Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK II

PENENTUAN BILANGAN KOORDINASI ION KOMPLEKS


DENGAN METODE JOBS
I.

Tujuan Percobaan
Menentukan bilangan koordinasi Fe3+ pada ion [Fe(CNS)n]3-n

II.

Alat dan Bahan


A. Alat :
1. Erlenmeyer 25 ml
2. Gelas beker 250 ml
3. Labu ukur 10 ml
4. Labu ukur 50 ml
5. Pipet volume 10 ml
6. Dragg Ball
7. Pengaduk
8. Pipet tetes
9. Cawan arloji
10. Spektrofotometer UV-VIS

21 buah
3 buah
2 buah
2 buah
1 buah
2 buah
2 buah
2 buah
1 buah
1 set

Bahan :

3.
4.
5.
6.

1. FeCl3 5. 10-2 M
2. FeCl3.6H2O
HNO3 4M
KCNS
K3Fe (CNS)3 5.10-2 M
Akuades

42 ml
0,676 gr
21 ml
0,243 gr
42 ml
105 ml

Gambar Alat :

III.

Dasar Teori
Penentuan kadar secara spektrofotometri sinar tampak dilakukan dengan mengukur
absorbansi maksimum. Apabila senyawa fisik tidak berwarna maka senyawa diubah dulu
menjadi senyawa berwarna melalui reaksi kimia dan absorbansi ditentukan dalam daerah sinar
tampak .Variasi kontinyu merupakan suatu cabang ilmu kimia yang sangat penting karena

dapat menentukan dan melakukan suatu proses perubahan-perubahan secara fisika maupun
kimia yang dapat kita amati melalui variasi kontinyu.
Metode variasi kontinyu yang dikemukakan oleh Job dapat menimbulkan kondisi
optimum pembentukan dan konstanta kestabilan senyawa kompleks yang mengandung
konsentrasi ion logam maupun konsentrasi ligan divariasikan.
Metode Job dilakukan dengan pengamatan terhadap kuantitas molar pereaksi yang
berubah-ubah, namun molar totalnya sama. Sifat fisika (massa, volume, suhu, daya serap)
diperiksa dan perubahannya digunakan untuk meramal stoikiometri sistem. Dari grafik aluran
sifat fisik terhadap kuantitas pereaksi, akan diperoleh titik maksimal atau minimal yang sesuai
dengan titik stoikiometri sistem yang menyatakan peerbandingan pereaksi dalam senyawa
(Ewing, 1985).
Kemampuan ion kompleks melakukan reaksi yang mengahasilkan pergantian satu atau
lebih ligan dalam lingkungan koordinasinya oleh yang lain disebut kelabilan. Kompleks inert
adalah yang reaksi pergantian ligannya cukup lambat.Dengan cara memasukkan bersama-sama
zat pereaksi di dalam wadah (Cotton, 1989).
Proses pembentukan senyawa kompleks koordinasi adalah perpindahan satu atau lebih
pasangan elektron dari ligan ke ion logam.Jadi, ligan bertindak sebagai pemberi elektron dan
ion logam sebagai penerima elektron.Sebagai akibat dari perpindahan kerapatan elektron ini,
pasangan elektron menjadi kepunyaan bersama antara ion logam dan ligan, sehingga terbentuk
ikatan pemberi penerima elektron.Keadaan-keadaan antara mungkin saja terjadi, namun jika
pasangan elektron ituterikat kuat pada kedua sarah tersebut, maka ikatan kovalen sejati dapat
terbentuk. Bergantung pada susunan elektronnya, ion logam dapat menerima sejumlah
pasangan elektron, sehingga ion logam itu dapat berikatan koordinasi dengan sejumlah
ligan.Jumlah ligan yang dapat diikat oleh ion logam itu disebut bilangan koordinasi senyawa
kompleks (Sunarya, 2003).
Satu ion (molekul) kompleks terdiri dari satu atom pusat dengan sejumlah ligan yang
terikat erat dengan atom pusat.Atom pusat ditandai dengan bilangan koordinasi.Suatu angka
bulat yang ditunjukkan dengan ligan monodentat yang dapat membentuk kompleks stabil
dengan atom pusat.Pembentukan kompleks dalam analisis anorganik kualitatif sering trelihat
dalam pemisahan dan identifikasi.
Salah satu fenomena yang paling umum muncul jika ion kompleks terbentuk adalah
adanya perubahan warna d dalam larutan. Fenomena lain yang yang terlihat jika adalah
kenaikan kelarutan. Banyak endapan yang dapat melarut karena pembentukan kompleks.
Kemampuan ion kompleks melakukan reaksi yang mengahasilkan pergantian satu atau
lebih ligan dalam lingkungan koordinasinya oleh yang lain disebut kelabilan. Kompleks inert
adalah yang reaksi pergantian ligannya cukup lambat.Dengan cara memasukkan bersama-sama
zat pereaksi di dalam wadah(Sukardjo, 1997).
Spektrofotometri menyiratkan pengukuran jauhnya penyerapan energi cahaya oleh
suatu sistem kimia itu sebagai suatu fungsi dari panjang gelombang radiasi, demikian pula

