Anda di halaman 1dari 2

2.

10
Hikayat Aceh diperkirakan ditulis pada saat SIM masih hidup (iskandar 1958:17).
Hikayat Aceh berarti Kumpulan Kisah Aceh, namun semata-mata ditujukan
untuk mengagungkan IM, maka judul yang tepat adalah Hikayat Iskandar
Muda. Dalam karya ini, fakta-fakta sejarah dan fiksinya disajikan tanpa
perbedaan (Winstedr 1961: 28). Hal ini juga membuka dimensi lain tentang
wawasan kita tentang budaya melayu (Johns 1961: 31). Hanya dua manuskrip
yang tersisa. Penulis dan tanggal pasti karya ini ditulis pun tidak diketahui,
namun dapat dipastikan karya ini disusun pada masa IM dan sangat mungkin
diperintahkan sendiri olehnya. Kumpulan Kisah Aceh ini memiliki fokus pada
sifat dan kemegahan dirinya.
Dimulai dengan mitos tentang asal usul Kesultanan Aceh, diikuti dengan silsilah
IM dari orang tuanya yang mendirikan dinasti dari para leluhurnya. Kisah ini
diceritakan dengan sangat panjang hingga bagaimana dia dilahirkan. Sebelum
kelahirannya, ada ramalan yang mengatakan bahwa raja agung akan lahir ke
dunia. Dalam karya ini, masa 3 tahun setelah kelahirannya tidak diceritakan,
namun langsung ke pada pencapaian besar IM pada saat masih muda.
Kejayaannya diceritakan di seluruh kisah, dari cerita sebelum dia dijadikan raja
hingga pada masa saat dia memimpin. Sayangnya, bagian terakhir dari karya ini
hilang.
Hikayat Aceh ini berdasarkan dari biografi orang terkenal ala Iran. Perbandingan
dengan Saftwatus-Safa, sebuah biogfrafi dari Shaykh Safiyyud-Din (AD 12521334) membuktikan banyak kesamaan isi seperti ramalan kelahiran, gambaran
masa kecil, keajadian ajaib dan silsilah. Melayu sangat terpengaruh dengan
literatur Iran yang datang ke daerah mereka melalui Muslim India. Struktur
Hikayat Aceh, adalah biografi dalam prosa, yang mungkin mirip dengan Biografi
ala India, Akbarnamah (Iskandar 1958:24). The Akbarnamah ditulis diantara
1596 dan 1602 dengan maksud untuk mendokumentasikan keagungan Mughal
Akbar (1556-1605).
Hikayat Aceh dan Akbarnamah memiliki kesamaan dalam pengorganisasian dan
detilnya. Keduanya dimulai dengan silsilah yang diikuti dengan pertanda berupa
mimpi dan penerawangan akan kelahiran raja yang agung. Hikayat Aceh
memberikan catatan tahunan tentang pencapaian IM pada masa mudanya, dan
Akbarnamah melaporkan pencapaian Akbar dari umur delapan bulan. Keduanya
menceritakan perbuatan ajaib para pahlawan.
Namun hikayat Aceh tidak memiliki pembuka seperti Akbarnamah. Penulis
Hikayat Aceg pasti sangat terpengaruh dengan karya-karya melayu kuno juga.
Dia menambahakan mitos daerah dari keluarga raja, sangat mirip dengan
Hikayat Raja-raja pasai, termasuk dengan motif-motif yang dapat ditemukan
dalam literatur indonesia. Dalam Hikayat Aceh, SIM dikatakan sebagai titisan dari
Alexander Agung, sebuah indikasi yang mengatakan keterpengaruhan penulis
terhadap Hikayat Iskandar Dhul-karnain dan atau Sejarah Melayu (Iskankar
1958:22).
Hikayat Aceh menceritakan kedutaan Turki dari Sultan Rum (turki) di Aceh pada
1612, yang juga memperlihatkan SIM adalah yang teragung di dunia bila
dibandingkan dengan sultan agung yang lain, Ottoman. Dengan para duta turki
yang melaporkan :

Di negara ini, terdapat mesjida yang sangat besar dan tinggi, yang atapnya
terbuat dari peraak dan cermin kristal. Banyak orang yang datang ke sini untuk
beribadah. Berdasarkan pantauan kami, hanya mesjid di Mekkah yang sanggup
menampung banyak jamaah seperti ini. Mesjid-mesjid lain di dunia tidak bisa
dibandingkan dengan mesjid yang ini. Mimbarnya saja terbuat dari setengah
emas dan marmer.
Dengan banyaknya mesjid, Sultan Rum memuji Allah dan membandingkan
dengan masa Sulaiman dan Iskandar Zulkarnain, jika dulu ada dua penguasa
besar di seluruh negeri, sekarang ada Sultan Turkei dan Perkasa Alam di Aceh
(Djajadiningrat 1911:177).
2.11 Bustan Al-Salatin
Bustan Al-Salatin adalah salah satu literatur melayu yang sangat penting yang
juga sebuah sumber tradisi aceh dan sejarah abad ke-17. Setelah kematian dari
SIM pada 1636, kitaa melihat Aceh beralih dari wujudiyya (kepercayaan
heterodox) menjadi lebih ortodok fundamental (Nieuwenhuyze 1948:337).
10 bulan setelah kedatangan Nur al-Diin di Aceh, dia menerima perintah dari
Sultan untuk menulis Bustan Al-Salatin (Kebun Para Raja). Bustan al-Salatin
adalah cermin para raja dengan jumlah edisi yang banyak jilid. Jilid pertama
dari 7 total buku menceritakan penciptaan neraka dan surga. Buku kedua
menceritakan sejarah Islam secara umum dari Adam a.s hingga Muhammad SAW
(winsdtet 1969:146).
Sisa jilid Bustan al-Salatin menceritakan raja-raja dan menterinya yang cerdik,
raja yang saleh dan manusia suci, raja yang tak adil dan penasihat yang lalim,
orang mulia dan pahlawan, serta tentang masalah ilmu pengetahuan (Lombard
1967:153).