan, menyebabkan debris lebih mudah melekat
disekitar gigi dan bisa berfungsi sebagai sarang bakteri serta memudahkan pembentukan karang gigi.
Makanan yang mempunyai sifat fisik keras dan kaku dapat juga menjadi massa yang sangat lengket bila
bercampur dengan ludah. Makanan yang demikian tidak dikunyah secara biasa tetapi dikulum di dalam
mulut sampai lunak bercampur dengan ludah atau makanan cair, penumpukan makanan ini akan
memudahkan terjadinya
penyakit.
Makanan yang baik untuk gigi dan mulut adalah yang mempunyai sifat self cleansing dan berserat yaitu
makanan yang dapat membersihkan gigi dan jaringan mulut secara lebih efektif, misalnya sayuran mentah
yang segar, buah-buahan dan ikan yang sifatnya tidak melekat pada permukaan gigi.
6. Iatrogenik Dentistry
Iatrogenik Dentistry merupakan iritasi yang ditimbulkan karena pekerjaan dokter gigi yang tidak hati-hati
dan adekuat sewaktu melakukan perawatan pada gigi dan jaringan sekitarnya sehingga mengakibatkan
kerusakan pada jaringan sekitar gigi.
Dokter gigi harus memperhatikan masa depan kesehatan jaringan periodontal pasien, misalnya :
_ Waktu melakukan penambalan pada permukaan proksimal (penggunaan matriks) atau servikal, harus
dihindarkan tepi tambalan yang menggantung (kelas II amalgam), tidak baik adaptasinya atau kontak
yang salah, karena hal ini menyebabkan mudahnya terjadi penyakit periodontal.
_ Sewaktu melakukan pencabutan, dimulai dari saat penyuntikan, penggunaan bein sampai tang
pencabutan dapat menimbulkan rusaknya gingiva karena tidak hati hati
_ Penyingkiran karang gigi (manual atau ultra skeler) juga harus berhati hati, karena dapat
menimbulkan kerusakan jaringan gingiva.
7. Trauma dari oklusi
Trauma dari oklusi menyebabkan kerusakan jaringan periodonsium, tekanan oklusal yang menyebabkan
kerusakan jaringan disebut traumatik oklusi. Trauma dari oklusi dapat disebabkan oleh :
_ Perubahan-perubahan tekanan oklusal
Misal adanya gigi yang elongasi, pencabutan gigi yang tidak diganti, kebiasaan buruk seperti bruksim,
clenching.
_ Berkurangnya kapasitas periodonsium untuk menahan tekanan oklusal Kombinasi keduanya.
FAKTOR SISTEMIK
Respon jaringan terhadap bakteri, rangsangan kimia serta fisik dapat diperberat oleh keadaan sistemik.
Untuk metabolisme jaringan dibutuhkan material-material seperti hormon, vitamin, nutrisi dan oksigen.
Bila keseimbangan material ini terganggu dapat mengakibatkan gangguan lokal yang berat. Gangguan
keseimbangan tersebut dapat berupa kurangnya materi yang dibutuhkan oleh sel-sel untuk penyembuhan,
sehingga iritasi lokal yang seharusnya dapat ditahan atau hanya menyebabkan inflamasi ringan saja,
dengan adanya gangguan keseimbangan tersebut maka dapat memperberat atau menyebabkan kerusakan
jaringan periodontal.
10

Faktor-faktor sistemik ini meliputi :


1. Demam yang tinggi
2. Defisiensi vitamin
3. Drugs atau pemakaian obat-obatan
4. Hormonal
1. Demam yang tinggi
Pada anak-anak sering terjadi penyakit periodontal selama menderita demam yang tinggi, (misal
disebabkan pilek, batuk yang parah). Hal ini disebabkan anak yang sakit tidak dapat melakukan
pembersihan mulutnya secara optimal dan makanan yang diberikan biasanya berbentuk cair. Pada
keadaan ini saliva dan debris berkumpul pada mulut menyebabkan mudahnya terbentuk plak dan terjadi
penyakit periodontal.
2. Defisiensi vitamin
Di antara banyak vitamin, vitamin C sangat berpengaruh pada jaringan periodontal, karena fungsinya
dalam pembentukan serat jaringan ikat. Defisiensi vitamin C sendiri sebenarnya tidak menyebabkan
penyakit periodontal, tetapi adanya iritasi local menyebabkan jaringan kurang dapat mempertahankan
kesehatan jaringan tersebut sehingga terjadi reaksi inflamasi (defisiensi memperlemah jaringan).
3. Drugs atau obat-obatan
Obat-obatan dapat menyebabkan hiperplasia, hal ini sering terjadi pada anak-anak penderita epilepsi yang
mengkomsumsi obat anti kejang, yaitu phenytoin (dilantin). Dilantin bukan penyebab langsung penyakit
jaringan periodontal, tetapi hyperplasia gingiva memudahkan terjadinya penyakit. Penyebab utama adalah
plak bakteri.
4. Hormonal
Penyakit periodontal dipengaruhi oleh hormon steroid. Peningkatan hormone estrogen dan progesteron
selama masa remaja dapat memperhebat inflamasi margin gingiva bila ada faktor lokal penyebab penyakit
periodonta
1.

Gingivitis Hiperplasia
Hiperplasi gingiva merupakan ciri adanya penyakit gingiva, disebut juga dengan inflammatory
enlargement terjadi karena adanya plak gigi, faktor yang memudahkan terjadinya akumulasi dan perlekatan
plak. Di klinik istilah yang digunakan adalah hyperthropic gingivitis atau gingival hiperplasia sebagai
keradangan gingiva yang konotasinya mengarah pada patologis. Pada hiperplasia gingiva terjadi pertambahan
ukuran gingiva oleh karena adanya peningkatan jumlah sel penyusunnya. Secara klinis hiperplasia gingiva
tampak sebagai suatu pembesaran gingiva yang biasanya dimulai dari papila interdental menyebar ke daerah
sekitarnya. Kelainan ini tidak menimbulkan rasa sakit, dapat mengganggu oklusi dan estetik serta dapat
mempersulit pasien dalam melakukan kontrol plak.
(Newman MG, Takei HH, Carranza FA. Clinical periodontology. 9th ed. Philadelphia: WB Saunders Co;
2002. p. 7494, 2639, 43253, 63150, 74961.)

2.

Debris adalah material/fragmen yang berasal dari luar maupun dalam (jaringan yang mati/deskuamatif) yang
masuk kedalam rongga mulut sehingga mengganggu jaringan rongga mulut yang perlu dibersihkan.