pengukuran penyerapan yang menyendiri pada suatu panjang gelombang tertentu (Underwood
and Day, 1986).
Spektrofotometri ini hanya terjadi bila terjadi perpindahan elektron dari tingkat energi
yang rendah ke tingkat energi yang lebih tinggi. Perpindahan elektron tidak diikuti oleh
perubahan arah spin, hal ini dikenal dengan sebutan tereksitasi singlet (Khopkar, 1990).
Spektrofotometri adalah suatu metode analisis yang berdasarkan pada pengukuran
serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna pada panjang gelombang yang
spesifik dengan menggunakan monokromator prisma atau kisi difraksi dan detector vacuum
phototube atau tabung foton hampa. Alat yang digunakan adalah spektrofotometer, yaitu sutu
alat yang digunakan untuk menentukan suatu senyawa baik secara kuantitatif maupun
kualitatif dengan mengukur transmitan ataupun absorban dari suatu cuplikan sebagai fungsi
dari konsentrasi. Spektrometer menghasilkan sinar dari spectrum dengan panjang gelombang
tertentu dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau
diabsorbsi (Harjadi, 1990).
IV.
1.
2.
3.
4.
5.

Cara Kerja
Menimbang FeCl3 seberat 0,676 gram.
Melarutkan FeCl3 dalam 50 ml akuades didalam labu ukur.
Menimbang KCNS seberat 0,243 gram.
Melarutkan KCNS dalam 50 ml akuades didalam labu ukur.
Membuat larutan seri A yaitu dengan mencampur larutan Fe pada alabu ukur 10 ml dengan
variasi 0 ml, 1 ml, 2 ml, 3 ml, 4 ml, 5 ml, 6 ml lalu masing masing ditambah dengan HNO 3 1

ml dalam akuades 10 ml menggunakan labu ukur.


6. Membuat larutan seri B yaitu dengan mencampur larutan CNS pada alabu ukur 10 ml dengan
variasi 0 ml, 1 ml, 2 ml, 3 ml, 4 ml, 5 ml, 6 ml lalu ditambah HNO 3 1 ml dalam akuades 10 ml
menggunakan labu ukur.
7. Membuat larutan seri C yaitu dengan mencampur larutan Fe dan CNS pada alabu ukur 10 ml
dengan variasi 0 ml, 1 ml, 2 ml, 3 ml, 4 ml, 5 ml, 6 ml (variasi volume larutan Fe dan CNS
berbanding terbalik, 0:6, 1:5, dst) lalu ditambah HNO3 1 ml dan ditambah aquades hingga
batas.
8. Mengambil larutan C yang sudah menjadi homogen sebesar 1 ml lalu melarutkannya dengan
aquades pada labu ukur 10 ml hingga batas.
9. Mengkalibrasi spektrofotometer UV-Vis dengan larutan sampel A1 atau B7 dang larutan
blangko yang sama.
10. Menentukan serapan (absorbansi) masing masing larutan (A, B, C) menggunakan alat
spektrofotometer UV-Vis.
11. Mencatat hasil spektrofotometer UV-Vis pada tabel hasil pengamatan.
12. Menghitung A dengan mengurangi selisih antara serapan kompleks dengan ionionnya.
13. Membuat grafik perbandingan antara A dan X Fe3+
V.

