Anda di halaman 1dari 13

PEMBUATAN PREPARAT METODE RENTANG

Oleh :
Trie Wulan Kurnianingsih
Esti Puji Rahmawati
Venthyana Lestary
Desi Ariana Syahid
Rochima Nailatus Sulaisi

B1J012009
B1J012035
B1J012133
B1J012145
B1J012203

Kelompok 4
Rombongan IV

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROTEKNIK

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2015

1.

PENDAHULUAN

Jaringan merupakan sekumpulan sel yang tersimpan dalam suatu kerangka


struktur atau matriks. Kumpulan-kumpulan sel tersebut dibagi dalam empat
kelompok yaitu jaringan saraf, otot, jaringan penghubung dan jaringan epitel.
Jaringan penghubung berdasarkan susunan seratnya dalam matriks, dibedakan
menjadi dua yaitu jaringan penghubung longgar dan penghubung padat. Jenis
jaringan penghubung (ikat) longgar dijumpai dalam mesenterium, omenta dari
saluran cerna, dan dalam jaringan subkutanea kulit. Mesenterium sebagai jaringan
ikat longgar relative hanya terdapat sedikit serat (tersusun secara tidak teratur),
sejumlah besar cairan jaringan dan banyak sel. Jaringan ini berfungsi sebagai pengisi,
penunjang dan bantalan, sebagai regenerasi jaringan (tissue repair), serta sebagai
mekanisme pertahanan terhadap radang. Dalam jaringan ikat longgar serat-serat
kolagennya berdominasi, meskipun terdapat juga beberapa serat blastik (Dellman,
1989).
Metode rentang (spread) adalah suatu metode sediaan dengan cara
merentangkan suatu jaringan pada gelas benda sedemikian rupa sehingga dapat
diamati di bawah mikroskop. Pada umumnya jaringan-jaringan yang dapat dibuat
preparat rentang adalah jaringan-jaringan yang tipis, misalnya mesenterium (Susatyo,
2000). Pembuatan preparat rentang biasanya dilakukan pada pengujian secara
sitokimia

untuk

melihat

adanya

enzim-enzim

misalnya

phospatase

dan

hyaluronidase, ataupun pada pengujian sitokimia/histologi untuk melihat morfologi


sel mast, fibroblast, histiocytes, macrophage, serabut kolagen, serabut elastin, serabut
retikuler, ataupun matriks jaringan ikat. Metode rentang ini digunakan untuk
mengevaluasi abnormalitas jaringan dan keberadaan parasit tertentu.
Menurut M. C. Manus (1969), jaringan-jaringan yang tipis tersebut dapat
diamati secara langsung di bawah mikroskop tanpa menggunakan pewarnaan dan
juga tanpa fiksasi terlebih dahulu. Akan tetapi, pembuatan preparat rentang yang
demikian tidak akan bertahan lama karena jaringan tidak difiksasi terlebih dahulu.
Selain itu, jaringan juga akan mudah rusak. Untuk membuat preparat rentang yang
dapat bertahan lama sehingga dapat diamati sewaktu-waktu, maka preparat harus
difiksasi terlebih dahulu sebelum diwarnai. Zat warna yang dapat digunakan dalam
membuat preparat ini antara lain hematoxilin, eosin, dan methylen blue. Pewarna
hematoxilin dengan pelarut aquades sangat baik digunakan untuk mewarnai inti yang

