Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH

CIVIL SOCIETY & NGO

Oleh :
1.
2.
3.
4.
5.

Luqman Nur Hakim


Nittor Adhelia H.N.Q
Rizky Ian
Abuzar Al Islami
Rizki Ramadheni

(135120501111001)
(135120507111025)
(135120507111007)
(135120501111052)
(135120507111004)

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK


UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014
I.

Civil Society
Definisi
Civil Society seringkali disebut dengan masyarakat madani, yaitu suatu
masyarakat sipil yang didasari oleh kesetaraan, masyarakat yang mampu

mempengaruhi kebijakan umum, serta masyarakat yang didasari oleh demokrasi


sehingga dapat membentuk masyarakat yang mandiri.
Sejarah
Diawali dengan filsuf Yunani Aristoteles yang memandang civil society sebagai
sistem kenegaraan atau identik dengan negara itu sendiri. Pandangan ini
merupakan fase pertama sejarah wacana civil society. Pada masa Aristoteles civil
society dipahami sebagai sistem kenegaraan dengan menggunakan istilah
koinonia politike, yakni sebuah komunitas politik tempat warga dapat terlibat
langsung dalam berbagai percaturan ekonomi-politik dan pengambilan keputusan.
Rumusan civil society selanjutnya dikembangkan oleh Thomas Hobbes (15881679M) dan John Locke (1632-1704M), yang memandangnya sebagai kelanjutan
dari evolusi natural society. Menurut Hobbes, sebagai antitesa Negara civil society
mempunyai peran untuk meredam konflik dalam masyarakat sehingga ia harus
memiliki kekuasaan mutlak, sehingga ia mampu mengontrol dan mengawasi
secara ketat pola-pola interaksi (prilaku politik) setiap warga Negara. Berbeda
dengan John Locke, kehadiran civil society adalah untuk melindungi kebebasan
dan hak milik setiap warga Negara. Fase kedua, pada tahun 1767 Adam Ferguson
mengembangkan wacana civil society dengan konteks sosial dan politik di
Skotlandia. Ferguson, menekankan visi etis pada civil society dalam kehidupan
sosial. Pemahamannya ini lahir tidak lepas dari pengaruh dampak revolusi industri
dan kapitalisme yang melahirkan ketimpangan sosial yang mencolok. Fase ketiga,
pada tahun 1792 Thomas Paine mulai memaknai wacana civil society sebagai
sesuatu yang berlawanan dengan lembaga Negara, bahkan dia dianggap sebagai
antitesa Negara. Menurut pandangan ini, Negara tidak lain hanyalah keniscayaan
buruk belaka. Konsep Negara yang absah, menurut mazhab ini, adalah
perwujudan dari delegasi kekuasaan yang diberikan oleh masyarakat demi
terciptanya kesejahteraan bersama. Semakin sempurna sesuatu masyarakat sipil,
semakin besar pula peluangnya untuk mengatur kehidupan warganya sendiri. Fase
keempat, wacana civil society selanjutnya dikembangkan oleh Hegel (17701837M), Karl Marx (1818-1883M) dan Antonio Gramsci (1891-1937M). Dalam
pandangan ketiganya civil society merupakan elemen ideologis kelas dominan.
Fase kelima, wacana civil society sebagai reaksi terhadap mazhab Hegelian yang
dikembangkan oleh Alexis de Tocqueville (1805-1859M). Pemikiran Tocqueville
tentang civil society sebagai kelompok penyeimbang kekuatan Negara. Menurut

Tocqueville, kekuatan politik dan masyarakat sipil merupakan kekuatan utama


yang menjadikan demokrasi Amerika mempunyai daya tahan yang kuat. Adapun
tokoh yang pertama kali menggagas istilah civil society ini adalah Adam Ferguson
dalam bukunya Sebuah Esai tentang Sejarah Masyarakat Sipil (An Essay on
The History of Civil Society) yang terbit tahun 1773 di Skotlandia. Ferguson
menekankan masyarakat madani pada visi etis kehidupan bermasyarakat.
Pemahamannya ini digunakan untuk mengantisipasi perubahan sosial yang
diakibatkan oleh revolusi industri dan munculnya kapitalisme, serta mencoloknya
perbedaan antara individu.
Unsur-unsur
1. Adanya Wilayah Publik yang Luas
Free Public Sphere adalah ruang publik yang bebas sebagai sarana untuk
mengemukakan pendapat warga masyarakat. Di wilayah ruang publik ini
semua warga Negara memiliki posisi dan hak yang sama untuk melakukan
transaksi sosial dan politik tanpa rasa takut dan terancam oleh kekuatan
-kekuatan di luar civil society.
2. Demokrasi
Demokrasi adalah prasayarat mutlak lainnya bagi keberadaan civil society
yang murni. Tanpa demokrasi masyarakat sipil tidak mungkin terwujud.
Demokrasi tidak akan berjalan stabil bila tidak mendapat dukungan riil dari
masyarakat. Secara umum demokrasi adalah suatu tatanan sosial politik yang
bersumber dan dilakukan oleh, dari, dan untuk warga Negara.
3. Toleransi
Toleransi adalah sikap saling menghargai dan menghormati perbedaan
pendapat.
4. Pluralisme
Kemajemukan atau pluralisme merupakan prasayarat lain bagi civil society.
Pluralisme tidak hanya dipahami sebatas sikap harus mengakui dan menerima
kenyataan sosial yang beragam, tetapi harus disertai dengan sikap yang tulus
untuk menerima kenyataan perbedaan sebagai sesuatu yang alamiah dan
rahmat Tuhan yang bernilai positif bagi kehidupan masyarakat.
5. Keadilan sosial
Keadilan sosial adalah adanya keseimbangan dan pembagian yang
proporsional atas hak dan kewajiban setiap warga Negara yang mencakup
seluruh aspek kehidupan: ekonomi, politik, pengetahuan dan kesempatan.
Dengan pengertian lain, keadilan sosial adalah hilangnya monopoli dan