Hasil Percobaan
Seri Larutan ion Fe3+
No.

Larutan ion Fe3+


-2

5.10 M

HNO3 4M

H2O

[Fe3+]

Serapan (A)

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

0 ml
1 ml
2 ml
3 ml
4 ml
5 ml
6 ml

1 ml
1 ml
1 ml
1 ml
1 ml
1 ml
1 ml

9 ml
8 ml
7 ml
6 ml
5 ml
4 ml
3 ml

0
1 x 10-3
2 x 10-3
3 x 10-3
4 x 10-3
5 x 10-3
6 x 10-3

0
0,183
0,110
0,111
0,136
0,165
0,193

HNO3 4M

H2O

[CNS-]

Serapan (A)

1 ml
1 ml
1 ml
1 ml
1 ml
1 ml
1 ml

3 ml
4 ml
5 ml
6 ml
7 ml
8 ml
9 ml

6 x 10-3
5 x 10-3
4 x 10-3
3 x 10-3
2 x 10-3
1 x 10-3
0

-0,010
0,010
-0,010
-0,010
-0,010
-0,009
0,000

Seri Larutan ion CNSNo.

Larutan ion Fe3+


-2

5.10 M
6 ml
5 ml
4 ml
3 ml
2 ml
1 ml
0 ml

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Seri larutan ion kompleks [Fe(CNS)n]3-n


No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Larutan ion

HNO3

Fe3+ 5.10-2 M
6 ml
5 ml
4 ml
3 ml
2 ml
1 ml
0 ml

4M
1 ml
1 ml
1 ml
1 ml
1 ml
1 ml
1 ml

H2O
3 ml
3 ml
3 ml
3 ml
3 ml
3 ml
3 ml

Larutan ion

Serapan

CNS 5.10-2 M
0 ml
1 ml
2 ml
3 ml
4 ml
5 ml
6 ml

(A)
0,202
4,000
4,000
4,000
4,000
0,002
0,000

A
0,009
3,694
3,899
3,9
-0,191
0,010

Pembahasan
Pada percobaan penentuan bilangan koordinasi ion kompleks dengan metode jobs kali ini
bertujuan untuk menentukan bilangan koordinasi Fe3+ pada ion [Fe(CNS)n]3-n. Prinsip dari metode
jobs adalah menentukan bilangan koordinasi suatu kompleks dengan perbandingan mol
menggunakan variasi kontinyu volume ion logam dan ligan dari kompleks tersebut dengan total
volume yang di gunakan tetap. Bilangan koordinasi merupakan banyaknya jumlah ligan yang
terikat pada ion logam. Ion logam yang digunakan dalam percobaan ini adalah Fe 3+ dan ligannya
adalah CNS-.
Langkah awal dari percobaan ini adalah membuat larutan ion Fe3+ 5.10-2 M yang berwarna
orange dan larutan ion CNS- 5.10-2 M yang berwarna bening. Setelah larutan jadi maka dibuat
variasi volume dari larutan ion dan konsentrasi Fe 3+ 5.10-2 M. Volume larutan Fe3+ 5.10-2 M yang
dugunakan ialah 0 ml ; 1 ml ; 2 ml ; 3 ml ; 4 ml ; 5 ml ; dan 6 ml. Konsentrasi yang digunakan juga

naik seiring naiknya volume yaitu 0 M ; 1 x 10-3 M ; 2 x 10-3M ; 3 x 10-3M ; 4 x 10-3 M ; 5 x 10-3 M
; dan 6 x 10-3 M. Dari masing masing konsentrasi ditambah dengan 10 ml akuades yang mana
berperan sebagai pelarut. Penambahan pelarut akuades berbanding terbalik dengan larutan
Fe3+yang mana penambahan akuadesnya untuk masing-masing konsentrasi ialah 9 ml ; 8 ml ; 7 ml ;
6 ml ; 5 ml ; 4 ml ; dan 3 ml. Pelarutan dilakukan di labu ukur. Hal ini karena konsentrasi
berbanding terbalik dengan volume palarut. Dari masing masing larutan juga ditambah dengan
HNO3 1 ml. Penambahan HNO3 memberi suasana asam karena kompleks [Fe(CNS)n] dapat
terbentuk hanya dengan suasana asam serta mencegah adanya hidrolisis ion Fe 3+ . Adapun reaksi
yang terjadi
Fe3+ + 3 H2O