akan berwarna biru. Pewarna eosin dengan pelarut alcohol 70% sangat baik untuk
mewarnai sitoplasma dengan warna merah, sedangkan methylen blue digunakan
pada preparat sementara dengan cara meneteskan langsung ke jaringan kemudian
diamati di bawah mikroskop yang mana methylen blue akan mewarnai butir-butir
pada mast cell yang mewarnai dengan warna biru. Metode rentang juga dapat
digunakan ntuk tujuan sitologi dan histology serta juga dapat digunakan untuk tujuan
sitokimiawi seperti penelitian phosphatase dan hyaluroidase (Handari, 1983).
Mensenterium adalah jaringan pengikat longgar yang menggantung saluran
pencernaan ke dinding tubuh di dorsal dan ventral. Terdapat tiga jenis serat pada
jaringan ikat: kolagen, elastin dan retikular. Jumlah, susunan dan konsentrasi seratserat ini tergantung pada fungsi jaringan atau organ tempat serat ini berada. Serat
kolagen merupakan protein fibrosa kuat yang tebal dan tidak bercabang. Serat
kolagen paling banyak jumlahnya dan ditemukan di hampir semua jaringan ikat
semua organ. Serat elastik merupakan serat yang halus dan bercabang halus. Serat ini
tidak sekuat serat kolagen. Serat-serat ini akan kembali ke ukuran aslinya (recoil)
tanpa deformasi bila diregangkan kemudian dilepaskan. Serat elastik ditemukan
dalam jumlah besar pada paru, vesica urinaria dan kulit. Serat retikuler halus dan
membentuk anyaman kerangka halus di hepar, limfonodus, limpa, organ hemopoetik
dan lain-lain tempat organ menyaring darah dan limfe. Serat retikular juga
menunjang kapiler, saraf, dan sel-sel otot (Eroschenko, 2003).
Sel-sel mesentrium ada tiga, yaitu sel-sel tetap, sel-sel bebas dan sel-sel bebas
lain. Menurut Dellmann dan Brown (1989), sel-sel tetap mesentrium terdiri dari:
a. Fibroblas : jumlahnya paling banyak. Terdapat diantara serabut bentuknya
memanjang, inti berbentuk runcing dengan sitoplasma pucat. Fibroblas aktif pada
hewan muda dan dalam jaringan ikat yang beregenerasi akibat luka.
b. Perisit : sel perikapiler berbentuk memanjang, dikelilingi lamina basalis yang
terus berhubungan dengan membran basal kapiler.
c. Sel lemak :
Sel-sel bebas mesenterium terdiri dari;

Makrofag; dalam jaringan tidak reaktif bersifat tetap.

Sel mast

Sel plasma

Melanosit

Sel-sel bebas lainnya

Limfosit

Monosit

Leukosit

Netrofil

Eosinofil

II. MATERI DAN METODE


A. Materi
Alat yang digunakan dalam praktikum preparat rentang adalah pisau dan
alat bedah, object glass, cover glass, staining jar, kertas tissue, mikroskop cahaya dan
timer.
Bahan yang digunakan dalam praktikum preparat rentang yaitu lapisan
mesenterium ayam, pewarna malory triplestain, acid fuchsin, akuades, PMA
(phosphor molibdic acid), alkohol 70%, alkohol 90%, alkohol 100%, xilol, Canada
balsam dan methanol.
B. Metode
1.

Object glass dan cover glass disiapkan dan dibersihkan dengan larutan alkohol
70%

2.

Ayam disembelih dengan menggunakan pisau tajam kemudian dibedah

3.

Mesenterium direntangkan diatas object glass dan dikeringanginkan

4.

Jaringan difiksasi menggunakan methanol selama 3 menit

5.

Diwarnai dengan acid fuchsin 0,1% selama 3 menit

6.

Dicuci dengan akuades

7.

Jaringan kemudian dimasukkan kedalam PMA selama 5 menit

8.

Dicuci dengan akuades

9.

Jaringan kemudian dipindahkan ke dalam pewarna malory selama 2 menit

10. Dicuci dengan akuades


11. Dicelupkan ke dalam alkohol 90% (30 kali)
12. Dicelupkan ke dalam alkohol 100% (30 kali)
13. Dimasukkan ke dalam xilol selama 10 menit
14. Ditetesi Canada balsam kemudian ditutup dengan cover glass dan diamati di
bawah mikroskop cahaya

15. Preparat rentang yang telah terwarnai diamati di bawah mikroskop cahaya dan
diamati komponen-komponen yang terlihat beserta spesifikasi warnanya.
16. Komponen jaringan yang diamati, difoto, dan dicatat.
17. Foto preparat untuk laporan penelitian.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN


A.

