Anda di halaman 1dari 22

ETIKA

LINGKUNGAN

Harapan Etika

ETIKA LINGKUNGAN UNTUK BISNIS :


PERTARUNGAN KREDIBILITAS, REPUTASI, DAN
KEUNGGULAN KOMPETITIF
Dukungan untuk sebuah bisnis bergantung pada
kredibilitas yang ditempatkan pemangku kepentingan
dalam komitmen perusahaan, reputasi perusahaan,
dan kekuatan daya saingnya. Semua ini bergantung
pada kepercayaan bahwa tempat pemangku
kepentingan dalam kegiatan perusahaan.
Kepercayaan, pada gilirannya bergantung pada nilainilai yang mendasari kegiatan perusahaan.

Masalah Lingkungan

Tidak ada yang membangkitkan opini publik


sebelumnya mengenai sifat dari perilaku
perusahaan yang lebih baik dari kesadaran
bahwa kesejahteraan fisik publik dan
kesejahteraan sebagian pekerja sedang
terancam oleh aktivitas perusahaan.
Awalnya kekhawatiran mengenai polusi
udara berpusat pada cerobong asap dan
knalpot pembuangan, yang menyebabkan
iritasi dan gangguan pernapasan.

Sensitivitas Moral

Sensitivitas moral juga terlihat pada


isu-isu internasional dan domestik.
Adanya kampanye untuk memboikot
pembelian dari perushaan-perushaan
yang terlibat dalam penggunaan
tenaga kerja anak atau
mempekerjakan tenaga kerja dengan
upah yang rendah.

Penilaian yang Buruk dan Aktivis


Pemangku Kepentingan
Para

direktur eksekutif, dan manajer adalah


manusia, dan mereka membuat kesalahan.
Kadang-kadang, masyarakat, atau kelompokkelompok tertentu, tersinggung pada tahap
ini akibat penilaian yang buruk, serta
mengambil tindakan untuk membua direktur
dan manajemen menyadari bahwa mereka
tidak menyetujuinya.
Sebagai contoh: produk nestle diboikot di
Amerika Utara dan Eropa untuk
menghentikan distribusi bebas serbuk
formula bayi untuk para ibu di Afrika yang
mencampurnya dengan air yang
terkontaminasi, sehingga membunuh bayi

Ekonomi dan Tekanan-tekanan


Kompetitif
Ada

beberapa hal yang mendasari yang juga


mempengaruhi harapan masyarakat. Pada
periode 1990-an, tekanan pertumbuhan dari
pesaing global dan dorongan untuk
meningkatkan teknologi menghabiskan biaya dan
mengakibatkan margin keuntungan menyusut.
Untuk mempertahankan pekerjaannya, beberapa
orang terpaksa ikut dalam etika praktik yang
dipertanyakan, termasuk pemalsuan transaksi
dan catatan-catatan lain, serta eksploitasi
lingkungan atau pekerja. Hasilnya telah menjadi
bagian dari alasan untuk memicu kasus
penyimpangan lingkungan atau keuangan.

Skandal Keuangan: Jurang


Harapan dan Jurang Kredibilitas
Tidak

ada keraguan bahwa masyarakat telah terkejut,


kaget, kecewa dan hancur oleh krisis keuangan.
Sebagai contoh kasus Enron yang akan dibahas nanti,
yang berakibat masyarakat menjadi sinis terhadap
integritas keuangan perusahaan, sehingga jurang
harapan telah diciptakan untuk menggambarkan
perbedaan antara apa yang dipikirkan oleh
masyarakat tentang apa yang mereka dapatkan
dalam laporan keuangan yang telah diaudit dan apa
yang sebenarnya masyarakat dapatkan.
Kurangnya kredibilitas telah menyebar dari
pelayanan keuangan untuk mencakup bidang lain
dari aktivitas perusahaan dan telah dikenal sebagai
jurang kredibilitas.