Fe(OH)3 + 3 H+

Pada larutan ini disebut dengan larutan A. Yang terdiri dari A1 A7.
Kemudian pada larutan CNS-sama halnya dengan larutan ion Fe3+. Pada larutan ini juga
dibuat variasi volume dan konsentrasi. Penambahan HNO3 untuk memberi suasan basa karena
[Fe(CNS)n] dapat terbentuk hanya dalam keadaan suasana basa. Adapun reaksi yang terjadi :
CNS-+ H2O
HCNS + OH Pada larutan ini disebut sebagai larutan B. Yang terdiri dari B1 B7.
Kemudian membuat seri larutan ion kompleks [Fe(CNS)n] 3-n. Pada larutan ini dibuat
dengan mencampurkan larutan Fe3+ 5.10-2 M dengan larutan CNS-5.10-2 M. Pada volume Fe3+ 5.102

M dengan CNS-5.10-2 M berbanding terbalik. CNS-berperan sebagai ligan sedangkan Fe3+sebagai

logam. Masing- masing larutan ditambah dengan akuades dan 1 ml HNO 3. Penambahan akuades
ialah sebagai pelarut sedangkan HNO3adalah pemberi suasana asam. Adapun reaksi yang terjadi
yaitu
Fe3+ + n CNS
[Fe(CNS)n]3-n
Nilai n dapat sebesar 1, 2, 3, 4, 5, dst. Nilai tersebut tergantung dari perbandingan ion logam dan
ligan yang berikatan.Pada larutan ini disebut sebagai larutan C. yang terdiri dari C1- C2.
Proses pembentukan senyawa kompleks koordinasi [Fe(CNS)n]3-n adalah perpindahan satu
atau lebih pasangan elektron dari ligan ke ion logam. Jadi, CNS bertindak sebagai pemberi
elektron dan Fe3+ sebagai penerima elektron. Sebagai akibat dari perpindahan kerapatan elektron
ini, pasangan elektron menjadi kepunyaan bersama antara ion Fe3+ dan CNS, sehingga terbentuk
ikatan pemberi penerima elektron. Bergantung pada susunan elektronnya, Fe3+ dapat menerima
sejumlah pasangan elektron, sehingga ion Fe3+ itu dapat berikatan koordinasi dengan sejumlah
ligan CNS .Jumlah CNS yang dapat diikat oleh ion Fe3+ itu disebut bilangan koordinasi senyawa
kompleks
Setelah masing masing larutan telah siap maka diukur absorbansinya. Pengukuran
absorbansi menggunakan alat spektrofotometri UV-VIS. Prinsip dari alat ini yaitu adanya interaksi
antara molekul dengan energi dari sinar yang dihasilkan dari alat yang akan menyebabkan

elektron dari atom/molekul tersebut tereksitasi dan kembali ke groundstate untuk menjadi stabil
dengan memancarkan spektra energi, dan spektra ini yang akan diserap oleh detektor pada
spektrofotometer. Besarnya absorbansi larutan dipengaruhi oleh jenis atom atau molekul yang
diuji, dan konsentrasinya. Pengukuran dilakukanpada = 480 nm.
Didapatkan pada larutan Fe3+ 5.10-2 M absorbansi yang didapat 0,000 ; 0,183 ; 0,110 ;
0,111 ; 0,136 ; 0,165; 0,193 (dari konsentrasi kecil ke besar). Sedangkan pada larutan ion CNS
5.10-2 M absorbansi yang didapat 0,000; -0,009 ; -0,010; -0,010; -0,010; -0,010 ; -0,010 (dari
konsentrasi kecil ke besar) . Sedangkan pada kompleks [Fe(CNS)n] 3-n absorbansi yang didapat
ialah 0,000 ; 0,002 ;0,923 ; 4,000 ; 4,000 ; 4,000 ; 4,000 dan 0,202. Dilihat dari hasil percobaan
Absorbansi pada lompleks [Fe(CNS)n]3-n tidak sesuai dengan teori karena menurut teori semakin
besar konsntrasi maka absorbansinya juga besar. Konsntrasi berbanding lurus dengan absorbansi.
Namun ada juga beberapa data yang konsentrasinya naik maka absorbansinya juga naik. Dari
ketidak sesuaian tersebut dapat terjadi karena :
1. Larutannya sudah mencair karena FeCl3.6H2O dan KCNS bersifat higroskopis.
2. Kesalahan saat penambahan larutan yang mana pengukurannya tidak teliti.
Selain itu pada absorbansi CNS di dapat harga negatif hal ini di karenakan larutan CNS
merupakan larutan yang tak berwarna sehingga saat di uji dengan spektrofotometer uv vis yang
melakukan pengukuran yang dilakukan pada = 480 nm yang merupakan daerah visible (sinar
tampak) akan menghasilkan absorbansi negatif. Larutan CNS yang merupakan larutan tak
berwarna seharusnya menggunakan daerah UV.
Setelah tau absorbansi absorbansi yang digunakan maka dapat dihitung A (selisih
serapan) dengan rumus :
A = Abs [Fe(CNS)n]3-n - [Abs Fe3+ + Abs CNS-]
Dari perhitungan didapatkan nilai A ialah 0,010 ; -0,191; 3,9 ; 3,899 ; 3,694 dan 0,09. Kemudian
dicari fraksi mol tiap tiap larutan dengan menggunakan rumus
3++V CNS
V Fe
Fe3+
V