Hasil

Gambar 3.1. Preparat Rentang Mesenterium Ayam

B.

Pembahasan

Pengamatan sedian jaringan mesentrium menggunakan metode rentang,


setelah ayam dibedah, diambil jaringan mesentrium. Jaringan kemudian direntangkan
pada gelas benda. Selanjutnya rentangan yang baik dapat segera difiksasi dengan
methanol selama 3-5 menit. Menurut Guyton dan Hall (1997), fiksatif paling
sederhana yang sering digunakan adalah larutan formalin 10%. Beberapa fiksatif
dapat menimbulkan koagulasi. Campuran fiksatif yang sering digunakan adalah
larutan Boruen yang terdiri atas asam pikrat, formalin, asam asetat, air dan juga
larutan zenker.
Setelah fiksasi dianggap cukup, maka jaringan dapat segera diwarnai. Zat
warna yang digunakan tergantung dari maksud dari pembuatan sedian tersebut.
Apabila yang digunakan hanya untuk melihat adanya jaringan pengikat, fibroblas,
sel-sel makrofag dan sel-sel jaringan lain maka pewarnaannya cukup dengan
Mallory Acid atau Mallory Azan (Suntoro, 1983). Pewarnaan yang digunakan pada
saat praktikum adalah Mallory acid fuchsin.
Preparat rentang dimasukkan ke dalam larutan acid fuchsin 0,5% selama 5
menit. Tanpa pencucian, pindahkan ke dalam pewarna campuran anilin blue, orange
G, dan phosphotungistic acid selama 10-15 menit. Selanjutnya pindahkan ke dalam
alkohol 90% sampai 100%, jernihkan dalam larutan xylol selama 10 menit. Tahapan
akhir hasil preparat ditetesi canada balsam, lalu ditutup dengan cover glass dan
diberi label. Preparat kemudian diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran
40x10. Hasil dari pengamatan menunjukan adanya pembuluh darah yang ditandai
dengan warna merah muda dan jaringan adipose yang ditandai dengan warna orange.
Hasil tersebut sesuai dengan pernyataan Junqueira (1987), bahwa bagian- bagian dari
mesenterium adalah :
1.

Filamen tipis dan tegang yang merupakan serabut elastik yang bercabangcabang dan membentuk jaringan seperti tenunan. Serabut kolagen terlihat sebagai
struktur tebal dan berombak dengan perbesaran 100x.

2.

Bagian sentral jaringan penyambung yang dilapisi pada kedua permukaannya


oleh suatu epitel saquamosa sederhana, mesofil.

3.

Sebuah fibroblas, serabut kolagen dan serabut elastik.

4.

Mesenterium berwarna merah keunguan.

