Anda di halaman 1dari 4

Tugas Individu Etika Bisnis dan Profesi

Marsha Maharani (2013.35.1985)

1. Kasus Hak dan Kewajiban Individu terhadap Organisasi


Seorang pekerja perusahaan elektronik Korea Selatan, Samsung, asal Cina ditangkap
dengan tuduhan berupaya membocorkan informasi bisnis penting. Pekerja yang diketahui
seorang wanita berusia 40 tahun itu diduga mengambil gambar dokumen rahasia yang berisi
rencana penjualan dan teknologi penting dan menyimpan foto tersebut di dalam komputer
pribadinya. ''Kontraknya akan segera habis ketika dia mengunduh dari komputer pusat data,
mencetaknya dan mengambilnya,'' kata Lee Cheon-Sei, seorang kepala jaksa kepada kantor
berita AFP.
Wanita yang identitasnya tidak diketahui ini telah bekerja untuk unit peralatan rumah
tangga Samsung sejak 2007 dan baru-baru ini ditawari pekerjaan oleh sebuah perusahaan
elektronik Cina. ''Sejumlah informasi rahasia yang dibocorkan itu termasuk teknologi penting
Samsung untuk mengurangi bunyi dari peralatan rumah tangga, rincian produk yang tengah
dikembangkan dan rencana penjualan untuk 10 tahun kedepan,'' kata Kee. ''Kami kira
informasi rahasia itu belum diserahkan ke perusahaan lain, tetapi kami akan menyelidikinya,''
tambah Lee.
Pekerja itu ditangkap akhir pekan lalu setelah jaksa menemukan bukti kuat di
rumahnya saat penggerebekan. Seorang juru bicara Samsung, salah satu perusahaan terbesar
pembuat TV dan monitor layar datar ini mengkonfirmasikan kalau kasus ini benar terjadi dan
si wanita pekerja itu telah dipecat dari perusahaan. Pembocor informasi rahasia bisnis ke
perusahaan asing di Korea terancam hukuman 10 tahun penjara.
Kejaksaan Korea Selatan dalam beberapa tahun terakhir telah menginvestigasi
sejumlah kasus pembocoran informasi teknologi atau bisnis ke perusahaan domestik atau
asing. Februari silam, dua orang didakwa karena mencuri data penting Samsung dan
menjualnya ke sebuah perusahaan peralatan rumah tangga Cina.
Sumber: (BBC Indonesia, 2011)
Analisis
Kasus di atas merupakan pelanggaran kewajiban karyawan terhadap perusahaan
tempat ia bekerja. Karyawan Samsung tersebut melanggar kewajiban konfidensialitas, yaitu
kewajiban untuk menyimpan informasi yang sifatnya sangat rahasia. Setiap karyawan di
dalam perusahaan, terutama yang memiliki akses ke rahasia perusahaan seperti akuntan,
bagian operasi, manajer, dan lain-lain memiliki konsekuensi untuk tidak membuka rahasia
1

perusahaan kepada khalayak umum. Kewajiban ini tidak hanya dipegang oleh karyawan
tersebut selama ia masih bekerja disana, tetapi juga setelah karyawan tersebut tidak bekerja di
tempat tersebut lagi. Sangatlah tidak etis apabila seorang karyawan pindah ke perusahaan
baru dengan membawa rahasia perusahaannya yang lama agar ia mendapat gaji yang lebih
besar
2. Kasus Hak dan Kewajiban Organisasi terhadap Individu
Sebelumnya salah seorang anggota DPR Komisi IX, Amelia Anggraini, menyataka,
tewasnya dua pasien di Rumah Sakit Siloam Karawaci, Tangerang, akibat suntikan anestesi,
hal ini terjadi karena adanya kecerobohan tim medis RS tersebut. Amelia menilai kesalahan
tersebut mesti diperiksa secara hukum karena berpotensi melanggar Undang-Undang.
Kasus ini berpotensi melanggar UU Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit,
kata Amelia. Amelia menegaskan, hak pasien adalah untuk memperoleh layanan kesehatan
yang manusiawi serta keselamatan tertera dalam Undang-Undang. Amelia meminta kepada
RS Siloam dan PT Kalbe Farma Untuk menjelaskan kepada Komisi IX DPR RI. Hal senada
juga di sampaikan anggota Komisi IX DPR M Ali Tahir, Ia menduga ada pelanggaran
prosedur di kamar operasi ketika pasien diambil tindakan di RS tersebut, yang
mengakibatkan dua pasien meninggal setelah disuntik anestesi.
Kenapa kok biasanya 4 ml tiba-tiba jadi 5 ml. Kan persoalannya disitu, datang
darimana? Sementara dari produsennya tidak memasok yang 5 ml, jadi pertanyaannya siapa
yang menyuplai saat proses di kamar operasi dan anestesi?,tanya Ali Tahir saat Rapat
Dengar Pendapat dengan Menkes, BPOM, Dirut RS Siloam, dan Dirut PT Kalbe Farma, di
Gedung DPR RI, seperti dilansir Tribun, Rabu (18/2/2015). Ali Tahir menjelaskan, bahwa
kasur RS Siloam itu akan kita dalami. Banyak rumah sakit yang mengatasnamakan
internasional, tetapi praktiknya dan penanganannya tidak maksimal. Jangan sampai
malpraktik muncul lagi, kemudian menimbulkan kerugian pada pasien dan masyarakat.
Anggota Komisi IX DPR RI Abidin Fikri mengatakan, dari keseluruhan produksi
Kalbe Farma Buvanest 0,5 persen Heavy 4 ml, ternyata ukuran 5 ml hanya ada di RS Siloam
dan berjumlah 4 ampul, Yang harus diinvestigasi, itu darimana?,tanya Abidin. Sementara
itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Nila Moeloek, pihaknya memastikan tidak ada
korban lain terkait seperti kasus tersebut. Sejauh ini, kasus tersebut hanya terjadi pada
meninggalnya dua pasien di Rumah Sakit Siloam Karawaci, Tangerang.
2

Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kemenkes Akmal Taher, menegaskan,


bahwa pihak rumah sakit dan dokter di seluruh Indonesia telah diminta untuk menghentikan
penggunaan Buvanest Spinal kepada pasien. Sehingga kasus tersebut akan mengerucut
kapada RS Siloam yang anggap malpraktik
Sumber: (Gema Islam, 2015)

Analisis
Kasus di atas merupakan pelanggaran kewajiban rumah sakit terhadap pasiennya.
Rumah sakit melanggar kewajibannya untuk memberikan pelayanan kesehatan yang aman
dan bermutu, serta melaksanakan dan menjaga standar mutu pelayanan kesehatan di rumah
sakit sebagai acuan dalam melayani pasien sehingga terjadi tindakan malpraktik. Malpraktik
dapat terjadi karena tindakan yang disengaja, tindakan kelalaian, ataupun suatu kekurangmahiran yang tidak beralasan. Malpraktik dapat diartikan sebagai tidak terpenuhinya
perwujudan hak-hak masyarakat untuk mendapatkan pelayanan yang baik, yang biasa terjadi
dan dilakukan oleh oknum yang tidak mau mematuhi aturan yang ada karena tidak
memberlakukan prinsip-prinsip transparansi atau keterbukaan, dalam arti harus menceritakan
secara jelas tentang pelayanan yang diberikan kepada konsumen, baik pelayanan kesehatan
maupun

pelayanan

jasa

lainnya

yang

diberikan.

3. Kasus Etika terhadap Lingkungan Hidup


Aktivitas para penambang dalam menjaga kelestarian lingkungan tak sesuai harapan,
akibatnya kerusakan lingkungan di Sulawesi Tenggara parah akibat cara-cara penambang
yang tidak profesional. Penjelasan itu terungkap melalui diskusi kecil yang diselenggaran
Aliansi Jurnalistik Indonesia (AJI) yang melibatkan kalangan akademisi bidang lingkungan,
LSM dan para jurnalis dan pimpinan media di Kendari.
Menurut penjelasanan Kabid Ponologi Dinas Kehutanan Sultra, Sahid melalui
rilisnya, menyebutkan akibat penambangan tidak profesional, berdampak sekitar 80,91 ribu
hektare hutan di Sultra rusak akibat aktivitas pertambangan (dialihfungsikan) dari jumlah
kawasan hutan Sultra yang tersisa 2,6 juta hektare. "Kerusakan hutan tersebut, disebabkan
karena perusahaan tambang tidak melakukan SOP pertambangan secara optimal, termasuk
melakukan rehabilitasi dan reboisasi terhadap lahan yang telah mereka keruk," kata Sahid.
Forum diskusi yang dikemas dengan cara meminta masukan dan saran serta kritikan
dari peserta baik dari akademisi, LSM dan jurnalis, mengharapkan agar kalangan wartawan di
3

daerah lebih banyak menggali dan memberitakan isu-isu lingkungan. "Saya melihat, rekanrekan media dalam memberitakan masalah isu lingkungan dianggap tidak terlalu seksi dan
hanya pemberitaan yang sifatnya situasional dan kasuistik. Seharusnya setiap perusahaan
media menyediakan kolom khusus terkait isu-isu menyangkut lingkungan," kata Dosen
Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Universitas Haluoleo (UHO) Kendari Lies Indriani. Ia
mengatakan, pemberitaan isu lingkungan dianggap seksi bila terjadi konflik, kongkalikong
seperti bila ada kasus illegal logging dan sebagainya.
Sumber: (Republika Online, 2014)
Analisis
Kasus di atas merupakan bentuk pelanggaran kewajiban perusahaan terhadap
tanggung jawab sosial dan lingkungan. Menurut penjelasan Pasal 21 ayat (1) UU
Perindustrian, perusahaan industri yang didirikan pada suatu tempat, wajib memperhatikan
keseimbangan dan kelestarian sumber daya alam yang dipergunakan dalam proses
industrinya serta pencegahan timbulnya kerusakan dan pencemaran terhadap lingkungan
hidup akibat usaha dan proses industri yang dilakukan. Dampak negatif dapat berupa
gangguan, kerusakan, dan bahaya terhadap keselamatan dan kesehatan masyarakat di
sekelilingnya yang ditimbulkan karena pencemaran tanah, air, dan udara termasuk kebisingan
suara oleh kegiatan industri. Pada dasarnya setiap pendirian perusahaan industri perlu
mempertimbangkan berbagai aspek, yakni pencegahan timbulnya kerusakan dan pencemaran
terhadap lingkungan hidup akibat kegiatan industri yang dilakukannya.