3+ =
X Fe
dan
3+
+ V Fe

V CNS

CNS
V

X CNS

Untuk perhitungan dan hasil fraksi mol dapat dilihat dilampiran.Dilihat dari perhitungan fraksi

mol

3+

X Fe berbanding terbalik dengan fraksi mol

semakin kecil

X CNS . Semakin besar

3+

X Fe

maka

X CNS .

Setelah didapat A selanjutnya adalah menentukan besarnya n atau bilangan kordinasi dari
kompleks yang terbentuk dengan membandingkan fraksi mol ion Fe 3+ dan ligan CNS- dengan
rumus :
n = X Fe3+/ X CNSDari perhitungan didapat nilai n adalah 0,45 yang menunjukkan bahwa bilangan
koordinasi Fe3+adalah 0,45 dan kompleks yang terjadi adalah

[Fe(CNS)0,8]2,2+. Hal ini juga

menunjukkan bahwa ion pusat Fe3+hanya mampu mengikat 0,45 ligan CNS-. Hal ini dikarenakan
data absorbansinya tidak sesuai. Banyak data absorbansi yang fluktuatif. Dapat juga dengan
melihat grafik hubungan A vs X Fe3+ (Grafik dapat dilihat dilampiran) titik maksimum
terjadi saat XFe3+= 0,333 dan X CNS- = 0,667 yang menunjukkan kompleks
stabil pada keadaan tersebut.
VI.

Kesimpulan
Penentuan bilangan koordinasi Fe3+ dengan

metode jobs adalah menentukan bilangan

koordinasi suatu kompleks dengan perbandingan mol menggunakan variasi kontinyu volum
ion logam dan ligan dari kompleks tersebut dengan total volume yang di gunakan tetap.
Bilangan koordinasi Fe3+ adalah 0,45 yang menunjukkan ion pusat Fe3+ hanya mampu
mengikat 0,45 ligan CNS-. Rumus kompleks yang terbentuk adalah [Fe(CNS)0,8]2,2+

VII.

Datar Pustaka
Cotton F.A, Wilkinson G. 1989. Kimia Anorganik Dasar. Jakarta : UI Press
Ewing, G. W. 1985. Instrument Method of Chemical Analysis. New York: Mc Graw-Hill
Harjadi. 1990. Ilmu Kimia Analitik Dasar. PT. Gramedia. Jakarta.
Khopkar. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik.Jakarta :UI Press
Sukardjo. 1997.Kimia Fisik. Jakarta : PT. Rineka Cipta
Sunarya, Yayan. 2003. Ikatan Kimia. Bandung: JICA.
Underwood, A. L & R. A. Day, JR. 1896. Analisis Kimia Kuantitatif. Penerbit
Erlangga.Jakarta.