Hasil sediaan jaringan sangat baik terlihat di bawah mikroskop, jaringan


tewarnai dengan baik, sehingga dapat dibedakan antara jaringan adiposa dengan
pembuluh darah, namun ada sedikit kesalahan di awal yaitu tidak dilakukan
perentangan, namun hal ini tidak cukup signifikan, hasil yang didapatkan cukup baik.
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan, pewarnaan Mallory Tripel Stain
akan membuat jaringan ikat menjadi berwarna biru. Sediaan perlu difiksasi agar
bertahan lama, fiksasi harus dilakukan sebelum dilakukan pewarnaan. Apabila hanya
ingin melihat adanya jaringan pengikat, pewarnaan Malloryacid fuchsin, Mallory
Azan atau Mallory triple stain dapat digunakan. Jaringan ikat yang terlihat pada foto
di atas menunjukkan jaringan pengikat longgar yang terdiri atas serat kolagen dan
serat elastin. Serat kolagen yang lebih terang, tebal dan bergelombang, sedangkan
serat elastin lebih gelap, tipis, dan bercabang (Bevelander, G dan J.A.Ramaley.
1979). Jaringan ikat ini berkembang dari mesoderm. Jaringan ikat, sesuai namanya,
berfungsi menyambung atau mengikat satu jaringan dengan satu jaringan yang lain,
membungkus organ dan mengikat organ agar tidak bergeser dari tempatnya.
Penggunaan pewarnaan Mallory, jaringan otot akan berwarna orange (Suntoro,
2010).
Saat membuat sediaan jaringan ikat menggunakan metode rentang, jaringan
harus direntangkan setipis-tipisnya namun tanpa merusak jaringan. Perentangan
jaringan sampai tipis ini bertujuan agar sel penyusun jaringan tidak saling bertumpuk
sehingga mudah diamati dengan mikroskop. Perentangan dapat menggunakan alat
yang tumpul agar jaringan tidak rusak. Apabila ingin membuat sediaan yang
permanen maka jaringan yang telah direntangkan harus segera difiksasi agar tidak
mengalami autolysis (Bevelander, G dan J.A.Ramaley., 1979).
Pada proses mounting dengan Canada balsam, sediaan perlu dicelupkan ke
dalam xylol agar sediaan cukup basah. Proses mounting ini bertujuan memberikan
perekat transparan dengan indeks bias yang sama dengan indeks bias gelas benda dan
gelas penutup. Selain itu, perekat atau mountant akan mengawetkan sediaan secara
permanen dan memungkinkan sediaan tetap dapat diamati. Mountaint yang sering
digunakan adalah Canada balsam. Canada balsam dapat membuat warna sediaan
makin pucat karena sifat Canada balsam yang dapat makin asam, oleh karena itu
perlu penambahan sodium karbonat untuk menetralkan Canada balsam. Pewarna
Mallory tersusun atas aniline blue, orange G, dan acid fuchsin. Aniline blue akan
mewarnai jaringan ikat, kartilago dan sebagainya, sedangkan orange G akan

mewarnai sel otot (Holder, J.T. 1931). Sehingga bila dilihat di bawah mikroskop
akan terlihat jaringan otot dan pembuluh kapiler yang terwarnai merah dan sel lemak
berwarna orange.
Metode rentang (spread preparation) merupakan suatu metode pembuatan
sediaan dengan cara merentangkan suatu jaringan pada permukaan gelas benda yang
tidak diberi gelatin sedemikian rupa, sehingga dapat diamati dibawah mikroskop
obyek yang digunakan dalam metode rentang ini adalah jaringan tipis yang meliputi
pleura, mesenterium, peritoneum, pericardium dan piaracnoidea. Metode rentang
dimulai dengan narkose, section, spreading, fiksasi (methyl alkohol 3-5 menit atau
formol (calcium 30 menit), staining dengan menggunakan mallory acid fuchsin,
dehidrasi, mounting, dan dilanjutkan dengan labelling (Susatyo, 2000).
Keunggulan metode rentang adalah dapat digunakan untuk mengevaluasi
abnormalitas jaringan dan keberadaan parasit tertentu. Salah satu diantaranya adalah
tumor myofibroblastik pada mesentrium. Jaringan mesenterium yang diduga terkena
tumor direntangkan pada gelas benda. Dengan menggunakan pewarna yang tepat,
bagian-bagian organ atau jaringan akan mudah diidentifikasi (Tiras, 2011). Selain itu
metode ini cukup sederhana dan mudah dilakukan.
Terdapat 2 golongan jaringan ikat sejati yaitu jaringan ikat longgar dan
jaringan ikat padat. Jaringan ikat longgar disebut juga jaringan areolar dan mengisi
ruang antar serat dan selubung otot, menunjang jaringan epitel, dan membentuk
lapisan yang menyelubungi pembuluh darah dan limfe. Jaringan ikat longgar juga
ditemukan dalam stratum papilar dermis, hypodermis, serosa rongga peritoneum dan
rongga pleura dan dalam kelenjar dan membran mukosa (membran basah yang
membatasi organ berongga), menunjang sel-sel epitel (Junqueira et al., 1987).
Menurut Yatim (1990), jaringan pengikat longgar mengandung banyak
fibroblas dan makrofaga, sedang serat kolagen dan elastis tersusun longgar dan
jarang. Terdapat pada dermis, subcutis (bawah kulit), lapisan serosa selaput
peritoneum (rongga perut) dan pleura (rongga dada), lamina propia (jaringan
pengikat di bawah lapisan epitel yang membina lapisan mukosa), mesenteri,
omentum dan dalam kelenjar.
Jaringan ikat longgar dibentuk melalui perkembangan langsung dari
mesenkim, membentuk stroma atau kerangka, organ-organ dan merupakan medium
pemendaman banyak struktur termasuk pembuluih darah dan saraf. Semua unsur
struktural-sel, serat dan substansi dasar terdapat di dalamnya. Jaringan ini