Kegagalan Tata Kelola dan


Penilaian Resiko
Direktur

perusahaan diharapkan untuk


memastikan bahwa perusahaan mereka telah
bertindak demi interes investor dalam rentang
aktivitas yang dianggap cocok oleh masyarakat,
dimana mereka beroperasi. Akan tetapi, dalam
kasus Enron, WorldCom, dan kasus-kasus lainnya,
pengawasan oleh direktur perusahaan gagal
mengetahui keserakahan eksekutif, manajer, dan
karyawan lainnya.
Reformasi tata kelola dianggap perlu untuk
melindungi kepentingan umum. Dimana direktur
diharapkan untuk menilai dan memastikan bahwa
resiko yang dihadapi oleh perusahaan mereka
telah dikelola dengan baik.

Sinergi Diantara Faktor-faktor dan


Penguatan Kelembagaan
Hubungan

diantara faktor-faktor yang


mempengaruhi ekspektasi masyarakat atas
etika kinerja telah diidentifikasi, tetapi tidak
diketahui sejauh mana hubungan tersebut saling
memperkuat satu sama lain dan menambah
keinginan masyarakat untuk bertindak.
kesadaran masyarakat berdampak pada politisi
yang bereaksi dengan menyiapkan undangundang yang baru atau mengetatkan peraturan.
Akibatnya, banyak masalah membawa
kesadaran masyarakat dalam penguatan
kelembagaan dan kodifikasi pada hukum yang
berlaku.

Hasil
Secara jelas, harapan masyarakat
telah berubah untuk menunjukan
menurunnya toleransi, meningkatkan
moral, kesadaran, dan harapan yang
lebih tinggi dari perilaku bisnis. Dalam
merespons meningkatnya harapanharapan ini, sejumlah pengawas dan
penasihat telah muncul untuk
membantu atau mendesak
masyarakat umum dan bisnis.

HARAPAN BARU UNTUK BISNIS

Mandat Baru untuk Bisnis


Milton Friedman sendiri mengungkapkan
pandangan bahwa keuntungan harus
diperoleh berdasarkan undang-undang dan
etika kebiasaan masyarakat. Untuk alasan
ini, mandat keuntungan, murni bagi
perusahaan kemudian berkembang pada
pengakuan ketergantungan bisnis dan
masyarakat. Keberhasilan masa depan akan
bergantung pada sejauh mana bisnis dapat
menyeimbangkan keuntungan dan interes
pemangku kepentingan.

Tata Kelola dan Kerangka kerja


Akuntabilitas yang Baru
Berdasarkan analisis ini, perusahaanperusahaan sukses akan dilayani
dengan sangat baik oleh mekanisme
tata kelola dan akuntabilitas yang
berfokus pada sebuah kumpulan
hubungan fidusia yang berbeda dan
lebih luas dibandingkan dengan masa
lalu.

Peranan Fidusia yang Diperkuat


bagi Akuntan Profesional
Loyalitas pada manajemen dan/atau
direktur dapat menyesatkan karena
mereka telah sering terbukti sangat
mementingkan diri sendiri dan tidak
dapat dipercaya. Direktur yang
seharusnya mengatur manajemen sering
mengandalkan akuntan profesional untuk
memenuhi tanggung jawab fidusia
mereka. Konsekuensinya, tanggung jawab
fidusia utama dari akuntan seharusnya
kepada masyarakat atau untuk
kepentingan umum.

Manajemen Berdasarkan Nilai,


Reputasi dan Risiko
Para direktur, eksekutif, manajer, dan karyawan
lainnya harus memahami sifat dari interes
pemangku kepentingan dan nilai-nilai yang
mendukungnya untuk menggabungkan interes
pemangku kepentingan ke dalam kebijakan,
strategi, dan operasional perusahaan. Reputasi
perusahaan
dan
tingkat
dukungan
yang
dikumpulkan dari para pemangku kepentingan
akan bergantung pada pemahaman dan pada
kemampuan perusahaan untuk mengelola risiko
yang dihadapi perusahaan secara langsung,
maupun risiko-risiko yang berdampak pada
pemangku kepentingan.

laporan-laporan perusahaan karena tidak


mencakup beberapa hal atau permasalahan.
Demikian juga, laporan tersebut tidak selalu
memberikan presentasi yang jelas dan
seimbang bagaimana kepentingan pemangku
kepentingan akan terpengaruh (pada laporanlaporan itu). Terkadang permasalahan akan
disebutkan, tetapi dengan cara yang dangkal
atau
tidak
jelas
sehingga
kurangnya
transparansi akan membuat pemahaman
pembaca menjadi samar. Akurasi, atau
gambaran yang tepat, tentu saja merupakan
dasar untuk memahami fakta-fakta yang
mendasarinya.