pemusatan salah satu aspek kehidupan yang dilakukan oleh kelompok atau
golongsn tertentu.
Ciri-ciri
1. Terintegrasinya individu-individu dan kelompok-kelompok eksklusif ke dalam
masyarakat melalui kontrak sosial dan aliansi sosial.
2. Menyebarnya
kekuasaan
sehingga
kepentingan-kepentingan

yang

mendominasi dalam masyarakat dapat dikurangi oleh kekuatan-kekuatan


alternatif.
3. Terjembataninya kepentingan-kepentingan individu dan negara karena
keanggotaan organisasi organisasi volunter mampu memberikan masukan
-masukan terhadap keputusan keputusan pemerintah.
4. Meluasnya kesetiaan (loyalty) dan kepercayaan (trust) sehingga individuindividu mengakui keterkaitannya dengan orang lain dan tidak mementingkan
diri sendiri (individualis).
5. Adanya pembebasan masyarakat melalui kegiatan lembaga lembaga sosial
dengan berbagai perspektif.
Fungsi
1. Fungsi paling utama dan dasar yaitu membatasi kekuasaan negara dan
demokratisasi politik.
2. Memberikan kebebasan kepada individu, kelompok untuk berekspresi,
menghormati pluralisme, terjalinnya keseimbangan antara masyarakat dan
negara, sesuai dengan norma-norma yang berlaku.
3. Menciptakan jalur baru selain partai politik untuk artikulasi, agregasi dan
perwakilan kepentingan mereka.
4. CS yang sangat plural (beragam) akan menimbulkan kepentingan yang
beragam.
Secara garis besar :
1. Advokasi
2. Empowerment
3. Social Control
Tujuan
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Kemandirian individu sebagai warga negara


Jaminan Hak Asasi Manusia
Kebebasan bicara dan menyatakan pendapat
Keadilan yang merata
Pembagian sumber daya ekonomi
Dalam alam demokrasi, keberadaan civil society dianggap sebagai syarat
pembangunan demokrasi.

II.

NGO ( Non Government Organization)


Pengertian
NGO (Non Government Organization) atau Organisasi Non Pemerintah. Maksud
dari non pemerintah disini adalah tidak menggantungkan sumber dana kegiatan
dari pemerintah. Di Indonesia lebih dikenal dengan LSM (Lembaga Swadaya
Masyarakat). LSM adalah sektor ketiga dalam kehidupan manusia modern. Sektor
pertama adalah Negara, kedua adalah pasar, dan ketiga adalah masyarakat sipil.
Nah disini LSM berada. LSM tidak identik dengan yayasan. Yayasan adalah
Badan Hukum yang dipilih oleh sebagian besar LSM. Yayasan didirikan untuk
kepentingan anggota atau bias juga milik pribadi yang nantinya bias diwariskan.
Sedangkan Perkumpulan/Perhimpunan tidak ada pemiliknya, jika misalkan bubar
maka mencari perkumpulan/perhimpunan sejenis dan barang-barang atau apapun
dilimpahkan ke yang masih aktif.
Sejarah
Sebenarnya NGO sudah ada sejak pra kemerdekaan. Pada tahun 50-an ada LSD
(Lembaga Sosial Desa) dan tahun 57 ada PKBI

(Perkumpulan Keluarga

Berencana Indonesia). Pada tahun 60-an ada yang namanya Bina Desa dan Bina
Swadaya, Tahun 70-an yaitu LBH, YLKI, LP3ES.
Jenis
1. LSM Merpati
Dibentuk berdasarkan proyek/momen tertentu. LSM akan bubar jika proyek
sudah selesai. Aktivisnya biasanya keluarga pejabat. Tidak memili kantor.
Struktur kelembagaannya cenderung berdasarkan parpol.
2. LSM Pedati/Plat kuning/Taxi
Dibentuk karena mengerjakan proyek pemerintah. Sifatnya permanen
mengejar keuntungan. Orang-orang/ anggotanya berpendidikan/berkompeten.
Memiliki kantor dan memiliki manjemen organisasi yang baik.
3. LSM Sejati
Dibentuk karena panggilan moral yang tulus untuk memperbaiki ketimpangan
yang ada di masyarakat. Keuangan dipegang oleh banyak pihak dan
anggotanya lebih besar terjun ke lapangan.
Karakteristik
1.
2.
3.
4.