VIII. Lampiran
1. Perhitungan
2. Laporan sementara
3. Pre-test

Mengetahui,

Surakarta, 19 Mei 2015

Asisten

Praktikan

Tety Nur Indah Sari

Santi Ramadani

Lampiran Perhitungan
Perhitungan
1. Menghitung massa FeCl3.6H2O dan KCNS
- Massa FeCl3.6H2O
M = 0,05 M
V = 50 ml = 0,05 L
Mr = 270 gr/mol
Gram = V x M x Mr
= 0,05 L x 0,05 M x 270 gr/mol
= 0,676 gram
-

Massa KCNS
M = 0,05 M
V = 50 ml = 0,05 L
Mr = 97,18 gr/mol
Gram = V x M x Mr
= 0,05 L x 0,05 M x 97,18 gr/mol
= 0,243 gram

2. Menentukan A
A = Abs [Fe(CNS)n]3-n - [Abs Fe3+ + Abs CNS-]
a. Larutan Fe3+ 6 ml dengan larutan ion CNS 0 ml
A = [0,202] - [0,193 + 0]
= 0,009
b. Larutan Fe3+ 5 ml dengan larutan ion CNS 1 ml
A= c. Larutan Fe3+ 4 ml dengan larutan ion CNS 2 ml

A = [4,000] - [0,316 0,010]


= 3,694
d. Larutan Fe3+ 3 ml dengan larutan ion CNS 3 ml
A = [4,000] - [0,111 0,010]
= 3,899
e. Larutan Fe3+ 2 ml dengan larutan ion CNS 4 ml
A = [4,000] - [0,110 0,010]
= 3,9
f. Larutan Fe3+ 1 ml dengan larutan ion CNS 5 ml
A = [0,002] - [0,183 + 0,010]
= -0,191
g. Larutan Fe3+ 0 ml dengan larutan ion CNS 6 ml
A = [0,000] - [0 0,010]
= 0,010
3. Menentukan Fraksi mol
3++V CNS
V Fe
Fe3+
V

3+ =

X Fe

+ V Fe 3+
V CNS
CNS
V

=
X CNS
a. Fraksi mol larutan Fe3+ 6 ml dan larutan ion CNS 0 ml
6 ml
3+=
6 ml+0 ml
X Fe
1ml

0 ml
0 ml+6 ml
X CNS

0 ml
5 ml
5 ml +1ml
X Fe

b. Fraksi mol larutan Fe3+ 5 ml dan larutan ion CNS 1 ml

+=

0,833 ml

1 ml
1ml +5 ml
X CNS

0,167 ml

c. Fraksi mol larutan Fe3+ 4 ml dan larutan ion CNS 2 ml


4 ml
3+=
4 ml+ 2ml
X Fe
0,666 ml
2 ml
2 ml+4 ml
X C NS

0,334 ml

d. Fraksi mol larutan Fe3+ 3 ml dan larutan ion CNS 3 ml


3 ml
3+=
3 ml +3 ml
X Fe
0,5 ml
3 ml
3 ml+3 ml
X CNS

0,5 ml

e. Fraksi mol larutan Fe3+ 2 ml dan larutan ion CNS 4 ml


2ml
3+=
2 ml+4 ml
X Fe
0,333 ml
4 ml
4 ml+2 ml
X CNS

0,667 ml

f. Fraksi mol larutan Fe3+ 1 ml dan larutan ion CNS 5 ml


1 ml
3+=
1 ml+5 ml
X Fe
0,167 ml
5 ml
5 ml+1 ml
X CNS

0,833 ml

g. Fraksi mol larutan Fe3+ 0 ml dan larutan ion CNS 6 ml


0 ml
3+=
0 ml +6 ml
X Fe
0 ml
6 ml
6 ml+0 ml
X CNS

1ml

4. Grafik

Grafik Hubungan Fraksi mol Fe(III) dengan Absorbansi


5
4
3
grafik

A 2

Linear (grafik)

1
0
-1

0.2

0.4

0.6

0.8

1.2

X Fe3+

Dari grafik di peroleh pada X Fe3+ = 0,45 sehingga


X CNS
= 1 - X Fe3+
= 1 0,45
= 0,55
N

= X Fe3+ / X CNS
= 0,45/0,55
= 0,8

Rumus kompleks yang terbentuk adalah [Fe(CNS)0,8]2,2+

Anda mungkin juga menyukai