membentuk kerangka penunjang bagi epitel dari membran mukosa pada beberapa
tempat dan disini disebut sebagai lamina propia. Biasanya pada tempat itu jaringan
ikat sangat selular dan dapat mengandung banyak limfosit (Lesson et al., 1993).

IV. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dan pembahasan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa :
1.

Sediaan jaringan mesenterium ayam dapat dibuat dengan menggunakan metode


rentang dengan pewarnaan untuk mengamati struktur mikroskopis jaringan
mesenterium.

2.

Hasil dari pengamatan pembuatan preparat terwarnai dengan baik, menunjukan


adanya jaringan adiposa atau sel lemak, pembuluh darah dan fibril elastin.

DAFTAR REFERENSI
Bevelander, G dan J.A.Ramaley. 1979. Dasar-Dasar Histologi. Edisi Kedelapan.
Penerbit Erlangga. Jakarta, hal: 35-36.
Dellmann, H. D. dan E. M. Brown. 1989. Buku Teks Histologi Veteriner. UI-Press,
Jakarta.
Eroschenko, V. P. 2003. Atlas Histologi di Fiore dengan Korelasi Fungsional Edisi 9.
Penerbit EGC, Jakarta.
Guyton, A. C dan J. E, Hall.1997. Buku Ajar fisiologi Kedokteran. Penerbit EGC,
Jakarta.
Handari, S. Suntoro. 1983. Metode Pewarnaan. Bhatara Karya Aksara. Jakarta.
Holder, J.T. 1931. Elementary histological technique for animal or plant tissues. J &
A Churchill. London.
Junqueira, L.C. dan J. Carneiro. 1987. Histologi Dasar Edisi 3. CV. EGC Penerbit
Buku Kedokteran, Jakarta.
Leeson, C. R, T. S. Leeson, A. A. Paparo. 1993. Atlas Berwarna Histologi. Binarupa,
Jakarta.
Subowo. 2002. Histologi Umum. Jakarta : Bumi Aksara
Suntoro, S. H. 1983. Metode Pewarnaan (Histologi dan Histokimia). Bhratara
Karya Aksara, Jakarta.
Susatyo, P. 2000. Diktat Petunjuk Praktikum Mikroteknik Hewan. Fakultas Biologi
UNSOED, Purwokerto.
Tras, U. MD, Serdar Kuru MD, zlem Do ru MD, Aye Dursun MD, Yldz Dallar
Assoc. Prof. MD, Salih Celepli MD, Blent Klo lu Assoc. Prof. MD. 2011.
A Myofibroblastic tumor located in Mesentrium. Nobel Med 7(2): 101-102.
Yatim, W. 1990. Histologi. Tarsito, Bandung.