Non pemerintah
Asas Kesukarelaan
Tidak mencari keuntungan
Tidak melayani diri sendiri/anggota

Peran

Peranan NGO penting untuk membangun suatu masyarakat dan bangsa. Ini
disebabkan karena banyak pembiayaan dari perorangan, institusi dan pemerintah
untuk masyarakat disalurkan melalui NGO. Sejak tahun 1970-an, NGO telah
bertambah banyak dari sebelumnya mencoba untuk mengisi ruang yang tidak akan
atau tidak dapat diisi oleh pemerintah. Dari sekian banyak peran yang dimainkan
oleh NGO, 6 hal berikut ini merupakan yang penting :
1. Pengembangan dan Pembangunan Infrastruktur
Membangun perumahan, menyediakan infrastruktur seperti sumur atau toilet
umum, penampungan limbah padat dan usaha berbasis masyarakat lain.
2. Mendukung inovasi, ujicoba dan proyek percontohan
NGO memiliki kelebihan dalam perancangan dan pelaksanaan proyek yang
inovatif dan secara khusus menyebutkan jangka waktu mereka akan
mendukung proyek tersebut. NGO dapat juga mengerjakan percontohan untuk
proyek besar pemerintah karena adanya kemampuan bertindak yang lebih
cepat dibandingkan dengan pemerintah dengan birokrasinya yang rumit.
3. Memfasilitasi komunikasi
NGO dapat memfasilitasi komunikasi ke atas, dari masyarakat kepada
pemerintah, dan ke bawah, dari pemerintah kepada masyarakat. Komunikasi
ke atas mencakup pemberian informasi kepada pemerintah tentang apa yang
dipikirkan, dirasakan dan dilakukan oleh masyarakat, sedangkan komunikasi
ke bawah mencakup pemberian informasi kepada masyarakat tentang apa
yang direncanakan dan dikerjakan oleh pemerintah. NGO juga dapat
memberikan informasi secara horizontal dan membentuk jejaring (networking)
dengan organisasi lain yang melakukan pekerjaan yang sama.
4. Bantuan teknis dan pelatihan
Institusi pelatihan dan NGO dapat merancang dan memberikan suatu pelatihan
dan bantuan teknis untuk organisasi berbasis masyarakat dan pemerintah.
5. Penelitian, Monitoring dan Evaluasi
Monitoring dan evaluasi yang efektif terhadap sifat partisipatif suatu proyek
akan memberikan manfaat yang baik bagi masyarakat dan staf proyek itu
sendiri.
6. Advokasi untuk dan dengan masyarakat miskin
NGO menjadi jurubicara dan perwakilan orang miskin dan mencoba untuk
mempengaruhi kebijakan dan program pemerintah. Ini dapat dilakukan
melalui berbagai cara mulai dari unjuk rasa, proyek percontohan,
keikutsertaan dalam forum publik untuk memformulasi kebijakan dan rencana
pemerintah, hingga mengumumkan hasil penelitian dan studi kasus terhadap

orang miskin. Jadi, NGO memainkan peran mulai dari advokasi kepada orang
miskin hingga implementasi program pemerintah; dari penghasut (pembuat
opini) dan pengkritik hingga rekan kerja dan penasehat; dari sponsor proyek
percontohan hingga mediator.
Bidang
1. Pendidikan masyarakat dan pengembangan kesehatan
Pendidikan seks dan kontrasepsi, kesehatan umum, pembuangan limbah/
sampah, penggunaan air, vaksinasi, pelayanan konsultasi remaja.
2. Penanganan kesehatan khusus
HIV/AIDS, Hepatitis B, pemulihan kecanduan obat.
3. Masalah sosial masyarakat
Kenakalan (kejahatan) remaja, remaja yang meninggalkan rumah, anak
jalanan, prostitusi.
4. Lingkungan hidup
Pendidikan konsumsi energi dan air, pelestarian gunung dan hutan.
5. Ekonomi
Pinjaman dan usaha mikro, pelatihan keahlian (komputer, teknisi, katering,
menjahit, dll), promosi dan distribusi produk (bazaar, dll), pembentukan
koperasi, konsultasi keuangan, bantuan mencari kerja dan pengembangan
karir.
6. Pengembangan
Pembangunan sekolah, pembangunan infrastruktur, pembangunan dan
operasional pusat budaya, bantuan ahli untuk pertanian dan kelautan.
7. Isu perempuan
Hak anak dan perempuan, pusat bantuan untuk perempuan yang
mengalami kekerasan, terapi kelompok terhadap perempuan yang
mengalami pelecehan seksual, hotline counseling (konseling via telepon
khusus untuk perempuan), bantuan hukum untuk perempuan, mendorong
minat baca dan tulis.

Daftar Pustaka
http://menggaliilmu.wordpress.com/2011/06/20/ngo-di-indonesia/
http://dwinofi.blogspot.com/
http://id.wikipedia.org/wiki/Masyarakat_madani
http://id.wikipedia.org/wiki/Lembaga_Swadaya_Masyarakat