Etika Perilaku dan Perkembangan dalam Etika


Bisnis
Pendekatan filosofis untuk etika perilaku :

1. Filsuf Yunani, Aristoteles, berpendapat bahwa tujuan hidup


adalah kebahagiaan,
2. Filsuf Jerman, Immanuel Kant, berpendapat bahwa orangorang beretika ketika mereka tidak memanfaatkan orang lain
demi kesejahteraannya.
3. Filsuf Inggris, John Stuart Mill, menyatakan bahwa tujuan
hidup adalah untuk memaksimalkan kebahagiaan dan/atau
untuk mengurangi ketidakbahagiaan.
4. Filsuf Amerika, berpendapat bahwa masyarakat harus
diatur sehingga ada distribusi yang adil atas hak dan
manfaat.

Konsep dan Persyaratan Etika Bisnis


Ada dua perkembangan :
1. Konsep
pemangku kepentingan adalah
kepentingan
orang-orang
ini
dengan
pengaruh dalam bisnis.
2. Kontrak sosial perusahaan adalah hubungan
antara perusahaan dan masyarakat.

Pendekatan untuk Pengambilan Keputusan Etis

Pendekatan Analisis Praktis (Modified Five


Question Approach) yang menantang setiap
tantangan kebijakan yang diusulkan.
2. Pendekatan
Standar
Moral
Termodifikasi
(Modified Moral Standard Approach) yang
berfokus pada empat dimensi dampak dari
yang diusulkan
3. Pendekatan Pastin Termodifikasi (Modified Pastin
Approach) yang meperluas pendekatan moral
standar dengan mempertimbangkan secara
khusus budaya di dalam perusahaan dan apa
yang dikenal sebagai permasalahan umum.
1.

Etika Lingkungan untuk


Akuntan-Akuntan Profesional
Peran dan Perilaku
Akuntan profesional harus memastikan bahwa
nilai-nilai etika mereka mutakhir dan bahwa
mereka disiapkan untuk bertindak pada nilainilai tersebut untuk menguji peran mereka,
serta untuk menjaga kredibilitas dan dukungan
untuk profesi.

Tata Kelola
Dalam profesi akuntansi, gerakan menuju
harmonisasi secara global sekumpulan prinsipprinsip akuntansi dan audit yang berlaku secara
umum (GAAP dan GAAS) untuk memberikan
efisiensi analitis bagi penyedia modal pasarpasar dunia serta efisiensi komputasi dan audit
diseluruh dunia.

Layanan yang Ditawarkan


Para
akuntan
profesional
harus
sangat
mewaspadai terjadinya konflik, dimana nilai-nilai
dan kode-kode dari para profesional lain yang
mereka
pekerjakan
berbeda
dari
profesi
akuntansi.

Mengelola Risiko Etika dan


Kesempatan/Peluang

Pengembangan kepercayaan yang tergantung


pada nilai-nilai etika dan sangat penting untuk
komunikasi, kerjasama, berbagi ide, keunggulan
inovasi dan latihan kepemimpinan modern juga
merupakan
faktor
penentu
keberhasilan.
Pentingnya dimensi-dimensi etika tempat kerja ini
membuat para pengamat ahli memercayainya
sebagai cara karyawan melihat perlakuan mereka
sendiri terhadap perusahaan yang menentukan
apa yang karyawan pikirkan mengenai program
etika perusahaan mereka. Sebuah perusahaan
tidak dapat memiliki etika budaya perusahaan
yang efektif tanpa etika kerja yang terpuji.